Menakar Pentingnya Bahasa Ibu

  1 - Jul - 2009 -   eko_juli -   12 Comments »

Iklan Tipi: “Ketik REG <spasi> FUN kirim ke 98**“

Melihat Iklan disela-sela acara Sponges Bob- kesukaan Rifqi (5 tahun)-, yang memang baru bisa membaca agak kebingungan. Dia bertanya: “Kenapa FUN kok di baca FAN, ga salah tuh Yah?”

Susah payah saya jelaskan, “Nak, itu bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris kadang tulisan dibaca berbeda. Seperti FUN tadi….”

Rifqi mengangguk meskipun saya yakin dia tidak puas dengan jawaban saya. Saya justru senang jika dia tidak puas dengan jawaban saya. Berarti? Dia harus belajar bahasa Inggris… cepat atau lambat… Tapi tidak ada satu katapun terlempar dari mulut saya menyuruh dia harus belajar bahasa Inggris. Saya lebih suka dia penasaran dan mencari tau sendiri apa dan bagaimana bahasa Inggris. Begitu juga pengetahuan umum lainnya. Bukannya “serta merta” kita kursuskan bahasa Inggris tanpa cari tahu apakah dia pengen tau atau tidak…

Masih terjadi perdebatan mulai umur berapa seseorang belajar bahasa Inggris (bahasa asing)?

Sedikit cerita, Suatu hari mamanya bercerita ketemu anak kecil yang hebat bener bahasa Inggrisnya… Pinter sekali anak itu… Benarkah?

Tentu saja membanggakan jika punya anak (masih kecil) sudah bisa Bahasa Inggris. Tapi apakah jika anak (masih kecil) bisa bahasa Inggris sudah pasti pintar (cerdas) ?? Jawab saya belum tentu…!!!! Lihat… di Inggris semua anak kecil sudah bisa bahasa Inggris tidak peduli dia cerdas atau tidak cerdas… bahkan tanpa kursus!!! Jadi? Bagi saya Bahasa adalah Kebiasaan. Saya lahir dan besar di Jawa Tengah, saya bisa bahasa Sunda walaupun tanpa pernah kursus bahasa Sunda. Karena saya pernah tinggal di Bandung 5 tahun. Ya iyaaa laaa…

Maaf, bukannya sinis karena anak saya tidak belum bisa Bahasa Inggris ( wong bapaknya aja bahasa Inggris setengah2…). Bagi saya, tetap jauh lebih penting bahasa Ibu. Memahami benar bahasa ibu sebagai sarana komunikasi untuk memahami berbagai ilmu pengetahuan. Sehingga dia tidak rancu…. Jauh lebih penting “isi” ilmu pengetahuannya, dan bagaimana cara mendapatkan pengetahuannya. Dan bagaiamana supaya anak terus terpacu untuk mencari pengetahuan. Masalah dia bisa bahasa asing anggaplah bonus (tanpa harus memaksa dia untuk “harus” bisa)

Pada dasarnya sih anak memang selalu ingin tahu. Yang penting kita mengawal keingintauannya tidak dikebiri dan supaya tidak menyimpang dari norma yang berlaku, sehingga bisa berkembang secara positif.

Tulisan ini sengaja nyrempet2 pro kontra… Pro kontra dalam sebuah opini akan menggiring opini ke arah kebenaran jika dilandasi niat baik untuk memperbaiki satu sama lain….

Wallahu’alam

PS: Om Admin, boleh toh nulis yang tidak berhubungan langsung ma masalah Pourdjo???

sourch:

http://ekojuli.wordpress.com/

Category: blog, Tags: ,, | posted by:eko_juli


12 Responses to “Menakar Pentingnya Bahasa Ibu”

  1. Mas Eko, sekedar tanggapan, nampaknya harus dibedakan antara bhs.Ibu (first language) dan bhs. Kedua (second language). Anak Inggeris pinter bhs. Inggeris itu wajar, krn bahs ibu,spt anak Indonesia pinter bhs.Indonesia. Kalau anak kecil Indonesia pinter bhs.Inggeris ini masalah didikan dan “kecerdasan”, krn ini “second language”. Di sekolah dulu, yang pinter bhs. Inggeris biasanya kecerdasannya juga diatas rata2. Ingat R.A.Kartini, tamatan SD bhs. Belanda-nya lebih baik dari orang Belanda, tetapi itu juga cerminan dari kecerdasan Kartini yang luaaar biasa, untuk ukuran sekarang-pun. Contoh lain Bung Karno, H.A Salim, semuanya orang sangat cerdas, mengasai empat,lima bahasa. Ada ungkapan “bahasa menunjukkan bangsa”,tetapi bahasa juga mencerminkan kecerdasan si-pemakai bahasa.Kapan anak2 harus belajar second language, menurut saya makin dini makin baik, daya serapnya masih sangat reseptip.Sekedar iseng2 sharing, salam, sw.


    ekojuli: analisisnya kerennn pak wik….
    tapi jangan berkecil hati ketika anak tidak “tertarik” untuk belajar bahasa (pontesial di otak kiri). barangkali dia cenderung kuat di otak kanan (kreatifitas= Bentuk, Intuisi, Lagu &musik, Warna warni, Simbol, Gambar, Imajinasi, Menghayal)

  2. nurrahman says:

    ah saya jadi rindu sekaligus malu dengan ibu di rumah

    maafkan aku bu…..lum bisa mandiri sepenuhnya

    ibu: ya… gapapa nur…. yang penting rekening ibu jangan ilang yaaaaaa…
    piss mas nur

  3. setyohw says:

    SDM dari Indonesia khususnya yang saya tahu dari sekitar dunia saya yaitu kemaritiman (pelaut, pelabuhan, ekspor-impor, perkapalan, insurance) sejauh ini tidak kalah dari bangsa Asing khususnya di Asia hanya kalah kita terus terang saja pada komunikasi “English”.
    Lha kalau sudah menyangkut komunikasi, sepintar apapun orangnya pasti akan mentok karena nggak bisa berkomunikasi.
    Di lingkungan kerja maritim, Indonesia masih berada di bawah Philipina bukan karena pelaut2 kita kalah pintar tapi karena kalah dalam “English” akhirnya dalam memperebutkan bursa kerja dunia maritim juga kita masih di bawah Philipina.
    Sejauh yang saya ketahui, Philipina mempunyai bahasa persatuan Tagalog dan juga memiliki bhs2 daerah seperti Indonesia. Namun “English” digunakan secara luas bersama Tagalog dan sdh diajarka sejak TK.
    Di India juga begitu, bahasa persatuan Indi namun “English” digunakan secara luas.
    Yang saya lihat dari 2 negara itu, mereka tetap bisa dan tdk melupakan bhs persatuannya meskipun juga lancar dalam berkomunikasi “English”. Akhirnya output yang dihasilkan adalah SDM yang selain pintar di bidang masing2 juga lancar berkomunikasi di dunia.
    Kesimpulan saya adalah bahwa bahasa adalah kebiasaan.

    Terima kasih,
    Setyo HW

    ekojuli: Setuju pada kesimpulan, bahwa bahasa adalah kebiasaan. Contoh di Bali… anak2 kecil juga bisa bahasa Inggris (tidak peduli dia pintar atau tidak pintar) tentu saja yang pintar akan lebih jago dari yang tidak pintar.
    Jadi menurut saya PR buat pemerintah dan seluruh masyarakat ayoo buat kondisi di lingkungan menjadi “terbiasa” berbahasa Inggris.

  4. BondiPit says:

    To Mas Setyo HW

    It would be better if Mr Setyo write advise above by english too, so the others purworejo people probably could be follows that you had campaign.

    I am studying english at ilp right now, even i have been learnt this language since at Senior High School but i’ve a bit of advancement.
    For me english is so dificult without practices everytime.

    Frankly this momment is right place to enlarge our vocabulary.

    regards,
    BondhiPit

  5. setyohw says:

    Dear BondhiPit,
    In order to improve your English to be an excellent result, you must speak English with a native speaker every times. Don’t be shy if you’re wrong due to English is not our language. Correct if you are wrong and try more.

    Best regards,
    setyohw

  6. setyohw says:

    Dear BondiPit,
    Since this blog was written using Indonesian, I should comment in same language. If you need my comment using English, I’ll do so.
    In my job, I often touch with some foreigners, they are Korean, Indian, Japanese, Greek, Philipino, etc.
    Among above-mentioned foreigners, I have a special note for Philipinos. Why? Because condition between Indonesia and Philipines are almost same in economic, democration and population development. But, I see Philipinos more success than Indonesians in the field of international maritime jobs. This matter is occurred due to in general, Philipinos can speak English fluently. In other word, Philipinos is better than Indonesians in speaking English generally due to in Philipines, English is used as common language together with Tagalog.
    Okey, friend….Thank you.
    Regards,
    Setyo HW

  7. bahasa ibu berarti bahasa batin yang bisa dimengerti antara anak dan ibu saja.

  8. BondiPit says:

    Dear Setyo HW,

    It looks good respon, here you are act as a english moderator, so could you please to urge the others one, that we are purworejo people able to communicate by english fluently.

    Btw, where are you leaving now and where do you work?

    I supposed you as a consultant may be?

    regards,
    Bondhipit

    • setyohw says:

      Dear Bondhipit,
      I live in Sidoarjo, East Java. I am a marine inspector in port of Surabaya. Twelve years ago, I was a sailor.
      I don’t deserve credit for all of this because I am no body.
      I’m glad communicating with you.

      rgds,
      Setyo HW

      • BondiPit says:

        Dear Setyo,

        I’m glad to communicating with you too.
        Btw, what was your senior high school name?

        rgds,
        cahyo

  9. din says:

    Bahasa ibu adalah bahasa yang pertama diterima oleh seorang banuasia yang lahir didunia sampai umur tertentu samapai manussia itu bisa bergaul dengan masyrakat dan akan mendapat pengaruh dari luar di luar bahasa yang pertama itu.

    Karena bahasa Inggris adalah bahasa Internasional bagi individu atau kelompok yang mempunyai hasrat Go internasional ya wajib menguasai bahasa inggris. Menurut kami tidak semua hal kita harus bisa karena tidak mungkin artinya sesuatu akan sangat dibutuhkan apabila sesuatu itu akan digunakan, kita ambil perumpamaan seorang yang tinggal jauh dipelosok dan tidak akan pernah atau sangat kecil kemunngkinannya bekerja diluar negeri kami kira bahas Inggris tidak penting.

    Dalam rangka tanggung jawab pemerintah kami kira untuk bahasa inggris perlu diterapkan pada jenjang pendidikan yang ada kaitannya dengan ilmu
    pengetahuan/ ilmiah bahkan pendidikan yang sudah mengarah ke Luar Negri. Karena sebenarnya dalam jenjang pendidikan tertentu literatur yang digunakan ya berbahasa inggris tapi siswanya ya belum tentu memahami betul bahasa Inggris itu. ok trim’s.

  10. kaya manfaat says:

    ibu, makasih engkau hadirkan buatku, engkau rela mengurusiku dari bayi sampai dewasa sekarang.. makasih ibu

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Pulang ke Purworejo 3

3 - Aug - 2010 | slamet_darmaji | 5 Comments »

Mengapa takut artikel Anda di Copas?

1 - Aug - 2009 | masdoyok | 13 Comments »

Selisih harga obat paten vs obat generik hingga 26 kali lipat

11 - Oct - 2013 | indra.ngombol | No Comments »

Berbagi Inspirasi

25 - Feb - 2010 | agus | 2 Comments »

KESASAR BERSAMA MBAH PUTRI

10 - Jul - 2011 | Mbah Suro | 14 Comments »

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net