MENGENANG ‘SEKOLAH DESA’ WUNUT DI JAMAN BELANDA

  16 - May - 2009 -   slamet wijadi -   49 Comments »

“tulisan ini saya persembahkan kepada guru-guru saya: Pak Soekino Sastrosoekaryo (alm.) dan Pak Soemarno (alm.) sebagai ungkapan rasa terima kasih.”

Pada suatu pagi ditahun 1938, masih pagi2 sekali saya dibangunkan Ayah .“Ayo cepat bangun, pagi ini kamu akan saya antarkan masuk sekolah”. Karena ini perintah, saya tidak ada pilihan lain kecuali harus segera siap2 , mandi, ganti baju untuk sekolah, sarapan nasi dan berangkatlah kami diantar Ayah menuju sekolah desa Wunut yang berjarak sekitar setengah km dari rumah dengan jalan kaki.

Sampai di sekolah ternyata sudah ramai dengan anak2 seumur saya yang diantar orang-tuanya dengan tujuan yang sama, masuk sekolah kelas satu. Pak Guru Soekino Sastrosoekaryo, sibuk melayani para orang tua dan sekaligus mengadakan seleksi penerimaan. Pada waktu tiba giliran saya, Ayah maju dan menjawab beberapa pertanyaan Pak Guru tentang diri saya, nama dan umur.

Pak guru Sastro (kiri) menikmati pagearan wayang kulit di rumah Susuk didampingi seorang kakak (th. '72)

Pak guru Sastro (kiri) menikmati pagelaran wayang kulit di rumah Susuk didampingi seorang kakak (th. '72)

Waktu itu saya baru berumur 6 tahun, padahal ketentuan menyebutkan harus 7 tahun.” Wah ini belum bisa, baru tahun depan …”, komentarnya. Namun Ayah tidak mau menyerah dan melalui negosiasi kemudian saya diminta untuk memegang kuping kiri dgn tangan kanan lewat atas kepala. Ini memang cara lajim untuk penerimaan masuk sekolah waktu itu, bila tangan sudah “nyandak” kuping kiri, tandanya sudah bisa diterima. Rupanya pada waktu itu tangan saya sudah “nyandak” (“panjang tangan”?) sehingga kami dapat “dispensasi” umur, dan akhirnya diterima… . Legalah Ayah karena berarti mengurangi satu “anak nakal” di rumah, setidaknya antara pagi sampai jam 10. Saat itu kami ada 8 bersaudara, 3 diantaranya lelaki yang sering ribut satu sama lain.

Saya tidak tahu kapan Sekolah Desa Wunut mulai dibangun, pasti lebih tua dari Sekolah Ongko Loro didesa yang sama, yang dibangun tahun 1915. “Sekolah Desa” atau Volkschool, adalah sekolah yang disediakan oleh Pemerintah Jajahan Belanda untuk menampung hasrat anak2 desa yang ingin sekolah, lama waktunya hanya 3 tahun. Setelah selesai, bagi yang berminat bisa meneruskan ke Sekolah Lanjutan atau Vervolgschool yang lebih dikenal dengan “Sekolah Ongko Loro”, sampai tamat klas 5.

Bagi orang desa yang berpikiran maju dan ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah Belanda, setamat dari klas 3 ini bisa meneruskan ke Schakel School di Kutoarjo selama 5 tahun dan lulusannya dianggap setingkat dengan sekolah HIS 7 tahun yang hanya terbuka bagi anak golongan priyayi. Kedua kakak saya dikirim ke sekolah itu.

Bagi yang tidak berminat bisa mengakhiri dengan tamat kelas 3,(dan memang banyak yang demikian), diberikan Ijasah yang ditandatangani oleh Kepala Sekolah dan disyahkan oleh Bupati Purworejo. Saya masih ingat “tanda-tamat” belajar saya di Sekolah Desa itu di tanda-tangani oleh Bupati Purworejo waktu itu, R.A. Hasan Danuningrat . Mungkin tidak terbayang bagi generasi sekarang bahwa ijasah sekolah desa 3 tahun ditanda-tangani oleh seorang Bupati, tapi itulah nyatanya. Dan Bupati jaman itu “bukan manusia sembarangan”, terutama bagi orang desa, sebab untuk seorang camat saja,kita harus menyebutnya dengan “ndoro Seten” (Asisten), bahkan untuk cariknya, kita nyebut ndoro Carik Seten…

Kalau untuk Sekolah Ongko Loro disediakan satu sekolah untuk satu onder distrik/kecamatan, maka untuk sekolah desa 3 tahun terdapat beberapa, yang saya tahu untuk kecamatan Ngombol ada di Kaliwungu, Wonoroto, Mbukur, Ngombol/nJoso, Wonoboyo, Wingkomulyo disamping Wunut.

Ibu Koempoel teman satu kelas di Sekolah Desa Wunut ('38-'41)

Ibu Koempoel teman satu kelas di Sekolah Desa Wunut ('38-'41)

Tamatan dari sekolah2 inilah yang kemudian ditampung di Sekolah Ongko Loro Wunut, bagi yang ingin melanjutkan. Nampaknya antara sekolah2 desa satu kecamatan terdapat hubungan yang erat , demikian juga dgn Ongko Loro. Waktu itu komunikasi dilakukan dengan surat /kurir yang dilakukan oleh para murid, yang diistilahkan dengan “ngguwang layang” dan disinilah kelihatan “kepinteran” beberapa murid untuk mencari “peluang”. Kalau ada tawaran siapa yang bersedia “ngguwang layang” ke sekolah Ongko Loro yang jaraknya hanya beberapa ratus meter, misalnya, maka berebutlah yang “ngacung” , “saya saja, saya saja”, dengan harapan selesai ngguwang layang bisa terus ngacir pulang… .Namun kalau tawaran itu untuk sekolah yang jauh, mBukur atau Wonoroto misalnya, ya pada pating klesik saling tunjuk “kamu saja, kamu saja…”, inilah “akal bulus” anak2 jaman itu. Tapi kalau tidak ada yang mau, akhirnya Pak Guru langsung menunjuk, namun ada keringanan yaitu diberi teman, jadi berdua dan diijinkan untuk terus pulang.

Hari2 pertama di sekolahan yang saya ingat adalah panggilan absen nama satu persatu dan menentukan tempat duduk pada bangku panjang yang diisi dua orang satu bangku. Satu kelas kira2 terdiri dari 20-25 orang murid, sepertiga antaranya adalah murid wanita. Hanya ada satu kelas untuk setiap angkatan, jadi hanya ada satu kelas untuk kelas satu, satu kelas dua dan satu kelas tiga. Guru ada dua orang, satu guru mengajar kelas satu dan kelas dua dan satu guru mengajar kelas tiga.

Pada hari pertama masuk kelas kami mendapat pembagian “sabak” (batu tulis) dan “grip” (anak batu tulis) untuk menulis di sabak dan itulah alat tulis menulis jaman itu. Samasekali belum dikenal buku tulis dan pensil. Tulisan pada sabak tsb dengan mudah dapat dihapus, sehingga alat tersebut bisa digunakan secara berulang-ulang, cukup hemat.

Saya tidak terlalu ingat pelajaran yang diberikan pada hari2 pertama, yang teringat adalah pelajaran membaca dan menulis huruf2 Jawa ho,no,co,ro,ko dan huruf latin,sedang caranya sudah lupa. Kemudian ada pelajaran berhitung , menggambar, menyanyi (nembang jawa) dan olah raga. Dan itulah nampaknya isi pelajaran sekolah desa waktu itu sampai tamat kelas tiga.

Saat2 yang mendebarkan adalah saat kedatangan “ndoro Siner” (school opziener/penilik sekolah) yang nampak angker-berwibawa,waktu itu namanya ndoro Siner Kodrat, berseragam putih2 pakai destar. Biasanya datangnya mendadak dengan mengendarai dokar khusus, langsung menuju kelas. Tugas dari ndoro Siner ini adalah untuk mengechek apakah standar pelajaran yang telah ditentukan sudah di patuhi.

Ada satu kejadian yang lucu yang saya ingat, karena pada waktu ndoro Siner ini tiba dan masuk kelas, mendapatkan pak Guru sedang “tertidur”. nDoro Siner ini langsung mengambil alih tugas pak Guru mengajar di kelas. Bisa dibayangkan betapa terkejutnya pak Guru sewaktu terbangun…. sungguh kasihan.Saya tidak dapat membayangkan tegoran apa yang diberikan oleh ndoro Siner pada pak Guru. Betapapun, saya merasa sangat berhutang budi kpd Pak Guru Sastro yang telah mengajari kami jadi melek huruf jawa/latin, hitung2an dan nembang.

Satu hal yang istimewa dari Pak Guru Sastro ini adalah bahwa seluruh saudara2 kami sebanyak 10 orang yang bersekolah di Sekolah Desa Wunut ini di ajar oleh beliau, demikian juga semua tanda-tamat belajar kami sebanyak 10 orang ditanda-tangani oleh beliau yang di syahkan oleh Bupati Purworejo.

Dikemudian hari, pada waktu saya sudah “jadi orang” dan memiliki mobil pribadi, saya mohon agar Bapak Guru Sastro dan Ibu berkenan saya derekkan “plesir” ke Borobudur dan Magelang dimana saya bertindak sebagai sopir dan bekas murid yang ingin “memanjakan” kedua tamu kehormatan saya itu. Itulah sekedar ungkapan rasa terima kasih saya kepada Pak Guru yang saya hormati, yang nampaknya diterima dengan senang hati.

Pada waktu saya duduk di klas tiga kami diajar guru lain, Pak Soemarno, asli Tuntungpait, (Pak Sastro asli Desa Pogungrejo), yang kemudian menetap di Kaliwungu, karena mempersunting putri Kaji Jabar Kaliwungu . Pak Marno ini orangnya sangat baik dan pinter nembang dengan suara yang merdu. Beberapa tembang yang diajarkan waktu itu masih terekam dalam memori saya sampai saat ini dan bahkan saya masih sanggup untuk melantunkannya.

Satu kenangan lain adalah saat memperingati hari besar istimewa yaitu hari kelahiran Ratu Belanda Wilhelmina yang jatuh pada setiap tanggal 31 Agustus . Menjelang hari peringatan para murid diajari nembang “panembromo” berisi puja-puji terhadap sang Ratu nun jauh diseberang lautan. Bagi murid yang penting adalah “hadiah” berupa kuweh2 dan permen dan hari liburnya…

Silaturahmi Lebaran antar warga Lansia "Mangunrejo" di rumah Susuk. Sebagian besar dari mereka adalah "alumni" Sekolah Desa Wunut...

Silaturahmi Lebaran antar warga Lansia "Mangunrejo" di rumah Susuk. Sebagian besar dari mereka adalah "alumni" Sekolah Desa Wunut...

Tidak terasa waktu berjalan cepat. Tahun 1941, saya tamat Sekolah Desa 3 tahun dengan memperoleh tanda-tamat belajar. Tahun itu juga saya meneruskan ke Sekolah Ongko Loro, tahun dimana pecah Perang Pacific yang akan mengakhiri penjajahan Belanda di Indonesia dan masuknya pendudukan Jepang.

Sekolah Desa kemudian digabung dengan Ongko Loro menjadi Sekolah Rakyat 6 tahun yang oleh Jepang dinamakan “Kokumin Gakko”. Jaman baru telah datang, jaman penjajahan Jepang, yang ternyata hanya berlangsung untuk “seumur jagung”, disusul datangnya jaman kemerdekaan… ..

Slamet Wijadi

Category: blog,Uncategorized, Tags: | posted by:slamet wijadi


49 Responses to “MENGENANG ‘SEKOLAH DESA’ WUNUT DI JAMAN BELANDA”

  1. pujo says:

    Sedikit keterangan mengenai Prof. Dr. Mahar Mardjono (http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/mahar-
    mardjono/index.shtml)
    Keluarga eyang M.H. Muh. Ibrahim (lurah Mangunrejo) mempunyai 11 putra/i, putra ke-5 dr.
    Paijo (dokter di Kaliwungu), Dr. Mardjono adalah putra ke-11 sedangkan putra/i lainnya menjadi lurah Susuk/Mangunrejo (Soerodihardjo), lurah Awu2 (Sogi) atau menikah dgn lurah desa lain, sedangkan para wayah juga menjadi dokter seperti Prof. Dr.
    Mahar Mardjono, dr. Soegiri (putra Hardjowijoto Siner Wunut) dan adik/mbakyu?nya dr. Soegiri menikah dgn Prof. dr. Abdurrahman Saleh
    (http://id.wikipedia.org/wiki/Abdulrahman_Saleh) yg. gugur ketika sedang membawa obat-obatan. Walaupun tidak semua dilahirkan di Susuk tetapi salah satu ‘oyot’nya berada disini, yang mestinya bisa menjadi kebanggaan dan tauladan desa khususnya serta Purworejo umumnya.(sph)

  2. Prof.Dr.Mahar Mardjono ini sepintas saya kenal sewaktu beliau jadi Rektor UI dan saya mewakili Perusahaan untuk memberikan sumbangan buku2 untuk perpustakaan UI, sambil lalu saya singgung beliau sebagai “orang Susuk”, yang tentu diakui.Sayang kariernya terhenti disitu, krn sifatnya yang “keras” yang setia pada prinsip,kalau mau ikut “arus” mestinya sudah jadi menteri. Kini dia diakui sebagai “Bapak Kedokteran Syaraf (neuroloog)” Indonesia.Dr.Soegiri tokoh pertempuran Surabaya, dekat dengan Bung Tomo dan Dr.Moestopo. Keliling kota duduk di atas kap mobil bersama Jendral Inggris Mallaby untuk menyiarkan gencatan senjata, namun jendral itu tertembak yang mengakibatkan pertempuran 10 Nopember ’45,pertempuran terbesar dlm sejarah kemerdekaan Indonesia yang kini jadi Hari Pahlawan. Adik Dr.Soegiri, ibu Toetik, nikah dengan Prof.Dr.Abdulrachman Saleh, satu angkatan dgn Dr.Soegiri di sekolah kedokteran. Saya kenal puteranya Panji Saleh (adik angkatan saya), yang pernah nderek ibu dan eyangnya di Wunut. Dia masuk AURI sebagai penerbang dan gugur dalam kecelakaan pesawat terbang. Masih ada adiknya Triawan, saya tidak kenal. Sebagai orang Susuk, sudah selayaknya bangga atas prestasi putra2 berasal-usul dari desa itu, semoga bisa menjadi contoh-teladan bagi kawula muda desa Susuk.

  3. alya says:

    wah baru tw ada blogger pwr
    go ahead bt ank daerah pwr, yg ktne kab miskin tp anak2 te2p berkarya dmn aj

  4. Trims komen-nya mas(?)Alya. Pwr memang telah menyumbangkan banyak tokoh nasional, namun Pwr sendiri tetap sebagai daerah terbelakang dan tertinggal tanpa dinamika kemajuan. Yang memilukan juga adalah tiada hentinya Pwr dirundung kasus demi kasus dan menjadikannya seakan daerah tanpa pimpinan, sampai kapan?

  5. ari says:

    sungguh cerita yg menarik,kenangan waktu tempo dulu memang tiada duanya.hanya gambaran dikepala kita yang jalan foto abadi diotak yg tak pernah bisa dicetak diatas kertas.bravo

  6. Mas Ari, trims atas tanggapan dengan kata2 indah bersayap. Benar bahwa kenangan tempo dulu memang tiada duanya, ia akan terpatri lekat sepanjang hayat. Kenangan pada kasih sayang ortu kita, desa tempat kelahiran dan lingkungan yang membesarkan serta kawan sepermainan, saat2 pertama kita masuk sekolah dan pengalaman2 masa kecil lainnya yang biasanya terjadi sampai usia 10 tahunan, inilah yang tidak mungkin lepas dari ingatan kita. Seorang sastrawan dunia bahkan mengatakan bahwa bila kita bisa memelihara kenangan2 indah masa kecil, maka kita akan mudah untuk menikmati kebahagiaan samapi akhir hayat. Silahkan percaya atau tidak, namun itulah gambaran betapa besar peranan “kenangan” dalam hidup kita. Salam kenal.

  7. Aweng bagong says:

    Mbah slamet,matur nembah nuwun,
    Kulo dados inget pas isih SD..

  8. Terima kasih pak, sudah mau berbagi dengan kami. bagi kami anak-anak sejarah keterangan ini merupakan salah satu sumber yang berharga. Namun, saya ingin bertanya pak terutama tentang sekolah desa 3 tahun apakah ada maksimal usia untuk boleh masuk sekolah ini? pada waktu itu memang volkschool merupakan sekolah yang gratis, jadi semua anak-ank desa bisa ikut sekolah dong pak? itu dulu pak, mohon dibalas. Terima kasih

    • Trimakasih untuk komen-nya mbak Noor. Setahu saya yang masuk sekolah rata2 usianya antara 7-8 tahun. Waktu itu tidak ada yang tahu tanggal/tahun kelahiran, jadi ya cuma dikira2 saja. Ukurannya kalau tangan kanan bisa pegang telinga liwat kepala sdh dianggap layak masuk. Saya waktu masuk usianya sekitar 6 tahun tetapi sdh bisa pegang telinga ya langsung diterima…. Memang Volkschool/Sekolah Desa gratis, bahkan untuk masuk saja harus di “paksa” oleh aparat desa, karena biasanya anak2 seusia itu harus membantu pekerjaan orang tuanya di sawah, jadi bukan saja bisa ikut sekolah, tetapi setengahnya “dipaksa”, itulah kenyataannya… Salam, Sw.

      • oh begitu ya pak, apakh banyak yang tidak melanjutkan setelah dari volkschool pak? lalu kira2 alasannya apa mereka nggak melanjutkan ke vervolgschool? apakah karena faktor biaya atau kira2 apa ya pak?
        vervolgschool itu sekolah ongko loro kan, kedudukannya apakah sama dengan tweede school?

        • Umumnya memang tidak melanjutkan ke vervolkschool, alasannya ya memang tidak merasa perlu, sudah bisa membaca dan menulis sudah cukup, lagipula umumnya mereka harus membantu orang tua cari nafkah, misalnya pekerjaan di sawah. Yang melanjutkan sekolah itu biasanya anak2 dari keluarga yang berpikiran maju dan secara materiil kecukupan.
          Setahu saya ketiga sekolah itu sama saja, artinya sekolah lanjutan setelah Sekolah Desa 3 tahun. Salam, Sw.

  9. Oh begitu ya pak, mohon maaf kalau saya banyak tanya. Apakah bapak tahu tentang pemberantasan Buta Huruf untuk orang-orang dewasa pada masa itu?

    • Setahu saya pada waktu jaman Belanda tidak ada program pemberantasan buta huruf, untuk “melek huruf” pemerintah hanya menyediakan sekolah2 desa, itupun jumlahnya terbatas, misalnya untuk satu kecamatan dengan sekitar 50 desa, disediakan 6-7 sekolah desa 3 tahun dan satu sekolah ongko loro. Salam, Sw.

  10. sastro siswoyo says:

    saya juga asli wunut..rumah saya di belakang mesjid wunut.. pak guru sastro adalh bekas guru saya,tugiso adalah kawan saya yng menjadi guru di sd punjanggading…salam untuk kawan” SD wunut thn 1942

  11. slametwijadi says:

    trimakasih mas Sastro. Pak Guru Sastro itu sudah jadi guru di Wunut sebelum tahun ’30-an. mbakyu saya yang lahir tahun’24 juga diajar beliau, seperti semua 9 saudara saya lainnya. Mas Tugiso ya kenal, kin sdh almarhum, yang ada satu angkatan Pak Sarkun, kini dalam keadaan sakit stroke. Mas Sastro di belakang mesjid Wunut, kenal dengan Mas Gathot alm. teman saya? Dimana tinggalnya? Salam, Sw.

  12. She_Nee says:

    Selamat pagi Pak, saya kembali ingin bertanya tentang Volkschool di Desa Wunut. Saya dengar di daerah Purworejo banyak sekolah tinggalan pemerintah Belanda semacam itu ya.. Apakah masih ada itu pak sekarang?
    Kalau masih ada keren ya… :)
    Oh iya, sempat terpikirkan dalam benak saya bagaimana ya strategi belajar bapak dan teman2 seangkatan dahulu waktu mengikuti volkschool? Apakah mereka semangat sekali ikut sekolah itu?
    Mohon jawabannya ya pak, saya penasaran sekali.

    Terima kasih

    • slamet wijadi says:

      mBak She_Nee, trimakasih untuk tanggapannya, “sekolah tinggalan pemerintah Belanda” yang masih asli ada beberapa yang saya ketahui, salah satunya adalah Volkschool di desa Wunut, walau tidak seasli spt waktu saya sekolah, yang lebih asli adalah Sekolah Ongko Loro Wunut dimana saya sekolah setelah tamat Sekolah Desa 3 tahun. Sekolah itu dibangun tahun 1915, jadi 3 tahun lagi akan berusia 100 tahun. Sampai sekarang bentuknya masih asli dengan sedikit renovasi, kalau mau lihat silahkan datang kesana, kalau kebetulan saya didesa nanti saya anter. Soal strategi belajar, kayaknya nggak terpikir, murid hanya mengikuti pelajaran Bapak Guru, herannya kok berhasil juga, buktinya selesai 3 tahun sudah bisa membaca, menulis, latin dan jawa, berhitung dan menyanyi, yang semuanya itu merupakan dasar bagi meneruskan sekolah lebih lanjut, bahkan sampai sekarang, lebih 70 tahun kemudian, hampir semua pelajaran masih terekam dalam memori saya. Hebat juga, ya. mBak dari mana asalnya kok tertarik soal2 beginian. Salam kenal, Sw.

  13. She_Nee says:

    Terima kasih atas informasinya pak,
    Kalau dulu bapak/ Ibu guru pakai buku ajar tidak pak?
    apakah bapak masih punya..
    Saya tertarik sekali menulis sejarah pendidikan masa Belanda terutama pendidikan pribumi..
    Tetapi baru dalam tahap menggali informasi tentang beberapa topik.

    • slamet wijadi says:

      Tentu pakai buku ajar sebagai panduan dan pegangan guru, saya tidak pernah punya. Kalau mau meneliti bisa datang ke Balai Pustaka, disitu mungkin masih diketemukan buku2 panduan untuk Sekoah2 desa jaman Belanda. BP adalah penerbit milik Pemerintah yang menerbitkan buku2 jaman/waktu itu.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net