DILEMA NASIONALISME

  4 - Jul - 2009 -   eko_juli -   6 Comments »

Jalan-jalan ke Mall , windows shopping… Siapa tau nemu barang bagus…. Berhubung tanggal tua, dompet juga mulai menipis… yahhh nggak ada target, paling ngga cuci mata.

gbr hanya ilustrasi

Di sudut salah satu Mall (”salah satu” apa satu-satunya??) di Balikpapan, terpampang tulisan mencolok… baju anak Rp. 10.000 harga pas. Liat-liat…!!! Ini baju import bisa dijual di Mall Rp. 10 ribu… modalnya berapa ya??? Tertulis made in china. Kualitasnya sih lumayan bagus (untuk ukuran low end). Jadi inget tadi liat-liat baju batik anak (buatan lokal). Di Mall juga… Cuma kualitasnya mmm… agak payah.. Ini sihh baju sekali pakai… Iks… Saya sih bukan termasuk orang yang ngerti kualitas baju… tapi sebagai orang awam, tetap aja bisa membedakan mana yang bagus dan mana yang kurang bagus…. Untuk satu lembar baju batik kualitas pas-pasan harga tidak bisa kurang dari Rp. 15 ribu.

gbr hny ilustrasi

Disini letak Dilema Nasionalisme VS Prinsip Ekonomi…..

Kalau beli baju import dengan harga lebih murah… dibilang tidak Nasionalis… Katanya “Belilah Produk Indonesia”. Sementara Prinsip ekonomi yang berlaku Universal mengajarkan ” Beli dengan harga semurah-murahnya, jual lagi dengan untung sebesar-besarnya kalau bisa kualitas yang sebagus-bagusnya…”

Di Sekolah, Guru Pendidikan Kewargaraan bilang, ayoooo tingkatkan Nasionalisme, sementara Guru Ekonomi bilang terapkan prinsip ekonomi. Nah.. lo bingungkan… Sebenarnya tidak membingungkan jika; produk dalam negeri lebih murah dan lebih berkualitas. Bagaimana caranya? Pemerintah (seharusnya) punya team ekonomi yang kuat untuk memecahkan masalah ini…

Akhirnya belilah kami beberapa lembar baju anak Rp. 10rb-an… lumayan buat baju harian Diva…

Siapa yang menang???

Industri dalam negeri sudah di “bom” oleh barang import… Jelas kualitas kalah.. Harga apalagi….??? Jadi gimana??? PR deh buat pemerintah….

Jangan lagi masyarakat “dibebani”. Untuk membeli barang berkualitas kurang dengan harga lebih mahal. Mumpung lagi PILPRES…. ada nggak jawaban dari Capres… Nasionalisme VS Prinsip Ekonomi; mana yang menang???

Gimana bro??? koment donggggggg…

ps: posting asli (dengan judul berbeda)

Category: cerita, Tags: ,, , | posted by:eko_juli


6 Responses to “DILEMA NASIONALISME”

  1. meds says:

    seharusnya Nasionalisme yang mendasari setiap kebijakan negara, termasuk kebijakan ekonomi.

    kalau di pasaran ada barang lebih murah dan lebih bagus, tentu itu juga yang akan saya pilih. tidak logis, rakyat yang harus menanggung beban “nasionalisme” dengan memberi barang mahal, sementara para pemimpin membuat kebijakan yang tidak nasionalis.

    Seperti yang penulis di atas sampaikan, baju dengam harga 10 ribu, “berapa modalnya ya?”. Bahkan teman saya pernah nyeletuk, pasti ini bahannya hasil “colongan” dan pekerjanya digaji sangat rendah untuk membuatnya.

    Sudah pernah dengar kasus kaos cindera mata club bola eropa (saya tidak tahu clubnya), yang dihargai 45 poundsetrling, sementara gaji para pembuatnya hanya 2 p per hari, itu di buat di Tangerang, Indonesia. Juga sepatu Nike yang mahal itu, di buat di Indonesia dengan gaji pekerja yang sangat rendah.

    Jadi pertanyaannya, mengapa Indonesia bisa dibanjiri produk asing yang murah, apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk membendung ini?

    Pertanyaan lebih dalam, mengapa kita suka produk yang sangat murah?

    Karena penghasilan rata-rata kita masih rendah. Mengapa? karena pemerintah tidak membuat kebijakan pro rakyat. Karena orientasi pembangunan kita adalah makroEkonomi, yang penting pertumbuhan ekonomi negara. jadi memang yang disubsidi, yang diberi intensif, kemudahan kredit adalah pengusaha-pengusaha besar atau perusahaan multinasional yang mau menanamkan investasi (pabrik) di Indonesia.

    Salah satu korban dari kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat : para pekerja, yang karena lapangan pekerjaan sedikit harus “nrimo” dengan sistem kontrak dan upah yang minimum.

    hasilnya: rakyat hanya mampu membeli barang yang sangat murah.

    Untuk konteks negara, terlalu memprotek produk dalam negeri memang tak bagus, tapi terlalu open terhadap produk luar juga berbahaya.

    Tidak ada hitam putih dalam politik negara tapi kalau harus memilih saya lebih memilih kebijakan yang lebih pro rakyat kebanyakan dari pada yang pro pengusaha besar dan orang2 kaya.

    Biar tetangga-tetangga saya di desa, bisa menikmati hasil yang tinggi kala panen, pupuk yang murah dan mudah. (akankan ini hanya mimpi?).


    ekojuli: wahhh… masih banyak PR-nya presiden kita ya mas meds… tapi kok ya padha ngotot pengen jadi presiden ya…

  2. bkn dilema seh, tp kebanyakan ada yg berpendapat bahwa beli barang import malah bikin kita lebih gaya, lebih berkelas. bkn dilema khan, tp triple dilema namanya. hee..he…

  3. meds says:

    u mas Eko, madu kekuasaan memang sangat manis, bahkan memabukkan. Madu yang manis menjadi kerumunan kumbang-kumbang politik yang juga ingin ikut merasakan madunya. entah kumbang tersebut yang ikut menanam bunganya atau petualang yang kehabisan madu di bunga lain.

    Kumbang-kumbang ini yang sering lebih berbahaya, karena mengamankan asetnya, menjadi benteng yang berkuasa. kalau perlu, teruslah berkuasa dan aku tetap mendapat madunya.

    “hukum” dasar politik: kekuasaan itu punya kecenderungan korup. Semakin lama berkuasa semakin banyak peluang korupsi. Makanya dibuat aturan presiden hanya dua kali saja. Tandanya jelas kan, yang menang yang dikerubuti banyak kumbang.

  4. Purs says:

    Mas Eka, tidak perlu takut dikatakan tidak Nasionalis, sebagai rakyat kecil sangat wajar bila kita memilih berbelanja dengan harga yang murah tidak peduli produk mana. Biarlah para pemimpin negara yang memikirkan Nasionalis tadi. Kalau ingin harga lebih murah, hapuskan semua praktek biaya tinggi, hapuskan semua pungutan yang tidak ada kaitannya dengan proses produksi. Kalau itu sudah dilakukan oleh pemerintah, pasti harga barang dalam negeri bisa lebih murah. Produk luar yang dijual murah tadi, bisa jadi karena negara pengekpornya menganut sistem damping, ini artinya sudah main politik, makanya pemerintah harus bisa memberi subsidi supaya masyarakat bisa membeli harga barang buatan dalam negeri. Sebagaimana kita tahu, bahwa upuh buruh pabrik kita terhitung rendah, seharusnya harga jualnya juga murah, tetapi komponen harga pokok bukan hanya itu, masih ada biaya-biaya lain yang sebetulnya tidak ada hubungannya dengan proses produksi, tetapi harus dibayar oleh perusahaan, maka jadinya harga barang dalam negeri djual dipasaran lebih mahal dari pada barang impor. Kita tunggu Presiden baru, mudah2an bisa memikirkan rakyat.

  5. nurrahman says:

    wew…sampai membawa kata nasionalisme segala…hehehe

  6. menurut saya, membeli baju import, bukan “tidak nasionalisme”..
    sesuaikan aja dengan kemampuan kita, kalo kita emang cuma mampu beli yang harganya segitu bagaimana..

    barang dari luar, yang masuk indonesia kan juga kena pajak. Nambah penghasilan negara juga donk..hehe

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net