Nostalgia Anak Kampung (2)

  27 - Dec - 2009 -   meds -   2 Comments »

2. RANTANG PENGGUGAH KENANGAN. DIMULAI dari usia 5 tahun biasanya seorang anak kecil baru bisa mengingat masa lalunya. Entahlah aku, usia berapa ketika itu. Yang jelas, kenangan masa laluku kuawali justru dari Pacitan, sebuah kota kecil di sebelah barat daya Provinsi Jawa Timur, kota kelahiran presiden kita, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Pakdeku, Kuncung Wiryohandoko, memang menapaki kariernya di kota tersebut. Bapak simbok sering ke sana, bersilaturahmi pada kakak kandungnya yang jadi Kepala Lembaga Pemasyarakatan. Dan aku bersama Mbak Yanti kakakku, praktis sering diajak ke sana secara priodik.

Hingga kini, setiap aku melihat sebuah rantang tersusun rapi pada almunium perangkainya, ingatanku selalu melayang ke kota Pacitan. Sebab kala itu simbok dan bapak memang membawa rantang berwarna hijau telur berkembang-kembang, sebagai bekal selama dalam perjalanan, naik bis dari Solo – Pacitan, setelah sebelumnya menempuh perjalanan KA dari Jenar – Yogyakarta – Solo Balapan. Kata simbok, di kota Solo itu aku pernah diajak mampir ke rumah Pakde Sarosa yang bekerja di DKA (Djawatan Kereta Api). “Awake dhewe kepeksa nginep nang kana, awit kowe mriyang (kita terpaksa menginap di sana, karena kamu sakit)” kata bapak simbok sekali waktu.

Di rumah dinasnya depan Stasiun Balapan, Pakde Sarosa memiliki seekor burung beo. Karena aku selalu menangis lantaran tak enak badan, Pakde dan Bude lalu membujukku dengan kata-kata; meneng dhisik, meneng dhisik (diam dulu). Ternyata burung beo yang jinak dan gemar bertengger di pundak Pakde itu mampu menirukannya: meneng dhicik, meneng dhicik. Masih kata simbok pula, Bude Lestari istri Pakde Sarosa cantik sekali. Sayang beliau berpulang ketika baru punya dua putra, yakni Djatmiko dan Yayuk. Sekian tahun kemudian Pakde Sarosa menikah lagi dan punya anak ketiga bernama Dini.


Pakde Sarosa dengan istrinya, Bude Lestari,
di Solo tahun 1955. Bocah dalam pegangannya
adalah Mas Djatmiko dalam usia 1 tahun.

Di kota Pacitan telah ikut bersama Pakde Kuncung, mas Parno, Lik Marsito dan kemudian menyusul Mas Juremi. Ada lagi setelah itu, Marsono dari Walikoro. Tapi Mas Parno dan Lik Marsito lalu merantau ke Jakarta, setelah disekolahkan beberapa tahun. Kenangan terhadap mereka selama di sana, belum kumiliki. Yang kuingat, aku pernah dinaikkan ke atas boncengan sepeda dengan cara diangkat dengan satu tangan. Aduhhh….., sakit sekali rasanya kala itu, namun aku diam saja. Mungkin itu tindakan Mas Suparno, atau juga Lik Marsito. Tapi tak pernah jelas hingga kini, karena ketika kukonfirmasi kembali, keduanya telah lupa.

Tetapi sebagaimana kata Mas Parno yang juga dibenarkan Lik Marsito dan Mas Wibowo, meskipun hanya berstatus keponakan, Pakde Kuncung sangat mengis-timewakan anak sulung Siwo Sikus itu. Salah satu contoh, sepeda kesayangan Pakde yang orang lain tak boleh memakai, Mas Parno diperbolehkannya. Bahkan ketika sepeda itu “diamankan” dekat ranjang, Mas Parno berani mengangkat sepeda itu sambil melangkahi Pakde yang tengah tidur siang. Ternyata Pakde tidak marah atas ulah ponakannya tersebut. “Paklik mangsa wania nyeneni aku (paklik mana berani memarahiku),” kata mas Parno bangga.

Pada kunjunganku yang pertama kali ke Pacitan sekitar tahun 1955, bapak pernah mengajak aku jalan-jalan melihat orang membuat genting. Apa yang mereka kerjakan, tidak ingat benar. Tapi yang selalu terbayang di benakku hingga kini, adalah segundukan tanah liat atau lempung di sana-sini, yang ternyata itu adalah bahan untuk diolah menjadi genting tersebut. Itulah tonggak pertama ingatan masa laluku.

Aku masih ingat benar, di depan kediaman Pakde Kuncung di kampung Balehardjo, kala itu sering ditaruh sebuah cikar (gerobak). Aku suka main-main di dalamnya, bersama Mbak Mulati dan Mas Harnowo. Mbak Mulati setahun lebih tua dariku, dan Mas Harnowo dua tahun lebih muda. Sekian tahun kemudian ketika aku kembali ke Pacitan, Mas Harnowo telah berusia 5 tahunan. Dia punya sepatu kulit hitam putih. Dan yang kuingat hingga kini, di dekat sumur yang berhadapan dengan dapur, Mas Harnowo pernah makan kulit tebu dicampur tepung.

Pada dapur Bude Kuncung, tungku tempat masaknya di atas, di bawahnya terdapat lobang membentuk setengah lingkaran. Di rumah dinas Pakde ada pembantu yang telah dianggap seperti anak sendiri. Dia bernama Samsuri, dan merupakan orang Pacitan asli. Pekerjaan sehari-hari bersih-bersih rumah, termasuk mengisi bak mandi. Di sana terdapat pula sejumlah napi yang dipekerjakan Pakde untuk membantu pekerjaan rumah. Anehnya, mereka tak pernah satu pun mencoba kabur. Pakde Kuncung memang punya kharisma.

Untuk selanjutnya, aku sering diajak bapak ke Pacitan tanpa bareng simbok. Entah pada kunjungan ke Pacitan tahun berapa, aku pernah kebelet pipis di tengah jalan. Karenanya ketika bis berhenti di daerah Baturetno, aku minta turun dan bapak mengantarkannya ke sebuah toilet. Tapi sial, ketika selesai dengan urusanku ternyata bis sudah berangkat. Bapak tenang saja, karena tak ada bawaan yang terbawa dalam bis tersebut. Lalu bapak mencari oplet lain untuk melanjutkan perjalanan ke Pacitan. Aku tahu tabir kejadian ini justru beberapa puluh tahun setelahnya.

Di daerah Wonogiri yang kini kukenali sebagai Nguter, kala itu aku terheran-heran menyaksikan sebuah jembatan yang berfungsi ganda, bisa untuk lewat mobil, tapi juga bisa dilalui kereta api. Di kala kereta api hendak melintas di Kreteg Nguter tersebut, semua angkutan berhenti menunggu. Selepas kereta api lewat, barulah kendaraan itu melewati jembatan itu. Takjub aku melihatnya, aneh dalam pikiran anak kecil yang baru mengenali angkutan dokar dan gerobak di kampungnya.

Ada kenangan lain ketika diajak bapak ke Pacitan sekitar tahun 1958-1959. Minum teh manis, merupakan hal mewah bagi anak kampung sepertiku. Tapi di rumah Pakde Kuncung, oleh Mbak Harti putri sulungnya, aku sepertinya “dimanjakan”. Tiba di Pacitan pukul 16.00 sore, aku diberi teh manis yang rasanya begitu lezat tak terlupakan hingga kini. Sebab setelahnya, tak pernah lagi aku menemukan manisnya air teh seperti di Pacitan tersebut. Atau mungkin, lidah bocah memang sangat berbeda dengan lidah orang dewasa.

Simbok juga beberapa kali nyambangi Pakde Pacitan tanpa bersama bapak dan aku. Sekali waktu hanya bersama adikku, Wrindasih, ditemani mbah Jirah yang disebut juga mbah Ragil. Kata simbok, Wrin pernah rewel dalam perjalanan Solo – Pacitan, sedangkan mbah Jirah hanya nyendrong-nyendrong (memarahi) sepanjang jalan. Tapi ketika bis berhenti depan kantor polisi Donorojo dan diberi segelas teh manis milik pak polisi, Wrin langsung diam. Rupanya dia menangis karena kehausan. Perjalanan Solo – Pacitan pakai bis boleh dikata sangatlah nyaman untuk saat sekarang. Selain jalannya mulus beraspal, sejumlah jalan digeser dan dilebarkan untuk menghindari tikungan tajam. Tetapi sebelum tahun 1960-an jalannya belum beraspal, hanya hamparan batu makadam pating pendisil, berkelok-kelok, naik turun dengan jurang dan laut di kanan kiri. Bis itu meraung-raung dengan muatannya yang padat, sehingga penumpang kegerahan. Ketika berhenti di tengah hutan, sekelompok kera pun segera bermunculan, berebut minta dibagi makanan oleh para penumpang bis. Pemandangan yang mengasyikkan, tapi sekaligus juga mendebarkan bagi bocah balita sepertiku.

hutan-solo-pacitanJalan raya Solo – Pacitan kini, seperti inilah suasannya.
Meski berkelok-kelok di antara hutan, tapi sudah beraspal.
(Foto: Deniek G. Sukarya)

Kiriman: Gunarso Tjokro [guntjokro_2000@yahoo.com]

Category: Nostalgia, Tags: | posted by:meds


2 Responses to “Nostalgia Anak Kampung (2)”

  1. djatmiko says:

    pakde gun, ini lestari wulandari…
    saya lihat foto bapak saya dan eyang kung saya di blog pakde..
    lucu ya bapak saya jaman dulu…

    heeee,….

    thank u ya pakde,,

    ;)

  2. gophar says:

    Informasi yang bagus. Thanks yah

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net