Obat Penyakit Kanker

  29 - Jan - 2010 -   sugeng Ikasapala -   3 Comments »

Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat   memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman  “keladi tikus” (Typhonium Flagelliforme/Rodent Tuber) sebagai tanaman  obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan   berbagai penyakit berat lain.
   
Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 sentimeter
ini  hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung.
“Tanaman ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa,” kata Drs.Patoppoi
Pasau, orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia. Tanaman
obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris K.H.

 

Teo,Dip  Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia. Lembaga perawatan
kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan pasien dari  Malaysia, Amerika, Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura, dan  berbagai negara di dunia.
   
Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di  Pekalongan,Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker  payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker  ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani  kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel, Red) untuk menghentikan  penyebaran sel-sel kanker tersebut. “Sebelum menjalani kemoterapi,dokter  mengatakan agar kami menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi  akan mengakibatkan kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan  hilangnya nafsu makan,” jelas Patoppoi.
   
Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus  berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan  informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati  kanker. “Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli  teh tersebut,” ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang  berada di sebuah toko obat di Malaysia, secara tidak sengaja dia melihat  dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. “Setelah saya baca  sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku  itu, saya malah tidak Jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke  Indonesia, ” kenang Patoppoi sambil tersenyum. Di buku itulah Patoppoi  membaca khasiat typhonium flagelliforme itu. Berdasarkan pengetahuannya  di bidang biologi, pensiunan pejabat Departemen Pertanian ini langsung  menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah menghubungi beberapa  koleganya di berbagai tempat, familinya di Pekalongan Jawa Tengah,balas  menghubunginya. Ternyata, mereka menemukan tanaman itu di sana.

 

Setelah  mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi  menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman
yang  ditemukannya itu. Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi
dan  menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. “Dr Teo  mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat,”  lanjut Patoppoi.
   
Akhirnya, dengan tekad bulat dan do’a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai  memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku  tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi  putranya, Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan  tanaman tersebut. “Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya  mulai mencari di pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan  tanaman tersebut tumbuh liar di pinggir sungai,” kata Boni yang  mendampingi ayahnya saat itu. Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut,  isteri Patoppoi mengalami penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya.
Rambutnya berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan  mual-mual hilang. “Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali normal,”  lanjut Boni. Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi  menjalani pemeriksaan kankernya. “Hasil pemeriksaan negatif, dan itu  sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta,” kata Patoppoi.
 

Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan  pada isterinya. “Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan  dosis kemoterapi kepada kami,” lanjut Patoppoi. Setelah diterangkan  mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung  Pengobatan tersebut dan menyarankan agar mengembangkannya. Apalagi  melihat keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi  yang sangat keras tersebut. Dan pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan  sekali diundur menjadi enam bulan sekali.”Tetapi karena sesuatu hal,  para dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan  penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif,” sambung Boni sambil  tertawa.
   
Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr.Teo  melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak  terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan  tanaman ini di Indonesia. Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami,  tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak  yang jauh,” sambung Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku  mereka diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan disebar-luaskan di  Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan  berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia.
   
Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai  meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos,  Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala, penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan  salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan  di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil  menyembuhkan pasien tersebut. “Lalu saya langsung menulis di kolom  Pembaca Menulis di Jawa Pos,” ujar Boni. Dan tanggapan yang diterimanya  benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. “Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang datang ke  sini,” lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani, Buduran Sidoarjo.

Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium  dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi. Tetapi  karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual  untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos. Setelah  diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien tersebut  datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, karena hasil  pemeriksaan mengatakan negatif. Berdasarkan animo masyarakat sekitar  yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha untuk menemui Dr. Teo secara  langsung. Atas bantuan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan  Departemen Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di  Penang, Malaysia. Di kantor Pusat Cancer Care Penang, Malaysia,

 

Patoppoi mendapat penerangan lebih lanjut mengenai riset tanaman yang saat  ditemukan memiliki nama Indonesia. Ternyata saat Patoppoi mendapat
buku  “Cancer, Yet They Live” edisi revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di  masukkan dalam buku tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya  berperang melawan kanker. Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi  agar Patoppoi mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya.

Maka secara resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan  lembaga sosial Cancer Care Indonesia, yang juga disebutkan dalam buletin  bulanan Cancer Care, yaitu di Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta, telp.  021-4894745, dan di Buduran, Sidoarjo.
   
Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut  secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus  dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai  tanaman lainnya dengan dosis tertentu. “Dosis yang diperlukan  tergantung penyakit yang diderita,” kata Boni. Untuk mendapatkan obat  tersebut, penderita harus mengisi formulir yang menanyakan keadaan dan  gejala penderita dan akan dikirimkan melalui fax ke Dr. Teo. “Formulir  tersebut dapat diisi disini, dan akan kami fax-kan. Kemudian Dr. Teo  sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus obatnya, dengan harga  langsung dari Malaysia, sekitar 40-60 Ringgit Malaysia,” lanjut Boni.  “Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarik  keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan  perpanjangan waktu pembayaran.” tambahnya. Sebenarnya pengobatan ini  juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu dokter senior di  Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal.

 

Ada dua pasien  yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat sebagai direktur salah  satu rumah sakit terbesar di Surabaya ini. Pasien pertama yang mengidap  kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan keladi tikus,karena  telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah memiliki reputasi.  Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami  kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada  pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini menanganinya  sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses  penyembuhan kemoterapi. Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai  efek yang dialami penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan  normal. Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos karena menurutnya,  pengobatan ini belum resmi diteliti di Indonesia. Menurutnya, jika  rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai pengobatan alternatif,  mereka akan memberikan predikat sebagai “ter-kun” atau dokter-dukun.
“Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan konvensional dan modern,”

kata dokter tersebut. Banyak hal menarik yang dialami Boni selama  menerima dan memberikan bantuan kepada berbagai pasien. Bahkan ada  pecandu berat putaw dan sabu-sabu di Surabaya, yang pada akhirnya  pecandu tersebut mendapat kanker paru-paru. Setelah mendapat vonis  kanker paru-paru stadium III, pasien tersebut mengkonsumsi pil dan teh  dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata obat  tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari peredaran darah penderita  dan mengatasi ketergantungan pada narkoba tersebut. “Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi tikus, dia tidak boleh  memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul resistensi.

 

Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi,” sambung Boni sambil
tertawa. Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat
serangan  kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak  mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat  kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan.

Menurut  data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker payudara,  paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher rahim,  tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan  hepatitis. Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan  milyaran Ringgit Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi  dunia kesehatan.
   
Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan  dengan artikel “Obat Kanker” bisa menghubungi perwakilan lembaga sosial
“Cancer Care Indonesia” beralamat di Jl. Kayu Putih 4 no. 5 Jakarta,
telp : 021-4894745/54   

Bagi yang ingin pesan dalam bentuk kapsul dapat menghubungi

0818 0808 1567 atau 021-7092 4265 dan 021-55740740

dengan Sdr.SUGENG RAHMADI

Category: kesehatan, Tags: | posted by:sugeng Ikasapala


3 Responses to “Obat Penyakit Kanker”

  1. banyak rumah sakit international sudah menemukan obat kanker. tetapi mahalnya itu lho, nggak ketulungan…. coba ada obat kanker yg murah.. pasti banyak membantu orang yg terkena kanker tetapi kantongnya juga kena kanker…

  2. Nina says:

    Ada informasi dari teman, mudah**an bermanfaat, untuk produk herbal obat kanker dari Daun Teratai “TIAN RAN LING YAO ” – Adalah obat herbal terapi kanker yang dikenal sejak tahun 1986, merupakan obat yang 100% terbuat dari tumbuhan yang telah diteliti dan diakui khasiatnya secara ilmiah, yang diracik dengan metode tradisional Cina kuno, yang dikembangkan dengan ilmu pengetahuan (science) dan teknologi, juga telah dibuktikan selama lebih dari 23 tahun. Untuk Informasi dan pembelian hubungi (021)96954065, Melayani di seluruh Indonesia

    Contact info :
    Email:
    kankerdaunteratai@gmail.com
    Website:
    http://www.daunteratai.wordpress.com
    Location:
    Kembangan
    Kembangan, Indonesia

  3. selain diobati dengan obat obatan di atas, jangan ditinggalkan juga berdoa sama yang kuasa. hehehehehe

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Jahe dan Mengkudu atasi TBC

31 - Dec - 2009 | sugeng Ikasapala | 1 Comment »

Obat Penyakit Kanker

29 - Jan - 2010 | sugeng Ikasapala | 3 Comments »

Mengapa harus minum 8 gelas perhari

7 - Mar - 2009 | sugeng Ikasapala | 7 Comments »

Selisih harga obat paten vs obat generik hingga 26 kali lipat

11 - Oct - 2013 | indra.ngombol | No Comments »

© copyleft - 2010 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net