MENGENANG ‘SEKOLAH DESA’ WUNUT DI JAMAN BELANDA
16th May 2009 | By: slamet wijadi
“tulisan ini saya persembahkan kepada guru-guru saya: Pak Soekino Sastrosoekaryo (alm.) dan Pak Soemarno (alm.) sebagai ungkapan rasa terima kasih.”
Pada suatu pagi ditahun 1938, masih pagi2 sekali saya dibangunkan Ayah .“Ayo cepat bangun, pagi ini kamu akan saya antarkan masuk sekolah”. Karena ini perintah, saya tidak ada pilihan lain kecuali harus segera siap2 , mandi, ganti baju untuk sekolah, sarapan nasi dan berangkatlah kami diantar Ayah menuju sekolah desa Wunut yang berjarak sekitar setengah km dari rumah dengan jalan kaki.
Sampai di sekolah ternyata sudah ramai dengan anak2 seumur saya yang diantar orang-tuanya dengan tujuan yang sama, masuk sekolah kelas satu. Pak Guru Soekino Sastrosoekaryo, sibuk melayani para orang tua dan sekaligus mengadakan seleksi penerimaan. Pada waktu tiba giliran saya, Ayah maju dan menjawab beberapa pertanyaan Pak Guru tentang diri saya, nama dan umur.

Pak guru Sastro (kiri) menikmati pagelaran wayang kulit di rumah Susuk didampingi seorang kakak (th. '72)
Waktu itu saya baru berumur 6 tahun, padahal ketentuan menyebutkan harus 7 tahun.” Wah ini belum bisa, baru tahun depan …”, komentarnya. Namun Ayah tidak mau menyerah dan melalui negosiasi kemudian saya diminta untuk memegang kuping kiri dgn tangan kanan lewat atas kepala. Ini memang cara lajim untuk penerimaan masuk sekolah waktu itu, bila tangan sudah “nyandak” kuping kiri, tandanya sudah bisa diterima. Rupanya pada waktu itu tangan saya sudah “nyandak” (“panjang tangan”?) sehingga kami dapat “dispensasi” umur, dan akhirnya diterima… . Legalah Ayah karena berarti mengurangi satu “anak nakal” di rumah, setidaknya antara pagi sampai jam 10. Saat itu kami ada 8 bersaudara, 3 diantaranya lelaki yang sering ribut satu sama lain.
Saya tidak tahu kapan Sekolah Desa Wunut mulai dibangun, pasti lebih tua dari Sekolah Ongko Loro didesa yang sama, yang dibangun tahun 1915. “Sekolah Desa” atau Volkschool, adalah sekolah yang disediakan oleh Pemerintah Jajahan Belanda untuk menampung hasrat anak2 desa yang ingin sekolah, lama waktunya hanya 3 tahun. Setelah selesai, bagi yang berminat bisa meneruskan ke Sekolah Lanjutan atau Vervolgschool yang lebih dikenal dengan “Sekolah Ongko Loro”, sampai tamat klas 5.
Bagi orang desa yang berpikiran maju dan ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah Belanda, setamat dari klas 3 ini bisa meneruskan ke Schakel School di Kutoarjo selama 5 tahun dan lulusannya dianggap setingkat dengan sekolah HIS 7 tahun yang hanya terbuka bagi anak golongan priyayi. Kedua kakak saya dikirim ke sekolah itu.
Bagi yang tidak berminat bisa mengakhiri dengan tamat kelas 3,(dan memang banyak yang demikian), diberikan Ijasah yang ditandatangani oleh Kepala Sekolah dan disyahkan oleh Bupati Purworejo. Saya masih ingat “tanda-tamat” belajar saya di Sekolah Desa itu di tanda-tangani oleh Bupati Purworejo waktu itu, R.A. Hasan Danuningrat . Mungkin tidak terbayang bagi generasi sekarang bahwa ijasah sekolah desa 3 tahun ditanda-tangani oleh seorang Bupati, tapi itulah nyatanya. Dan Bupati jaman itu “bukan manusia sembarangan”, terutama bagi orang desa, sebab untuk seorang camat saja,kita harus menyebutnya dengan “ndoro Seten” (Asisten), bahkan untuk cariknya, kita nyebut ndoro Carik Seten…
Kalau untuk Sekolah Ongko Loro disediakan satu sekolah untuk satu onder distrik/kecamatan, maka untuk sekolah desa 3 tahun terdapat beberapa, yang saya tahu untuk kecamatan Ngombol ada di Kaliwungu, Wonoroto, Mbukur, Ngombol/nJoso, Wonoboyo, Wingkomulyo disamping Wunut.

Ibu Koempoel teman satu kelas di Sekolah Desa Wunut ('38-'41)
Tamatan dari sekolah2 inilah yang kemudian ditampung di Sekolah Ongko Loro Wunut, bagi yang ingin melanjutkan. Nampaknya antara sekolah2 desa satu kecamatan terdapat hubungan yang erat , demikian juga dgn Ongko Loro. Waktu itu komunikasi dilakukan dengan surat /kurir yang dilakukan oleh para murid, yang diistilahkan dengan “ngguwang layang” dan disinilah kelihatan “kepinteran” beberapa murid untuk mencari “peluang”. Kalau ada tawaran siapa yang bersedia “ngguwang layang” ke sekolah Ongko Loro yang jaraknya hanya beberapa ratus meter, misalnya, maka berebutlah yang “ngacung” , “saya saja, saya saja”, dengan harapan selesai ngguwang layang bisa terus ngacir pulang… .Namun kalau tawaran itu untuk sekolah yang jauh, mBukur atau Wonoroto misalnya, ya pada pating klesik saling tunjuk “kamu saja, kamu saja…”, inilah “akal bulus” anak2 jaman itu. Tapi kalau tidak ada yang mau, akhirnya Pak Guru langsung menunjuk, namun ada keringanan yaitu diberi teman, jadi berdua dan diijinkan untuk terus pulang.
Hari2 pertama di sekolahan yang saya ingat adalah panggilan absen nama satu persatu dan menentukan tempat duduk pada bangku panjang yang diisi dua orang satu bangku. Satu kelas kira2 terdiri dari 20-25 orang murid, sepertiga antaranya adalah murid wanita. Hanya ada satu kelas untuk setiap angkatan, jadi hanya ada satu kelas untuk kelas satu, satu kelas dua dan satu kelas tiga. Guru ada dua orang, satu guru mengajar kelas satu dan kelas dua dan satu guru mengajar kelas tiga.
Pada hari pertama masuk kelas kami mendapat pembagian “sabak” (batu tulis) dan “grip” (anak batu tulis) untuk menulis di sabak dan itulah alat tulis menulis jaman itu. Samasekali belum dikenal buku tulis dan pensil. Tulisan pada sabak tsb dengan mudah dapat dihapus, sehingga alat tersebut bisa digunakan secara berulang-ulang, cukup hemat.
Saya tidak terlalu ingat pelajaran yang diberikan pada hari2 pertama, yang teringat adalah pelajaran membaca dan menulis huruf2 Jawa ho,no,co,ro,ko dan huruf latin,sedang caranya sudah lupa. Kemudian ada pelajaran berhitung , menggambar, menyanyi (nembang jawa) dan olah raga. Dan itulah nampaknya isi pelajaran sekolah desa waktu itu sampai tamat kelas tiga.
Saat2 yang mendebarkan adalah saat kedatangan “ndoro Siner” (school opziener/penilik sekolah) yang nampak angker-berwibawa,waktu itu namanya ndoro Siner Kodrat, berseragam putih2 pakai destar. Biasanya datangnya mendadak dengan mengendarai dokar khusus, langsung menuju kelas. Tugas dari ndoro Siner ini adalah untuk mengechek apakah standar pelajaran yang telah ditentukan sudah di patuhi.
Ada satu kejadian yang lucu yang saya ingat, karena pada waktu ndoro Siner ini tiba dan masuk kelas, mendapatkan pak Guru sedang “tertidur”. nDoro Siner ini langsung mengambil alih tugas pak Guru mengajar di kelas. Bisa dibayangkan betapa terkejutnya pak Guru sewaktu terbangun…. sungguh kasihan.Saya tidak dapat membayangkan tegoran apa yang diberikan oleh ndoro Siner pada pak Guru. Betapapun, saya merasa sangat berhutang budi kpd Pak Guru Sastro yang telah mengajari kami jadi melek huruf jawa/latin, hitung2an dan nembang.
Satu hal yang istimewa dari Pak Guru Sastro ini adalah bahwa seluruh saudara2 kami sebanyak 10 orang yang bersekolah di Sekolah Desa Wunut ini di ajar oleh beliau, demikian juga semua tanda-tamat belajar kami sebanyak 10 orang ditanda-tangani oleh beliau yang di syahkan oleh Bupati Purworejo.
Dikemudian hari, pada waktu saya sudah “jadi orang” dan memiliki mobil pribadi, saya mohon agar Bapak Guru Sastro dan Ibu berkenan saya derekkan “plesir” ke Borobudur dan Magelang dimana saya bertindak sebagai sopir dan bekas murid yang ingin “memanjakan” kedua tamu kehormatan saya itu. Itulah sekedar ungkapan rasa terima kasih saya kepada Pak Guru yang saya hormati, yang nampaknya diterima dengan senang hati.
Pada waktu saya duduk di klas tiga kami diajar guru lain, Pak Soemarno, asli Tuntungpait, (Pak Sastro asli Desa Pogungrejo), yang kemudian menetap di Kaliwungu, karena mempersunting putri Kaji Jabar Kaliwungu . Pak Marno ini orangnya sangat baik dan pinter nembang dengan suara yang merdu. Beberapa tembang yang diajarkan waktu itu masih terekam dalam memori saya sampai saat ini dan bahkan saya masih sanggup untuk melantunkannya.
Satu kenangan lain adalah saat memperingati hari besar istimewa yaitu hari kelahiran Ratu Belanda Wilhelmina yang jatuh pada setiap tanggal 31 Agustus . Menjelang hari peringatan para murid diajari nembang “panembromo” berisi puja-puji terhadap sang Ratu nun jauh diseberang lautan. Bagi murid yang penting adalah “hadiah” berupa kuweh2 dan permen dan hari liburnya…

Silaturahmi Lebaran antar warga Lansia "Mangunrejo" di rumah Susuk. Sebagian besar dari mereka adalah "alumni" Sekolah Desa Wunut...
Tidak terasa waktu berjalan cepat. Tahun 1941, saya tamat Sekolah Desa 3 tahun dengan memperoleh tanda-tamat belajar. Tahun itu juga saya meneruskan ke Sekolah Ongko Loro, tahun dimana pecah Perang Pacific yang akan mengakhiri penjajahan Belanda di Indonesia dan masuknya pendudukan Jepang.
Sekolah Desa kemudian digabung dengan Ongko Loro menjadi Sekolah Rakyat 6 tahun yang oleh Jepang dinamakan “Kokumin Gakko”. Jaman baru telah datang, jaman penjajahan Jepang, yang ternyata hanya berlangsung untuk “seumur jagung”, disusul datangnya jaman kemerdekaan… ..
Slamet Wijadi
Tweet
Home| Category: blog, Uncategorized | Trackback URI
Tulisan sesudahnya: Menjelang Agupena Purworejo »





waduh, benar2 in memory bersama guru tercinta
[Reply]
pak wik
penulisan sejarah yang sangat otentik karena langsung dari sumber primernya. ini yang saya tunggu2. saya jadi jelas apa yg disebut volkschool, vervolgschool, schakel school, his, mulo? dll. kalau sekolah guru apa pak? dan perguruan tingginya ada tidak? stovia? juga kalau mau jadi mister gimana? mohon pak wik bisa menulis dilain kesempatan. bupatinya tamatan apa ya pak?
wassalam.
[Reply]
Ternyata susuk banyak menyimpan sejarah ya
[Reply]
wahh pak wik… runtut sekali ceritanya.
waktu baca tulisan ini, saya langsung membayangkan waktu saya SD SMP dst… Dan saya harus berpikir keras untuk mengingat kejadian2 kala itu. Banyak hal yang terlupakan… ehm bukan sengaja dilupakan, tapi ga tau kenapa lupa.
salut buat pak wik yang menulis hal-hal dengan cara yang luar biasa bagus.
ehm, tapi bener nih… mungkin beberapa sel otak sudah pada soak… ada tips untuk mempertajam daya ingat ga pak??
[Reply]
Mas Nurrahman, guru2 di sekolah desa itu telah meletakkan dasar bagi pendidikan saya di sekolah2 berikutnya, karena itu saya anggap sangat wajar untuk mempersembahkan tulisan itu kpd beliau2 sebagai ungkapan rasa terimakasih. thanks untuk comment-nya, salam, sw.
[Reply]
Mas Bilungsoroito, otentik sekali ya nggak karena masih bercampur dengan ingatan/memori dan itu sudah terjadi lebih dari tujuh-puluhan tahun yl, namun apa yang saya kemukakan itu setidaknya bisa menggambarkan “suasana jaman” waktu itu.Mudah2an generasi2 berikutnya bisa menggunakan untuk perbandingan dengan suasana jaman yang mereka alami masing2.
Trims bhw info itu telah menambah pemahaman tentang sekolah2 pada jaman itu.Nanti insya Allah akan saya teruskan dengan info2 lain.
Di desa Susuk pada permulaan abad sudah ada yang mengikuti pendidikan Dokter Jawa, yaitu Dokter Mardjono, yang tidak lain adalah ayah Prof.Dr. Mahar Mardjono. Lain kali diceritakan, sekarang cukup dulu, salam, sw.
[Reply]
Wah…cukup menarik cerita2 poro pinisepuh tersebut…..
meskipun beda jamannya,mungkin seperti yg pernah sy ceritakan kisah perjalanan sekolah saya jaman SMP juga cukup mengesankan….
[Reply]
Mas Anston, setiap desa/tempat itu pasti ada ceritanya, kebetulan saya dilahirkan di Susuk, jadi yang saya ceritakan ya desa itu krn itulah yang saya ketahui. mas Anston bisa cerita tentang desa/daerahnya yang saya yakin pasti ada keunikannya. Coba dimulai dengan yang sederhana saja, katanya kita ingin mempromosikan daerah kita dan Purworejo secara keseluruhan, selamat mencoba, salam,sw.
[Reply]
Injih pak slamet wijaya. nanti saya coba gali sejarah dan potensi di wilayah kami.
sekedar info: sumonngo sami mampir wonten http://www.brunocommunity.co.cc
Matur nembah nuwun sedoyo mawon ingkang kerso pinarak wonten bruno community
[Reply]
Susuk ga pernah kehabisan cerita ya?
[Reply]
Mas Eko, saya tolak anggapan “mungkin beberapa sel otak sudah pada soak”. Tidak mungkin, apalagi mas Eko masih “muda remaja” baru “mulai hidup”.
Kalau minta “tips” untuk mempertajam daya ingat, saran saya sederhana, “didalam badan yang sehat terletak otak/pikiran yang sehat”, berlaku bagi muda maupun tua.Krn itu “jaga kesehatan”, itu pokok.
Otak yang sehat akan mempertajam daya ingat tentu dengan menggunakannya terusmenerus spt yang antara lain saya usahakan skr ini.
Thanks untuk “sanjungan”nya, tentu saya senang, namun saya merasa masih terlalu banyak kekurangannya sehingga belum layak untuk memperoleh hal tsb., salam, sw.
[Reply]
Mas Fayyas, saya ingin baca “kisah perjalanan sekolah saya jaman SMP”, dimana itu?
Tepat kata mas Fayyas “cukup menarik meskipun beda jamannya”, itu memang tujuan tulisan saya, agar dapat dijadikan pembanding bagi jaman yang berbeda, krn setiap jaman ada keunikannya sendiri yang pasti menarik untuk diketahui. salam, sw.
[Reply]
Mas Anston, kenapa tidak cerita ttg desanya? Bruno itu banyak lho yang dapat diceritakan, salam,sw.
[Reply]
membawa generasi sekarang akan pengalaman jaman kolonial. Dan seperti kata Eyang Bethoro Indro, sejarah langsung dari sumbernya. Selama ini hanya membaca dari buku sejarah, yang lebih global. Ternyata belanda juga menanamkan kekuasaannya sampai ke desa-desa, saya kira hanya kota.
Lalu, masih adakah pengaruh kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat?
[Reply]
Cerita yang menarik, saya salut dengan kegigihan ayahanda Pak Wik yang ngotot supaya putranya bisa masuk sekolah walaupun umurnya belum cukup,itu karena ada 2 keuntungan yaitu untung di umur dan mengurangi biang kerok di rumah. Betul kan ya? Sudah terbukti bahwa memori Pak Wik masih prima dengan runtutnya cerita tsb wah hampir mirip laskar pelangi lho! cuma ini kurang panjang ….. Sekali lagi selamat dan saya tunggu cerita lainnya. Salam.
[Reply]
Mas Meds, trims untuk commentnya.Melalui Bupati, Belanda memerintah Pribumilewat Wedana, Ast.Wedana dan Lurah, namun Bupati juga didampingi Asisten Residen (Belanda, bertindak sebagai “penasihat” Bupati) yang dibantu oleh Tuan Kontrolir yang mengontrol Wedana, Ast.Wedana yang selanjutnya mengontrol Lurah, jadi jaringan pem. Belanda “rapi-jali” sampai desa2. Itu kantor Bupati Pwr. adalah bukti, dulu bekas kantor Asisten Residen yang “mendampingi” Bupati.Dengan sistem itu, 3000 Belanda bisa memerintah 70 juta pribumi… Belanda menamakan itu sistem “pemerintahan tidak langsung”, hemat dan efisien.
Pengaruh kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat? nggak ada hubungan, krn daerah Bagelen sejak pecahnya Mataram jadi 2 kerajaan itu, dimasukkan sebagai daerah Kasunanan Surakarta, tetapi setelah selesainya Perang Diponegoro 1830, Bagelen “diambil” jadi wilayah Belanda dan berdirilah kabupaten Purworejo dgn Bupati Tjokronegoro sebagai bupati pertama. Iulah sedikit tentang sejarah yang saya ketahui, salam, sw.
[Reply]
saya juga salut atas pendirian ayahanda bpak Wiek , saat jaman dulu sudah tahu betapa pentingnya sekolah . Sedangkan sekarang bisa kita lihat banyak anak usia sekolah justru di arahkan oleh orang tuanya ke lampu merah untuk mendapat upah .
teope begete…
salam,
[Reply]
Maturnuwun Pak Wik, ternyata dengan 3000 orang belanda bisa menguasai 70 juta rakyat Indonesia. Luar biasa. efiesien dan canggih. Makanya, kita harus terus belajar, biar tidak dibodohi oleh orang/ bangsa lain. Mekaten nggih Pak?
mau nanya lagi Pak Wik, mengenai Negari Ngayogyakarta H, kan statusnya kerajaan berdaulat. tapi kalau tidak salah kok Jogja termasuk salah satu karesidenan belanda ya Pak? Apa memang jogja juga termasuk bagian hindia belanda?
[Reply]
Mbak Aries, trims untuk tanggapan yang selalu “mengena”. Betul memang ada 2 keuntungan, namun kayaknya yang langsung dirasakan oleh ayah/ibu saya itu memang keuntungan yang kedua, titip momongkan anak nakal gratisan…
Saya sudah berhasil chatting dengan Itje, Hedy sudah nggabung mudah2an komunitas kita berkembang, salam,sw.
[Reply]
Mas “tri3″, terimakasih tanggapannya. Bhwa ada keadaan yang demikian memang menyedihkan, apalagi stl lebih 60 tahun merdeka. Siapa yang harus tanggung jawab? Dulu jaman penjajahan setiap menjelang tahun ajaran baru, saya ingat, pak Bayan desa keliling menemui ortu2 yang punya anak umur sekolah dan “menghimbau” agar anaknya disekolahkan, itu jaman penjajahan lho,sekarang boro2 ada perhatian demikian, salam, sw.
[Reply]
Betul sekali mas meds. Kita ini dari dulu selalu jadi korban “akal2an orang asing”, Bung Karno berusaha mengubah hal itu, namun nggak “kuwowo” juga. Sampai sekarang siapa yang menikmati kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah?
Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Negari Ngayogyakarta itu berdaulat diantara “tanda petik”. Setiap Raja yang mau naik tahta harus menanda-tangani “kontrak politik” dengan Belanda dimana syarat2nya ditentukan oleh Belanda, a.l. mengakui secara mutlak kedaulatan Pemerintah Jajahan Belanda, baru setelah setuju dan tanda-tangan, dilantiklah sang Raja oleh Belanda. Dengan begitu, kedalam kelihatannya “berdaulat”, keluar ya bagian dari Hindia Belanda, makanya disitu ditempatkan seorang Residen/Gubernur sebagai ujud nyata dari kekuasaan Belanda. Hal tersebut sudah dimulai sejak jaman Pakubuwono I abad 18 lalu. Demikian sekedar cuplikan sejarah,kurang lebihnya mohon maaf, salam,sw.
[Reply]
Mohon maaf mmm… ini mbah Slamet putranya mbah bekel yaa…, mohon maaf kalau keliru. Soalnya saya orang Susuk juga, tapi masih muda.
[Reply]
Betul sekali, mbak Frida apa putranya nak Carik ya, kalau bener ya masih pernah cucu sendiri, saya dengar ada putranya nak Carik yang kerja di Bali, apa mbak Frida ini? sudah krasan di Bali? Lebaran akan tilik desa? Salam, sw.
[Reply]
Leres mbah, namung kulo lare jaler, sanes cewek.. hehe..Iya mbah masih cucu sendiri. Alhamdulillah kerasan disini, walaupun mungkin masih enak kalau kerja deket rumah sendiri. Insya Allah lebaran saya pulang kampung mbah. Tahun kemarin tidak bisa pulang karena ditempat kerjaan baru belum dapat libur banyak. Secara hari libur di Bali beda sama di Jawa, untuk Hindu dan Muslim/Kristen ada liburnya sendiri2. Bagaimana kabar keluarga mbah ?
Saya tertarik ikut nongkrong di Blog ini, juga sekalian menimba ilmu dari yang lebih berpengalaman. Salam dari saya buat Bapak2/Ibu yang mampir di blog ini. Wassalam.
[Reply]
Apa Pak Guru Sastro keluarganya masih ada yg di Pogungrejo? kalau ada, Pogungrejonya mana/Dukuh mana dan nama keluarganya siapa..matur nembah nuwun sak derengipun Pak Wik.
[Reply]
Mas Frida maaf saya keliru, biasanya frida itu nama cewek. syukur kalau sudah krasan di Bali, kerja dibidang apa dan dimana.apa bapak/ibu sering tilik kemari dan apakah sudah berkeluarga? semoga sukses dan salam,sw.
[Reply]
Mas Yogo, trims komentarnya. Ini pertanyaan yang tidak bisa saya jawab. Mungkin kalau ditanyakan pada putro-wayahnya masih bisa dilacak, tetapi saya juga tidak tahu dimana mereka. Kalau mas Yogo tertarik bisa ditanyakan ke Wunut,bekas rumah pak Sastro masih ada, mungkin salah satu putranya ada yang tinggal disitu. Salam,sw
[Reply]
Mas Yogo, saya seorang pensiunan asal Mendiro sekarang tinggal di Bandung, menjadi wayah mantune mBah Guru Sastro. Setahu saya embah itu berasal dari Kliwonan. Sebelum mBah Kakung nikah dengan mBah Putri yang asli Wunut, masing2 sudah nggowo putro; Mbah Kakung wis apeputro 2, yaitu Pak Harjo dan Pak Bagyo (Alm), keduanya tinggal di Surabaya; sedang mBah Putri wis kagungan putro 1 yaitu Pak Kusno (Edi Kresno/Alm.), pernah tinggal di Jakarta. Pak Bagyo meninggal akibat kecelakaan motor di daerah Wates, dimakamkan di Wunut. Sedang Pak Kusno meninggal di Jakarta dan dimakamkan di Susuk. Dengan garwo asli Wunut mBah Sastro punya putro 3, Yaitu Bu Sri Sumilah (mertua saya)tinggal di Bandung, Om Sigit Sugito dan Om Sigit Sudiro (Alm) tinggal di Jakarta.Bu Sumilah kagungan garwo asal Wunut yaitu Bpk Reman Sastroatmojo (telah meninggal, dimakamkan di Taman Pahlawan Cikutra Bandung /Kolonel AD)punya anak 9 (sembilan); istri saya(sdh Almh)adalah anak yang kedua. Om Gito nikah dengan Bu Rien asal Tayu Jepara, punya nak 2. Om Diro Alm nikah dengan Bulik Antarsih asal Susuk (sedulur, putrane mbah Agen)punya anak 3. Rumah embah di Wunut diwariskan ke Om Gito dan Om Diro, sekarang ditunggoni/ditempati oleh sedulur asal Wunut yang katanya dulu kena PHK. Tentang keluarga mBah yang dari Kliwonan, saya cuma tahu salah satunya yaitu Mas Windar, Letkol Art yang jadi Komandan Kodim Purworejo.
Demikian Mas sedikit riwayat yang saya ketahui!
Salam…..!
Bandung Selatan, di waktu malam.
[Reply]
Mungkin yang bener Mas Wariso sebab capet2 saya pernah denger demikian. Mungkin saya mengacaukan dengan Pak Guru Purwo, guru ongko loro yang kabarnya asli Pogung dan menetap di Wunut. Maklum semuanya itu terjadi lebih dari 70 tahun yl.Kalau sama Mas Harjo, yang nama sebelumnya Sutjipto, saya kenal dengan panggilan mas Tjip, sedang dengan mas Reman saya kenal baik, lebih tua satu-dua tahun dari saya, malah sama kakaknya Mas Wagirin, saya juga kenal.Saya sedih mendengar banyak teman2 sudah mendahului, semoga mereka mendapat tempat yang layak. Jadi mas Wariso itu skr hidup sendiri? salam, sw.
[Reply]
Saya kerja di Bali, jadi kuli IT di Hotel mbah. Saya sudah berkeluarga, dan bapak/ibu setiap tahun pasti sempat datang menjenguk/maen2 ke Bali. Kalau mbah Slamet pas liburan ke Bali, kalau bisa mampir ke tempat saya.Wassalam
[Reply]
Sedikit keterangan mengenai Prof. Dr. Mahar Mardjono (http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/mahar-
mardjono/index.shtml)
Keluarga eyang M.H. Muh. Ibrahim (lurah Mangunrejo) mempunyai 11 putra/i, putra ke-5 dr.
Paijo (dokter di Kaliwungu), Dr. Mardjono adalah putra ke-11 sedangkan putra/i lainnya menjadi lurah Susuk/Mangunrejo (Soerodihardjo), lurah Awu2 (Sogi) atau menikah dgn lurah desa lain, sedangkan para wayah juga menjadi dokter seperti Prof. Dr.
Mahar Mardjono, dr. Soegiri (putra Hardjowijoto Siner Wunut) dan adik/mbakyu?nya dr. Soegiri menikah dgn Prof. dr. Abdurrahman Saleh
(http://id.wikipedia.org/wiki/Abdulrahman_Saleh) yg. gugur ketika sedang membawa obat-obatan. Walaupun tidak semua dilahirkan di Susuk tetapi salah satu ‘oyot’nya berada disini, yang mestinya bisa menjadi kebanggaan dan tauladan desa khususnya serta Purworejo umumnya.(sph)
[Reply]
Prof.Dr.Mahar Mardjono ini sepintas saya kenal sewaktu beliau jadi Rektor UI dan saya mewakili Perusahaan untuk memberikan sumbangan buku2 untuk perpustakaan UI, sambil lalu saya singgung beliau sebagai “orang Susuk”, yang tentu diakui.Sayang kariernya terhenti disitu, krn sifatnya yang “keras” yang setia pada prinsip,kalau mau ikut “arus” mestinya sudah jadi menteri. Kini dia diakui sebagai “Bapak Kedokteran Syaraf (neuroloog)” Indonesia.Dr.Soegiri tokoh pertempuran Surabaya, dekat dengan Bung Tomo dan Dr.Moestopo. Keliling kota duduk di atas kap mobil bersama Jendral Inggris Mallaby untuk menyiarkan gencatan senjata, namun jendral itu tertembak yang mengakibatkan pertempuran 10 Nopember ’45,pertempuran terbesar dlm sejarah kemerdekaan Indonesia yang kini jadi Hari Pahlawan. Adik Dr.Soegiri, ibu Toetik, nikah dengan Prof.Dr.Abdulrachman Saleh, satu angkatan dgn Dr.Soegiri di sekolah kedokteran. Saya kenal puteranya Panji Saleh (adik angkatan saya), yang pernah nderek ibu dan eyangnya di Wunut. Dia masuk AURI sebagai penerbang dan gugur dalam kecelakaan pesawat terbang. Masih ada adiknya Triawan, saya tidak kenal. Sebagai orang Susuk, sudah selayaknya bangga atas prestasi putra2 berasal-usul dari desa itu, semoga bisa menjadi contoh-teladan bagi kawula muda desa Susuk.
[Reply]
wah baru tw ada blogger pwr
go ahead bt ank daerah pwr, yg ktne kab miskin tp anak2 te2p berkarya dmn aj
[Reply]
Trims komen-nya mas(?)Alya. Pwr memang telah menyumbangkan banyak tokoh nasional, namun Pwr sendiri tetap sebagai daerah terbelakang dan tertinggal tanpa dinamika kemajuan. Yang memilukan juga adalah tiada hentinya Pwr dirundung kasus demi kasus dan menjadikannya seakan daerah tanpa pimpinan, sampai kapan?
[Reply]
sungguh cerita yg menarik,kenangan waktu tempo dulu memang tiada duanya.hanya gambaran dikepala kita yang jalan foto abadi diotak yg tak pernah bisa dicetak diatas kertas.bravo
[Reply]
Mas Ari, trims atas tanggapan dengan kata2 indah bersayap. Benar bahwa kenangan tempo dulu memang tiada duanya, ia akan terpatri lekat sepanjang hayat. Kenangan pada kasih sayang ortu kita, desa tempat kelahiran dan lingkungan yang membesarkan serta kawan sepermainan, saat2 pertama kita masuk sekolah dan pengalaman2 masa kecil lainnya yang biasanya terjadi sampai usia 10 tahunan, inilah yang tidak mungkin lepas dari ingatan kita. Seorang sastrawan dunia bahkan mengatakan bahwa bila kita bisa memelihara kenangan2 indah masa kecil, maka kita akan mudah untuk menikmati kebahagiaan samapi akhir hayat. Silahkan percaya atau tidak, namun itulah gambaran betapa besar peranan “kenangan” dalam hidup kita. Salam kenal.
[Reply]
Mbah slamet,matur nembah nuwun,
Kulo dados inget pas isih SD..
[Reply]
Terima kasih pak, sudah mau berbagi dengan kami. bagi kami anak-anak sejarah keterangan ini merupakan salah satu sumber yang berharga. Namun, saya ingin bertanya pak terutama tentang sekolah desa 3 tahun apakah ada maksimal usia untuk boleh masuk sekolah ini? pada waktu itu memang volkschool merupakan sekolah yang gratis, jadi semua anak-ank desa bisa ikut sekolah dong pak? itu dulu pak, mohon dibalas. Terima kasih
[Reply]
slamet wijadi Reply:
July 23rd, 2011 at 7:17 pm
Trimakasih untuk komen-nya mbak Noor. Setahu saya yang masuk sekolah rata2 usianya antara 7-8 tahun. Waktu itu tidak ada yang tahu tanggal/tahun kelahiran, jadi ya cuma dikira2 saja. Ukurannya kalau tangan kanan bisa pegang telinga liwat kepala sdh dianggap layak masuk. Saya waktu masuk usianya sekitar 6 tahun tetapi sdh bisa pegang telinga ya langsung diterima…. Memang Volkschool/Sekolah Desa gratis, bahkan untuk masuk saja harus di “paksa” oleh aparat desa, karena biasanya anak2 seusia itu harus membantu pekerjaan orang tuanya di sawah, jadi bukan saja bisa ikut sekolah, tetapi setengahnya “dipaksa”, itulah kenyataannya… Salam, Sw.
[Reply]
Noor Naelil Masruroh Reply:
July 23rd, 2011 at 7:29 pm
oh begitu ya pak, apakh banyak yang tidak melanjutkan setelah dari volkschool pak? lalu kira2 alasannya apa mereka nggak melanjutkan ke vervolgschool? apakah karena faktor biaya atau kira2 apa ya pak?
vervolgschool itu sekolah ongko loro kan, kedudukannya apakah sama dengan tweede school?
[Reply]
slamet wijadi Reply:
July 23rd, 2011 at 8:45 pm
Umumnya memang tidak melanjutkan ke vervolkschool, alasannya ya memang tidak merasa perlu, sudah bisa membaca dan menulis sudah cukup, lagipula umumnya mereka harus membantu orang tua cari nafkah, misalnya pekerjaan di sawah. Yang melanjutkan sekolah itu biasanya anak2 dari keluarga yang berpikiran maju dan secara materiil kecukupan.
Setahu saya ketiga sekolah itu sama saja, artinya sekolah lanjutan setelah Sekolah Desa 3 tahun. Salam, Sw.
Oh begitu ya pak, mohon maaf kalau saya banyak tanya. Apakah bapak tahu tentang pemberantasan Buta Huruf untuk orang-orang dewasa pada masa itu?
[Reply]
slamet wijadi Reply:
July 24th, 2011 at 8:47 am
Setahu saya pada waktu jaman Belanda tidak ada program pemberantasan buta huruf, untuk “melek huruf” pemerintah hanya menyediakan sekolah2 desa, itupun jumlahnya terbatas, misalnya untuk satu kecamatan dengan sekitar 50 desa, disediakan 6-7 sekolah desa 3 tahun dan satu sekolah ongko loro. Salam, Sw.
[Reply]