Nostalgia Anak Kampung (3)

  5 - Jan - 2010 -   meds -   3 Comments »

3. PAKDE KUNTJUNG TERCINTA

PAKDE Kuncung Wiryohandoko adalah kakak dari simbok, lain ibu. Usianya sangat berbeda jauh, karena ketika simbok masih kanak-kanak Pakde Kuncung sudah usia remaja. Beliau sangat sayang pada simbok, yang merupakan adik satu-satunya terse-but. Kata simbok, pakde sedari muda suka laku prihatin. Pernah puasa ngebleng selama 40 hari tanpa makan-minum, selama itu pula hanya tidur di dalam kamar atau sentong rumahnya Mbah Setat. Ketika menyudahi laku tirakat, tubuhnya nyaris bagaikan tengkorak hidup. Simbok menangis menyaksikan pemandangan tragis tersebut.

Simbok di masa kanak-kanaknya memanggil sang kakak njangkar saja, Cung, atau Kuncung saja. Di masa remaja orangnya cukup tampan, sehingga banyak jadi rebutan gadis kampung. Muntuk adiknya Siwo Pareng misalnya, kepencut berat pada Pakde Kuncung. Karenanya setiap pulang dari Bandung dan ketemu simbok, selalu menanyakan kabar perkembangan Pakde di Pa-citan sana. Nada-nada cinta itu masih tersisa di wajah keriputnya yang mulai dimakan usia. Sebagaimana lazimnya anak muda, Kuncung remaja juga tertarik pada dunia seni yang berkembang di desanya. Dia ikut bergabung dalam seni jidur dan blajaran pada hari-hari tertentu. Tetapi simbok tak suka. Dia tak mau memiliki saudara cari uang dari dunia seni yang tidak menjanjikan. Karenanya setiap sang kakak belajar njidur, ditarik-tariklah tangannya, diajak pulang. “Cung, bali Cung! Aku isin kowe dadi jidur (Cung pulang Cung, aku mau kamu jadi jidur) ” kata simbok mengenang masa kecilnya.

Pakde Kuncung sebelum merantau pernah menjadi carik di desa Wasiyat, sebelah selatan Ngombol. Tapi karena penghasilannya tak mencukupi, beliau melepas jabatan tanpa pamit lalu merantau ke Bondowoso (Jatim). Berbekal uang Rp 300,- dia meninggalkan 3 anak dan istrinya yang bernama Gumuk, wanita asal Desa Singkil Kulon.
Ketiga anaknya yang masih kecil-kecil bernama Suharti, Legowo dan Wibowo diambil kembali setelah memperoleh kehidupan mapan di Surabaya. Karena itu pula, bapak simbok saat masih pengantin baru sekitar tahun 1945, pernah mencarinya ke Surabaya. Di kota itu pula mereka sempat menyaksikan kebon binatang Wonokromo. Kata bapak simbok mana-kala bercerita kepada anak-anaknya: ada tengkorak ikan paus berukuran besar di atas pintu masuknya.

Pakde Kuncung memanggil simbok dengan sebutan Salmi. Bagi simbok, Pakde adalah pengganti ayahnya, tempat berkeluh kesah di kala duka, tempat cari bantu-an di kala kesulitan ekonomi. Aku ingat benar, ketika Pakde Kuncung berkunjung ke kampung sekitar tahun 1968, cincin emas seberat 10 gram miliknya diberikan kepada simbok, karena tak tega adiknya mengalami kesulitan uang untuk membiayai sekolahku di Yogyakarta. “Nyoh iki Mi, dolen wae kenoa kanggo tambah-tambah wragad sekolahe Gun (nih, kamu jual saja buat menambah biaya sekolah Gun)”, kata Pakde waktu itu sebagaimana kata simbok.

Begitulah, simbok setiap mengalami kesulitan keuangan, seringkali lari ke Pacitan. Namun demikian Bude Kuncung sama sekali tak pernah mempermasalahkan sang suami yang selalu nyah-nyoh (suka memberi) dan memanjakan adiknya tersebut. Bude memang merupakan sosok wanita Jawa yang selalu nrimo, dalam segala hal. Cuma aku heran, selama menjadi istri Pakde dia tak pernah diajak pulang kampung, menengok desa asalnya. Yang kusaksikan selama ini, setiap Pakde kembali ke Pulutan, selalu sendirian tanpa pernah mengajak serta seorangpun anggota keluarganya.

Pak Gunarso dan keluarga
Pakde Kuncung bersama putra-putrinya.Wrindasih adikku di sebelah kirinya, sementara Mas Harnowo duduk paling kanan. Berdiri di belakang: Jito dan Nonot.

Bila menengok kampung halamannya, Pakde Kuncung pasti mampir dan betah berlama-lama di rumah Pakde Parto Sidik di desa Walikoro. Beliau ini juga merupakan orang kedua tempat simbok berbagi kerepotan. Kebutuhan apa pun simbok sering minta bantuan kepada Pakde Parto Sidik ini. Dia boleh dikata merupakan orang terkaya di Desa Walikoro tersebut. Sawah-nya luas berbau-bau, kerbaunya banyak sehingga digaduhkan atau dipercayakan pada pada Partodimeja, ayah Tunggono temanku sepermainan di kampung.

Pakde Kuncung juga perokok. Karenanya di kantongnya selalu juga tersedia korek api yang cukup istimewa buatku kala itu. Meskipun sama-sama logam sebagaimana korek api DRP (korek logam jaman Belanda) tapi dia punya kelebihan lain, ada suara musiknya. Bila diputar di bagian bawahnya, suara musik pun mengalun lembut. Aku senang sekali mendengarkan kala itu, sehingga sebentar-bentar kuputar-putar bagian ba-wahnya. Maklum, cah ndesa!

Pakde memang selalu berkesan buatku. Pernah pula ketika bapak mengajakku ke Pacitan, di sela-sela obrolannya di ruang tamu Pakde Kuncung sempat minta aku disekolahkan di Pacitan saja nanti setelah lulus SR. Ah, takut sekali aku kala itu. Aku yang selalu dekat dengan bapak simbok, tak mampu rasanya berpisah jauh dari orangtua. Karenanya setiap Pakde ke kampung, aku selalu ketakutan bila beliau benar-benar memboyongku ke Pacitan. Tapi untunglah, hal itu tak pernah terjadi. Ketika aku disekolahkan orangtua ke Yogyakarta, Pakde Kuncung juga tak pernah lagi menanyakan kesepakatan tersebut.

Demikianlah, hubungan Pulutan – Pacitan selalu terjalin baik. Ketika Pakde dipindahkan sebagai Kepala LP Madiun sekitar taun 1965, bapak simbok juga me-nyempatkan diri berkunjung ke sana. Kedua adikku si Nur dan Kapdi ikut bersamanya. Aku dan Mbak Yanti melepas keberangkatan mereka dari Stasiun Tugu. Saat mereka naik KA jurusan Madiun, rasanya kuingin ikut bersamanya. Tapi sekolah harus dinomer-satukan, sehingga aku terpaksa mengubur sejuta keinginan itu.

Aku ingat benar. Sebelum ke Madiun bapak simbok dan kedua adikku menyempatkan diri mampir dulu ke Ngampilan tempat aku kost bersama Mbak Yanti. Ketika aku baru pulang dari warung, kulihat bapak simbok naik becak bersama kedua adikku. Serta merta bumbu pete rese buat bikin sayur kubuang entah ke mana. Sebab kupastikan, bapak simbok datang dengan membawa makanan lezat. Dan memang betul. Ada srundeng ati, ayam goreng dan makanan enak lainnya sebagai bekal ke Madiun nanti. Pakaian Nur dan Kapdi sangat sederhana kala itu. Bahkan Nur hanya mengenakan baju biru nrantang (tipis) macam saringan tahu, hasil jahitan simbok sendiri. Wujudnya nyaris seperti kantong gandum yang dilobangi pada bagian leher dan lengan.

Rumah Pakde Kuncung
Rumah kediaman Pakde Kuncung di Paguan Kidul (1975), kelurahan Pacitan. Lokasinya kira-kira sebelah barat laut kantor Pemkab Pacitan.

Sebagai pedagang beras, simbok sering pergi ke Pacitan sementara urusannya dengan para pemasok beras belumlah selesai. Sekali waktu pas simbok ke Pacitan, Pawiro Badut warga sekampungku datang ke rumah, untuk minta duit penjualan beras. Bapak yang menemuinya segera mengatakan bahwa Mbokne Yanti (panggilan bapak terhadap simbok) tak ada di rumah, karena baru pergi ke Pacitan.

Mungkin kurang pendengaran, atau suara bapak terganggu radio, Pawiro Badut salah paham, dikiranya simbok sedang cari pacitan atau makanan kecil. Maka dia tak beranjak pulang, justru terus menunggu sambil mendengarkan siaran radio. Tapi ternyata, sedari waktu magrib hingga pukul 20.00 simbok yang ditunggu kok tak juga pulang. Dia pun sempat mengeluh; cari pacitannya ke mana sih, kok berjam-jam tak kunjung kem-bali?. “Wonge lagi nang Pacitan, Jawa Timur, dudu golek pacitan (orangnya baru ke Pacitan, Jawa Timur, bukan mencari pacitan),” kata bapak menjelaskan, dan Pawiro Badut pun pulang tersipu-sipu malu. ***

kiriman: Gunarso Tjokro [guntjokro_2000@yahoo.com]

Category: Nostalgia, Tags: | posted by:meds


3 Responses to “Nostalgia Anak Kampung (3)”

  1. test says:

    test komentar….

  2. yutta says:

    kangen sama mbah kakung, niki putune, putranipun pak nonot

  3. David reported the Vietnamese Cultural Center but I don’t see that. Instead I see

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2010 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net