Rumah dan Kenangan masa kecil di desa

  4 - May - 2009 -   slamet wijadi -   74 Comments »

Barangkali benar kata orang, bahwa salah satu ikatan emosional yang paling mendasar dalam diri manusia, adalah kenangan terhadap tempat dan lingkungan dimana dia dilahirkan dan dibesarkan. Contoh yang paling jelas dalam hal ini adalah ritual mudik waktu lebaran. Dengan segala cara orang berusaha untuk “mudik”. Kekuatan apa yang mendorong ini, jawaban yang umum adalah “ingin kembali ke kampung halaman, tempat ia dilahirkan”.

Disitulah tersimpan segala kenangan manis masa kecil bersama orang-tua dengan segala kasih sayangnya, dengan saudara2 dan teman2 sepermainan, dengan rumah dimana dia dilahirkan, dengan lingkungan yang akrab dia kenal sehari-hari. Pada dasarnya ia ingin “kembali” ketempat dia lahir, seakan ada kekuatan magnit yang luar biasa daya tariknya, seperti diibaratkan dalam ungkapan “kebo bali menyang kandange”, “manuk mulih menyang susuhe”.

Rumah susuk/mangunrejo sekarang....

Rumah susuk/mangunrejo sekarang....

Hal tersebut tidak terkecuali berlaku bagi diri saya juga. Walaupun saya telah meninggalkan rumah tempat kelahiran saya hampir 70 tahun yang lalu. Namun ikatan emosional saya dengan tempat itu tidak pernah berkurang, bahkan dengan makin tambahnya umur terasa makin kuat. Begitu banyak kenangan manis yang tidak mungkin terlupakan yang terkait dengan rumah dan lingkungan tempat saya dilahirkan.

Saya tidak tahu kapan rumah tempat kelahiran saya itu dibangun untuk pertama kalinya, yang saya tahu, pada waktu saya mempunyai kesadaran pertama kalinya, rumah itu sudah berbentuk seperti yang ada sampai saat ini. Rumah itu terdiri dari tiga bagian, bagian depan berbentuk limasan, di tengah joglo dan di belakang limasan. Sesungguhnya masih tersimpan dalam ingatan saya bahwa limasan depan itu merupakan tambahan dan ternyata pembangunannya terjadi pada permulaan tahun 1937, pada waktu saya berumur lima tahun, sedang rumah joglo tengah Bapak tidak pernah cerita bagaimana asal-usulnya dan kapan dibangun.

Rumah kami tersebut berdiri di atas lahan seluas sekitar 2500m2, hanya saja yang ditempati bangunan adalah bagian pekarangan 1000m2, sedangkan sisanya merupakan pekarangan kosong dengan berbagai tanaman sebagian besar adalah pohon kelapa dan kebun buah-buahan , seperti: sawo, jeruk bali, mangga, nangka, jambu dll. Lokasi rumah kami berada didesa Susuk/ Mangunrejo, kecamatan Ngombol, Purworejo, terletak ditepi jalan kabupaten Purwodadi – Grabag pada Km 5.5, bersebelahan dengan pasar desa Susuk/ Mangunrejo, yang waktu itu lebih dikenal dengan nama pasar Wunut (mungkin dulunya terletak di desa Wunut).

Sebelah kanan rumah ada jalan desa menuju ke “terbis” (sawah) dan di ujung jalan itu bertempat tinggal Lurah Desa jaman itu. Di belakang rumah terdapat pekarangan kosong milik tetangga, Pak Carik desa, yang masih ada hubungan saudara. Dengan demikian rumah kami itu tidak mempunyai tetangga satu pagar.

Di rumah itulah seluruh saudara saya sebanyak 10 orang, lima lelaki dan lima perempuan, termasuk saya sebagai anak nomer lima, dilahirkan, semuanya lewat jasa mbah Dullah dukun bayi, ( kecuali 2 adik saya terakhir dengan pertolongan bidan). Yang tertua perempuan lahir tahun 1919 dan yang termuda adik lelaki lahir tahun 1940. Semua saudara saya hidup sampai di atas usia 70 tahun lebih, kecuali seorang adik perempuan yang meninggal muda karena kecelakaan dan seorang adik lelaki, dalam usia 67 tahun.

Dari 10 bersaudara kini masih “tersisa” 3 orang dan saya yang tertua, kini menjelang usia 77 tahun.
Bapak kami mencatat tahun-tahun kelahiran semua anak-anaknya termasuk hari dan hari pasarannya pada pintu dalam bagian tengah rumah dengan menggunakan kapur sirih sehingga tidak mungkin terhapus.

Untuk jamannya dan ukuran desa, Bapak saya dapat dikatakan “terpelajar”, karena mengenyam pendidikan SD di Kutoarjo disamping pendidikan di beberapa pondok pesantren, termasuk pesantren Tebuireng Jombang. Barangkali karena kelebihan itu Bapak diangkat sebagai Bekel Mangunrejo, sejak tahun 1926 sampai mengundurkan diri pada jaman Jepang.

Menurut Bapak, beliau mengundurkan diri karena “tidak sampai hati” untuk memberangkatkan orang-orang desa sebagai “Romusha” (pekerja paksa jaman Jepang) yang diyakini tidak akan kembali lagi, dan ternyata kenyataannya memang demikian.

Kehidupan kami di rumah itu sampai menjelang kedatangan Jepang, menurut ukuran desa, “sangat berkecukupan”. Sebagai Bekel, Bapak menikmati beberapa bahu sawah bengkok disamping sawah milik sendiri, sedangkan ibu berdagang macam-macam kebutuhan sehari-hari yang nampaknya cukup berhasil.

Untuk mendukung kegiatan itu, ibu membeli dokar/ andong dan grobag lengkap dengan kudanya. Saya masih ingat, sebagai anak, tidak ada sesuatu yang lebih dinanti-nantikan daripada diajak ibu ikut pasar ke Kutoarjo naik dokar. Sementara ibu belanja untuk dagangannya, saya diajak Pak Kusir untuk minum “es gosrok Pak Tjokro” di salah satu emperan toko. Es itu sangat terkenal waktu itu. Penyajiannya bukan dengan gelas, tetapi dengan piring yang berisi berbagai macam buah dan kemudian diberi es gosrok sampai “munjung” dan dituang sirup merah. Sungguh kenikmatan tanpa tara.
Kemudian datang acara yang saya tunggu-tunggu yaitu diajak ibu untuk makan nasi gule di koplakan dokar di sebelah barat pasar yang menurut saya rasanya sungguh ”ruaar biasa”, “mak nyuuus”, orang sekarang bilang. Sampai sekarang kalau ke Kutoarjo saya tanya tukang parkir di pasar, apakah masih ada “gule koplakan”, tentu saja dijawab, “niku jaman mojopahit, pun mboten enten”, gantinya sate/ gule Pak Bejo di kulon prapatan, namun setelah saya coba kayaknya kok nggak sama dengan yang dulu, atau karena selera saya sudah berubah.

Satu kenangan lagi dari rumah waktu itu adalah sebuah sumur dan kamar mandi dan “langgar” (mushola) yang terletak di sebelah kiri rumah dimana ayah melakukan sholat sehari-hari dan pada waktu-waktu tertentu “nderes”/ membaca Qur’an. Lumbung padi yang cukup besar terletak di belakang rumah, yang bila habis panen penuh berisi tumpukan padi, ekaligus tempat memeram berbagai buah, disambung dengan rumah lesung untuk numbuk padi.

Di depan lumbung ada halaman luas dengan lantai bata untuk menjemur padi setelah digelari kepang. Agak ke belakang ada kandang kerbau. Kami punya kerbau sekitar 5- 6 ekor,yang di ”gaduhkan”/dititipkan di Pasir/ Wonoroto ; pada waktu musim garap-sawah kerbau itu diambil sekaligus dengan pangonnya. Ini juga bagian kenangan, karena saya selalu ikut mengambil kerbau dan pulangnya bisa naik di punggung kerbau dengan asyiknya.

Selama kerbau ada di kandang kami, saya ikut tidur dengan pangon di”babrakan” di atas kandang, karena pagi harinya ingin ikut angon ke sawah dan “ngguyang” (memandikan) kerbau sambil “langen” di kali tengah sawah.

Sebelah kandang kerbau terletak 2 gedokan/ kandang kuda. Dan untuk “ngombor” kuda dibutuhkan rumput yang banyak; untuk ini saya diajak Pak Kusir ikut “ngarit”/ cari rumput dengan grobag ke Benco Rowodadi, daerah Mundusari, Grabag, yang waktu itu banyak rumputnya di rawa-rawa.

Yang saya senangi, sepanjang jalan ke Benco banyak pohon mangga yang penuh buah dan sangat rendah sehingga sambil naik grobag bisa “metik” begitu saja (mencuri yaa? untung nggak ketahuan yang punya), satu kenangan yang indah.

Jalan Purwodadi-Grabag, depan rumah.......

Jalan Purwodadi-Grabag, depan rumah.......

Di depan rumah terdapat “kalen”/ saluran irigasi dengan air yang jernih yang selalu mengalir sepanjang tahun. Bila datang musim hujan kalen tsb penuh airnya dengan arus yang deras; inilah saat yang paling mengasyikkan untuk main berenang/ langen dengan anak-anak desa lainnya. Biasanya kami “ngendang” ikut aliran dari depan rumah berakhir di kedung depan pasar, sungguh menyenangkan. Di pojok kiri kanan depan rumah ada “suwakan”/ kolam kecil yang di lengkapi “rumpon” untuk menampung/memikat ikan dari kalen; pada waktu-waktu tertentu suwakan itu di”tawu”/ dikuras dan dapatlah berbagai jenis ikan yang cukup untuk lauk makan sekeluarga.

Di tengah-tengah pasar desa sebelah rumah terdapat pohon asam tua yang besar, tinggi dan rindang dengan buahnya yang lebat, dimana “monyet-monyet kecil “sering “penekan” dan bergelantungan dengan canda-ria sambil makan buah asam yang manis (yang sudah mateng) sampai datang ayah yang khawatir akan polah-tingkah “berandalan kecil” dan berteriak-teriak “turun-turuun”… tapi ya tidak kapok juga.

Kenangan lain yang tidak mungkin terhapus adalah saat datangnya bulan Ramadan/puasa, dimana suasana desa jadi “grengseng”, khususnya bagi anak-anak. Siang hari mereka di masjid belajar ngaji, sore hari setelah buka puasa berbondong-bondong ke mesjid untuk terawih dengan “sangu” kobokan untuk berebut minta jatah “jaburan” segera setelah selesainya sholat terawih, biasanya berupa dawet, “rucuh” kelapa muda atau kolang-kaling dengan juruh gula merah, semua ini disediakan oleh Pak Kaum. Waktu saur kadang-kadang ikut keliling desa meneriakkan “saur, sauuur”….

Dan hari besar yang ditunggu-tunggu akhirnya datang…. Lebaran. Bagi saya betul-betul istimewa karena pada hari itu, setelah pulang dari sholat Ied, kami mendapat “sangu” dari ibu, masing-maisng anak sebesar 10 sen uang “krincing”, ditambah tambahan dari hasil”sowan2”, bisa mencapai 20 sen, ini jumlah yang cukup besar waktu itu, mengingat harga “saoto” hanya satu sen sepiring dan “dawet pikulan wetan kali” satu mangkok setengah sen ( sak-endil/ sigar), sisa uang masih cukup untuk ke Purwodadi, nonton ketoprak di pasar, ( lakon yang digemari adalah “Aryo Penangsang”), jajan sepuasnya kemudian pulang naik dokar rame-rame. Hari berikutnya nonton segoro kidul biasanya rame-rame naik grobag terbuka yang dihias janur dan di jalan antara Megil/ Grabag dan Ketawang diadakan semacam balapan dengan grobag-grobag lain sambil teriak-teriak dan saling mengejek…Sungguh kenangan yang tidak terlupakan.

“Jaman normal “ itu tiba-tiba berakhir dengan datangnya perang, Belanda jatuh dan Jepang datang. Waktu itu saya sudah duduk di kelas 4 Ongko Loro Wunut. Setahun kemudian tamat “Kokuming Gakko” (SD Jepang) dan saatnya saya meninggalkan desa, berkelana ke Bandung ikut kakak; pemulaan kemerdekaan sekolah di Purworejo menamatkan kelas 6 di SD Widodo terus ke SMP dan selanjutnya tidak pernah lagi bermukim di rumah; demikian dengan saudara-saudara saya juga “bubar” meninggalkan rumah itu, bahkan sudah sebelumnya. Bapak mengundurkan diri sebagai bekel, ibu mengurangi kegiatan berdagang, rupanya kerja keras selama ini, berakibat dengan mundurnya kesehatan dan datangnya berbagai penyakit. Sampai akhirnya datang berita duka, beliau wafat permulaan tahun ’60. Sekarang Bapak harus tinggal seorang diri di rumah yang lumayan besar itu; dengan mufakat seluruh keluarga Bapak mengambil pendamping baru, seorang janda tanpa anak, yang ternyata cocok mendampingi Bapak hampir 30 tahun sampai Bapak wafat dalam usia 93 tahun ditahun1993.

Sebelum wafat Bapak sudah “membagi” seluruh miliknya kepada masing-masing anak, yang telah disetujui bersama. Rumah beserta pekarangan “jatuh” pada adik “ragil”, sedangkan separoh pekarangan sisanya menjadi hak kakak lelaki yang tertua, lain-lainnya mendapat bagian sawah yang diterima dengan senang dan ikhlas.

Yang menjadi masalah ialah, bahwa adik saya itu tidak berminat untuk pulang desa, krn sudah nyaman dengan tempat tinggal dan pekerjaannya di Bandung, dan ingin menghabiskan sisa hidupnya di kota itu . Lalu bagaimana dengan “nasib” rumah itu? Bapak sudah “wanti-wanti” sebelum wafat agar rumah itu jangan sampai dijual karena begitu banyak sejarah keluarga terkait dengan tempat itu. Akhirnya adik saya sebagai pemiliknya menawarkan kepada siapa saja diantara saudara yang berminat memiliki rumah itu dengan “ganti rugi yang layak”.

Oleh karena tidak ada satupun diantara saudara berminat untuk memiliki, maka saya mengajukan diri bersedia untuk memberikan “ganti rugi” kepada adik yang kemudian sekaligus akan menjadi pemilik rumah tersebut, dan rapat keluarga menyetujui secara bulat. Demikianlah , maka rumah itu menjadi milik kami, namun kami berjanji kepada saudara-saudara bahwa saya akan menjadikan rumah itu sebagai “Griya Atmosudarmo” dan siapapun dari “trah” Atmosudarmo boleh menggunakan rumah itu untuk kumpul-kumpul keluarga, re-uni dan sekaligus bermalam disitu.

Rumah kemudian kami “renovasi” dengan mengganti atap/ genting dan bagian-bagian yang sudah lapuk tanpa mengubah bentuk bangunan aslinya, lantai dan kamar mandi disesuaikan dengan “tuntutan jaman”. Jadilah rumah tersebut sebuah hunian yang cukup nyaman yang menyimpan kenang-kenangan manis masa kecil bagi seluruh keluarga besar Atmosudarmo.

Kini rumah itu ditunggu oleh keluarga yang kami tugaskan untuk itu dengan pengawasan keponakan yang tinggal di desa. Dalam setahun beberapa kali kami pulang untuk beberapa waktu. Sesungguhnya ada keinginan untuk “menetap”, apalagi sekarang ini segala kemudahan sudah tersedia di desa,ditambah dengan alam dan lingkungan yang akrab, udara yang segar, makanan yang murah dan sesuai dgn selera, namun hal ini masih terkendala beberapa hal, utamanya, keinginan untuk berada dekat dengan anak-cucu di Jakarta/Bandung.

Reuni dengan sebagian keluarga besar..........

Reuni dengan sebagian keluarga besar..........

Beberapa kali telah diadakan re-uni keluarga besar, biasanya pada hari Lebaran, sambil bersama “nyekar” ke makam leluhur. Anak-cucu kami, keluarga besar kami sangat menikmati suasana rumah dan alam perdesaan, tempat asal-usul leluhur mereka, tempat eyang mereka dilahirkan dan dibesarkan, semoga akan menjadi kenangan indah bagi mereka dikemudian hari.

Pada waktu saya akan mengakhiri tulisan ini, terdengar sayup-sayup dari rekaman kaset lagu “the green, green grass of home” yang dinyanyikan oleh Tom Jones dengan penuh perasaan, sebuah lagu hit tahun 70-an yang bernada sendu/ melankolis dan yang sampai sekarang masih populer, yang menggambarkan akan kerinduan dan betapa dalamnya kenangan seseorang dengan kedua orang-tuanya, dengan orang yang ia sayangi, dengan rumah dan lingkungan dimana ia dilahirkan dan dibesarkan, sebegitu dalamnya hingga terbawa-bawa dlm mimpi, justru pada malam terakhir sebelum ia harus mengakhiri hidupnya; sungguh sebuah lagu yang sangat menyentuh … .

Slamet Wijadi

Category: cerita,Nostalgia, Tags: | posted by:slamet wijadi


74 Responses to “Rumah dan Kenangan masa kecil di desa”

  1. mas adjie says:

    Pak SW.. matur nuwun sampun kerso mbales comment kawulo… kulo manggen wonten pamulang pak… nuwun sewu pak SW sampun radi dangu mboten nulis kisah2 malih wonten blog meniko pak. kulo suwun bapak tansah pinaringan berkah ugi kesehatan.. supados blog meniko rame malih kaliyan dongeng bapak..

  2. Indra says:

    Salam kenal mbah Wik..
    saya baru tahu kalo Pakdhe Cokro ternyata suka balapan doro :) . yang saya masih agak bingung apakah mbah Mangkudimejo itu jadi bekel ketika berupa desa mangunrejo atau sudah jadi desa susuk ya?
    semoga berkenan menjawab ya mbah, maturnuwun..

    • slamet wijadi says:

      Mas Indra, salam kenal diterima dgn senang hati. Mengenai Pak Cokro, bukan hanya senang balapan doro, dia juga “bakul doro”. Maaf dulu terkenal namanya “Somo Sur”, tinggalnya di sebelah barat Sarean nDiro, waktu itu istrinya (yang dulu) adalah memang rumahnya di situ. Kalau kulakan doro sampai di Wonosobo, pulang kulakan dua krombongnya penuh, disitu saya senang sekali cari/beli doro untuk dipelihara jadi doro balap. Musuhnya kadang” ya pak Somo Sur itu, dia paling ahli soal “perdoroan”…

      Kalau mbah Mangku, seingat saya jadi Bekel sesudah jadi desa Susuk kembali. Yang jadi bekel Mangunrejo itu hanya Bapak saya yang menjabat sejak tahun 1926, kemudian jaman Jepang mengundurkan diri karena tidak sampai hati mengirim pemuda desa jadi romusha yang umumnya akan hilang/mati. Setelah Bapak mundur diganti oleh Pak Sastroredjo/masih ponakan lurah Surodiharjo. Pada waktu jaman kemerdekaan terjadi “gerakan” untuk minta agar Lurah mundur, sekaligus desa Mangunredjo di pecah lagi kembali menjadi Susuk, Mendiro dan Klandaran. Gerakan itu mengangkat “lurah baru” sementara, Pak Setrosenjoyo, ayahnya Mas Kasito/Yadi. Setelah empatpuluh hari, diadakan pilihan lurah untuk desa Susuk dengan calon tiga, Pak Setrosenjoyo, Pak Muryono dan Pak Sontodimedjo, yang jadi Pak Sontodimedjo, masih Pakde saya, yang menjabat sebagai lurah Susuk selama lebih 20 tahun. Disitulah untuk bekel diangkat Pak Mangkudimedjo yang tidak lain adalah ayah Pak Cokro.

      Semoga jawaban saya cukup jelas. Salam. Sw.

      • Indra says:

        maturnuwun Pak Wik atas jawabannya, kalau diurut urut saya menyebut panjenengan Pakdhe Wik.
        Kalau saya melihat kondisi purworejo yang selalu begitu begitu saja tanpa perubahan kadang juga merasa gemes, saya berharap di tulisan tulisan berikutnya Pakdhe Wik berkenan berbagi cerita / pengalaman tentang keberhasilan sebuah daerah di luar negeri karena kemauan SDM nya untuk berubah. saya yakin Pakdhe Wik sangat kaya dengan pengalaman dan cerita cerita itu, semoga berkenan membaginya di sini, semoga bisa menginspirasi golongan muda yang sering tidak sabaran ini. Maturnuwun sanget..

  3. Pak Wiek, mengenai mbah Dullah dukun yang membantu proses lahiran itu mbah Dullah yang mana? apakah mbah Dullah yg rumahnya di terbis selatan desa susuk?
    Sekedar sharing aja, sewaktu saya masih SD saya pernah blusukan masuk ke pekarangan rumahnya pak Wiek atas ajakan teman saya yg rumahnya belakang persis rumah pak Wiek! hanya Woow..yang bisa saya ucapkan! rumah pak Wiek begitu megah dan mewah untuk ukuran rumah desa dengan berbagai fasilitasnya! saya waktu itu gak sadar sama sekali kalau yang punya rumah itu adalah Pak Wiek, yg mungkin orang tersukses di desa susuk! Karena mungkin waktu itu saya masih SD belum punya wawasan yg memadai, hanya main dan main yg ada di pikiran saya!
    Mengenai rumah lurah susuk jaman dulu yg ada di terbis, yg sampai saat ini masih terjaga keaslian rumahnya berbentuk joglo, saya dulu jg sering bermain disana! ada soko atau pilar 4 yang menjaga kekuatan rumah itu. oleh pemiliknya yg skrg sudah almarhum saya sering disuruh naik soko tersebut balapan dengan saudara kembar saya.
    Sekian kisah saya! terima kasih, mungkin pak wiek mau memberikan komentar?

    • slamet wijadi says:

      Mas Julian, mbah Dullah dukun bayi itu dulu rumahnya di Dukuh, sudah jadi dukun bayi keluarga saya, tahun tigapuluhan saja saya kira usianya sudah diatas 50-tahunan, jadi pasti bukan mbah Dullah yang rumahnya di terbis. Trimakasih atas komentar mengenai rumah kami yang telah kami jadikan rumah pusaka keluarga besar Atmosudarmo, sayang saat ini kurang terawat karena saya jarang pulang, namun masih ada yang sekedar memelihara dan mengurus. Rumah Lurah Mangunrejo/Susuk itu oleh ahli warisnya berniat akan dijual termasuk pekarangan seluas sekitar 4000 meter. Saya diminta bantuan untuk mencarikan pembelinya, barangkali mas Julian mau membantu mencarikan peminat. Silahkan hubungi saya.Salam.

  4. hendiva says:

    Assalamualaikum wr.wb,
    Ceritanya sungguh menarik eyang,jadi kangen purworejo

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Hiburan Warga Purworejo

21 - Jul - 2008 | Raf | 5 Comments »

“Njajah Deso Milang Kori”, Petualangan Panjang Menuju Kota Purworejo

25 - Nov - 2014 | Febri Aryanto | 5 Comments »

Sekolah Cari Sendiri.

28 - Jul - 2008 | massito | 6 Comments »

Perjalanan Haji

11 - Oct - 2011 | sutiyono | 9 Comments »

Keluarga Pemulung di Timur Teteg Kereta Api Kutoarjo,Siapa Peduli?

7 - Apr - 2013 | budiqof | 3 Comments »

Related Post

“Nggragas”-nya anak kampung

24 - Sep - 2011 | meds | 20 Comments »

Mengunjungi Purworejo Melalui Dunia Maya

29 - May - 2016 | Febri Aryanto | 3 Comments »

Puasa dan Main Long Bumbung

1 - Aug - 2011 | meds | 14 Comments »

Nostalgia Anak Kampung (2)

27 - Dec - 2009 | meds | 2 Comments »

Apa Kabar Stasiun Jenar?

19 - Jan - 2015 | Febri Aryanto | 5 Comments »

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net