Rumah dan Kenangan masa kecil di desa
4th May 2009 | By: slamet wijadi
Barangkali benar kata orang, bahwa salah satu ikatan emosional yang paling mendasar dalam diri manusia, adalah kenangan terhadap tempat dan lingkungan dimana dia dilahirkan dan dibesarkan. Contoh yang paling jelas dalam hal ini adalah ritual mudik waktu lebaran. Dengan segala cara orang berusaha untuk “mudik”. Kekuatan apa yang mendorong ini, jawaban yang umum adalah “ingin kembali ke kampung halaman, tempat ia dilahirkan”.
Disitulah tersimpan segala kenangan manis masa kecil bersama orang-tua dengan segala kasih sayangnya, dengan saudara2 dan teman2 sepermainan, dengan rumah dimana dia dilahirkan, dengan lingkungan yang akrab dia kenal sehari-hari. Pada dasarnya ia ingin “kembali” ketempat dia lahir, seakan ada kekuatan magnit yang luar biasa daya tariknya, seperti diibaratkan dalam ungkapan “kebo bali menyang kandange”, “manuk mulih menyang susuhe”.

Rumah susuk/mangunrejo sekarang....
Hal tersebut tidak terkecuali berlaku bagi diri saya juga. Walaupun saya telah meninggalkan rumah tempat kelahiran saya hampir 70 tahun yang lalu. Namun ikatan emosional saya dengan tempat itu tidak pernah berkurang, bahkan dengan makin tambahnya umur terasa makin kuat. Begitu banyak kenangan manis yang tidak mungkin terlupakan yang terkait dengan rumah dan lingkungan tempat saya dilahirkan.
Saya tidak tahu kapan rumah tempat kelahiran saya itu dibangun untuk pertama kalinya, yang saya tahu, pada waktu saya mempunyai kesadaran pertama kalinya, rumah itu sudah berbentuk seperti yang ada sampai saat ini. Rumah itu terdiri dari tiga bagian, bagian depan berbentuk limasan, di tengah joglo dan di belakang limasan. Sesungguhnya masih tersimpan dalam ingatan saya bahwa limasan depan itu merupakan tambahan dan ternyata pembangunannya terjadi pada permulaan tahun 1937, pada waktu saya berumur lima tahun, sedang rumah joglo tengah Bapak tidak pernah cerita bagaimana asal-usulnya dan kapan dibangun.
Rumah kami tersebut berdiri di atas lahan seluas sekitar 2500m2, hanya saja yang ditempati bangunan adalah bagian pekarangan 1000m2, sedangkan sisanya merupakan pekarangan kosong dengan berbagai tanaman sebagian besar adalah pohon kelapa dan kebun buah-buahan , seperti: sawo, jeruk bali, mangga, nangka, jambu dll. Lokasi rumah kami berada didesa Susuk/ Mangunrejo, kecamatan Ngombol, Purworejo, terletak ditepi jalan kabupaten Purwodadi – Grabag pada Km 5.5, bersebelahan dengan pasar desa Susuk/ Mangunrejo, yang waktu itu lebih dikenal dengan nama pasar Wunut (mungkin dulunya terletak di desa Wunut).
Sebelah kanan rumah ada jalan desa menuju ke “terbis” (sawah) dan di ujung jalan itu bertempat tinggal Lurah Desa jaman itu. Di belakang rumah terdapat pekarangan kosong milik tetangga, Pak Carik desa, yang masih ada hubungan saudara. Dengan demikian rumah kami itu tidak mempunyai tetangga satu pagar.
Di rumah itulah seluruh saudara saya sebanyak 10 orang, lima lelaki dan lima perempuan, termasuk saya sebagai anak nomer lima, dilahirkan, semuanya lewat jasa mbah Dullah dukun bayi, ( kecuali 2 adik saya terakhir dengan pertolongan bidan). Yang tertua perempuan lahir tahun 1919 dan yang termuda adik lelaki lahir tahun 1940. Semua saudara saya hidup sampai di atas usia 70 tahun lebih, kecuali seorang adik perempuan yang meninggal muda karena kecelakaan dan seorang adik lelaki, dalam usia 67 tahun.
Dari 10 bersaudara kini masih “tersisa” 3 orang dan saya yang tertua, kini menjelang usia 77 tahun.
Bapak kami mencatat tahun-tahun kelahiran semua anak-anaknya termasuk hari dan hari pasarannya pada pintu dalam bagian tengah rumah dengan menggunakan kapur sirih sehingga tidak mungkin terhapus.
Untuk jamannya dan ukuran desa, Bapak saya dapat dikatakan “terpelajar”, karena mengenyam pendidikan SD di Kutoarjo disamping pendidikan di beberapa pondok pesantren, termasuk pesantren Tebuireng Jombang. Barangkali karena kelebihan itu Bapak diangkat sebagai Bekel Mangunrejo, sejak tahun 1926 sampai mengundurkan diri pada jaman Jepang.
Menurut Bapak, beliau mengundurkan diri karena “tidak sampai hati” untuk memberangkatkan orang-orang desa sebagai “Romusha” (pekerja paksa jaman Jepang) yang diyakini tidak akan kembali lagi, dan ternyata kenyataannya memang demikian.
Kehidupan kami di rumah itu sampai menjelang kedatangan Jepang, menurut ukuran desa, “sangat berkecukupan”. Sebagai Bekel, Bapak menikmati beberapa bahu sawah bengkok disamping sawah milik sendiri, sedangkan ibu berdagang macam-macam kebutuhan sehari-hari yang nampaknya cukup berhasil.
Untuk mendukung kegiatan itu, ibu membeli dokar/ andong dan grobag lengkap dengan kudanya. Saya masih ingat, sebagai anak, tidak ada sesuatu yang lebih dinanti-nantikan daripada diajak ibu ikut pasar ke Kutoarjo naik dokar. Sementara ibu belanja untuk dagangannya, saya diajak Pak Kusir untuk minum “es gosrok Pak Tjokro” di salah satu emperan toko. Es itu sangat terkenal waktu itu. Penyajiannya bukan dengan gelas, tetapi dengan piring yang berisi berbagai macam buah dan kemudian diberi es gosrok sampai “munjung” dan dituang sirup merah. Sungguh kenikmatan tanpa tara.
Kemudian datang acara yang saya tunggu-tunggu yaitu diajak ibu untuk makan nasi gule di koplakan dokar di sebelah barat pasar yang menurut saya rasanya sungguh ”ruaar biasa”, “mak nyuuus”, orang sekarang bilang. Sampai sekarang kalau ke Kutoarjo saya tanya tukang parkir di pasar, apakah masih ada “gule koplakan”, tentu saja dijawab, “niku jaman mojopahit, pun mboten enten”, gantinya sate/ gule Pak Bejo di kulon prapatan, namun setelah saya coba kayaknya kok nggak sama dengan yang dulu, atau karena selera saya sudah berubah.
Satu kenangan lagi dari rumah waktu itu adalah sebuah sumur dan kamar mandi dan “langgar” (mushola) yang terletak di sebelah kiri rumah dimana ayah melakukan sholat sehari-hari dan pada waktu-waktu tertentu “nderes”/ membaca Qur’an. Lumbung padi yang cukup besar terletak di belakang rumah, yang bila habis panen penuh berisi tumpukan padi, ekaligus tempat memeram berbagai buah, disambung dengan rumah lesung untuk numbuk padi.
Di depan lumbung ada halaman luas dengan lantai bata untuk menjemur padi setelah digelari kepang. Agak ke belakang ada kandang kerbau. Kami punya kerbau sekitar 5- 6 ekor,yang di ”gaduhkan”/dititipkan di Pasir/ Wonoroto ; pada waktu musim garap-sawah kerbau itu diambil sekaligus dengan pangonnya. Ini juga bagian kenangan, karena saya selalu ikut mengambil kerbau dan pulangnya bisa naik di punggung kerbau dengan asyiknya.
Selama kerbau ada di kandang kami, saya ikut tidur dengan pangon di”babrakan” di atas kandang, karena pagi harinya ingin ikut angon ke sawah dan “ngguyang” (memandikan) kerbau sambil “langen” di kali tengah sawah.
Sebelah kandang kerbau terletak 2 gedokan/ kandang kuda. Dan untuk “ngombor” kuda dibutuhkan rumput yang banyak; untuk ini saya diajak Pak Kusir ikut “ngarit”/ cari rumput dengan grobag ke Benco Rowodadi, daerah Mundusari, Grabag, yang waktu itu banyak rumputnya di rawa-rawa.
Yang saya senangi, sepanjang jalan ke Benco banyak pohon mangga yang penuh buah dan sangat rendah sehingga sambil naik grobag bisa “metik” begitu saja (mencuri yaa? untung nggak ketahuan yang punya), satu kenangan yang indah.

Jalan Purwodadi-Grabag, depan rumah.......
Di depan rumah terdapat “kalen”/ saluran irigasi dengan air yang jernih yang selalu mengalir sepanjang tahun. Bila datang musim hujan kalen tsb penuh airnya dengan arus yang deras; inilah saat yang paling mengasyikkan untuk main berenang/ langen dengan anak-anak desa lainnya. Biasanya kami “ngendang” ikut aliran dari depan rumah berakhir di kedung depan pasar, sungguh menyenangkan. Di pojok kiri kanan depan rumah ada “suwakan”/ kolam kecil yang di lengkapi “rumpon” untuk menampung/memikat ikan dari kalen; pada waktu-waktu tertentu suwakan itu di”tawu”/ dikuras dan dapatlah berbagai jenis ikan yang cukup untuk lauk makan sekeluarga.
Di tengah-tengah pasar desa sebelah rumah terdapat pohon asam tua yang besar, tinggi dan rindang dengan buahnya yang lebat, dimana “monyet-monyet kecil “sering “penekan” dan bergelantungan dengan canda-ria sambil makan buah asam yang manis (yang sudah mateng) sampai datang ayah yang khawatir akan polah-tingkah “berandalan kecil” dan berteriak-teriak “turun-turuun”… tapi ya tidak kapok juga.
Kenangan lain yang tidak mungkin terhapus adalah saat datangnya bulan Ramadan/puasa, dimana suasana desa jadi “grengseng”, khususnya bagi anak-anak. Siang hari mereka di masjid belajar ngaji, sore hari setelah buka puasa berbondong-bondong ke mesjid untuk terawih dengan “sangu” kobokan untuk berebut minta jatah “jaburan” segera setelah selesainya sholat terawih, biasanya berupa dawet, “rucuh” kelapa muda atau kolang-kaling dengan juruh gula merah, semua ini disediakan oleh Pak Kaum. Waktu saur kadang-kadang ikut keliling desa meneriakkan “saur, sauuur”….
Dan hari besar yang ditunggu-tunggu akhirnya datang…. Lebaran. Bagi saya betul-betul istimewa karena pada hari itu, setelah pulang dari sholat Ied, kami mendapat “sangu” dari ibu, masing-maisng anak sebesar 10 sen uang “krincing”, ditambah tambahan dari hasil”sowan2”, bisa mencapai 20 sen, ini jumlah yang cukup besar waktu itu, mengingat harga “saoto” hanya satu sen sepiring dan “dawet pikulan wetan kali” satu mangkok setengah sen ( sak-endil/ sigar), sisa uang masih cukup untuk ke Purwodadi, nonton ketoprak di pasar, ( lakon yang digemari adalah “Aryo Penangsang”), jajan sepuasnya kemudian pulang naik dokar rame-rame. Hari berikutnya nonton segoro kidul biasanya rame-rame naik grobag terbuka yang dihias janur dan di jalan antara Megil/ Grabag dan Ketawang diadakan semacam balapan dengan grobag-grobag lain sambil teriak-teriak dan saling mengejek…Sungguh kenangan yang tidak terlupakan.
“Jaman normal “ itu tiba-tiba berakhir dengan datangnya perang, Belanda jatuh dan Jepang datang. Waktu itu saya sudah duduk di kelas 4 Ongko Loro Wunut. Setahun kemudian tamat “Kokuming Gakko” (SD Jepang) dan saatnya saya meninggalkan desa, berkelana ke Bandung ikut kakak; pemulaan kemerdekaan sekolah di Purworejo menamatkan kelas 6 di SD Widodo terus ke SMP dan selanjutnya tidak pernah lagi bermukim di rumah; demikian dengan saudara-saudara saya juga “bubar” meninggalkan rumah itu, bahkan sudah sebelumnya. Bapak mengundurkan diri sebagai bekel, ibu mengurangi kegiatan berdagang, rupanya kerja keras selama ini, berakibat dengan mundurnya kesehatan dan datangnya berbagai penyakit. Sampai akhirnya datang berita duka, beliau wafat permulaan tahun ’60. Sekarang Bapak harus tinggal seorang diri di rumah yang lumayan besar itu; dengan mufakat seluruh keluarga Bapak mengambil pendamping baru, seorang janda tanpa anak, yang ternyata cocok mendampingi Bapak hampir 30 tahun sampai Bapak wafat dalam usia 93 tahun ditahun1993.
Sebelum wafat Bapak sudah “membagi” seluruh miliknya kepada masing-masing anak, yang telah disetujui bersama. Rumah beserta pekarangan “jatuh” pada adik “ragil”, sedangkan separoh pekarangan sisanya menjadi hak kakak lelaki yang tertua, lain-lainnya mendapat bagian sawah yang diterima dengan senang dan ikhlas.
Yang menjadi masalah ialah, bahwa adik saya itu tidak berminat untuk pulang desa, krn sudah nyaman dengan tempat tinggal dan pekerjaannya di Bandung, dan ingin menghabiskan sisa hidupnya di kota itu . Lalu bagaimana dengan “nasib” rumah itu? Bapak sudah “wanti-wanti” sebelum wafat agar rumah itu jangan sampai dijual karena begitu banyak sejarah keluarga terkait dengan tempat itu. Akhirnya adik saya sebagai pemiliknya menawarkan kepada siapa saja diantara saudara yang berminat memiliki rumah itu dengan “ganti rugi yang layak”.
Oleh karena tidak ada satupun diantara saudara berminat untuk memiliki, maka saya mengajukan diri bersedia untuk memberikan “ganti rugi” kepada adik yang kemudian sekaligus akan menjadi pemilik rumah tersebut, dan rapat keluarga menyetujui secara bulat. Demikianlah , maka rumah itu menjadi milik kami, namun kami berjanji kepada saudara-saudara bahwa saya akan menjadikan rumah itu sebagai “Griya Atmosudarmo” dan siapapun dari “trah” Atmosudarmo boleh menggunakan rumah itu untuk kumpul-kumpul keluarga, re-uni dan sekaligus bermalam disitu.
Rumah kemudian kami “renovasi” dengan mengganti atap/ genting dan bagian-bagian yang sudah lapuk tanpa mengubah bentuk bangunan aslinya, lantai dan kamar mandi disesuaikan dengan “tuntutan jaman”. Jadilah rumah tersebut sebuah hunian yang cukup nyaman yang menyimpan kenang-kenangan manis masa kecil bagi seluruh keluarga besar Atmosudarmo.
Kini rumah itu ditunggu oleh keluarga yang kami tugaskan untuk itu dengan pengawasan keponakan yang tinggal di desa. Dalam setahun beberapa kali kami pulang untuk beberapa waktu. Sesungguhnya ada keinginan untuk “menetap”, apalagi sekarang ini segala kemudahan sudah tersedia di desa,ditambah dengan alam dan lingkungan yang akrab, udara yang segar, makanan yang murah dan sesuai dgn selera, namun hal ini masih terkendala beberapa hal, utamanya, keinginan untuk berada dekat dengan anak-cucu di Jakarta/Bandung.

Reuni dengan sebagian keluarga besar..........
Beberapa kali telah diadakan re-uni keluarga besar, biasanya pada hari Lebaran, sambil bersama “nyekar” ke makam leluhur. Anak-cucu kami, keluarga besar kami sangat menikmati suasana rumah dan alam perdesaan, tempat asal-usul leluhur mereka, tempat eyang mereka dilahirkan dan dibesarkan, semoga akan menjadi kenangan indah bagi mereka dikemudian hari.
Pada waktu saya akan mengakhiri tulisan ini, terdengar sayup-sayup dari rekaman kaset lagu “the green, green grass of home” yang dinyanyikan oleh Tom Jones dengan penuh perasaan, sebuah lagu hit tahun 70-an yang bernada sendu/ melankolis dan yang sampai sekarang masih populer, yang menggambarkan akan kerinduan dan betapa dalamnya kenangan seseorang dengan kedua orang-tuanya, dengan orang yang ia sayangi, dengan rumah dan lingkungan dimana ia dilahirkan dan dibesarkan, sebegitu dalamnya hingga terbawa-bawa dlm mimpi, justru pada malam terakhir sebelum ia harus mengakhiri hidupnya; sungguh sebuah lagu yang sangat menyentuh … .
Slamet Wijadi
Tweet
Home| Category: cerita, Nostalgia | Trackback URI
Tulisan sesudahnya: Cerita Gunung Condong bagian 2 »





Pak Slamet, tulisannya lumayan panjang, kisahnya mengagumkan, cerita tentang kampung halaman memang tidak ada habisnya, dari masa kecil hingga sekarang sudah tua tetap terkesan bila mengenang masa kecil dulu. Mudah2an Pak slamet terus kerso nulis supaya bisa dinikmati oleh generasi penerus.
Terima kasih
[Reply]
“Samping Dipan Rono Aling-Aling ”
Ning ndi paran ijek eleng Ndesone = Ra Nyambung
Nyuwun Ngapunten !
[Reply]
Mas Purs, trimakasih untuk tanggapannya. Kenangan masa kecil memang tidak mungkin terhapus dari ingatan sepanjang hayat. Hubungan kita dengan tempat kelahiran begitu eratnya, ada yang mengibaratkan sebagai hubungan antara pohon dan daunnya, tidak mungkin terpisahkan. Insya Allah, saya akan mencoba menulis terus semampu saya, karena ini bagian dari “latihan otak” agar tidak cepat karatan. salam, sw.
[Reply]
Mas Din, trimakasih untuk komentarnya. Tulisan itu merupakan kenangan berdasar atas ingatan saya tentang masa kecil saya yang tidak mungkin terlupakan sepanjang hidup kemanapun perginya, namun kalau dinilai “tidak nyambung”, ya monggo saja. salam, sw.
[Reply]
“Nyuwun Ngapunten” Anu Lhoo Sing mboten Nyambung niku Parian kula.. heee
Salam Saking JKT. Ngawir (Ngandagan Wirun) KTA
[Reply]
Mas Din, we lah dalah, masih seneng parikan tho? Kalau begitu inilah parikannya “mangan kupat mawi santen. Yen kulo lepat nyuwun ngapunten”, sami2 mas, hidup memang tidak perlu terlalu serius…, salam, sw.
[Reply]
Gunarso TS Reply:
August 12th, 2010 at 9:26 am
Menawi kodok kalung kupat, niku napa Pak Wiek? Awak boyok sing ra kuwat, he he….
[Reply]
slamet wijadi Reply:
August 12th, 2010 at 10:46 am
Kurang jamune mas Gun, wis BLT (balung tuwa) harus tahu diri…
[Reply]
Pak Slamet,
Setelah saya membaca tulisan Bapak jadi ingat lagu waktu saya masih kecil yaitu : Desaku yang kucinta pujaan hatiku, selalu kurindukan ………….
walaupun sebagian saya sudah pernah dengar waktu Pak Slamet crita tentang tanah kelahiran tapi rasanya nggak bosan membacanya karena memang saya suka yg berbaru ndeso. Contohnya saya baru saja pulang dari reuni SMA di Pondok Tingal desa Salaman Borobudur. Kebetulan saya yg dipercaya meng arrange selama nginep di Pd Tingal. Saya pesan sama tukang masaknya untuk disediakan makan malam dan besuknya sarapan dengan menu ndeso. Malam menunya bakmi godog yg mongah2, oseng tempe lombok ijo, ayam goreng kampung dll. Minum di samping air putih ada wedang uwuh (maksudnya uwuh adalah sampah yg terdiri dari : salam, jahe, sere, kayu manis, cengkeh dan apalagi saya ga tau namnya pokoknya rempah2) weleh seger dan anget di dada. Bayangin habis perjalanan selama 14 jam Jakarta – Borobudur berhenti 7 kali krn Ibu2 lansia setiap 2 jam harus pipis hehehe disuguhi semacam itu jadi giras lagi. Besuknya menu jenang magelangan yaitu bubur dengan lauk sayur lodeh, telor pindang areh dan krupuk kere. Wah pokoknya teman2 pada appreciate ke saya kog bisa milih menu yg aneh tapi uenak katanya. Itulah sebabnya Pak Slamet yg berbau ndeso itu ternyata banyak nikmatnya. Kembali ke crita Bapak di atas saya salut sekali rasanya semua kejadian masih bisa diingat dengan jelas dan baik. Mudah2an dengan sering nulis di blogger ini kepikunan tidak akan terjadi. Amin. Salam – Aries.
[Reply]
Oh ya ada yg kelupaan, setelah saya melihat depan rumah Pak Slamet yaitu jalan Purwodadi-Grabag kog bisa bersih banget ya kaya di luar negeri? Jangan2 sebelum diphoto disapu dan dipel dulu? hahahaha
[Reply]
Mbak Aries, eee jadi baru re-uni to, makanya fb-nya nggak di respon dan baru skr. Wah ya seneng kumpul2 dgn teman2 seangkatan ditengah suasana yang “kondusif” spt pondok tingal. Dulu waktu kami mampir disitu pesen saya memang mie godok “mongah2″, kasih sambel kecap sedikit, jan pas tenaaan…
Tapi saya baru tahu kalau ada “wedang uwuh”, edan tenan nggawe jeneng saenake, namun kalau hasilnya jadi bikin “giras” ya apa artinya sebuah nama, yang penting kan “hasilnya”.
Saya juga hampir nginep di pondok tingal, tetapi waktu itu ada rombongan jadi penuh. Apa masih pakai obor2 di halaman?
Menu khas desa memang mengundang selera, makanya banyak rm menggunakan nama “desa”, trend-nya kayaknya kesitu. Nggak salah memilih “pimpro” mbak Aries, selamat.
Thanks kalau senang dengan apa yang “berbau ndeso”; lebih2 dengan suasana kehidupan kota spt sekarang, ada perasaan rindu akan suasana perdesaan yang tentram, adem dan ayem spt dirasakan sekitar Borobudur dan pondok tingal itu.
Tentang jalan didepan rumah, yang bener aja, kok kurang kerjaan nyapu dan ngepel jalan; ya memang begitu sepanjang 10 km.Makanya saksikan sendiri nanti kalau kesana, salam, sw.
[Reply]
Pak Slamet, masih ada crita lagi nih semalem di P.Tingal dilanjutkan ke Perkebunan teh Tambi di puncak Wonosobo. Tapi sebelum sampai tujuan mampir makan siang dulu di Wonosobo yaitu mie ongklog, ternyata bakmi nyemek (kuahnya dikit dan kental)pakai sate daging sapi, juga mongah2 dicampur sambel pakai cabe rawit ijo weleh jadi gemrobyos tapi asyik. Kita nginep di Tambi semalam udaranya memang dingin banget, esoknya tea walk sambil meninjau pabrik teh. Kebanyakan biayanya sponsor dari teman2 yg jadi orang dan masih aktif. Yg sudah pensiun tinggal bayar iuran yg relatif murah dan duduk manis menikmati tour yg isinya cuma ger2an dan guyonan saru2 hehehehe maklum ini sudah 40th kita lepas dari SMA. Tapi saya boleh bangga ya setiap ketemu teman laki2 pasti teriak ini Aries Udjiwati yg rumahnya Kadipaten to? Padahal sumpah saya tdk ingat dia sampai acara selesai,
tapi ya demi menjaga sopan santun pura2 ingat hahaha. Saya habis chatting dengan Yoke yg masih di Belanda sampai 2 jam, maklum gratis to dan mumpung ada kesempatan. Tulisan Pak Slamet berikutnya saya tunggu. Salam Aries.
[Reply]
Mbak Aries, trims untuk cerita tambahannya, kayaknya re-uni dan perjalanan yang sangat mengasyikkan, jadi iri,tapi temen2 SMA saya tinggal beberapa “gelintir” mana sakit2an lagi. Makanya mumpung masih bisa dimanfaatkan saja.
Mie “ongklok” ini masih keluarga mie godok juga, cuma kuahnya sedikit, cocok banget di tempat yang dingin2. Dua tahun lalu kami juga ke Wonosobo, dari Susuk kan deket nggak sampai 2 jam. Udaranya sejuk, kotanya bersih ayem tentrem, makananya murah dan enak. Tadinya mau bermalam di hotel Kresna, tetapi nggak jadi, wong rumah sendiri deket dan nggak usah bayar. Kami masih ingin berkunjung lagi, kebetulan ada temen disana.
Rupanya di SMA banyak “pengagumnya” ya, jadi sana kenal situ “lupa”…lantas jadi gr sedikit. Memang masa SMA betul2 masa yang istimewa. Berapa orang yang ikut re-uni?
Kapan Yoke pulang, kasian Mas Hanung sendirian, tapi di Belanda saat ini udaranya masih enak2nya, asal jangan kebablasan saja, sekali lagi trims untuk ceritanya, salam, sw.
[Reply]
Pak Slamet, ada tambahan lagi nih mumpung ingat. Tgl.25 April y.l. kan kumpul ibu2 pensiunan PTSC di rumah Indri. Ngobrol sana sini Peni dan Yani Jalu tanya kapan dong reuni yg kaya di rumah Pak Slamet dulu? Saya bilang ya tergantung ada yg mau arrange gak? kalo ada ya pasti jadilah masalahnya siapa? Saya crita kalo masih kontinyu komunikasi dengan Pak Slamet walaupun cuma lewat fb, blogger dan email malah kadang chatting. Mereka heran wah canggih banget ya Pak Slamet? Singkat cerita karena saya iming2i istana susuk yg dulu pernah ada rencana ke sana pada kepingin. Gak usah banyak2 yg penting klakon, Peni dan Yani dah daftar tuh Pak mau ikut, sekarang bola ada di tangan Bapak kapan selonya? Tdk usah dalam waktu dekat ini kog Pak dan kayanya kita yg mau berangkat 4 Ibu2 aja biar santai gak usah pakai panitia2an yg penting bisa ngrasakke mertamu di Susuk. Salam Aries.
[Reply]
Mbak Aries cs, trims atas minat ibu2 berkunjung ke desa, ini satu kehormatan.Untuk langkah selanjutnya kita bicarakan via e-mail/phone saja.
Untuk reuni PTSC memang harus ada yang mau repot. Setiap kali saya tanya Ketuanya, selalu dijawab tunggu “sponsor”, yang tidak pernah ada…
Berita lain Bu Donny dirawat di RSPI, sudah seminggu, kami sudah nengok, gangguan jantung.semoga lekas sembuh.
Itu ibu2 suruh baca blogger pwr, biar rame, salam,sw.
[Reply]
Masya Allah melihat susana desa yang begini jadi ngangenin hi hi hi terus pengin pulang kamapung golek iwak nang kali wunut he h e
[Reply]
Mas Gusnur, trims untuk tanggapannya. Memangnya asli desa Wunut? Kalau didesa biasanya jalan pagi ke kulon Wunut,udaranya segar, apalagi jalannya sudah hotmix. Memang asyik “nyeser”, mancing dan “gogoh” di kali Wunut. Waktu kecil saya ngguyang kerbau di kali Karangtalun-Trukan terusannya kali Wunut, sambil langen, nikmat… . Salam, sw.
[Reply]
waduh, jadi inget cerita mbah kakek saya dulu. saya tunggu ceritanya lagi, pak Salmet.
[Reply]
Kok jadi inget cerita mbah, apa kakek dari desa juga. Dari mana? Trims untuk tanggapannya, salam, sw.
[Reply]
Pak Slamet,
Saya suka baca tulisannya, kurang lebih kita para perantau ini punya kisah yang sama dengan Bapak.
Dalam bahasa Latin dibilang “OLIM MEMINISE IUVABIT” selalu menyenangkan mengenang hal-hal dimasa lampau.
Aku jadi inget kata SUWAK’AN/CEKODEKAN tempat ikan-ikan ngumpul, trus ditawu, entuk iwak bethik, wader, lunjar, sepat ….jan nyenengke tenan.
Suwun, HASTO (Tlogorejo, Purwodadi, Purworejo)
[Reply]
wew..jadi inget rumah, bak ibu dan keluarga
[Reply]
Mas Hasto, trims untuk tanggapannya. Memang selalu menyenangkan mengenang hal2 masa lampau, itulah sebabnya banyak orang yang bikin “memoir”, tidak lain adalah untuk mengenang hal2 lampau yang selalu terasa manis. Namun lebih dari itu, mengenang masa lampau juga bisa merupakan sumber kekuatan untuk menghadapi masa datang seakan “recharging”, itulah positifnya, spt kalau seseorang baru pulang kembali dari kampung halamannya, terasa “segar”.
Kalau soal “tawu”, itu pekerjaan saya sehari2 waktu kecil, paling mendongkol kalau kita tawu di selokan dan tinggal memanen ikannya, anak2 gede datang nimbrung, namanya “jrupuh”, ikut mengambil ikan tanpa ikut nawu, itulah yang kita lihat kelakuan banyak orang disekitar kita, mau enaknya nggak mau capeknya… salam, sw.
[Reply]
Mas Nurrahman,rindu rumah,bapak,ibu dan keluarga adalah perasaan yang paling wajar dan alamiah dan kalau tulisan saya menggugah hal2 itu saya bahkan mengucapkan terimakasih… salam, sw.
[Reply]
bar maca banjur eling omah ,kenangan masa kecil gak bakalan iso ilang angon kebo,guyang nang plered tengah.omahku koyo opo yo saiki wis suwi gak bali.bapak simbok lan adhi2ku,konco2 kabeh piye kabare nang ndeso kono.ayo nyeser, tawu bareng neh.kapan yo aku biso mulih nang majir neh?
[Reply]
Mas Sutarto, kan lebaran masih jauh, jadi tilik kampung bisa mulai direncanakan dari sekarang. Sekali2 pulang kampung perlu, ibaratnya untuk “isi batery” sekaligus berkumpul dgn ortu, kwn2 lama sambil menikmati alam perdesaan dan menghirup udara segar… .salam, sw.
[Reply]
Pak Wik
saya sangat terkesan dengan tulisan2nya, saya jadi kepingin bersilaturahmi sekaligus belajar.
Kalo boleh saya dikasih alamatnya, siapa tahu pas ada waktu saya bisa sowan.Puniko tlp kawula 0818 0808 1567 ugi 021-7092 4265
Matur nuwun,
[Reply]
Mas Sugeng, terimakasih untuk tanggapannya, saya jadi merasa “tersanjung”, padahal tulisan2 itu sekedar untuk mengisi waktu luang, “sinambi kalaning nganggur”, sambil untuk melatih otak agar tidak lekas pikun, dan tulisan yang paling gampang ya ingatan masa kecil itu.
Kalau ingin bersilaturahmi, monggo saja, saya dgn senang untuk menyambutnya. Alamat saya nanti disampaikan via telpun saja, salam, sw.
[Reply]
pak slamet saya kagum dengan cerita masa lalu desa susuk, saya juga anak desa susuk. saya tertarik dengan massa lalu desa susuk yang sebelumnya desa mangunrejo.
[Reply]
Mas Saipul, terimakasih untuk comment-nya, semoga cerita itu bisa menambah rasa cinta kpd desa tempat kita dilahirkan dan dibesarkan krn begitu banyak kenang2an manis yang terkait dengan masa lalu di tempat itu. Apa masih sering pulang ke desa? bagaimana Lebaran nanti, kalau pulang mampir di rumah saya, biasanya saya juga pulang. salam, sw.
[Reply]
pak slamet
cerita yang panjang dan bagus mengigatkan saya akan kampung halaman dan kenangan di masa lalu salam kenal dari budiari wong pangen
[Reply]
Mas Budi, trims untuk tanggapannya, salam kenal juga dari saya wong ndeso yang skr.jadi penduduk kota namun masih sering2 pulang ndeso. Syukur kalau cerita itu bisa mengingatkan kampung halaman dan kenangan masa lalu, semoga juga bermanfaat untuk menghadapi kehidupan kedepan, salam, sw.
[Reply]
Pak Slamet, saya sangat kagum dengan tulisan2 bapak. Perkenalkan pak, saya bocah kelahiran Mendiro tahun 1948, sekarang sampun pengangguran Ujaring kondo, Bapak (alm) saya adalah lurah nDiro yang pertama setelah pemerintahan desa terpisah dari Kel. Susuk. Beliau wafat saat saya belum sekolah. Ditulisan Pak Slamet mengenai SD Wunut (yang merupakan almamater pertama saya juga), ada foto Pak Satiman (Dwidjotanoyo?)berdampingan dengan danyange SD Wunut Kulon yaitu Pak Guru Sastrosukarjo yang istrinya adalah mBah cilik saya (adik dari nenek saya). Jadi saya nyebut beliau dengan sebutan mBah Guru.Anehnya pak, saya berjodoh dengan wayahe mBah Sastrosukarjo. Mungkin aku termasuk cowok yang kurang payu ya, sedulur kok dipek bojo…..he he! Ohya pak, rumah pusaka keluarga bapak itu waktu saya kecil terkenal dengan “daleme Bekel ngAtemo”. Disuwakan belakang dulu banyak ikan lele; saya suka iku2an mancing bersama anak2 yang lebih dewasa, dengan cara nyolong2 setelah bar mahgrib, habis kalau terang2an mana ada yang berani.Keluarga bapak termasuk keluarga terpandang di dikampung halaman kita pak, tapi saya nggak hapal sopo2 wae putrowayahe Eyang Bekel ngAtemo. Kalau nggak salah ada yang jumeneng di Bandung, yaitu Pak Imam (Iman?)yang pernah menjabat Direktur di PJKA. Saya pernah diutus morotuwo ke daleme Pak Imam nyaosaken undangan. Pak Slamet piyambak sakmeniko jumeneng wonten pundi? Salam…..!
[Reply]
Mas Wariso, komentarnya mantaaab, terimakasih. Saya ini mengenal semua “leluhur” mas Wariso. Pak Lurah Bandirun (ayahanda) itu satu angkatan dengan kakak saya tertua, ibunda (mbak Mur?), satu angk. dgn mbakyu saya. Pak Marsad (Pak De) seumur dgn kakak saya juga. Mbah Kartowigeno (tokoh) Mendiro, ayah Pak Lurah dan Mbah Sontodisastro(?) ayah ibunda, satu angkatan dengan Bapak, bahkan Mbah Guru putri Wunut itu joko-loronya mas Carik, nak-ndulur saya, kakaknya Pak Satiman, patutan satu nak Kusno sebelum dengan Pak Guru Wunut. Pokoknya kalau “silsilah desa” saya agak tahulah…Kalau soal dapat sedulur itu “jamak”, nggak ada hubungan dgn “payu-nggak payu”, mbakyu saya juga dapat mas Satiman, masih nak-sanak, katanya “nglumpukke balung pisah”.
Mendiro itu banyak kenangan untuk saya. Waktu kecil cari “sawo-kecik” sekitar sarean, pagi2 jam 5 dengan obor (takut keduluan yang lain), mencari sisa2 sawo yang dimakan codot, kita ambil keciknya untuk diadu, ada jenggul ada lepak, teman saya yang masih ada mbah Sonto Dikun, kemudian adu gangsingan dan panggalan dan adu gambar wayang. Dirumah Pak Marsad sangat mengasyikkan nonton balapan doro karena ayahnya punya doro balap istimewa yang bisa turun dari ketinggian yang hampir tidak nampak begitu cepat dengan cara yang mengagumkan. Musuhnya adalah Pak Tjokro Sur, ayah Lurah Susuk sekarang yang dulu tinggal di Mendiro. Kalau saya cerita jaman dulu tidak akan ada habisnya…mengungkap kenangan lama memang serasa “kadiyo rinujit-rujit”, ini bhs. dalang Mendiro…
Mas Wariso, tinggal di Bandung? Adik saya paling kecil juga tinggal di Bandung didaerah Citarip. Anak saya mbarep bersama suaminya, keduanya dosen ITB tinggal di kompleks dosen daerah Cigadung. Mbakyu Imam stl mas Imam wafat (2003), masih tinggal dirumah jl Sukabumi. Mas Wariso dimana? Saya didaerah Jkt selatan, silahkan mampir kalau kebetulan ke Jakarta, mohon info-kan e-mailnya.
Saya kira cukup dulu, nanti disambung lagi, salam,sw.
[Reply]
Waduh…….untuk saat ini belum bisa komentar balik. Isih kaget…..deg2an…..gumun……semlengeren,ana piyayi kok hebate koyo ngono! Lha wong aku matur perkenalan kanti data yang sangat2 minim, jebuke malah diblejedi!
Ngaturi pirsa Pak, Pakde Marsad sudah seda th 2002, dimakamkan di Makam Keluarga Rogososro Loano; ibu Murtinah nembe seda tgl 17 Februari 2009 kemarin, dirumah saya, dimakamkan di Bandung Selatan.
Salam!
[Reply]
Mas “W4R150″, maaf saya tidak bermaksud “mblejedi”, cuma bicara apa adanya, karena itu juga bagian dari kenangan masa kecil saya yang terasa manis untuk diingat. Ikut berduka atas wafatnya sang ibu mertua, mbak Mur, juga Pakde Marsad, semoga mendapat tempat yang layak disisi Allah SWT. Saya sedih kalau ingat bhw makin sedikit teman2 saya waktu kecil yang masih tersisa, namun itulah hidup, ada saatnya datang dan saatnya pergi, kita serahkan saja kpd sang Maha Pengatur dan kita tinggal menjalani… salam, sw.
[Reply]
Sembah nuwun, terima kasih Pak; cuma mohon untuk koreksi bahwa Ibu Murtinah yang baru meninggal adalah ibu kandung saya. Ibu mertua saya adalah Sri Sumilah anak mBah Guru Wunut.
Salam!
[Reply]
mas W4R150, maaf saya “keliru” ngetik, krn pada komentar saya terdahulu saya sudah menyebut mbak Mur sebagai ibunda mas War.(lihat #31). Kalau mbak Su saya tahu putranya pak Sastro,adik klas saya.sekali lagi maaf, salam,sw.
[Reply]
nuwun sewu mbah, pirso kalih mbah singodimejo kutoarjo ? kulo putune mbah mangun prayitno, putrane pak isriyadi. nuwun
[Reply]
Mas Dwi,maaf saya belum “nyambung”, coba ceritakan lebih lanjut, apa mas Dwi ada hubungan dgn Grabag, krn nenek saya dari sana (Tunggulrejo-mutihan), salam,sw.
[Reply]
Nuwun sewu mbah Slamet, saya ini anak baru kemaren sore wayahipun swargi mbah Indun (mbakyu Marsono), sedikit ingin mengetahui sorosilah desa Susuk, desanya bapaknya saya. Saya ingin mengetahui alur-alur keluarga Susuk itu dulunya kira-kira ada berapa pokok, hingga saat ini yg saya dapat baru 3, eyang M.H. Muh. Ibrahim (lurah Mangunrejo), Mentodrono,dan Udowijoyo itupun belum lengkap. Saya juga sering diberitahu kalau mbah Bekel itu masih ada hubungan keluarga tapi tidak bisa merunutnya, mohon kesediaan simbah bila mengetahuinya hubungannya.
Satu lagi apakah simbah mengetahui tentang cerita asal muasal desa Susuk, berdirinya mesjid Susuk oleh Seh Ngarit, dan 5 makam di tengah desa yg menjadi punden desa?
nuwun sewu mbah kebanyakan tanya. wassalam.(sph)
[Reply]
Mas Pujo, trimakasih atas tanggapannya. Alur2 keluarga Susuk itu saya sendiri kurang tahu juga. Tidak ada data yang bisa dijadikan pegangan. Secara kasar, “brendet” Susuk ada tiga, yag tergolong brendet Lurah Kidul (Lurah Kaji dan Lurah Surodihardjo) sewaktu jaman Belanda (Mangunrejo), brendet Lurah Tengah Lurah Sontodimedjo dan Pak Markun)termasuk dalam brendet mbah Bekel, mulai jaman merdeka ’45 sampai ’90-an,(desa Susuk) dan brendet Lurah Wetan, Lurah Yadi, brendet klrg Setrosendojo, mulai tahun 90-an sampai 2008. Sedangkan Lurah sekarang sudah merupakan brendet campuran.Pada hakekatnya brendet itu tidak tajam lagi karena terjadinya perkawinan silang antar brendet.Kalau dicari pokoknya sudah sulit, tidak ada sumbernya.Asal-muasal desa Susuk juga tidak jelas, yang terang menurut Bapak, Susuk desa kuno, sama dgn Mendiro.Menurut cerita mesjid Susuk dibangun oleh Syeh Ngarip dari Demak, kapan tidak jelas, makamnya di sebelah lor mesjid. Menurut Bapak, ulama pertama(kaum) yang mimpin mesjid adalah mbah Barjah (buyut saya) diteruskan mbah saya Muh.Mustar, rumahnya di sebelah makam Syeh Ngarip, bapak di lahirkan disitu, sekarang pekarangan kosong dan dianggap “wingit”. Betul tidaknya nggak tahu.Keluarga Mas Pujo itu saya tahu semua dari Bu Indun, Pak Marsono, dan Mas Sipur yang satu angkatan dgn saya meninggal usia muda. Bahkan mbah Kartowinangun yang adalah ponakan mbah Lurah Kidul, waktu itu jadi ili-ili. Demikian sekedar “cerita”.
[Reply]
Matur nuwun mbah atas infonya, sebenarnya masih banyak yang ingin saya tanyakan tentang desa Susuk, karena sekarang sudah agak susah mencari ‘sesepuh’ yang paham tentang desanya, akan tetapi forum ini nantinya malah jadinya seperti forum khusus desa Susuk, karenanya kita perlu memberi ruang bagi warga Purworejo lainnya untuk dapat menceritakan lebih banyak lagi tentang desanya yang tentunya memiliki cerita yang lebih menarik tentunya dan kami menunggu cerita lainnya dari simbah.
Mudah-mudahan bisa bertemu langsung untuk menambah info dan menyambung silaturahmi.
Apa mbah Barjah itu Ky. Barjah dari Banyuurip?
Wassalam.
[Reply]
Mas Pujo, mbh/kiyai Barjah, mnrt Bapak, ayahnya dari mutihan/mesjid Singkil, tetapi ibunya asli Susuk, sedang nyai Barjah berasal dari Banyuurip, sekitar Perigi, petilasan para leluhur Banyuurip. salam, sw.
[Reply]
ya, saya mempunyai silsilah dari p’ Marlan Susuk walaupun alurnya sedikit salah), disitu ditulis Ky. Barjah adalah keturunan dari Banyuurip dan dari Ketimenggolo (Demang Susuk, yang hingga saat ini saya masih mencoba menelusurinya, apakah beda atau sama/salah tulis dari Kertomenggolo dari alur Bagelen), sedangkan makam Ky. Barjah kalau tidak salah disamping mesjid Banyuurip Perigi, makanya saya menghubungkannya kesitu. Apa simbah punya petunjuk tentang Demang Susuk ini.
Wassalam.
[Reply]
Silsilah dik Marlan itu aslinya ya dari Bapak juga, tapi disana-sini sudah ditambah-dikurangi, sehingga kurang tepat. Saya sudah lihat “versi”-nya dia dan sudah saya “tegur”, jangan mengubah2, saya masih punya aslinya dari Bapak,bahkan wawacancara dengan Bapak sudah saya rekam dalam kaset (th.70-an). Makam Ky.Barjah itu di Susuk/Karangtalun, saya bisa tunjukkan. Yang di Banyuurip adalah mertuanya, ayah/ibu NyiBarjah.
[Reply]
Memang benar seperti yg Mbah katakan, disilsilah tsb alur Banyuurip ada beberapa nama yang hilang yg cukup mengganggu, sedangkan yang melalui Dem. Ketimenggolo dan seterusnya hingga Cinde Amoh, saya sendiri belum bisa memberi pendapat karena tidak mempunyai data pembandingnya.
Insya Alloh saya bisa menelusuri di makam Susuk-Karang Talun, karena mbah canggah saya (Khasan Duriat) juga dimakamkan disana.
Mbah Slamet bisakah saya hubungi lewat FB, sebelumnya matur nuwun sanget atas info-infonya?
[Reply]
silahkan hubungi lewat FB, salam,sw.
[Reply]
kenngan anda begitu menyentuh hati saya, yang mungkin saya rasakan sekarang. hidup saya hampir sama apa yang anda jalani. trimkasih telah mengingatkan saya diwaktu kecil saya by……….
[Reply]
Mas Wawan, saya senang cerita kenangan saya “menyentuh” hati mas Wawan. Ini satu bukti bahwa hubungan emosional antara manusia dan tempat kelahirannya memang sangat erat dan tidak terpisahkan sepanjang hayat. Hubungan demikian itu juga merupakan sumber kekuatan untuk menghadapi hidup kini dan masa datang, semoga, salam sw.
[Reply]
Salam, Bapak Slamet.
Senenag saya membaca ceritanya Pak. Cuma saya teringat cerita Isteri saya mengenai Alm. Kakeknya Masgiman Kertawinangun (apa Kartowinangun) Yang sampe akhir hanyatnya tidak bertemu dengan keluarga di Purworejo.
Alkisah setamat sekolah MULO, kakek itu (kakek dari isteri saya) berangkat ke Sumatera Aceh bersama Pamannya. Kakek masih muda dan belum berkeluarga, hingga menikah di Aceh, dan kemudian menetap di Pangkapinang Bangka Belitung.
Entah karena ada rasa kecewa, dulunya setamat MULO kakek akan disekolahkan ke sekolah yang lebih tinggi, namun tidak pernah tercapai. Mungkin itu awal mula keberangkatkan kakek bersama pamannya ke Sumatera.
Menurut kisah isteri saya, kakek selalu menutupi asal usul keluarganya di Purworejo. Walau ada keinginan untuk bertemu dengan sanak keluarga setelah pensiun sebagai Syahbandar Pelabuhan di Pangkalpinang, namun tidak perbah terwujud sampe akhir hayatnya.
Lewat Komentar ini, kiranya Bapak Slamet bisa membantu sedikit informasi mengenai keluarga Kakek isteri saya, terutama menyangkut nama Kertawinangun atau Kartowinangun, yaitu kira-kira adalah nama Bapak Kakek.
Sebagai informasi:
Anak tertua Kakek adalah Mertua saya, lahir tahun 1939 dan kini sudah almarhum.
Pernah dulu dijaman TV masih hitam putih, kakek kepergok sedang mengamati Alm. Bapak Sarwo Edi Wibowo, seolah-olah iya menebak itu adalah keluarganya. Namun perkiraannya apa yang sedang dipikirkannya itu selalu ditutupinya.
Perkiraan umur kakek kalo seandai masih ada, sekitar diatas 100 tahun.
Kakek kalo enggak salah adalah anak bungsu dari saudaranya.
Harapan:
Kalo seandainya dulu Kakek enggak bisa menyambung tali silahturahmi dengan sanak kerabatnya, kami ingin menyambungnya dengan keturunan dari kakak-kakak atau adiknya.
Saya sangat berharap bisa mendapat informasi dari bapak Slamet, yang mungkin usianya diatas usia mertua saya. Karena pernah meninggalkan kampung halaman lebih dari 70 tahun, lebih jauh mungkin Bapak mengenal kondisi Purworejo pada saat itu.
Akhir kata, terima kasih sebelum dan sesudahnya, dan atas komentar saya di blog Pak Slamet ini.
Dan dengan tidak berharapan hujan emas turun dari langit, namun kiranya apabila ada sedikit informasi kiranya Bapak mau menghubungi ananda (saya) no. HP 08127389091.
Kakak Perempuan kami saat ini ada yang masih tinggal di Jepara, apabila ada sedikit informasi kiranya bisa disampaikan kepada kami.
Atas perhatian dan bantuannya diucapkan Terimakasih.
Wassalam,
Andani Setiadi
Pangkalpinang
Kepulauan Bangka Belitung
[Reply]
Mas Andani, trimakasih atas tanggapan untuk “dongeng” saya. Inilah yang bisa saya jawab. Untuk melacak asal-usul kakek Kertawinangun, datanya sangat minim. Pertama harus diketahui desanya, namun nampaknya kakek ini yang kelahiran sekitar tahun 1900,seumur dengan bapak saya, pasti bukan orang desa, karena dia sudah bisa tamat MULO dan sekolah menengah itu diperuntukkan golongan priyayi. Contohnya saya, walau orang tua saya mampu, tapi harus masuk sekolah desa dan ongko loro, tidak mungkin bisa sampai MULO.Kesimpulannya: kakek pasti dari keluarga kota/priyayi, mungkin dari kota Purworejo. Kedua ayah mertua Mas Andani memang “seumur” dengan adik saya yang paling bungsu, kelahiran tahun 1940, apa beliau masih sugeng? Ketiga, jaman dulu memang banyak orang “minggat” karena satu dan lain sebab, sayangnya dikemudian hari tidak ingin lagi melacak asal-usulnya, sehingga turunanya jadi “kepaten obor”, seperti halnya kakek Kertawinangun itu.Sekali lagi maaf saya tidak bisa membantu, kalau ada data tambahan barangkali bisa di usahakan. Salam untuk keluarga di Pangkalpinang.Sw.
[Reply]
Salam Buat Keluarga Besar Pak Slamet di Purworejo.
Terimakasih banyak Bapak atas tanggapannya. Ya, semoga ada orang lain yang kebetulan juga membaca komentar saya ini.
Ada tambahan informasi untuk Kakek saya:
Panggilan di koleganya di sumatera adalah Masgiman.
Namun kalo enggak salah namanya, kira-kira:
R.M. xxGIMAN Kertawinangun.
Jumlah saudaranya sekitar 8-11 orang
Asal dari daerah Kali Gesing.
Nama Pamannya yang membawa Kakek ke Sumatera berdasarkan info adalah: dr. (dokter) Soewito.
Sekali lagi, terima kasih banyak Bapak Slamet, semoga Bapak dalam Kesehatan Yang baik. Iya sempet blogging ya Pak.
Wassalam,
Andani Setiadi
[Reply]