DALANG WAYANG KULIT PURWOREJO

5th December 2009 | By: slamet wijadi

Ki Timbul nDalang di Rumah Susuk Tahun 70-an

Ki Timbul nDalang di Rumah Susuk Tahun 70-an

Bicara dalang wayang kulit saat ini umumnya kita merujuk kepada dalang2 kondang Ki Timbul Hadiprayitno dan Ki Hadi Sugito alm. sebagai tokoh yang mewakili gaya Mataram dan Ki Anom Suroto dan Ki Manteb Sudarsono yang mewakili gagrak Surakarta, sedang alm. Ki Narto Sabdo cenderung kepada gaya Surakarta karena memang aslinya dari Klaten. Untuk Gagrak Banyumas kita kenal ki Sugino Siswocarito. Tahun 50-an ada dalang Banyumas yang sangat populer, ki Soerono.

Masing2 gagrak mempunyai masyarakat- penggemarnya sendiri namun kalau pengamatan saya tidak salah untuk daerah Bagelen umumnya cenderung menggemari gaya Mataram. Mengapa demikian? Lagi2 menurut pengamatan saya, gaya Mataram lebih dekat dengan sifat2 orang Bagelen yang “lugas” dan nampaknya baik Ki Timbul dan lebih2 lagi Ki Hadi Sugito lebih mampu me-represantikan sifat2 khas orang daerah Bagelen tersebut.

Barangkali kita lupa, bahwa Ki Timbul itu memang orang Bagelen, tepatnya dari Jenar (Plandi?) yang masih termasuk kecamatan Purwodadi, dan pernah mengaku bahwa masa kecilnya dia penggembala kambing di desa tersebut. Ini dia katakan sendiri waktu ndalang di desa Klandaran, Ngombol dimana penulis menyaksikan. Menurut apa yang saya dengar, mbakyunya ki Timbul menikah dengan dalang asal Wates, Wiji Prayitno, yang tidak lain adalah ayah ki Hadi Sugito, dengan demikian Ki Hadi Sugito itu adalah keponakan Ki Timbul. Pendidikan dalang Timbul diperoleh terutama sewaktu ikut/nyantrik kakak iparnya namun jiwanya tetap asli orang Bagelen, sedang ki Hadi Sugito, karena ibunya orang Jenar ya tetap separoh darah Bagelen juga. Itulah mengapa terdapat hubungan batin timbal-balik antara kedua dalang tsb dengan masyarakat Bagelen Purworejo pada umumnya. Jadi walaupun resminya mereka dalang dari Bantul dan Wates/Toyan, masyarakat sekitar desa Jenar menganggap keduanya adalah “orang2” mereka juga. Hal ini diceritakan oleh seorang teman Ki Timbul waktu kecil yang kebetulan teman penulis.

Pada waktu jaman penjajahan Belanda dalang yang paling terkenal didaerah Pwr adalah dalang Pacor,Kutoarjo. Namanya dalang Gethuk dan pernah ditanggap di rumah kami waktu kakak kami sunatan tahun 1939. Penontonnya mbludak apalagi waktu itu permainan judi kodok ulo, dadu, kripyik secara tidak langsung masih “diijinkan” jadinya pasar disebelah rumah seakan jadi “pasar malam judi”. Siang hari yang ndalang putranya, dalang muda Darto, orangnya cakep, banyak ibu2 muda yang kepincut. Dikemudian hari dalang ini sempat jadi dalang top untuk daerah Pwr.

Kemudian ada dalang Popongan, ini juga terkenal namun termasuk dalang “kasepuhan”, artinya ndalangnya alus, kurang greget, banyolannya lugu dan kurang berani nyerempet2 , karenanya penggemarnya adalah para “pinisepuh” yang ingin “ngangsu kawruh kebatinan”.

Masih ada lagi dalang Sukrowo, namun saya kurang jelas dari mana asalnya, mungkin dari Wingko, demikian juga dalang “Sowing”, ini karena bibirnya (maaf) sumbing, ndalangnya cukup bagus dan sempat populer, anta- wecono-nya “agak bindeng” namun masyarakat tidak mempersoalkan . Dalang yang saya kenal namun berasal dari luar Pwr adalah dalang Kotesan/Girigondo, Wates, agak populer waktu itu karena bersedia melakonkan Baroto Yudo yang di anggap sakral. Saya nonton waktu itu di Ngringgit tahun 30-an .Yang punya hajad adalah dari keluarga Katholik. Yang saya ingat adalah episode gugurnya Gathutkoco, kesan saya penampilannya sangat memukau.

Disamping dalang wayang kulit, daerah Pwr juga memiliki dalang wayang-golek/menak/klithik yang pada waktu itu cukup bersaing dengan wayang kulit khususnya di daerah Pwr selatan.Lakon2 wayang golek umumnya berkaitan dengan penyebaran agama Islam, tokoh utamanya adalah Wong Agung Menak Jayengrono dengan panglimanya Umarmoyo. Ada tiga dalang, yaitu dari Kaibon, Paitan dan Benco Rowodadi. Yang paling populer adalah dalang Guno dari Benco, kalau sudah memainkan Umarmoyo yang gagah, perang silat dengan pedangnya, penonton tepuk tangan riuh rendah seperti ke stroom. Tokoh dagelannnya adalah Jiweng dan Thoples, ditangan dalang Guno kedua tokoh ini sangat menghibur penonton. Lakon yang sangat dihindari adalah “Umarmoyo Kelangan Kasange/ Ngemis”, karena penanggapnya bisa jatuh miskin/pengemis. Tokoh yang paling di benci adalah Patih Bestak dari Medayin sebanding dengan Sengkuni/Durno pada wayang kulit. Sayang kesenian wayang golek itu sekarang sudah hampir punah, dalangnya juga sudah tidak ada lagi, setidaknya untuk daerah Pwr.

Di Mendiro, Kecamatan Ngombol, dulu ada dalang wayang kulit dengan spesialisasi untuk bersih desa.Menurut kepercayaan ada beberapa desa yang leluhurnya harus di tanggapkan wayang setiap datang saat bersih desa. Jika bulan Rejep datang, itu saatnya bersih desa, Pak Dalang panen tanggapan. Saya tidak tahu dari mana Pak dalang ini belajar ndalang, sebab diantara keluarganya tidak ada darah dalang, wayang juga tidak punya, biasanya menyewa dari Wingko termasuk gamelannya. Setelah meninggal pun tidak ada yang meneruskan bakatnya, putranya bahkan menjadi lurah desa.

Itulah sekedar catatan/kenangan tentang dalang wayang di Pwr. tempo dulu sampai kini yang saya ketahui. Saat ini nampaknya belum ada dalang yang cukup terkenal dari daerah ini, kalaupun ada tingkatannya masih lokal. Semoga bakat2 pedalangan yang masih terpendam seperti yang telah dibuktikan oleh dalang Pacor, Ki Timbul dan Ki Hadi Sugito akan muncul kembali dari daerah ini, yang akan mewakili ciri khas masyarakat Bagelen seperti halnya dalang Banyumas yang telah mencerminkan “kepribadian” orang daerah itu. Kalau Jenar dan Pacor telah melahirkan dalang kondang mengapa suatu saat tidak akan lahir lagi dalang kondang dari daerah ini. Semoga.

Slamet Wijadi


Home| Category: blog | Trackback URI


Tulisan sebelumnya: «
Tulisan sesudahnya:  »

85 Responses to “DALANG WAYANG KULIT PURWOREJO”

  1. Giri says:

    saya jadi inget saat saya sunatan sekitar kls 5 sd. masih kecil utk ukuran anak yg mau sunat pada waktu itu. saya juga ditanggapke wayang tapi maaf saya lupa siapa dalangnya. kalo gak salah dari daerah pacor. yg jadi mslh waktu itu,karena saya yg disunat malah gak bisa nonton wayang. sehari semalem harus adaptasi pake sarung. cerita yang bagus. saya selalu seneng baca cerita dari pak slamet,terlebih2 mslh sejarah. Nuwun.

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Mas Giri harus bersyukur, sunatan masih di-tanggapkan wayang, jaman skr sudah jarang sekali, mungkin biayanya terlalu mahal, apalagi kalau dalangnya terkenal. Dalang Pacor itu sudah termasuk dalang baik untuk daerah Pwr. Waktu kakak saya sunat juga nanggap wayang dalang Pacor, tapi itu tahun 1939. Trims untuk komennya, semoga saya terus bisa menyajikan tulisan yang bernuansa sejarah. Salam.

    [Reply]

  2. Mas Slamet Wiyadi.matur nembah nuwun tulisannya.banyak menambah wawasan saya tentang Purworejo.karena saya jauh diperantauan.adoh lor adoh kidul.saya asli wong Ndemangan.condöngsari.wetan prapatane Pak Isman.di perantauan angel banget ketemu wong Purworejo.makanya saya nyethuk bukak2 website Purworejo.sekedar ngurangi kangen karo bumi Purworejo.ning jebul malah mrebes mili.kelingan suluke dalang Hadi Sugito.bener2 ngangeni Mas.saya di Kerinci Jambi.oleh bojo orang Kerinci.wah…sangat susah masuk Kerinci Mas.dataran tertinggi di Sumatra.jalan berkelok kelok.jurang2 ratusan meter. Sekali lagi Mas. Maturnuwun atas tulisanya.rasane wis koyo bali ring Purworejo.

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Mas Yanto, trimakasih kalau tulisan “iseng-iseng” saya bisa jadi obat kangen kampung halaman. Orang Minang bilang “dimana bumi di pijak disitu langit di junjung”, makanya dimana-mana orang Padang itu mampu menyesuaikan diri dengan tempat tinggalnya. Saya harap mas Yanto juga begitu, kan sudah mempersunting gadis lokal, berarti sudah “beradaptasi”. Mas Yanto bahkan bisa mulai cerita tentang hal2 yang menarik tentang keadaan setempat, bagaimanapun Kerinci adalah bagian tanah-air kita. Soal rindu kampung halaman itu wajar, namun tidak perlu larut terlalu jauh, nikmati kehidupan saat ini dan apa yang didepan kita. Condongsari itu kan desa yang terletak antara Galmiring dan Kenteng ya, dulu saya sering lewat situ waktu sekolah SD di Galmiring. Salam.

    [Reply]

    Gunarso Ts Reply:

    Mas Yanto, jika kangen suluknya Hadisugito, lihat saja di google, ketik: mp3 hadisugito nanti kan mbrubul kaset-kasetnya, tinggal mendengarkan sak mohe. Leng leng gatingkang, awan saba-saba, Ooo….

    [Reply]

  3. misno semawung pwr says:

    Kulo nuwun Pak? nderek tepang kulo asli semawung jatisalam pwr manggenipun sak miniko wonten ujung barat pulo jawa CILEGON-BANTEN kepingin ketemu konco2 lawas STN1PWR th74 kalian STM YPP th77 matur nuwun

    [Reply]

  4. Carol says:

    totally agree with you.

    My blog:
    Meilleur taux et Rachat de Credit pour fonctionnaire

    [Reply]

  5. Berita duka-cita, hari ini, Selasa tanggal 10 Mei 2011 telah wafat dalang kondang Ki Timbul Hadiprayitno dalam usia 79 tahun. Kita khususnya masyarakat Bagelen/Purworejo, daerah asal Ki Timbul,pasti sedih dan merasa kehilangan atas kepergian dalang kesayangan kita ini. Kepergian Ki Timbul menyusul keponakannya, dalang kondang Ki Hadisugito yang wafat beberapa waktu yl. dalam usia 67 tahun. Semoga arwah2 mereka mendapat tempat yang lapang disisi Allah SWT. Amien.

    [Reply]

  6. Yoyo S says:

    Innalillaahi Wainnaillaihi Rojiun, Semoga arwah Bapak Ki Timbul akan mendapat tempat yang layak disisiNya, mendapat ampunan segala dosanya dan bagi keluarga yang di tinggal akan mendapat kekuatan dalam menerima cobaan ini Amin.

    [Reply]

  7. bambang irawan says:

    saya orang bagelen,mau sekolah pedalangan , bagi rekan2 yg tahu dimana sekolah dalang gaya mataraman tolong saya diberitahu,suaru saat nanti biar ada dalang kondang dari Bagelen-Purworejo…Nuwun…

    [Reply]

  8. Marso Permono says:

    Derek tepangaken kulo injih tiang bagelen, menawi mboten sasap dalng saking popongan nami kawentaripun Mbah Jayeng……
    Wonten malih dalang saking tlatah bagelen nami alm Ki Suwandi ingkang sedo kecelakaan wangsul saking kitho semarang….nuwun.

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Mas Marso, salam perkenalan dengan senang hati saya terima, kan berarti tambah seduluran. Ingatan saya tentang dalang Popongan itu sekitar akhir tahun 30-an, beberpa kali ditanggap di desa saya untuk acara sunatan, orangnya kecil, tapi suaranya keras dan termasuk dalang populer waktu itu, bersaing dengan dalang Pacor (dalang Gethuk). Mungkin benar namanya dalang Jayeng, kalau nama kecilnya menurut info yang diperoleh mas Gunarso, Tuwas, makamnya di seberang sekolah Popongan dulu.
    Kalau dalang Suwandi saya memang pernah dengar namun masih kalah populer dengan dalang Surowo atau dalang Sowing, mungkin karena belum tutug usianya.
    Dengan meninggalnya ki Timbul, Purworejo belum ada tanda2 mengahsilkan dalang kondang lagi, barangkali jamannya memang sudah berubah. Salam, Sw.

    [Reply]

    slamet riyadi Reply:

    WAH SAMPUN SAMI SEDO DALANG KENANGAN SAYA PALING TOP YO DALANG HADI SUGITO, KALAU DALANG SUWANDI MENINGGAL SETELAH NGRUWAT KEMBANG SETAMAN DI DESA SAYA KARANGTALUN

    [Reply]

    slametwijadi Reply:

    Mas Riyadi, trimakasih sdh bergabung disini. Jaman saya kecil, desa Karangtalun itu “tabu” nanggap wayang, biasanya yang sering adalah Tayuban, penggemar Tayub itu Pak Surowikromo, orang kaya yang rumahnya di terbis kidul, anaknya adalah teman sekolah saya di SD namanya Sumiyati, kemudian dapat seorang Guru. Pak Suro itu juragan padi/tebasan, orangnya agak “galak”, kalau sudah ngibing dengan gending bendrong dan minum “ciu” luar biasa asyiknya, nggak boleh diganggu, itu sekitar akhir th. ’30-an. Di Karangtalun sampai beberapa tahun lalu ada “teman” saya Pak Wongso Tukid, rumahnya di pertigaan depan sekolah. Dia mencapai usia ditas 90 tahun sampai meninggal beberapa waktu lalu. Kalau crita jaman dulu asyik sekali. Mas Riyadi disebelah mana rumahnya? Setiap pagi bila di desa saya selalu liwat Kr.talun jalan pagi ke Ngringgit.Salam, Sw.

    [Reply]

  9. Marso Permono says:

    Tumut belosungkowo “Innalillahi wa innalillahi rojiun ” atas sedonipun Ki Dalang Timbul Hadi Prayitno ( Ki Timbul Cermo Maggolo ) mugi2 amal ibadahipun dipun tampi lanangsal ganjaran ingkang mruwat saking Gusti Allah…Amien.

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Walau Ki Timbul meninggal sebagai “warga Jogja”, namun dia tetap orang Bagelen sebagaimana selalu diakuinya. Karenanya sebagai warga Bagelen khususnya, kita sungguh layak merasa kehilangan atas kepergian seorang tokoh putra Bagelen. Salam, Sw.

    [Reply]

  10. Hendro says:

    Bapak Slamet Wijadi ingkang minulya, senang sekali membaca tulisan Bapak terutama tentang cerita2 pagelaran wayang kulit tempo doeloe. Saya ingin sekali Panjenengan dongengi kira2 bagaimana nuansa pagelaran wayang kulit dimasa sebelum/awal kemerdekaan, dimana belum ada listrik spt sekarang. Apa blencongnya memakai petromax,minyak kelapa atau bagaimana? Begitu juga dengan penggunaan pengeras suara, apakah dimasa2 itu pagelaran wayang tidak menggunakan pengeras suara? Kalau tanpa mic apakah suara dhalang bisa didengar dari belakang jika penontonnya mbludak? Bagaimana kalau penontonnya gaduh? Pertanyaan2 itulah yang sampai sekarang masih terngiang2 di telinga saya dan belum mendapatkan jawaban memuaskan sehingga masih penasaran sampai sekarang,he.he..
    Mekaten Bapak atur saking kawula,kirang langkungipun nyuwun gunging pangaksami, matur nuwun sanget sakderengipun..

    [Reply]

« Older Comments -

Leave a Reply

 

  • Nggoleki

Random Post

Banner

Banner

  • Komentar

    • Camera: Sumber : http://bloggerpurworejo.com...
    • hendro: untuk mengikuti perkembangan / kegiatan...
    • aguss: mas sudaeni pekanbaru tepatnya dimana?...
    • Yono: Wah, berbeda to, matur nuwun...
    • muhammad maulida 7e: perfect tapi wc ne bau...
    • Agung Prastowo: Mas Yono, terima kasih banyak...
    • massito: Terima kasih Mas Yono atas...
    • bungsanjaya.com: saya orang purworejo baru...
    • dgan: mr.burger frezz burgernya orang purworejo...
    • Yono: Mas Agung, Selamat atas kesuksesan...
  • Pin Blogger Purworejo 150px

    Pin blogger Purworejo
  • Pin Blogger Purworejo 100px

    pin blogger purworejo 100px
  • Arsiiip

  • Kategori

  • Form Data Warga Purworejo

    Silakan mengisi untuk Pendataan Perantau Purworejo dimanapun berada. Data yang masuk tidak akan dipublish, tidak akan disalahgunakan.

    Nama (required)

    Email (required)

    No Telp/HP:

    Asal (desa - kecamatan)

    Alamat Sekarang dan Keterangan tambahan

    Masukkan kode berikut: captcha :