PERJUANGAN SANG “PAHLAWAN DEVISA” INDONESIA DI NEGERI JIRAN, BRUNEI DARUSSALAM

  8 - Mar - 2010 -   prigel_landwb -   9 Comments »

Bagian ke 3 : Tenaga Migran Indonesia (TMI) di Sektor Formal dan Profesional
 
Meskipun TMI yang bekerja di Brunei mayoritas adalah pekerja non formal. Namun kita sepatutnya berbangga hati, karena dari 35.000 TMI tidak seluruhnya buruh bangunan atau amah. Sebanyak 26% diantaranya adalah pekerja di sektor formal dan profesional di berbagai bidang (lihat kisah sebelumnya). Periode kedatangan para TMI ke Brunei mempunyai ciri khas yang unik. Periode pertama adalah datangnya para dosen senior dalam ilmu sosial dan agama. Kedua, kedatangan para guru sekolah dan ustad/guru mengaji. Ketiga, periode datangnya pekerja bangunan dan amah, dan pekerja semi trampil. Periode keempat, kelompok pekerja profesional perminyakan dan teknologi informasi.

Beberapa tahun setelah Negara Brunei Darussalam berdiri (tahun 1984) dan membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia, banyak dosen dan guru yang didatangkan dari Indonesia. Untuk periode awal Prof. Madya Dr. Mangantar Simanjutak jebolan UI, dan pernah belajar di Univ. Georgetown serta Univ. of Hawai ini pernah menjabat sebagai Prof. Madya Linguistik dan Bhs Melayu, Fakultas Sastra dan Sains Sosial, UBD. Kemudian Prof. Dr. Winarno Surakhmad Alumni UGM dan State Univ. USA pernah menjadi dosen di Institut Pendidikan Sultan Hassanal Bolkiah. Nama Prof. Dr. Soepomo Poedjosoedarmo, MA, juga diakui kemampuanya dalam memajukan pendidikan di Brunei. Untuk periode sekarang Dr. Moh. Nabil Almunawar menjabat Ketua Jurusan Busines and Management, Faculty of Bussines Economic and Policy Studies (FBEBS), UBD. Dr. Abdurrahman Haqqi, adalah Dosen Senior di Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), Gadong, Brunei. Di bidang Seni/Art di Brunei Darussalam, Bapak Drs. Ismaya Sukardi yang asli Wong Jogja, adalah masternya, karena jasa-jasanya di bidang pendidikan seni di Brunei, beliau mendapat penghargaan “Pingat Indah Kerja Baik” dari Sultan Hassanal Bolkiah di istana Nurul Iman. Berkat jasa beliau-beliau inilah nama Indonesia semakin harum dan dihargai di Brunei. Berhubung saat ini lulusan sarjana dari Brunei sendiri semakin banyak, maka jumlah dosen dan guru dari Indonesia di Brunei semakin berkurang.

Kemudian pada tahun 2007 tentunya masih kita ingat bahwa perusahaan Brunei Shell Petrolium (BSP) melakukan rekruitmen tenaga kerja perminyakan secara masal. Kemana tujuan utamanya ? Kemana lagi kalau bukan ke JAKARTA. Kala itu sebanyak 23 insinyur tenaga ahli di bidang explorasi maupun exploitasi perminyakan dan gas bumi dari Indonesia hijrah ke Brunei. Sampai saat ini tenaga ahli perminyakan dan teknisi Indonesia telah menunjukkan repusatinya di Brunei, dan kemampuannya diakui dunia. Nama-nama seperti Bapak H. Widyoko, Bapak Ir. Agus Djamil, Msc (Ketua PERMAI) maupun teknisi muda seperti Mas Susatio, Mas Hariyadi tidaklah asing jika kita mengujungi Ladang Minyak Seria. Kemudian para ahli TI Indonesia, jebolan PTDI (PT Nurtanio Bandung), yang “terpaksa” lari ke segala penjuru dunia, beberapa diantaranya menjadi ahli TI di salah satu Kementrian Stratetgis di Brunei dan Royal Brunei Airlines. Teknisi Komputer pada Perusahaan Microsoft Brunei juga orang Indonesia.

Bagaimana dengan gaji mereka ? Jika dibanding dengan TMI non formal, tentu bukan tandingannya. Perbedaannya adalah berbalik 100% mereka dapat Gaji tinggi ditambah ekstra fasilitas, dari mulai rumah, transportasi, pendidikan dan kesehatan bagi dirinya dan anggota keluarganya. Sebagai contoh Gaji Pensyarah/dosen Gelar Master mulai B$ 2.000 keatas belum termasuk bonus yang bisa dua kali lipat 1B$ Rp 6.500,-, dan untuk Gelar Doktor tinggal kalikan 2 sampai 3 lipat. Dan untuk yang disektor Utama Migas satu bulan gaji dapat dibelikan KERETA/Mobil. Ya… gaji layak, dan penghargaan memang sepantasnya menjadi hak mereka, karena semua itu mereka peroleh dengan kerja keras.

       

Inilah salah satu contoh hasil kerja keras tenaga profesional di Brunei (Seria) gaji besar, plus mobil, rumah tinggal, fasilitas kesehatan dan pendidikan dan semuannya gratis-tis!!!

Apakah beliau-beliau ini lantas merasa puas dan melupakan asal-usul mereka ? Jawabannya tidak. Dari percakapan saya dengan beberapa orang dari beliau kurang lebih sebagai berikut :

“Bagaimanapun kami ini tidak akan pernah melupakan dari mana kami berasal. Kami-kami ini “terpaksa” mengabdi dan bekerja di sini karena itulah pilihan terbaik yang harus kami ambil. Bukannya sombong, di Brunei ini pendahulu-pendahulu kami juga mengharumkan nama Indonesia, dan hasil jerih payah kami juga mengalir ke tanah air serta mendukung perekonomian Indonesia”.

Sebagai manusia mereka juga tidak selamanya merasa senang. Duka yang paling mereka rasakan adalah ketika melihat nasib sesama TMI yang belum seberuntung beliau. Sebagai wujud dari simpati mereka, biasanya mereka akan mengambil tenaga sopir dan amah dari Indonesia. Perasaan bingung juga sempat mereka alami ketika pertama kali memboyong anak-anak mereka pindah ke Brunei. Budaya dan lingkungan yang berbeda dengan di Indonesia ternyata sangat berpengaruh pada Si anak. Kerja keras berupa bujuk rayu dan “pungli tipu-tipu” buat Si anak harus dilakukan setiap saat, sampai mereka paham, dan kerasan tinggal serta mau sekolah di Brunei. Selain itu perasaan rindu tanah air dan keluarga akan selalu muncul ketika ada perayaan hari-hari besar. Seperti di saat Lebaran, tidak seperti di Indonesia di Brunei sangat sepi malam takbiran, tidak ada takbir keliling, habis Sholat Id langsung pulang. Toko-toko/kedai akan buka setelah pukul 12.00 siang. Bagi yang baru pertama kali dan kurang antsisipasi , agak merepotkan. Ini juga pernah saya alami sendiri. Berangkat sholat tidak sarapan, setelah pulang sholat pusing-pusing (putar-putar) sampai ke Bandar Seri Begawan tidak satupun toko/kedai maupun tempat makan buka. Akhirnya balik lagi ke asrama “pecicilan” tidak juga nemu makanan karena student lokal langsung pulang ke rumah masing-masing. Untung masih ada mie instant satu bungkus. Ya sudah sambil mendengarkan “download Takbiran” makan mie instant rebus sebungkus berdua dengan teman saya, dan baru tahu kalau mie tersebut sudah lewat tanggal/expired setelah piringnya bersih. Saya lihat teman saya yang sudah berkeluarga, walaupun tersenyum matanya nampak berkaca-kaca. Barang kali ingat keluarganya…?

Satu hal yang kembali menjadi catatan saya adalah bahwa walaupun para pekerja formal/profesional ini telah menikmati kehidupan yang sangat baik, tidak ada keinginan untuk menjadi warga negara Brunei. Setelah kontrak kerja habis, kembali ke tanah air adalah pilihan yang utama, sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu mereka.

Bersambung…..

Category: cerita, Tags: | posted by:prigel_landwb


9 Responses to “PERJUANGAN SANG “PAHLAWAN DEVISA” INDONESIA DI NEGERI JIRAN, BRUNEI DARUSSALAM”

  1. Mas Widi, tulisan ke-tiga dari kisah bersambung tentang tenaga migran Indonesia di Brunei sangat menarik. Ternyata lebih dari 25% tenaga Indonesia adalah bekerja di bidang “formal-profesional” yang memberikan imbalan yang cukup aduhai, berbalik 180 drajat dari buruh non-formal. Yang selalu kita dengar adalah berita derita tentang nasib sdr2 kita di sektor ini. Ternyata kita bisa/mampu untuk “ekpor” tenaga klas dunia dibidang teknologi canggih, bersaing dengan tenaga2 dari negara manapun.

    Mas Widi mungkin sudah mengalami bhwa sebagai mahasiswa dalam klas campuran dengan mhs negara2 lain kita tidak kalah bahkan mengalahkan, jadi secara “otak” kita tidak kalah, kenapa kita menjadi bangsa terpuruk, kalah dengan bangsa2 lain? Berlainan dengan India, kita sebagian besar haya mampu mengekpor tenaga2 rendahan dengan segala penghinaannya.Kuncinya adalah “pendidikan” yang baik, yang sekarang bukan makin murah namun malah makin tidak terjangkau bagi rata2 keluarga Indonesia. Siapakah yang akan memikirkan ini? Mestinya ya Pemerintah yang katanya sudah menaikkan anggaran pendidikan.

    East west home best, kata pepatah, saya setuju, namun dorongan dasar manusia adalah survival dan tenaga2 profesional kita meninggalkan Indonesia demi survival itu. Imbalannya memang menggiurkan, seorang dosen Doktor tamatan PT ternama luar negeri dengan dinas 10 tahun, di Indonesia gajinya tidak mencapai 10 juta. Mereka harus “jungkir balik” untuk mencukupi kebutuhan. Di Brunei gaji satu bulan dari tenaga profesional migas dapat “satu kereta”, kalau di Ind. seharga 150 juta, alamaaak.

    Semuanya memang harus dengan pengorbanan, tetapi kalau insentive-nya menggiurkan ya sukar ditolak.

    Kesimpulannya, tulisan Mas Widi adalah cukup mencerahkan, dan sangat bermanfaat sebagai sumber informasi langsung dari pengamatan lapangan, karenanya jangan bosan untuk menulis, saya senang untuk terus mengikuti.

    Salam sukses.

  2. widibintoro says:

    Matur nuwun Pak Wik tanggapannya, kepinginnya teman2 dari PWR lainnya yang punya pengalaman juga mau bagi-bagi cerita biar tambah ramai dan tambah ilmu. Memang kualitas SDM dari Indonesia tidak kalah ‘otaknya’ dengan orang asing, dan sudah terlalu banyak buktinya. Karena berbagai “alasan” ya negara lain yang diuntungkan. Adalah tugas pemerintah untuk mencegah larinya ‘otak’ super ke luar negeri. Saya punya kenalan sekarang Dosen Senior di Uinv. Islam Malaysia (UIM), Malaysia beliau dari Aceh. Dulu juga mengajar di UBD. Kenapa lebih senang mengamalkan ilmunya di UIM. Jawabannya kalau mengajar di Tanah Air dan hanya mengandalkan pendapatan yang ’100% adalah haknya’/bukan hak orang lain sangat susah, apalagi sekarang di Aceh lagi banyak dana pasti banyak godaannya. Dengan mengajar di UIM, gaji saya yang memang murni adalah hak saya, cukup untuk hidup dan menyekolahkan anak-anak saya. Salam

    • Betul sekali, hanya rejeki yang halal yang memberkahi. Kenyataannya untuk hidup “cukup” sesuai dengan martabat sosialnya, di negeri kita merupakan seni sendiri kalau hanya mengandalkan dari gaji resmi, khususnya yang mengabdi sebagai pegawai negeri. Dan karena pejabat itu mempunyai “wewenang” untuk “merekayasa”, akhirnya ya itu datangnya godaan, dan sekali tergoda maka tidak akan ada akhirnya.
      Pemeonya adalah “low salary high income”. Memang tidak semua melakukan itu, namun kenyataan bahwa Indonesia merupakan negara nomer satu dari bawah sebagai negara paling korup di Asia Tenggara mungkin ada kaitannya dengan kenyataan itu. Itulah sekedar pendapat dan komen. Salam.

  3. memang dapat duit lebih banyak di negeri orang tetapi kasihan anak istri menanti rindu di tanah kelahiran. daripada bangun negeri orang. mendingan bangun negeri sendiri

  4. widibintoro says:

    Sdr/Sdri FM, terimakasih atas tanggapannya, mereka juga disana karena setengah terpaksa kalau di negeri sendiri bisa memberi jaminan buat apa susah payah di negeri orang. Bukan salah mereka, kadang mereka lebih dihargai. Bahkan bagi yang sudah mapan anak istri bisa dibawa serta. salam

  5. edy winarto says:

    I like travellimg and hunting makanan.Please visit my web site at http://www.edi.winarto.com with google search engine. containing cultures of Indonesia, Indonesian tourism, food-beverage Indonesia, news, and health info

  6. Siti Musyarofah says:

    Subhanallah,, artikel ini menguatkan keinginan saya untuk kuliah di Brunei Darussalam. Tapi bagaimana caranya ya. agar bisa dapat beaasiswa dari kerajaan Brunei.. Ada yang tahu tolong beri info ya??? Trims,

    • widibintoro says:

      Yth. Mbak Siti Musyarofah

      Coba saja datang ke Kemdiknas, cari info beasiswa dari Kementrian Pendidikan Brunei Darussalam,kalau sudah coba cari Beasiswa untuk mahasiswa Indonesia di UBD atau di UNISA kalau tidak salah setiap tahun ada. Mudah-mudahan dari situ terbuka jalan untuk memperoleh beasiswa ke Brunei. Tks

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Sifat Manungsa Miturut Saka Entute

4 - Feb - 2009 | mas_pram | 9 Comments »

Mengenal Bapak Slamet Wijadi

9 - Apr - 2009 | meds | 37 Comments »

Pulang ke PURWOREJO

22 - Dec - 2009 | slamet_darmaji | 5 Comments »

Landmark di Purworejo Barat Laut

14 - Jul - 2008 | Raf | 33 Comments »

DEMAM PRAMEKS

30 - Jan - 2009 | geblex | 12 Comments »

© copyleft - 2010 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net