Perjuangan Sang “Pahlawan Devisa” di negeri jiran, TKI di Brunei Darussalam (Bag I)

  2 - Feb - 2010 -   meds -   3 Comments »

Bagian I : Kisah Pak Iksan Dari Blitar. Sukses Lewat Perjuangan.
Negara Brunei Darussalam, setiap orang jika mendengar kata itu langsung terpikir sebuah negara yang kaya raya karena kandungan minyaknya luar biasa. Saya boleh katakan ya betul. Memang Brunei adalah Negara yang kaya akan minyak, dari minyak inilah pemacu utama denyut jantung kehidupan Negara Brunei Darussalam.

Sebagai negara yang kaya, makmur, ditambah lagi aman, damai dan bersih udaranya. Adalah wajar jika sampai saat ini Brunei menjadi daerah tujuan bagi banyak orang untuk memperbaiki nasib. Pada awalnya, pendatang terbanyak adalah tenaga kerja asal India, termasuk dari Bangladesh. Namun saat ini siapa lagi kalau bukan Indonesia.

Data terakhir menyebutkan bahwa dari 350.000 orang penduduk Brunei, 10% atau sekitar 30.000 lebih adalah pendatang dari Indonesia, bisa dikatakan setiap ada 10 orang Brunei berkumpul satu diantaranya adalah orang Indonesia. Kalau saat ini anda pergi jalan-jalan ke Bandar, Muara, Seria, Kuala Belait, dan bahkan ke Temburong pasti akan bertemu dengan orang Indonesia.

Bagaimana sulitnya pendatang ketika baru pertama kali ke Brunei ?

Sudah bukan rahasia umum lagi menjadi TKI yang sukses atau sering di sebut dengan kata-kata indah “PAHLAWAN DEVISA” menjadi impian para pencari kerja. Mereka melakuka ini semua karena di dalam negeri sendiri peluang memperoleh lapangan kerja sangat kecil. Segala usaha mereka tempuh, dan segala resiko akan mereka hadapi, demi bisa mengirimkan hasil jerih payahnya ke Keluarga mereka di Indonesia. Untuk menjelaskannya saya akan bercerita tentang usaha salah seorang Pahalawan Devisa, Bapak Iksan ketika akan berjuang mengadu nasib ke Brunei Darussalam.

Beliau adalah seorang lulusan SMA tanpa pekerjaan tetap dan senang menjadi relawan/TIM SAR. Namun sebagai orang awam dia juga berkeinginan mengadu nasib dengan merantau mencari pekerjaan di luar Pulau Jawa, pergilan beliau ke Pulau Kalimantan. Pada awalnya beliau bekerja sebagai kuli angkut pelabuhan, buruh di pertambangan batu bara, dan kemudian pindah lagi ke perkebunan. Setelah mendengar di Brunei ada peluang untuk menjadi TKI dengan gaji lebih besar, akhirnya pulanglah beliau ke kampungnnya di Blitar, Jawa Timur, untuk mencari tambahan modal mengurus dokumen ke agen TKI. Berhubung modal satu-satunya yang beliau miliki adalah sepeda motor, maka dengan bermacam alasan dan tipu daya diambilnya motor itu dari keluarganya. Padahal motor tersebut digadaikan. Rupannya modal belum juga cukup. Akhirnya tanah warisan juga ikut melayang. Dengan modal yang telah dirasa cukup dan ditambah kemarahan keluarga berangkatlah beliau ke Brunei. Naik kapal laut selama dua minggu. Kapal tidak langsung ke Brunei akan tetapi singgah dulu di kamp penampungan agent TKI di Pontianak selama hampir satu bulan. Akhirnya khabar yang ditunggu datang, di Brunei ada lowongan kerja sebagai pelayan restoran. Berangkatlah beliau diantar agent penyalur TKI via jalan darat ke Brunei. Saya tidak bisa membayangkan saat itu jalan lintas Borneo Utara khususnya dari Pontianak seperti apa, ditambah mobil Travel/Elp yang diisi muatan melebihi kapasitas. Jarak tempuh masih sekitar tiga hari. Bahkan ketika sampai di Brunei beliau tidak percaya “Kok masih banyak hutan”, apa benar ini sudah sampai ke Brunei, yang istana dan masjidnya saja ada yang terbuat Emas, mana tidak ada ?”

Apakah langsung bekerja di restoran ? tidak, ternyata mereka dibawa berputar-putar hingga payah kemudian diturunkan di daerah Kuala Lurah dekat perbatasan dengan Limbang ya.. mereka “KENA TIPU….” Mereka memang dipekerjakan di restoran tapi restoran kedai, hanya sebagai tukang cuci piring dan pengupas kelapa. Dan sebagian lainnya dibawa lagi entah kemana….? Jangankan gaji yang besar, untuk makan saja saat itu susah, karena sebagian gaji untuk melunasi jaminan kepada agent pengirim. Hingga untuk mengurus perpanjangan pasport mereka rela tidak digaji berbulan-bulan (sebenarnya hanya untuk ngurus IC, dan visa). Akhirnya ada juga orang Brunei yang berbaik hati ketika bertemu beliau di kedai dan menawarkan kebaikan. Istilahnya menjadi penjamin asal mau bekerja ditempatnya. Ikutlah beliau kekeluarga Brunei tersebut. Hingga belajar menyetirpun dijalani ketika beliau numpang hidup disitu. Pofesinyapun meningkat jadi sopir keluarga di Brunei. Dari sinilah beliau sering diajak majikannya keliling Brunei dan kenal dengan banyak orang penting di Brunei. Diajak jalan-jalan ke luar negeri oleh majikan. Khabar tentang keahlian beliau di bidang relawan/Tim SAR sampai juga ke beberapa sekolah di Brunei. Beliau juga pernah ikut membantu melatih TIM SAR dan Pengakap/Pandu di UBD. Keahliannya tersebut juga menjadi penolong/menjadi pekerjaan utama bagi diri Pak Iksan. Hingga akhirnya beliau bisa diterima nyambi sebagai sopir jemputan, sekaligus agen PO Bus Damri di Bandar Seribegawan, bahkan istrinya dibawa serta untuk bekerja di Brunei. Karena pengalamannya menjelajah di Boreno Utara, tidak jarang beliau dipercaya untuk mengantar tamu yang akan pergi ke Serawak maupun Sabah. Sedangkan anak-anaknya tetap tinggal di Indonesia bersama Embahnya di Jawa Timur, dan kalau liburan sekolah sering diajak main ke Brunei.

Sebagai WNI yang berpengalaman dalam perantauan beliu bertutur, bagi calon TKI yang berminat bekerja di negeri Jiran, sebaiknya kenali dahulu negara tujuan yang akan dipilih (bahasa sononya “mapping”). Jaman sekarang informasi lebih mudah diakses, tidak seperti jaman beliau dahulu. Siapkan segala-galanya dengan baik dan mantap. Jangan sampai pengalaman pahit beliau kembali menimpa WNI/calon TKI lainnya. Jika anak-anaknya sudah selesai sekolah semua dan umur semakin tua, beliau tetap akan pulang ke Indonesia tanah kelahiran yang dicintainya. “Hidup di luar negeri memang indah, namun lebih indah hidup sampai akhir hayat di Negeri Sendiri.”

Gambar dibawah ini adalah salah satu contoh, Jika Anda tidak mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Anda tidak siap dengan kemungkinan terburuk yang akan dihadapi di Negara Orang …..ya terpaksa tinggal di “Rumah Bedeng” di tengah hutan Borneo Utara dan jauh dari mana-mana. (mohon ma’af tempat tidak bisa saya publikasikan).

rumah bedeng TKI di Brunei Darussalam

hutan

“Tentu saja anda akan tidur ditemani rembulan, nyamuk, dan suara penghuni hutan.”

Bersambung………………..

Kiriman:
sdr. Widi Bintoro
widibintoro@ymail.com

Category: cerita, Tags: | posted by:meds


3 Responses to “Perjuangan Sang “Pahlawan Devisa” di negeri jiran, TKI di Brunei Darussalam (Bag I)”

  1. Kata orang Jawa “Jer basuki mawa bea”, inilah kisah yang ditampilkan oleh mas Widi tentang perjuangan Pak Iksan dari “babak belur” kini telah menikmati hasilnya. Cerita ini bisa menjadi informasi, inspirasi sekaligus pencerahan bagi para calon pengadu nasib dimanapun juga tapi lebih2 bila di negeri orang. Gambar2 tentang bedeng dan “malam terang bulan” memberikan “peringatan” yang jelas bahwa semuanya membutuhkan persiapan dan perencanaan yang mateng sebelum sesorang melangkahkan kakinya bila tidak ingin terperosok dalam keadaan yang menyedihkan. Ucapan “selamat”kepada mas Widi untuk tulisan yang menarik. Kita tunggu tulisan berikutnya, salam sukses.

  2. alam tegal says:

    makasi tulisannya mas wid, ini aka sya jadikan pelajaran yg sangat berarti,karna sekarang mau berangkat ke sana mengadu nasib dengan modal pengalaman kerja/memasak masakan padang, tanpa punya ijasah yang semestinya,doakan mudah2 bisa menjalani semua dengan baik..

  3. Untungsubagio says:

    Aku percaya dengan pengalaman anda Mas Widi..karena aku udah ngalami kesana kira-kira thn 2001 sesaat aku resign dari tempat kerjaku di Jakarta…aku nekad pergi ke Brunei, dengan harapan ada suasana baru…sesampai di Brunei aku dapet job sebagai Bus Driver Laluan Timur jurusan Muara-Bandar Seri Begawan..tapi hanya bertahan satu tahun dua bulan aku kembali ke Jakarta, karena apapun terjadi ternyata kerja di Jakarta lebih baik daripada di Negeri orang..ujungnya karena memang aku udah gak mau kerja sama orang lain sekarang aku berwiraswasta dan Alhamdulillah usahaku lancar hingga saat ini, mungkin assetku sekarang hampir 1 milyar rupiah

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

RAHASIA SI UNTUNG

6 - Feb - 2010 | sugeng Ikasapala | 4 Comments »

Purworejo, Saat Senja Mengantar

25 - Mar - 2009 | Raf | 9 Comments »

Kawedanan Kutoarjo , Bukti Sejarah dan Kini….

5 - Aug - 2008 | Raf | 57 Comments »

Warnet pelosok & Firefox

18 - Mar - 2008 | indra | 3 Comments »

Bertemu sesama warga Purworejo di RSPI

15 - Apr - 2012 | Agung Prastowo | 9 Comments »

© copyleft - 2010 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net