MENGENANG “KOKUMIN GAKKO”. SEKOLAH RAKYAT JAMAN JEPANG

  22 - Aug - 2009 -   slamet wijadi -   20 Comments »

Tulisan ini untuk mengenang guru kami Bapak Prawirosoewarno Setelah berhasil mengusir Belanda dari Indonesia bulan Maret tahun 1942, Pemerintah Pendudukan Jepang “membubarkan” dan menutup seluruh sekolahan yang dibangun dengan sistem pendidikan Belanda dan menggantikan dengan sistem pendidikan yang samasekali baru dan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kebijaksanaan Jepang khususnya dalam rangka untuk memenangkan Perang Asia Timur Raya, sekaligus mengikis semua”sisa2” pendidikan jaman Belanda.

Pada waktu sekolah mulai dibuka kembali, sekitar sebulan/dua bulan kemudian, wajah sekolah di bekas Hindia Belanda berubah secara total dan fundamental yang dampaknya kita rasakan sebagai hikmah yang menguntungkan bagi perkembangan kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia.
Yang paling mendasar ialah penghapusan diskriminasi antar berbagai sekolahan dan sekaligus meng-introdusir demokratisasi dalam dunia pendidikan. Hanya ada satu macam sekolah untuk seluruh warga Indonesia; untuk tingkat dasar hanya ada satu macam “Sekolah Rakyat” atau Kokumin Gakko (kokumin-=rakyat, gakko= sekolah) 6 tahun. Tidak ada beda antara anak seorang Bupati dengan anak seorang petani dalam hal kemudahan masuk sekolah dan untuk tingkat dasar hanya ada satu macam sekolah, yaitu Sekolah Rakyat. Bandingkan dengan sistem pendidikan Belanda, yang ,misalnya, untuk sekolah dasar saja di”kota-kotak”kan berdasar berbagai kriteria dan golongan penduduk.
Bagi saya pribadi penghapusan diskriminasi antar berbagai sekolah ini sungguh merupakan “berkah”, karena kekecewaan yang semula saya rasakan sebagai akibat tidak bisa masuk “sekolah Belanda”, kini terobati, kebalikannya bagi yang sekolah Belanda kini harus puas “disamakan” dengan sekolah desa/Sekolah Ongko Loro. Sekarang terbuka lebar “persaingan” atas dasar persamaan hak, siapa yang pinter ada kesempatan untuk maju. Jaman baru dalam dunia pendidikan telah hadir bersamaan dengan datangnya “saudara tua” Nippon. (Waktu itu dilarang keras menyebut “Jepang”, bahkan “waluh jipang” di ganti nama dengan “labu siem”).
Selanjutnya, penghapusan bhs. Belanda secara total untuk selamanya, baik sebagai bhs. pengantar maupun sebagai mata pelajaran dari seluruh sekolahan, tentunya bagi sekolah Belanda, dan “mengangkat” bhs. Indonesia yang tadinya diajarkan sebagai bhs.”Melayu”, menjadi bhs. pengantar pengajaran secara resmi diseluruh sekolahan; dan ini berdampak sangat “menentukan” bagi perkembangan bhs. Indonesia dan penyebaran rasa kebangsaan yang oleh Jepang memang didorong demi kepentingannya agar anti “barat”, dalam usahanya memenangkan perang.
Menetapkan bhs. Jepang sebagai pelajaran wajib di semua sekolah, termasuk nyanyi-nyanyian Jepang yang memuja kehebatan bangsa Jepang sebagai keturunan Dewa Amaterasu (Dewa Matahari) dan keperkasaan bala tentara Dai Nippon. Ini memang ada ada buktinya; Belanda yang menjajah Indonesia selama 350 tahun, bertekuk lutut hampir tanpa perlawanan kepada tentara Dai Nippon hanya dalam waktu satu minggu (di Jawa).
Lagu Kebangsaan Jepang “Kimigayo” menjadi lagu wajib untuk di nyanyikan setiap pagi pada waktu acara “mengerek”/menaikkan bendera Jepang “Hinomaru”. Lagu Kimigayo ini adalah semacam doa rakyat Jepang kepada Kaisarnya , Dinasti Tenno Heika, terjemahan bebas lirik lagunya kira2 sbb: “Semoga Pemerintahan Dinasti Tenno Heika tetap langgeng lestari, berlanjut sampai berabad-abad. Diibaratkan sebagai batu kerikil kecil yang tumbuh berkembang menjadi batu karang yang besar, yang ditumbuhi lumut-lumut”.
Sebagai bagian dari upacara pagi, setelah selesai upacara bendera, para murid wajib memberikan penghormatan kepada Kaisar Jepang Tenno Heika yang oleh orang Jepang dianggap sebagai manusia setengah “dewa”, dengan cara membongkokkan badan , seikere,(rukuk) kearah negara Jepang arah timur laut . Setelah itu para murid harus mengucapkan sumpah-setia dalam bhs. Jepang, dipimpin salah seorang murid (saya pernah mewakili), kira-kira sbb : “Kami adalah siswa sekolah Jawa Baru ( Warera wa Sin Jawa ni gakko to nari), Kami belajar demi kemenangan Perang Asia Timur Raya (Dai Tooa sensoo ni manabi), Kami meyakini terciptanya kemakmuran bersama Asia Timur Raya dibawah pimpinan Dai Nippon ( doktrin Hakko Ichu)”. Kata-kata itu mungkin kurang tepat, tetapi intinya adalah begitu,barangkali angkatan saya yang membaca ini, bisa memberi komentar.
Selesai upacara kemudian harus “taiso”, senam/olah-raga Jepang yang harus diikuti oleh semua murid dengan aba-aba/hitungan bahasa Jepang, ichi, ni, sam,si, dstnya. Setelah itu barulah kita masuk kelas. Hal itu dilakukan teratur setiap pagi dan akan merupakan bagian dari penilaian bagi setiap murid. Harus diakui bahwa senam dibawah sinar matahari pagi secara rutin ini terasa sangat menyehatkan dan menumbuhkan “semangat”/sigrak.
Pada waktu datangnya perubahan ini, sekitar bulan Mei-Juni, 1942 (yang kemudian diganti dengan tahun Jepang 2002), saya duduk di kelas IV Kokumin Gakko Wunut, Purworejo. Kegiatan sekolah dan belajar juga mengalami perubahan drastis dan diarahkan untuk mengubah sikap dan mental para murid menjadi kader kader untuk membantu Jepang dalam memenangkan peperangan Asia Timur Raya yang sekaligus menanamkan “rasa percaya diri” sebagai orang Indonesia/Asia dalam menghadapi “orang Barat”.

Ijazah Kokumin Gakko berlatar belakang bendera Hinomaru...

Ijazah Kokumin Gakko berlatar belakang bendera Hinomaru...

Disamping mata pelajaran yang sebelumnya telah kami terima, kini ditambah mata pelajaaran bhs Jepang, termasuk huruf-huruf katakana/hiragana dan kanji. Saya ingat guru untuk ini adalah Pak Prawirosuwarno, sosok pribadi yang lincah. Beliau juga mengajar baris-berbaris, latihan “perang-perangan” (kyoren) dan pelajaran “semangat”, yaitu semacam “indoktrinasi” untuk menanamkan kepercayaan diri terhadap rasa kebangsaan dan keyakinan akan kehebatan bangsa Jepang untuk memenangkan perang melawan “orang barat” (Amerika/Inggeris/Belanda). Rupanya Pak Prawiro ini sebelumnya sudah mendapat “latihan” untuk melaksanakan tugas ini dari pimpinan Jepang.
Pengawas/semacam “school opziener” untuk sekolah daerah Purworejo adalah seorang Jepang berpangkat Mayor, Matsuda San, didampingi penterjemah orang Indonesia, Pak Salikin yang belakangan jadi guru sejarah saya sewaktu saya di sekolah SMP kemudian. Matsuda ini orangnya pendek/keker berkaca-mata, tampilannya tenang dan berwibawa, berumur sekitar 35 tahunan, selalu berseragam militer dan ber-pet warna coklat lengkap dengan pedang samurainya. Sebagai seorang anak desa berumur sebelas tahunan, saya sungguh terkesan dengan pribadi ini, bahkan sampai sekarangpun saya masih bisa menggambarkan sosok ini dengan jelas.
Saya menyenangi pelajaran bhs. Jepang sehingga sering diikutkan dalam “perlombaan” di Purwodadi/Purworejo. Salah satu peribahasa Jepang yang saya sukai dan sampai kini terpateri dalam memori saya adalah “Jibung no koto wa jibung de suru”, kira-kira artinya, “pekerjaan kamu harus kamu sendiri yang mengerjakan” atau dengan kata lain, kamu harus bertanggung-jawab untuk menyelesaikan tugasmu sendiri. Tidak mengherankan mengapa orang-orang Jepang terkenal sangat bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan, jarang mencari “kambing hitam”, penganut budaya malu dan “self reliance”; sebab pada hakekatnya peribahasa itu adalah cerminan watak dan kearifan bangsa yang memilikinya.
Cerita Jepang yang terkenal waktu itu adalah “Momotaro” yang katanya juga populer di Jepang. Namun dari pelajaran baru itu saya senang dengan nyanyian-nyanyian Jepang yang menurut saya cukup indah dan sangat inspiratif untuk menggugah semangat, serta menggambarkan kehebatan bangsa Jepang sebagai turunan Dewa Amaterasu yang mempunyai misi untuk membebaskan bangsa-bangsa Asia dari penjajahan “orang Barat”. Salah satu nyanyian yang populer waktu itu adalah “Yaesio” (Samodera Raya yang Jauh) yang tejemahan lirik lagunya kira-kira sbb: “Kami datang dengan mengarungi Samudera raya yang jauh di sana, dari negeri Sang Dewa Amaterasu . Mengemban perintah Baginda Raja, dengan kapal perang kerajaan, kami berlayar ke sini, menemui saudara-saudara di sini, dengan hati yang tulus”. Bila dinyanyikan dalam bhs. Jepang, sungguh sangat indah dan puitis, bahkan sampai kini saya masih hafal.
Bukan hanya lagu-lagu Jepang, tetapi lagu-lagu Indonesia waktu itu juga sangat “mengena” untuk menggugah/membakar semangat melawan Barat, spt contoh berikut; “Awaslah Inggeris dan Amerika, Musuh seluruh Asia, Yang akan meperbudakkan kita, Dengan sekuat tenaga. Hancurkanlah musuh kita, Itulah Inggeris Amerika (Belanda Juga) 2X”; dinyanyikan sambil baris berbaris, sungguh terasa “meng-hipnotis” dalam menaikkan suhu semangat. Biasanya nyanyian itu diakhiri dengan teriakan bersama “Inggris kita linggis Amerika kita setrika…”
Kegiatan (extra kurikuler) setiap hari Sabtu adalah Kinrohoshi (kerja bakti), masuk “hutan”buatan sebelah selatan Wonoroto/dekat pantai selatan kecamatan Ngombol, yang memanjang dari Pasir Puncu sampai Congot ( skr sudah hilang) untuk mengumpulkan “iles-iles” (sebangsa umbi-umbian) yang tidak jelas untuk apa.Kemudian kuwajiban menanam pohon jarak, membasmi hama bekicot yang waktu itu sangat mewabah, mengumpulkan “paku-paku” dan segala macam benda logam sepanjang jalan dengan alasan agar truk-truk tentara Nippon lancar tidak terkena paku/logam … .Sungguh lucu untuk dipikir sekarang.
Keadaan dan suasana perdesaan semenjak kedatangan “saudara tua” kita ini juga mengalami perubahan yang cukup drastis. Pemuda desa dibagi dalam dua golongan, yang muda masuk “seinendan”/pasukan remaja dan yang lebih dewasa masuk “keibodan”. Kedua kelompok mengadakan latihan baris-berbaris hampir setiap hari,dengan menyanyikan lagu-lagu yang membakar semangat, dipimpin oleh pelatih yang sudah dilatih pada tingkat kabupaten.
Pada waktu-waktu tertentu diadakan lomba antar desa se-kecamatan baik untuk tingkat seinendan maupun keibodan, dan di nilai oleh orang Jepang yang datang dari Kabupaten, mengenai berbagai kecakapan baris-berbaris dan disiplin pasukan. Sungguh mengagumkan untuk menyaksikan pemuda2 desa berubah dari mental petani yang “alon2” disulap menjadi manusia2 yang tegap,sigap, berdisiplin dan “siap tempur”. Lurah Wonosari/Wonoroto waktu itu selalu membawa “pasukan”nya ditengah sambutan tepuk- tangan riuh rendah dari penonton karena hebatnya barisan yang ia tampilkan.Kadang saya kini merenung, orang Indonesia ini kalau mendapat pimpinan yang baik, bisa hebat juga lho.
Berlainan dengan keadaan diatas adalah keadaan sosial dan kesejahteraan masyarakat desa yang berangsur cepat merosot. Yang paling berat dirasakan adalah kewajiban desa untuk menyediakan tenaga Romusha (kerja paksa) untuk dikirim ketujuan yang tidak jelas (bahkan ada yang terdampar di Birma dan Thailand) dan biasanya jarang yang kembali. Dan yang menjadi “momok”yang menakutkan adalah kewajiban “setor” padi secara paksa untuk balatentara Dai Nippon. Teorinya hanya sepertiga dari masing2 kepemilikan padi, namun kenyataannya untuk “mencukupi target “ kecamatan, bisa naik menjadi setengah bahkan tiga-perempat. Orang-orang desa jadi panik. Persediaan padi para petani di kuras paksa dengan penggeledahan dari rumah ke rumah,lagi2 dipimpin oleh bangsa sendiri, camat/”soncho” yang kejam. Bila kedapatan seseorang menyembunyikan padi, padahal mengaku tidak punya, habislah nasibnya, ditempeleng didepan orang banyak dan digelandang ke kantor kecamatan, untung kalau tidak dituduh “mata-mata musuh”. Ini saya saksikan sendiri, menimpa nasib tetangga yang sungguh sial. Dengan tindakan “setor paksa” ini, desa kehabisan persediaan pangan dengan akibat banyak yang terserang busung lapar.
Di rumah kami sendiri Bapak memutar akal demi menyelamatkan periuk keluarga, maklum ada sembilan mulut anak-anak yang harus “di empanin”. Malam2 buta dengan dibantu oleh pembantu setia, “mengerek”(menaikkan) padi “gedeng demi gedeng” ke babrakan ruang joglo di atas yang disulap menjadi “lumbung darurat” dan Alhamdulillah kami lolos pada waktu penggledahan… . Di lumbung asli hanya disediakan padi “secukup”nya saja untuk kamuflase…. Dalam keadaan “kepepet” orang menemukan akal untuk mempertahankan hidup, sungguh ungkapan yang tepat untuk kasus ini. Saya kagum atas “akal-akalan” Bapak ini, semoga beliau damai di alam sana…
Tidak terasa waktu berjalan terus, saya naik klas V tahun ’42 itu juga dan pada waktu naik klas VI tahun ’43 saya pindah ke Kokumin Gakko Tegalmiring/Banyuurip ikut kakak yang mengajar disana, sampai tamat tahun ’44 dengan ijasah Kokumin Gakko, Sekolah Rakyat Jaman Jepang (contoh ijasah lihat gambar).

Berfoto setelah tamat Kokumin Gakko...

Berfoto setelah tamat Kokumin Gakko...

Kokumin Gakko berlangsung sepanjang pendudukan Jepang dari Maret 1942 sampai Agustus 1945, hanya tiga setengah tahun, namun dampaknya bagi dunia pendidikan sungguh luar biasa. Setidak-tidaknya bagi saya pribadi, ini adalah satu kurun waktu yang “ sangat menentukan”, karena dalam periode inilah “sekat-sekat dan tembok-tembok” sistem pendidikan kolonial Belanda yang tidak memungkinkan bagi anak desa untuk menikmati pendidikan yang layak, dijebol dan dibongkar habis oleh sistem pendidikan Jepang yang mengintrodusir demokratisasi dalam dunia pendidikan yang berlanjut dalam alam merdeka. Tidak pernah bermimpi, dialam kolonial, bahwa seorang anak desa dapat sempat memperoleh pendidikan setinggi yang kemudian saya peroleh bahkan sampai diluar negeri. Padahal harapan ibu saya waktu itu adalah sekedar “tamat Ongko Loro dan tinggal di desa sebagai orang desa mengelola bidang pertanian…”, masih terngiang kata-kata beliau sambil bercanda, “kalau kamu ke kota siapa yang tunggu rumah dan mengurus sawah?”
Semuanya berubah bersama kedatangan Jepang dengan Kokumin Gakko-nya, Sekolah Rakyat dalam arti sesungguhnya,karena memang berlaku untuk seluruh warga tanpa memandang latar belakangnya. Sejak saat itu pendidikan terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin maju. Inilah barangkali salah satu hikmah dari pendudukan Jepang, setidaknya bagi saya sebagai anak desa.

Slamet Wijadi.

Category: blog, Tags: | posted by:slamet wijadi


20 Responses to “MENGENANG “KOKUMIN GAKKO”. SEKOLAH RAKYAT JAMAN JEPANG”

  1. Purs says:

    Yth Pak Slamet,
    Tiga setengah tahun dijajah jepang, sektor pendidikan berobah total, menjadi tidak ada diskriminasi. Tetapi katanya di sektor ekonomi menjadi sangat parah, ini benarnya bagaimana Pak. Terima kasih.

  2. Mas Purs, terimakasih atas tanggapannya.Memang betul bahwa keadaan sektor ekonomi menjadi sangat parah, itu sudah saya gambarkan dengan kondisi masyarakat perdesaan dengan adanya kewajiban “setor paksa” padi yang mengakibatkan wabah kelaparan yang luar biasa, disamping “pengurasan” tenaga muda desa untuk Romusha dan latihan baris-berbaris, sehingga pekerjaan sawah jadi terlantar.
    Tujuan pokok Jepang merebut dan menduduki “Hindia Belada” adalah,jangka pendeknya,menjadikan kekayaan sumber alamnya,minyak,karet,timah dan produk pertaniannya untuk memenangkan perang Asia Timur Raya-nya. Jangka panjangnya, kalau menang, menjadikan bagian dari masyarakat Asia Timur Raya dibawah naungan Dai Nippon, inilah doktrin Hakko Ichiu yang saya sebut.Jadi wajar perekonomian Indonesia waktu itu harus mendukung Jepang untuk bisa menang, dan sebagai akibat ya yang kita lihat, menjadi “ancur-ancuran”. Sedang demokratisasi pendidikan itu juga bukan tujuan Jepang, maksudnya hanya untuk “menyederhanakan” pengawasan, namun kita mendapatkan “hikmahnya”. Ini seperti halnya Jepang “membebaskan” kita dari penjajahan Belanda, itu betul, tetapi tujuan Jepang ya untuk menjajah kita, kalau menang. Semuanya itu adalah hikmah dan itulah barangkali jalan kita untuk menjadi merdeka. Salam, sw.

  3. Sri Wahyuni says:

    Saya tertarik pada bangkitnya pendidikan saat itu Pak. Bagaimana pandangan Bapak tentang “sekat-sekat dan tembok-tembok” sistem pendidikan sekarang ini ? apa perlu dibangkitkan ulang seperti masa peralihan penjajahan belanda ke penjajahan jepang itu ?

  4. Terimakasih mbak Sri untuk tanggapan yang cukup menarik. Saya ingin tahu/contoh apa yang mbak maksudkan dengan sekat-sekat dan tembok-tembok sistem pedidikan sekarang sebelum saya mengemukakan pandangan saya. Barangkali teman2 blogger lain mempunyai pendapat/pandangan dalam hal ini. Salam, sw.

  5. nurrahman says:

    ijazahnya bacanya gmn itu yah, hehehe

  6. Mas Nur,ijazah ini adalah milik teman saya yang satu angkatan lulus kokumin gakko di Bandung, namanya Wahyu Anondo, tertulis jelas dengan huruf katakana, selebihnya yang dalam huruf kanji memang tidak dijelaskan karena murid kokumin gakko hanya diajari katakana, hiragana dan sedikit kanji yang sudah lupa, sehingga bagi lulusannya ya tinggal terima saja.Mungkin mbak Murni yang sedang research di Jepang bisa membantu.Salam, sw.

  7. pujo says:

    Seandainya sistem pendidikan Jepang tsb tetap terus diberlakukan, apakah mungkin bangsa Indonesia bisa sejajar dgn bangsa Jepang saat ini?
    Tidak setiap ganti Menteri harus ganti sistem lagi.
    Menurut Bapak bagaimana?
    Wassalam.sph.

  8. Mas Pujo, sistem pendidikan Jepang waktu itu adalah bagian dari tujuan Jepang yang lebih besar yaitu memenangkan perangnya dan ternyata Jepang kalah ya dengan sendirinya berhenti. Setelah Indonesia Merdeka, landasan pokok sistem pendidikan mestinya adalah Undang-Undang Dasar ’45 dan dasar negara Pancasila yang didalam Pembukaan ada kata-kata “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Bukan main indahnya. Soal pelaksanaannya nampaknya ya terserah masing2 Menteri dan dalam hal ini saya bukan ahlinya… salam, sw.

  9. Pak SW,
    Sebelum komentar tulisan Bpk, saya mau komentar photo Bapak waktu kecil, lha kog mirip anak Jepang ya? apa mungkin terpengaruh sekolah Jepangnnya?
    Beruntung saya bisa membaca tulisan Pak SW sehingga bisa menambah pengetahuan dan yg lebih beruntung lagi tanpa adanya perubahan yg tadi Bpk ceritakan tak mungkin saya bisa jadi sekretaris Bpk (tamatan sekolah ongko loro gak mungkin punya sekretaris kan?).Dulu orangtua saya kalo crita cuma ttg penjajahan Belanda dan Jepang juga waktu ngungsi dan ndelik di jugangan aja,jadi kemungkinannya nggak dpt sekolah yg layak karena ya itu tadi peraturan tidak memungkinkan rakyat jelata meneruskan sekolah sampai tinggi. Tapi Ibu saya sampai sekarang masih hafal banget lagu2 Belanda dan Jepang (walaupun tidak tau artinya). Kalo ketemu cucu dan cicitnya pasti lalu nyanyi Belanda dan Jepang rasanya Ibu bangga bisa nyanyi bhs asing. Salam.

  10. Terimakasih commentnya mbak Aries. Saya sendiri juga heran kalau lihat “foto-lucu” saya jaman Jepang itu,namun itulah nyatanya dan saya senang punya kenangan waktu itu.Saya ini,juga ibunya
    mbak Aries termasuk generasi yang beruntung karena bisa mengalami dan menyaksikan perobahan jaman yang luar biasa, jaman Belanda, Jepang dan Merdeka sampai sekarang. Saya juga merasa beruntung dilahirkan tepat saatnya, walaupun sebagai anak desa namun dengan adanya perobahan yang luar biasa itu bisa menikmati pendidikan yang sebelumnya memimpikan saja tidak bisa, ya karena memang tidak tahu bahwa ada dunia seperti itu. Tetapi itulah kehidupan, begitu banyak misteri yang akhirnya kita terima sebagai kekuasaan Tuhan YME, “Manungso mung sadermo nglakoni”. Dalam hal saya, saya hanya bisa mengucap syukur tiada habisnya bahwa jalan hidup saya ini spt apa yang saya lakoni sampai saat ini.Dan perobahan itu memang dimulai dengan datangnya Jepang yang disusul dengan jaman Merdeka. Btw, Pak Donny sudah menggabung di fb,perantaranya mbak Itje. Sudah sehat kembali? Salam, sw.

  11. Murni Ramli says:

    Pak Slamet,
    terima kasih tulisannya ttg kokumin gakkou, menambah wacana praktek pendidikan yg berlaku pada masa itu.
    Mengenai ijazahnya, sayang fotonya tidak bisa diperbesar, sehingga tulisannya kurang jelas terbaca. Tertulis dengan kanji kuno.
    Bagian paling kiri terbaca : Sotsugyou …syo (Sertifikat Lulus)
    Lalu nama si penerima
    Kemudian penjelasan bahwa nama yang tertulis di sebelah kanan, telah menyelesaikan pelajaran di Kokumin gakkou, dan selanjutnya saya tidak bisa baca dengan jelas.
    Mohon maaf.

  12. Mbak Murni, trims untuk penjelasan tentang ijazah kanji Kokumin Gakkou, ternyata kanji jaman pendudukan Jepang itu termasuk kanji kuno, namun yang penting bahwa itu memang betul2 ijazah Kokumin Gakkou. Memang aneh, yang menerima tanda lulus tidak bisa membaca tulisannya (kecuali namanya), tetapi itu kan jaman “istimewa”, makanya harus dilihat konteks-nya. Sekali lagi thanks, salam, sw.

  13. Mas Nurrahman, semoga penjelasan mbak Murni menjawab pertanyaan bagaimana “membaca”-nya. Tujuan pemasangan copy ijazah itu semata untuk melengkapi gambaran tentang suasana jaman yang terkait dengan sekolah rakyat jaman pendudukan Jepang.Salam, sw.

  14. Mas Nurrahman, semoga penjelasan mbak Murni diatas menjawab pertanyaan Mas Nur ttg “bagaimana membacanya”. Tujuan menampilkan copy ijazah itu semata untuk melengkapi gambaran dan suasana-jaman Sekolah Rakyat pada waktu pendudukan Jepang di Indonesia. Salam, sw.

  15. Hipnotis says:

    Postingannya menarik, salam kenal yach… :)

  16. nae_aquas says:

    Selamat pagi bapak, perkenalkan saya neli.. Saya mendapatkan alamat blog bapak dari dosen pembimbing sya. Beliau merekomendasikan saya untuk mengunjungi blog ini.Oh iya, Kebetulan saya tertarik sekali melakukan penelitian tentang pendidikan kedisiplinan masa Jepang di Purworejo. Kebetulan pula, tema ini rencananya akan saya angkat sebagai tesis saya. Mohon maaf, saya ingin bertanya kepada bapak. APakah bapak berkenan untuk saya wawancarai soal ini? dan apakah masih ada teman2 bapak yang dapat saya wawancarai pula..Mengingat oral history satu2nya cara yang paling ampuh untuk mengkaji soal pendidikan masa Jepang, karena sumber tertulisnya sangat terbatas di samping saya masih sangat sulit mengerti bahasa Jepang. hehehe… Mohon jawabannya.. terima kasih pak..

    • slamet wijadi says:

      Sdr. Neli, terimakasih untuk apresiasiasinya. Untuk “wawancara” silahkan saja kalau saya bisa berguna untuk membantu penulisan tesis Sdr. Silahkan menghubungi saya via e-mail untuk mengatur waktunya. Salam.

      • nae_aquas says:

        Selamat pagi pak, terima kasih sekali atas balasannya.. Baik pak, segera saya akan atur jadwal untuk wawancara dengan bapak… saya mohon bapak berkenan memberikan alamat email bapak, nanti saya secepatnya akan kirim email ke bapak.. terima kasih.. :)

  17. suwarto says:

    selamat pagi saudaraku dimana saja berada khususnya wong purworejo kami mohon maaf apabila selama ini ada kesalan dalam tulisan atau kata – kata yang tidak berkenan di hati kalian semua di blog pwr ini . kita akan menjalankan ibadah puasa bagi yang beragama islam kami mohon maaf yang sebesar – besarnya semoga kita bisa manjalankan ibadah puasa sebulan penuh,salam semua untuk wong purworejo.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Selamat Idul Fitri

9 - Oct - 2007 | meds | 3 Comments »

Google ngeDance, Blog Purworejo Hilang Dari Index

23 - May - 2008 | meds | 6 Comments »

Mengapa Kau tegur kami ?

10 - Sep - 2009 | purwanto agus | 2 Comments »

Selamat tahun baru 2014

29 - Dec - 2013 | Adi Degreen | 4 Comments »

Triwarno, Banyuurip, Purworejo

21 - Dec - 2010 | triwarno | 20 Comments »

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net