PERJUANGAN SANG “PAHLAWAN DEVISA” INDONESIA DI NEGERI JIRAN, BRUNEI DARUSSALAM

  11 - Feb - 2010 -   prigel_landwb -   10 Comments »

Bagian II : Suka Duka Menjadi Tenaga Migran Indonesia di Sektor Informal

Istilah Tenaga Kerja Indonesia (TKI), sebenarnya kurang tepat untuk menyebut pekerja Indonesia yang mengadu nasib di luar negeri. TKI bisa diartikan semua Tenaga Kerja dari Indonesia, baik yang bekerja didalam maupun luar negeri. Akan lebih baik jika istilah tersebut diganti dengan Tenaga Migran Indonesia (TMI). Di fora internasionalpun istilah Migrant worker sudah lama digunakan. Sebagai contoh China menggunakan istilah “Overseas” untuk menyebut tenaga migran dari negara Tirai bambu tersebut. TMI di Brunei pada umumnya bekerja di sektor non formal (pelayan toko, PRT/Amah, buruh bangunan, sopir bus, kondektur cleaning service, pedagang dll). Empat sektor yang saat ini dominan adalah Amah, sopir, tukang kebun dan buruh bangunan. Namun banyak yang menjadi Guru di SD,  SMP, SMA, Dosen di Perguruan Tinggi, ataupun manajer hotel.  Atau tenaga ahli di Petrolium (BP Migas), Shell Brunei, Dephan maupun menduduki jabatan penting di sejumlah Kementrian Brunei.

Untuk tenaga kerja non formal kelemahan umum para TMI adalah kurang atau tidak menguasai bahasa Inggris sehingga kalah bersaing dengan tenaga migrant dari negara lain misalnya Philipina. Hal ini tentu  berdampak pada kecilnya gaji mereka. Contohnya, Pekerja dari Indonesia sebenarnya termasuk golongan yang ulet dan rajin, ketika mereka sedang bekerja tiba-tiba ada Manajer orang asing menegur “What are you doing ?” atau pertanyaan sederhana lainnya karena tidak tahu harus menjawab apa “a… I… ueo” Si Bule/orang asing tersebut langsung berkata  “You are so bad, lazy and so on and so on”. Kalau posisi dia adalah sebagai  pelayan restoran, maka jika ada customer asing bertanya/order yang maju pasti orang Philipina. Bahkan di salah satu restoran Padang terkenal di Brunei “terpaksa” memperkejakan orang Philipina “sungguh sayang”.

Ada hal yang “lucu dan konyol” bahwa kata-kata guyonan salah satu Mantan Presiden RI yang mengatakan bahwa Jika gaji pembantu/Amah di Brunei lebih besar dari Gaji guru, maka banyak guru di Indonesia akan berhenti jadi guru dan memilih menjadi Amah. Ini dimanfaatkan orang-orang Brunei untuk tidak memberi/menaikan gaji PRT  melebihi gaji guru di Indonesia atau kira-kira tidak akan lebih dari B$ 250 perbulan. Padahal Amah disini bekerja ekstra berat. Sebagai gambaran seorang Amah  akan bekerja sepanjang pagi, siang hingga larut malam, mengapa ?

Karena Si Amah harus melayani keluarga besar yang terdiri dari keluarga kakek, anak hingga cucu. Atau dengan kata lain “majikannya satu temanya banyak”. Keluarga disini lebih senang hidup berkumpul dalam satu rumah. Namun ada juga Amah yang bernasib baik dan mendapatkan majikan baik hati. Biasanya majikan western/bule. Tidak heran Amah bernasib baik sperti ini sering diajak ke luar negeri oleh majikannya misal ke Inggris atau negara-negara Eropa lainnya.

Bahkan untuk menggambarkan betapa mulia jasa Si Amah dari Indonesia bagi diri dan keluarganya, salah seorang Bule bernama John Onu Odihi, Phd (Lecturer, di UBD) membuat Puisi dalam bahasa Inggris sederhana seperti ini :

  AMAH,

Lady in the morning

Timely like the clock

 You wake up early And retire to bed late

How you work

 Tireless like the heart

 Should you stop working

 Life will go foul for them

 That feed from your sweat

Amah you are Mother

 In another name

How grateful

 We are

 To you

 Lady of the late night

You stay up to make sure

 Each time we wake up

The house is clean

 And the food is ready

 Forgive us Oh Amah forgive us

 For taking you for granted

 When we should learn from you

 To thank the almighty for his graces

Had our geography been different

Our destiny perhaps would be yours

And yours would be ours

Thank you Amah

God bless you

Always.

 Dari sini kita bisa belajar bahwa hati seorang bule/western seringkali lebih memiliki budaya ketimuran daripada “Orang Timur” sendiri.

Kembali ke “aturan tanpa pedoman diatas” selain menyengsarakan Amah ternyata   sering juga menimpa TMI di sektor informal lainnya, seperti pelayan toko, pelayan restoran, buruh bangunan maupun sopir dari Indonesia. Mulai gaji yang dibawah standar Labor Act Brunei, hingga majikan yang “lupa dan telat” membayar gaji mereka.  Mereka tidak berdaya lagi-lagi karena “background education” dan budaya “nrimo” yang menyebabkan mereka tidak mau membela diri.

Sebut saja Pakde Dadi (dari Kebumen), sopir Bus Jalur 22 persiapan berangkat, melayani trayek BSB-Rimba-UBD, beliau dan TMI non formal lainnya  merasakan imbas dari ” guyonan” yang kurang tepat itu.

Adakalanya karena ketidaktahuan mereka, hal-hal yang sebenarnya masalah kecil akan sangat menyulitkan mereka di kemudian hari. Umpamanya secara tidak sengaja melanggar aturan-aturan/larangan yang berlaku di Brunei.

 Contoh beberapa larangan   bagi pendatang di Brunei ;

  1. Pada umumnya setiap tindak kriminal dilarang di Brunei dan hukumannya sangat berat.
  2. Berkumpul membicarakan politik lebih dari 7 orang diatas jam 10 malam adalah dilarang. Undang-undang Darurat 1968 masih diberlakukan hingga saat ini. Adalah hal yang tabu membicarakan “Number One and family ” di khalayak umum, meskipun itu menyangkut hal-hal yang baik.
  3. Jangan sekali-kali mencoba untuk melakukan pelanggaran lalu lintas sekecil apapun sanksinya tidak akan anda perkirakan sebelumnya.
  4. Jika anda mempunyai sahabat orang “asli” agar berpandai-pandailah dalam membawa diri, jika tidak maka derajat anda akan direndahkan atau  ditipu mentah-mentah.
  5. Jika anda muslim jangan coba-coba membawa atau minum-minuman keras.
  6. Jangan merokok ditempat umum
  7. Dilarang memasang kaca film/gelap pada kereta (mobil), kecuali ada ijin tertentu.
  8. Membawa Dadah/narkoba Hukuman Mati menunggumu.

 Jika anda melakukan pelanggaran atau mencoba untuk melakukan tindakan yang dilarang tersebut, biasanya ada orang lain yang akan melaporkan tindakan anda dan secara tiba-tiba anda akan didatangi aparat yang berwenang. Hukuman bagi “pendatang” tidak ada kompromi.

Saya kebetulan dapat contoh dari teman Si pelaku : Bagaimana bisa terjadi sebuah pisang ditebus dengan $B 500 (Rp 3 juta). Suatu hari ada empat orang buruh bangunan yang berasal dari Indonesia 2 orang, dan Thailand 2 orang. Mereka berempat diberi tugas untuk memperbaiki bangunan rumah orang Brunei. Di suatu siang yang terik (di Katulistiwa lebih terik dibanding di pulau Jawa) mereka berempat iseng mengambil 4 buah pisang yang masak di pohon kepunyaan orang Brunei tersebut. Mereka pikir, apa salahnya di siang yang terik sambil istrahat makan pisang, lagi pula pohon ini milik orang yang sedang mereka bangun rumahnya. Apa yang terjadi, ketika mereka sedang asyik memakan buah pisang tadi, pemilik rumah pulang. Dan menanyakan siapa yang menyuruh mengambil buah pisang tersebut. Anda tahu apa yang dilakukan selanjutnya ?  Tiada ma’af bagi keempat orang tersebut. Tidak beberapa lama kemudian datanglah Polisi menangkap mereka dengan tuduhan tertangkap basah mencuri pisang. Setelah melalui serangkaian sidang yang bagi mereka melelahkan dan menakutkan, mereka berempat diberi dua pilihan denda B$ 2.000,- (12 juta rupiah) atau dipenjara. Tentu yang mereka pilih adalah membayar denda.

Akhirnya keempat orang tersebut bekerja satu bulan di rumah tersebut tanpa digaji, karena gajinya dijadikan jaminan pembayaran denda. Ya satu buah pisang dihargai Rp. 3 Juta. Jadi tidak heran jika di Brunei sedang musim buah, entah itu buah mangga, durian, pisang maupun rambutan. Selain pemilik pohon tidak akan ada yang berani mengambil sampai jatuh sendiri, bagi yang paham “cukup melihat saja” dan kalau kepingin beli saja di Tamu (Pasar) Kianggeh. Harganya murah $B 2.000,- dapat satu kereta lori  (truk) pisang, karena satu sisir Pisang Kepok  hanya $B 1. Apalagi kalau beli pisangnya di Pasar Tradisional di Purworejo sana,  satu kampung kebagian semua.

Saya berharap dari sekedar cerita ini, kepada calon TMI khususnya dari Purworejo yang akan mengadu nasib ke luar negeri, mohon agar dipikirkan dengan sebaik-baiknya sebelum mengambil keputusan. Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang negara yang akan dituju. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada guna.

Catatan :
Istilah  TKI menjadi TMI dan Puisi untuk Amah adalah kutipan dari Buku “KIPRAH” Kenang-Kenangan 20 Tahun Persatuan Masyarakat Indonesia di Brunei Darussalam (PRIME) tahun 2008.

 Bersambung……

Category: cerita, Tags: | posted by:prigel_landwb


10 Responses to “PERJUANGAN SANG “PAHLAWAN DEVISA” INDONESIA DI NEGERI JIRAN, BRUNEI DARUSSALAM”

  1. hasmadji says:

    Mas Widi, tulisan yang menarik, ada baiknya bagi yang baca boleh membagi pengalaman tersebut kalau kebetulan menjumpai teman atau kerabat yang berniat menjadi TMI di tanah jiran (Brunei,Malaysia & Singapura), dengan begitu paling tidak sudah merupakan bekal untuk supaya selamat dinegeri orang. Jadi peribahasa jawa “desa mawa cara negara mawa tata” agaknya gambaran yang cukup cocok terhadap peristiwa yang menimpa sekawanan pekerja bangunan yang “tersedak” buah pisang sialan itu.
    Kembali pada kepada penegakan disiplin/hukum yang diberlakukan di negeri tetangga kita, itu merupakan implentasi yang tegas dari sebuah produk yang telah resmi menjadi undang-undang. Jujur saja sebagian banyak dari kita ini termasuk yang abai terhadap peraturan penegakan disiplin/hukum yang sudah ditetapkan ( undang-undang dan perda-perda ) yang jumlahnya berjibun dan sudah sangat baik, hanya saja karena faktor lemahnya kesadaran bagi pelaku pelanggaran dan lemahnya pengawasan serta penindakan bagi orang yang melanggar. Jadi singkatnya sebagian banyak dari kita kurang terbiasa dengan disiplin atau dengan kata lain menjadikan disiplin sebagai momok dan perlu dilanggar, sehingga sudah sangat sering melakukan pelanggaran tanpa disadarinya.
    Sekedar pengingat bagi kita semua, walau sudah tampak sangat basi disini saya kutip syair dari sebuah lagu jawa Dandanggula warisan leluhur kita yang dulu pernah diajarkan oleh guru SD saya sekitar tahun 1960 an : ( bagi yang hafal mohon ingatkan saya kalau terdapat salah kutip )

    Werdining kang warsita jinarwi
    Wruh ing kukum iku watakira
    Adoh marang kanistane
    Pamicara puniku weh resepe ingkang myarsi
    Tata krama punika ngedohken panyendu
    Kagunan iku kinarya ngupa boga
    Weh rahayuning raga

    Oke mas Widi, sekian dulu komentar saya semoga bermanfa’at bagi yang membaca. Terima kasih.

  2. widibintoro says:

    Kagem Pak Hasmadji, matur nuwun tanggapannya. Kadang kita lupa bahwa hal2 yang di negara kita biasa ternyata bisa menjadi “luar biasa” di negara orang. Sebenarnya kasus2 seperti itu tidak perlu terjadi jika kita mau menghayati kata2 bijak “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Kalau berbicara ilmu tidak ada istilah basi Pak, kecuali ilmu yang tidak pernah dibagi ke orang lain (pintere mung dienggo dhewe). Dan tentu itu akan sangat bermanfaat bagi orang lain. Salam

  3. Mas Widi, saya terkesan atas tulisannya yang menarik dan informatip yang saya yakin sangat bermanfaat bagi mereka yang akan “berjuang” untuk perbaikan nasib di negeri tetangga itu. Beberapa catatan saya: setuju dengan istilah “migran”, karena itu memang lebih tepat. Kedua, “guyonan” petinggi Indonesia itu, kalau betul, sangat fatal akibatnya, kasihan nasib orang2 kita yang di”celakakan” oleh pemimpinnya sendiri. Masalah bahasa memang jadi kendala kita dimana2 dalam bersaing dng orang2 Pilipina, khususnya untuk tenaga bawahan. Siapa yang harus tanggungjawab untuk perbaikan? Harusnya ya Dept.Tenaga Kerja, namun saya ragu apa ada kemauan? Tragis kalau RM Padang harus pakai pelayan orang Pilipina, tapi itu nyatanya. Kasus pisang yang nilainya bagai emas itu, kembali lagi kpd latar belakang “budaya” dan ketidaktahuannya tentang ajaran sederhana kalau “di kandang kambing ya harus ikut mengembik…” Kemidian mengenai “puisi” Amah, sangat bagus dan menyentuh, inilah kunci/rahasia bagaimana kita harusnya memperlakukan “pembantu”, makanya banyak yang ikut “orang barat” krasan dan lengket, ini satu kenyataan bahkan di Jakarta. Mereka “appreciate” tenaga pembantu dan memperlakukannya sesuai dengan haknya. Ini kita perlu belajar dari mereka. Secara keseluruhan saya senang dengan tulisan mas Widi, teruskan, you’re doing a good job.Salam.

  4. widibintoro says:

    Kagem Pak wik, Thank You so Much, semoga tanggapan Bapak akan memacu saya untuk lebih banyak belajar dan belajar (mudah2an tidak jadi gumedhe) dan berharap pengalaman singkat tsb berguna bagi siapa saja yang mau menjadi TMI, khususnya dari Purworejo tercinta. Jangan silau dulu dengan cerita yang hanya kelihatan luarnya saja. Masih banyak kisah-kisah menyedihkan lainnya yang belum/tidak pernah akan terungkap. Hanya belajar, kerja keras dan do’a yg bisa menolong TMI menjadi sukses. Pemimpin adalah panutan, kalau salah gomong siapa yang menanggung pasti Rakyatnya yang tidak tahu apa-apa. Semoga tidak terulang. Mengenai Depnaker ada secercah harapan a.l program pasport gratis bagi TMI yg baru pertama kali berangkat ke LN, semoga dilanjutkan dengan program2 lainnya. Amah di Brunei kebanyakan dari TMI, mereka lebih senang mendapat majikan orang barat daripada Melayu. Kata mereka jangankan orang melayu terkadang orang Indonesia yang menikah dengan orang lokal, berubah juga sifatnya. Belajar menjadi baik tidak boleh memandang dari mana dan siapa tetapi “pandanglah isinya” tidak peduli orang barat maupun timur, petinggi atau rakyat jelata. Salam

  5. widibintoro says:

    Persatuan Masyarakat Indonesia “Kerabat Nusantara” berdiri sejak tahun 1988 dan pada tanggal 1 Juni 2006 telah resmi diakui oleh Pemerintah Brunei Darussalam sebagai organisasi resmi dan terdaftar di Kerajaan Brunei Darussalam, dengan nama Persatuan Masyarakat Indonesia di Brunei Darussalam (PERMAI),(sekalian menjadi koreksi saya pada catatan, yang benar bukan PRIME tetapi PERMAI). Ketua PERMAI sekarang dijabat oleh Bapak Ir. Agus S.Djamil (Staf Ahli Perminyakan,Petrolium Dept. Brunei darussalam). Terimakasih

  6. Mas Widi,
    Terimakasih sudah menulis tentang TMI di Brunei dan mengutip buku kami KIPRAH. Dan terimakasih juga ikut mempopulerkan istilah TMI yang saya tawarkan untuk menggantikan istilah TKI.
    Sedikit koreksi dari kutipan dari buku saya, puisi itu karya Dr John Odihi, dosen kenalan saya asal Afrika, beliau kulit hitam bukan bule.
    Salam,
    Agus S Djamil
    Brunei

    • widibintoro says:

      Pak Agus S Djamil, terimaksih telah memberi tanggapan dan sekaligus koreksi. Meskipun Dr. John Odihi dari kulit hitam tapi hatinya lebih putih dalam menilai jasa seorang amah. Saya kebetulan pernah ngobrol sama seorang amah, kalau bisa memilih dia lebih suka ikut majikan bule/western daripada melayu.
      Salam

  7. di brunei banyak larangannya ya…. katanya bukannya disana semuanya tercukupi. tetapi kalau banyak larangan tetep aja seperti burung hidup disangkar emas. mau ini nggak bisa mau itu nggak boleh.

  8. Saya seorang pengajar bahsa arab moderen, alumni sekolah Al Rosaifah, Mekah. Tepatnya di kediaman Syekh Isma’ Utsman al Yamani Saudi Arabia tahun 1994. Sekarang saya menjadi Kepala Sekolah di Madrasah Aliyah sebuah Pondok Pesantren terbesar di Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur. Saya ingin sekali mengembangkan pembelajaran bahasa arab, termasuk pembelajaran Kitab Berbahasa Arab (kitab-kitab Salafiyah) dengan metode pembelajaran yang praktis dan evisien. Teknik pembelajaran ini telah saya terapkan kepada anak didik saya dan Alhamdulillah berhasil dengan baik. Barangkali ada diantara tema-teman yang bisa membantu saya untuk mengembangkan teknik pembelajaran ini di negara Brunei Draussalam. Saya ingin menjadi tenaga pengajar di sana untuk mengembangkan pengetahuan yang saya miliki. Terima Kasih atas bantuan teman-teman … !

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

PURWOREJO (sesungguhnya) KOTA POTENSIAL

2 - Jun - 2009 | eko_juli | 28 Comments »

Apa Kabar Stasiun Jenar?

19 - Jan - 2015 | Febri Aryanto | 5 Comments »

Pulang ke PURWOREJO

22 - Dec - 2009 | slamet_darmaji | 5 Comments »

SUNAN GESENG

12 - Dec - 2009 | sugeng Ikasapala | 3 Comments »

Nostalgia Anak Kampung

24 - Dec - 2009 | Gunarso TS | 6 Comments »

© copyleft - 2010 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net