Menggagas Pembentukan Karakter Generasi Muda melalui Karya Sastra

  3 - Mar - 2010 -   Riyadi -   2 Comments »

Sudah lama anak-anak merindukan dongeng kita. Bukan dongeng menjelang tidur saja, tetapi dongeng yang membawa karakter generasi mendatang kita. Begitu pun cerita-cerita semesta, atau karya sastra, baik lewat teater maupun seni pertujukan lainnya. Juga seni yang mengutuhkan hidup generasi berkepribadian yang matang. Generasi yang mempunyai jati diri dan tidak mudah diejek oleh bangsa lain.

Berikut beberapa pandangan Pak Achjar Chalil yang saya kutip dari FB untuk kita renungkan :
Hingga hari ini, sastra klasik Angkatan Balai Pustaka, karya sastrawan Indonesia jadi bacaan wajib siswa SMA di Malaysia. Dengan ini mereka memelihara “karakter positip Melayu” nya. Ketika Malaysia berulah, bangsa ini pun hanya bisa mencak-…mencak, dan “teriak sana teriak sini”. Wahai para pemimpin..jangan keasikan memburu uang dan kekuasaan…tolong perbaiki karakter bangsa ini….Salam… (Achjar Chalil)

Otomotive? belajar dari asing=perlu!, Elektronik? belajar dari asing=perlu!, Teknologi Informasi? belajar dari asing=perlu. Pokoknya untuk sains dan teknologi silahkan arahkan “kiblat” anda ke luar Indonesia…. Untuk pembangunan karakter b…angsa….? Nah ini dia. Sebagai bangsa yang pernah dijajah barat (belanda) bangsa ini (termasuk para pemimpinnya) tetap juga melihat ke barat.. (Achjar Chalil)

Para pakar pendidikan kita pergi ke barat, pulang bawa gelar DR, PHd, pendidikan di kita pun dirancang ikuti pola Jerman, Inggris, Amerika, atau Australia. Konsep pendidikan yang dirancang oleh Ki Hajar Dewantara dan Engku M. Syafe’i (100% pribu…mi) diletakkan “di bawah meja” (untuk konsep Ki Hajar cukup sekedar kata Tut Wuri Handayani pada logo Depdiknas…
(Achjar Chalil)

Berikut beberapa wawasan terkait dengan kegiatan berkesenian di Kabupaten Purworejo :

Ada banyak grup, sanggar, atau organisasi yang malang melintang di dunia seni di Purworejo. Sedikit yang dikenal eksistensinya oleh masyarakat Purworejo sendiri. Sebagian besar tidak tertampung atau tidak memiliki tempat untuk mengungkapkan ekspresi seninya.

Perlu kiranya sekali waktu di Purworejo diadakan kegiatan pembinaan bidang kesenian secara serius guna menghadapi tantangan globalisasi yang lebih santer mengalir ke dinding kota dan pedesaan-pedesaan di Purworejo.

Sebagai contoh perkembangan dunia sastra di kalangan remaja baru merambah sebagian kecil generasi muda, karena minimnya pembinaan. Di sekolah-sekolah pembelajaran seni sastra tidak konsen lagi lantaran tuntutan kurikulum yang masih sulit diterapkan. Sementara secara nasional pembelajaran sesni sastra belum “terupdate” dan baru terintegrasi melalui Pembelajaran Bahasa Indonesia.

Kerinduan generasi muda akan karya sastra, memang tidak mengglobal, akan tetapi justeru hal inilah kelemahan dunia sastra kita. Ia semakin dijauhi saja. Padahal karya sastra dapat membentuk karakter generasi bangsa kita.

Adalah besar harapan pembentukan karakter generasi bangsa, karakter masyarakat khususnya di Purworejo dapat terjembatani melalui Dewan Kesenian Purworejo, sehingga dapatlah terkondisikan pementasan karya seni semisal karya sastra dan ekspresi seni yang lain, seperti seni teater, seni pedalangan, seni tari, seni karawitan. sampai seni-seni tradisional yang khas di Purworejo dapat tetap eksis dan terbina.

Category: budaya, Tags: , | posted by:Riyadi


2 Responses to “Menggagas Pembentukan Karakter Generasi Muda melalui Karya Sastra”

  1. budiqof says:

    bagus banget wawsannya…barangkali perlu sering2 ada ngumpul para sastrawan di purworejo kemudian berbagi sharing dan dari ngumpul itu mudah2an punya pandangan yg sama..tak lupa…menggandeng pemerintah..agar mereka juga tahu..

  2. Yono says:

    setuju dengan tulisan ini: bagus…. Pendidikan di negara ini sangat lemah dalam hal karakter dan kepribadian bangsa. jadi tak aneh, anak mudanya (yang tua juga) tidak punya identitas yang kuat. yang pro barat gila-gilaan memuja budayanya, musiknya, produk teknologinya, yang sayangnya hanya sebagai “pemakai”. yang pro arab juga, memuja dari bahasa, budaya, pakaian, yang juga hanya “pemakai”. sedangkan yang apatis, jadi generasi hedonis.

    Inilah bangsa yang inferior. lebih bangga dengan identitas dari luar. sementara yang asli dan lokal sering diangap kuno, kolot, dan primitif.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Merdi deso

24 - Feb - 2011 | Anston Bruno | 10 Comments »

Dalang Perempuan Dari Kecamatan Bruno

10 - Oct - 2011 | Anston Bruno | 7 Comments »

Asal-usul Aksara Jawa

14 - Jul - 2010 | Anu Dhihasto | 6 Comments »

Kesenian Purworejo, Kencrengan atau Rebana

24 - Jul - 2008 | gusboret | 7 Comments »

Bedhug dan Kenthongan

6 - Mar - 2008 | meds | 8 Comments »

© copyleft - 2010 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net