“SEKOLAH ONGKO LORO” DI AKHIR JAMAN PENJAJAHAN BELANDA

  24 - May - 2009 -   slamet wijadi -   13 Comments »

Berbeda dengan kakak-kakak saya yang setamat Sekolah Desa Wunut dikirim ke kota untuk sekolah Belanda Schakel School, saya dikirim ke Sekolah Ongko Loro di desa yag sama. Waktu saya “protes” pada ibu (yang adalah pemegang ekonomi keluarga) kenapa saya dibedakan dengan kakak2, jawabannya sambil berseloroh “kalau kamu juga ke kota siapa yang akan jaga rumah dan ngurusi sawah di desa…”. Agak “mendongkol” juga dengan jawaban tsb, sampai dikemudian hari saya baru memahami latar belakang jawaban termaksud. Bagi orang desa, betapapun mampunya akan terasa berat untuk membiayai 3 orang anak sekolah di kota sekaligus. Belum lagi biaya untuk mengirim mbakyu saya ke Sekolah Kartini di Purwodadi. Sebagai anak lelaki yang ketiga rupanya memang saya harus “legowo” untuk menerima keadaan demikian.
Jadilah saya murid Ongko Loro. Itu terjadi ditahun ajaran 1941. Saya diterima di kelas IV sebagai kelanjutan dari sekolah desa 3 tahun. Sekolah Ongko Loro itu mempunyai dua kelas, kelas 4 dan kelas 5, masing2 kelas terdiri 2 kelas paralel, saya masuk di kelas IV B dengan guru Pak Sastrosendjojo (Pak Sastro), seorang guru berasal dari daerah Banyumas , bicaranya berlogat Banyumasan yang waktu itu dikenal dengan “pego”. Dikenal “galak” dan berwibawa sehingga para murid merasa “miris” berhadapan dengan beliau, namun kelebihannya adalah beliau mengajarkan disiplin dan ketertiban yang kelak sangat bermanfaat bagi para murid.

"Sekolah Ongko Loro Wunut", berjasa mendidik anak2 desa......

"Sekolah Ongko Loro Wunut", berjasa mendidik anak2 desa......

Guru2 di kelas lain adalah Pak Purwotaruno (Pak Purwo) asal Pogung yang menetap didesa Wunut, mengajar di klas IV A, Kemudian Pak Prawirosuwarno (Pak Prawiro) asal Wironatan, Butuh, mengajar di klas V A dan Pak Dwidjosudarmo mengajar klas V B yang sekaligus adalah Mantri (Kepala) sekolah yang waktu itu sebutannya adalah ndoro Mantri Guru, berasal dari daerah Yogya, beristri seseorang yang kabarnya masih berdarah bangsawan. Menurut ingatan saya semua bapak2 guru waktu itu mempunyai “wibawa” yang cukup besar, baik sebagai pribadi maupun penampilan mereka di depan kelas. Namun yang paling berkesan bagi saya adalah Pak Sastro dan ndoro Mantri Dwidjo.
Apabila di Sekolah Desa komposisi murid laki-perempuan 3:1, di Ongko Loro berubah turun, karena di kelas sekitar 25 orang, murid perempuan seingat saya tidak lebih dari 4 orang. Ini menunjukkan bahwa pendidikan anak perempuan didesa masih asing, paling dianggap sudah cukup sampai klas 3 saja, itupun masih pilih2 bagi orang desa yang “maju”.
Bahasa pengantar di Ongko Loro adalah bhs. Jawa. Bhs. Indonesia diajarkan dengan nama bhs. Melayu, saya masih ingat buku bacaan bhs. Melayu berjudul “Matahari Terbit”, sedang untuk bhs. Jawa ada beberapa buku, yang saya ingat adalah “Oncen-Oncen”. Salah satu kelebihan Ongko Loro ini adalah memiliki Bibliotik/Perpustakaan yang berisi buku2 penerbitan Balai Pustaka yang lengkap yang boleh dipinjam oleh murid. Ada 3 golongan buku,Golongan A, buku2 yang populer boleh dipinjam secara gratis, Gol. B, buku2 cerita/roman/perjalanan/ mengenakan biaya satu sen untuk pinjam satu minggu, sedangkan Gol.C buku2 bahasa Melayu mengenakan biaya sama dengan Gol. B.
Ini adalah kesempatan yang luar biasa karena saya bisa memuaskan diri saya dengan membaca berbagai hal yang menarik yang saya peroleh dari bibliotik itu.
Dan untuk itu saya mendapat dukungan dari ibu yang menjamin pembayaran biaya pinjam buku2 tsb. seberapapun buku2 yang saya pinjam. Dalam hal ini saya harus akui bahwa ibu termasuk wanita yang berpikiran “sangat maju” untuk jamannya, padahal beliau sendiri adalah buta huruf. Dengan membaca buku2 itu wawasan saya tentang berbagai hal berkembang dengan cepat.Saya kenang bibliotik ini sebagai jendela pertama saya mengenal dunia dan beruntung bhw saya mempunyai kegemaran membaca. Saya tidak tahu apa di SD sekarang ini masih ada perpustakaan seperti itu.
Berpuluh tahun kemudian, saya berkunjung ke perpustakaan Balai Pustaka di Jl. Gunung Sahari/daerah Senen, Jakarta yang masih menyimpan koleksi lengkap buku2 terbitan Balai Pustaka jaman dulu. Dengan penuh nostalgia saya mencari buku2 yang dulu di Ongko Loro saya pinjam dan nampaknya semuanya masih ada. Beberapa buku bahkan saya minta untuk di foto-copy, karena saya ingin menikmati dgn tenang di rumah.
Pelajaran yang sangat ditekankan di Ongko Loro ini nampaknya adalah “berhitung” yang dibagi tiga yaitu “hitung pecahan”, “hitung soalan” dan “hitung awangan”(mencongak). Seingat saya setiap hari matapelajaran itu selalu ada, dan bagi sebagian murid merupakan “momok”, karena akan menjadi “bulan2-an” Pak Guru dan dibodoh2kan dimuka kelas bila jawabannya “ngawur”.
Pelajaran yang disenangi adalah Ilmu Bumi, pertama dikenalkan dengan Kabupaten Purworejo, kemudian Karesidenan Kedu, seterusnya Jawa Tengah dan Hindia Belanda. Pelajaran lain adalah Bahasa Jawa, bahasa Melayu dan paling menyenangkan adalah pelajaran nembang Macapat karena akan terjadi “perlombaan” adu suara antar murid. Pelajaran olah raga diberikan dalam bentuk permainan seperti kasti, gobak sodor dll.

Serangan Jepang di Pearl Harbor yang memicu berkobarnya Perang Pacific....

Serangan Jepang di Pearl Harbor yang memicu berkobarnya Perang Pacific....

Keadaan damai tersebut ternyata tidak bertahan lama. Tanggal 7 Desember ’41 Jepang menyerang Amerika di Pearl Harbor/Hawaii dan pecahlah Perang Pacific sebagai bagian dari Perang Dunia ke-II yang telah berkobar di Eropah sejak bulan Mei tahun ’40 dan negeri Belanda sudah diduduki Jerman sejak saat itu. Belanda berpihak ke Amerika/Sekutu dan mengumumkan perang terhadap Jepang, hanya dalam waktu beberapa jam setelah serangan itu. Hindia Belanda dalam keadaan perang.
Dikemudian hari sewaktu saya berada di kampus University of Hawaii (th. ’57), saya perlukan berkunjung ke museum hidup dilepas pantai Honolulu yang berupa bangkai kapal -kapal raksasa yang telah diangkat setelah tenggelam sebagai akibat dari bom2 serangan udara pesawat2 terbang Jepang; sungguh mengerikan membayangkan jatuhnya korban meninggal sekitar 2500 orang terkubur bersama kapal mereka.
Serangan Jepang inilah yang menyulut berkobarnya Perang Pacific yang merembet ke Hindia Belanda dan mengakibatkan jatuhnya Pemerintah Jajahan Belanda dan terusirnya Belanda untuk selamanya dari Indonesia.
Bagi orang yang hidup di desa, keadaan tetap “adem ayem”, hampir tidak ada pengaruhnya , bahkan berita tentang perang-pun hampir tidak kita dengar. Di perdesaan tidak ada akses berita, tidak ada listrik, tidak ada radio. Lagi pula apa kepentingan orang desa dengan adanya perang, itu bukan perang mereka, itu perangnya Belanda melawan Jepang, bahkan dalam hati kecil mereka”berdoa” semoga Belanda kalah… dan terusir dari Indonesia.
Kegiatan belajar-mengajar di Ongko Loro pada permulaannya juga tidak berubah, baru sekitar sebulan kemudian dampak perang mulai terasa dengan adanya latihan “perlindungan bahaya udara”, cara2 penyelamatan bila terjadi serangan udara. Untuk itu sekolah diwajibkan membuat “lobang perlindungan” dengan ukuran sekitar 5×3 meter dengan kedalaman sekitar 1-2 meter sebanyak 2 buah yang terletak di kiri kanan sekolah. Bila terdengar suara “kentong gobyok” atau “titir” itu tandanya datangnya “bahaya udara” dan segera murid berlarian ke lobang perlindungan dengan masing2 menggigit karet yang telah dibagi sebelumnya. Maksudnya bila terjadi ledakan bom mulut tidak akan “terkunci….” Aneh benar kalau dipikir sekarang.
Bila “bahaya udara” sudah lewat, terdengar lagi “titir”, berarti sudah aman untuk keluar lobang pelindungan dan pelajaran bisa dilanjutkan lagi. Selama berada di lobang perlindungan tidak terasa suasana tegang, bahkan menjadi ajang untuk bercanda-ria. Hal ini mengingat suasana perang itu dirasakan sebagai hal yang “abstrak” yang terjadi nun jauh disana.
Suasana perang terasa agak dekat ketika sekitar Pebruari ’42, Cilacap dijadikan markas Sekutu untuk pengunduran pasukan secara besar2an dari Jawa ke Australia. Beberapa kali pelabuhan Cilacap menjadi sasaran pengeboman pesawat2 udara Jepang. Pesawat terbang melintas dengan rendah di udara Ongko Loro dan nampak dengan tanda bendera Amerika, menggambarkan suasana kepanikan, tapi itupun hanya sebentar dan keadaan kembali sepi lagi.

Panglima Belanda menyerah kepada Panglima tentara Jepang, berakhirnya penjajahan Belanda di Indonesia...

Panglima Belanda menyerah kepada Panglima tentara Jepang, berakhirnya penjajahan Belanda di Indonesia...

Sampai kejadian yang luar biasa di suatu siang bulan Maret ’42, ketika kita mendengar suara menderu-deru di udara dan waktu menengadah ke langit nampak dengan gagahnya formasi “fly pass”(terbang lintas) sekitar 10 pesawat terbang yang agak aneh dengan tanda bulatan merah di sayap, yang ternyata adalah bendera Jepang “hinomaru”.

Itulah simbul keperkasaan Dai Nippon yang sekaligus merupakan pertanda ditutupnya jaman lama dan datangnya jaman baru bagi bangsa Indonesia dan tentu saja termasuk Sekolah Ongko Loro Wunut.

Belanda terusir dari bumi Hindia Belanda setelah perang sekitar 3 bulanan melawan Jepang, dan mengakhiri masa penjajahan 350 tahun di Indonesia untuk selama-lamanya.

Slamet Wijadi

Category: blog, Tags: | posted by:slamet wijadi


13 Responses to ““SEKOLAH ONGKO LORO” DI AKHIR JAMAN PENJAJAHAN BELANDA”

  1. nurrahman says:

    wew.jadi inget saya sekolah di smp loro…(ga ada hubungannya yah..hehehe)

  2. Mas Nur, trims untuk tanggapannya, saya kebetulan juga di SMP loro tapi di Jogja, salam, sw.

  3. ariesudjiwati says:

    Baca tulisan Pak Wik jadi inget pelajaran sejarah dulu tapi ini jauh lebih jelas karena penulis mengalami sendiri. Orangtua saya memang ber ulang2 nyritani jaman perang dulu tapi critanya kebanyakan sekitar th 1947 ke atas setelah ortu nikah dan punya bayi sempat ngumpet di jugangan segala utuk menghindari bom. Terima kasih Pak Wik tulisannya bagus sekali untuk pengetahuan bagi yg waktu itu belum lahir termasuk saya. Perlu diketahui waktu saya duduk di SR (skr SD) masih nulis pakai sabak dgn grip spt tulisan Pak Wik waktu sekolah di Wunut,waktu itu belum pakai buku tulis, setelah kelas 2 baru mulai pakai buku tulis itu juga kalo gak salah maklum daya ingat saya tdk sebagus daya ingat Pak Wik. Namun dengan sering membaca dan latihan menulis saya yakin akan berguna utk menunda kepikunan saya. Amin. Sekali lagi selamat untuk Pak Wik dan tulisan berikutnya ditunggu ya ………….. salam.

  4. mbak Aries, terimakasih taggapannya bagus,mnrt saya mbak Aries skr sudah pinter nulis dan cara mengemukakan gagasan juga sudah sangat runtut, nggak kalah lho sama Yoke. Membaca dan latihan menulis bukan hanya sekedar menunda kepikunan saja, tetapi juga mencerdaskan diri dan menambah wawasan, sehingga dunia terbuka makin lebar yang membuat hidup kita menjadi lebih berarti. Dan bila tulisan kita dibaca dan bermanfaat bagi orang lain, itu juga merupakan kenikmatan tersendiri. Sayangnya tidak semua orang mau dan bisa menulis, makanya beruntunglah dan bersyukurlah kita yang diberi kemudahan untuk itu.Sekali lagi thanks untuk comment-nya, salam, sw.

  5. Murni Ramli says:

    Salam kenal, Pak Slamet Wijadi.
    Saya Murni Ramli, mahasiswa bidang pendidikan di Univ. Nagoya, Jepang.
    Saya senang sekali membaca tulisannya ttg Sekolah Desa Wunut dan Sekolah Ongko Loro, sebab kebetulan saya sedang meneliti ttg sejarah pendidikan menengah Indonesia.
    Sebenarnya ingin sekali mewawancarai Bapak ttg masa bersekolah dulu, bisakah saya mendapatkan email address Bapak ?
    Oya, sedikit pertanyaan,
    1.apakah Sekolah Ongko Loro itu setingkat dg Twedee School atau Vervolg School ?
    2. Di dalam buku sejarah yang ditulis oleh orang Jepang disebutkan ada yg disebut Sekolah Jawa yag dibuat pd th 1832. Apakah ini sama dengan Sekolah Dokter Jawa?
    3.Apakah pada masa Bapak bersekolah ada yang sekolah HIS khusus untuk anak-anak Arab?
    4. Dalam buku sejarah dituliskan bahwa lulusan Sekolah Desa dapat meneruskan ke Vervolgschool yang kedudukannya disamakan dg Twedee School.Atau lulusan Sekolah Desa dapat pula melanjutkan ke Schackel School. Pertanyaan saya apakah lulusan Vervolgschool dapat lanjut ke MULO? Apakah lulusan Schackelshool dapat pindah ke HIS ? atau lanjut ke MULO ?
    5.Saya menangkap sedikit gambaran kurikulum yg diberikan di Ongko Loro. Menarik sekali pelajaran ilmu buminya karena mengenalkan dari daerah tempat tinggal siswa. Bisakah Bapak ceritakan sedikit ttg kurikulum/apa saja yg Bapak pelajari di Sekolah Desa Wunut?

    Mohon maaf dengan pertanyaan yang panjang ini.Semoga Bapak tidak keberatan membaca dan menjawabnya. Terima kasih sebelum dan sesudahnya.

  6. mbak Murni, saya senang tulisan saya menarik perhatian mhs. di Nagoya, Jepang. Saya akan jawab petanyaan mbak Mur semampu saya.
    -pengertian waktu itu “sekolah ongko loro” adalah kelanjutan dari sekolah desa 3 tahun, dengan lama belajar 2 tahun, nama kerennya adalah “vervolg school”, orang desa terbiasa dengan istilah ongko loro, mungkin ini terjemahan dari “tweede inlandsche school”.
    -tidak pernah dengar ada sekolah jawa, yang ada sekolah dokter jawa yang dirintis th 1850-an, berkembang jadi stovia (1900) dan GHS (1913).
    -setahu saya tidak ada HIS untuk gol.Arab, mungkin jumlahnya kecil.
    -sekolah desa dapat ke schakel school, kakak2 saya contohnya.Dari vervolg school tidak bisa ke schakel, bukan jalurnya. Dari schakel bisa ke MULO, krn tamatan schakel disamakan denga tamatan HIS.
    - yang saya tahu tidak bisa, jalurnya lain.
    - kurikulum di sekolah desa sudah saya terangkan di tulisan Sekolah Desa Wunut.
    Demikian sekedar tanggapan saya, e-mail saya bisa dialamatkan ke Admn. Blogger mas Sumedi, satvica77@yahoo.com . Salam, sw.

  7. Murni Ramli says:

    Pak Slamet,
    Terima kasih banyak atas tanggapannya.
    Alamat emailnya akan saya catat.
    Satu pertanyaan lagi, apakah Bapak tinggal di Purworejo ? Sebab kampus saya selalu mengirimkan mahasiswa Jepang untuk field trip ke Jateng, dan salah satu daerah yg dikunjungi adalah Purworejo.
    Siapa tahu kalau ada kesempatan, saya bisa mengunjungi Bapak, sekolah Wunut dan sekolah Ongko Loro.
    Sekali lagi terima kasih, Pak

  8. mBak Murni, saya tinggal di Jkt, tapi punya rumah-pusaka di desa Susuk/Wunut, saya dilahirkan dan sekolah di desa itu sampai selesai kokumin gakko jaman Jepang, kemudian mengembara, namun tetap setia dengan tempat lahir, yang saya kunjungi rata2 setahun 2 kali,terutama Lebaran. mbak Murni dari Jawa mana? Para Blogger Purworejo/Mas Medi apa bisa menanggapi “kunjungan field trip” mhs. Jepang usulan mbak Murni, sekaligus mempromosikan Pwr? Salam untuk mBak Mur semoga sukses. Saya punya pernah iparnya anak saya yang belum lama ini menyelesaikan Ph.D-nya untuk kedokteran Gigi di Nagoya.

  9. I’m sorry to hear that.

  10. Pak Wiek, mengenai pernyataan pak wiek yang katanya setiap sekolah membuat lubang khusus untuk bersembunyi ketika terdengar suara titir (akan adanya perang), apakah di SD Wunut juga dibuat tempat untuk bersembunyi tersebut? kalau iya dulu dimana tepatnya lokasi tersebut? lebaran 1434 H kemarin saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat SD Wunut ongko loro, aura jaman dulunya masih kental sekali. kebetulan saya juga pecinta sejarah, saya juga banyak belajar dari bung JJ. Rizal selain dr pak Wiek, mohon pencerahannya? terima kasih!

    • slamet wijadi says:

      Mas Julian, trims atas minat sejarahnya. Lobang perlindungan itu ada dua sebelah barat dan timur bangunan SD. Yang di barat letaknya ada di tempat bangunan mesjid sekarang dan di timur ya ditempat bangunan tambahan yang sekarang ada. Kalau kita bersama kesana bisa saya tunjukkan kira2 persisnya. Bagus belajar sejarah dan JJ Rizal itu menurut saya pantas untuk dijadikan salah satu sumber reference, saya sendiri cocok dengan pandangannya tentang berbagai masalah sejarah. Salam.

  11. Untuk mbak Murni Ramli, jika anda sedang berkunjung ke Purworejo untuk field tripnya, pintu rumah saya selalu terbuka lebar untuk anda. Monggo untuk home stay ditempat saya, agar saya juga bisa banyak belajar dengan anda! sebelumnya bisa hubungin ke email saya juliansetyanto.astra@gmail.com
    telpon 087873636507
    daripada nginep di hotel mahal kan? hehe…

    • slamet wijadi says:

      Semoga mbak Murni membaca tawaran yang simpatik dari mas Julian ini, namun saya ragu karena komentar dia itu kan ditulis tahun 2009, dimana mbak Murni sekarang juga nggak tahu, mungkin sudah di tanah-air.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net