LEGENDA SUMPAH “BANYU MENDIRO”

  23 - Nov - 2009 -   slamet wijadi -   49 Comments »

Akhir-akhir ini kita “diramaikan” dengan sumpah yang diucapkan oleh para petinggi Negara untuk meyakinkan bahwa apa yang dituduhkan pada jbs itu tidak betul. Konsekwensi atas akibat yang ditimbulkan oleh sumpah tsb. sepenuhnya menjadi tanggung jawab yang bersangkutan. Sumpah dikeluarkan secara sepihak . Namun apa yang ingin saya kemukakan berikut ini adalah jenis sumpah lain yang nampaknya telah menjadi bagian sebuah legenda sebagai sumpah “Banyu Mendiro”.
Di desa Mendiro, kecamatan Ngombol, Pwr. ada sebuah sumur kuno yang terletak disebelah “Sarean Eyang Mendiro” yang dipercaya sebagai cikal bakal desa Mendiro. Sumur ini berair jernih dan tidak pernah kering dalam segala musim. Dimusim kemarau, dari sumur ini para warga sekitar menggantungkan kebutuhan air khususnya untuk keperluan minum. Sebagai sumber air bagi warga sekitar, air ini adalah “biasa-biasa” saja. Namun air ini seketika akan menjadi “banyu mandi” bila digunakan sebagai “sumpah”, itulah kepercayaan dan legendanya.
Sejak saya kecil tahun ‘30-an sampai saya dengar akhir-akhir ini kepercayaan itu masih ada. Umumnya sumpah itu merupakan “tantangan” oleh seseorang yang dituduh melakukan sesuatu oleh pihak lain, biasanya dalam kasus pencurian. Si tertuduh menantang di penuduh untuk sumpah dengan bersama-sama minum Banyu Mendiro. Dengan begitu resikonya akan sama. Pihak yang “salah” akan menerima akibatnya, yang umum adalah perutnya akan “mlembung” diikuti oleh sakit-sakitan dan kematian. Karena resikonya yang begitu dahsyat itu maka sumpah ini jarang yang berani melakukan. Biasanya bila pihak tertuduh sudah mengancam dengan sumpah ini, pihak lain akan pikir-pikir karena kalau keliru sangat fatal akibatnya. Setahu saya baru satu kali saya menyaksikan terjadinya sumpah itu, sewaktu saya kecil dan mengenai akibatnya saya tidak mengikuti.
Kepecayaan ini bisa dianggap sebagai takhayul, tetapi bisa juga dinilai positip, sebagai cara masyarakat desa untuk menyelesaikan “konflik” antar warga dengan kedudukan/status yang sederajat dengan menerima resiko yang sama. Dilihat dari sudut pandang ini barangkali sumpah Banyu Mendiro itu ada fungsinya juga.
Slamet Wijadi

Category: blog, Tags: | posted by:slamet wijadi


49 Responses to “LEGENDA SUMPAH “BANYU MENDIRO””

  1. sugeng-Ikasapala says:

    Saya baru dengar itu Pak Slamet W, ada sumpah Banyu Mendiro, yang sering dengar Sumpah pocong…

    • Mas Sugeng, tidak mengherankan kalau baru dengar sumpah Banyu Mendiro, karena sumpah ini bersifat “lokal”, suatu kepercayaan yang berkembang untuk daerah sekitar desa Mendiro saja. Kalau kebetulan lewat desa itu silahkan mampir dan tanyakan kpd penduduk sekitarnya. Tulisan saya itu sekedar mendokumentasikan tentang adanya kepercayaan itu.Salam.

  2. masriso says:

    Sumur itu merupakan sumur yang berdiameter kecil, tapi berair jernih. Di tahun 50 an ketika saya kecil sumur itu jadi pelarian jika anak2 merasa haus habis bermain. Sehabis main kasti atau jaranan atau bithungan atau layang2, anak2 bukannya pulang kerumah untuk minum melainkan ngantri di sumur itu melepaskan dahaga langsung dari timba yang terkadang sudak tidak utuh lagi (sobek2). Rasanya badan jadi lebih segar. Mungkin karena sugesti atau apa walahu alam!

  3. masriso says:

    Sumur itu merupakan sumur yang berdiameter kecil, tapi berair jernih. Di tahun 50 an ketika saya kecil sumur itu jadi pelarian jika anak2 merasa haus habis bermain. Sehabis main kasti atau jaranan atau bithungan atau layang2, anak2 bukannya pulang kerumah untuk minum melainkan ngantri di sumur itu melepaskan dahaga langsung dari timba yang terkadang sudak tidak utuh lagi (sobek2). Rasanya badan jadi lebih segar. Mungkin karena sugesti atau apa wallahu alam!

  4. Cah_ndhiro says:

    sumur yang menjadi penghidupan dari dahaga orang mendiro, alhamdulillah sampai dengan hari ini walau Bp Amir sedang istirahat dirumah sakit karena sakit prostat yang dideritanya, oleh dokter disarankan untuk banyak2 minum dan dari kebiasaan beliau ngangsu banyu di lor mesjid mendiro, dengan ridho Alloh juga, kesehatan yang diderita oleh beliau berangsur lebih cepat sembuh dari perkiraan diaknosa dokter, tp selain itu juga pada tahun 80an, sewaktu saya masih kecil, apa yang disebut sebagai sumpah banyu ndhiro pernah menyaksikan juga, yaitu perselisihan antara keluarga, keluarga si A menuduh keluarga si B selingkuh dengan salah satu istri dari mereka, dan dilakukan sumpah banyu ndiro, diadakan tirakatan 3 hari 3 malam di makam Eyang Gusti, baru dilaksanakan sumpah banyu ndhiro, saking sakralnya dari pihak aparat keamanan juga menjaga tempat tersebut …. mingkin itu gambaran sedikit tentang banyu ndhiro, jika pejabat2 yang berkuasa di negeri ini berani sumpah banyu ndhiro pasti negeri ini akan aman dari segala bentuk kecurangan2 yang sekarang sering timbul, dikarenakan efek dari sumpah tersebut bisa langsung dirasakan didunia ini ….

    wasalam
    dr Cah_ndhro

    bagi warga mangun-rejo atau cah ndhiro silahkan gabung di FB Cah_ndhiro_ngbl langsung Add …

  5. eyang bethoro says:

    lepas dari air mendiro.. sumpah adalah disaksikan allah. bagi orang beriman sumpah sangat berat konsekuensinya di acherat.. bukan bebendu dunia. sungguh bebendu acherat jauh lebih berat. sungkem buat pak wik.

  6. Mas Masriso, pengalamannya hampir sama dengan saya soal sumur Mendiro itu. Bedanya hanya soal waktu, kalau saya terjadi sekitar akhir tahun ’30-an, waktu itu sekitar “sarean Eyang Mendiro” masih nampak angker, di halaman ada 2 buah pohon sawo kecik. Pagi2 kita cari kecik sisa sawo yang dimakan codot untuk di adu sama teman2 disekitar sumur itu. Kalau haus minumnya ya dari sumur, terasa segeeer. Itulah kenangan jaman kanak2 di Mendiro, yang dulu bagian dari desa Mangunredjo, sampai kedatangan Jepang,setelah itu mininggalkan desa dan dunia kanak2…

  7. Mas Novi/Cah Mendiro, saya tidak menyangka kalau “banyu Mendiro” mempunyai khasiat untuk mengobati sakit prostat, namun kalau ayahanda telah mengalami ya itu satu bukti. Bagimana fenomena ini Pak Dokter Indro? Mohon pendapat dari sudut ilmu kedokteran.
    Soal sumpah banyu Mendiro saya hanya menyaksikan satu kali waktu kecil, dilakukan oleh orang2 dari desa kidulan. Memang nampaknya sumpah banyu Mendiro itu dikenal juga oleh desa2 sekitar. Bahwa ada kejadian ditahun ’80-an itu menandakan bahwa kepercayaan itu masih ada, mungkin bahkan sampai sekarang, namun karena beratnya resiko akibat sumpah itu makanya jarang yang mau melakukan, apalagi sekedar mau coba2. Salam.

  8. Pak Dokter saya senang dan setuju sekali dengan komen Pak Dokter tentang sumpah. Tetapi kenapa akhir2 ini begitu banyak dan mudahnya orang mengeluarkan sumpah, notabene orang2 yang termasuk petinggi negara, apanya yang salah dari dari masyarakat kita, apalagi kalau diingat betapa beratnya konsekwensi di akherat. Waktu kecil kita selalu di pesan ortu jangan mudah mengeluarkan sumpah. Banyu Mendiro itu memang “dipercaya” untuk bersumpah, namun orang2 desa sangat jarang menggunakan, apakah ini berati orang desa lebih bijaksana? Walahualam. Salam hangat, mbah Suro baru kembali dari desa skr masih pegel2 akibat nyopir Jkt-Pwr vv.

  9. Benar pak wik, bahwa kesembuhan bisa saja terjadi. tidak lain karena adanya ‘sugesti’ yg sangat kuat, akibatnya akan timbul keseimbangan homeostasis dari badan sehingga fisiologis organ2 berjalan normal dan hal2 yg pathologis terkikis habis.
    namun semua itu juga merupakan ujian dari allah apakah hal itu membuat bersyukur bahwa kesembuhan adalah berkat kuasa allah swt atau malah sebaliknya menjadikan sebuah kemusyrikan, dimana kesembuhan dipercayai karena kekuatan air mendiro yang sebenarnya adalah tidak ada apa2nya. memang kalau mau ilmiah ya dilakukan penelitian, namun karena empiris kasusnya cuma satu dua saya rasa ya mubadir saja. kasus senada baru saja terjadi di jombng…..
    Bravo buat mbah suro yg masih suka ngebut jkt pwr v.v.
    wass indro

  10. Kesimpulannya: kesembuhan karena hasil dari sugesti yang kuat, sugesti dilandasi oleh “percaya” akan khasiat sesuatu yang bisa menyeimbangkan homeostatis dari badan. Secara ilmiah tidak bisa dibuktikan, karena kasusnya sangat individual. Bila kesembuhan itu dikaitkan kepada percaya kepada kekuasaan Allah SWT, ini baik, namun kalau dibelokkan kpd hal2 mistis, akan menjurus kepada musyrik. Apakah demikian? Penjelasan yang cukup ilmiah dan sesuai dengan jalur agama. Trimakasih.

  11. Ini cerita yang bagus, saya jadi tertarik untuk berkunjung ke sumur ini ya sekadar melihat saja, anggap saja ini salah satu object tourism di Purworejo. Cuma datangnya nanti pas pulang kampoeng:))

    Nah sumur ini sekarang adi milik siapa? Atau lepas begitu saja di suatu tempat terbuka?

  12. Cah_Ndhiro says:

    Buat Pak Wahyu H
    salam kenal dari saya, menanggapi pertanyaan dari bapak, mengenai sumur itu punya siapa, mungkin jawabanya adalah milik kita semua, karena memang di gunakan untuk umum, kalo mau tanya sejarahnya bisa saya referensikan bapak bisa bertanya warga depan masjid karena posisi sumur berada di sebelah belakang masjid Mendiro,

    Wasalam
    Cah_Ndhiro

  13. Posisi sumur diapit oleh Masjid dan cungkup/pesarean Eyang Mendiro yang dipercaya sebagai leluhur/cikal bakal desa Mendiro.Keistimewaan sumur, disamping airnya yang bening dan langsung bisa di minum, juga tidak pernah kering sepanjang tahun padahal warga Mendiro banyak yang “ngangsu” khususnya di musim kemarau, yang pasti sumur ini sudah cukup tua dan menjadi milik warga Mendiro. Tempatnya terbuka, hanya di kelilingi oleh pager tumbuhan hidup.Siapa saja yang mau ambil air dari situ dipersilahkan.

  14. pujo says:

    Sebagai tambahan menurut silsilah Ky. Mendiro adalah putra Batara Katong, atau cucu dari Prb. Brawijoyo V.
    Mempunyai putra bernama Ky. Wunut (makam di Banyuurip).
    Apa P’Wik punya cerita tentang ‘Babad Wunut’ yg dibuka dgn cara membakar hutan, dimana daerah yg terbakar itulah yg menjadi batas desa.

    • Mas Pujo, saya baru dengar kalau Eyang Mendiro cucu Browijoyo V. Ada yang bilang bahwa dia abdi dalem setia dari Kartosuro, makanya di beri tanah mutihan di desa Mendiro. Memang kalau tidak ada bukti2 jelas semuanya hanya “menurut cerita”, yang terang Eyang Mendiro adalah Pepunden/Leluhur/Cikalbakal desa Mendiro dan tinggalannya disamping cungkup itu, adalah “Sumur Mendiro” yang “mandi” untuk sumpah bagi yang mempercayai.
      Soal babad Wunut saya kurang mengetahui, yang jelas desa Wunut, Mendiro dan Susuk adalah termasuk desa2 kuno. Kalau babad Banyuurip saya pernah baca waktu kecil, tulisan tangan huruf Jawa.Salam, sw.

      • pujo says:

        Kalau Babad Banyuurip mengisahkan ttg. P. Joyokusumo yg adu ‘gemak’ dgn ‘Ky. Manguyu’ yg akhirnya kalah dan menyerahkan adiknya ‘Ny. Putri’ sbg isterinya, serta terjadinya beberapa desa akibat adu gemak tsb.

        • Betul itulah mungkin yang saya baca waktu kecil, buku itu memang milik keluarga yang setiap ada peristiwa misalnya kelahiran anak, menjadi bacaan/macapat-an “lek-lek-an”. Embah buyut kami memang asli Banyuurip jadi dekat dengan sejarah desa kuno itu. Soal adu gemak itu memang “akal-akal-an” P.Joyokusumo untuk “mencarikan” pasangan adiknya, yang memang sudah saatnya berumah-tangga, tapi bagaimanapun Babad Banyuurip itu cukup menarik, entah siapa penulisnya.

  15. Cah_Ndhiro says:

    wah tambah seru nih ceritanya, kalo boleh tulis dl Blog aja Pak Pujo, bisa jelas silsilahnya dan menjadi pengetahuan umum, saya tunggu tulisan dari Pakde Slamet dan Pak Pujo

    salam
    Cah_Ndhiro

    • Mas Novi, kalau memang mas Pujo punya “silsilah” dan latar belakang sejarah Mendiro sebaiknya di kemukakan saja di blog ini biar jadi pengetahuan umum dan menambah “popularitas” desa kuno ini.Tapi jangan kaget nanti kalau pengunjung “berbondong-bondong” untuk “menyambangi” desa yang sepi ini, perlu siap tukang parkir, ha,ha,ha.

      • pujo says:

        Hingga saat ini saya belum mendengar cerita Ky. Mendiro dan Ky. Wunut, jadi kalau disuruh cerita saya belum bisa cerita, kalaupun itu ada hanya berupa catatan silsilah yg jatuhnya bukan ke Wunut/Mendiro justru ke Banyuurip.
        Cuma masalahnya apakah yg. disarekan di Mendiro tsb. adalah orang yg sama dlm silsilah (masa Demak) atau masa Kartasura, itu yg harus digali lagi.
        Sekarang sudah susah mencari orang ‘sepuh’ yg bisa menceritakan cerita masa lalu, sudah mulai ‘kepaten obor’.

        • Banyuurip itu masih untung, punya Babad, lha Wunut dan Susuk, disamping tidak memiliki babad juga tidak punya “petilasan”. Mendiro lumayan punya sarean “Eyang Gusti” dan Sumur kuno yang dipercaya punya tuah untuk sumpah. Lepas dari itu nampaknya masing2 desa itu mempunyai sejarahnya sendiri yang berkembang menjadi keunikan kepribadian warganya. Orang Susuk berbeda dengan orang Wunut, bahkan dalam “dialek” dan kosakata bahasanya, demikian dengan Mendiro, padahal ini desa bersebelahan. Makanya waktu di coba penggabungan 3 desa jadi Mangunrejo jaman Belanda, gagal dan kembali ke masing2 desa asli. Sungguh menarik untuk “menggali” latar belakang ini semua. Itulah yang saya usulkan agar para blogger menulis tentang keunikan masing2 desanya agar menjadi pengetahuan kita.

  16. dedy sarwosuci says:

    heheehe jadi kangen mudik kampung nih….
    eh sebentar lagi aku mudik…..
    heehe natalan nih….
    aduh kapan mendiro ada pengharum kampung sewangi klup volly WATER….. eh pimpong e hebat ya dulu….
    ayo generasi sekarang jangan kalah sama generasi….mas tejo..mas warsoyo pimpongnya, mas budi dan mbang foliinya dlll
    aduh dulu pernah ada batminton… sepak bola haaa
    eh ama main kelereng

    • Mas Dedy ini “curhat” akan kecintaannya pada desanya dan nostalgia masa kecil di Mendiro, itu wajar2 saja. Setiap orang yang “di-paran” dan mengalami kehidupan yang penuh tantangan dan perjuangan pasti akan teringat kampung halaman yang “tentram dan damai”, teringat masa kecilnya yang penuh canda ria dengan teman2, bebas dari masalah kesulitan dunia. Makanya memang perlu sekali2 untuk “pulang kampung” untuk “menyegarkan’ diri. Salam.

  17. dedy sarwosuci says:

    Ya itu karena keampuhan air mendiro jadi terbesit nama untuk klup olah raga WATER….. hee waktu kecil tidak tau kirain warsoyo tejo…..
    Tapi banyu mendiro hebat kok…
    aku besar dan pinter karena banyu mendiro…
    tapi bukan banyu yg untuk ” sumpah lho ”
    Aku bangga punya kampung mendiro
    I love you fulll mendiro…lg banyak mangga dan lg tandur nihhh

    • Bondhi says:

      Kalau memang benar kasiatnya….di branding saja…market areanya lokalan dulu…peluang bisnis nih…pejabat purworejo dianjurkan minum air mendiro…biar bebas korupsi…

    • Mas Dedy, saya setuju dengan pernyataan “aku besar dan pinter karena banyu mendiro”, krn sebagai orang yang lahir dan dibesarkan disitu modal utamanya ya air dari desa itu. Soal banyu untuk sumpah, itu kan masalah lain, masalah kepercayaan bagi orang yang punya masalah.
      Soal usul mas Bondhi untuk di “branding” saya kok kurang setuju, sdh menjurus ke “komersial” padahal banyu mendiro kan air biasa, hanya bagi yang percaya mempunyai makna lain. Kalau pejabat pwr supaya minum air mendiro ya namanya sudah kebablasan…. bukan itu tujuannya… salam sw.

    • slamet riyadi says:

      mas dedy tinggal dimana sekarang, masih inget sama orang karangtalun?

  18. hariadi says:

    Kalo di ngombol ada sumur mendiro nah kalo di tempat saya di pogung juru tengah ada sumur tua juga, itu bisa dilihat dr kondisinya yg diapit pohon Puh sangat besar, dulu waktu masih kecil, kalo bulan2 sa’ban sering dikunjungi warga sekitar untuk minum airnya selain setiap harinya dipergunakan untuk kebutuhan warga sekitar, nah menurut warga sumur itu dulunya tempat beristirahatnya mbah “joko Thatit” untuk ini saya juga nggak begitu banyak tahu, tp ntar saya coba gali lg minimal untuk perbendaharaan sy pribadi untuk bahan crito untuk anak2 sy kelak…
    jadi pengin mudik nih..
    salam.
    hariyadi, S’pore

    • pujo says:

      Satu lagi di Banyuurip ada sumur ‘Tinatah’/Prigi yg biasanya digunakan oleh ibu2 hamil, agar bila melahirkan anak setampan Kamajaya atau secantik Kamaratih.

      • Kepercayaan ini memang masih ada.Sumur dipercaya mempunyai kekuatan “magis” bagi yang mempercayai bahkan masih ada juru kuncinya yang kebetulan masih ada hubungan kekerabatan dengan kami. Sewaktu kecil, beberapa kali saya diajak Bapak kesana yang cerita waktu kecilnya ikut mbah buyut disana.

  19. Mas Hariadi selamat muncul kembali, nampaknya kini sudah pindah ke S’pore, sejak kapan? Saya yakin banyak desa di Pwr mempunyai “peninggalan” masa lalu yang menarik untuk di ceritakan sebagai legenda, contohnya Nyai Bagelen, Pangeran Joyokusumo dari Banyuurip,Adipati Loano, Kyai Brengkelan, bahkan berdirinya Pwr itu juga mengacu pada jaman Mataram Kuno dengan prasastinya. Menurut Prof.Purbocaroko daerah Pwr itu dulu erat kaitannya dengan kerajaan Mataram Kuno. Kini masih ada desa di kecamatan Pwd dengan nama Watukuro, itu nama dari salah satu raja dari jaman Mataram kuno, memang menarik untuk dikaji lebih lanjut bagi peminat ilmu sejarah. Salam, sw.

  20. Sejarah kedaerahan memang perlu dilestarikan,contohnya ditempat saya ada dua sumur,yang satu didaerah dukuh cimanah ( sumur jombor},satunya lagi didaerah wonosari,kedua sumur itu berada dikelurahan Bragolan(kec Purwodadi},kedua sumur itu tidakpernah berkurang airnya biarpun musim kemarau,jaman dulu jalan raya dari pendowo lurus melewati dua sumur tsb,Pas dibelakang rumah saya ,kalau sekarang jln raya berada didepan rumah saya.

    • Mas Wahid, trims untuk tanggapannya. Mungkin ada baiknya untuk diceritakan “dongeng” tentang kedua sumur itu, milik siapa sudah berapa tahun usianya, ini sekedar untuk “melestarikan” sejarah atau keunikan tiap desa sebagaimana mas Wahid usulkan. Salam sw.

      • Pak Slamet desember ini rencana saya pulang kampuang,coba nanti saya tanyakan eyang yang masing sugeng mingkin bisa bercerita tentang SIJOMBOR dan Sumur yang DI dukuh Wonosari,yang menurut cerita jaman dulu kedua sumur tersebut adalah SUMUR TIBAN.Mungkin ada saduara2 saya yang satu dukuh untuk menambahkan ,Wasalam.

        • Mas Wahid, saya jadi ingat istilah “tiban”, ada sumur tiban, mesjid tiban, dukun tiban,dll, ini menunjukkan asal-usulnya yang nggak jelas, sehingga untuk gampangnya dinamakan “tiban”, kadang juga keberadaannya agak “aneh”. Misalnya di makam desa Singkil & Mendiro yang terletak di tengah2 bulak jauh dari desa ada sebuah mesjid sederhana yang dikatakan mesjid tiban. Siapa yang bikin, kapan, untuk apa dan siapa yang menggunakan tidak jelas krn memang letaknya di tengah2 makam yang sepi. Bapak saya pernah cerita bahwa mesjid digunakan untuk “bertapa”, bahkan katanya mbah buyut saya pernah bertapa di situ. Saya kira saat ini sdh susah untuk mencari info/reference hal itu. Semoga Mas Wahid akan mendapat “penjelasan” tentang latar belakang sumur2 tiban dari para pinisepuh, sekedar untuk tambah pengetahuan tentang desa2 kita. Salam,sw.

  21. hariadi says:

    Alhamdulillah eyang Wik, tp untuk tugas sementara aja kok, tetep di Bintan.Trus ada satu lagi yg sampai sekarang masih dipegang teguh yaitu di desa seborokarang ikut seboropasar kec ngombol, sampai sekarang masih dilanggengkan nanggap kethoprak atau jaman kecil dulu disebut “topeng” memang sewaktu masuk di seborokarang sudah terasa nuansa maaf “mistis”nya, terbukti di sebelah selatan pas pintu masuk ada makam yg dibelit akar pohon beringin yg sangat tua sehingga mengesankan makam tersebut didalam gua, dan pernah saya masuk tertulis nama ONDOMOI, waktu itu mau ngambil gbr juga tapi kata orang setempat “saru” jadi niat ngambil gambar nggak kesampaian. sampai sekarang hanya lewat dongeng dr alm mbah saya yang bercerita sepotong2 tentang ondomoi, katanya sih itu bagian tubuh seorang pangeran dari mataram yg berperang,. Nah mungkin eyang Wik atau bapak/ibu punya referensi lain atu mungkin yang berasal dr seborokarang, mungkin bisa berbagi cerita tentang itu, untuk menambah pengetahuan kita tentang daerah kita.Terimakasih

    • Trims mas Hariadi, semoga sukses dlm tugasnya. Tanggapannya sangat menarik. Ini menunjukkan beraneka ragamnya sejarah dan legenda masing2 desa. Para leluhurnya mempunyai kegemaran yang berbeda2. Ada yang “mengharamkan” wayang kulit, tapi ada yang “menuntut” di tanggapkan pada waktu bersih desa, spt Seborokarang malah minta tanggapan ketoprak, ini agak “aneh” krn yang saya tahu Seboro itu kan kenthel Islamnya, lagian kenapa Seboro ada yang tambahan dengan “karang”, “pasar” dan “krapyak” yang kayaknya mempunyai nuansa “kepribadian” yang berbeda. Kiranya blogger dari Seboro dapat memberikan “pencerahan”, juga apa artinya nama “seboro”? Banyak hal2 yang menarik untuk diulas setidaknya untuk mengisi waktu luang… salam, sw.

  22. sogimin says:

    riptowd.po kowe cah ngabean yo kayane biyen seangkatan sekolah mbek aku,aku saiki nang palembang

  23. hariadi says:

    Makasih Eyang Wik atas tanggapannya,
    Setahu saya,kebetulan daerah asal leluhur saya berasal dari desa ini, seboropasar itu meliputi dusun seborokarang dan seboropasar itu sendiri sebelah selatan berbatasan dengan desa Piono sebelah barat berbatasan dengan ds pogung rejo dan desa secang sebelah utara berbatasan dengan ds tegalmiring kec banyuurip, kalo seboro krapyak itu sendiri terletak disebelah utaranya tegalmiring bebatasan dengan Triwarno keduanya sama2 kec banyuurip, ada yg unik dari desa seboropasar ini, disamping betul yg eyang ngendikaaken islamnya kenthel tapi budaya leluhur jg masih kenthel juga.Tapi ini yg membuat ciri khas desa ini terkenal.
    makasih

    • Mas Hariadi, saya “deket” dengan Seboro karena salah satu kakak nikah dengan gadis dari situ, putra keluarga “tetua” dari desa itu. Juga punya Bu De, semuanya dari Seboro Pasar (dimana pasarnya ya). Juga Seboro Krapyak, mengapa terpisah kecamatan. Kalau Tegalmiring, memang saya sekolah SD di situ dan tamat jaman Jepang, ikut Kakak yang jadi guru, tinggal di Kliwonan. Jaman itu pasar Tegalmiring ramai dan lengkap sekali, entah sejak kapan menyurut, terakhir saya lewat sudah jadi “pasar mati”, tidak dipakai lagi. Sedih kalau ingat jaman jaya2nya. Ini sama dengan pasar Cokroyasan yang “hilang”, sekr di tempati SD. Memang jaman berubah… salam.

      • slamet riyadi says:

        nggak punya memori tentang desa Karangtalun ya Pak kok kelewatan terus

        • Saya sarankan mas Riyadi menulis tentang desa Karangtalun. Saya memang punya memori tentang desa tetangga Susuk itu, apalagi kalau sedang di desa hampir setiap pagi saya lewati pada waktu jalan pagi. Nanti kalau saatnya tepat, saya Insya Allah akan bercerita tentang Karangtalun. Salam, Sw.

  24. hariadi says:

    Eyang Wik,
    Kalau membaca commentnya eyang jadi teringat masa kecil saya sekitar th 80-an, diajak bapak ke pasar2 tradisional seperti tegalmiring,pasar’nggamblok” secang, pasar Njono,pasar grabag.Etc. kalo seboro saya masih bisa nemui eyang, yaitu dari SD seboro ke arah timur sekitar 200-an meter, tapi sekarang kayaknya dah mati, paling2 kalo ada yg jualan cuma jualan baju, kolor sama mbako itupun sepi sekali, sedih saya melihat perubahan ini, dimana semua beralih ke model pasar bergaya “western” tapi bukankah dari pasar2 tradisional ini kita bisa mempunyai jatidiri…
    perubahan lain yang membuat hati miris, yaitu attitude, jaman saya dulu yang muda pasti manggil yang lebih tua umurnya dengan panggilan sopan mas, mbakyu dan sebagainya walaupun tidak ada ikatan keluargapun, anak kalo orang tua bicara pasti nunduk apalagi kalo orang tua sudah “duko” pasti “methotholen” tapi sekarang banyak yang sudah hilang, dimana kepribadian jawa yang punya unggah-ungguh, tata krama..
    Saya berharap bisa menurunkan identity dan jatidiri Jawa pada anak saya..walau istri saya orang Bangka.

    • Kalau mas Hariadi yang generasi skr saja sudah melihat begitu banyak perubahan, generasi saya apalagi. Dulu waktu kecil sering dengar ungkapan “mbesuk yen menangi jaman ‘kali ilang kedhunge, pasar ilang kemandange’…”, ternyata alhamdulilah, saya masih bisa menangi “ramalan Joyoboyo” yang menjadi kenyataan. Tidak ada kali yang punya kedhung lagi, pasar memang harus ilang kemandange karena sudah mati. Dulu pasar nJono itu besar, ramai dan lengkap. Saya ingat beli wuwu, seser dan pancing khusus kesitu, bersama beberapa teman berangkat habis subuh jalan kaki. Habis beli perlengkapan cari ikan , kami “medang” di tobong kewedangan sebelah pinggir selatan, pesen teh manis,jadah panggang dan tempe bacem, nikmat sekali… sekarang pasarnya sudah menjadi “bekas pasar…” sungguh sedih,itulah perubahan, yang hanya meninggalkan kenangan…
      Kalau mengenai hilangnya toto-kromo dan unggah-ungguh, mungkin sudah dimulai sejak hilangnya pelajaran pendidikan budi-pekerti di sekolahan.
      Sekarang menjadi tanggung-jawab orang tua untuk membentuk karakter anak2 mereka. Semoga mas Hariadi berhasil menjawab tantangan yang berat tsb.Salam.

  25. Yoyo S says:

    Assalamu’alaikum Wr Wb, Maaf ni teman-2 warga Purworejo sy beberapa hari g aktif, Mbak Puji di Papua, Mas Tony di Makasar, Mas Yanto di Jakarta dll yang tersebar di Bumi Nusantara, semoga semua sehat sehat saja, Wah kapan kita bisa ketemu di kampung halaman ya ? Wasalamu’alaikum Wr Wb.

  26. Rina Sagita says:

    Nenek dan Kakek saya serta keluarga ibu saya tinggal di desa Mendiro,Purworejo. Saya kaget mendengar berita mengenai “Banyu Mendiro” karena saat saya berkunjung ke desa Mendiro, saya juga mengambil air di sumur tersebut. Memang sumur tersebut sangat jernih airnya dan menurut warga sekitar, sumur tersebut tidak pernah kering. Sumur tersebut sering dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk keperluan minum. Trims

    • slamet wijadi says:

      Mbak Rina, trimakasih telah mampir, memang benar bahwa air “Banyu Mendiro” itu sangat bening/jernih dan bisa langsung diminum dari gayungnya. Juga sumur itu sejak saya kecil, 70 tahunan yl., belum pernah terdengar mengalami kekeringan/asat, sekalipun dalam musim kemarau panjang. Barangkali karena itu maka penduduk sekitarnya meyakini bahwa sumur itu pasti istimewa, disamping memang sangat membantu bagi penduduk sekitarnya. Sedang “kemandiannya”, adalah masalah kepercayaan/legenda, dan jaman dulu memang ada bukti-buktinya. Namun sekarang nampaknya kepercayaan itu lebih merupakan “cerita” jaman lampau. Salam dari tetangga desa. Sw.

  27. wahyu suranto says:

    wah deso q kui

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Masihkah Memilih Kucing dalam Karung?

17 - Dec - 2013 | indra.ngombol | 2 Comments »

NAIK SEPOR

8 - May - 2008 | GUNIDA | 18 Comments »

Selamat Idul Fitri 1431 H

9 - Sep - 2010 | meds | 1 Comment »

Triwarno, Banyuurip, Purworejo

21 - Dec - 2010 | triwarno | 20 Comments »

Sungguh…sudah mendunia blog ini

20 - Dec - 2008 | turuawan | 2 Comments »

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net