Purworejo tahun ’45-’49. Kenangan dan Nostalgia
23rd July 2009 | By: slamet wijadi
Untuk Mas Imam Pratignyo: “pejuang sepanjang hayat” . Ini adalah sebuah kenangan tentang Purworejo tahun ’45-‘49, jaman revolusi; jaman perjuangan, beserta kisah2 lanjutannya yang terkait. Ini adalah kenangan pribadi tentang apa yang saya alami dan ingat.
Generasi saya yang lahir permulaan tahun ‘30-an kini sudah makin menyusut, berarti mereka yang mengalami tahun2 diatas-pun kini semakin langka, apalagi yang masih sempat bercerita dan menuliskan kisahnya di blogger . Mudah2-an teman2 saya satu angkatan yang masih ada “sempat” membaca tulisan ini, bahkan menuliskan di blogger dan memberikan tanggapannya sesuai dengan kenangan dan nostalgia mereka, atau siapa tahu anak-cucu mereka ada yang baca, kemudian menyampaikan kepada ayah/eyang mereka.
Bagi saya, disamping untuk mengenang peristiwa2 yang terjadi pada tahun2 itu, khususnya yang menyangkut pribadi saya dan pelaku2 sejarah yang saya kenal, juga sebagai kilas balik tentang suasana jaman waktu itu, dan sekaligus merupakan “asah otak” agar tidak cepat karatan… . Berikut adalah kisahnya.
Menjelang akhir tahun ’45 saya masuk Sekolah Rakyat Dua atau SR Widodo,terletak di belakang bioskop Bagelen. Saya duduk di klas VI, karena sesungguhnya saya sudah tamat “Kokumin Gakko” (SR Jepang) tahun ’45 di Tegalmiring, jadi sifatnya hanya mengulang. Saya bangga dapat diterima di SR ini karena terkenal sebagai sekolah yang bagus. Kepala sekolahnya Pak Lambertus Dirdjowijoto (?), seorang pendidik yang sangat mengesankan.
Pak Guru yang masih saya kenang adalah Pak Soemardi, pengajar bhs. Indonesia. Salah satu ungkapan yang sampai sekarang masih saya ingat adalah “seperti monyet diberi bunga”, maksudnya seperti memberikan sesuatu kpd seseorang yang tidak mungkin bisa menghargai…, nampaknya ini juga berlaku bila kita berkomunikasi dengan seseorang.
- gugur dalam perjuangan membela kemerdekaan bangsanya…
- Mas Istadi (tengah), “lengser keprabon madeg pandito (kiyai)”…
- Mas Achadi (baju putih), mantan menteri/loyalis Bung Karno. “Menghuni” penjara 12 th selama orde baru krn keyakinan. Sebelah kanannya, Mas Imam Subechi, Ketua Paguyuban.
- Mas Imam Pratignyo, mbak Yani dan putrinya berkunjung ke rumah.”Perjuangan sepanjang hayat dan Cinta sepanjang perjuangan….”
- Mas Imam Pratignyo, mbak Yani dan putrinya berkunjung ke rumah.”Pejuang sepanjang hayat dan Cinta sepanjang perjuangan… .”
- Monumen Purwodadi: Mengenang delapan anggota TP yang gugur di Palagan Purwodadi…
Teman2 saya di SR ada beberapa yang saya ingat, mis. Kartiko dari Sucen, Upoyo, Yitno Widodo, Setiawan, Marwoto, Samodro, Karel anak Manado yang tinggal di sebelah sekolah, Rahardjo Kecil dll., namun satu-pun sampai saat ini tidak ada yang ketahuan keberadaannya, walau diantara mereka ada beberapa yang bersama meneruskan ke SMP I. Kalaupun ketemu barangkali juga sudah lupa.
Saya tinggal di Suronegaran di belakang Kabupaten, nderek mbah Kartoredjo, adik embah saya, pensiunan mandor irigasi, orangnya pendiam namun berwibawa, bicara hanya seperlunya, untung mbah putri banyak “omong”nya jadi tidak terlalu kesepian. Jarak dari rumah kesekolah sangat dekat, jalan kaki sekitar 5 menit.
Ada seorang teman yang ikut mondok di tempat embah,namanya Sutarman dari daerah Kebumen, sudah duduk di kelas satu SMP. Dikemudian hari Sutarman beserta tiga orang anggota TP Kedu Selatan, disuatu dini hari, disergap oleh Pasukan Belanda dari Kutoarjo pada clash ke-2 di markas TP di desa Wareng, Butuh, dan bersama dua orang anggota perangkat desa yang tertangkap dan dituduh melindungi mereka kemudian dieksekusi dengan ditembak.
Oleh penduduk, kemudian seluruh jenasah dimakamkan di desa Wareng, dan kini menjadi makam pahlawan yang merupakan kebanggaan desa itu. Mas Roesmin yang satu seksi dengan Sutarman lolos dari sergapan karena sedang berada di luar desa, demikian juga Mas Wiyono(kmd.Kompi) dan Mas Imam Pratignyo(Wakilnya), yang “kebetulan” menginap di rumah lain. Dipelopori Mas Roesmin, dibangunlah sebuah taman makam pahlawan dengan halaman dan Pendopo untuk mengenang pengorbanan teman2 yang gugur dalam perjuangan kemerdekaan.
Didepan rumah Suronegaran, terpisah oleh halaman, mengalir kali/irigasi Kedungputri, yang menurut ceritanya di bangun oleh Bupati Purworejo pertama, Tjokronegoro . Kesan saya waktu itu airnya biru dan jernih , banyak orang dengan santai mandi dan mencuci di sepanjang tepinya. Malam hari terdengar jelas suara “grojokan”aliran air kali/pleret yang turun dari ketinggian.
Hiburan yang saya senangi adalah nonton film di bioskop Bagelen, umumnya film2 koboi hitam-putih yang sangat populer pada waktu itu. Di dalam gedung suasana ramai karena penonton ikut mengomentari pertunjukan yang sedang berlangsung dengan suara keras, bahkan bila terjadi “perkelaian” antara “rol”nya dan “bandit”, penonton ikut2an bersorak2 riuh rendah menjagokan rolnya layaknya menonton pertunjukan tinju. Bila tiba2 film terputus , maklum film kuno, penontonpun heboh/gaduh dan teriak2 sambil “misuh”. Namun yang paling “menyebalkan” adalah omong2 penonton “mendahului” jalan cerita. Rupanya banyak antara mereka yang sudah berkali-kali nonton dan bangga kalau bisa komentar mendahului adegan berikutnya… .
Tahun ’46 saya lulus dari SR yang kedua-kalinya, ikut ujian masuk SMP Negeri yang waktu itu baru ada satu di Pwr. Begitu banyak yang diterima dari SR Widodo ini, sehingga Pak Dirdjo sangat bangga dan berpesan “kamu sekalian adalah kebanggaan kami, bawalah nama harum SR Widodo disekolah barumu nanti”. Salam untuk putro-wayah beliau yang kebetulan membaca tulisan ini.
Mulailah saya jadi murid di SMP Negeri Purworejo. Tahun itu juga, mengingat animo masuk SMP begitu besar, dibukalah SMP baru dengan nama SMP Kabupaten yang kemudian berkembang menjadi SMP II, sedang SMP Negeri menjad SMP I, gedungnya juga masih terletak dalam satu kompleks di Pangen. Kepala sekolah SMP I waktu itu adalah Pak Soeparno,seorang sosok yang nampak angker-berwibawa, sedang SMP II kalau tidak salah Pak Moestakim.
Guru2 yang saya ingat, Pak Soekirman (kakek Deasy Arisandi, penyanyi era 70-an), Pak Sadjoeri, Pak Martono, Pak Yoenoes, Pak Yoesoef, Pak Moedjio,Pak Soebandi (selalu bawa “jerangkong”/kerangka manusia bila memberi pelajaran Ilmu Hayat) , Pak Salichin, Pak Kasidi , Pak Soetoko (guru sejarah, yang bila menceritakan jaman keemasan Majapahit membikin murid2 “ndomblong”), Pak Soewadji, Ibu Soeparti dll. Semuanya baik2. Pak Salichin mengajar sejarah dengan gayanya yang khas sambil berjalan2 dalam kelas. Dikemudian hari waktu saya bertugas ke Jayapura saya berkunjung ke beliau yang waktu itu kebetulan menjabat sebagai Ka Kanwil PDK Irian Barat, sekaligus mengenang masa2 di Pwr.
Dari Pak Sadjoeri yang mengajar bhs. Inggeris ada dua “proverbs” yang kemudian masuk dalam otak dan terbawa sampai sekarang, “Never put off till tomorrow what you can do today”,dan “Time and tide wait for no man”, ternyata ini adalah ajaran pokok disiplin dan penghargaan terhadap waktu. Sampai saat ini bila saya menunda-nunda mengerjakan sesuatu, selalu diingatkan oleh dua ungkapan itu.
Namun yang paling mengesankan diantara guru2 adalah Pak Kirman, guru bhs. Indonesia, orangnya “keras”dan “pemarah” namun “fair”, apakah karena beliau banyak makan daging. Kita tahu beliau punya toko daging di rumahnya di Pandekluwih.Suatu hari waktu beliau mengajar, saya ngobrol dengan Mbak Hindun Ashari (putri Haji Ashari Pwr sebelah barat alun2 yang terkenal cantik) yang duduk didepan saya. “Itu dua anak kalau nggak berenti omong akan saya ikat bersama didepan kelas…”, yang tentu saja bikin kami kaget dan pucat.
Sampai sekarang kalau saya bertemu dengan mbak Hindun (kini pemilik Toko Batik “Istana” di Malioboro, Jogya) masih ingat peristiwa itu dan ketawa senang mengenang jaman itu. MBak Hindun bilang,” Pak Kirman itu aneh, masa waktu ketemu dengan saya dikemudian hari kok beliau ‘boso-kromo’ dengan saya walau sudah saya ingatkan bhw saya bekas muridnya yang akan diikat di depan kelas…”. Semoga mbak Hindun membaca tulisan ini, dan mohon komentarnya…
Teman2 lain di SMP I yang masih terekam dalam ingatan saya disamping mbak Hindun tsb adalah Setiawan, Marwoto, Hadi Purnomo dan kakaknya Dwikestri, Sudarsono dan kakaknya Sudarmi, Ismudiyati, Wahyuni, Suparti (kemudian dipersunting oleh Pak Sadjoeri), dan Samodro.
Yang paling “mengesankan” diantara teman saya adalah Hadi Purnomo dari Plaosan, bukan karena pinternya, walaupun memang pinter, tapi “sepatunya” itu lho yang hitam sangat mengkilap, rasanya “ngiri” kalau ngelihat, padahal saya sendiri cuma bisa pakai sepatu rombeng/butut yang saya beli di pasar loak Baledono yang kalau dipakai terasa nggigit… Belakangan waktu saya sudah cukup mampu, saya “balas dendam” dengan membeli sepatu merek Bally yang terkenal itu… .
Ada seorang yang kebetulan bertemu karena urusan “bisnis”, Mas Sundoro, putra Dr. Soemeru yang rumahnya di sebelah pabrik limun Bagelen, sekarang tinggal di Jakarta dan beristri seorang Prof., dosen di Fakultas Kedokteran UI. Seperti saya dia juga sudah kehilangan jejak sebagian besar teman2.
Sejak masuk di SMP itu saya kemudian diajak oleh kakak saya pindah ke asrama pelajar di Kedungkebo dan disitulah saya bertemu dengan kakak2 angkatan yang belajar di SMP, a.l. Mas Imam Pratignyo, Mas Roesmin Nuryadin,( Mantan KSAU/Dubes/Menteri), Mas Wiyono , Mas Imam Subechi, mas Anton Sudjarwo (Mantan Kapolri), Mas Achadi (kemudian jadi menteri jaman Bung Karno dan sempat ‘menghuni’ penjara selama 12 tahun di jaman Orba), Mas Sudihardjo, Mas Buntaran, mbak Yani ( tinggal di sebelah asrama dan kemudian menjadi isteri/ teman perjuangan setia Mas Imam Pratignyo) yang beberapa diantaranya mempunyai andil besar dalam pembentukan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) cabang Purworejo.Didalam organisas IPI ini kemudian dibentuk Bagian Pertahanan yang berkembang menjadi Tentara Pelajar Kedu Selatan, Brigade 17.
Mas Imam Pratignyo adalah Ketua IPI Cabang Purworejo pertama yang kemudin menjadi IPI Kedu Selatan dimana dia tetap sebagai ketuanya sedangkan mas Wiyono yang semula memegang Bagian Pertahanan menjadi Komandan TP Kedu Selatan. Mas Pratignyo adalah Wk dan Ka Stafnya.
Teman2 lainnya di asrama sekitar 30-an orang, sudah tidak ketahuan jejaknya, sebagian besar saya dengar sudah mendahului kita. Semoga mendapat tempat yang lapang disisiNya.
Seorang teman se-asrama dan satu angkatan di SMP yang masih nampak sehat walafiat adalah Mas Istadi, asal desa Kalirejo yang kini bermukim menikmati hari-tuanya sebagai “kiyai” di Patutrejo Grabag, setelah “lengser keprabon” sebagai Kepala SMA Negeri Satu Pwr. Beliau hidup tenteram bersama ibu, menekuni ibadah. Di depan samping kanan rumah besar gaya Jawa tradisionil, terletak sebuah Mushola yng anggun di mana para santri menjalankan ibadahnya tentunya dipimpn oleh Pak “Kiyai Istadi” dengan jenggotnya yang panjang memutih berwibawa…
Beberapa teman se-asrama anggota Tentara Pelajar gugur dalam “Palagan Purwodadi” waktu clash II ,a.l. Mas Toewoeh dan mas Djawadi keduanya dari Sekolah Teknik Kedungkebo, kini beristirahat di Makam Pahlawan Pwr. Di depan Pasar Purwodadi, dihalaman ex. Kawedanan Purwodadi kini telah dibangun sebuah monumen untuk mengenang pengorbanan delapan orang teman2 yang gugur.
Dari Tentara Pelajar Kedu Selatan pimpinan Mas Wiyono ini, lebih dari 50 orang telah gugur dalam perjuangan kemerdekaan. Kini “sisa-sisa Laskar Pajang” (ex. TP Kedu Selatan ) bernaung dalam satu wadah Paguyuban dibawah “komandan” Imam Subechi dan mengadakan pertemuan berkala untuk menyambung tali silaturahmi. Biasanya, tempat bergiliran, yang paling sering di tempat Bu Roesmin, Bu Hardani/Pak Bustanil dan Bu Anton Sujarwo. Jumlah yang semula besar, dari tahun ke-tahun makin menyusut… ya memang alamiah. Sebagian dari teman2 yang menghadiri pertemuan datang dengan bantuan tongkat, dengan kursi roda atau bahkan di “papah”. “Badan boleh renta, semangat tetap bergelora…”. Mas Bechi dibantu oleh Bu Bechi, memimpin Paguyuban disela-sela bolak-baliknya mereka dirawat di RS, sungguh luar biasa…
Purworejo di tahun2 itu dipimpin oleh Bupati Moeritno, pindahan dari Kebumen, menggantikan Bupati “tinggalan Belanda” Hasan Danuningrat. Bpk. Moeritno adalah Bupati pertama jaman RI. Penampilan Pak Bupati ini cukup simpatik. Kalau tidak salah punya 2 putra-putri seangkatan saya, yang saya kenal (wajar) yang putri mbak Murlinah, anaknya manis dan sebagai putri Bupati tentunya menjadi “kembang lambe”para jejaka kemolo-kolo, tapi umumnya mereka cuma sebatas bisa “ngrasani” saja….., lha wong putri Bupati, jaman itu lagi… Yang “beruntung” menyunting “bunga Purworejo”itu kabarnya seorang Inspektur Polisi yang ngganteng… Maaf kalau salah.
Komandan tentara waktu itu ada dua, Let.Kol. Koen Kamdani sebagai komandan Resimen Kedu Selatan (pangkat Let.Kol. pada waktu itu cukup tinggi, mengingat Panglima Divisi hanya berpangkat Kolonel) dan Mayor Sroehardoyo, sebagai kmd. Batalyon, sedang kmd.CPM Mayor (?) Sutarto, kalau tidak salah ayah Jendr. Endriartono Sutarto, mantan Pang. Abri. Bertahun tahun kemudian secara tidak sengaja saya bertemu dengan Pak Sroe dilapangan golf Senayan, sudah pensiun dengan pangkat BrigJen. Kami ngobrol nostalgia Pwr jaman dulu.
Tanggal 21 Juli ’47, Belanda melancarkan “Aksi Polisonil” Pertama yang bagi kita adalah Agresi Pertama menuju Jogya, namun terhenti antara Gombong-Karanganyar. Purworejo menjadi garis depan menghadapi Belanda. Pada waktu itu murid2 SMP Gombong dan Kebumen pindah ke SMP Pwr dan tinggal di Asrama Pelajar Kedungkebo, a.l. Mas Roesmin Nuryadin.
Di kemudian hari ditahun 1965 kami berjumpa lagi di Moskow, sama-sama bertugas di KBRI, mas Roesmin sebagai Atase Angk. Udara dan saya selaku staf KBRI yang bertugas mengurusi mahasiswa Indonesia di Uni Soviet yang berjumlah lebih dari 500 orang. Pada beberapa kesempatan kita ngobrol nostalgia Pwr, tentang teman2 seperjuangan, tentang Asrama Pelajar yang bersejarah yang saat ini sudah tidak ada bekasnya. Diatasnya sudah berdiri bangunan kantor Polsek dan perumahan anggota Polri.
Secara kebetulan saya juga berjumpa dengan putri Pak Koen Kamdani (yang pada jamannya dikenal sebagi “macan” Kedu Selatan), yang meneruskan studi di Moskow, mbak Toemboe, kemudian (kabarnya) dipersunting Pak Rahardi Ramelan (ex.Ka Bulog).
Pada tahun ’48, berdasar “Perjanjian Renville” bulan Pebruari ’48, pasukan Siliwangi dari Jawa Barat “hijrah” ke Jawa Tengah. Purworejo “kebagian” tamu dari Jawa Barat ini, tidak tahu berapa jumlahnya, namun di jalan2 kota Pwr. menjadi pemandangan umum keberadaan pasukan Siliwangi ini yang terkesan lebih “dinamis” dalam gerakannya dengan senjata yang tersandang kemanapun mereka pergi.
Di sore dan malam hari mereka bergerombol ditempat-tempat keramaian seperti bioskop Bagelen dengan senjata yang selalu tersandang. Keberadaan mereka samasekali tidak menimbulkan “ketakutan”, bahkan sebaliknya terasa adanya suasana persaudaraan dan keakraban, terbukti selama mereka di Pwr tidak pernah ada berita tentang terjadinya “gesrekan” baik dengan penduduk setempat maupun dengan pasukan lokal. Dari kesan sepintas diperoleh gambaran bahwa pasukan Jawa Barat ini mempunyai disiplin yang tinggi dengan persenjataan yang cukup lengkap untuk ukuran waktu itu.
Kembali ke-kisah sebelumnya, ternyata hubungan saya dengan Mas Imam Pratignyo terus berlanjut, karena kami bersama-sama berkarier di Dept. Luar Negeri. Namun dengan dasar jiwa perjuangan yang tetap menyala, mas Pratignyo muncul dalam panggung Nasional sebagai penggagas Seminar Pancasila yang kemudian menarik perhatian Bung Karno, sehingga akhirnya diangkat sebagai Wk. Sekjen Front Nasional yang bersama dengan beberapa teman, membidani lahirnya Sek-Ber. Golkar yang berkembang menjadi Golongan Karya.
Kesetiaan Mas Pratignyo kpd ajaran Bung Karno tidak perlu diragukan, sehingga dengan terjadinya perubahan tahun ’65, beliau terkena imbasnya, dan bersama teman2 lainnya termasuk saya, kebanyakan bekas pelajar pejuang, mendapat gelar Drs.(“Di Rumah Saja”) dari Pimpinan Dept. Luar Negeri waktu itu, padahal saya tahu beliau sudah ditawari oleh Pimpinan Deplu sebelumnya sebagai Dubes untuk Australia, namun menolak dengan alasan akan berjuang di dalam negeri. Sungguh seorang pejuang sejati yang idealis, jujur dan “low profile”…
Walau akhirnya kami diundang untuk “mengabdi kembali” pulang ke Deplu, namun karier sudah terlanjur seret… . Mas Pratignyo kemudian “meminggirkan diri” , mendirikan “Paguyuban Keluarga ex. TP Kedu Selatan” sebagai wadah silaturahmi antar teman2 seperjuangan.Namun sejak saat itu nampaknya kesehatan Mas Pratig makin mundur dan tidak lama kemudian dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Setelah wafat Paguyuban kemudian dipimpin oleh Mas Bechi sampai sekarang.
Saya ingat, waktu beliau wafat diantar oleh teman2 seperjuangan dipimpin oleh Mas Roesmin sampai di TMP Kalibata. Seperti sudah diatur, tidak lama kemudian mas Roesmin juga menyusul, dimakamkan tidak jauh dari makam mas Pratignyo, sedang mas Wiyono yang meneruskan kariernya di Angkatan Darat dan mencapai pangkat BrigJen, sudah mendahului, gugur dalam satu kecelakaan pesawat helikopter waktu bertugas di Lampung.
Tiga serangkai pejuang dari Purworejo itu telah tenang beristirahat di tempat yang sama setelah selesai membaktikan diri mereka untuk kemerdekaan bangsanya. Semoga arwah mereka mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT.
Desember ’48 Belanda melancarkan Agresi Militer ke-2. Sebagaimana daerah-daerah lainnya, Purworejo juga menjadi daerah pendudukan Belanda yang berakhir menjelang pengakuan kedaulatan pada tanggal 27 Desember ’49.
Berakhirlah satu babak sejarah Purworejo , yang sekaligus juga mengakhiri kisah nostalgia dan kenangan pribadi ini.
Slamet Wijadi
Tweet
Home| Category: cerita, Nostalgia | Trackback URI
Tulisan sesudahnya: The Heart Capital -1 »











Pak wik.. sampai th 1964 ketika saya masih belajar di smp negeri II Pwr suasana bioskop bagelen tetep seperti gambaran diatas, para komentator berceloteh yg sangat mengganggu keasyikan penonton, sorak sorai gemuruh bila ada adegan2 yg seru apalagi yg agak2 mesum, pokoknya komentar2 ndesani tapi sekaligus ngangeni. juga Kalau masih ingat kepindhingnya yg bikin bentol2 paha dan pantat, habis nontonnya pakai celana pendek, meskipun dari rumah sudah bawa lemek koran. Meski demikian asyik juga nontonnya sambil menikmati kacang goreng sangan.
Yang kedua Pak wik. Saya bangga juga ternyata banyak sekali tokoh2 yg berasal dari Pwr seangkatan Pak wik cuman pak A Yani dan Sarwo Edhie kok tidak tercerita ya kan angkatannya Pak wik juga?
wass.
[Reply]
Pak Dokter, trims tanggapannya. Syukur kalau masih punya kenangan yang sama tentang bioskop Bagelen, rupanya sudah merupakan bagian dari tradisi… termasuk “tinggi”-nya itu yang agresip, namun kini jadi bagian dari “nostalgia”. Pak Yani dan Pak Sarwo itu tidak diragukan sebagai tokoh Purworejo, tetapi beliau2 itu jauh diatas angkatan saya, Pak Yani lahir tahun 1922 dan Pak Sarwo tahun 1927, pendidikan militernya sudah dimulai sejak Peta. Nanti kalau membahas tentang tokoh2 dari Pwr, baru akan muncul, sedangkan tulisan saya hanya menyangkut kenangan Pwr tahun2 ’45-’49 dan tokoh2 yang saya kenal pada waktu itu. Salam, sw.
[Reply]
Bila mengingat perjuangan di Ngombol, saya jadi teringat sebuah cerita dari ds. Bungkah, tentang seorang Lurah Bungkah yg juga seorang pejuang ketika berusaha untuk menghambat laju pergerakkan tentara musuh, ditugasi meledakkan jembatan kali Jali(?) tetapi kepergok tentara yg kebetulan sedang patroli, sehingga akhirnya beliau di panggal kepalanya serta di buang kesungai, yg jenazahnya katanya di kubur tampa kepala. Apakah ada yg mengetahui kejadian tsb secara lebih rinci ?
[Reply]
Ini yang saya ketahui tentang “kejadian” itu. Pertama, perlu diluruskan, bukan lurah Bungkah, tetapi lurah Sumberejo, gabungan dari 3 desa, nJetak, Bungkah dan Mijoyo, kelurahannya terletak di nJetak. Saya mengenal lurah itu, orangnya gagah,tegap dan masih muda. Betul dia “kepergok” patroli Belanda dari Purwodadi. Krn penampilannya “meyakinkan”, Belanda menetapkan sebagai “pejuang” dan langsung ditembak. Cerita tentang akan “meledakkan” kreteg kali Jali saya tidak tahu, tetapi mengenai “dipenggal” kepalanya serta di buang ke kali baru skr saya dengar.
[Reply]
Memang cerita Pak De Wik yg benar, setelah saya bongkar-bongkar data baru ketemu ceritanya yg bersumber dari P’ Djumar (pens. guru SD Sumberejo).
“Sebagai seorang lurah mBungkah-Sumberejo, beliau termasuk seorang pejuang, yg bertugas memimpin pembumi hangusan jembatan antara Purwodadi – Grabag, pada saat akan menghancurkan jembatan Cokroyasan? Ada patroli Belanda yg lewat, semua lari bersembunyi hanya beliau dan seorang (Kamto?) yang tinggal, Lurah tsb. lalu menyelam hingga tentara lewat, lalu muncul, akan tetapi ternyata ada seorang tentara yg tertinggal hingga ketahuan lalu diseret keatas dan ditanyain kemudian ditembak didahi, Kamto? yg melihat (atau hendak menolong) juga tewas di klewang/ditebas mayatnya dijeburkan ke sungai tidak ketemu.”
Namun saya belum mengetahui secara pasti lurah Sumberejo yg dimaksud tsb apakah Poncorejo (Lurah I ’25-’39) atau Sudarno Adi (Lurah II ’40-’49)?
Berhubung cerita tsb. tidak direkam hanya berdasarkan ingatan jadi ada bagian-bagian cerita yg lupa atau mungkin salah jadi harus dikonfirmasi lagi.
[Reply]
Oom… ibuku tahun segitu kemana ya kok kalo ditanya cerita tentang susuk/purworejo cuma mesem-mesem…
[Reply]
Tentunya yang bisa menjawab ya ibu sendiri. Dugaan saya mungkin krn kurang minat untuk mengetahui hal2 itu. Diantara 10 saudara saya saja, hanya dua orang yang sering menanyakan hal2 berekenaan dengan desa Susuk maupun silsilah keluarga kpd Bapak, dan saya memang senang dengan hal2 yang berkaitan dengan sejarah. Kebetulan Bapak juga senang sejarah. Saya ingat sering diajak ke mbah2 baik di Banyuurip maupun Grabag mutihan dan ikut mendengarkan cerita2 dari mereka.
[Reply]
Wah … Ajib tenan kisah ini!
Matur nuwun Pak Slamet Wiyadi yang telah menambah pencerahan bagi kami yang muda.
Mas Med … Lanjutkan
[Reply]
Mas Parno, terimakasih komentarnya, syukur kalau ada manfaatnya. Bagaimana kalau mas Parno juga berkisah tentang “Mendiro jaman saya kecil”, saya yakin akan jadi cerita menarik. Salam, sw.
[Reply]
monggo mas parno dipon damel waosan mas… mangke kulo sing moco…
slamet novianto
0817 66 37370
[Reply]
slamet riyadi Reply:
September 27th, 2011 at 2:06 pm
aku cah karangtalun
[Reply]
Walaupun sy dr generasi 80-an, tp sangat tertarik dgn tulisan eyang Wik, dalem Hariadi pak Wik ingkang golek pangupojiwo teng Bintan.
Jujur sy sgt menyukai sejarah apalagi sejarah Purworejo, dulu waktu kecil kalo mbah kakung sy cerita tentang jaman 45-an sy sampai Ndomblong, begitu kagumnya.
kadang sambil membayangkan suasana jaman dulu itu seperti apa…
Saya sgt berharap Pak Wik kerso meng-continue di “episode ” berikutnya
salam Hormat untuk semua
[Reply]
Mas Hariadi,trimakasih atas komennya.Bersyukurlah bila “menyukai sejarah” krn dari sejarahlah kita bisa banyak belajar. Seperti saya ceritakan, waktu guru saya di SMP menceritakan tentang jaman keemasan Majapahit, saya juga “ndomblong” krn membayangkan suasana jaman waktu itu, persis spt mas Hariadi mendengarkan cerita mbah kakung. Fantasi dan imajinasi saya “melayang-layang” dalam suasana jaman itu, dan itu terasa nikmat. Sejak itu saya tertarik pada sejarah, apa saja. Contoh, melihat bangunan kabupaten dan alun2 Pwr, saya membayangkan siapa dan bagaimana dan kapan membangunnya. Saya baca sejarah Pwr, dari berbagai sumber dan ternyata sangat mengasyikkan, sehingga setiap kali saya lihat kabupaten dan alun2, kayaknya saya bisa “dialog” dengan mereka krn saya “mengenal” mereka. Itulah untungnya belajar sejarah dan masih banyak lagi… maka teruskan minat itu. Sudah berapa lama di Bintan dan kerja dalam bidang apa. Pwr-nya dimana? Semoga sukses dalam “pengembaraan”nya. salam sw.
[Reply]
Sy yg di Honeywell avionic pak Wik, kalau purworejonya di Pogung Juru Tengah..dulu di kolom lain pernah berinteraksi dgn pak Wik..Mugi2 taksih kemutan.
Kalau ada photonya Purworejo tempo Doeloe, akan sangat menambah wawasan dan referensi kita sebagai generasi muda.Tapi betu, sy bangga sebagai warga PWR ternyata banyak tokoh2 nasional dr sana.
Makasih.
[Reply]
Maaf saya lupa2 ingat, memang kayaknya saya pernah berinteraksi dengan mas Hariadi, tapi yang saya ingat Tanjunguban-nya. Jadi mudik Lebaran yad? Kalau sempat silahkan mampir di rumah saya, rencananya kami sekeluarga ada disana nanti bisa ngobrol2 sepuasnya. Saya pernah lihat beberapa postcard gambar Pwr tempo dulu, hampir tidak mengenal, krn foto itu tahun 1912, nanti diusahakan untuk dipasang. Salam,sw.
[Reply]
Insyaallah kalo diberikan umur, rezeki plg pak, sekalian minta alamat dalemnya pak Wik, insyallah ketemu di pwr.wassalam
[Reply]
Rumah saya di desa Susuk wetan pasar/Balai Desa, kec.Ngombol, gampang carinya kok. Salam, sw.
[Reply]
Salam kenal…
[Reply]
Terima kasih Pak Wiek, kapan-kapan saya kepengin menggali kisah heroik lurah Sumberejo untuk komsumsi majalah “Jaya Baya”, Surabaya. Kata bapak dan simbok almarhum, tahun 1947 di Pulutan (Ngombol) juga pernah terjadi pertempuran sengit antara tentara Republik dengan Nica. Tercatat 4 warga desa yang jadi korban kekejaman Belanda, yakni: Kliwon, Candak,kakak beradik Makno – Kardi (Mbokor). Bulik Keyi (ibunya Hasmadji) kala itu bersama adiknya, Lik Misdi, baru pulang pasar Njoso. Untuk menghindari pertempuran mereka lewat Sruwoh – Walikoro. Tapi saat tiba di Buh Ketek, yakni jalan tengah sawah Sruwoh – Walikoro, terjadi tembakan gencar. Bulik dan pakliku segera sembunyi di gorong-gorong jembatan.
[Reply]
Mas Gunarso, sekedar sedikit meluruskan berdasar “kenyataan sejarah”. Tidak betul tahun ’47 terjadi “pertempuran sengit” di Pulutan. Belanda baru adakan “agresi ke satu” atau clash pertama bulan Juli ’47 dan tertahan di antara Gombong-Karanganyar karena gencatan senjata PBB. Daerah Kebumen ke timur sampai Jogja merupakan daerah Republik. Saya waktu itu masih sekolah di SMP Pwr klas dua, ikut menjadi anggota IPI/Mobilisasi Pelajar. Baru bulan Desember ’48, Belanda melaksanakan agresi militer ke-dua dan menduduki sisa daerah Republik.Purworejo bln itu diduduki Belanda termasuk Purwodadi. Yang saya tahu, pernah terjadi pertempuran di Pwd di sekitar Pasar pada malam hari sekitar bln Mei’49 dimana sekitar 7 anggota TP Purowrejo gugur dan sekarang dibuatkan monumennya di depan ex.kawedanan depan Pasar.
Kalau soal lurah Sumberejo,Pak Adi Sucahyo,mas Gunarso bisa menchek para tetua desa sekitarnya yang sekarang masih hidup, sebagai sumber informasi. Salam, sw.
[Reply]
Gunarso TS Reply:
December 24th, 2009 at 5:54 pm
Mungkin akurasi tahunnya salah Pak Wik, sebab bapak simbok dulu tak bisa bercerita persis tanggal kejadian itu. Tapi beberapa saksi mata mengatakan,peristiwa tersebut terjadi pagi hari menjelang wong matun pulang dari sawah. Marto Mardji yang terakhir jadi ili-ili desa, bercerita kala itu dia terpaksa mbrangkang di antara tanduran, untuk bisa sampai ke rumah. Lalu si Kliwon, pembantunya Pak Lurah Abdullah, merasa sudah aman segera bangkit dari persembunyiannya di tengah-tengah tanaman padi. Tahu-tahu dorrrrrr….., dia ditembak Belanda dan tewas!
[Reply]
slamet wijadi Reply:
December 24th, 2009 at 8:40 pm
Mas Gun, kalau kejadiannya seperti itu saya yakin memang benar, mungkin pada waktu patroli Belanda/Anjing Nica dari Pwd sampai di Pulutan, orang desa panik/terjebak dan tindakannya membikin kalap Anjing Nica sehingga mereka menembak-nembak membabi buta. Dalam keadaan seperti itu korban pasti jatuh dan umumnya orang yang tidak bersalah, itulah kesewenang-wenangan mereka. Polanya sama di seluruh daerah Ngombol yang saya ketahui.Di Susuk ada kejadian, waktu patroli datang, seorang ibu pas mau melahirkan anak, bapaknya panik dan lari sembunyi ke sawah. Bayi lahir tanpa pertolongan. Untuk mengingat kejadian itu, anaknya dinamakan Patrol sampai tua sekarang masih ada…salam, sw.
[Reply]
Sudah jamak lain sumber lain/sedikit berbeda ceritanya, jadi semakin banyak narasumber yg bisa diwawancarai maka bisa ditarik ‘benang merah’nya.
Ibarat bermain puzzle setiap orang memegang hanya sebuah potongan puzzle, maka tidak akan terlihat jelas bentuk gambarnya sebelum sebagian atau semua puzzle terangkai.
[Reply]
[...] slamet wijadi: Mas Gun, kalau kejadiannya seperti itu saya yakin memang benar, mungkin pada waktu patroli… [...]
Pak Slamet Wijadi, saya kebetulan putra Alm Anton Soedjarwo, yang juga anggota TP kedu Selatan. Saya kebetulan sedang dalam proses menggarap film perjuangan kemerdekaan tentang tentara pelajar khususnya Kedu Selatan, makanya pas lagi check internet kebetulan membaca blog bapak. Salam buat keluarga dan Sehat selalu. Saya juga baru beberapa bulan lalu bertemu dan wawancara pak Imam Subechi.
[Reply]
slamet wijadi Reply:
July 27th, 2010 at 4:59 pm
Mas Rudi, terimakasih untuk tanggapannya. Mungkin kita pernah ketemu waktu kumpul2 di tempat Ibu Anton, saya dengar “selentingan” kalau putranya Pak Anton akan bikin film perjuangan. Gagasan yang bagus, mumpung beberapa pelakunya masih hidup, rata2 usianya kan sudah kepala delapan.
Pak Anton dulu juga satu sekolahan di SMP Purworejo tahun 47-an. Tahun ’64 saya berjumpa lagi sebagai sesama peserta pendidikan Kader Revolusi, beliau waktu itu, kalau tidak salah, Dan Resimen Pelopor Kelapa Dua. Memang seorang pejuang tulen, Mas Rudi layak bangga sebagai putra beliau. Semoga proyek film tsb terealisasikan dan sukses untuk mas Rudianto. Salam katur juga untuk Ibu Anton.
[Reply]
Hebat mbah wik ini! Joss tenan..saksi sejarah dr desa susuk yg masih gamblang didalam ingatannya!
[Reply]
slamet wijadi Reply:
September 28th, 2010 at 8:31 pm
Trimakasih untuk tanggapannya.Mas Julian berasal dari daerah mana? Sama spt yang lain, ingatan itu harus selalu dipakai, kalau tidak, cepat karatan dan jadi pikun.Apa yang saya lakukan sama spt olahraga bagi fisik, kalau kita jarang “bergerak” akhirnya juga kaku dan sekali kaku susah mengembalikan lagi. Orang sana bilang “use it or lose it”, kalau nggak dipakai ya hilang.Kebetulan hobi saya sejarah, makanya ini yang saya jadikan “latihan” otak.Salam.
[Reply]
cerita bpk mengingatkan sy pd ayah sy yg seorang purnawirawan angkatan 45 juga dari purworejo,karena bp juga sering cerita pd anak-anaknya dijaman itu .Salam sejah tera buat bpk.
[Reply]
slamet wijadi Reply:
January 3rd, 2011 at 4:27 pm
Mas Agus, trimakasih sudah komentar. Apakah ayah masih sugeng? Kalau masih mestinya bisa memberikan komentar juga. Tulisan saya itu kan merupakan kenangan dan “cerita jaman”nya, semoga akan menjadi catatan bagi generasi yad. syukur kalau masih ada yang ingin menambah/melengkapi, mungkin berasal dari cerita orang tua/kakeknya. Kalau yang sejaman dengan saya barangkali sudah langka… Salam.
[Reply]
Mbah Wi, panjenengan menawi tindak banyuurip dateng desa pundi ?
[Reply]
Mas Nanang, kalau ke Banyuurip ya ke desanya. Mbah buyut saya asli dari desa itu, sekarangpun masih ada kerabat di sana walaupun saya sudah kurang jelas. Waktu kecil saya sering diajak Bapak kesana, salah satu kerabat namanya pak Dullah rumahnya dekat perigi tempat petilasan punden Banyuurip.Salam.
[Reply]
Tahun ’49 saya belum lahir Pak, tetapi dengan membaca kisah perjuangan Bpk di Purworejo ini mengingatkan masa kanak-kanak saya yang terlahir di Rumkit Purworejo pada tahun 1951 dan sampai umur 5 tahun tinggal di tangsi Dungkebo dekat kolam renang.
Masih terbayang setiap sore diajak Ayah saya naik “sepeda tentara” keliling kota dengan boncengan rotan yang disangkutkan di stang sepeda.
Masa kanak kanak yang indah yang tak akan terlupakan….
[Reply]
slamet wijadi Reply:
March 19th, 2011 at 9:45 am
mBah Suro, soal kapan lahir memang bukan pilihan kita, juga oleh siapa (orang tua) kita dam dimana di lahirkan, semuanya rahasia Tuhan. Saya kebetulan lahir permulaan tahun ’30-an dan beruntung dapat mengalami beberapa jaman, yang terpenting adalah berakhirnya penjajahan Belanda dan datangnya jaman kemerdekaan yang mengubah drastis jalan/nasib hidup saya.
Saya tinggal di asrama pelajar Dungkebo dan akrab dengan lingkungan tangsi yang merupakan tetangga, bahkan kalau pagi dibangunkan oleh suara “slompret” dari tangsi. Setiap hari minggu, kalau nggak pulang desa, saya berenang di kolam renang tangsi, saya masih ingat orang yang ngajari berenang,namanya sersan Paiman bekas serdadu Knil.
Saya setuju masa anak2 memang indah untuk dikenang. Omong2 apa ayah juga tentara? Trims untuk komen, salam, Sw.
[Reply]
3792945 beers on the wall.
[Reply]
Salam hormat. Terutama untuk pak Slamet Wijadi. Luar biasa sekali. Di kala sekarang ini lumayan sulit menemukan sumber sejarah lokal, pak Slamet Wijadi justru menyuguhkan data2 primer dengan ingatannya yang masih tajam. Jauh2 hari, saya sebenarnya ingin mendalami sejarah purworejo. Terutama rentang tahun 1900-1965. Hanya saja, karena ketidaktahuan saya menemukan sumber primer,saya urungkan niat saya itu. Baru2 ini, setelah membaca tulisan tentang asrama Belanda Hitam di Purworejo, baru saya tertarik kembali untuk menelusuri kembali. Terimakasih untuk pak Slamet Wijadi. Tulisan Anda semakin memotivasi saya untuk belajar. Hm, bolehkah saya ke rumah Anda atau mengikuti pertemuan Eks TP Kedu? Terimakasih.
#Sekarang ini keluarga saya berdomisili di Ngombol. Hanya saja, karena kami warga pindahan, saya ketinggalan sejarah lokal di Purworejo#
[Reply]
Mas Galuh, trimakasih atas apresiasinya terhadap tulisan saya yang merupakan sekedar kenangan masa lalu di Purworejo. Mas Galuh tinggal dimana? Silahkan kalau ingin datang ke rumah, mohon hubungi dulu HP saya 08164348496 untuk menentukan waktunya. Kalau ingin hadir pada waktu pertemuan TP Kedu Selatan ya monggo, nanti saya ajak. Teman lain dari Blogger juga sudah ada yang ikut hadir dalam pertemuan yang kadang diselenggaran 1-2 bulan sekali. Sekian dulu nanti bisa disambung lagi, salam Sw.
[Reply]
hebat…pak slamet wijadi. Saya adalah putra bungsu pak Sadjoeri dan ibu Soeparti, dari enam bersaudara. Saya terharu dengan kenangan diatas, sayang papi sudah meninggal tgl 17 oktober 1988 dalam usia 70 tahun, kalau ibu masih ada dan tinggal di semarang, dan ibu kemarin tanggal 6 juli merayakan ulang tahun yang ke 80 tahun. Pak Slamet monggo kalau mau nilpon ibu. Proficiat pak Slamet
[Reply]
slamet wijadi Reply:
July 20th, 2011 at 11:08 am
Mas Bambang, trimakasih untuk tanggapannya. Pertama saya ingin mengucapkan “Happy Birthday”, sugeng tanggap warso yang ke-80 untuk mbak Soeparti,ya Ibu Sadjuri; panjang yuswo dan bahagia dengan putro-wayah-buyut… Saya senang bahwa tulisan saya telah terbaca oleh mas Bambang dan itu memang harapan saya, sekarang sejarah masa lalu sudah terhubung lagi… Mbak Soeparti itu satu angkatan dengan saya, beda klas saja. Waktu dipersunting Pak Sadjuri semua “terperangah”, wah la kok hebat banget, padahal Pak Sadjuri lama sekali membujangnya lho, akhirnya “jatuh” juga dengan mbak Parti. Waktu melahirkan putranya yang pertama, permulaan tahun 50-an, saya sowan ke dalemnya sebelah barat SMP dulu, malah sempat saya ambil fotonya, mbak Parti baru nggendong sikecil/bayi. Foto itu mungkin masih saya simpan di album kuno saya…
Waktu di Semarang saya pernah sowan Pak Sadjuri di Sekolahan, sekitar akhir tahun 50-an. Beliau kan satu daerah dengan saya, dari Purwosari, saya juga kenal dengan mas Sutrisno dari Meteorologi. Saya sendiri dari barat Purwodadi, jadi kadang kalau pulang bersamaan.
Kalau kebetulan ke Semarang saya ingin mampir untuk silaturahmi dengan Bu Sadjuri. Teman2 satu angkatan sudah hampir habis. Sebaliknya kalau tindak Jkt, silahkan kampir ke rumah saya, nomor Hp saya: 08164843496. Apakah Bu Sadjuri masih bisa tindak Jkt? Salah satu teman yang sekarang masih ada adalah mbak Hindun Ashari, kini di Jogja, pemilik toko bathik Istana, Malioboro.
Cukup sekian dulu, dan sekali lagi trimakasih pada mas Bambang yang telah menyambung tali silaturahmi, salam juga katur Bu Sadjuri dan keluarga. Salam, Sw.
[Reply]
Salam hormat setinggi-tingginya buat bapak Slamet Wijadi. Saya bangga masih ada murid-murid papi yang mengenang almarhum. Untuk informasi adik papi sekarang tinggal satu, bulik Sri tinggal di Semarang. Om Tris, om Kemi, om Giri, om Yastio sudah meninggal sekian tahun yang lalu karena usia sepuh. Waktu papi masih ada, saya pernah diajak ketemu bpk Rusmin, bpk Anton Sudjarwo dan lain2 sewaktu reuni SMP Purworejo di Jakarta, tapi saya lupa tahunnya, maklum saya cuma mengantar saja. Kebetulan ibu rencana ke bandung dalam waktu dekat ini, nantinya akan saya ajak ke Jakarta untuk sowan pak slamet. Kalau diijinkan saya nyuwun foto2 papi sewaktu masih di Purworejo dulu yang masih bapak simpan. 2 minggu yang lalu saya ke Purworejo, sengaja menginap di hotel Bagelen, sayang kurang terawat. Saya hanya duduk-duduk saja di teras hotel sambil mengenang papi, maaf agak sentimentil. Oya, setiap tahun saya selalu nyekar simbah2 di jenar, rumah jenar yang dulu masih ada, tetapi sudah di renovasi sama om Tris. Di keluarga kami, anak cucu mbah jenar ada tradisi siapapun yang mau nikah selalu harus nyekar ke makam mbah jenar, tradisi ini tidak tertulis tetapi tidak ada yang berani melanggar. Papi sendiri dimakamkan di Bergota Semarang. Semoga Bapak Slamet Wijadi tetap sehat dan diberi keberkahan yang melimpah.
[Reply]
slamet wijadi Reply:
July 20th, 2011 at 4:16 pm
Mas Bambang,foto yang ada pada saya cuma satu, memang saya hanya mengambil satu kali dengan kodak ukuran 6X6, jadi ya kecil, tapi masih nampak jelas, tercatat tanggalnya 20-9-’50, sdh hampir 60 tahun yl. Kapan2 saya minta anak saya untuk di scan agar bisa dikirim via e-mail.
Tradisi yang baik, nyekar leluhur setidaknya setahun sekali agar tidak lupa pada akarnya. Kami juga punya rumah tinggalan yang telah kami renovasi di desa, setiap bosan di Jkt kami “pulang” kampung dan tinggal sekrasannya, kadang sampai sebulan. Waktu Lebaran kami kumpul di rumah pusaka itu dan menikmati suasana lebaran kampung, anak-cucu kami menyenangi “ritual” tsb. dan selalu menanti-nati datangnya lebaran…
Setiap setahun sekali kami kumpul di rumah Bu Roesmin, biasanya bulan Agustus, kali ini kami akan kumpul sebelum puasa. Sedang tempatnya Bu Anton mendapat giliran setiap akhir tahun. Setiap satu-dua bulan sekali kita giliran menerima, jumlahnya nggak banyak sekitar 30-an, itupun sebagaian besar ibu2 janda. Memang generasi SMP Purworejo makin habis, yang ada tinggal sisanya, dan kami ini bersyukur dari sedikit yang tersisa itu.
Sekian dulu salam untuk bu Sadjuri dan keluarga, Sw.
[Reply]
Assalamualaikum Wr wb Salam hormat buat Bpk Slamet Wijadi,sy bangga dan salut terhadap Bapak yang bisa mmenjembatani silahturahmi yg bertahun-tahun terputus.Pak,saya adalah putri dari Ibu yg bernama Rr.Soetijati yg berasal dr desa Loano dan putri dari Bpk.R.Soeparman,yg mrpkan anggota KNIL.Bapak bercerita mengenai Bpk Soendoro dan ada adiknya yg bernama Bpk Irwan (klu tidak salah,sy agak lupa jelasnya.Dan ibu sy malah akrab dgn adiknya Bpk.Sundoro ini)yg putranya Bpk.dr.semeru yg rumahnya dkt pabrik limun.Hubungannya dgn ibu sy ktnya msh ada hubungan kerabat dimana ibu sy dulu pernah dititipkan sewaktu kecil oleh simbah sy Bpk.R.Soeparman dan sewaktu kami pulang ke Pwr,diajaklah sy kealamat itu,tp rumah itu sepi.Ibu sy sepertinya ingin bisa bertemu kembali.Yang sy tanyakan apakah Bpk tahu alamat dari putranya Bpk.dr Semeru itu? Ibu sy alhamdulilah msh sehat dan skrg berumur 74 tahun. InsyaAllah jika dipanjangkan umur jika sy pulang ke Pwr sy akan sowan ke rumah Bpk bersama Ibu sy.Sebelumnya kami sekeluarga mengucapkan banyak terima kasih Wassallamualaikum WrWb
[Reply]
slametwijadi Reply:
November 22nd, 2011 at 9:33 am
mBak Anna, trimakasih untuk tanggapannya. Saya senang tulisan saya bisa “menjembatani” silaturahmi yang bertahun2 terputus, dalam hal ini dengan kel. Mas Sundoro/Dr.Semeru. Sudah agak lama saya tidak menghubungi lagi mas Sundoro, namun saya masih punya nomer telpun dan alamat rumahnya yaitu di kompleks dosen UI Rawamangun, isteringa seorang Profesor yang masih aktip mengajar dan sering tampil di TV. Kalau diperlukan saya kirimkan nomer telpunnya. mBak Anna tinggal dimana? Saya dan keluarga tinggal di Jakarta dan kalau kebetulan ada di Jkt silahkan mampir, nomer telpun saya 08164348496. Cukup sekian dulu nanti bisa disambung. Salam. Sw.
[Reply]
Assalamualaikum Wr Wb Alhamdulillah kabar dr Bpk sgt menggembirakan sy,terutama Ibu.Sy sendiri tinggal di sidoarjo jatim.Terima kasih banyak buat Bpk atas segala bantuannya jika nanti sy ke j
[Reply]
slametwijadi Reply:
November 22nd, 2011 at 4:17 pm
mBak Anna silahkan menghubungi saya via telpun kalau berada di Jakarta, nanti kita sambungkan hubungan dengan kel.Mas Sundoro, semoga nomer telpunnya belum berobah. Terakhir saya menghubungi sewaktu beliau kehilangan putranya yang meninggal, usianya baru 40 tahunan. Salam juga untuk ibu, Sw.
[Reply]
terima kasih kepada para sesepuh pejuang, informasi tentang pergerakan perjuangan kemerdekaan sangat kami butuhkan. trima kasih. bisa menghubingi kami slanjutnya untuk perkenan memberikan cerita atau sebagai nara sumber
[Reply]
slametwijadi Reply:
November 26th, 2011 at 9:09 am
Hampir setiap bulan kami mengadakan pertemuan kekeluargaan antara para teman2 seperjuangan dulu yang jumlahnya makin menipis sekedar untuk berbagi rasa dalam “menikmati” dan mensyukuri sisa2 hidup kami, kalau mas Nanang ingin berkenalan dengan mereka, silahkan datang, nanti saya undang. Salam, Sw.
[Reply]
Pak Wiek,
apa kabar? sehat dan sukses selalu? amiien!!!… kami menunggu tulisan sejarah Pak Wiek berikutnya …mudah2an segera terbit..
Salam,
Raf
[Reply]
slametwijadi Reply:
November 28th, 2011 at 5:25 pm
Mas Raf, trims untuk apresiasinya. Akhir2 ini blogger Pwr tambah semarak dengan munculnya tulisan2 dari para kontributor baru dan itu sungguh menyenangkan, krn tujuan blogger kan sebagai forum untuk berbagi cerita khususnya bagi para kawula dari Pwr, karena itu saya memang sengaja “istirahat” agar yang lain2 sempat untuk tampil yang ternyata memang cukup bagus dan sangat informatip. Saya alhamdulillah tetap sehat, nanti pada saatnya tulisan saya Insya Allah akan muncul, sementara itu salam hangat dulu. Sw.
[Reply]
Assalamualaikum Wr.wb Bapak Slamet apa kabarnya?tidak terasa tahun sudah berganti, selamat tahun baru ya Pak?Semoga bapak dikaruniai kesehatan yg tiada putusnya.Amin.Maaf ya pak saya belum sempat menghubungi bapak,karena sesuatu hal.Keadaan Ibu saya alhamdulilah sehat,salam dari ibu.Wassallamualaikum WrWb
[Reply]
slametwijadi Reply:
January 13th, 2012 at 8:48 am
Mbak Anna trimakasih untuk ucapan/doa tahun baru, semoga Tuhan selalu memberkahi kita dalam memasuki tahun baru ini dengan kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan. Saya sdh bicara lama dgn mas Sundoro tentang ibu dan dia dengan senang hati untuk menyambung kembali tali silaturahmi yang sementara ini terputus. Silahkan hubungi saya bila ibu akan ke Jkt. nanti kita atur pertemuan dengan mas Sundoro, semoga hal tsb bisa terlaksana. Wassalam, Sw.
[Reply]