Perjalanan Darat Brunei-Pontianak Naik Bus Damri
Brunei Darussalam 20 Desember 2009. Tak terasa 6 bulan sudah berlalu kami tinggal dan belajar di UBD yang cukup sepi dan di kelilingi hutan. Di liburan break semester aku kangen akan kampungku di Purworejo, Jawa Tengah. Tetapi dengan melihat kondisi uang sakuku sebagai student, jika aku memaksa pulang dengan pesawat kerajaan Brunei, Royal Brunei Airlines rasanya cukup mahal. Dan akupun hanya mampu menatapnya ketika melintas rendah di atas UBD. Yah cari akal, cari jalan lain, pulang dengan Bus DAMRI dan transit di Pontianak. Why not ?
Sore itu cuaca di langit Brunei Darussalam cukup cerah. Aku melihat jam ditanganku menunjukkan pukul 14.30 waktu Brunei. Aku bersama temanku dari Indonesia sudah bersiap-siap menuju Bandar Seri Begawan (BSB) untuk checkin tiket Bus DAMRI dari BSB ke Pontianak, seharga B$ 80. Sebenarnya ada empat PO yang melayani rute ini, tetapi kami tetap memilih PO DAMRI karena itulah milik Indonesia yang bisa kami banggakan. Mobil jemputan dari PO DAMRI akhirnya tiba di Parking area Universiti of Brunei Darussalam (UBD). Bersama sang sopir Pak Iksan (WNI telah 8 th kerja di Brunei), kami meninggalkan UBD menuju BSB. Sepanjang perjalanan dari UBD ke BSB, Pak Iksan bercerita tentang pengalaman kerjanya di Brunei. Saya bangga karena Pak Iksan adalah TKI yang punya keahlian melatih TIM SAR dan Pandu/Pramuka, bahasa Inggrisnya bagus, dia pun mempunyai banyak kenalan orang istana. Oleh karena itu, dia sering diajak pejabat kerajaan pergi ke luar Brunei, diluar tugasnya dia bersama istrinya kerja di PO DAMRI BSB. Beliau bekerja di Brunei demi membiayai anak-anaknya yang masih sekolah di Indonesia. Ya, demi anaknya beliau bekerja di negeri orang siang dan malam, yang tentunya diawali dengan pengorbanan dan penuh rintangan.

Suasana ketika para WNI/TKI di Seberang Tamu Kianggih, BSB menunggu kedatangan Bus DAMRI
Akhirya kamipun tiba di BSB tepatnya di lahan parkir “Tamu (Pasar) Kianggih”. Sambil menunggu Bus DAMRI yang akan tiba, kami checkin tiket. Ternyata disitu telah menunggu beberapa TKI/WNI yang juga akan pulang ke Indonesia melalui Pontianak. Sebut saja Asep dari Sukabumi, Pardi dari Jawa Timur dan masih banyak Mas, Pak, dan Mbak dari Jawa Barat, Tengah dan Timur lainnya yang sama-sama akan pulang karena habis kontrak. Kontrak kerja di Brunei umumnya 2 sampai 3 tahun, setelah itu harus kembali ke Indonesia. Mengurus surat lagi dan bisa perpanjangan kontrak untuk periode berikutnya.
Pukul 15.45 WB, Bus DAMRI tiba di BSB. Kamipun menempati tempat duduk masing-masing sesuai nomor tempat duduk di tiket. PO DAMRI mulai beroperasi di Lintas Borneo tanggal 28 Oktober 2008 jadi umur Bus sudah satu tahun. Namun kondisi Bus cukup bagus, hal ini juga karena peraturan standar keselamatan penumpang khususnya Bus di Brunei sangat ketat dan jangan berani coba-coba. Lengah sedikit ada komplain masuk sultan Brunei “good bye forever”. Setelah semuanya OK, Pak Iksan mengkonfirmasi apakah ada yang masih tertinggal. Dan membagikan “Nasi Katok” (kalau di Indonesia nasi uduk dengan ayam sepotong plus sambal harganya 1 ringgit Brunei) untuk bekal makan perjalanan 2 jam menuju perbatasan Miri. Nasi Katok sangat terkenal di Brunei. Hampir setiap tanggal tua keluarga di Brunei biasanya memborong hingga 20 bungkus sekaligus. Everything is OK let’s go.
Perjalanan 24 jam menuju Pontianak menembus hutan dan gunung di Borneo Utara dimulai. Bus berangkat tepat pukul 16.00 WB, perjalanan akan melalui Sarawak (Miri, Bintulu, Sibu, Sarikei, Kuching, Tembedu), Entikong dan akhirnya Pontianak.
Dalam waktu satu jam tiga puluh menit Bus tiba Kuala Belait, sebentar lagi akan memasuki perbatasan Brunei-Sarawak tepatnya di Imigrasi Sungai Tujoh. Menjelang magrib Bus tiba di depan Imigrasi. Seluruh penumpang turun untuk cop pasport keberangkatan di pintu keluar Brunei. Kemudian menuju kantor Custom. Disini penumpang didata dari nama, pekerjaan, tinggal dimana, majikan siapa, dan yang paling penting petugasnya ramah-ramah. Kadang-kadang tersenyum disaat menyebut nama orang Indonesia yang mungkin aneh bagi mereka.

Bus Damri menunggu para penumpang cop pasport di imigrasi Sungai Tujoh, ini merupakan pintu Keluar dari Kuala Belait, Brunei ke Miri, Serawak Malaysia. Biasanya Bus Damri sampai disini menjelang maghrib.
Tiga puluh menit berikutnya Bus mulai memasuki Kota Miri, melewati jembatan ASEAN dan Boulevard Miri. Selepas Miri Bus akan memasuki kawasan Hutan yang masih cukup lebat hingga lepas Bintulu. Ya disaat Indonesia kehabisan Hutan, Brunei dan Malaysia hutannya Utuh. (Saya tidak akan membahas hutan yang dibabat oleh siapa). Walaupun di kegelapan malam, dengan dibantu cahaya bulan saya dapat melihat setiap beberapa kilometer terpampang tulisan
“you will enter the rain forest park of Sarawak-Malaysia, welcome to Sarawak Resort”. Wow…my heart says where’s the rain forest park of Kalimatan-Indonesia or Sumatra or Sulawesi and now has been started in Papua…so… sad.
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 02.00 waktu Sarawak, setelah melalui Palm Plantations of Sarawak (mata sampai bosen) kebon kelapa sawit tidak ada ujungnya. Bus DAMRI memasuki rest area untuk makan di antara kebun sawit, tepatnya di Daerah Selango, Sibu. Disitu terdapat masakan khas Sarawak bermacam-macam masakan Ikan sungai dan sayur Miding (pakis), seperti biasa ada sepiring telur ayam rebus di setiap meja makan, sayang nasinya agak “blenyek”. Tetapi tidak mengapa karena perut memang lapar, harga sama rata nasi sayur dan lauk seharga 8 RM, plus teh manis. Lagi-lagi pelayannya kebanyakan “Wong Njowo” luar biasa, seperti makan di pantura saja jadi ingat kalau pas mudik lebaran.
Dalam kesempatan tersebut saya ngobrol dengan TKW asal Jatim seorang Ibu-ibu. “Kenapa memilih jalan darat Bu ?
Beliau menjawab “Sebabe luwih murah Mas, bus 80 dollar Brunei ditambah naik pesawat yang ekonomi non Garuda dari Pontianak hanya 300 an ribu, kebetulan ada teman di Pontianak jadi lebih ngirit Mas, diitung-itung 1 Juta rupiah aku wis katek Suroboyo. Iso nukokke jajan anakku. Coba kalau naik Pesawat Royal Brunei langsung pesawate thok 400 dollar Brunei (3,5 juta) iku ya kelas ekonomi” .

Transit di Rumah Makan di Selango, Sibu, Serawak pkl. 02.10 WS
Menjelang pagi Bus Berjalan agak perlahan karena memasuki kawasan pegunungan dan dan kiri-kanan banyak terdapat tebing batu dan jurang. Dari Sarikei Bus menuju kearah Kuching namun Bus tidak melalui Kota Kucing hanya OTR nya saja. Jalanan di Trans Malaysia mulai terlihat jelas, lebar, halus kiri kanan ada grapel sebelum pembatas rumput, baru kemudian drainase. Disepanjang jalan, para “perawat jalan” kebanyakan keturunan atau dari India-Bangladesh sibuk dengan mesin potong rumputnya membabat rumput yang mulai memasuki bahu jalan. Selain itu jarak rumah ke Jalan sepertinya diatur dengan bagus. One more question How about road in Indonesia, my country ?.
Memasuki daerah pinggiran Kuching akan terasa seperti naik Bus di Indonesia ada sawah, kebun sawit dan Hutan yang sangat terjaga. Kira-kira pukul 08.00 WS Bus memasuki daerah Tembedu. Pintu imigrasi keluar dari wilayah Malaysia. Penumpang satu persatu kembali turun untuk cop passport. Kurang lebih satu kilometer ke depan Bus akan memasuki wilayah NKRI pintu masuk Entikong.
Suasana berubah drastis, penumpang turun dan harus berjalan kurang lebih 200 ratus meter memasuki pintu yang dijaga TNI dengan senjata lengkap. Calo penukar uang dan penjual pulsa Indonesia menawarkan jasanya dengan agak memaksa dan menjual pulsa dengan harga semaunya. Kemudian ada oknum berseragam yang meminta passport para TKI untuk dibantu meminta cop di imigrasi. Sementara barang-barang di bagasi di chek satu persatu. Proses di Entikong butuh waktu kurang lebih 30 menit.
Setelah semua selesai, penumpang kembali ke dalam Bus. Ada semacam portal dan rantai yang dipasang, sebelum dibuka Bus tidak akan bisa masuk. Kemudian masih ada pagar yang bisa dibuka tutup. Ya mungkin demi keamanan semua itu dilakukan. Pasportpun dikembalikan kepada para penumpang, namun sayang oknum berseragam yang didadanya tanpa nama tersebut, dengan dibantu temannya meminta uang jasa cop sebesar 20 ribu rupiah atau jika tidak ada 10 RM. Kasihan padahal kalu cop sendiri gratis. Ada pula TKI yang memelas tapi mereka tidak peduli. Bayangkan kalau sehari 4 bus masuk 4 bus keluar dikali 40 penumpang berapa itu, seminggu, sebulan, setahun ? That’s happened in my country and I saw it all…?

Suasana ketika pemeriksaan bagasi barang para penumpang Bus di Entikong, coba tebak siapa yang memakai baju Biru Muda dan pegang banyak pasport ? susah karena tanpa nama diseragamnya.
Selain itu terlihat ada semacam pos yang didalamnya terdapat pamflet, dan poster potensi wisata Kalbar yang tidak terawat. Pamflet dibuat sekedarnya, bagaimana wisatawan akan tertarik ? Sekali lagi jika dibandingkan promosi wisata di Serawak sampai Sabah kalah jauh !
Memasuki wilayah Kalimantan Barat, mulai dapat dibedakan dengan negara tetangga. Bus berjalan perlahan, karena sarana jalan agak sempit. Masih banyak lubang khususnya kalau melewati jembatan. Jalan berkelok-kelok dan tidak akan kelihatan jika ada kendaraan didepannya, karena tidak ada pembabat rumput atau semak yang menutupi bahu jalan. Hal ini jauh berbeda dengan Jalanan di Malaysia apalagi di Brunei. Padahal Entikong-Pontianak jarak tempuhnya kurang lebih masih 8 jam. Pemandangan yang telihat di kejauhan adalah bekas Hutan yang sudah gundul dan tinggal tonggaknya, serta tanaman padi yang kurang subur. Selain itu jarak rumah penduduk dengan bahu jalan cukup dekat dan berbahaya. Tidak jarang kaca kiri depan bus “dibersihkan” oleh daun bambu, ranting atau daun pisang yang menjulur ke jalan raya. Kru Bus mulai memutar Film dan musik Malaysia dan Indonesia sebagai penghibur dan pengusir rasa penat. Hasilnya cukup lumayan juga bisa mengurangi ketidakyamanan penumpang selama dalam perjalanan.
Pukul 11. 30 WIT Bus memasuki rest area di Daerah Ladak. Disini makanan cukup mahal satu orang sekali makan hampir lima puluh ribu. Nasi lauk mirip ketika makan di Sarawak walaupun tulisan menyebut “Rumah Makan Padang”. Dan Nasinya tahan banting alias “keras/pera”. Sekali lagi karena lapar rasannya tetap enak.
Memasuki wilayah Kalbar mendekati Kota Pontianak, hamparan sawah yang hijau seperti di Pulau Jawa terlihat di kiri dan kanan. Pemandangan rawa dan sawah mendominasi selama kurang lebih empat jam. Pukul 16.30 WIT Bus memasuki Kota Pontianak melewati Tugu Katulistiwa yang terkenal itu. Tidak terasa 24 jam sudah kami melakukan perjalanan darat Brunei-Miri-Selango-Kuching-Pontianak. Kami menginap semalam di Pontianak, untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan pesawat milik swasta Rp 320 ribu menuju Jakarta. Memang terbukti cerita Ibu dari Jatim tadi bahwa dengan Rp 1 Juta saya pun bisa sampai di Jakarta.
Itulah pengalaman perjalanan darat saya dari Brunei-Pontianak bersama dengan para TKI, yang katanya “pahlawan devisa”. Tetapi nasib mereka siapa yang peduli jangankan perlindungan, “dukungan tidak langsung” kepada merekapun sangat kurang. Bahkan justru rasa tidak aman itu muncul ketika mereka kembali memasuki Negara yang dicintai ini. Demi memperbaiki nasib, demi membiayai anak mereka sekolah dan memberinya jajan mereka mau bekerja siang dan malam. Mereka juga rela naik Bus selama 24 jam dan naik pesawat murah dengan resiko cukup tinggi.
Harapan saya semoga pemerintah lebih perduli dengan membangun daerah perbatasan. Karena disitulah halaman depan Negara Indonesia. Alangkah indahnya jika prasarana khususnya jalan dari perbatasan diperlebar, diperbaiki dan selalu dirawat. Kemudian oknum/calo/preman diberantas. Pasti para WNI/TKI di Brunei dan Serawak yang memanfaatkan jalur darat untuk kembali ke Indonesia akan terbantu atau setidaknya merasa dihargai. Selain itu dampak ekonomi dan pariwisata pasti akan meningkat. Banyak wisatawan Brunei maupun Malaysia yang sebenarnya ingin ke Pontianak, namun hanya alasan keamanan dan ketidakyamanan mereka mengurungkan niatnya, apalagi Jalan Darat “no way”.
Namun untuk mencapai semua itu membutuhkan waktu, pikiran, tenaga dan juga dana yang tidak sedikit. Kita Pasti bisa jika ada kemauan dan dukungan dari semua pihak. Semoga….
Halaman Depan | 19 January 2010, Under: cerita —Posted by: prigel_landwb @ 10:53 am , Comments (20)
Random Posts
20 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI



Mas Widi, tidak terlalu lama menunggu tulisan Anda segera muncul di blog ini. Selamat ya..! Catatan perjalanan yang ditulis sangat bermakna, sejujurnya RI memang masih tertinggal dalam hal mengelola lingkungan sebagaimana yang telah Anda lihat. Mengenai pelayanan oknum petugas perbatasan yang masih dirasakan kurang nyaman terhadap TKI, agaknya sudah bukan hal aneh lagi, sudah banyak media cetak memuat artikel sejenis.
Masih segar dalam ingatan kita bahwa Menteri Pertahan kita belum lama ini juga berkunjung ke perbatasan RI – Serawak termasuk di Entikong, meskipun secara khusus bukan tugas/wewenang beliau dalam hal pembangunan wilayah, tetapi paling tidak semoga beliau juga menyadari pentingnya pembangunan wilayah perbatasan yang tentunya dapat berdampak positip terhadap ketahanan nasional, dari beliau diharapkan untuk dapat memberi masukan kepada pihak yang berkompeten.Kita masih optimis, cepat atau lambat kemajuan wilayah perbatasan seperti yang diharapkan akan dapat terwujud asalkan dikelola sdm yang handal dan mendapat dukungan yang memadai dari semua pihak khususnya oleh para pengelola negeri ini tercinta.
Mas Widi, ada pertanyaan sedikit kira-kira ada berapa banyak tenaga dosen yang mengajar di UBD untuk sa’at ini? Seingat saya di era delapan puluhan saya baca di media bahwa pemerintah Brunei secara gencar banyak merekrut dosen-dosen dari RI. Sekian komentar saya, teruslah berjuang dengan tetap mengharumkan Indonesia.
[Reply]
widibintoro Reply:
January 26th, 2010 at 12:04 am
Pak Hasmadji, Terima kasih atas tanggapannya, ma’af baru saya balas. Saya sempat khawatir karena beberapa hari akses ke BP sangat susah, malah blog saya pribadi kena juga. Dosen dari Indonesia di UBD saat ini ada 3 orang satu orang mengajar Sastra Arab, 1 orang ekonomi dan 1 sastra melayu semua Doktor. Justru yang sering adalah dosen tamu baik dari UGM, UI maupun univ terkemuka Indonesia lainnya.
[Reply]
widibintoro Reply:
January 26th, 2010 at 12:08 am
Terima karu kasih atas tanggapannya, ma’af baru saya balas. Karena beberapa hari ini masih susah untuk akses ke BP. Saat ini ada 3 orang dosen dari Indonesia yang mengajar di UBD, sastra Arab, Melayu dan Ekonomi. UBD juga sering mengundang dosen tamu dari berbagai univ. terkemuka di Indonesia. Salam
[Reply]
Comment by hasmadji — 19 January 2010 @ 1:40 pm
Setelah beberapa waktu BP “sembunyi”, alhamdulilah kini muncul kembali, menghapus macam2 dugaan tentang sebab absennya. Terimakasih pada mas Meds, selaku pengasuh/pengelola BP yang kita cintai ini; perlu diucapkan selamat.
Mas Widi, kisah perjlanan darat Brunei-Serawak-Kalbar/Pontianak sangat menarik, memberikan nilai tambah bagi Blogger kita, mudah2an ini baru permulaan dan disusul berikutnya juga bagi yang lain2 untuk menuliskan kisahnya sehing BP akan semakin semarak.
Terus terang saya “iri” atas petualangan mas Widi ini, andai jarum jam umur saya bisa diputar balik 50-60 tahun kebelakang, saya akan ikuti jejak mas Widi, bukan hanya masalah “pengiridan” tapi adalah pilihan, karena perjalanan darat ini begitu banyak memberi pengalaman,baik yang dilihat maupun yang rasakan, sehingga akan jauh memberika pelajaran bagi perjalanan kehidupan kita kedepan.Waktu saya merambah daerah Serawak/Brunei 20 tahunan yl. kebanyakan saya lakukan dengan pesawat terbang, kecuali antara Miri-Brunei, beberapa sungai belum ada jembatannya.
Cerita tentang TKI/TKW dengan perjuangan dan pengorbannya demi hari depan anak2 mereka,sungguh menyentuh, pembandingan pengelolaan sumber alam dan sarana antara negara jiran dan negara kita, perlakuan para petugas kita kepada saudara2 kita sendiri yang semestinya harus kita bantu,sungguh membuat kita dalam bahasa politiknya “sangat memprihatinkan”, namun itulah kenyataannya. Mas Widi beruntung berkesempatan membandingkan, namun saya tetap kagum, apapun keadaannya, mas Widi tetap bangga sebagai orang Indonesia, mudah2an nanti ada kesempatan untuk lebih bisa berbuat…
Bagi para teman2 yang akan mengadu nasib di negeri jiran, kisah mas Widi semoga bisa menjadi acuan dan informasi tentang hal2 yang perlu diketahui, saya kira mas Widi masih bersedia untuk menjawab pertanyaan yang mungkin akan diajukan.
Kesimpulan saya, maju terus mas Widi, tulisan berikutnya tentang berbagai hal, tentunya yang positif, sangat ditunggu. Salam hangat.
[Reply]
Comment by slamet wijadi — 25 January 2010 @ 9:24 pm
Pak Slamet Wiyadi, terima kasih juga tanggapannya. Saya juga senang kalau coretan tsb ada gunanya. Tks dan Selamat kepada Mas Meds karena BP sudah bisa diakses lagi walupun dari sini cukup susah. Saya akan mencoba untuk menjawab semua pertanyaan (termasuk teka-teki dan amanat dari Bapak via email/fb). Perjalanan dari darat lebih menarik daripada hanya duduk/tidur dua jam melihat awan/mendung tiba-tiba sampai. Saat ini di setiap sungai di lintas Kota Kinabalu-Pontianak sudah dibangun jembatan, hanya ada satu di daerah Puni (perbatanan Temburong-Limbang) yang akan tetap dipertahankan karena berhubungan dengan “masalah perut” penduduk sekitar. Jembatan datang, penghasilan fery penyebarangan hilang. Salam
[Reply]
Comment by widibintoro — 26 January 2010 @ 12:42 am
kagem Pak Wik, mohon maaf belum sempat balas pesan di FB. lha koneksi internet saya juga bermasalah, lalu BP eror 4 hari, lalu ada juga web saya yang lain kena hack di server. jadi kalang kabut. ini saja saya akses pakai proxy, kalau dari komputer lokal belum bisa bukan BP
U mas Widi, ditunggu cerita2 lainnya.
[Reply]
slamet wijadi Reply:
January 26th, 2010 at 9:24 am
Mas Meds, tidak mengapa, dengan munculnya kembali BP sudah terjawab pertanyaan saya, sekali lagi maturnuwun, saya sempat curiga apa gara2 tulisan mas Widi, padahal kisahnya kan bagus, perlu sebagai inspirasi/dorongan bagi kawan2 lainnya untuk menuliskan kisahnya, sehingga kuwalitas Blogger kita makin meningkat dan menarik. Salam.
[Reply]
Comment by meds — 26 January 2010 @ 6:36 am
Salam, Mas Meds dalam kesempatan ini SAYA MOHON MA’AF yang sebesar-besarnya. Gara-gara coretan saya telah membuat susah pecinta BP, terutama Mas Meds. Ini menantang saya untuk belajar IT. Insya Allah saya akan kirim cerita lainnya. Bravo BP. Wassalam. KR. WB.
[Reply]
slamet wijadi Reply:
January 26th, 2010 at 4:15 pm
Mas Widi saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut kisah Pak Iksan “sang pahlawan keluarga” yang mengembara di negeri orang sudah 8 tahun demi hari depan putra2nya. Tolong mas Widi ungkap lebih lanjut latar belakang kisahnya, saya yakin banyak yang bisa di petik hikmahnya bagi para teman2 BP. Mas Widi bisa juga cerita tentang masyarakat Indonesia disini, dari yang paling “rendah” sampai para profesional di Shell yang telah menikmati gaji/fasilitas yang aduh hai… maupun para dosen Indonesia di UBD, tentunya yang umum saja sehingga tidak kena “semprit”… tentu ini untuk dilaksanakan disela-sela kesibukan belajar. Salam.
[Reply]
meds Reply:
January 26th, 2010 at 6:30 pm
Gak kok Mas Widi, memang hostingnya yang bermasalah (bilangnya sih perbaikan sistem), hosting sempat down 4 hari, jadi tidak ada hubungannya sama postingan mas Widi.
jadi ditunggu tulisan2 selanjutnya. yang kritis juga gpp, mungkin kalau saluran resmi mental, bisa lewat saluran blog.
[Reply]
Comment by widibintoro — 26 January 2010 @ 9:32 am
Thanks atas perhatian pd kmi para TKI,saya TKI negara brunei yg d daerah kuala belait tepatnya d kampung pandan.kmi mrasakan apa yg terjadi d pintu masuk negara kmi sndri indonesia,adanya oknum yg berseragam yg membuat kmi tdk nyaman,bukanya membantu malah buat repot kmi,knp dr pihak damri sndri tdk membantu?kmi berharap pemerintah peduli pd nasib kami yg mau pulang ke kampung halaman setelah penat bekerja pagi sampai mlm di negara orang.sekian,wassalam
[Reply]
Comment by Edi lg — 21 February 2010 @ 8:56 am
Pak Edi, terima kasih atas tanggapannya, memang sangat ironi ketika para TKI/TMI yang sudah bekerja siang malam dan katanya Pahlawan Devisa, justru semakin sengsara ketika memasuki pintu “rumahnya sendiri”. Bahkan pemisahan terminal masuk bagi para TKI di Bandara Soekarno-Hatta, justru mempermudah para oknum dalam melakukan aksinya. Semoga ini menjadi perhatian kedepan bagi para stakeholder untuk mengevaluasi menuju suatu kebaikan. Sehingga sebutan pahlawan devisa benar-benar dirasakan para TKI/TMI kita, tidak hanya sebagi pemanis untuk menutupi kepahitan yang selama ini masih terus menimpa para TKI kita. Pak Edi, kalau boleh tahu Pak Edi dari mana, dan bekerja di sektor apa ?. Salam
[Reply]
Comment by widibintoro — 21 February 2010 @ 11:40 pm
Masalah pokoknya adalah sikap mental korup yang sudah menghinggapi dan membudaya bagi sebagian besar aparat/birokrasi Indonesia, yang adalah merupakan cerminan dari kondisi umum bangsa Indonesia saat ini. Makanya ada yang bilang bahwa sikap korup aparat/petugas di lapangan itu hanya ibarat gunung es yang nampak dipermukaan. Seperti berita tentang seorang Profesor yang ternyata seorang plagiat, itu juga mencerminkan betapa amburadulnya kondisi dunia pendidikan secara keseluruhan. Bagaimana solusinya? Saya setuju dengan tajuk Kompas beberapa hari lalu, pemerintah/pimpinan harus memprioritaskan pendididikan character sebagai bagian dari nation building. Ini memang semacam “wishful thinking” dalam kondisi sekarang ini. So what? Itulah tugasnya generasi muda yang cinta pada Indonesia. Salam.
[Reply]
Comment by slamet wijadi — 22 February 2010 @ 8:45 am
Pak Wik, Fakta yang tampak nyata di Indonesia saat ini berkaitan dengan korupsi adalah menjamurnya korupsi akibat kesulitan untuk membasminya. Meskipun sejumlah kasus menunjukkan keberhasilan, namun masih lebih banyak kasus korupsi (jumlah yang besar) justru selalu mengalami kegagalan manakala banyak “interest” bermain didalamnya. Contohnya hampir setiap hari bisa kita lihat bahkan kita alami yang benar jadi salah yang salah jadi benar. Kegagalan dalam membasmi korupsi salah satunya dikarenakan faktor budaya sehingga masyarakat menganggap korupsi sebagai suatu kebiasaan atau kelaziman. Banyak istilah, peribahasa, praktik dan kebiasaan yang digunakan sehari-hari di masyarakat ternyata berkonotasi korupsi, ataupun berimplikasi pada korupsi, atau “menghaluskan” korupsi, “86 (delapan enam)”, beberapa diantaranya yang ditemui di daerah-daerah di Indonesia. Jangan heran jika koruptornya seorang pejabat akan disebut sebagai “pejabat yang nakal” kenapa tidak ditulis penghianat negara atau pembunuh rakyat dan masih banyak istilah lainnya yang lebih mengena, dan dengan hasil korupsi tsb penjara bisa dia ubah menjadi tempat pesta. Dengan kata lain lahirlah korupsi lanjutan di Lapas. Berangkat dari fakta tersebut, tampaknya perlu dilakukan upaya “pelurusan budaya” yang dapat diawali dengan upaya penyadaran kepada generasi muda bahwa tindak korupsi ada karena kita sendiri secara tidak sadar telah ikut melestarikannya melalui penggunaan bahasa sehari-hari. Upaya ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah awal bagi terciptanya generasi yang “bersih” dari korupsi, Semoga. salam
[Reply]
marry Reply:
February 24th, 2010 at 1:06 am
Ass,maaf nimbrung ni.kalo ckp pasal korupsi ni indonesia tak da abisnya ya pak.seakan akan undang2 boleh dibeli.tgkt kriminalnya pun cukup tinggi.knp ya pemerintah indonesia tak nak ikut sistem mcm singapore atau malaysia? dimulakan dr no ktp aja sbg contohnya.satu no ktp tak payah ditukarganti,cukup satu no issued dipegang sampai ke mati.jd untik melakukan hal2 yg bersifat negatif org akan berpikir 2 kali.wsslm
[Reply]
widibintoro Reply:
February 24th, 2010 at 12:39 pm
Sdr/Sdri Marry, tks tanggapannya pemerintah RI rencananya memang mau menerapkan satu KTP (kapan?). Di Malaysia, Singapura dan Brunei sudah. Kalau di Brunei ada semacam Chip di KTPnya jadi memang efektif untuk mencegah penyalahgunaan KTP ataupun mengurangi tindak kriminal. salam
[Reply]
Comment by widibintoro — 23 February 2010 @ 9:46 pm
Mas Widi, kembali ke masalah karakter bangsa, sesungguhnya yang kita sebut baik dan buruk itu yang mana? Ada pemeo hanya ada 3 polisi yang jujur, “Pak Hoegeng, polisi tidur dan patung polisi di jalan”, ini malah cuma jadi lelucon bukannya jadi ikon, Pak Hoegeng dianggap “tidak normal” tidak ada yang menganggap “pahlawan”. “the society get leaders they deserve”, itulah adegiumnya. Kalau Indonesia sudah puas dengan keadaan spt ini, so what? Penjara bukan tempat aib lagi, malah ada Peguyuban ex. Napi yang terhormat, masyarakat menerima, pimpinan PSSI dipimpin ex.napi juga diterima, itulah realitas jaman sekarang dan saya tidak tahu harus dimulai dari mana, apalagi kalau mengikuti “sinetron” Pansus, wala-wala kuwata… salam.
[Reply]
Comment by slamet wijadi — 24 February 2010 @ 10:25 am
Pak Wik, memang susah kalau berbicara karakter “watuk” ada obatnya, kalau “watak” angel tambane. Tapi saya yakin masih banyak orang-orang yang berjiwa seperti Pak Hoegeng di negara kita ini, walaupun resikonya berat. Pendapat saya pribadi harus dimulai dari diri kita masing2, kalau tidak lantas siapa lagi. Apalagi “sinetron2 politik”, nonton saja pusing apa lagi ikut main, amit2 jangan sampai and no way…. Salam
[Reply]
Comment by widibintoro — 24 February 2010 @ 1:02 pm
nai bus bisa sampai ke brunei ya… deket banget…
[Reply]
widibintoro Reply:
May 30th, 2010 at 2:17 pm
Wah, Sdr/Sdri. FM ke Brunei naik Bus lumayan jauh sehari semalam alias 24 jam. Kalau dihitung dari P Jawa lebih jauh lagi 3 hari karena harus transit di Pontianak. Tapi kalau mau sekedar wisata boleh saja, jalurnya aman kok. Salam
[Reply]
Comment by furniture minimalis — 29 May 2010 @ 1:58 pm