DALANG WAYANG KULIT PURWOREJO

5th December 2009 | By: slamet wijadi

Ki Timbul nDalang di Rumah Susuk Tahun 70-an

Ki Timbul nDalang di Rumah Susuk Tahun 70-an

Bicara dalang wayang kulit saat ini umumnya kita merujuk kepada dalang2 kondang Ki Timbul Hadiprayitno dan Ki Hadi Sugito alm. sebagai tokoh yang mewakili gaya Mataram dan Ki Anom Suroto dan Ki Manteb Sudarsono yang mewakili gagrak Surakarta, sedang alm. Ki Narto Sabdo cenderung kepada gaya Surakarta karena memang aslinya dari Klaten. Untuk Gagrak Banyumas kita kenal ki Sugino Siswocarito. Tahun 50-an ada dalang Banyumas yang sangat populer, ki Soerono.

Masing2 gagrak mempunyai masyarakat- penggemarnya sendiri namun kalau pengamatan saya tidak salah untuk daerah Bagelen umumnya cenderung menggemari gaya Mataram. Mengapa demikian? Lagi2 menurut pengamatan saya, gaya Mataram lebih dekat dengan sifat2 orang Bagelen yang “lugas” dan nampaknya baik Ki Timbul dan lebih2 lagi Ki Hadi Sugito lebih mampu me-represantikan sifat2 khas orang daerah Bagelen tersebut.

Barangkali kita lupa, bahwa Ki Timbul itu memang orang Bagelen, tepatnya dari Jenar (Plandi?) yang masih termasuk kecamatan Purwodadi, dan pernah mengaku bahwa masa kecilnya dia penggembala kambing di desa tersebut. Ini dia katakan sendiri waktu ndalang di desa Klandaran, Ngombol dimana penulis menyaksikan. Menurut apa yang saya dengar, mbakyunya ki Timbul menikah dengan dalang asal Wates, Wiji Prayitno, yang tidak lain adalah ayah ki Hadi Sugito, dengan demikian Ki Hadi Sugito itu adalah keponakan Ki Timbul. Pendidikan dalang Timbul diperoleh terutama sewaktu ikut/nyantrik kakak iparnya namun jiwanya tetap asli orang Bagelen, sedang ki Hadi Sugito, karena ibunya orang Jenar ya tetap separoh darah Bagelen juga. Itulah mengapa terdapat hubungan batin timbal-balik antara kedua dalang tsb dengan masyarakat Bagelen Purworejo pada umumnya. Jadi walaupun resminya mereka dalang dari Bantul dan Wates/Toyan, masyarakat sekitar desa Jenar menganggap keduanya adalah “orang2” mereka juga. Hal ini diceritakan oleh seorang teman Ki Timbul waktu kecil yang kebetulan teman penulis.

Pada waktu jaman penjajahan Belanda dalang yang paling terkenal didaerah Pwr adalah dalang Pacor,Kutoarjo. Namanya dalang Gethuk dan pernah ditanggap di rumah kami waktu kakak kami sunatan tahun 1939. Penontonnya mbludak apalagi waktu itu permainan judi kodok ulo, dadu, kripyik secara tidak langsung masih “diijinkan” jadinya pasar disebelah rumah seakan jadi “pasar malam judi”. Siang hari yang ndalang putranya, dalang muda Darto, orangnya cakep, banyak ibu2 muda yang kepincut. Dikemudian hari dalang ini sempat jadi dalang top untuk daerah Pwr.

Kemudian ada dalang Popongan, ini juga terkenal namun termasuk dalang “kasepuhan”, artinya ndalangnya alus, kurang greget, banyolannya lugu dan kurang berani nyerempet2 , karenanya penggemarnya adalah para “pinisepuh” yang ingin “ngangsu kawruh kebatinan”.

Masih ada lagi dalang Sukrowo, namun saya kurang jelas dari mana asalnya, mungkin dari Wingko, demikian juga dalang “Sowing”, ini karena bibirnya (maaf) sumbing, ndalangnya cukup bagus dan sempat populer, anta- wecono-nya “agak bindeng” namun masyarakat tidak mempersoalkan . Dalang yang saya kenal namun berasal dari luar Pwr adalah dalang Kotesan/Girigondo, Wates, agak populer waktu itu karena bersedia melakonkan Baroto Yudo yang di anggap sakral. Saya nonton waktu itu di Ngringgit tahun 30-an .Yang punya hajad adalah dari keluarga Katholik. Yang saya ingat adalah episode gugurnya Gathutkoco, kesan saya penampilannya sangat memukau.

Disamping dalang wayang kulit, daerah Pwr juga memiliki dalang wayang-golek/menak/klithik yang pada waktu itu cukup bersaing dengan wayang kulit khususnya di daerah Pwr selatan.Lakon2 wayang golek umumnya berkaitan dengan penyebaran agama Islam, tokoh utamanya adalah Wong Agung Menak Jayengrono dengan panglimanya Umarmoyo. Ada tiga dalang, yaitu dari Kaibon, Paitan dan Benco Rowodadi. Yang paling populer adalah dalang Guno dari Benco, kalau sudah memainkan Umarmoyo yang gagah, perang silat dengan pedangnya, penonton tepuk tangan riuh rendah seperti ke stroom. Tokoh dagelannnya adalah Jiweng dan Thoples, ditangan dalang Guno kedua tokoh ini sangat menghibur penonton. Lakon yang sangat dihindari adalah “Umarmoyo Kelangan Kasange/ Ngemis”, karena penanggapnya bisa jatuh miskin/pengemis. Tokoh yang paling di benci adalah Patih Bestak dari Medayin sebanding dengan Sengkuni/Durno pada wayang kulit. Sayang kesenian wayang golek itu sekarang sudah hampir punah, dalangnya juga sudah tidak ada lagi, setidaknya untuk daerah Pwr.

Di Mendiro, Kecamatan Ngombol, dulu ada dalang wayang kulit dengan spesialisasi untuk bersih desa.Menurut kepercayaan ada beberapa desa yang leluhurnya harus di tanggapkan wayang setiap datang saat bersih desa. Jika bulan Rejep datang, itu saatnya bersih desa, Pak Dalang panen tanggapan. Saya tidak tahu dari mana Pak dalang ini belajar ndalang, sebab diantara keluarganya tidak ada darah dalang, wayang juga tidak punya, biasanya menyewa dari Wingko termasuk gamelannya. Setelah meninggal pun tidak ada yang meneruskan bakatnya, putranya bahkan menjadi lurah desa.

Itulah sekedar catatan/kenangan tentang dalang wayang di Pwr. tempo dulu sampai kini yang saya ketahui. Saat ini nampaknya belum ada dalang yang cukup terkenal dari daerah ini, kalaupun ada tingkatannya masih lokal. Semoga bakat2 pedalangan yang masih terpendam seperti yang telah dibuktikan oleh dalang Pacor, Ki Timbul dan Ki Hadi Sugito akan muncul kembali dari daerah ini, yang akan mewakili ciri khas masyarakat Bagelen seperti halnya dalang Banyumas yang telah mencerminkan “kepribadian” orang daerah itu. Kalau Jenar dan Pacor telah melahirkan dalang kondang mengapa suatu saat tidak akan lahir lagi dalang kondang dari daerah ini. Semoga.

Slamet Wijadi


Home| Category: blog | Trackback URI


Tulisan sebelumnya: «
Tulisan sesudahnya:  »

85 Responses to “DALANG WAYANG KULIT PURWOREJO”

  1. Cah_Ndhiro says:

    sangat menari sekali sejarah-sejarah kebudayaan yang ada di purworejo dan sekitarnya, dan mungkin saya tidak mungkin ingat lagi jika tidak diingatkan oleh pinisepuh yang tahu akan kebudayaan lama, mohon saran dari semuanya, bagaimana membangkitkan rasa cinta kebudayaan yang hampir punah dan terlupakan dari kaum muda sekarang ini yang mungkin sudah terkikis oleh budaya baru, terimakasih

    Cah_Ndhiro

    [Reply]

  2. eyang bethoro says:

    pak wik. wunut mendiro ngentak singkil adalah daerah perbuhan wayang saya. setiap ada pertunjukan pasti tidak saya lewatkan. sayang generasi sekarang sdh tidak tertarik sama sekali. mereka mungkin lebih tertarik durno2 dan sengkuni politik yg lagi menggelar lakon di layar kaca. dimana ceritanya lebih seru dan lucu. wass.

    [Reply]

  3. Mas Novi/cah Ndiro, terimakasih tanggapannya, sedih juga memikirkan bahwa generasi muda kurang berminat untuk melestarikan wayang, apakah harus menunggu sampai “di klaim” bangsa lain? Kalau pemiliknya sendiri tidak mau “merumat” nanti pasti ada bangsa lain yang “dengan senang hati” mengambil alih, contoh sudah banyak, pulau2, reog, lagu2, batik dll.Jangan biarkan hal itu terus terjadi. Salam.

    [Reply]

  4. Eyang Bethoro/Pak Dokter, maturnuwun koment-nya. Tidak mengira kalau Eyang juga penggemar wayang. Dulu, radius saya nonton wayang ke utara Sruwoh, Wonoboyo,Singkil sampai Wingko, ke timur Ngombol, Kembang Kuning, Briyan ke selatan Tunjungan Ngringgit Kaliwungu, ke barat Cokroyasan. Apalagi kalau dalangnya bagus. Yang saya sedih kenapa wayang golek bisa punah padahal lakon2nya banyak mengambil dari sejarah penjebaran agama Islam. Apakah skr tidak bisa digunakan sebagai media dakwah? Yang kedua wayang sudah diakui oleh UNESCO sebagai “master piece” warisan budaya dunia, namun kayaknya minat generasi muda makin meredup. Padahal alternatif pertunjukan di layar kaca sudah begitu membosankan, denga “Sengkuni dan Durno” yang malang melintang… salam.

    [Reply]

  5. Kenapa ya? generasi sekaramg suka pada senkuni dan durno-durnoan,padahal wayang banyak petedah /nasehat yang perlu ditiru/dicontoh, saya dulu waktu dikampung suka nglurug kalau lagi ada tanggapan wayang,apalagi kalau dalangnya bagusampe pagi juga dilakoni walaupun besuk berangkat sekolah harus ngontel sepeda ke Purworedjo

    [Reply]

  6. asngad says:

    Di cari :alumni SMK N 1 Kutoarjo th..2001.mari kita saling komunikasi untuk menambah keluhan masing2 dan solusinya…terima kasih

    [Reply]

  7. Mas Wahid, mungkin tidak tepat untuk dikatakan bahwa generasi sekarang suka pada “sengkuni dan durno-durnoan’, namun kenyataannya setiap hari yang di suguhkan hanya itu2 saja, tinggal tergantung kpd penontonnya apa masih mau “menikmati” tontonan spt itu. Akhirnya memang harus masyarakat yang memutuskan sendiri.Trims untuk tanggapan, salam sw.

    [Reply]

  8. sugeng-Ikasapala says:

    Wayang adalah bayangan / gambaran kehidupan manusia, Para Walisongo dulu menggubah wayang pengaruh hindu kemudian disisipkan seperti kehidupan masyarakat jaman sekarang dengan tujuan sebagai tuntunan dan juga Tontonan.

    [Reply]

  9. Cah_Ndhiro says:

    secara pribadi saya suka nonton wayang, jadi teringat masa-masa indah di SD Wunut, walaupun hanya ada alat kerawitan seadanya kami dan teman2 memainkan gamelan tersebut, salah satu dari teman saya namanya mas Sugeng anak desa Karang Talun, jago memainkan wayang, mainan kami jadi tontonan tidak sengaja oleh bapak dan ibu guru kami, terutama kepala sekolah kami Ibunda Suciah (Mendiro), kamipun diberi ilmu tambahan ilmu kerawitan setiap hari sabtu sore yang diajarkan oleh Bp. Kasiono (Kembang Kuning, Ibu Onisih (Mendiro) Bp. Rusdi (Carikan) secara bergilir kami memegang alat musik gamelan dan memang difokuskan pada waktu itu mas sugeng untuk ndalang yang dibelikan seperangakat wayang bekas dari dalang Timbul Kutoarjo,oleh ibu Ciah kami memangil Beliau, dan didatangkanpula guru prifat untuk ndalang dan mameinkan gamelan, tersebut, dengan hasil akhir kita pentas untuk perpisahan SD kami tercinta, setelah sekian tahun tidak ada lagi laras slendro mengalun di SD Wunut, semoga generasi saya dan yang akan datang ada yang tergerak untuk melestarikan kebudayaan kita tercinta ini.

    Cah_Ndhiro
    wasalam

    [Reply]

  10. meds says:

    Saya waktu kecil juga sering nonton wayang, bahkan sampai ke lain desa jalan kaki. Dulu kalau ada agustusan di kecamatan sering nanggap wayang. (seperti wajib). juga di TV dan radio, sering ada pegelaran wayang kulit semalam suntuk. Inilah seninya, nonton wayang harus sampai selesai.

    Ada dalang dari daerah saya, Bakurejo. Sunarno Aji. tapi saya tak tahu sekarang bagaimana, padahal dulu pernah populer dan banyak ditanggap.

    [Reply]

  11. Anu Dhihasto says:

    Wahhh, ternyata Ki Timbul Hadiprayitno & Ki Hadi Sugito itu tetanggaku toh?
    Saya setuju, keduanya memang top merkotop. Gagrak-nya cocok. Pokoke nek ono sing nanggap Gito, ben adoh tetep dijabani nglurug numpak onthel, sarungan, sangu 500 rupiah nggo tuku kacang, karo nggo kipyik/dadu.
    Lakon sing paling tak senengi : JAMUS KALIMASADA, KARNO TANDING, PETRUK DADI RATU dll….
    Opo maneh nek ono critane Durno/Sengkuni di ajar Setyaki…wahhh rame.

    [Reply]

  12. Mas Sugeng, saya setuju bahwa wayang adalah bayangan/gambaran kehidupan manusia, satu produk kebudayaan/seni orang Jawa yang sangat tinggi nilainya. Masing2 wayang juga mencerminkan sifat dan karakter dari sosok yang ingin ditampilkan secara tajam. Bandingkan, misalnya,antara sosok tokoh Sengkuni dengan Gondomono, sama2 patih Astina, sekejap kita tahu karakter keduanya adalah bumi-langit.
    Memang betul, wayang adalah “tuntunan” dan “tontonan/hiburan”, keduanya harus seimbang, kecenderungan sekarang adalah porsi hiburan terlalu menonjol. Dalam hal ini saya salut kpd ki Timbul dan Hadi Sugito yang mampu menyeimbangkan antara keduanya. Trims untuk tanggapannya, salam.

    [Reply]

  13. Mas Novi/cah nDiro, senang mengetahui ada kegiatan demikian. Dulu jaman saya kecil di rumah nDoro Mantri Guru Dwidjo di Mendiro ada pelajaran nabuh gamelan bagi anak2 desa yang berminat, setiap malam. Suara gamelan mengalun menambah rasa tentram dan damai suasana perdesaan di malam hari, semuanya terhenti setelah perang dan datangnya jaman Jepang. Sekarang suara gamelan kadang masih terdengar, namun itu dari kaset/radio. Jaman memang telah berobah. salam.

    [Reply]

  14. Mas Meds, senang sudah ikut memberi koment, bosen ngikutan macam2 skandal yang tiada habisnya dan tidak ketahuan lagi ujung pangkalnya. Lebih baik selingan dulu yang enteng2. Seni nonton wayang memang harus sampai “tancep kayon”, bubaran sambil cari “badaran” geblek, lumayan untuk sangu pulang sambil “nggayemi”, walau sudah dingin dan alot… nggak tahu ada kebiasaan gitu nggak di daerah Ketawang. Salam.

    [Reply]

    medz Reply:

    Pak Wik, Bapak bisa langsung membalas per-komentar seperti ini.

    Sama Pak, ada gebleg yang enaknya kalau hangat. Sepertinya Pak Dokter Indro juga sedang kangen dengan makanan tradisional ini, saya pernah baca status YM-nya. Leres Pak Dokter?

    Setuju Pak Wik, tapi kita yang muda tetap mengharapkan dukungan yang sudah sepuh, yang tentu lebih mengendap dan bijaksana dalam memandang sesuatu. kalau yang muda-2 kan maunya cepat dan sekarang juga.

    [Reply]

  15. Mas Dhihasto, baru tahu to kalau ki Timbul dan Hadi Sugito itu “tanggane dewe”, setidaknya kita ikut bangga daerah kita telah menghasilkan dalang top. Menurut saya sampai sekarang belum ada dalang yang bisa menandingi Hadi Sugito dalam hal menjalin komunikasi dengan “audience”nya begitu rupa sehingga seakan penonton menjadi bagian dari pertunjukan. Hal ini dilakukan tanpa harus mengorbankan alur cerita, inilah a.l. kehebatan Hs, Sedang ki Timbul adalah dalang yang mumpuni dan spesialis untuk upacara2 sakral.Trim untuk komentnya,salam.

    [Reply]

  16. hasmadji says:

    Dalang Ki Sugito, Ki Timbul, Ki Soekrowo yang terkenal “dalang Sowing” saya cukup sering menontonnya ketika tahun 60 – 70 an, tak ketinggalan termasuk si Tampan dalang Darto dari Pacor dan Sudir yang dari Wingko itu.
    Kalau dalang Popongan saya belum pernah menonton lantaran beliau sudah almarhum sebelum saya lahir, menurut cerita dari orang-orang tua dalang Popongan itu meninggal setelah disuduk keris oleh “Kentol” ( Jagoan ) Jenar Lor dari balik kelir lantaran mengritik tajam masyarakat Jenar dan sekitarnya termasuk Purwodadi dan juga Ngombol. Benarkah? Mungkin ada yang tahu?

    Sekedar tambahan informasi Ki Soekrowo itu berasal dari Ketangi – Bagelen, bahkan waktu itu putranya juga menjadi dalang yang cukup dikenal dengan nama Ki Suwandi meskipun tidak sehebat Timbul maupun Gito. Namun sayang beliau pun tidak berumur panjang, seingat saya di akhir tahun 70 an meninggal karena kecelakaan. Konon keturunan Ki Suwandi sekarang ada juga yang menjadi dalang, tetapi persisnya saya tidak mengetahuinya.

    Menurut cerita orang-orang tua, khusus bagi warga desa Ngombol “ ditabukan “ untuk menanggap wayang kulit, sebabnya saya kurang paham. Yang dibolehkan yakni wayang klithik. Karena jarang yang menanggap dan waktu itu saya juga masih kecil, lakonnya kurang begitu saya pahami. Tokoh yang cukup saya kenal tentu Umarmoyo dengan topi dikepalanya.

    Untuk Pak Slamet Wijadi saya salut atas sumbangsih tulisannya, semoga bermanfa’at bagi yang peduli budaya wayang yang lambat laun akan terkikis kalau kita tidak waspada.

    [Reply]

  17. Mas Hasmadji, terimakasih atas comment-nya yang sekaligus melengkapi informasi. Sekarang saya baru ingat bhw Sukrowo itu memang dari Ketangi dan “capet-capet” saya juga dengar tentang dalang Suwandi dan Sudir yang dari Wingko itu, mungkin waktu itu saya sudah pergi dari desa. Kalau soal meninggalnya dalang Popongan itu saya belum pernah dengar, mungkin betul juga.

    Memang betul beberapa desa “mentabukan” untuk nanggap wayang kulit, disamping Ngombol juga Tunjungan (yang hanya boleh nanggap Wayang Klithik) dan Karangtalun yang hanya boleh nanggap Tayuban. Malah desa Seboro Karang katanya hanya boleh nanggap Kethoprak. Ini ada hubungannya dengan “kegemaran” dan “wewaler” para leluhurnya berdasar atas kepercayaan. Apakah sekarang masih berlaku, apalagi mengingat hampir tidak ada lagi Wayang Klithik, saya kurang tahu.

    Dalam hubungan dalang-dalang top seperti KiTimbul dan Ki Hadi Sugito yang asli dan berdarah Bagelen/Pwr, apakah Pemerintah Daerah Pwr tidak tergerak untuk memberikan “Pengakuan” dan Penghargaan” terhadap “putra daerah” yang sedikit banyak telah mengharumkan nama Bagelen. Bagaimana pendapat para Blogger lain, mohon comment-nya.

    Sekali lagi terimakasih untuk tanggapan mas Pujo yang memberikan semangat, kalau kita sendiri tidak peduli thd milik kita, jangan kaget kalau nanti diambil/diaku orang lain. Salam.

    [Reply]

  18. riptowd says:

    Saya adalah perantau di Jakarta yang selalu ingat akan kampung halaman di purworejo khususnya desa Pundensari,Purwodadi.saya mania terhadap wayang kulit, dulu waktu di kampung kalau ada tanggapan wayang kulit biarpun jauh tetap di luruk. Pernah suatu saat lagi gak enak badan(mriyang) ada wayang kulit didekat kecamatan, tapi karna dalangnya pak Timbul tetep aja nonton.Setelah di tempat tontonan kringet keluar semua to! eeee,, setelahnya langsung sembuh.Sampe sekarang hampir tiap malem nyetel wayang di radio, karna hampir tiap malam ada aja radio yang nyetel wayang.

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Mas riptowd, we lha kok sama dengan saya, dulu di desa waktu kecil kalau sudah ada wayang kemanapun akan di luruk. Biasanya merengek minta sangu, dikasih 2 sen, satu sen untuk beli “krimpying”, satu sen beli geblek pagi harinya, badaran, jadi murah, sambil pulang nggayemi… Sekarang nyetel wayang setiap malam untuk sangu tidur, biasanya habis jejeran Kurowo sama patih Sangkuni sudah ngantuk terus tertidur, kadang terbangun sebentar waktu goro2, habis itu tertidur lagi…salam sw.

    [Reply]

  19. riptowd says:

    Baru mulaihari ini ni! saya gabung karna baru tau kalo ada forum blogger purworejo.Kulo nuwun pak bedhe nderek kempal-kempal.

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Mas riptowd, belum terlambat untuk nggabung forum kita ini, mas Meds akan senang untuk menerima anggota baru, jadi makin gayeng kumpul-kumpul kita, “mangan ora mangan yen kumpul”, dasare pancen wong sekampung… salam sw.

    [Reply]

  20. pujo says:

    Memang enak kalau di kampung ‘dewe’ bisa menonton wayang saban hari, kalau komunitas Jawa dirantau (Palu) belum tentu setahun sekali mengadakan wayangan itupun dalangnya lokalan dari orang2 transmigrasi,dan penabuhnya anggota komunitas sendiri, yg alhamdulilah punya perangkat gamelan sendiri hadiah dari kantor PU? (mungkin saat ini sudah pada rusak).
    Kita sudah cukup terhibur bila dapat acara wayangan dari radio Jatim (lupa namanya) yang gelombangnya sayup-sayup tertiup angin.
    Saat kita jauh dari kampung halaman rasa rindu kepada budaya leluhur semakin mengental, serta menambah kecintaan dan kekaguman kepada hasil ciptarasa para leluhur.

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Mas Pujo, trims commentnya, cerita tentang “dalang lokal” saya jadi teringat kisah lucu. Saking inginnya nanggap wayang para transmigran menunjuk salah seorang diantara mereka yang dianggap “mengerti” untuk jadi dalang. Jadilah ia terpaksa mendalang dan ditonton oleh para transmigran dan banyak penduduk lokal. Namanya juga dalang”amatir”, maka dalam salah satu penampilan dia “menerbangkan” Werkudoro, para penonton transmigran teriak2, “Eee, Werkudoro kok mabur…”, dalang amatir ini menjawab, “Eee wong Jawo podo menengo kabeh, wong sabrang rak ora podo ngerti…”, maka teteplah dia “menerbangkan” Werkudoro…”, mungkin ini hanya kisah lelucon, sekedar untuk selingan… salam.

    [Reply]

  21. pujo says:

    Saya mempunyai seorang teman yg biasa diajak untuk bareng nonton namanya lek Ji, orangnya memang ‘rada-rada’, kalau pas ada adegan perang atau goro-goro, yg ramai/menghibur bukan dalangnya malah teman saya itu, apalagi kalau dipancing dgn minuman tambah ‘jadi’.
    Suatu hari dia ‘kumat’, sehingga memukul orang yg hendak mencegahnya menggangu orang, pada saat sadar dia ditanya kenapa memukul, dia bilang bahwa yg dipukul adalah seorang Kurawa (Burisrawa?) yg hendak mengganggunya, karena ia merasa sebagai seorang satria dan melihat orang lain sbg wayang (orang).
    Ini hanya sekedar cerita tentang seorang maniak wayang, yg terbawa kealam bawah sadar.
    Wass.

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Mas Pujo,cerita itu tidak mengherankan,bahkan menunjukkan betapa “mendarah-daging”nya wayang dalam kehidupan manusia, khususnya sebagian manusia Jawa, setidaknya bagi generasi “tua”. Pertunjukan wayang merupakan lakon yang dihayati sebagai jalan hidupnya sendiri, jadi kalau sampai ada yang “trance” ya mungkin juga.
    Baru2 ini saya baca di koran bahwa seorang penonton wayang di Bantul tidak tahan melihat kelicikan yang dilakonkan Durno dan Sengkuni. Dia menerobos maju dan langsung mengambil wayang Durno dan Sengkuni dan di injek-injek… tentu ya geger… tetapi itulah kenyataannya.
    Dan bukan “orang biasa” saja yang “maniak” wayang. Gus Dur waktu jadi Presiden dan berkunjung ke Kuba, sambil menunggu kedatangan Castro menyetel kaset wayang… opo tumon… salam.

    [Reply]

  22. gunarso ts says:

    Dalang Timbul memang digemari kalangan tua, karena bahasanya yang runtut dan alur cerita yang setia pada pakem. Tapi bagi kalangan muda sangat membosankan, sebab 8 jam di depan kelir humornya itu-itu saja. Dari tahun 1966 di Yogya, hingga 1996 nonton di Jakarta, dagelannya tak berubah. Ki Timbul tak pernah mau menangkap isyu-isyu yang berkembang saat itu. Mungkin saking larisnya, beliau tak sempat baca koran dan nonton teve.
    Pernah mendalang di Ancol Jakarta, atas tanggapan sebuah panitia ulang tahun sebuah koran. Oleh pihak panitia diberi masukan untuk bahan-bahan humor, yang bisa diolah dalam pertunjukan. Tapi apa yang terjadi? Oleh ki Timbul hanya dibaca seperti pengumuman saja, sama sekali tak ada penggarapan untuk diselipkan dalam adegan.

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Saya setuju dengan comment mas Gunarso,Ki Timbul memang memang “digemari kalangan tua”. Baik usia, latar belakang, pandangan dan jalan hidupnya memang tidak bisa lain bahwa dia harus “bermain” di “segmen” generasinya. Dia juga sudah diangkat sebagai abdi dalem keraton Jogja dengan pangkat Raden Tumenggung, dia adalah spesialis dalang ruwatan, kawruh “kasepuhan” dan lakon Baroto Yudho sejak tahun 60-an.Mengingat hal itu dia memang konsisten sebagai dalang yang setia pada pakem, sedang soal humornya yang hanya “itu-itu ” saja memang patut disayangkan, namun barangkali itulah yang sesuai dengan dunia dan karakter dia, dan nampaknya “jatah humor” yang hebat telah “diserahkan” pada ponakannya, Ki HadiSugito yang susah dicarikan tandingannya… sayang sudah almarhum…

    [Reply]

    Gunarso TS Reply:

    Kalau Ki Hadisugito memang luar biasa, Pak.Aku yang sedari kecil (1958) nonton dia di desaku (Pulutan) jadi fanatik sekali. Di mana saja dia mayang di Jakarta pasti kutonton, bahkan pernah kukejar sampai Bandung dan Bogor.Aku dulu juga sempat mengkoleksi kaset-kasetnya hingga 14 lakon. Tapi oleh anak-anaku dibuat mainan dan bubar nggak keruan. Tapi dari kaset Hadisugito pula aku lalu bisa belajar suluk gaya Yogya, meski suaraku mungkin masih seperti ember bodol ditabuh! Banyak pula humor-humor almarhum yang kuadopsi untuk penyedap tulisan di Nah Ini Dia koran Pos Kota.

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Saya memang tidak se-fanatik Mas Gunarso,namun bisa dimasukkan sebagai “penggemar berat”. Koleksi kaset sekitar 7 lakon, sebagian saya simpan di rumah desa, kayaknya kalau nyetel wayang kok lebih pas di desa. Diantara kelebihan Hadisugito adalah kemampuannya untuk “menyihir” penontonnya dengan humor2 yang sangat segar dan komunikatip sehingga penonton merasa menjadi bagian dari pertunjukkan disamping suaranya yang paten dan suluk2nya yang sangat pas. Memang dia dalang istimewa… salam.

    teguh m. Reply:

    Penggemar wayang kulit dalang Ki Hadi Sugito memang banyak sekali. Ada yang mempunyai koleksi kaset 14 cerita tetapi sayang tidak terawat, ada yang punya 7 cerita. Saya malah punya kaset 25 cerita dan 7 cerita VCD semua dalangnya Ki Hadi Sugito, terlalu fanatik barangkali, tetapi itulah saya. Semasa beliau masih ada dan pentas di Jakarta, kalai tahu pasti saya nonton. Pernah pada malam 1 Syuro waktu itu pas saya nggak punya duit terpaksa saya pinjem duit ke temanku untuk pergi nonton. Karena terlalu fanatik saya pernah nyesal sekali karena nggak nonton. Kejadiannya ketika Pakde saya nanggap beliau sekitar tahun 1984, saking gembiranya dua hari sebelum hari H saya sudah nggak bisa tidur, ketika tiba hari H saya hanya nonton jejeran pertama, setelah itu melihat tikar/kloso gumelar kepingin “ngluruske” badan “teturon” nggak tahunya tertidur sampai pagi, ketika bangun sudah jam 08.00, wayang dan gamelan sudah di atas truk untuk dibawa pulang. Waah nyesal sekali kok tertidur nggak bisa nglilir. Kapan ada dalang seperti beliau lagi ?. Beliau memang Dalang yang paling saya kagumi, ndengerin kasetnya saja bisa tertawa cekikikan. Saya ingin tambah koleksi kaset lagi cerita Kumbokarno Gugur dalang Ki Hadi Sugito. Kalau ada yang punya atau tahu toko kaset yang jual cerita dan dalang tersebut mohon hubungi saya ke 08174896473.
    Di Kutoarjo ada dalang Ki Sutarko HW (putra Ki Darto) dan di Ngambal, Kbmn Ki Basuki HP. Keduanya terkenal di daerah Pwrj dan Kbmn.
    Salam untuk semua penggemar Dalang Ki Hadi Sugito dan Wayang Kulit.

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    mas teguh m, saya geli membaca kisah lucu nonton wayang yang ketiduran sampai pagi, tidak bisa membayangkan bagaimana “rupa” mas teguh waktu bangun dan tahu wayangnya sudah “kukutan”, lha kok nggak ada yang membangunkan, setidaknya waktu goro-goro. Ini adalah bukti betapa penggemar ki Hadi bisa begitu fanatik dan namapaknya khususnya untuk daerah Pwr, penggemar fanatik Ki Hadi itu cukup banyak, buktinya siaran wayang radio2 daerah Pwr hampir selalu menampilkan Ki Hadi. Banyak yang sedih menyadari dia sudah pergi “terlalu cepat” belum sampai 70 tahun. Kagum juga mas teguh sempat mengumpulkan begitu banyak kaset/VCD ki Hadi, bukti betapa berat fanatiknya. Setidaknya bisa di setel bila kangen dia. Di Duta Suara Jogja, sebelah Mall Malioboro mungkin masih tersedia kaset yang mas teguh cari, kalau kesana bisa di chek. Seneng sekali menemui begitu banyak penggemar Ki Hadi disini, perlu dibentuk fan barangkali. Salam.

  23. mbah suro says:

    Di Wingko Mulyo (Dukuh Ngentak) sebelum dalang Gondo dan dalang Sudir (dari Wingko Sanggrahan) ada sesepuh dalang Wayang Kulit, Wayang orang, Wayang Golek/ klitik dan kesenian Ande-ande lumut yaitu Simbah Singodimejo, kabarnya dalang Timbul belajar ndalang dengan Mbah Singodimejo. Disayangkan tidak ada generasi penerus dari Mbah Singodimejo, bahkan istri saya sebagai wayah dari mbah Singo sama sekali tidak tau tentang wayang.

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Wah, perbincangan tambah rame, mbah Suro sudah turun gunung dan memberikan info berharga. Ternyata di Ngentak ada sesepuh dalang, gurunya ki Timbul. Saya memang dengar kalau Wingko pernah jadi “pusat” pewayangan, ada beberapa dalang dari situ dan memiliki wayang&gemelan lengkap yang di sewakan kpd dalang2 dari desa lain termasuk Mendiro. Namun saya baru tahu kalau ada juga grup Ande-ande Lumut dan wayang klithik.Disamping Wingko, desa2 lain jaman itu juga punya grup kesenian, seperti Susuk punya Jidur, Mendiro Kethoprak, Secang/Piyono Selawatan/Terbangan. Sekarang semuanya tinggal kenangan, paling yang ada ya Campur Sari dengan organ tunggal… jaman memang sudah berubah…

    [Reply]

  24. [...] 5 December 2009, Under: blog — slamet wijadi @ 5:41 pm , Comments (32) [...]

  25. eka wianty says:

    sy berhrp ksenian wayang akan terus maju.melihat skrg bnyk gnerasi muda yg mandang sblh mata akn ksenian tradisional trutama wayang.mereka tdk menyadari akn keistimewan dari ksnian tradisionaltrutama wayang.andai mereka tahu slain krn wisata yg elok tp jg kbnykan turis2 dari manca negara yg dtng,itu krn kayanya budaya/ksenian yg kita miliki.bgtu istmewanya…….maka tdk heran bnyk negara2 yg mencuri budaya dari negara kita.

    [Reply]

  26. Memang betul banyak generasi muda memandang dengan sebelah mata thd kesenian tradisionil, khususnya wayang, namun saya yakin wayang yang sudah berumur ribuan tahun dan berakar di bumi Indonesia/Jawa, tidak akan hilang ditelan oleh kebudayaan dari luar, paling hanya “redup” sementara. Unesco sudah mengakui wayang sebagai “warisan budaya dunia” yang berasal dari Indonesia yang dikagumi. Tinggal bgaimana kita menghargai milik kita sendiri sebelum di “openi” tetangga kita… Terimakasih pada mas Eka Wianty untuk komentnya, salam.

    [Reply]

  27. eka wianty says:

    makasih jg mas?tp ngpunten nggih mas?klo mbak sanes mas………………………………….ha ha ……………………………slm knl mas klo skng cah padureso.saiki ag glek pngn ning taiwan.suwun

    [Reply]

  28. Mbak Wianty, kecelik nih, semula memang sudah ragu, nama depan bisa mas, belakang bisa dua2nya. Saya punya teman Sukarni, banyak yang ngira mbak, padahal “jantan” tulen… Salam kenal, semoga tabungannya sudah banyak, pulang bisa bikin rumah, beli sawah dan sisa modal untuk usaha dan membahagiakan ortu, contonya sudah banyak yang sukses.Cerita pengalaman “pengembaraan” di Taiwan mbak, pasti akan menarik. Salam.

    [Reply]

  29. eka wianty says:

    slm knl jg?oh ga ppa?dgn ini q bs sng.ga stres .mksh jg doanya .yg q mau sih gtu…tp smua itu kmbli pd ALLOH.yg nmnya riski tdk ada yg tau.tp stdknya dngn brusaha $brdoa mhn kpdNYA.INZA ALLOH,akan ada jwb dr yg kt hrapkan.’klo crita ttng PENGEMBARANQ INI’bnyk dka .dr skanya.tp itu emng sdh resiko jd q pkr tuk lbh sabar aja.,

    [Reply]

  30. widibintoro says:

    Salam kenal Pak Slamet Wiyadi, saya juga dari Purworejo. Sebenarnya saya sudah sering membaca blog purworejo ini, khususnya artikel yang bapak tulis. Saya amati yang kasih coment kebanyakan dari keluarga dekat jadi mohon ma’af baru sekarang ikut nimbrung.
    Terus terang tulisan bapak yang mantan diplomat beda loh, memang OK. Mulai pertama sekolah ogko 2 sampai wayang. Dengan membaca artikel Bapak saya bisa belajar, dan mengerti Purworejo khususnya “tempo doeloe”. Selain itu tamba kangen saya pada Purworejo, karena saya sedang jadi TKP (tenaga kerja pria)sambil belajar di University of Brunei Darussalam (UBD). Oh, ya saya juga dulu kenal dengan orang pejambon mungkin sudah pensiun, H. Makmun, Pak Henricus, dan Purwanto (personalia), mungkin bapak kenal. Sekali lagi Tks atas artikelnya Pak.

    [Reply]

  31. Mas Widi, salam kenal dan terimakasih atas tanggapannya.Syukur kalau tulisan2 saya bisa membantu untuk lebih mengenal Purworejo, itulah memang tujuan saya, agar “orang Purworejo” mencintai daerah/tempat kelahirannya, dan bagaimana mencintai kalau tidak mengenal? Sedang yang saya tulis itu adalah yang saya alami dan ketahui, sekaligus untuk mengasah otak/memori agar tidak cepat pikun. Seangkatan saya sudah jarang yang nulis, sayang.
    Saya salut mas Widi terus maju, belajar,belajar setiap ada kesempatan. Mengambil jurusan apa dan kerja dalam bidang apa? Saya sudah sering ke Brunei, baik lewat udara maupun lewat darat (Miri,Serawak) waktu itu saya “jualan” semen/oil well cement sampai ke Labuhan dan Kinabalu…
    Beberapa Dubes RI di Brunei waktu itu saya kenal, krn teman seangkatan, tetapi nama2 yang Mas Widi sebut saya tidak kenal, mungkin beda angkatan,krn saya meninggalkan Deplu tahun 70-an, untuk terjun ke swasta.
    Sekian dulu, semoga dalam pengembaraannya Mas Widi, sukses, baik dalam pekerjaan maupun pendidikan. Bagaimana suasana Brunei saat ini dengan kampung lautnya? salam, sw.

    [Reply]

  32. widibintoro says:

    Matur nuwun sampun kersa membalas tanggapan saya dan ditambah doa lagi. Amin. Semoga Bapak dan Keluarga juga senantiasa dikarunia rahmat dan hidayah dari Allah SWT, serta diparingi sehat.
    Ternyata dulu juga sering mengembara dan malang melintang ke Brunei.
    Bapak SW, sekarang sudah ada Bus Pontianak-Brunei PP Pak SW (DAMRI Indonesia, SJS Brunei dan Malaysia). Biayanya setengahnya dibanding pesawat BSB-JKT. Banyak TKI di Sarawak dan Brunei terbantu karenanya. Jadi naik pesawatnya biaya domestik Pontianak-Jakarta. Jalan Brunei-Miri-Kuching bagus dan lebar (lebih lebar dan mulus dibanding jalur Daendels selatan rumah bapak itu he..hee), sayang begitu masuk negaraku tercinta jadi “Cilong” cilik dan bolong2. Andai bapak masih di Pejambon tak laporin, masuk ke perbatasan Entikong kesannya menakutkan banyak calo membantu cop paspor 10 dollar per orang atau memaksa untuk membeli pulsa Indonesia dengan harga sekarepe dhewe “kasihan nasib TKI”. Sebenarnya banyak cerita di Brunei yang “tidak seindah warna aslinya Pak” mungkin lain waktu saya bagi cerita Pak, karena disini cerita yang jelek2 dilarang.
    Oh ya, Pak SW Miri-Brunei-Kinabalu juga bisa ditempuh jalur darat by Bus kurang lebih 7 jam. Brunei-KK 5 jam. Waktu ke Kinabalu sempat mencoba makan di Pusatnya Sea Food Kinabalu? nyamaan.. lawalah atu (mantap bagus), dan andai Pantai Selatan Purworejo/Jatimalang kayak begitu….?
    Banyak pilihan Ikan air tawar/sea food masih hidup, pilih langsung dimasak….mau…..ndang mreneya…!
    Kampung laut ? mungkin “Kampong Ayer” ya Pak. Boleh naik boat 10 dollar pusing2 selama 1 jam untuk maks 5 orang.
    Kami belajar di Brunei bersama teman2 ASEAN selama 1 tahun di UBD Brunei yang punya Gawe Kerajaan Brunei. Itung2 cari pengalaman biar bisa pintar dan banyak pengalaman seperti Bapak. Kapan Bapak main ke Brunei, kalau saya masih disini saya antar pusing2 Brunei atau jalan ke Miri atau ke Kinabalu dan tak traktir makan ikan sak mareme…boleh tapao (bungkus)he….he……Tetapi jangan ngajak nonton “Wayang”, di Brunei nonton wayang artinya nonton film ke bioskop dan pastinya ndak ada Geblek, apalagi mo main kipyik/dadu langsung ditangkap. Sekian dulu. KR. WB.

    [Reply]

  33. Mas Wdi, ceritanya sangat menarik, saya jadi nostalgia 20-tahunan yl. waktu saya sering merambah Kuching,Miri,Brunei,Labuan dan Kinabalu. Waktu itu jalan dari Miri ke Brunei belum begitu lebar tapi mulus. Jadi “ngenes” kalau mbandingkan dengan keadaan kita, baru kenal istilah “cilong”. Jl.Daendels sdh lumayan, tapi kayaknya belum sampai Wonoroto. Jatimalang punya potensi lumayan, namun pengelolaannya amburadul, dimana2 penuh preman, bagaimana mau maju? Ternyata ini ciri khas kita termasuk di Entikong, kasihan TKI yang jadi korban.
    Ingin “napak tilas”, namun apa masih mungkin? tapi siapa tahu. Tahun lalu saja kami sekeluarga “menjelajahi” Sumbar.Trims untuk tawaran traktiran, belum kelakon aja sdh senang rasanya, memang salah satu daya tarik berkelana dulu adalah makanan yang “melimpah” dan krn dibayarin company ya “sakarepe dewe”, apalagi kalau “entertain” pelanggan.
    Info tentang jalan darat murah mas Widi itu semoga berguna bagi para warga muda PWR yang ingin mengadu nasib di negeri tetangga, kalau disini “sempit” ya harus cari akal ya.Tapi ya harus hati2 jangan jadi korban para calo/preman.
    Putra mantan staf saya, Pak Basirin, bekerja di Shell Seria sebagai Production Engineer, sdh beberapa tahun di sana bersama keluarganya, nampaknya cukup sukses, namanya Yosef Susatio. Dia cerita kalau 17 Agustusan diadakan wayangan bahkan kethoprak, apa masyarakat Ind.disini banyak? Yang pasti tidak ada gebleg/kipyik/dadu, padahal itu ciri khas wayangan ndesa.
    Cerita mengenai belajar bersama teman2 Asean, mengingatkan saya waktu belajar dengan teman2 Asia di Univ.of Hawaii tahun ’57 dengan beasiswa AS. Tidak terasa sdh lebih setengah abad yl.Ya, life goes on, namun life is also what you make it, makanya you should try to make life the way you want to take it… salam sukses untuk mas Widi.

    [Reply]

  34. widibintoro says:

    Bapak SW, do you know Indonesians are 10% of Brunei population. From 300.000 BP more than 10.000 are Indonesian. Jadi kalau pergi ke manapun di Brunnei isine bahasa jawa lagi, jawa lagi. Ya betul, kalau Agustusan ada Wayang dan Kethoprak, tapi jenenge wong Indonesia kadang keterlaluan dikasih hiburan malah padha gelut dhewe2 seperti kalau ada tontonan di alun-alun (biasane orang2 Jatim). Sekarang di Bandar Seri Begawan pun jarang ada pentas kesenian Indonesia. Banyak tenaga prof Indonesia dapat posisi di Shell, RBA, Petrolium, bahkan ahli IT di Dephan Brunei is Indonesian. Di UBD sendiri ada 3 doktor jadi dosen Pak. Kalau benar ada putra teman Bapak di Seria (Shell)nanti akan saya cari (atas seijin Bapak tentunya), karena teman saya yang dari UI sekarang juga sedang belajar di UBD punya saudara di Shell Seria. Pasti ketemu Brunei sangat kecil. Ya… kehidupan di Luar negeri memang menjanjikan, tapi bagi yang punya keahlian/nilai jual. Jika hanya “bonek” ya resiko. I think you are right, and be yourself. KR. WB

    [Reply]

  35. Mas Widi, I know Brunei is a small country with just a few hundred thusand population, but I am not aware that so many Indonesians living there… luar biasa, mudah2an mereka tahu diri dan bertindak layaknya sebagai tamu yang santun, namanya juga sudah diberi “penghidupan”. Saya ikut prihatin dan malu jika kebudayaan kasar dan keras itu dibawa2 ke “rumah” orang yang justru telah menghidupi mereka. Apakah diantara orang Indonesia itu tidak ada yang berwibawa yang disegani dan jadi panutan?
    Bekerja di negeri orang bagi sebagian besar orang, khususnya tenaga prof.,bukan merupakan pilihan, namun nampaknya karena “apa boleh buat”, di negeri sendiri tidak/kurang dihargai bahkan tidak ada tempat, belum lagi memikir pendidikan anak, bekal hari depan dll, makanya kita tidak bisa menyalahkan mereka. Tahu berapa gaji seorang dosen yang doktor di Ind.? mungkin tidak ada seperlima dari Brunei, belum termasuk fasilitas2 lainnya. Demikian juga sang ahli IT yang kerja di Dept Hankam Brunei. Memang akhirnya semuanya terpulang pada kita sendiri, you should try to make life the way you to want to take it, be yourself… dan berdoa untuk yang terbaik.
    Silahkan kalau mau menghubungi Mas Susatio, saya sudah bilang sama Pak Basirin, ya itung2 tambah paseduluran di tanah rantau. Terakhir saya ketemu waktu merayakan ultah ayahnya yang ke-70 tahun. Pak Basirin ini mantan staf saya yang sangat sukses, 3 putranya, satu tamatan UI, satu ITB (Susatio) dan satu kapten Pilot Garuda, dia sangat dekat dengan saya.
    Mas Widi dari Pwr mana dan berapa lama lagi di Brunei, semoga keberadaannya disini akan membuka peluang2 baru selanjutnya, one thing leads to another, salam sukses dan maju terus.

    [Reply]

  36. hasmadji says:

    Mas Widi, saya ikutan numpang kenal. Membaca dialog Mas Widi dengan Pak Slamet kok semakin asyik. Sekilas Mas Widi mengabarkan kekinian tentang perbatasan dan negeri jiran, sedangkan Pak Slamet merespon dengan insert mengenai masa lalu yang kaya pengalaman.Hebaat!! Blogger kita semakin oke. Karya tulisan Mas Widi ditunggu disini. Terima kasih.

    [Reply]

  37. Mas Hasmadji, senang ketemu mas Pudjo di forum ini, memang semestinya begitu, blogger Pwr harus bermanfaat untuk warga Pwr (Mas Meds pasti senang) dan info dari mas Widi itu semoga bisa menambah wawasan tentang potensi yang ada di negeri jiran khususnya dalam usaha “perbaikan nasib”. Kepada mas Widi saya mohon bisa menceritakan hal2 tentang Brunei, tentunya yang positif2 dalam kaitannya membantu memberikan “pencerahan” bagi teman2 kita warga Pwr. Misal tentang info jalan darat itu banyak yang belum tahu kan. Pokoknya apapun yang bisa di ceritakan pasti akan di “appreciate”,tentu dengan pengertian tidak mengganggu “tugas pokok” belajar, kita tunggu, salam.

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Mas Hasmadji, maaf saya mengacaukan dengan mas Pudjo Asmadji, lupa bahwa mas Hasmadji sudah pernah kasih comment sebelumnya, betapapun saya senang dengan tanggapannya, salam.

    [Reply]

    prigel_landwb Reply:

    Bapak SW, terima kasih malah jadi ngrepotin, tapi saya punya feeling jangan2 dan mudah2an Mas Susatio ini adalah suami dari saudaranya teman saya itu. Karena pernah cerita suaminya yang kerja di Shell itu lulusan ITB. Apakah istrinya Mas Susatio namannya Mbak Dian (bapaknya dari Magelang dan Ibunya dari Bandung) ?. Dan untuk Mas Hasmadji dan Mas Pudjo tks atas tanggapannya. Mungkin nanti setelah kembali saya mencoba gabung dengan para punggawa dibalik bloger PWR. Kalau bisa ya kopi darat. Kalau untuk nulis musti banyak belajar lagi tapi akan saya coba (kalau asal, isin apa lagi ada yang tulisannya “bagus2″). Kembali ke Pak SW, saya hanya bocah gunung, dari Purworejo lebih dari 20 km, mungkin desa saya tidak nampak di peta. Coba pernah dengar Desa Prigelan ? disitu saya lahir. KR. 2 u all my family from PWR. Salam

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Mas Widi, saya sdh tanyakan Pak Basirin, ternyata namanya Dewi, putranya Dr.Asmono dari Solo, juga ibunya. Kebetulan waktu pengantennya saya juga menghadiri, kalau ketemu salam saya. Kalau saudara temannya dari ITB pasti saling kenal, malah jadi tambah paseduluran.
    Desa Prigelan memang tidak tercantum dalam peta, tetapi saya temukan sebagai desa di Kecamatan Pituruh, sama dengan desa saya Susuk, ketemunya ya di Kecamatan Ngombol, sama2 sekitar 20km dari Pwr. Saya sudah pernah jalan2 ke Pituruh ke rumah keluarga adik ipar saya yang kebetulan rumahnya sebelah lor pasar Pituruh, so, it’s a small world… salam.

    [Reply]

  38. widibintoro says:

    Bapak SW. informasi teman saya, ternyata rumah Mas Susatio depanan persis dengan rumah Saudara teman saya. Mungkin minggu depan kalau ada libur/sela saya akan sempatkan ke Seria karena teman saya mau kesana. Kalau adik ipar Bapak Lor pasar, berarti rumahnya mburi kecamatan. Yes, of course it’s a small word…salam.

    [Reply]

  39. Mas ibeng says:

    Salam kagem Pak Slamet Wijadi. matur tengkiyu buat tulisannya yang sangat informatif. Tulisan yang bagus sekali.

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Mas Ibeng, terimakasih atas tanggapan yang menyenangkan. Bagi seorang “penulis” tidak ada kesenangan daripada mengetahui bhw yang ditulis itu “berguna”, padahal apa yang saya ceritakan itu sekedar berdasar ingatan dan apa yang saya ketahui. Dari tanggapan/masukan, saya memperoleh banyak informasi tentang dalang2 wayang kulit Pwr yang sebelumnya tidak saya ketahui, atau keliru. Saya terimakasih.Jaman generasi saya hampir habis, semoga cerita saya akan menjadi catatan kecil tentang satu aspek kehidupan perdalangan di Pwr bagi generasi skr dan yad. Mas Ibeng dari daerah mana? Salam.

    [Reply]

  40. eko prasetyo says:

    Saya juga penggemar wayang kulit Ki Hadi Sugito, suluknya memang gandem, humornya enak kadang nyrempet saru. Sampai saat ini menurut saya belum ada yang bisa menggantikannya.Saya merantau di Jakarta, asli hulosobo kaligesing.

    [Reply]

  41. Mas Eko, trimakasih tanggapannya. Saya setuju, memang KI Hadi Sugito sampai saat ini belum tergantikan. Saya ingat sejak kemunculannya sekitar permulaan tahun 70-an, saya langsung “cocok” dengan gaya ndalangnya, termasuk suluk, janturan, ontowecono dan dagelan2nya. Soal “nyrempet saru” berkali dia bilang bahwa yang “membikin saru” itu kan “penafsiran” penonton sendiri, sedang dia tidak bermaksud demikian, ini kilahnya. Padahal hal itulah yang menjadi ciri khasnya dan mengapa al dia begitu populer, khususnya bagi orang Pwr/Bagelen. Salam.

    [Reply]

  42. teguh m. says:

    Terima kasih atas informasinya. Kaset itu pernah saya setel, waktu itu pinjam sama teman pada tahun 1980-an dan saya kangen lagi nyetel ceritanya, tapi nggak bisa pinjam lagi. Saya sampai nangis ketika R. Kumbokarno mencari adiknya R. Wibisono minta di”sampurna”kan.
    Mas Slamet W. Saya setuju aja dibentuk Hadi Sugito Fans Club, karena sangat banyak penggemar beliau. Semoga ada penggantinya yang setidaknya hampir sama dengannya.
    Salam untuk semua penggemar Ki HS.

    [Reply]

  43. Gunarso TS says:

    Ki Hadisugito almarhum memang sangat digemari masyarakat Purworejo. Humornya sangat kekinian, meski tak sampai nyrempat politik. Berikut saya mencoba nulis “wayang mbeling” di mana humor-humornya sangat dipengaruhi Ki Hadisugito. Selamat membaca, semoga berkenan.

    PONG HARJUNA GUGAT

    WIS sesasi luwih Harjuna ngilang saka kesatrian Madukara. Sajroning acara pasewakan ing Ngamarta, uga ora nate katon. Buku absene kosong tanpa tandha tangan, saengga mung ditulis: alpa! Ing sakawit kulawarga Pandhawa anteng wae, penganggepe: paling-paling lagi berburu bojo maneh, ngoleksi “kendaraan” anyar. Tujune wae jagad pakeliran ora ana UU Perkawinan/1974. Athuka rak wis bola-bali Harjuna mlebu metu pakunjaran merga duwe bojo luwih saka siji.
    Nanging sepisan iki serius tenan. Tegese, lungane Harjuna nuwuhake akibat sing sistemik ing ngarcapada. Kejaba Sembadra – Srikandhi ing taman Banoncinawi kentekan dhuwit blanja, isyu-isyu tak bertanggungjawab metu pating sliwer, sing gawe “sumuk”-e Pendhawa sakukuban. LSM-LSM sing diwragadi luar negri ngusulake, gelar “Satria Lelananging Jagad” (SLJ) kang sasuwene iki dicekel Harjuna, kudu dicabut. Sabanjure gelar mau dipasrahake marang wayang liya, kanthi konsekuensi kudu nglungsur kabeh bojone Harjuna. Sarate, kudu rosa-rosa kaya Mbah Maridjan, sarta sregep ngombe Irex.
    “Wah, kesempatan ki. Aku ya gelem kok nggenteni dadi satria lananging jagad,” cluluke niyaga sing bageyan slenthem.
    “Mbellll…..! Bojo siji wae kowe ora bisa ngopeni, kok arep nambah satus iji. Tiwas kodhok kalung kupat, awak boyok sing ra kuwat,” si tukang kendhang mancahi karo nyokot lemper isi srundeng.
    Sing elok maneh, embuh apa gegayutane, sak mendrane Harjuna ekonomi rakyat uga dadi kacau balau yen manut istilahe Megawati. Reregan mundhak kabeh, krupuk wae saiki nganti Rp 1.000,- siji, mula dhuwit rupiah arep “digunting” saka Rp 1.000,- dadi Rp 1,- Paling parah, saklungane Harjuna: tabung gas 3 Kg ing ngendi-endi padha njeblug, kapal sing dicarter anggota DPR padha njempalik rikala wisata laut. Ing Jakarta padha mbolos, ing tengah segara nyawane padha…..lolos!
    Gantya kang winursita, nunggal critane beda kandane. Ing Bale Marcakundha Bethara Guru – Narada ketamon Prabu Dewasrani seka Tunggulmalaya. Ngapa, tanggal 20 teka ndadak sowan ana kahyangan, arep mbayar listrik pa? Jebul tuntutane isih lagu lama, kepengin ngliyer gelar SLJ mau. Awit sangilange Harjuna, posisi iku saiki kosong. Dadi amrih aja nganti vacum (komplang), disuwun Jonggringsalaka enggal gawe SK anyar, netepake Dewasrani minangka SLJ priode 2010-2015 kanthi fasilitas kabeh bojone Harjuna dihibahake marang dheweke.
    “Elekkkk, elekkkkk, kemrangga temen jeneng kita. Bojo sitok wae mboya bisa ngayani lan ngayeli, teka arep nglungsur satus, huh….!” Bethara Narada ngemlengake Prabu Dewasrani.
    “Estu pukulun. Sing Sembadra, Srikandhi, Supraba, ajeng kula angge piyambak. Sanese kula dum niyaga kaliyan dhalange, kangge asas pemerataan….” ature Prabu Dewasrani sak kepenake.
    Bethara Guru karo Narada padha gedheg-gedheg, dene ratu Tunggulmalaya selot tuwa selot mblubud. Nanging durung nganti gawe keputusan politik bab krenahe Prabu Dewasrani, ndadak ana suwara pating jrethot saka payone Bale Marcakundha. Bethara Guru nuli ndhawuhake Bethara Penyarikan niti priksa apa kang dumadi. Nanging mensesneg-e kahyangan iku genti nglimbangake marang satpam Ki Daus pensiunan sinetron SSTK (Suami-Suami Takut Istri) ing Anteve; amrih nyekel kang gawe dahuru. Kuwanen temen, ingatase payon gedhong kahormatan dewa dienggo jag-jagan.
    Ora let suwe Satpam wis ngrangket satriya bagus, jebul Harjuna, tangane isih nyekel barang bukti cet pilox abang. Jarene Ki Daus, ing payone Bale Marcakundha Harjuna main corat-coret nganggo cet semprot, unine: JUJUR, ADIL, TEGAS! Rikala ditangkep, dheweke malah nguman-uman petinggi kahyangan, jarene padha ndableg ora ngerti sambat-sebute kawula ngarcapada. Ingatase tabung gas 3 Kg padha njeblug, rupiah arep di-redenominasi, TDL listri mundhak; dewa-dewa kahyangan ora merduli, malah sibuk nuntut “rumah aspirasi”.
    “Kuwajibane dewa niku harak migatekake nasibe rakyat ngarcapada, ampun namung ngurus wetenge piyambak,” protese Harjuna jan vokal temenan.
    “Elekkk, elekkkkk. Titah ora cetha, wiwit dina iki jeneng kita ulun ganti jenenge dadi Pong Harjuna, ya…?” wangsulane Bethara Narada sajak kentekan akal. Dene Bethara Guru mung mendel wae, jeneh Harjuna ngarani kok waton nyata!
    Nyak-nyakan payon Bale Marcakundha, corat-coret sing isine nuwuhake rasa memungsuhan, iku satemene klebu nerak UU Subversi sing ukumane kudu dijegurake kawah Candradimuka. Nanging merga kuwatir mengko dianggep pelanggaran HAM berat, Bethara Guru – Narada banjur mutusake amrih Prabu Dewasrani mberesake Pong Harjuna mau. Sebab kaya dene tuntutane ratu Tunggulmalaya, yen Pong Harjuna sirna, otomatis gelar SLJ bakal diwengku dheweke, klebu nampa hibah randha satus.
    “Lho, lho, lha kok kula ta sing kedah majeng? Pripun niki….?” Prabu Dewasrani kedandapan, gak ngira yen bakal ketiban bubuhan.
    “Resiko, no! Pengin “numpak” ya kudu bergerak,” ngendikane Bethara Guru karo ngajak Sanghyang Narada jengkar saka pasewakan.
    Kodheng temenan! Bayangane Prabu Dewasrani, Harjuna ilang randha-randhane sing satus otomatis dadi darbeke. Nanging tinimbang wirang, kepeksa diwanek-wanekake mungsuh Pong Harjuna. Satriya loro mau banjur prang tandhing, gelut rame kaya petinju Chrisjon – Oscar Leo. Jebul kaya dene mbaleni sejarah lawas, nembe limang kabrukan Prabu Dewasrani mlayu nggendring, lali marang idam-idamane nglungsur randha satus.
    Kahyangan jan kecipuhan ngendhaleni Pong Harjuna sing “kontra revolusi”. Saking dene wis kentekan akal, ora perduli dianggep nglanggar HAM berat, Pong Harjuna arep dicemplungake kawah Candradimuka. Mesthi wae satriya Madukara kuwi ora siap, awit rumangsane yen ngritik dewa paling-paling ukumane dimutasi, dipensiun dini, apa potong gaji. Yen kudu slulup ing kawah Candradimuka, wah nggih mangke riyin. Aja maneh adus genine kawah, salagine menyak tegesan wae wis ginjal-ginjal.
    “Kangmas Kresna, rayi nyuwun senjata pitulung….., kula badhe dipun lebetaken kawah Candradimuka,” sambate Harjuna nalika telpon nata Dwarawati nganggo HP.
    “Lho, dhimas Janaka ki ngapa, ndadak demo nang kahyangan barang. Jan Pong Harjuna tenan kowe ki…..,” ngendikane Prabu Bathara Kresna.
    Prabu Kresna ora mentala yen Sembadra dadi randha. Nanging kepriye carane tetulung Pong Harjuna? Tujune banjur kelingan paribasan: di atas langit masih ada langit. Ngerti yen sing diwedeni Bethara Guru mung Sanghyang Wenang, Kresna enggal sowan kahyangan Ngondar-andir Bawana. Wose nyuwun Hyang Wenang nyereg Bethara Guru, njabel paukumane kanggo Pong Harjuna. Panguwasa kahyangan kuwi pancen akomodatip (ngrewes) banget marang pisambate rakyat, mula banjur nyilih HP-ne Kresna, ngebel Bale Marcakundha.
    “He, Guru! Uculna Pong Harjuna kuwi, aja dijegurne kawah Candradimuka. Dadi pemimpin iku mbok sing tahan kritik. Durung dadi Penilik SD wae, wis kemaki…!”
    Bethara Guru klipuk, gak bisa njawab. Pong Harjuna kepeksa diluwari, banjur ukumane diganti mbayar dhendha Rp 150.000,- tukon cet Metrolit, kanggo ngecet ulang payon gedung Bale Marcakundha. (Ki Guna Watoncarita).

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Manteb lakonnya mas Gun, kocak dan nyambung dengan keadaan saat ini, tinggal dicarikan dalangnya yang tepat, jadilah pertunjukkan yang dijamin bisa “giyer2″. Saya kira saat ini sudah diperlukan adanya wayang model beginian dengan dalang “khusus”. Biarlah wayang pakem jalan terus tapi wayang mbeling bisa dimanfaatkan sebagai media kritik segar dialam demokrasi ini. Seperti Campursari yang merupakan “sempalan” dari Gamelan maka Wayang mbeling anggaplah “sempalan” dari wayang pakem yang menampung kreativitas para penggemar wayang sesuai dengan perkembangan jaman.
    Inilah sekedar tanggapan. Salam dan selamat untuk mas Gunarto.

    [Reply]

  44. Nomor urut 23 ing nduwur ono sing mengklaim putune mbah Singodimejo. Siapa anda ya ? Kalo gitu pasti anda kenal sama saya. Saya bambang sudiyono, anak dari bapak Kromowasito alm. Wektu Pakde Singodimejo sedo, wayang diopeni bapak saya Kromowasito. Dan saya pernah ndalang sebentar, karena baru belajar.Setelah jadi tentara pindah-2 Bandung, Magelang,Pontianak, Sanggau Kalbar, terus ke Direktorat Hukum AD di Jakarta, pindah lagi ke Balikpapan kemudian pindah lagi ke Semarang jadi Kepala Hukum Kodam IV Diponegoro tahun 2002 pangkat terakhir kolonel ( sak umur-umur baru saya yang meraih pangkat tertinggi militer yang asli dari dukuh ngentak wingko mulyo), lan saiki wis pensiun. Jadi betul turunan Ngentak ora oono sing neruske perwayangan. Ono sing sering ketemu keponakan saya bernama Juwarso manggon di Depok Timur, lalu Kasman didaerah Slipi, nek liyane embuh ra weruh dimana mereka.

    [Reply]

  45. Terimakasih Pak Bambang sudah menyampaikan komennya. mBah Suro (Mas Surowo Sahono) sudah saya hubungi untuk menyampaikan responnya, nampaknya dia mengenal pak Bambang, semoga bisa menyambung tali silaturahmi antar keluarga yang sama2 berasal dari Ngenthak. Salam, Sw.

    [Reply]

  46. mbah suro says:

    Yth Pak Bambang S.

    Mohon maaf sebelumnya, Pak Bambang pastinya juga mengenal saya, di komment no. 23 saya sebutkan ‘istri saya’ cucu dari mbah Singo. Mungkin dgn sedikit info ini sdh terjawab “siapa anda”

    Terakhir saya ketemu panjenengan waktu lelayon sedane Dik Bagyo di Kranji.

    Matur nuwun. Salam kami kagem Paklik dan keluarga, semoga tetap semangat dan sukses selalu.

    [Reply]

  47. Kepada saudara-2ku asli Ngentak. Nuwun sewu apakah yang dimaksudkan Surowo Sahono adalah suaminya keponakan saya Muning ya.? Saya pernah nyari di Kantor Dinas Pemadaman Matraman kok ga ada yang kenal, apakah sudah pindah ? Dan apakah masih tinggal di dekat Balai Rakyat jalan Pemuda ? Saya pernah kesana tahun 1987. Lalu dimana sekarang yang lain seperti mbakyu Ngatini / Mbakyu Amat Martodisastro, ananda Sulasmi, ananda Kasmino dan lain-lain.

    [Reply]

  48. Kagem bapak Slamet Wiyadi, sugeng kenal,dinten Rebo 19 Jan 2011 enjang wau kulo sampun bicara banyak kaliyan saudara kita Surowo Sahono yang saya cari-cari, ketemu , ternyata memang masih keponakan saya, cuma ya itu, karena saya pindah-pindah daerah, lalu sekarang menetap di Jakarta, kehilangan obor. Matur nuwun bapak sampun ngaturi dateng keponakan kulo pun Surowo (mbah?). Untuk mencari ananda Surowo gampang2 susah, sampai2 saya mendapatkan no telpnya salah ( maaf ya ananda Juwarso Depok yang memberinya, angka 1 disulap jadi angka 4 ( 4803617 kok diberi 4803647) Lha ketika diangkat saya lalu menghardik : Eee..wong seko Ngentak nek ngomong sing jelas.! Urus-punya urus itu nomornya pak Simanjuntak.. lalu saya minta maaf kepadanya. Ternyata Surowo kok jadi Simanjuntak. he…he…he…. Nggih pak Slamet, selamat saya sudah pinanggih bapak via bloggerpurworejo. Mangke disambung malih. Nuwun.

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Pak Bambang, saya ikut bersyukur bahwa akhirnya Bpk telah “menemukan kembali” keponakannya yang selama ini sudah dicari-cari. Tuhan Maha Besar, kalau memang telah di kehendaki, semuanya akan terjadi, dan saya senang bahwa BloggerPurworejo telah menjadi “perantara” melalui tulisan “Dalang Wayang Kulit…”. Sungguh sesuatu yang tidak terduga… Semoga pertemuan antara paman dan ponakan ini akan membawa hikmah dan lebih eratnya tali silaturahmi antara keluarga yang selama ini “tercerai-berai”. Selamat untuk Pak Bambang dan Mas Rowo.
    Saya menyambut baik perkenalan pak Bambang dengan senang hati, ini berarti menambah makin berkembangnya tali persaudaraan antar sesama blogger, khususnya yang berasal dari satu daerah. Salam.

    [Reply]

  49. matur nuwun pak SW.Lumantar nak Surowo kulo saget pinanggih dulur-dulur, tuwin bapak Slamet. Saklajengipun kulo bade ngangsu kawruh,mbok menawi bapak emut sejarahipun dukuh Ngentak. Enget kulo dipun critani swargi bapak kulo rumiyin, swargi cikal bakal dukuh Ngentak inggih meniko eyang Kartawi (pesareanipun wonten “njaratan” Ngentak ingkang “mencil” sisih kilen. Sakumpami bapak wonten datra, kulo sanget matur nuwun pak. Amin.

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Pak Bambang, saya ikut bersyukur akhirnya Bapak bisa terhubung kembali dengan para kerabat yang selama ini telah “terputus”. Inilah berkah Blogger Purworejo yang di kelola oleh mas Meds, karenanya ucapan terimakasih selayaknya juga ditujukan kepada beliau.
    Mengenai “cikal bakal” dukuh Ngentak terus terang saya sangat awam, karenanya mohon maaf tidak dapat “menceritakan” apapun tentang dukuh itu.
    Sumber2 tertulis bahkan cerita dari mulut-kemulut tentang cikal bakal desa2 sangat langka, sehingga generasi sekarang hampir kehilangan sumber.
    Satu pengecualian yang saya tahu adalah tentang cikal bakal Banyuurip, kebetulan leluhur saya juga dari sana. Orang tua saya waktu itu memiliki buku “Babad Banyurip” tulisan tangan huruf jawa dalam bentuk tembang macapat, sering dibaca pada kesempatan2 tertentu. Desa2 lain saya belum dengar punya babad tertulis, setidaknya untuk daerah Ngombol. Demikian tanggapan saya. Salam.

    [Reply]

- Newer Comments »

Leave a Reply

 

  • Nggoleki

Random Post

Banner

Banner

  • Komentar

    • Camera: Sumber : http://bloggerpurworejo.com...
    • hendro: untuk mengikuti perkembangan / kegiatan...
    • aguss: mas sudaeni pekanbaru tepatnya dimana?...
    • Yono: Wah, berbeda to, matur nuwun...
    • muhammad maulida 7e: perfect tapi wc ne bau...
    • Agung Prastowo: Mas Yono, terima kasih banyak...
    • massito: Terima kasih Mas Yono atas...
    • bungsanjaya.com: saya orang purworejo baru...
    • dgan: mr.burger frezz burgernya orang purworejo...
    • Yono: Mas Agung, Selamat atas kesuksesan...
  • Pin Blogger Purworejo 150px

    Pin blogger Purworejo
  • Pin Blogger Purworejo 100px

    pin blogger purworejo 100px
  • Arsiiip

  • Kategori

  • Form Data Warga Purworejo

    Silakan mengisi untuk Pendataan Perantau Purworejo dimanapun berada. Data yang masuk tidak akan dipublish, tidak akan disalahgunakan.

    Nama (required)

    Email (required)

    No Telp/HP:

    Asal (desa - kecamatan)

    Alamat Sekarang dan Keterangan tambahan

    Masukkan kode berikut: captcha :