MAGANGAN LURAH

  30 - Jul - 2009 -   massito -   14 Comments »

Sebagian besar, Kepala Desa di daerah Purworejo merupakan Lurah hasil pilihan rakyat, sementara yang disekitar kota merupakan Lurah pegawai pemda yang ditempatkan dan dipindahkan ketempat lain sesuai dengan kebutuhan.

Lurah hasil pemilihan rakyat berarti orang asli setempat atau paling tidak sudah tinggal ditempat tersebut untuk beberapa saat, sehingga memenuhi syarat minimum tinggal. Bicara demokrasi, masyarakat desa sudah lebih dulu menjalankan pemilihan langsung, dibandingkan dengan pemilihan langsung Presiden, gubernur dan bupati, yang dimulai tahun 2004. Positifnya dalam pemilihan lurah, semua calon Lurah dan pemilih sudah sama2 kenal, dan sudah mengetahui adat istiadat setempat jadi tidak perlu belajar mengenal wilayah.

Tetapi banyak juga negatifnya, setelah lulus ujian maka para calon mulai melakukan kampanye, ini sangat berbeda pengan pemilihan presiden atau caleg, dalam masa kampanye obral program dan obral janji. Pada pemilihan Lurah jarang ada acara pemaparan program, yang ada biasanya kujungan kepada calon Lurah, makan2 minum2, bagi tamu biasa. Kalau yang termasuk botoh, saling menggali siasat bagaimana bisa mempengaruhi calon pemilih yang sebanyak2nya.

Hal2 yang dapat mempengaruhi banyaknya dukungan adalah faktor kekerabatan dan yang kedua adalah faktor uang. Disuatu desa yang pemilihnya hanya 300 kepala, bisa menghabiskan dana sampai Rp 50 juta untuk bisa menjadi Lurah. Modal banyak memang tidak menjamin, tapi kalau tidak ada modal jangan harap bisa jadi. Setelah terpilih biasanya mulai menghitung hutang2nya, dan janjinya bila terpilih.

Kualitas kepemimpinan sering terabaikan, makanya ada desa yang sangat tertinggal dari desa lainnya, karena yang terpilih sebetulnya tidak punya kapasitas untuk memmimpin dan membangun desa. Bagi desa yang bulaknya sempit, angka 50 juta di atas terasa cukup banyak, karena bagaimanapun, Lurah terpilih tetap ingin cari pulihan. Kalau sudah demikian dana2 bantuan sering tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Beberapa contoh bisa dengan mudah ditemukan bahwa setelah selesai menjadi lurah tidak punya apa2, yang masih tersisi adalah sebutan Pak Lurah, yang biasanya melekat sampai mati.

Itulah yang terpilih, bagaimana dengan yang tidak terpilih, tentunya lebih menyedihkan, karena uang habis, jabatan tidak didapat. Sebetulnya hal2 demikian sudah saatnya mulai ditinggalkan atau pelan, lurah2 itu adalah yang berstatus pegawai pemda, jadi Lurah bisa ditempatkan dimana2 tidak harus dari daerahnya sendiri, yang penting bisa menjalan roda pemerintahan Desa. Semoga

Category: blog, Tags: | posted by:massito


14 Responses to “MAGANGAN LURAH”

  1. agus p says:

    biasanya sih kalau habis pilkades kadang sedulur jadi nggak akur, nggak saling tegur, itu bisa terjadi bertahun-tahun, lebih parah lagi kalau kadesnya kemudian mencari dana untuk mengembalikan biaya yang dikeluarkan untuk pilkades dengan cara apapun.

  2. Dodi says:

    Memang ironis, banyak mantan kepala desa yang jatuh miskin, karena selama menjabat sebagai kades, ia tidak mampu mengembalikan modal awal saat mencalonkan diri sebagai kades. Beberapa desa yang berubah statusnya dari desa menjadi kelurahan, di mana dipimpin oleh pegawai negeri yang ditunjuk Bupati, faktanya sama saja, tidak ada kemajuan yang signifikan. Yang berbeda hanya, kalau Lurah itu pensiun, ia tidak jatuh miskin, karena statusnya PNS. Untuk tetap menjaga demokrasi di tingkat bawah, mungkin perlu dicoba pemilihan kepala desa tanpa mengeluarkan dana sepeserpun. Para calon harus adu argumen semampunya. Ayo desa mana yang mau dan berani memulai?

  3. Purs says:

    Terima kasih Mas Dody dan Mas Agus, ada 2 hal yang perlu mendapat perhatian : 1, demokrasi tetap harus dijaga dan satu lain, main uang harus dihindari. Memang tidak semua mantan jadi miskin, setidak sebagian besar begitu. Yang jelas di daerah saya Yakni Wingko hampir semua begitu. Cuma siapa yang mau mulai, magang tidak usah keluar duit, kemungkinan besar tidak jadi. Seharusnya ada perda yg jelas2 mengatur sehingga nanti perlu ada pemantau, barang siapa pakai duit dianulir. setuju.

  4. agus p says:

    yang lebih utama lagi, karakteristik desa biarlah tetep ‘ndesani’ tetapi tidak kampungan, adat gotongroyong dan keakuran sesama warga harus tetep dijaga, ada ataupun tidak ada pilkades ini yang lebih penting….

  5. mas doyok says:

    mas , saya pengen tahu gimana caranya biar link saya masuk disini, saya orang porjo juga nehh dan berharap bisa masuk… saya bangga jika dicap sebagai orang porjo juga.. dimohon kunjungannya.. saya sudah berhari-hari beruturut turut ngisi di shoutmix tanpa ada balesan

    sekali lagi mohon maaf yah

  6. “Pilihan Lurah” adalah wujud demokrasi desa yang telah berakar sejak jaman kuno, bahkan mungkin sebelum ada istilah “demokrasi”. Inilah cara para leluhur kita mengelola kehidupan bersama, dimana setiap warga mempunyai hak sama untuk memilih pemimpinnya.Sebagai “warisan yang luhur” sudah selayaknya untuk dilestarikan. Bahwa skr terjadi “ekses money politics” ini yang harus dibenahi, tapi jangan dilupakan bahwa hal ini tidak terlepas dari refleksi jamannya. Mengapa dulu money politics tidak dominan? Kita semua mengerti bahwa semua pilihan langsung ditingkat di atas desa tidak terlepas dari “uang”, jadi kenapa desa harus di kecualikan. Soal “lurah yang jadi miskin” memang tragis, namun yang perlu dibenahi adalah seluruh sistem, bukan hanya pilihan lurah desa saja. Itulah sekedar sharing.

  7. Purs says:

    Mas Doyok dan Pak Slamet, matur nuwun sampun kerso paring masukkan, Demokrasi ala desa setuju sekali, money politik yg perlu di basmi, cuma bagaimana caranya. Pernah ada kejadian, disuatu desa tidak ada calon Kades yang mau maju, masyarakat menjadi bingung, bagaimana mungkin ada desa tidak ada Kadesnya, akhirnya ada satu warga yang didorong untuk maju, dan tidak perlu pakai biaya yang penting mau maju, dan akhirnya terpilih tanpa menghamburkan uang. Memang ini kekecualian, karena kebanyakkan yang lain, lurah belum berhentipun, para calon sudah kusak kusuk.
    Yang dibutuhkan Kades saat ini adalah Kades yang bisa memajukan warga desanya.

  8. mr says:

    bapak-bapak semuanya saya juga setuju pendapatnya, proses demokrasi di desa harus tetap dijaga dan dilanjutkan dengan cara yang benar tidak perlu menghambur-hamburkan uang. Bahwa yang dicari adalah Kades yang berkualitas yang mampu membimbing, melindungi, mengayomi dan menjadi panutan warganya. bukan Kades yang mencari keuntungan untuk pribadi dan keluarganya, semoga warga desa kedepan semakin sadar bahwa memilih pemimpin benar-benar memilih program kerja serta kemampuan sang calon.

  9. Purs says:

    Mas Mr, prinsipnya kita semua setuju bahwa demokrasi ala desa dalam memilih Kades harus dilestarikan dan money pilkades harus dihilangkan.
    Karena kalau tidak dihilangkan, dalam memilih pemimpin semata-mata hanya karena diberi uang lebih banyak. Mulai sekarang pilihlah kades yang dapat memajukan desa, supaya desa lebih makmur, kalau desa makmur, para pemuda tidak perlu berduyun-duyun kekota.

  10. meds says:

    test komentar. test for smtp eror.

  11. sudaeni says:

    demokrasi yg sesungguhnya itu ya di desa. pemilihan lurah (magangan) itu ya merupakan miniatur demokrasi Indonesia. Lha wong mereka juga berasal dari desa. Jadi sebenarnya segala tingkah pola waktu pilpres maupun pileg sesungguhnya cerminan dari budaya demokrasi yang sudah diajarkan oleh para pendahulu kita di desa-desa. Bedanya kalau di desa itu nggak vulgar, karena dibungkus dengan pakaian sungkan dan malu-malu. Jadi kalau mau sukses dalam pipres atau pilkada ya bergurulah kepada wong ndeso….

  12. gunarso ts says:

    Di kampungku, Pulutan Kec. Ngombol, pernah terjadi di tahun 1966-an, seorang mertua mengusir mantunya gara-gara tak memilih pripeannya yang magang lurah. Ironisnya, meski sang pripean berhasil jadi Kades, mbok mertua tetap memusuhi si mantu yang “disenting opinion” tersebut. Untung si mantu tetap sabar, meski hengkang dari Pondok Mertua Indah, dia tak sampai bercerai dengan istrinya. Ditunggu saja hingga mbok maratuwa meninggal. Betul juga. Begitu sang mertua pancal donya di tahun 1970-an, pasangan suami istri tersebut kembali satu rumah macam pengantin baru kembali!

  13. 246844 says:

    246844 beers on the wall.

  14. Hi, I just found your blog via Bing. Your post is truly applicable to my life currently, and I’m really pleased I found your website.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Mengapa Kau tegur kami ?

10 - Sep - 2009 | purwanto agus | 2 Comments »

Kelemahan atau Kekuatan

22 - Dec - 2009 | Anu Dhihasto | 2 Comments »

Mengenal Asam Urat

23 - Nov - 2009 | sugeng Ikasapala | 7 Comments »

Masa Indah di Sekolah

16 - Jul - 2012 | slamet_darmaji | 16 Comments »

Kuburan Gedong Magrong Magrong

16 - Jun - 2012 | slamet_darmaji | 2 Comments »

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net