Heboh Katolik di Musim Kampanye

  29 - Jun - 2009 -   masdodi -   9 Comments »

Ini tidak ada kaitannya langsung dengan Purworejo, tetapi kalau dikait-kaitkan menjadi bisa. Heboh berita tentang istri capres Boediono yang Katolik, menjadi pemberitaan utama setiap media dalam minggu-minggu ini. Saya sengaja meng-upload di sini, barangkali ada teman-teman di luar Jawa yang belum membaca beritanya. Dan satu lagi, berita ini ditulis oleh putra Purworejo, Sri Widodo, alias saya sendiri. Silakan simak:

Prof. Dr. Suparman, MA,”Istri Boediono Memang Katholik”

Prof. Dr. Suparman, MA, lahir 28 November 1951 di Kebumen, Jawa Tengah. Setelah tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), ia hijrah ke Mekah melanjutkan sekolah di Madrasah Rubath Jabal Qubais (1968 – 1970). Kemudian melanjutkan studinya di Baghdad University Irak (1971 – 1976) memperoleh gelar S1 Matematika, spesialisasi untuk computer programming dan system jaringan. Kemudian melanjutkan lagi di Alexandria University Mesir (1976 – 1978) meraih gelar Magisternya (Degree in Matematical Statistic) pada tahun 1979. Pada perguruan tinggi yang sama sebagai Promovendus S3 pada Sosial Statistic. Gelar doktor bidang Manajemen Pendidikan diperoleh dari Insititut Kegururan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta (1996).

Ia kini adalah peneliti senior bidang analisis statistic, analisis data dan pengembangan system informasi manajemen di Pusat Pranata Pembangunan Universitas Indonesia, di Pusat Pengkajian Agrobisnis (PPA), di MACON, Advisor di South East Consortium International Development (SECID), Direktur LSM Responsible Development International Indonesia (RDII), Pengelola koperasi simpan pinjam usaha kecil di Bogor.

Prof. Dr. Suparman, MA, adalah konsultan Bappenas pada tahun 1998 saat lembaga itu diketuai oleh Boediono. Sedikit banyak, Suparman tahu keseharian Boediono yang kalem dan lembut itu. Ahli statistik yang juga Direktur Pascasarjana Universitas Tarumanegara, membocorkannya perihal siapa Boediono, termasuk istrinya yang Katholik kepada Sri Widodo dari Indonesia Monitor, Kamis (28/5). Berikut Petikannya:

Seperti apa tipikal Boediono?
Sepert yang kita lihat, dia itu orangnya kalem, tidak banyak omong, suka bekerja keras. Dia itu anak jenius. Tidak pernah kuliah di Indoensia. Selama kuliah di luar negeri dia selalu mendapat bea siswa. Dia memperoleh gelar doktor dua, yang satu honoris causa. Dia ahli ekonometri. Di Indonesia tidak banyak orang seperti Boediono. Paling hanya sekitar 20 orang. Dan dia majornya keuangan. Dia tipe pekerja. Tidak neko-neko, dan selalu tampil kalem, sopan. Dengan siapapun dia baik. Kalau Anda pura-pura kenal, dia pasti akan menjawab dengan senyum, meskipun belum kenal.

Boediono dianggap tidak merepresentasikan tradisi Islam seperti yang diharapkan PKS. Menurut Anda?

Standar kesilaman Boediono beda. Dia bukan Muhammadiyah bukan pula NU. Islam PKS beda dengan Islam NU atau Muhammadiyah. Dilihat dari kacamata PKS, Islamnya Boediono tidak akan masuk.

Boediono penganut Kejawen?
Mayoritas orang Jawa pasti Kejawen, apakah dia Islam, Katholik, Hindu, atau Budha. Jadi apapun ajaran yang masuk ke Jawa pasti akan dipoles. Kejawen itu budaya. Jadi kalau ada Islam masuk ke Jawa maka menjadi Islam Jawa, Katholik menjadi Katholik Jawa. Agama tidak tampak di Jawa. Yang tampak itu justru Kejawen. Sama seperti ketika ada dua orang Jawa dengan agama yang sama bertemu di luar Jawa atau di luar negeri. Mereka pasti akan merasa lekat dengan Kejawennya, bukan dengan agamanya. Demikian juga yang berlainan agama, mereka merasa akan lebih erat dengan kejawaannya. Itulah Kejawen.

Jadi, agama tidak penting bagi orang Jawa?
Di Jawa, agama itu seolah-olah nomor dua, tidak terlalu penting. Di Jawa, orang Katholik memerintahkan orang Islam untuk sholat Jumat, itu hal biasa. Begitu juga orang Islam mengingatkan temanya yang Katholik untuk ke gereja, juga hal yang sangat lumrah. Itulah Kejawen. Nah, kalau perilaku Jawanya tidak bagus atau sembarangan, pasti akan diomongin orang. Oh dasar tidak kenal sekolah.

Kabarnya istri Boediono Katholik?
Iya, memang Katholik. Tetapi untuk orang Jawa, Islam atau Katholik, itu tidak penting. Agama bagi orang Jawa, seperti kasampurnaning hurip (kesempurnaan hidup). Bagi orang Jawa, Agama harus bisa memberikan ketentraman. Tetapi yang utama tetap laku Jawa. Sholat tetap sholat, laku tetap laku. Sebagian besar orang Jawa pasti ngelakoni. Kepasrahan Jawa melebihi kepasrahan Islam. Kalau ada orang disakiti, malah dibaik-baiki, didoain, mudah-mudahan lekas sadar. Itulah Kejawen.

Tapi orang Jawa di Jakarta tidak seperti itu?
Tergantung orang tuanya, apakah masih memberikan didikan Jawa atau tidak. Jawa itu unik. Pernah ada orang Philipina diajak ke Jawa disuguhi makanan, makanan itu dihabisi semua, padahal kalau di Jawa dicicipi saja tuan rumah sudah senang. Si Philipina perutnya menjadi kekenyangan, karena setiap rumah yang dimasuki makanannya dihabisi.

Apa pengaruhnya Boediono terhadap SBY?
SBY nanti akan terpilih karena Boediono. Karena lebih ke faktor psikis.
SBY itu orangnya temperal. Bahasanya tidak menyenangkan. Hal ini menunjukkan kalau SBY berasal dari bawah. SBY bukan berasal dari golongan atas. Maka, SBY sangat diuntungkan oleh Boediono. Boediono secara kultur bukan tingkatan yang paling tinggi, tetapi di dalam tataran Jawa, dia masuk golongan atas, karena sudah bisa mengendalikan emosi, tidak mudah marah, dan bicara seperlunya. Berbeda dengan SBY.

Jadi, di Pilpres ini justru Boediono yang bisa angkat SBY?
Betul. Lihat saja Boediono. Dia Diolok-olok oleh sejawat, termasuk Amien Rais, dia diam saja. Kalaupun melawan dia tidak menyebut nama orang. Dia hanya bicara bahwa selama ini dia tidak menerapkan sistem neolib. Selama jadi pejabat, saya tidak pernah neolib, itu saja yang diucapkan. Dia tidak menunjuk nama orang. Kalau SBY, baru diolok-olok Kalla saja langsung emosi, marah-marah gak karuan. Kalla pernah menyindir, “siapa dulu yang kerja”, eh SBY langsung emosi.

Mengapa Boediono bisa setenang itu?
Karena ajaran Kejawen dan mungkin peran istrinya sebagai orang Katholik.

Ada apa dengan Katholik?
Katholik, Kejawen, dan NU itu memiliki peran yang sama. Punya pengendalian diri yang hebat. Kepasrahan kepada Tuhan, sangat nyata. Katholik, Kejawen, NU, memiliki paralel dengan ketat, kemiripannya tinggi. Mereka meyakini, “Hidup ini apa sih. Hidup yang sebenarnya adalah nanti. Kita hanya diberi tugas untuk baik sama orang lain saja”. Dan sosok Boediono tampak sekali sebagai Kejawen yang tidak pernah neko-neko dalam hidup.

Selain dari fisik, apa kesederhanaan dari Boediono yang lain?
Boediono menjadi pejabat sejak zaman Pak Harto, cuma memiliki kekayaan 18 miliar. Kalau yang lain pasti sudah ratusan miliar. Itu pun sudah dihitung sama kucing dan kursi bututnya.

Kira-kira mengapa Boediono belum naik haji juga?
Ya, belum terpanggil saja. Kembali lagi, di Indonesia, haji itu menjadi ukuran utama, hanya formalitas belaka. Padahal penyimpangannya banyak. Banyak orang yang sudah naik haji merasa dosanya habis. Banyak orang pulang dari haji, 40 hari pakai sorban, setelah itu kembali lagi kepada sifat aslinya. Boediono tidak mau seperti itu.Tingkat kepercayaan tinggi.

Umroh?
Boedionio tidak merasa hal itu penting. Mendekat dengan Tuhan kan tidak harus ke Arab. Kalau orang yang agamanya Islam setengah-setengah, pulang dari haji banyak ngomong, takut sendiri, itu bentuk kegelisahan dia sendiri, banyak cerita yang aneh-aneh. Padahal tidak ada seperti itu. Ketakutan dia itu sudah terpola di otaknya sehingga ketika di Mekkah bayang-bayang itu semua muncul.

Boediono diperkirakan tidak selincah Kalla?
Oh tidak. Dia hanya ngomongnya saja yang lambat,tetapi kalau nggerakin uang jauh lebih cepat, kalau Kalla baru 10 meter, dia sudah 100 meter.

Jadi, tuduhan PKS bahwa Boediono tidak islami?
Islami tidak penting. Yang penting kelakuannya. Dia rajin sholat juga ngelakoni. Ngelakoni puasa Senin Kemis.

cek berita lain di: www.indonesia-monitor.com

Category: blog, Tags: | posted by:masdodi


9 Responses to “Heboh Katolik di Musim Kampanye”

  1. E’ e’ e’ e’
    Begitu ya creritanya?!
    Silahkan yg cocok untuk memilihnya, yg gak cocok ya milih lainnya.
    Kalu gak cocok semua? Pilihlah bilung.

  2. Fayyaz says:

    Selamat untuk memilih pilihan anda,mungkin cerita diatas salah satu masukan buat kita untuk menentukan pilihan.
    bagi yg kurang berkenan atau kurang sependapat ya jangan ndersulo…….
    setan sing seneng nek awak dewe ndersulo….yo to….?

  3. Fayyaz says:

    Selamat untuk memilih pilihan anda,mungkin cerita diatas salah satu masukan buat kita untuk menentukan pilihan.
    bagi yg kurang berkenan atau kurang sependapat ya jangan ndersulo…….
    setan sing seneng nek awak dewe ndersulo….yo to….?
    mari kita bangun negeri ini dengan kedamaian meskipun berbeda-beda…aamiin.

  4. Mengapa kita tidak kembali kepada cita-cita para pendiri bangsa (“founding fathers”) waktu mendirikan bangsa ini sebagai kerangka acuannya, “satu untuk semua dan semua untuk satu” tanpa membeda-bedakan apapun latar belakangnya. Negeri ini adalah milik kita bersama, itulah yang diperjuangkan para pahlawan kita… .

  5. yogo says:

    Setuju dgn Pak Wik..mau kucing warna item,klawu,belang..yg penting bisa nangkap tikus..kasarnya begitu,mudah2an hal2 yg berbau Primordial tidak perlu dipertentangkan dan diperdebatkan. Cekap semanten,suwun..

  6. meds says:

    Setuju dengan pendapat Pak Wik, Indonesia bukan hanya milik satu golongan.

    isu ini jelas mau menembak PKS, anggota koalisi SBY – Boediono, yang selama ini keras terhadap sesuatu yang tidak “islami”, apalagi bukan Islam. Jadi menjadi pertanyaan, bagaimana partai ini bisa bekerjasama dengan sesuatu yang selama ini diserangnya.

    Tulisan di atas mengupas sisi baik Budiono, juga sisi “baik” isterinya yang justru karena dia Katholik. seolah-olah membela isteri Budiono yang lebih moderat dan santun karena dia Jawa bukan muslim.

    namun juga tersembunyi maksud lain yang negatif, menunjukkan bahwa isteri cawapres Budiono adalah katolik. Ini merupakan propaganda untuk mempengaruhi pemilih yang “islami”. isu ini sensitif untuk pemilih PKS.

    Memang penggunana isu seperti ini untuk tujuan “black campaign” saya tidak sependapat, juga tidak fair. Indonesia itu majemuk, terdiri dari berbagai suku, agama, dan kepercayaan.

    penggunaan isu ini (untuk saat ini) adalah tindakan tidak kreatif dan picik karena kekurangan isu bermutu untuk lebih unggul dari pesaing. penggunaa isu seperti ini hanya cocok untuk partai yang punya pemikiran picik.

    Namun seperti banyak komentar di atas, silakan memilih dengan nurani (maksudnya bukan partai h lho). Kalau bisa sih lihat visi-misinya. yang paling bagus, yang sekiranya paling cocok, pilih saja. kalau bisa jangan golput.

    ikut memilih, untuk Indonesia yang lebih baik.

    catatan:
    Saya tidak dalam posisi tahu apakah benar isteri Budiono seorang katolik, saya hanya mengambil dari tulisan di atas.

  7. Bunda Faza says:

    FAZA GALLERY Membuka Peluang tuk jd AGEN Jilbab Balita MUFIDA, Diutamakan tuk Wilayah BOGOR tapi tuk wilayah lain juga tidak apa2 loh….

    Juga Peluang tuk jadi SUB AGEN tuk wil Bogor, Depok dan sekitarnya or wilayah lain pun punya kesempatan ini.

    Yuk…Gabung bersama kami. We wait u to be our parthner bussiness…Ayo jangan lewatkan kesempatan ini.

    Kunjungi http://www.fazagallery.co.cc
    Silahkan hubungi kami email : fazagallery@gmail.com atau contact Faza Gallery

    Terima Kasih, Semoga bisa menjadi mitra FAZA GALLERY yang bersahabat.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

MAGANGAN LURAH

30 - Jul - 2009 | massito | 14 Comments »

Undangan Mengisi Blog

3 - Aug - 2007 | meds | 36 Comments »

PROMOSIKAN BLOGGER PURWOREJO?

15 - Dec - 2008 | indiez | 10 Comments »

“Njajah Deso Milang Kori”, Petualangan Panjang Menuju Kota Purworejo

25 - Nov - 2014 | Febri Aryanto | 5 Comments »

Kemiskinan di Kabupaten Purworejo

27 - May - 2009 | masdodi | 21 Comments »

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net