Nostalgia Anak Kampung

  24 - Dec - 2009 -   Gunarso TS -   6 Comments »

SEKAPUR SIRIH
AH…., betapa indahnya dunia anak-anak itu. Meski hanya anak kampung dengan segala keterbatasannya, aku sangat menikmati. Maka segala apa yang kutuliskan dalam buku kecil ini, semuanya sekadar rekaman dan kenangan masa lalu, ketika aku tinggal di Desa Pulutan Kecamatan Ngombol Kabupaten Purworejo (Jateng), dari masa anak-anak (balita) hingga usia 20 tahunan. Dan ternyata, dunia bocah memang mengasyikkan! Bermain, bercanda dan berantem sesama teman, merupakan kenangan manis tak terlupakan.

Tentu saja harus kukatakan bahwa tak semua kenangan masa lalu bisa kutuangkan di sini. Sebab di samping terbatasnya tempat, dari sejumlah kejadian tersebut bila diungkap kembali bisa membuka luka lama bagi pihak-pihak tertentu. Sedangkan target dari tulisan ini adalah, sekedar mengenang masa-masa lalu yang lucu, yang menggelikan, kadang konyol. Tapi memang begitulah dunia anak-anak.

Indahnya masa kanak-kanak tersebut, tentunya juga akan dirasakan oleh teman-teman sepermainanku dulu, ketika membaca buku ini. Hanya disayangkan, sejumlah teman yang di masa bocah bersamaku, kini telah tiada sebagaimana: Sugeng, Pudjo Ramelan, Tudjan, Kanti, Wiwid, Pawit, dan terakhir Dibyo Wiranto. Tapi manusia memang tak pernah bisa berkelit dari ketentuan Illahi.

Ketika menulis buku Nostalgia Anak Kampung ini, aku telah berusaha menghubungi sejumlah pelakunya. Dari kalangan sebayaku hingga para orangtua yang pernah bersinggungan dengan masa laluku, baik keluarga sendiri, hingga para mantan guruku. Dari sana kemudian, segala yang telah terlupakan olehku, kembali bisa tergambar lebih jelas sehingga semakin melengkapi dan memperkaya tulisan ini. Aku sebagai penulisnya berusaha untuk berkisah sejujurnya, dalam arti tidak hanya bercerita hal-hal yang baik saja tentang diriku. Begitu pula bagi kawan-kawan yang kuceritakan segala kekonyolannya di masa lalu dalam buku ini, semata-mata hanya untuk berlucu-lucu, menggugah segala kenangan indah tersebut.

Harapanku, dari berbagai cerita dalam buku ini masih ada yang bisa dipetik sari manfaatnya. Yang baik diteladani, yang jelek ditinggalkan dan menjadi peringatan untuk langkah ke depan. Sebab sekecil apapun, kisah yang terekam dalam buku ini adalah bagian dari sejarah setiap pribadi dalam meniti kehidupan.

Kepada semua pihak yang telah memberikan informasi dan foto-foto pendukung untuk buku ini, saya mengucapkan banyak terima kasih. Begitu juga kepada mereka yang kulibatkan dalam buku ini, mohon pengertian dan maklumnya bilamana ditemukan sejumlah nama kecil, paraban atau bahkan njangkar ketika menyebut namanya. Tak ada maksud lain, semua itu semata-mata untuk lebih menghidupkan jalan cerita ini.

Untuk itulah aku juga mohon maaf sebesar-besarnya, apabila dalam tulisan ini ditemukan sejumlah peristiwa yang tidak pas atau agak melenceng dari kejadian sesungguhnya. Demi perbaikan dan lebih lengkapnya kisah dalam buku ini, dengan hati terbuka saya selalu menerima segala tegur dan koreksinya. Terima kasih.
Jakarta, 6 Juni 2007
Penulis:
(Gunarso TS)

PULUTAN, DESAKU TERCINTA

DESA Pulutan terletak di Kecamatan Ngombol Kabupaten Purworejo (Jawa Tengah). Lokasinya cukup strategis, berada di jalan raya Ngombol – Purwodadi. Dari kota Purworejo berjarak sekitar 14 Km ke arah selatan. Atau 60 Km ke arah barat daya dari kota budaya Yogyakarta.

Sedari zaman Belanda, Desa Pulutan yang berkode wilayah: 3306022036 itu awalnya bernama Margosari, merupakan gabungan pemerintahan Desa Walikoro, Sruwoh, Kembangkuning dan Margosari sendiri. Tetapi semenjak era kemerdekaan (1945), desa-desa lain berdiri sendiri dan Margosari melebur menjadi Desa Pulutan.

Kapan pemerintahan desa tersebut pertama terbentuk, tak ada datanya. Namun yang pasti, sejak sebelum tahun 1920 Margosari dipimpin lurah legendaris Tjokrosonto, hasil magangan di Djenar. Kemudian Subir (hanya beberapa bulan), Abdullah Tjokrowisastro (1927-1965), Ranuwasito (1965-1977), Sutinon (1978-1990), Ny. Rustiah Lasimin (1990-1998), Suparno (1998-2007), dan sekarang Partono (2007- …). Dengan luas wilayah 67 Ha, jumlah penduduk Desa Pulutan hingga Juni 2007 tercatat sebanyak 559 jiwa (143 KK) terdiri dari 276 laki-laki dan 283 wanita. ***

rumah

Teks: Pintu gerbang desa Pulutan.

1.HAMPIR DIKIRA ANAK BISU

ANAK kampung sepertiku, yang ketika lahir di atas tampah, dokumen kelahiran sebagaimana Akte Kelahiran tak pernah memiliki. Maka meski aku dilahirkan tahun 1951, namun berapa tanggal pastinya tak pernah jelas dan akurat. Bapak mengatakan tanggal 25 Mei, sedangkan pada rapot SR (Sekolah Rakyat) tertulis 25 November. Tapi yang jelas kata simbok, harinya Senin Kliwon dan di kala aku lahir Gunung Kelud di Jawa Timur baru saja meletus. “Ana udan awu, lan awan rasane dadi kaya bengi (terjadi hujan abu dan siang hari pun terasa malam),” kata simbok pada anak-anaknya.

Sampai usia 4 tahunan aku belum juga mampu ber-tutur kata. Padahal dalam ukuran normal, bocah mulai bisa ngomong pada usia 2 tahun, bahkan bagi generasi sekarang, umur satu tahun pun sudah mulai bisa bicara. Untuk mengemukakan pendapat, kata bapak simbok dan para tetangga, aku lebih banyak menggunakan bahasa isyarat, sehingga orang-orang di kampung pun bilang: lha kok arep tiru Senggono (kok mau meniru Senggono). Senggono adalah lelaki bisu di kampungku, dia merupakan kerabat Siwa Rembyuk, istri siwo bekel Abusudjak. Bahkan kata Pakde Danu, dalam usia balita aku bila minta makan di rumah Mbah Amat orangtuanya, hanya mengisyaratkan dengan genggaman tangan yang diangsurkan ke mulut. Jika pun ada sepatah kata dua patah kata, yang keluar hanyalah celotehan tak jelas: guik, guik….. Karenanya bapak simbok sangat cemas dengan perkembanganku. Untung ada mbah Amat Sadali putri, yang menyarankan agar lidahku dikerok pakai cincin pas di hari kelahiranku, Senin Kliwon.

Ternyata resep tradisional Mbah Amat putri itu sangat manjur. Meski simbok menggosok lidahku secara telaten sekadar kanggo ila-ila (sekadar memenuhi syarat), tak lama kemudian aku mampu bicara, meski untuk huruf r masih belum jelas. Maka simbok pun sangat bangga dan gembira ketika suatu ketika aku terkantuk-kantuk di bawah pohon jeruk lalu bisa bilang: mbok, tatuk (maksudnya: ngantuk). Bahkan kata Pakde Danu pula, ketika keluarga Mbah Amat Sadali rame-rame membuka punjungan, aku mampu nyeletuk: tempe, peyek; sambil menuding makanan tersebut. Terkagum-kagumlah mereka atas kemampuanku berbicara.

Aku sewaktu kecil sangat takut manakala melihat penjual es lilin, karena simbok pernah mengatakan itu adalah bakul setan (penjual setan). Karenanya setiap mendengar bunyi klinting…klinting…. dari penjual es, aku lari masuk ke dalam rumah. Kata Pakde Danu pula, sering penjual es itu aku lempari dengan kerikil. Padahal lewat Pakde Danu juga aku jadi tahu betapa lezat dan manisnya es lilin tersebut. Suatu ketika aku diajak dolan dan mampir di sebuah pos gardu di desa Wali-koro, lalu dibelikan es. Sejak itu pula setiap lewat seorang penjual es lilin keliling, aku selalu merengek kepada simbok dan teriak: tukokke setan, tukokke setan!

Ada kenakalan lain di usia balitaku. Kata simbok aku sangat gemar makan telur mentah, baik itu telur ayam maupun bebek. Sambil jalan tertatih-tatih aku suka ke petarangan (tempat ayam bertelur), lalu satu persatu kulubangi dan kucucup-cucup isinya. Sama sekali tak ada rasa amis bagiku. Hal ini ternyata ditiru juga oleh Sukapdi, adikku. Mbokne Udi pernah kalang ka-but karena telur bebek dagangannya satu bakul banyak yang rusak akibat ulah Kapdi. Tinggalah simbok yang repot harus menggantinya.

Kenapa aku sangat menggemari telur, mungkin akibat pengaruh lingkungan jua. Bapak di kala muda memelihara bebek cukup banyak, sak giringan orang bilang. Itu adalah salah satu bisnisnya bersama Mas Sahir. Kandangnya terbuat dari pagar gribik, berada di sebelah timur rumah. Pernah suatu ketika bebek itu ngentit (bertelur belum waktunya), ukurannya terlalu kecil pula. Maka telur itu pun oleh simbok direbusnya ber-sama jangan kaprok, lalu dibuat lauk makan untukku. Aku ingat benar, bapak menyuapiku sambil duduk di lakar (balok kayu) di emperan rumah.

Di masa kecilku, makan telur bebek atau endog kamal merupakan sebuah kemewahan. Hanya ketika simbok menyapih Wrindasih adikku, kami agak dimanjakan. Satu anak dibagi telur satu-satu, Mbak Yanti, aku dan Wrin sendiri. Tapi apes rupanya, telur bagian adikku yang tengah disapih ternyata justru malah busuk. Aku ingat benar, telur itu dibagi di atas meja selepas magrib, sementara Wrin duduk di meja yang sama.

Pada kesempatan lain kami bisa menikmati sambel goreng (bumbu rujak) telur dadar, ketika bapak terima tamu dari Jakarta, Palembang atau Surabaya. Memang telah menjadi tradisi ayahku ketika ngampirke atau menerima tamu jauh, simbok pasti masak besar, menjamu tamu kehormatan tersebut. “Kuwe neruske tata-carane (itu melanjutkan tradisi) mbahmu kidul*),” kata Lik Misdi, paklikku.

Padahal di hari-hari biasa, jika di rumah tak punya lauk untuk mindhoni (makan lagi), aku biasa berlauk garam bata yang ditekan-tekankan pada nasi. Bahkan makan nasi berlauk gula Jawa juga sering kulakukan. Maklumlah anak kampung, dalam kondisi perut lapar, apa saja masuk ke mulut menjadi enak karenanya. ***
*) Mbah Latri, simboknya bapak.

rumah
Teks: Rumahku di masa kecil, yang juga tempat kelahiranku.

BIODATA PENULIS:
ALUMNI sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama) di Yogyakarta (1964-1969) ini me-mang tak pernah menjalankan profesi sesuai disiplin ilmunya. Itu dikarenakan Gunarso TS masuk sekolah guru agama tersebut sekadar menuruti selera ayahnya. Maklum, dari kakak, adik, para famili bahkan tetangganya di kampung hampir semua lulusan PGA.
Ternyata bakatnya memang tidak di situ, sehingga saat dibenum di Kaliurang kakinya Gunung Merapi, tak mau berangkat. Dia melepas kariernya sebagai PNS dan “kabur” dari ikatan dinas karena memilih jadi wartawan/pengarang yang digelutinya sejak bangku SLTA. Tapi berkat profesi kuli tinta tersebut, dia berkesempatan ke Nederland dan Suriname (Oktober 1996), dalam rangka melacak jejak-jejak orang Jawa di bumi Amerika Selatan itu.

llmu-ilmu agama yang diperoleh di bangku sekolah kemudian hanya menjadi acuan selama meniti karier di dunia pers, sejak mingguan Kembang Brayan Yogyakarta (1968-1971), Ariwarti Parikesit Solo (1972-1976), dan Marian Pos Kota Jakarta dari 1977 hingga kini. Di saat menjadi re-daktur pelaksana (1985-2005), Gunarso TS sejak 1987 ditunjuk sebagai penulis Nah Ini Dia.

Kolom andalan harian Pos Kota tersebut tetap digawanginya hingga kini, di samping pernah pula “numpang lewat” sebagai pemimpin redaksi majalah bahasa Jawa Damar Jati (2005-2007), Rubrik Pos Kota yang juga ditulisnya adalah Paket Pos, selain Wayang Semau Gue, yakni sebuah kolom kisah perwayangan yang saratdengan sindirian situasi.
Agaknva bakat mengarang pria kelahiran Purworejo (Jateng) 25 Nopember 1951 ini diperoleh dari ayahnya, Tjokrosutikno, yang sebelum tahun 1960 aktif menjadi pembantu majalah PBH, Duta Muda, Jakarta.
Humoris menjadi ciri khas tulisan-tulisan mahasasiwa “kutu loncat” Perguruan Tinggi Publisistik (PTP) Jakarta (1971) dan FKSS-IKIP Yogya¬karta (1970) jurusan Sastra Jawa itu. Karenanya, dia tak pernah marah ke¬tika nama “TS” di belakangnya diplesetkan teman-teman sebagai” tukang selingkuh. Nah Ini Dia tulisannya memang berkisah seputar itu. ***

Category: cerita, Tags: | posted by:Gunarso TS


6 Responses to “Nostalgia Anak Kampung”

  1. Mas Gunarso, sekedar komentar: waktu “udan awu njebluge gunung Kelud tahun 1951″ itu saya mengalami dan sudah duduk di SMA Negeri Jogja klas dua, bulannya kurang ingat, tetapi tepatnya bisa di cari di Kedaulatan Rakyat, kalau lahirnya mas Gunarso Senen Kliwon dan dekat meletusnya gunung Kelud, segera ketahuan pasti tentang tanggal sebenarnya, saya cenderung bulannya Mei 1951.
    Di jaman Belanda, sekitar tahun ’20-an beberapa desa di kecamatan Ngombol, yang saya tahu, di gabung menjadi satu desa besar, mungkin dengan alasan efesiensi biaya. Misalnya, desa Susuk, Mendiro dan Klandaran dijadikan satu desa dengan nama Mangunrejo, Carikan, Jombang, Kembangkuning jadi desa Watuaji, Pulutan, Walikoro dan Sruwoh jadi desa Margosari dan beberapa desa lain di kec. Ngombol demikian juga. Desa itu pecah kembali waktu tahun’45 kembali ke desa aslinya, kebetulan saya menyaksikan itu krn sudah tamat SD.
    Demikian sekedar masukan yang mungkin berguna, tulisan mas Gunarso bagus sebagai dokemntasi/ nostalgia masa lalu sekaligus mencerminkan
    suasana jamannya. Salam Sw.

  2. eka wianty says:

    melihat komen d atas .q jd rindu akan masa kecilku .mskpn klhrnku gak d purworjotp d padureso.membuat rindu akn kampungku.slm kenal smua tuk nak purworejo ………q sngt menyukai kotamu yg pnya ciri has trsendri.trutama ksenian ndolalak.smg ksnian trsbt ttp maju trs.gek cilik mbyen wong tuoku tau ndwe gawetnggapane ndolalak.maju trs PURWOREJO…….. SLM knal saking cah padureso wadas lintang,sing ono TAIWAN.

    • Gunarso TS says:

      Trima kasih atas komentarnya. Jadi ingat kampung halaman ya? Mengikuti cerita ini lebih lanjut, mungkin banyak peristiwa yang sama, yakni tentang detak nafas pedesaan, termasuk segala kenakalan bersama teman di kala masih bocah.

  3. Hery Santoso says:

    Salam kenal pakde Gun,saya Hery salah satu putra Pulutan ???? sekarang berdomisili di Tangerang.
    Membaca tulisan pakde membuat saya rindu akan desa Pulutan,???? takterlupakan. Banyak kenangan indah masa kanak-kanak ???? sampai sekarang tidak terlupakan. Apalagi di tulisan Pakde banyak orang-orang ???? saya kenal sewaktu masih kecil. Kakek buyut saya salah satunya Ranuwasito(mantan lurah Pulutan) embah saya saring menyebutnya Mbah Ranu,juga Bapak Sutinon ???? sekarang menempati rumah masa kecil saya dulu.
    Sebagai orang Pulutan saya merasa bangga ada anak kampung ???? bisa berhasil seperti Pakde Gun.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Bahagianya hidup di purworejo

5 - Feb - 2009 | fadly | 29 Comments »

DEMAM PRAMEKS

30 - Jan - 2009 | geblex | 12 Comments »

Yang Punya Kenangan Di Purworejo

7 - Sep - 2007 | meds | 4 Comments »

Kakekku Tentara Kompeni

25 - Jan - 2014 | slamet_darmaji | 4 Comments »

Dialog

29 - Mar - 2010 | Riyadi | No Comments »

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net