Purworejo tahun ’45-’49. Kenangan dan Nostalgia

  23 - Jul - 2009 -   slamet wijadi -   68 Comments »

Untuk Mas Imam Pratignyo: “pejuang sepanjang hayat” . Ini adalah sebuah kenangan tentang Purworejo tahun ’45-‘49, jaman revolusi; jaman perjuangan, beserta kisah2 lanjutannya yang terkait. Ini adalah kenangan pribadi tentang apa yang saya alami dan ingat.

Generasi saya yang lahir permulaan tahun ‘30-an kini sudah makin menyusut, berarti mereka yang mengalami tahun2 diatas-pun kini semakin langka, apalagi yang masih sempat bercerita dan menuliskan kisahnya di blogger . Mudah2-an teman2 saya satu angkatan yang masih ada “sempat” membaca tulisan ini, bahkan menuliskan di blogger dan memberikan tanggapannya sesuai dengan kenangan dan nostalgia mereka, atau siapa tahu anak-cucu mereka ada yang baca, kemudian menyampaikan kepada ayah/eyang mereka.

Bagi saya, disamping untuk mengenang peristiwa2 yang terjadi pada tahun2 itu, khususnya yang menyangkut pribadi saya dan pelaku2 sejarah yang saya kenal, juga sebagai kilas balik tentang suasana jaman waktu itu, dan sekaligus merupakan “asah otak” agar tidak cepat karatan… . Berikut adalah kisahnya.

Menjelang akhir tahun ’45 saya masuk Sekolah Rakyat Dua atau SR Widodo,terletak di belakang bioskop Bagelen. Saya duduk di klas VI, karena sesungguhnya saya sudah tamat “Kokumin Gakko” (SR Jepang) tahun ’45 di Tegalmiring, jadi sifatnya hanya mengulang. Saya bangga dapat diterima di SR ini karena terkenal sebagai sekolah yang bagus. Kepala sekolahnya Pak Lambertus Dirdjowijoto (?), seorang pendidik yang sangat mengesankan.

Pak Guru yang masih saya kenang adalah Pak Soemardi, pengajar bhs. Indonesia. Salah satu ungkapan yang sampai sekarang masih saya ingat adalah “seperti monyet diberi bunga”, maksudnya seperti memberikan sesuatu kpd seseorang yang tidak mungkin bisa menghargai…, nampaknya ini juga berlaku bila kita berkomunikasi dengan seseorang.

Teman2 saya di SR ada beberapa yang saya ingat, mis. Kartiko dari Sucen, Upoyo, Yitno Widodo, Setiawan, Marwoto, Samodro, Karel anak Manado yang tinggal di sebelah sekolah, Rahardjo Kecil dll., namun satu-pun sampai saat ini tidak ada yang ketahuan keberadaannya, walau diantara mereka ada beberapa yang bersama meneruskan ke SMP I. Kalaupun ketemu barangkali juga sudah lupa.

Saya tinggal di Suronegaran di belakang Kabupaten, nderek mbah Kartoredjo, adik embah saya, pensiunan mandor irigasi, orangnya pendiam namun berwibawa, bicara hanya seperlunya, untung mbah putri banyak “omong”nya jadi tidak terlalu kesepian. Jarak dari rumah kesekolah sangat dekat, jalan kaki sekitar 5 menit.

Ada seorang teman yang ikut mondok di tempat embah,namanya Sutarman dari daerah Kebumen, sudah duduk di kelas satu SMP. Dikemudian hari Sutarman beserta tiga orang anggota TP Kedu Selatan, disuatu dini hari, disergap oleh Pasukan Belanda dari Kutoarjo pada clash ke-2 di markas TP di desa Wareng, Butuh, dan bersama dua orang anggota perangkat desa yang tertangkap dan dituduh melindungi mereka kemudian dieksekusi dengan ditembak.

Oleh penduduk, kemudian seluruh jenasah dimakamkan di desa Wareng, dan kini menjadi makam pahlawan yang merupakan kebanggaan desa itu. Mas Roesmin yang satu seksi dengan Sutarman lolos dari sergapan karena sedang berada di luar desa, demikian juga Mas Wiyono(kmd.Kompi) dan Mas Imam Pratignyo(Wakilnya), yang “kebetulan” menginap di rumah lain. Dipelopori Mas Roesmin, dibangunlah sebuah taman makam pahlawan dengan halaman dan Pendopo untuk mengenang pengorbanan teman2 yang gugur dalam perjuangan kemerdekaan.

Didepan rumah Suronegaran, terpisah oleh halaman, mengalir kali/irigasi Kedungputri, yang menurut ceritanya di bangun oleh Bupati Purworejo pertama, Tjokronegoro . Kesan saya waktu itu airnya biru dan jernih , banyak orang dengan santai mandi dan mencuci di sepanjang tepinya. Malam hari terdengar jelas suara “grojokan”aliran air kali/pleret yang turun dari ketinggian.

Hiburan yang saya senangi adalah nonton film di bioskop Bagelen, umumnya film2 koboi hitam-putih yang sangat populer pada waktu itu. Di dalam gedung suasana ramai karena penonton ikut mengomentari pertunjukan yang sedang berlangsung dengan suara keras, bahkan bila terjadi “perkelaian” antara “rol”nya dan “bandit”, penonton ikut2an bersorak2 riuh rendah menjagokan rolnya layaknya menonton pertunjukan tinju. Bila tiba2 film terputus , maklum film kuno, penontonpun heboh/gaduh dan teriak2 sambil “misuh”. Namun yang paling “menyebalkan” adalah omong2 penonton “mendahului” jalan cerita. Rupanya banyak antara mereka yang sudah berkali-kali nonton dan bangga kalau bisa komentar mendahului adegan berikutnya… .

Tahun ’46 saya lulus dari SR yang kedua-kalinya, ikut ujian masuk SMP Negeri yang waktu itu baru ada satu di Pwr. Begitu banyak yang diterima dari SR Widodo ini, sehingga Pak Dirdjo sangat bangga dan berpesan “kamu sekalian adalah kebanggaan kami, bawalah nama harum SR Widodo disekolah barumu nanti”. Salam untuk putro-wayah beliau yang kebetulan membaca tulisan ini.

Mulailah saya jadi murid di SMP Negeri Purworejo. Tahun itu juga, mengingat animo masuk SMP begitu besar, dibukalah SMP baru dengan nama SMP Kabupaten yang kemudian berkembang menjadi SMP II, sedang SMP Negeri menjad SMP I, gedungnya juga masih terletak dalam satu kompleks di Pangen. Kepala sekolah SMP I waktu itu adalah Pak Soeparno,seorang sosok yang nampak angker-berwibawa, sedang SMP II kalau tidak salah Pak Moestakim.

Guru2 yang saya ingat, Pak Soekirman (kakek Deasy Arisandi, penyanyi era 70-an), Pak Sadjoeri, Pak Martono, Pak Yoenoes, Pak Yoesoef, Pak Moedjio,Pak Soebandi (selalu bawa “jerangkong”/kerangka manusia bila memberi pelajaran Ilmu Hayat) , Pak Salichin, Pak Kasidi , Pak Soetoko (guru sejarah, yang bila menceritakan jaman keemasan Majapahit membikin murid2 “ndomblong”), Pak Soewadji, Ibu Soeparti dll. Semuanya baik2. Pak Salichin mengajar sejarah dengan gayanya yang khas sambil berjalan2 dalam kelas. Dikemudian hari waktu saya bertugas ke Jayapura saya berkunjung ke beliau yang waktu itu kebetulan menjabat sebagai Ka Kanwil PDK Irian Barat, sekaligus mengenang masa2 di Pwr.

Dari Pak Sadjoeri yang mengajar bhs. Inggeris ada dua “proverbs” yang kemudian masuk dalam otak dan terbawa sampai sekarang, “Never put off till tomorrow what you can do today”,dan “Time and tide wait for no man”, ternyata ini adalah ajaran pokok disiplin dan penghargaan terhadap waktu. Sampai saat ini bila saya menunda-nunda mengerjakan sesuatu, selalu diingatkan oleh dua ungkapan itu.

Namun yang paling mengesankan diantara guru2 adalah Pak Kirman, guru bhs. Indonesia, orangnya “keras”dan “pemarah” namun “fair”, apakah karena beliau banyak makan daging. Kita tahu beliau punya toko daging di rumahnya di Pandekluwih.Suatu hari waktu beliau mengajar, saya ngobrol dengan Mbak Hindun Ashari (putri Haji Ashari Pwr sebelah barat alun2 yang terkenal cantik) yang duduk didepan saya. “Itu dua anak kalau nggak berenti omong akan saya ikat bersama didepan kelas…”, yang tentu saja bikin kami kaget dan pucat.

Sampai sekarang kalau saya bertemu dengan mbak Hindun (kini pemilik Toko Batik “Istana” di Malioboro, Jogya) masih ingat peristiwa itu dan ketawa senang mengenang jaman itu. MBak Hindun bilang,” Pak Kirman itu aneh, masa waktu ketemu dengan saya dikemudian hari kok beliau ‘boso-kromo’ dengan saya walau sudah saya ingatkan bhw saya bekas muridnya yang akan diikat di depan kelas…”. Semoga mbak Hindun membaca tulisan ini, dan mohon komentarnya…

Teman2 lain di SMP I yang masih terekam dalam ingatan saya disamping mbak Hindun tsb adalah Setiawan, Marwoto, Hadi Purnomo dan kakaknya Dwikestri, Sudarsono dan kakaknya Sudarmi, Ismudiyati, Wahyuni, Suparti (kemudian dipersunting oleh Pak Sadjoeri), dan Samodro.

Yang paling “mengesankan” diantara teman saya adalah Hadi Purnomo dari Plaosan, bukan karena pinternya, walaupun memang pinter, tapi “sepatunya” itu lho yang hitam sangat mengkilap, rasanya “ngiri” kalau ngelihat, padahal saya sendiri cuma bisa pakai sepatu rombeng/butut yang saya beli di pasar loak Baledono yang kalau dipakai terasa nggigit… Belakangan waktu saya sudah cukup mampu, saya “balas dendam” dengan membeli sepatu merek Bally yang terkenal itu… .

Ada seorang yang kebetulan bertemu karena urusan “bisnis”, Mas Sundoro, putra Dr. Soemeru yang rumahnya di sebelah pabrik limun Bagelen, sekarang tinggal di Jakarta dan beristri seorang Prof., dosen di Fakultas Kedokteran UI. Seperti saya dia juga sudah kehilangan jejak sebagian besar teman2.

Sejak masuk di SMP itu saya kemudian diajak oleh kakak saya pindah ke asrama pelajar di Kedungkebo dan disitulah saya bertemu dengan kakak2 angkatan yang belajar di SMP, a.l. Mas Imam Pratignyo, Mas Roesmin Nuryadin,( Mantan KSAU/Dubes/Menteri), Mas Wiyono , Mas Imam Subechi, mas Anton Sudjarwo (Mantan Kapolri), Mas Achadi (kemudian jadi menteri jaman Bung Karno dan sempat ‘menghuni’ penjara selama 12 tahun di jaman Orba), Mas Sudihardjo, Mas Buntaran, mbak Yani ( tinggal di sebelah asrama dan kemudian menjadi isteri/ teman perjuangan setia Mas Imam Pratignyo) yang beberapa diantaranya mempunyai andil besar dalam pembentukan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) cabang Purworejo.Didalam organisas IPI ini kemudian dibentuk Bagian Pertahanan yang berkembang menjadi Tentara Pelajar Kedu Selatan, Brigade 17.

Mas Imam Pratignyo adalah Ketua IPI Cabang Purworejo pertama yang kemudin menjadi IPI Kedu Selatan dimana dia tetap sebagai ketuanya sedangkan mas Wiyono yang semula memegang Bagian Pertahanan menjadi Komandan TP Kedu Selatan. Mas Pratignyo adalah Wk dan Ka Stafnya.

Teman2 lainnya di asrama sekitar 30-an orang, sudah tidak ketahuan jejaknya, sebagian besar saya dengar sudah mendahului kita. Semoga mendapat tempat yang lapang disisiNya.

Seorang teman se-asrama dan satu angkatan di SMP yang masih nampak sehat walafiat adalah Mas Istadi, asal desa Kalirejo yang kini bermukim menikmati hari-tuanya sebagai “kiyai” di Patutrejo Grabag, setelah “lengser keprabon” sebagai Kepala SMA Negeri Satu Pwr. Beliau hidup tenteram bersama ibu, menekuni ibadah. Di depan samping kanan rumah besar gaya Jawa tradisionil, terletak sebuah Mushola yng anggun di mana para santri menjalankan ibadahnya tentunya dipimpn oleh Pak “Kiyai Istadi” dengan jenggotnya yang panjang memutih berwibawa…

Beberapa teman se-asrama anggota Tentara Pelajar gugur dalam “Palagan Purwodadi” waktu clash II ,a.l. Mas Toewoeh dan mas Djawadi keduanya dari Sekolah Teknik Kedungkebo, kini beristirahat di Makam Pahlawan Pwr. Di depan Pasar Purwodadi, dihalaman ex. Kawedanan Purwodadi kini telah dibangun sebuah monumen untuk mengenang pengorbanan delapan orang teman2 yang gugur.

Dari Tentara Pelajar Kedu Selatan pimpinan Mas Wiyono ini, lebih dari 50 orang telah gugur dalam perjuangan kemerdekaan. Kini “sisa-sisa Laskar Pajang” (ex. TP Kedu Selatan ) bernaung dalam satu wadah Paguyuban dibawah “komandan” Imam Subechi dan mengadakan pertemuan berkala untuk menyambung tali silaturahmi. Biasanya, tempat bergiliran, yang paling sering di tempat Bu Roesmin, Bu Hardani/Pak Bustanil dan Bu Anton Sujarwo. Jumlah yang semula besar, dari tahun ke-tahun makin menyusut… ya memang alamiah. Sebagian dari teman2 yang menghadiri pertemuan datang dengan bantuan tongkat, dengan kursi roda atau bahkan di “papah”. “Badan boleh renta, semangat tetap bergelora…”. Mas Bechi dibantu oleh Bu Bechi, memimpin Paguyuban disela-sela bolak-baliknya mereka dirawat di RS, sungguh luar biasa…

Purworejo di tahun2 itu dipimpin oleh Bupati Moeritno, pindahan dari Kebumen, menggantikan Bupati “tinggalan Belanda” Hasan Danuningrat. Bpk. Moeritno adalah Bupati pertama jaman RI. Penampilan Pak Bupati ini cukup simpatik. Kalau tidak salah punya 2 putra-putri seangkatan saya, yang saya kenal (wajar) yang putri mbak Murlinah, anaknya manis dan sebagai putri Bupati tentunya menjadi “kembang lambe”para jejaka kemolo-kolo, tapi umumnya mereka cuma sebatas bisa “ngrasani” saja….., lha wong putri Bupati, jaman itu lagi… Yang “beruntung” menyunting “bunga Purworejo”itu kabarnya seorang Inspektur Polisi yang ngganteng… Maaf kalau salah.

Komandan tentara waktu itu ada dua, Let.Kol. Koen Kamdani sebagai komandan Resimen Kedu Selatan (pangkat Let.Kol. pada waktu itu cukup tinggi, mengingat Panglima Divisi hanya berpangkat Kolonel) dan Mayor Sroehardoyo, sebagai kmd. Batalyon, sedang kmd.CPM Mayor (?) Sutarto, kalau tidak salah ayah Jendr. Endriartono Sutarto, mantan Pang. Abri. Bertahun tahun kemudian secara tidak sengaja saya bertemu dengan Pak Sroe dilapangan golf Senayan, sudah pensiun dengan pangkat BrigJen. Kami ngobrol nostalgia Pwr jaman dulu.

Tanggal 21 Juli ’47, Belanda melancarkan “Aksi Polisonil” Pertama yang bagi kita adalah Agresi Pertama menuju Jogya, namun terhenti antara Gombong-Karanganyar. Purworejo menjadi garis depan menghadapi Belanda. Pada waktu itu murid2 SMP Gombong dan Kebumen pindah ke SMP Pwr dan tinggal di Asrama Pelajar Kedungkebo, a.l. Mas Roesmin Nuryadin.

Di kemudian hari ditahun 1965 kami berjumpa lagi di Moskow, sama-sama bertugas di KBRI, mas Roesmin sebagai Atase Angk. Udara dan saya selaku staf KBRI yang bertugas mengurusi mahasiswa Indonesia di Uni Soviet yang berjumlah lebih dari 500 orang. Pada beberapa kesempatan kita ngobrol nostalgia Pwr, tentang teman2 seperjuangan, tentang Asrama Pelajar yang bersejarah yang saat ini sudah tidak ada bekasnya. Diatasnya sudah berdiri bangunan kantor Polsek dan perumahan anggota Polri.

Secara kebetulan saya juga berjumpa dengan putri Pak Koen Kamdani (yang pada jamannya dikenal sebagi “macan” Kedu Selatan), yang meneruskan studi di Moskow, mbak Toemboe, kemudian (kabarnya) dipersunting Pak Rahardi Ramelan (ex.Ka Bulog).

Pada tahun ’48, berdasar “Perjanjian Renville” bulan Pebruari ’48, pasukan Siliwangi dari Jawa Barat “hijrah” ke Jawa Tengah. Purworejo “kebagian” tamu dari Jawa Barat ini, tidak tahu berapa jumlahnya, namun di jalan2 kota Pwr. menjadi pemandangan umum keberadaan pasukan Siliwangi ini yang terkesan lebih “dinamis” dalam gerakannya dengan senjata yang tersandang kemanapun mereka pergi.

Di sore dan malam hari mereka bergerombol ditempat-tempat keramaian seperti bioskop Bagelen dengan senjata yang selalu tersandang. Keberadaan mereka samasekali tidak menimbulkan “ketakutan”, bahkan sebaliknya terasa adanya suasana persaudaraan dan keakraban, terbukti selama mereka di Pwr tidak pernah ada berita tentang terjadinya “gesrekan” baik dengan penduduk setempat maupun dengan pasukan lokal. Dari kesan sepintas diperoleh gambaran bahwa pasukan Jawa Barat ini mempunyai disiplin yang tinggi dengan persenjataan yang cukup lengkap untuk ukuran waktu itu.

Kembali ke-kisah sebelumnya, ternyata hubungan saya dengan Mas Imam Pratignyo terus berlanjut, karena kami bersama-sama berkarier di Dept. Luar Negeri. Namun dengan dasar jiwa perjuangan yang tetap menyala, mas Pratignyo muncul dalam panggung Nasional sebagai penggagas Seminar Pancasila yang kemudian menarik perhatian Bung Karno, sehingga akhirnya diangkat sebagai Wk. Sekjen Front Nasional yang bersama dengan beberapa teman, membidani lahirnya Sek-Ber. Golkar yang berkembang menjadi Golongan Karya.

Kesetiaan Mas Pratignyo kpd ajaran Bung Karno tidak perlu diragukan, sehingga dengan terjadinya perubahan tahun ’65, beliau terkena imbasnya, dan bersama teman2 lainnya termasuk saya, kebanyakan bekas pelajar pejuang, mendapat gelar Drs.(“Di Rumah Saja”) dari Pimpinan Dept. Luar Negeri waktu itu, padahal saya tahu beliau sudah ditawari oleh Pimpinan Deplu sebelumnya sebagai Dubes untuk Australia, namun menolak dengan alasan akan berjuang di dalam negeri. Sungguh seorang pejuang sejati yang idealis, jujur dan “low profile”…

Walau akhirnya kami diundang untuk “mengabdi kembali” pulang ke Deplu, namun karier sudah terlanjur seret… . Mas Pratignyo kemudian “meminggirkan diri” , mendirikan “Paguyuban Keluarga ex. TP Kedu Selatan” sebagai wadah silaturahmi antar teman2 seperjuangan.Namun sejak saat itu nampaknya kesehatan Mas Pratig makin mundur dan tidak lama kemudian dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Setelah wafat Paguyuban kemudian dipimpin oleh Mas Bechi sampai sekarang.

Saya ingat, waktu beliau wafat diantar oleh teman2 seperjuangan dipimpin oleh Mas Roesmin sampai di TMP Kalibata. Seperti sudah diatur, tidak lama kemudian mas Roesmin juga menyusul, dimakamkan tidak jauh dari makam mas Pratignyo, sedang mas Wiyono yang meneruskan kariernya di Angkatan Darat dan mencapai pangkat BrigJen, sudah mendahului, gugur dalam satu kecelakaan pesawat helikopter waktu bertugas di Lampung.

Tiga serangkai pejuang dari Purworejo itu telah tenang beristirahat di tempat yang sama setelah selesai membaktikan diri mereka untuk kemerdekaan bangsanya. Semoga arwah mereka mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT.

Desember ’48 Belanda melancarkan Agresi Militer ke-2. Sebagaimana daerah-daerah lainnya, Purworejo juga menjadi daerah pendudukan Belanda yang berakhir menjelang pengakuan kedaulatan pada tanggal 27 Desember ’49.

Berakhirlah satu babak sejarah Purworejo , yang sekaligus juga mengakhiri kisah nostalgia dan kenangan pribadi ini.

Slamet Wijadi

Category: cerita,Nostalgia, Tags: | posted by:slamet wijadi


68 Responses to “Purworejo tahun ’45-’49. Kenangan dan Nostalgia”

  1. bambang S. nugroho says:

    hebat…pak slamet wijadi. Saya adalah putra bungsu pak Sadjoeri dan ibu Soeparti, dari enam bersaudara. Saya terharu dengan kenangan diatas, sayang papi sudah meninggal tgl 17 oktober 1988 dalam usia 70 tahun, kalau ibu masih ada dan tinggal di semarang, dan ibu kemarin tanggal 6 juli merayakan ulang tahun yang ke 80 tahun. Pak Slamet monggo kalau mau nilpon ibu. Proficiat pak Slamet

    • Mas Bambang, trimakasih untuk tanggapannya. Pertama saya ingin mengucapkan “Happy Birthday”, sugeng tanggap warso yang ke-80 untuk mbak Soeparti,ya Ibu Sadjuri; panjang yuswo dan bahagia dengan putro-wayah-buyut… Saya senang bahwa tulisan saya telah terbaca oleh mas Bambang dan itu memang harapan saya, sekarang sejarah masa lalu sudah terhubung lagi… Mbak Soeparti itu satu angkatan dengan saya, beda klas saja. Waktu dipersunting Pak Sadjuri semua “terperangah”, wah la kok hebat banget, padahal Pak Sadjuri lama sekali membujangnya lho, akhirnya “jatuh” juga dengan mbak Parti. Waktu melahirkan putranya yang pertama, permulaan tahun 50-an, saya sowan ke dalemnya sebelah barat SMP dulu, malah sempat saya ambil fotonya, mbak Parti baru nggendong sikecil/bayi. Foto itu mungkin masih saya simpan di album kuno saya…
      Waktu di Semarang saya pernah sowan Pak Sadjuri di Sekolahan, sekitar akhir tahun 50-an. Beliau kan satu daerah dengan saya, dari Purwosari, saya juga kenal dengan mas Sutrisno dari Meteorologi. Saya sendiri dari barat Purwodadi, jadi kadang kalau pulang bersamaan.
      Kalau kebetulan ke Semarang saya ingin mampir untuk silaturahmi dengan Bu Sadjuri. Teman2 satu angkatan sudah hampir habis. Sebaliknya kalau tindak Jkt, silahkan kampir ke rumah saya, nomor Hp saya: 08164843496. Apakah Bu Sadjuri masih bisa tindak Jkt? Salah satu teman yang sekarang masih ada adalah mbak Hindun Ashari, kini di Jogja, pemilik toko bathik Istana, Malioboro.
      Cukup sekian dulu, dan sekali lagi trimakasih pada mas Bambang yang telah menyambung tali silaturahmi, salam juga katur Bu Sadjuri dan keluarga. Salam, Sw.

  2. bambang S. nugroho says:

    Salam hormat setinggi-tingginya buat bapak Slamet Wijadi. Saya bangga masih ada murid-murid papi yang mengenang almarhum. Untuk informasi adik papi sekarang tinggal satu, bulik Sri tinggal di Semarang. Om Tris, om Kemi, om Giri, om Yastio sudah meninggal sekian tahun yang lalu karena usia sepuh. Waktu papi masih ada, saya pernah diajak ketemu bpk Rusmin, bpk Anton Sudjarwo dan lain2 sewaktu reuni SMP Purworejo di Jakarta, tapi saya lupa tahunnya, maklum saya cuma mengantar saja. Kebetulan ibu rencana ke bandung dalam waktu dekat ini, nantinya akan saya ajak ke Jakarta untuk sowan pak slamet. Kalau diijinkan saya nyuwun foto2 papi sewaktu masih di Purworejo dulu yang masih bapak simpan. 2 minggu yang lalu saya ke Purworejo, sengaja menginap di hotel Bagelen, sayang kurang terawat. Saya hanya duduk-duduk saja di teras hotel sambil mengenang papi, maaf agak sentimentil. Oya, setiap tahun saya selalu nyekar simbah2 di jenar, rumah jenar yang dulu masih ada, tetapi sudah di renovasi sama om Tris. Di keluarga kami, anak cucu mbah jenar ada tradisi siapapun yang mau nikah selalu harus nyekar ke makam mbah jenar, tradisi ini tidak tertulis tetapi tidak ada yang berani melanggar. Papi sendiri dimakamkan di Bergota Semarang. Semoga Bapak Slamet Wijadi tetap sehat dan diberi keberkahan yang melimpah.

    • Mas Bambang,foto yang ada pada saya cuma satu, memang saya hanya mengambil satu kali dengan kodak ukuran 6X6, jadi ya kecil, tapi masih nampak jelas, tercatat tanggalnya 20-9-’50, sdh hampir 60 tahun yl. Kapan2 saya minta anak saya untuk di scan agar bisa dikirim via e-mail.
      Tradisi yang baik, nyekar leluhur setidaknya setahun sekali agar tidak lupa pada akarnya. Kami juga punya rumah tinggalan yang telah kami renovasi di desa, setiap bosan di Jkt kami “pulang” kampung dan tinggal sekrasannya, kadang sampai sebulan. Waktu Lebaran kami kumpul di rumah pusaka itu dan menikmati suasana lebaran kampung, anak-cucu kami menyenangi “ritual” tsb. dan selalu menanti-nati datangnya lebaran…
      Setiap setahun sekali kami kumpul di rumah Bu Roesmin, biasanya bulan Agustus, kali ini kami akan kumpul sebelum puasa. Sedang tempatnya Bu Anton mendapat giliran setiap akhir tahun. Setiap satu-dua bulan sekali kita giliran menerima, jumlahnya nggak banyak sekitar 30-an, itupun sebagaian besar ibu2 janda. Memang generasi SMP Purworejo makin habis, yang ada tinggal sisanya, dan kami ini bersyukur dari sedikit yang tersisa itu.
      Sekian dulu salam untuk bu Sadjuri dan keluarga, Sw.

  3. anna says:

    Assalamualaikum Wr wb Salam hormat buat Bpk Slamet Wijadi,sy bangga dan salut terhadap Bapak yang bisa mmenjembatani silahturahmi yg bertahun-tahun terputus.Pak,saya adalah putri dari Ibu yg bernama Rr.Soetijati yg berasal dr desa Loano dan putri dari Bpk.R.Soeparman,yg mrpkan anggota KNIL.Bapak bercerita mengenai Bpk Soendoro dan ada adiknya yg bernama Bpk Irwan (klu tidak salah,sy agak lupa jelasnya.Dan ibu sy malah akrab dgn adiknya Bpk.Sundoro ini)yg putranya Bpk.dr.semeru yg rumahnya dkt pabrik limun.Hubungannya dgn ibu sy ktnya msh ada hubungan kerabat dimana ibu sy dulu pernah dititipkan sewaktu kecil oleh simbah sy Bpk.R.Soeparman dan sewaktu kami pulang ke Pwr,diajaklah sy kealamat itu,tp rumah itu sepi.Ibu sy sepertinya ingin bisa bertemu kembali.Yang sy tanyakan apakah Bpk tahu alamat dari putranya Bpk.dr Semeru itu? Ibu sy alhamdulilah msh sehat dan skrg berumur 74 tahun. InsyaAllah jika dipanjangkan umur jika sy pulang ke Pwr sy akan sowan ke rumah Bpk bersama Ibu sy.Sebelumnya kami sekeluarga mengucapkan banyak terima kasih Wassallamualaikum WrWb

    • slametwijadi says:

      mBak Anna, trimakasih untuk tanggapannya. Saya senang tulisan saya bisa “menjembatani” silaturahmi yang bertahun2 terputus, dalam hal ini dengan kel. Mas Sundoro/Dr.Semeru. Sudah agak lama saya tidak menghubungi lagi mas Sundoro, namun saya masih punya nomer telpun dan alamat rumahnya yaitu di kompleks dosen UI Rawamangun, isteringa seorang Profesor yang masih aktip mengajar dan sering tampil di TV. Kalau diperlukan saya kirimkan nomer telpunnya. mBak Anna tinggal dimana? Saya dan keluarga tinggal di Jakarta dan kalau kebetulan ada di Jkt silahkan mampir, nomer telpun saya 08164348496. Cukup sekian dulu nanti bisa disambung. Salam. Sw.

  4. anna says:

    Assalamualaikum Wr Wb Alhamdulillah kabar dr Bpk sgt menggembirakan sy,terutama Ibu.Sy sendiri tinggal di sidoarjo jatim.Terima kasih banyak buat Bpk atas segala bantuannya jika nanti sy ke j

    • slametwijadi says:

      mBak Anna silahkan menghubungi saya via telpun kalau berada di Jakarta, nanti kita sambungkan hubungan dengan kel.Mas Sundoro, semoga nomer telpunnya belum berobah. Terakhir saya menghubungi sewaktu beliau kehilangan putranya yang meninggal, usianya baru 40 tahunan. Salam juga untuk ibu, Sw.

  5. NANANG AGUS GUTOMO says:

    terima kasih kepada para sesepuh pejuang, informasi tentang pergerakan perjuangan kemerdekaan sangat kami butuhkan. trima kasih. bisa menghubingi kami slanjutnya untuk perkenan memberikan cerita atau sebagai nara sumber

    • slametwijadi says:

      Hampir setiap bulan kami mengadakan pertemuan kekeluargaan antara para teman2 seperjuangan dulu yang jumlahnya makin menipis sekedar untuk berbagi rasa dalam “menikmati” dan mensyukuri sisa2 hidup kami, kalau mas Nanang ingin berkenalan dengan mereka, silahkan datang, nanti saya undang. Salam, Sw.

  6. Raf says:

    Pak Wiek,
    apa kabar? sehat dan sukses selalu? amiien!!!… kami menunggu tulisan sejarah Pak Wiek berikutnya …mudah2an segera terbit..

    Salam,
    Raf

    • slametwijadi says:

      Mas Raf, trims untuk apresiasinya. Akhir2 ini blogger Pwr tambah semarak dengan munculnya tulisan2 dari para kontributor baru dan itu sungguh menyenangkan, krn tujuan blogger kan sebagai forum untuk berbagi cerita khususnya bagi para kawula dari Pwr, karena itu saya memang sengaja “istirahat” agar yang lain2 sempat untuk tampil yang ternyata memang cukup bagus dan sangat informatip. Saya alhamdulillah tetap sehat, nanti pada saatnya tulisan saya Insya Allah akan muncul, sementara itu salam hangat dulu. Sw.

  7. anna says:

    Assalamualaikum Wr.wb Bapak Slamet apa kabarnya?tidak terasa tahun sudah berganti, selamat tahun baru ya Pak?Semoga bapak dikaruniai kesehatan yg tiada putusnya.Amin.Maaf ya pak saya belum sempat menghubungi bapak,karena sesuatu hal.Keadaan Ibu saya alhamdulilah sehat,salam dari ibu.Wassallamualaikum WrWb

    • slametwijadi says:

      Mbak Anna trimakasih untuk ucapan/doa tahun baru, semoga Tuhan selalu memberkahi kita dalam memasuki tahun baru ini dengan kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan. Saya sdh bicara lama dgn mas Sundoro tentang ibu dan dia dengan senang hati untuk menyambung kembali tali silaturahmi yang sementara ini terputus. Silahkan hubungi saya bila ibu akan ke Jkt. nanti kita atur pertemuan dengan mas Sundoro, semoga hal tsb bisa terlaksana. Wassalam, Sw.

  8. ardian says:

    Asslmkm Warohamah Pak Slamet,saya dari gresik kehilangan kontak(kepaten obor) dengan sanak family di daerah purworejo,kebumen dan sekitarnya.kakek saya bernama Mas Soemarto yang hijrah ke mataram,lombok NTB dan beliau dimakamkan di sana.mungkin panjenengan punya informasi tentang keluarga dari silsilah beliau? ada saudara yang mengatakan kalau eyang ada hubungan trah dari ibu Any Yudhoyono & Pak Anton Soedjarwo.Mater nuwun…Barokallohu…

    • slamet wijadi says:

      Mas Ardian, trimakasih sdh mampir di posting saya. Namun maaf saya tidak mempunyai informasi sebagaimana yang ditanyakan. Kalau mas Ardian ingin “menelisik” lebih lanjut melalui keluarga Pak Anton Soedjarwo mungkin saya bisa membantu untuk menghubungkan karena kebetulan saya kenal baik dengan Ibu Anton. Saran saya agar mas Ardian mengumpulkan data2 yang ada yang saat ini dimiliki sehingga bisa membantu untuk langkah-langkah lebih lanjut. Mengenai hubungan dgn Ibu Any Yudhoyono, apa yang saya tahu adalah memang betul beliau berasal dari Purworejo sebagai putri Pak Sarwo Eddhy dan kalau betul kakek berasal dari Purworejo harus ada data yang lebih lengkap, kalau tidak ya sulit untuk melacak. Demikian sekedar komen saya, salam.

  9. Carla Blei says:

    Salam hormat pak. Slamet, salam kenal dari saya, setelah membaca kenangannya pa slamet, saya cukup bangga krn memori bapak sangat bagus untuk liku-liku perjalanan hidup dan perjlanan berdirinya sebuah bangsa.
    dari marga saya dapat di pastikan bahwa saya adalah turunan indo ( belanda ) tapi nenek buyut saya asli Purworejo, dan ayah saya lahir di purworejo, oma buyut saya ( oma Dumpo ) adalah anak lurah Sucen, purworejo saat itu.
    Dan membaca tulisan pa Slamet tentang sahabat2 zaman itu, terutama yang bernama : Marwoto, saya ingin bertanya: apakah yang dimaksud Marwoto ini adalah yg pernah bekerja dan pensiun pada PT Timah di jakarta?
    demikian sedikit perkenalan kami dan kami berharap bapak selalu di beri umur yang panjang dan kesehatan yang baikan dari Tuhan Yang Maha Esa

    Salam dan hormat

  10. slamet wijadi says:

    Trimakasih Pak/mBak(?) Carla Blei, sudah memberikan apresiasi thd tulisan saya. “Kenangan” itu saya tulis sebagai latihan otak untuk menghindari kepikunan, karena pengaruh usia. Alhamdulillah,memori saya masih cukup “lumayan”, sekaligus juga ingin mencatat apa yang saya ingat pada jaman itu.Semoga berguna bagi pembaca kelak.
    Tertarik membaca “asal-usul” anda dengan akar dari desa Sucen Pwr.Apa sekarang masih ada “kerabat” yang dikenal dari desa itu, dan sekarang tinggal dimana? Saya mengenal desa Sucen bahkan ada ponakan mantu yang asal dari desa dan punya rumah disitu. Mengenai Marwoto, saya kira bukan orang yang sama, karena dia bukan dari Sucen. Teman saya dari desa itu adalah Kartiko,entah dimana karena sudah 70 tahun lewat, demikian sekedar tanggapan dari saya, dan sekali lagi trims, salam.

  11. Carla Blei says:

    Makasih Pa Slamet…saya dari kecil tinggal di Papua, ayah saya ( Jopi Blei )sejak tahun 1969 ayah saya dah mengabdi di Jayapura, Papua. saat ini saya menetap di Jayapura mengikuti suami yg org Papua.
    Saya sampai saat ini tdk mengenal kerabat kami di Sucen, tetapi menurut ceritra ayah saat mash hidup, bahwa kerabat mash ada disana karena Oma dr Ayah ( oma Doempo )adalah keturunan Lurah di sana, inilah silsilah keluarga Blei :

    Wilhelmus Blei x Sarinah ( wanita Jawa ) = Hendrik Jacobus Blei x Doempo = Johanes Blei, Arnold Blei, Theo Blei, Albertine Blei, Albert Blei, Ariman Blei
    Johanes Blei x Marie johanna Van Kelegom = Johanes ( Jopi ) Clemens Blei ( ayah saya )
    ayah saya lahir tahun 1942 dan oleh karena jepang datang dia di tinggal Ayahnya karena bersembunyi ke perkebunan Sawit Sumatera, saat itu adalah berpangkat Sersan KNIL
    Tahun 1956, oma Doempo beserta anak2nya yg lain pergi ( pulang )ke Belanda, karena memilih menjadi warga negara Belanda, selain itu suaminya ( opa Hendrik Jacobus Blei di kabarkan telah meninggal dalam kapal cargo Jepang ” junyo Maru ” ( Tragedi Muko-Muko Junyo Maru ).

    Makasih Pa Slamet…saya dari kecil tinggal di Papua, ayah saya ( Jopi Blei )sejak tahun 1969 ayah saya dah mengabdi di Jayapura, Papua. saat ini saya menetap di Jayapura mengikuti suami yg org Papua.
    Saya sampai saat ini tdk mengenal kerabat kami di Sucen, tetapi menurut ceritra ayah saat mash hidup, bahwa kerabat mash ada disana karena Oma dr Ayah ( oma Doempo )adalah keturunan Lurah di sana, inilah silsilah keluarga Blei :

    Wilhelmus Blei x Sarinah ( wanita Jawa ) = Hendrik Jacobus Blei x Doempo = Johanes Blei, Arnold Blei, Theo Blei, Albertine Blei, Albert Blei, Ariman Blei
    Johanes Blei x Marie johanna Van Kelegom = Johanes ( Jopi ) Clemens Blei ( ayah saya )
    ayah saya lahir tahun 1942 dan oleh karena jepang datang dia di tinggal Ayahnya karena bersembunyi ke perkebunan Sawit Sumatera, yang saat itu berpangkat Sersan KNIL
    Tahun 1956, oma Doempo beserta anak2nya yg lain pergi ( pulang )ke Belanda, karena memilih menjadi warga negara Belanda, selain itu suaminya ( opa Hendrik Jacobus Blei di kabarkan telah meninggal dalam kapal cargo Jepang ” junyo Maru ” ( Tragedi Muko-Muko Junyo Maru). Ayah saya tidak ikut ke Belanda karena sejak Opa saya pergi ke sumatera, dia hilang kontak dengan ayahnya dan hingga dewasa di pelihara oleh Mamanya, yang telah menikah lagi dengan Kerabat Keraton Jogja ( Atmopustoko )

    Pa Selamet yang baik.. saya juga ingin informasikan bahwa saat ini saya sedang berada di Jakarta bersama suami dan anak-anak, kami sedang berlibur ke rumah mama, dan andai tidak ada halangan kami akan mengunjungi Sucen untuk sekedar napak tilas leluhur kami di sana…
    demikian sedikit kisah keluarga kami di purworejo…dan kami sangat berterima kasih atas tanggapan bapak..semoga Tuhan selalu memberikan Hikmat-Nya kepada Bapak…

  12. slamet wijadi says:

    Mbak Carla, jalan hidup manusia, termasuk kapan dan oleh siapa dilahirkan memang menjadi rahasia Tuhan. Kisah hidup mbak Carla adalah contoh yang tepat sebagai bukti ungkapan tsb. Sungguh berliku dan menarik sehingga bisa ditulis dalam bentuk kisah yang dibukukan. Saya juga kagum bahwa mbak Carla masih ingin untuk napak tilas asal-usul para leluhur dari Sucen, Purworejo. Semoga bisa sukses untuk mengungkap akar asal-muasal leluhur dan keluarga Oma Buyut. Ayah mbak Carla sungguh bijaksana untuk menceritakan sejarah para leluhur sehingga mbak bisa begitu runtut menceritakan kisah masa lampau, jarang yang demikian itu. Dan beruntunglah bagi siapa saja yang bisa melacak asal-usul para leluhurnya, sehingga dia tidak akan kehilangan jatidirinya. Saya jadi teringat seorang Kulit Hitam Amerika yang melacak asal-usulnya dari Afrika dan kemudian menuliskan dalam buku dengan judul “The Roots” yang jadi terkenal di Amerika.
    Tahun ’70-an saya sering ke Jayapura sewaktu ada proyek Freeport, jadi sedikit banyak saya kenal Jayapura. Di Jakarta berapa lama? Saya tinggal di Jakarta dan kalau sempat silahkan mampir, nomor HP saya 0816-48-43-496. Kami tinggal bersama isteri, anak2 kami sudah berkeluarga dan tinggal di rumah masing2. Selamat berlibur dan salam. Sw.

  13. Yudi istannto says:

    assslamualaikum,wr.wb. salam kenal pak slamet saya dari Jakarta,saya seorang mahasiswa sejarah dan sekarang saya lagi proses karya ilmiah akhir, setelah membaca tulisan pak slamet saya tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang tentara pelajar dari puworejo,karena itu menyangkut dengan karya tulis saya,bisakah saya minta nomer kontak pak slamet untuk berbincang-bincang soal ini.
    dan satu hal lagi yang ingin saya tanyakan? sebenarnya tentara pelajar di kedu selatan itu terpisah berdasarkan daerahnya, misalnya daerah purworejo itu tentara pelajar purworejo atau malahan jadi satu nama dengan sebutan tentara pelajar kedu selatan,mohon di jawab, terima kasih

    • slamet wijadi says:

      Trimakasih untuk komennya. Kalau sedang menyelesaikan karya ilmiah akhir tentang TP Kedu Selatan, silahkan kontak dengan Mas Imam Soebechi selaku Ketua Paguyban TP Kedu Selatan dengan nomer Telpon : 021-7992546. Katakan bahwa anda dapat nomer telpon ini dari Pak Slamet Wijadi yang menyarankan untuk menghubungi beliau. Salam.

      • yudi istanto says:

        assalamualaikum,,,
        pak wijadi,tahu informasi tentang pak Imam Pratignyo dan pak wijono??mksdnya biografi beliau”, kalau ada mohon minta bantuannya

        • slamet wijadi says:

          Mas Istanto, silahkan hubungi Pak Imam Subechi nomer telpun 021-799-25-46. Semoga dapat dibantu. Salam.

          • yudi istanto says:

            sudah pak tapi tidak ada informasinya, kalau di purworejo pak Imam punya kerabat tidak dan pak wijono?kalo ada saya mohon informasinya??

          • slamet wijadi says:

            Setahu saya Pak Imam tidak punya kerabat di Pwr. Skr. putranya ada yang tinggal di daerah Kebagusan, ttp alamat jelas saya kurang tahu. Ibu Imam sdh wafat demikian Ibu Wijono, keluarga tinggal didaerah Cipinang. Maaf tidak dapat membantu. Salam.

          • yudi istanto says:

            bisa tidak bapak menceritakan tentang pak imam pratignyo pas bapak masih satu sekolah sampai beliau meninggal

  14. Yudi istannto says:

    terima kasih pak slamet wijadi atas informasinya

  15. Priambodo Pratignyo says:

    Assalamualaikum Wr.Wb
    Eyang Slamet Wijadi saya cucu dari Eyang Imam Pratignyo, anak dari putranya yang ke-2 Bapak Priyotomo Pratignyo yang biasa di panggil Lolo.
    Saya baru baca blog ini, saya senang sekali mendengar cerita eyang di masa perjuangan dahulu, banyak pelajaran yang bisa saya ambil hikmahnya. Semoga Eyang sehat selalu, Terima Kasih.
    Wassalamualaikum Wr.Wb

  16. anna.sm says:

    Assalamualaikum wrwb.semoga Allah masih tetap memberi kesehatan buat bapak ya..Sdh lama rasanya tdk berkirim kbr pd bpk.kabar kami saat ini adalah ujian dr Allah krn ibu terkena struk dan msh dlm tahap terapi.mohon doanya ya pak ibu bs sembuh kembali dan bs menyambung silahturahmi dgn bpk dan bpk.sundoro.kalau boleh sy bs minta no.BB nya? Insya Allah tahun depan sy sekeluarga akan pindah ke purworejo pak,buat merwat orangtua dan menunggu rumah disana.Sy tinggal di jln.urip sumoharjo kakek sy namanya R.Mardanoes Danuprawiro(orangtua bapak sy) juga seorang pejuang.Barangkali bpk pernah dengar? demikian pak, semoga Allah memberi kesehatan dan umur panjang buat bpk yg telah byk membantu generasi kami untuk menyambung silahturahmi.

    • slamet wijadi says:

      Assalamuaikum Wr. Wb. Trimakasih mbak Anna untuk komennya. Saya masih tetap sehat untuk orang tua seumuran saya, Alhamdulillah. Saya ikut prihatin atas kondisi Ibu anda, semoga terapinya berhasil dan Ibu dapat pulih kembali kesehatannya. Saya juga ingin menyampaikan bahwa Pak Sundoro sudah sejak beberapa waktu lalu juga terserang stroke dan sekarang dalam keadaan kurang sadar, sungguh saya merasa ikut sedih, teman2 saya dimana saya bisa berkomunikasi untuk satu angkatan makin tipis saja. Terakhir saya bicara via telpun dengan Ibu Sundoro yang menceritakan kondisi mas Sundoro. Saya senang mabak Anna akan pulang ke Purworejo sehingga bisa memberikan perhatian yang lebih baik unutk Ibunda, kapan lagi kalau bukan saat ini. Saya kurang mengenal Bpk. Mardanus, mungkin tempat/lokasi kegiatannya dulu agak terpisah, apakah sekarang masih sugeng? Saya juga senang bahwa tulisan saya yang sudah lama dimuat di Blogger masih mengundang komen. Saya masih ingin terus menulis semoga penyakit malas tidak menghalangi niat tersebut. Terimakasih tulisan saya telah banyak membantu generasi mbak Anna untuk bersilaturahmi, memang demikian itu maksudnya. Wassalam, Sw.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net