PROF.DR ABDULRACHMAN SALEH DAN NDALEM SINERAN WUNUT

  20 - Mar - 2010 -   slamet wijadi -   35 Comments »
foto ofPROF.DR ABDULRACHMAN SALEH DAN NDALEM SINERAN WUNUT
Prof. Dr. Abdulrachman Saleh Pahlawan Nasional, Perintis berbagai bidang

Berita tentang raibnya patung dada Prof.Dr. Abdulrachman Saleh dari depan Fak. Kedokteran UI Salemba tanggal 11 Pebruari yl. menggelitik saya untuk menulis sekedar catatan tentang Pahlawan Nasional yang luar biasa ini dari sisi yang lain yang mungkin belum banyak di ketahui. Saya tidak akan membahas tentang jasa2 beliau yang “multi bidang, sebagai perintis dan pendiri RRI, sebagai perintis di TNI Angkatan Udara dan sebagai Bapak Ilmu Faal (fisiologi) Indonesia dan Guru Besar pada Fak. Kedokteran.

Prof. Dr. Abdulrachman Saleh Pahlawan Nasional, Perintis berbagai bidang

Prof. Dr. Abdulrachman Saleh Pahlawan Nasional, Perintis berbagai bidang

Ketiga institusi tersebut mengakui sebagai pahlawan bagi mereka dan telah di buatkan monumen pada masing2 lembaga itu. Kini patung dada/monumen di Fak. Kedokteran UI Salemba telah raib, sungguh menyedihkan, semoga dapat ditemukan kembali, walau sampai sekarang (lebih dari satu bulan) belum ada titik2 terangnya. Mengingat patung itu dari perunggu dengan berat sekitar 100 Kg, semoga saja belum “di kilokan” untuk dilebur kembali. Kalau memang demikian, alangkah tragisnya, patung seorang pahlawan (oleh si pencuri) hanya dinilai secara kiloan… Dimana kesadaran kita sebagai bangsa untuk menghormati pahlawannya. Padahal bangsa yang besar adalah yang bisa menghargai jasa para pahlawannya.
Kembali ke tokoh kita, saya tidak akan menulis tentang kehebatan sang Profesor yang telah banyak diketahui, namun akan menampilkan beliau dari segi “human interests”, sebagi sosok manusia “biasa” dalam perjalanan hidupnya, keluarganya dan latar belakangnya berdasar cerita dan apa yang saya ketahui dan alami, khususnya dalam kaitannya dengan desa saya, desa Susuk dan desa Wunut, Purworejo. Kalau cerita ini kurang akurat mohon dimaklumi, sumbernya terbatas dan kejadiannya juga sudah lebih dari setengah abad yl.
Beliau adalah menantu Bpk. Hardjowijoto, School Opziener (Penilik Sekolah) jaman Belanda sekitar tahun 1920-an,yang setelah pensiun kemudian bermukim di desa Wunut, tetangga desa Susuk, Ngombol,Pwr. Bpk Hardjowijoto ini adalah putra Lurah Desa Susuk jaman dulu, Bapak Surowinangun yang kemudian setelah kembali dari ibadah haji terkenal dengan sebutan Lurah Kaji, kalau tidak salah dengan nama Kaji Ibrahim. Adik Bapak Hardjowijoto adalah Bapak Soerodihardjo yang kemudian menggantikan ayahnya sebagai lurah Susuk/Mangunrejo yang berakhir sampai permulaan kemerdekaan. Berikutnya adalah Dokter Paidjo dan Dokter Mardjono, yang tiada lain adalah ayah dari Prof. Dr. Mahar Mardjono,mantan Rektor Universitas Indonesia dan bapak dari Kedokteran Ilmu Syaraf(neurologi) Indonesia.
Untuk ukuran desa, bahkan kota sekalipun, apalagi pada jaman itu, sungguh luar biasa, bagaimana seorang Lurah desa telah menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi putra2nya (peralihan abad 19-20). Bandingkan dengan saya yang pada tahun 1930-an hanya bisa sekolah desa dan Ongko Loro, bukan karena orang tua saya tidak mampu, tetapi sistem kolonial dan keadaan memang tidak memungkinkan.Dan barangkali itu akan menjadi nasib hidup saya bila saja Jepang tidak datang dan Indonesia tidak merdeka. Makanya saya heran dan kagum, Lurah desa saya bisa menembus sistem kolonial dan mendidik dua putranya menjadi dokter dan seorang menjadi School Opziener pada waktu tingkat buta huruf di Indonesia sekitar 95% (pada akhir jaman penjajahan Belanda tingkat buta huruf Indonesia adalah 90%).

Patung Prof.Dr. Abdulrachman di depan Fak. Kedokteran UI Salemba yang "raib" dicuri

Patung Prof.Dr. Abdulrachman di depan Fak. Kedokteran UI Salemba yang "raib" dicuri

Bpk. Hardjolukito yang pensiunan School Opziener ini mempunyai seorang putra yang jadi dokter, Dokter Soegiri, yang terkenal di Surabaya. Pada saat menjelang pertempuran 10 Nopember ’45, Dokter Sugiri adalah pelaku sejarah karena dia mendampingi Jendral Inggris Mallaby duduk di atas kap mobil untuk mengusahakan gencatan senjata yang berakhir dengan terbunuhnya Mallaby, dan hal inilah yang memicu meletusnya pertempuran 10 Nopember ’45, pertempuran terhebat yang pernah terjadi di bumi Indonesia, yang kemudian kita kenal sebagai Hari Pahlawan Nasional.
Nampaknya Dokter Soegiri inilah yang menjadi “perantara” kisah cinta antara Dokter Abdulrachman Saleh dengan calon isterinya, Ibu Toetik yang adalah adik Dokter Soegiri. Dokter Abdulrachman adalah teman Dokter Soegiri sebagai mahasiswa kedokteran di Jakarta/Betawi. Dan barangkali memang sudah jodohnya, jadilah kedua insan itu suami isteri yang berbahagia, sampai terjadinya peristiwa tragis penembakan pesawat oleh Belanda di Maguwo bulan Juli tahun ’47 yang memakan korban antara lain Komodor Udara Prof.Dr.Abulrachman Saleh yang baru pulang tugas dari India membawa obat2an untuk perjuangan Republik yang baru lahir.
Sepeninggal sang suami, Ibu Toetik Abdulrachman kembali ke desa Wunut ikut orang tuanya Bapak Hardjowijoto tinggal di “ndalem Sineran” (istilah orang desa), bersama dua orang putranya, yang besar seumur dengan saya, Panji Saleh. Saya ingat pada waktu Lebaran kami bersama ke pantai selatan, Puncu/Ketawang dengan jalan kaki. Kenangan saya tentang dia adalah seorang remaja yang tampan namun sederhana dalam segala tingkah lakunya. Selama tinggal di desa ibu Tutik membaur dengan kehidupan desa, hadir pada hajatan warga desa dan bersikap ramah.
Beberapa lama tinggal di desa sampai akhirnya wafat dan dibawa ke Jogya untuk di makamkan di makam Kuncen bersebelahan dengan makam suaminya. Akhirnya kedua makam tersebut di pindahkan dalam kompleks Monumen Taman Makam Pahlawan TNI AU di desa Ngoto, Banguntapan, Bantul, tidak jauh dari Lanud Adisucipto, tempat jatuhnya pesawat yang ditembak Belanda. Dalam kompleks tersebut dimakamkan para pahlawan yang gugur dalam tragedi tersebut bersama isteri, termasuk Komodor Adisutjipto yang kemudian menjadi nama Bandara yang semula bernama Maguwo.
Lama tidak mendengar berita tentang Panji Saleh, nampaknya dia meneruskan tradisi Ayahnya sebagai pecinta dirgantara. Dia masuk pendidikan TNI AU dan setelah lulus sebagai penerbang kemudian dikirim ke luar negeri, kembali ke tanah air sebagai perwira instruktur. Nampaknya kariernya cukup cemerlang, bahkan sudah diramalkan sebagai calon pimpinan TNI AU masa depan, namun disinilah betapa manusia harus tunduk dan menjalani “garis hidup”nya, Tuhan mempunyai rencanaNYA sendiri. Dalam satu tugas penerbangan latihan, pesawatnya mengalami kecelakaan yang membawa kematian perwira muda ini. Nampaknya dia mengulang nasib ayahnya, meninggal dalam tugas kedirgantaraan. Kini, kalau tidak salah, yang meneruskan tongkat estafet dinasti Prof.Dr. Abdulrachman Saleh adalah adiknya, Triawan, namun saya tidak punya informasi tentang dia.
Kembali kepada latar belakang keluarga, ternyata Abdulrachman Saleh mempunyai “asal-usul” yang sangat mengesankan, nomer dua dari sebelas bersaudara, putra Dr. Saleh dari Salatiga. Dr. Saleh ini adalah lulusan Sekolah Dokter yang mungkin seangkatan dengan para pendiri Boedi Oetomo. Dari sebelas putra ini empat jadi dokter , termasuk Dr. Aziz Saleh, Menteri pada jaman Bung Karno. Seorang menjadi pahlawan Kereta Api, Ir. Efendi Saleh, Kepala Djawatan Kereta Api (sekarang PT KA Persero) pertama setelah kemerdekaan.
Memang agak kontras bila dibandingkan latar belakang keluarga dengan Lurah Kaji dari desa Susuk, namun nampaknya ada kesamaan dalam pandangan dasar mengenai “mutlak”nya memberikan pendidikan yang terbaik bagi para putra2nya, sehingga seorang Lurah desa pun mampu “mencetak” dua dokter dan seorang School Opziener pada jamannya dan menurunkan cucu2 sekaliber Dr. Soegiri dan Prof.Dr. Mahar Mardjono. Apa yang bisa kita petik dari hikmah ini? Bagi orang tua tidak ada prioritas yang lebih penting daripada memberikan pendidikan yang terbaik bagi putra-putrinya. Sayangnya, pada waktu ini biaya untuk pendidikan yang baik sangat mahal bagi rata-rata orang tua.

Ndalem Sineran Wunut bertahun tahun kosong tanpa penghuni...

Ndalem Sineran Wunut bertahun tahun kosong tanpa penghuni...

Saat sekarang ini, bila saya sedang berada di desa dan jalan pagi lewat desa Wunut dan melihat bangunan tua bekas “NDalem Sineran”, pikiran saya kembali melayang kepada masa2 sekitar 70 tahunan yl., masa2 dimana Sineran Wunut merupakan simbul suksesnya sebuah keluarga yang bagi kami mengimpikan saja tidak berani. Mobil2 yang saat itu merupakan barang ajaib “berseliweran” di jalan depan rumah kami, semuanya menuju ke Sineran; disitulah berkumpul para putra/putri keluarga besar Sineran yang bersinar kemilau. Saya yakin diantara anggota keluarga itu hadir juga tokoh kita Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, sang menantu. Saya menggambarkan betapa gelak-tawa memenuhi bangunan rumah yang megah dengan halaman yang begitu luas. Sudah bertahun tahun halaman yang luas itu hanya ditumbuhi rumput liar. Nampak beberapa ekor kambing sedang asyiknya merumput. Suasana sekitar nampak lengang.
Kini bangunan tua itu sudah bertahun-tahun tidak berpenghuni. Suatu hari, sepulang dari jalan pagi, setelah minta ijin dari mbok Karto yang diserahi tugas untuk menjaga rumah kosong itu, saya masuki pendopo yang luas, ruang tengah dan kamar2 tidur dan bagian beranda belakang yang semuanya dalam keadaan kosong melompong dengan kondisi yang menyedihkan. Tembok dan dinding telah mengelupas dan menampakkan bata2 yang berlumut.
Perasaan saya bercampur baur antara dunia yang terbayang tempo dulu yang penuh dengan gelak ketawa “sukses dan kebahagiaan” dan haru, iba dan sedih menyaksikan pemandangan dan keadaan nyata yang berada didepan saya yang serba rusak, kosong dan sepi yang mencekam… Apakah itu yang dinamakan tragedi kehidupan manusia? Mungkin, tetapi inilah contoh tentang kehidupan dunia yang “owah gingsir”, dunia fana, dunia sementara, sedang yang kekal abadi adalah hanya milik dan hak dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Slamet Wiyadi.

Category: blog, Tags: | posted by:slamet wijadi


35 Responses to “PROF.DR ABDULRACHMAN SALEH DAN NDALEM SINERAN WUNUT”

  1. membaca kisah ini hati rasanya ikut bangga sedih dan gembira campur aduk jadi satu. ini tidak lepas dari sang pelaku sejarah yang memang hebat dan tak kalah penting sang penulis juga sangat hebat. perlu dicatat bahwa saya adalah pengagum tulisan2 bpk slamet wijadi. semua yg beliau tulis menarik bagi saya. kembali ke wunut dan susuk ternyata benar2 bagai berlian yg mencorong diantara pecahan wingko / genteng disekelilingnya. trimakasih dan salam buat pak wik.

  2. Pak Dokter, terimakasih atas comment yang yang bikin saya “mongkok” tapi sekaligus juga malu, mengingat apa yang saya sajikan itu sekedar ungkapan yang tulus atas kisah manusia dan keluarga yang luar biasa, yang kebetulan saya ketahui. Cara penyajiannyapun ya sekedar apa adanya. Apabila hal itu memberikan kesan “bangga, sedih dan gembira campur aduk jadi satu”, itu juga saya rasakan sendiri sebagai penulis kisah, dan saya senang kita punya kesan yang sama. Seperti waktu saya berada di ruang kosong ndalem Sineran itu seorang diri, perasaan saya juga campur aduk tentang misteri kehidupan manusia yang kemudian saya simpulkan bahwa akhirnya semua itu kembali pada kekuasaan dan kebesaran Ilahi juga.
    Soal”Wunut dan Susuk ternyata benar2 bagai berlian yang mencorong…”, itu kan penilaian Pak Dokter sendiri. Menurut saya setiap desa mempunyai kelebihannya sendiri yang khas untuk desa itu yang bila disajikan secara benar akan punya daya tarik tersendiri, saya yakin desa Wingko (leluhur saya juga dari sana) juga punya kisah yang menarik, mengapa tidak diungkapakan? Salam hangat buat pak Dokter sekeluarga.

  3. widibintoro says:

    Sebuah pesawat Dakota VT-CLA pada tanggal 29 Juli 1947, pukul 01.00 siang waktu setempat meninggalkan lapangan terbang Singapura dengan membawa sumbangan obat-obatan untuk Palang Merah Indonesia. Ketika mendekati PU Maguwo saat roda-roda pendarat mulai keluar, pesawat Dakota VT-CLA membuat satu kali putaran untuk persiapan mendarat, tiba-tiba muncul dua buah pesawat pemburu Kittyhawk Belanda yang melakukan tembakan dengan gencar. Dakota VT-CLA kemudian terbang ke arah selatan dalam keadaan terbakar dan jatuh ke desa Jatingarang Kelurahan Tamanan, dekat desa Ngoto Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, sebelah tenggara kota Yogyakarta. Dari semua awak pesawat dan penumpang, hanya seorang yang selamat yaitu A.Gani Handonotjokro, korban lain yang gugur: Komodor Muda Udara Agustinus Adisudjipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdurachman Saleh. Opsir Muda Udara I Adisumarno Wiryokusumo, Ex Wing Comander Alexander Noel Constatine (Australia) dan istrinya Ex Squadron Leader Roy Huzelhurs (Inggris), Bhida Ram (India) dan Zaenal Arifin (Indonesia)….Bagi saya selama ini, kisah Sang Pahlawan Prof. Dr. Abdurrachman Saleh kurang lebih seperti sepenggal cerita sejarah tsb, menjadi nama Lanud Malang, hingga raibnya patung beliau, di negara yang selalu menyatakan sebagai “bangsa yang besar”?. Setelah membaca tulisan Pak Wik, ternyata beliau mempunyai “kaitan” dengan Purworejo yang selama ini belum atau bahkan tidak ada yang tahu (karena terjadi 70 th yang lalu).
    Berkaitan dengan pendidikan (masa kolonial), sulit dibayangkan bagaimana sebuah keluarga Lurah, sudah mempunyai pandangan bahwa pendidikan adalah nomor satu. Semoga pandangan ini menjadi inspirasi kepada para orang tua, untuk tetap mengedepankan pendidikan bagi anak-anaknya, “wariskanlah kepada mereka ilmu bukan harta”. Dan kewajiban pemerintah tentu memberikan pendidikan terbaik, namun murah kalau perlu gratis, hingga perguruan tinggi. Salam

  4. Cah_Ndhiro says:

    rasa kangen menyesakkan dada hingga ingin rasanya meluncur ke kapung halaman setelah membaca tulisan yang bagus sekali dari Pak Slamet, selamat berlibur di desa Mangunrejo, menbaca tulisan dari Pakde teringat akan nostalgia masa kecil dulu dimana sering diadakannya permainan adu panggalan dari desa-desa sekitar, halaman tersebutlah yang menjadi arena adu panggalan, tidak cuma anak-anak saja yang sering ikut adu kadang kala pemuda dan bapak-bapak ikut dalam arena pertandingan tersebut, dan dari tulisa itulah saya baru tahu akan sejarah sineran di desa wunut, tidak ada tetua saya yang menceritakan sejarah yang ada di desa, semoga berliburnya Pakde tidak akan bosan menambah cerita-certia menarik bersejarah lainnya yang ada didesa Mendiro, Susuk, Wunut dan sekitarnya…
    salam hangat dari saya. menawi sempat lengah kampir wonten mendiro
    Wasalam
    Cah_Ndhiro
    Novianto

  5. Mas Widi, komentarnya melengkapi tragedi yang menimpa tokoh pahlawan kita Prof.Abdulrachman yang luar biasa. Tapi biar lebih lengkap saya akan tambahkan lagi. Mengapa Belanda menembak pesawat Dakota tsb.yang sudah mengantongi ijin terbang dari Belanda sendiri sebagai pesawat sipil? Inilah ceritanya: Pagi hari tanggal 29 Juli’47, habis subuh tiga kadet penerbang usia 20 tahunan, mengeluarkan 3 pesawat latih tinggalan Jepang yang usang dari hanggar di Maguwa. Dengan nekad ketiga pemuda tersebut terbang ke Semarang, Ambarawa dan Salatiga, masing2 dengan misi “mengebom” kota2 tersebut. Misi tersebut berhasil, dan itulah pertama kali Indonesia menunjukkan kemampuan menyerang musuh lewat udara. Begitu pulang kandang ketiga pesawat langsung disembunyikan dan ternyata tidak berapa lama datang pesawat Belanda menyerang Maguwa, namun pesawat kita selamat.
    Rupanya balas dendam Belanda tsb. belum berakhir dan harus menimbulkan korban sebagai “pelajaran”. Siang itu pesawat “naas” Prof.Abdulrachman tiba di atas udara Maguwo, tiba2 dua pesawat Kittyhawk tanpa ampun menghajarnya sampai jatuh…
    Tetapi mengapa kita “menyerang” Ambarawa, Semarang dan Salatiga? Delapan hari sebelumnya, 21 Juli ’47 Belanda melancarkan perang Agresi pertama ke RI dengan slogan “naar Jogja”, tertahan disebelah barat antara Gombong-Karanganyar.”Serangan” kita pada ke tiga kota itu setidaknya merupakan “response” terhadap tindakan mereka. Itulah secuil sejarah yang saya ikut menyaksikan, setidaknya lewat berita koran tanggal 30 Juli ’47 dengan headline besar-besar “Semarang, Salatiga dan Ambarawa kita bom”, namun disamping berita itu ada sub-headline, “Belanda menembak pesawat Dakota kita, Komodor Adisutjipto dan Komodor Prof.Dr. Abdulrachman Saleh gugur”, hari itu kita bangga sekaligus berduka.
    Pendidikan memang sangat penting, namun perlu juga pendidikan karakter; melihal begitu banyaknya penyelewengan akhir2 ini yang dilakukan oleh “orang2 pinter”, nampaknya pinter saja tidak cukup. Sekian dulu, Salam.

  6. Mas Novianto, terimakasih komentarnya. Saya belum berada di desa, rencananya baru bulan depan,kalau mas Novi kebetulan pulang, kita bisa ketemu sekitar minggu akhir bln April, nanti kita omong2 sepuasnya.
    Kalau nanti disana akan saya sempatkan ketemu dengan Mas Amir sekaligus silaturahmi.
    Banyak cerita bisa kita gali dari daerah kita, saya sajikan sekadar sebagai nostalgia. Seperti Sineran Wunut itu mungkin sdh jarang yang bisa menceritakan.
    Ikatan dengan tempat kelahiran/masa kecil memang sangat erat. Contohnya Obama ingin ke Indonesia ya karena ikatan masa kecilnya, ingin melihat tempat2 dimana dulu bermain, teman2 dan makanan yang menjadi kegemarannya.
    Kalau saya pulang ke desa biasanya ke pasar Purwodadi, lihat “tukang obat”, tempat jualan burung doro/kambing, setelah capai ngaso di tempat penjual penek Ngandul dan “mincuk” disitu, sedaaap, terkenang waktu kecil makan penek Ngandul di pasar Susuk, sebungkus satu sen sudah kenyang dengan suwiran ayam… Kalau mas Novi pulang saya ajak ke Pwd, nanti makan soto di kios depan, enaaak. Sekian dulu, Salam.

  7. Anu Dhihasto says:

    Penek Ngandul…..top tenan.

    • Betul mas, dan harganya sangat “terjangkau” satu pincuk tigaribu, kalau mau lengkap limaribu sudah pol kenyangnya untuk sarapan pagi, habis itu ke kios depan pesen teh manis panas sambil nanggap siteran/sindenan sambil “liyer2″, dhuh nikmatnya, siapa mau ikut… Salam.

  8. pujo h says:

    Selamat bertemu kembali Pakde Wi’, cerita2 yg Bapak sampaikan selalu menarik dan selalu ditunggu2. Pakde memang pintar bercerita, bukan hanya sekedar bercerita kosong tampa makna, tapi cerita yg selain bisa maremke ati juga menambah wawasan akan kecintaan terhadap tanah air (dalam arti desa sbg tanah kelahiran dan leluhur juga Indonesia yg kita cintai).

    Ada sedikit tambahan/koreksi dari sumber yg saya punya mengenai urutan kel. mbah Hi. Ibrahim, Dr. Paijo adalah kakak dari P’ Hardjowiyoto. Bisa dilihat selengkapnya :
    http://www.facebook.com/?sk=2361831622#!/topic.php?uid=82625473953&topic=14310

    Bercerita mengenai perjuangan apa Pakde bisa bercerita mengenai putra Carik Susuk Surodimedjo yg konon hilang dalam Class Action.

    Saya berharap Pakde juga berkenan untuk bisa bercerita lebih banyak lagi mengenai tokoh2 seperti Dr. Paijo, Dr. Soegiri, Prof. Dr. Mahar Mardjono atau seorang seperti mbah Muri pembuat kecap nomor wahid dan tokoh2 lainnya , bilamana tidak dapat di Blogger ini, saya berharap bisa menceritakannya di FB kami.
    Sekalian saya minta ijin mengcopas postingan ini ke FB Susuk.
    wass.
    pujo h

  9. Terimakasih mas Pujo sdh kasih komen yang menyenangkan, termasuk koreksi tentang Dokter Paidjo. Mengenai beliau ini informasinya sedikit sekali, mau tanya, kepada siapa lagi, sumbernya sdh langka.

    Kalau mengenai Pak Surodimedjo saya tahu banyak, karena memang hubungan kami dekat. Putranya yang “hilang” itu namanya Muchtar, sekitar setahun/dua tahun lebih tua dari saya. Adiknya, Yu Kalimah teman seklas saya di Ongko Loro Wunut.

    Pada waktu clash ke-dua tahun 1949 dia pamit pergi tanpa menyebut mau kemana, dan sejak itulah dia menghilang spt di telan bumi, tidak pernah ada beritanya lagi.

    Menambah info tentang Lurah Surowinangun, beberapa hari lalu saya kerumah Pak Harsono almarhum, menghadiri 40-hari wafatnya. Disitu saya lihat foto Eyang Surowinangun dan putranya, Lurah Mangunrejo, Surodihardjo; sayang terlambat,jadi tidak bisa dimuat di tulisan saya diatas.Luar biasa juga melihat foto lurah Susuk/Mangunrejo permulaan abad 20.

    Kalau ayahnya Surowinangun, yang di sebut sebagai Surosono, makamnya di kidul pasar, dulu ada cungkupnya, waktu saya kecil ambruk, skr tinggal bekasnya saja. Salam.

  10. setyohw says:

    Kalau melihat kisah2 jaman dulu rasanya bangga sekali karena dari Purworejo banyak orang2 hebat. Namun yang belakangan ini santer di media massa ternyata membuat sedikit mengganggu Porjo kita ini. Menurut berita koran Jawa Pos edisi 6 April 2010 ternyata orang ngetop “Gayus” berasal dari Megulung Lor, Pituruh, Purworejo dan sering pulang kampung ke sana karena ibunya saat ini tinggal di desa tsb. Mudah2an tidak mengganggu kehebatan Porjo.

  11. Mas Setyo, terimakasih, lama nggak muncul, semoga baik2 saja. Membaca berita Gayus orang Pwr agak kaget juga, tapi hari ini saya baca sebuah tulisan di Kompasiana yang juga menyatakan begitu. Nampaknya dia “Batak-Jawa”, ibunya yang dari Pwr, selama ini yang di ekpos kan bapaknya, tidak pernah disebut ibunya, kabarnya memang sdh bercerai.
    Kalau benar demikian ya “apa boleh buat” kita terima dengan rasa “malu” sebagai orang sedaerah, iklan yang “negatip” bagi Pwr. Semoga akan ada hikmahnya bagi teman2 lain dari Pwr.Saya kira GT ini tidak akan mengganggu, apalagi GT ini kan bagian dari instansi yang namanya kini telah menjadi sorotan nasional. Salam.

  12. hariadi says:

    Assallamuallaikum,wr wb,
    Terimakasih Eyang wik yang telah memberikan tulisan-tulisan yang sangat berharga bagi saya dan kami generasi muda, tentunya dengan pengetahuan dan daya ingat yang luar biasa sehingga eyang bisa mempersembahkan hasil karya yang sangat luar bias ini, tentunya sebagai warga purworejo, saya sangat berterimakasih sekali dengan tulisan seperti ini, yang pastinya menambah pengetahuan kami tentang negeri dan keterkaitannya dengan Purworejo.
    salam hormat, Hariadi,rantau S’pore

  13. Mas Hariadi, terimaksih atas tanggapan yang memberikan semangat. Bagi saya menulis ini bagian dari dari latihan otak, disamping olahraga fisik, agar nggak cepat pikun. Untuk itu saya menulis hal2/kejadian tempo dulu yang juga merupakan bagian dari hidup saya sendiri.
    Kalau tulisan itu bermanfaat ya syukur, tentu ini merupakan bonus bagi saya. Saya juga ingin menceritakan betapa para pendahulu kita telah memberikan keteladanan yang mungkin bisa menjadi contoh bagi generasi sekarang, setidaknya kita tidak melupakan perjuangan dan pengorbanan para pahlawan kita.

    Bagaimana sudah kerasan di negeri Singa? Masih ada rencana untuk “pulang kampung”? Salam sukses.

  14. hariadi says:

    Terimakasih Eyang Wik untuk masukannya,
    Kalau pulang kampung sih Insyaallah pasti, tapi tinggal waktunya kapan..
    tapi eyang, kalau eyang ada referensi tentang konfrontasi malaysia jamannya Pak Karno, kalau eyang berkenan menuliskan tentang kejadian itu, wah sangat senang sekali, soalnya kalau ngobrol dgn side malaysian maka yg ada hanya kegagalan kita menghadapi SAS-nya britain.
    Terimakasih

    • widibintoro says:

      Pak Hariadi, kalau cerita konfrontasi banyak versi, tergantung darimana melihatnya. Memang belum ada yang menang atau kalah karena berhenti setelah perundingan. Tapi kalau membaca konfrontasi akan seru kalau membaca sepak terjang PGRS dan Paraku di Kalimantan Utara, saat itu.Yang dilatih oleh pasukan khusus Indonesia. Kemampuan mereka diakui Pasukan Gurkha hingga saat ini, karena berhasil menghancurkan Pos Gurkha di Serawak. Di internet banyak kisah-kisah ttg itu. Di Pontianak masih ada juga beberapa saksi hidupnya, tapi akan sulit untuk mengajak mereka berkisah tentang masa lalu (terkait politik).Salam

      • Mas Widi betul. Konfrontasi itu berakhir dengan tanpa kalah-menang, tetapi “menguap” karena perobahan politik. Satu hal yang pasti bahwa sebagai bangsa, kita bangga bisa “menghadapi” kekuatan asing sendiran, lepas dari motif konfrontasinya. Pada waktu perjuangan pembebasan Irian Barat,Indonesia dipandang sebagai kekuatan yang harus cukup diperhitungkan. Kita bangga. Kapan bangsa Indonesia akan kembali punya kebanggaan dan harga diri lagi? Sekarang ini Malaysia saja sudah memandang dengan sebelah mata. Aduh nelongso deh. Salam.

  15. Mas Hariadi, konfrontasi memang bagian dari sejarah kita jamannya Bung Karno. Tidak perlu “minder” menghadapi “side malaysian”, apa yang mereka banggakan adalah bukan miliknya tetapi “SASnya britain”. Harus diakui Mayasia dibantu oleh Commonwealth, Inggris, Australia New Zealand dll, Malaysia sekedar sebagai “jongos”, sedangkan kita “seorang diri”, dalam hal ini yang paling berperanan adalah KKO, khususnya di rimba belantara Kalimantan.Sesungguhnya perang masih berkecamuk, mereka namakan “silent war”, belum ada tanda2 pihak mana yang kalah, namun terjadinya G-30-S mengubah semua keadaan dan selanjutnya kita ketahui bersama jalannya sejarah. Oleh karena perang dihentikan, makanya tidak fair untuk meng-klaim satu pihak yang memenangkan, yang jelas dalam hal ini yang berprestasi bukan Malaysia namun serdadu Commonwealth. Itulah pendapat saya. salam.

  16. Gunarso TS says:

    Pak Wiek memang luar biasa, begitu banyak informasi terpendam tentang kebesaran Purworejo,yang berhasil beliau ungkapkan lagi. Beberapa waktu lalu saya pernah menulis di Jaya Baya, tentang wawancara saya dengan Pak SIN (Subagijo IN) wartawan satu-satunya peliput jatuhnya pesawat di Ngoto 29 Juli 1947 itu. Di antaranya Pak SIN berkisah,ketika dia melanjutkan liputannya ke rumahsakit Bethesda, diminta oleh KSAU Surjadarma, untuk jangan diberitakan. “Tolong, jangan ditulis ya Dik,” pesan KSAU, tapi Pak SIN tetap memberitakannya di KB Antara.
    Wah seadainya saat menulis tersebut saya sudah kenal Pak Wiek, tentu lebih kaya lagi tulisan itu, khususnya seputar Dr Abdul Rachman Saleh yang ternyata mantunya orang Wunut.

    • Mas Gun, trims untuk tanggapan dan pujian yang berlebihan.Apa yang saya tulis itu sekedar apa yang saya ketahui tanpa maksud khusus,menonjolkan Pwr, kenyataannya memang begitu.
      Mas Gun beruntung kenal dengan Pak SIN, wartawan “kawakan” yang sudah malang-melintang pada jaman revolusi, dari dia banyak dapat digali kisah2 perjuangan yang eksklusip. Kalau nanti kesana boleh saya ikut, ingin berkenalan untuk tukar-menukar pengalaman.
      Trims untuk info bhw patung Prof. Abdulrachman Saleh sudah di ketemukan dan dipasang kembali ditempatnya, semoga akan disitu untuk selamanya, jasa yang perlu dikenang dari perjuangan beliau sungguh tidak ternilai.Tidak terasa peristiwa yang menyedihkan sudah tepat 63 tahun yl. kemarin tgl. 29 Juli.
      Teruskan menulis mas Gun, saya senang membaca tulisannya yang lancar, berisi dan ringan cocok untuk Jayabaya, ditambah bhs. Jawanya bagus. Salam.

  17. andri wijaya says:

    assalamualaikum wr.wb
    terima kasih banyak kepada eyang slamet
    tulisan ini benar-benar memberikan inspirasi buat saya bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin,bahkan dari sebuah desa kecil dikabupaten kecil yang konon termiskin di jawa tengah dilahirkan beberapa tokoh besar seperti Prof.Dr Abdurrahman Saleh,Dr.Soegiri,Dr.Mahar Mardjono,semoga ini menjadikan inspirasi anak-anak muda sekarang untuk menjadi yang terbaik dan selalu mengupayakan apa yang dia cita-citakan menjadi terwujud.

    • Mas Andri, kalau tulisan saya bisa “menjadikan inspirasi anak-anak muda” ya syukur. Memang betul, kalau jaman dulu yang sistem pendidikannya begitu sulit desa kita bisa menghasilkan tokoh2 terkenal, mengapa dalam alam kemerdekaan tidak bisa. Saya tahu tantangannya cukup besar, namun hanya mereka yang mampu menjawab tantangan yang sulit, akan bisa lolos dan berhasil.
      Bulan Puasa nanti saya Insya Allah akan pulang, sehingga kita bisa omong2 lebih leluasa. Semoga desa kita akan tetap menjadi contoh bagi desa2 lain disekitarnya. Salam.

  18. Julian says:

    Abdulrachman Saleh dilahirkan pada tanggal 1 Juli 1909 di Jakarta.
    Pada masa mudanya, ia bersekolah di HIS (Sekolah rakyat
    berbahasa Belanda atau Hollandsch Inlandsche School) MULO
    (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau kini SLTP, AMS (Algemene
    Middelbare School) kini SMU, dan kemudian diteruskannya ke
    STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Karena
    pada saat itu STOVIA dibubarkan sebelum ia menyelesaikan
    studinya di sana, maka ia meneruskan studinya di GHS
    (Geneeskundige Hoge School), semacam sekolah tinggi dalam
    bidang kesehatan atau kedokteran. Ayahnya, Mohammad Saleh,
    tak pernah memaksakannya untuk menjadi dokter, karena saat itu
    hanya ada STOVIA saja. Ketika ia masih menjadi mahasiswa, ia
    sempat giat berpartisipasi dalam berbagai organisasi seperti Jong
    Java, Indonesia Muda, dan KBI atau Kepanduan Bangsa Indonesia.
    Kegiatan kedokteran dan militer
    Setelah ia memperoleh ijazah dokter, ia mendalami pengetahuan
    ilmu faal. Setelah itu ia mengembangkan ilmu faal ini di Indonesia.
    Oleh karena itu, Universitas Indonesia pada 5 Desember 1958
    menetapkan Abdulrachman Saleh sebagai Bapak Ilmu Faal
    Indonesia.
    Ia juga aktif dalam perkumpulan olah raga terbang dan berhasil
    memperoleh ijazah atau surat izin terbang. Selain itu, ia juga
    memimpin perkumpulan VORO (Vereniging voor Oosterse Radio
    Omroep), sebuah perkumpulan dalam bidang radio. Maka
    sesudah kemerdekaan diproklamasikan, ia menyiapkan sebuah
    pemancar yang dinamakan Siaran Radio Indonesia Merdeka.
    Melalui pemancar tersebut, berita-berita mengenai Indonesia
    terutama tentang proklamasi Indonesia dapat disiarkan hingga ke
    luar negeri. Ia juga berperan dalam mendirikan Radio Republik
    Indonesia yang berdiri pada 11 September 1945.
    Setelah menyelesaikan tugasnya itu, ia berpindah ke bidang militer
    dan memasuki dinas Angkatan Udara Ia diangkat menjadi
    Komandan Pangkalan Udara Madiun pada 1946. Ia turut
    mendirikan Sekolah Teknik Udara dan Sekolah Radio Udara di
    Malang. Sebagai Angakatan Udara, ia tidak melupakan profesinya
    sebagai dokter, ia tetap memberikan kuliah pada Perguruan Tinggi
    Dokter di Klaten, Jawa Tengah.
    Akhir hidup
    Pada saat Belanda mengadakan agresi pertamanya, Adisutjipto
    dan Abdulrachman Saleh diperintahkan ke India. Dalam perjalanan
    pulang mereka mampir di Singapura untuk mengambil bantuan
    obat-obatan dari Palang Merah Malaya. Keberangkatan dengan
    pesawat Dakota ini, mendapat publikasi luas dari media massa
    dalam dan luar negeri.
    Tanggal 29 Juli 1947, ketika pesawat berencana kembali ke
    Yogyakarta melalui Singapura, harian Malayan Times
    memberitakan bahwa penerbangan Dakota VT-CLA sudah
    mengantongi izin pemerintah Inggris dan Belanda. Sore harinya,
    Suryadarma, rekannya baru saja tiba dengan mobil jip-nya di
    Maguwo. Namun, pesawat yang ditumpanginya ditembak oleh
    dua pesawat P-40 Kitty-Hawk Belanda dari arah utara. Pesawat
    kehilangan keseimbangan dan menyambar sebatang pohon
    hingga badannya patah menjadi dua bagian dan akhirnya
    terbakar.
    Peristiwa heroik ini, diperingati TNI AU sebagai hari Bakti TNI AU
    sejak tahun 1962 dan sejak 17 Agustus 1952, Maguwo diganti
    menjadi Lanud Adisutjipto.
    Abulrachman Saleh dimakamkan di Yogyakarta dan ia diangkat
    menjadi seorang Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan
    Presiden Republik Indonesia No.071/TK/Tahun 1974, tanggal 9
    Nopember 1974.
    Pada tanggal 14 Juli 2000[1], atas prakarsa TNI-AU, makam
    Abdulrahman Saleh, Adisucipto, dan para istri mereka dipindahkan
    dari pemakaman Kuncen ke Kompleks Monumen Perjuangan TNI
    AU Dusun Ngoto, Desa Tamanan, Banguntapan, Bantul, DI
    Yogyakarta.
    Nama Ia diabadikan sebagai nama Pangkalan TNI-AU dan Bandar
    Udara di Malang. Selain itu, piala bergilir yang diperebutkan dalam
    Kompetisi Kedokteran dan Biologi Umum (Medical and General
    Biology Competition) disebut Piala Bergilir Abdulrahman Saleh.
    Karbol
    Mengharapkan semua lulusan Akademi Angkatan Udara dapat
    mencontoh keteladanan dan mampu mencapai kualitas seorang
    perwira seperti Abdulrachman Saleh, para taruna AAU dipanggil
    dengan nama Karbol. Hal ini pertama kali diusulkan oleh Letkol
    Saleh Basarah setelah beliau mengunjungi United States Air Force
    Academy di Colorado Springs, Amerika Serikat. Para kadet di sana
    dipanggil dengan nama Dollies, nama kecil dari Jenderal USAF
    James H Doollitle, seorang penerbang andal yang serba bisa. Ia
    penerbang tempur Amerika Serikat yang banyak jasanya pada
    Perang Dunia I

    • Terimakasih mas Julian, sudah melengkapi data/riwayat hidup alm. Prof. Abdulrachman Saleh. Yang saya tulis itu sesungguhnya lebih bersifat “kenangan pribadi” yang menyangkut segi latar belakang keluarganya yang tidak/belum pernah terungkap dalam tulisan2 sebelumnya, khususnya berkaitan dengan ndalem Sineran Wunut. Salam.

  19. Julian says:

    Saya suka sekali sejarah! Sya sering jalan2 kebandung skedar menikmati gedung2 tua,skaligus fota fto sana sini! Di kota tmpt tgl sy saat ini, bogor, jg tdapat gedung2 tua jaman dlu yg skrg dgunakan sbg kantor2 pmerintahan!
    Disekeliling kebun raya bogor byk dtemukan saksi bisu jaman dulu!

    • Sejarah itu penting, kata orang, kita bisa memahami keadaan sekarang karena belajar dari masa lalu sedang untuk memahami masa datang kita harus memahami saat sekarang. Kesimpulannya, sejarah perlu untuk bekal dan memahami hidup, karena hidup adalah proses berkesinambungan.

      • salam kenal mbah slamet wijadi

        kenalkan saya lardi, produser yunior metro tv untuk program Metro Files.

        Dalam waktu dekat ini, sekitar bulan april (menyambut hari dirgantara), kami berencana ingin mengangkat topik kepahlawanan Pak Karbol (Prof.Dr Abdulrachman Saleh )

        saya sangat terkesan dengan apa yg mbah wid ceritakan soal ‘sisi lain’ keluarga besar pak karbol yg berkaitan dengan desa wunut, purworejo

        Kalau boleh saya mohon diberi kontak mbah wid untuk nanti menjadi salah satu narasumber kami. Dan sekiranya gak keberatan, mohon mbah wid bisa hubungi saya di nomor HP atau email saya

        Terima kasih atas perhatiannya dan ditunggu respon baliknya

        Wasalam
        Sulardi
        Produser Yunior Metro Files-Metro TV
        0813.1728.7520
        dhadhee@yahoo.com
        dh4dhee@gmail.com
        sulardi@metrotvnews.com

  20. Julian says:

    Sya ska sejarah sjak dr SMP mbah wik! Tiap pulang skolah,(kbetulan sy skolahy d SMP Ngombol) sy mencari rumput utk kambing saya di pesarean carikan! Tiap sore smbil angon wedus sya bsama sodara kembar sya ngarit disitu! Klo musim “ketigo” kan ga ada rumput,jd sy cm ngkrong dpesarean itu,smbil liat2 makam tua! Sya itu cucunya mbah sonto dimedjo,beliau kelahiran tahun 1923 pernah menjabat sbg ili-ili susuk. rumahy disebelah utara pesarean susuk!atau disebelah rumah pak raden! Dlu pernah diceritain sama simbah,kalo dsekitar rmh pak raden ada makam orang belanda!tp skrg sdah ga da bekasnya,rumah pak raden jg skrg sdh nggak ada,tinggal batur2 rumah dan sumur tua yg msh tersisa! Dulu didepan rumah pak raden jg ada sdara simbah saya,namay mbah nanik,skrg rmhy jg sdh ngga ada tggl jd pomahan!wktu SD sy pernah bantu ibu sya maculi pomahan,karena rumah mbah nanik baru dibongkar jd masih susah utk dipaculi tanahnya! Kadang pacul saya mengenai batu bata,krikil dan benda keras lainya! Tp yg buat sy senang,sy tiap 5 jengkal kaki selalu nemuin puluhan koin kuno! Semua sya kumpulin “benggol2″(sebutan bwt koin kuno) itu! Ada skitar 100 lebih koin yg sya temukan! Tahun paling tua yaitu 1806, 1858, 1907, etc.wlupn sdah rusak kemakan jaman,tp tahuny mash jelas! Koin2 it skrg sy simpan rapi dirumah saya! Sblah dpan ada tulisan Netherland Indische dgn mahkota raja, dan dibalikya ada tulisan arab dan jawa! Komentar mbah wik gmana?

    • Mas Julian: pertama, mengenai Sontodimedjo, apa itu Sonto Sluthu, kalau itu saya kenal, bahkan dulu teman sepermainan di terbis kidul, ngundha layangan, tapi saya kira tidak mungkin kelahiran 1923, paling dengan saya beda 2 tahun. Apa punya saudara yang namanya Guthul? Dia pernah ikut saya sebentar, kemudian ikut adik saya di Slipi. Saya masih ketemu di desa baru2 ini, ada lagi kakak yang tertua di terbis kidul, sekarang juragan tempe, saya selalu pesan tempe sampai ratusan untuk oleh2, tempenya enak, semua orang yang saya kasih seneng.
      Yang di depan Pak Raden itu tempatnya San Muthalib, ayahnya Nanik, kakaknya namanya Djaman, teman saya, sdh alm. Itu dulu yang lain menyusul, o ya kakaknya ada yang namanya Kusno di Mendiro? Salam.

  21. Julian says:

    Trima ksh infoy mbah wik! Mengenai san muthalib, tiap sblm lbaran sya suka nyekar sama bpk saya!klo tdk salah makam beliau di pesarean karangtalun yg dtengah sawah!

    • Yang ingin saya tanyakan: mas Julian ini apa cucunya pak Sonto/Sono Sluthu? Kalau demikian ayahnya masih saudara dengan Kusno dan Guthul. Maaf saya kan angkatan lama dan jarang di desa, yang saya ketahui adalah generasi Pak Sono Sluthu yang dulu juga terkenal sebagai pemain jidhur, dulu rumahnya di pojok barat terbis kidul.

  22. Bambang Sunaryo says:

    Sebagai warga wunut saya amat bangga kepada Beliau Prof. Dr Abdur Rahman saleh.
    inget waktu kecil tahun 1980 – 1987, tiap sore bermain di Pendopo ndalem Sineran.
    jadi kepingin lagi, bermain NDAK-LO, PRIS-PRISAN, SUDA-MANDA,TEKONGAN, LOWO-TEMBOK, JAMURAN, BENTHIKAN DAN MASIH BANYAK LAGI…………..seneng pokoknya, belum pulang kalau belum diparani Ibu Saya (Sudarti alm).

    • slamet wijadi says:

      Mas Bambang, apa pada waktu tahun 1980-1987 itu ndalem Sineran sudah kosong? Seingat saya ndoro Siner itu sedo sebelum tahun1980 dan sejak itu masih dihuni oleh putranya Pak Suryadi, sampai kapan kurang jelas. Di Wunut disebelah mana rumanya, mestinya kan nggak jauh dari sirenan ya. Trim sudah membaca tulisa saya. Salam, Sw.

  23. Rona says:

    ssalamualaikum wr.wb

    saya sangat tertarik dengan artikel yang bapak tulis, saya sudah lama mencari artikel mengenai Dr. Abdulrachman saleh terutatama mengenai desa wunut. menurut cerita suami saya, beliau dilahirkan di Ndalem Sineran Wunut dan sempat tinggal disana selama 3 thn dan kembali ke jakarta sekitar tahun 1980. Mungkin pak Slamet kenal dengan nama ibu Sri sukanti. beliau adalah nenek dari suami saya.

    • slamet wijadi says:

      Trimakasih untuk komennya. Untuk nama ibu Sri Sukanti, kalau yang dimaksudkan Ibu Sri adiknya Pak Suryadi dan putra ragil dari Pak Siner, saya kenal namanya, tetapi tidak mengenal beliau karena banyak tinggal di Jakarta. nDalem Sineran Wunut itu sekarang sudah dibeli oleh sesorang yang katanya masih ada hubungan kerabat. Dan kini mulai direnovasi sedikit2, semoga bisa kembali kepada aslinya. mBak Rona tinggal dimana? Sudah pernah ke Wunut? Salam.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

KOTA PURWOREJO TAHUN 70-AN

16 - Oct - 2011 | geblex | 57 Comments »

Selamat Tahun Baru 2008

2 - Jan - 2008 | meds | No Comments »

info bisnis… INSYA ALLAH…

8 - Apr - 2008 | cahloano | 2 Comments »

PROMOSIKAN BLOGGER PURWOREJO?

15 - Dec - 2008 | indiez | 10 Comments »

70 % APBD Purworejo habis untuk membayar gaji pegawai

25 - Apr - 2013 | indra.ngombol | 14 Comments »

© copyleft - 2010 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net