Menarik Hikmah Dari Musibah Situ Gintung.

  7 - Apr - 2009 -   slamet wijadi -   8 Comments »

Tiga hari setelah terjadinya musibah Situ Gintung kami sekeluarga berkunjung kerumah ponakan yang menjadi salah satu korban dari jebolnya tanggul situ tersebut.Keluarga ini sudah tinggal dikawasan Situ Gintung sekitar 5 tahunan dengan aman, dilembah Cireundeu di-area kompleks perumahan “elite” Cireundeu Permai. Beberapa puluh meter dari rumahnya tinggal keluarga Kak Seto Mulyadi.Ada juga “selebriti” yang tinggal di sekitar daerah itu termasuk Kel.Lidya Kandau. Mereka sudah merasa kerasan tinggal didaerah yang tenang, aman dan tenteram dilokasi yang tidak jauh dari pusat keramaian Metro Jakarta. Sampai tiba2 keadaan berubah dari “sorga” menjadi “neraka”.

Yang tersisa setelah banjir surut

Yang tersisa setelah banjir surut.....

Diwaktu subuh dinihari Jumat tanggal 27 Maret,warga terbangun oleh suara serine mobil yang mengaung-ngaung mengitari kompleks tanda datangnya bahaya banjir. Memang ini adalah prosedur standar, mengingat kawasan ini rawan banjir karena terletak dekat dengan aliran kali Sanggrahan.Bila hujan lebat dan kali meluap, daerah itu sekali2 kena banjir “normal” yang sudah diterima sebagai risiko. Namun diluar dugaan ,bunyi serine kali ini seakan bunyi “terompet maut” tanda datangnya malapetaka dahsyat. Diketahui kemudian bahwa tanggul Situ Gintung ambrol dan menumpahkan seluruh isinya… . Masya Allah. Tidak pernah terlintas dalam benak warga bahwa akan terjadi peristiwa mengerikan seperti itu. Betul, letak Situ Gintung lebih tinggi dari pemukiman mereka, tetapi siapa mengira bahwa situ/ tanggul yang sudah berusia lebih dari 75 tahun tsb. bisa jebol mendadak dan menumpahkan seluruh isinya sebanyak sekitar 2 juta m3,dan langsung tanpa ampun menerjang pemukiman warga sekitarnya .

Menurut penuturan ponakan kami ,waktu itu mereka tidur dilantai bawah bersama anaknya. Begitu bangun krn suara serine, air sudah masuk dlm rumah dan dalam sekejap mata meninggi disertai gemuruh suara yang menakutkan dengan arus yang sangat deras. Segera ia menarik anak dan isterinya naik ketingkat atas tanpa sempat menyelamatkan barang apapun. Isterinya yang ingin mengambil satu barang hampir terseret arus. Dalam hitungan sepuluh menit, air dalam rumah sudah naik lebih dari dua meter.Batas tingginya air masih terekam dan ditunjukkan pada kami.Tidak satu barangpun yang terselamatkan dari lantai bawah. Sofa, kulkas, kompor,TV,almari dengan seluruh isinya, tempat tidur, mobil dalam garasi hancur lebur dalam sekejap mata bercampur dengan lumpur. Hampir seluruh harta miliknya lenyap,dan yang tersisa adalah onggokan barang2 bersama lumpur .Beberapa saat setelah air mulai menyurut diketemukan empat sosok jenasah disekitar rumah, dan hari2 berikutnya untuk daerah sekitarnya bertambah menjadi 12 mayat , umumnya mayat perempuan dalam pakaian daster dan lelaki dengan sarung atau celana tanpa baju dan anak2, diperkirakan jbs. dalam keadaan tidur.Alangkah tragisnya akhir dari satu kehidupan… .

masih mampu senyum dalam menghadapi musibah

Masih mampu senyum dalam menghadapi musibah....

Pada waktu kami berangkat dari rumah, kami sudah siap mental untuk menjumpai keadaan yang berantakan, baik dirumah maupun didaerah sekitarnya. Ketika kami masuk kawasan Cireundeu Permai keadaan rumah2 nampak menyedihkan, sebagian sepi penghuni,sebagian nampak kegiatan bersih2 dengan menyemprot kan air pada lumpur dalam rumah maupun pekarangan.Disemua halaman rumah kelihatan onggokan barang2 becampur lumpur. Tiba dirumah ponakan ,kami “disambut” keadaan yang sungguh memilukan.Semua barang miliknya yang berada dilantai bawah sudah menjadi onggokan sampah berbalut lumpur.Mobil digarasi dalam keadaan sedemikan, sehingga saya sangsi apa masih bisa “ditolong”menjadi normal kembali. Menyaksikan keadaan itu hati kami merasa sangat trenyuh. Dan wajarlah bila kami menyangka akan menemukan ponakan kami dalam kondisi stress berat .Ibunya sendiri yang adalah adik isteri saya, menangis waktu mengabarkan keadaan rumah anaknya.Namun sungguh diluar dugaan, waktu kami datang, dalam keadaan belepotan lumpur krn bersih2, dia menyambut kami dengan mood yang “cool”disertai humor dan memandu kami memeriksa keadaan dalam rumah yang sungguh seperti “kapal pecah”. Sungguh mencengangkan. Kami tidak mengetahui betapa sedih hatinya, namun apa yang nampak dari luar adalah ekspresi sikap dan sifat yang kami kenal sebagaimana sifat/sikap sehari2nya. Saya jadi merasa heran berhadapan dengan keadaan tsb. Dalam menghadapi musibah yang begitu dahsyat dia begitu tabah dan tegar. Barangkali dia berpendirian, apa gunanya diratapi, toh tidak akan mengubah keadaan, yang sudah terjadi sudah terjadi; krn kita tidak bisa mengubah sebaiknya kita terima saja, sementara kita berusaha berbuat yang terbaik yang bisa dilakukan untuk mengatasi keadaan saat ini.Kehidupan ini adalah maju kedepan dan nampaknya sudah ada yang mengatur; kita tinggal nglakoni saja “just go with the flow’ kata orang sana.Serahkan pada Tuhan Yang Maha Kuasa dan terus jalani kehidupan dengan kepercayaan bahwa setelah kesedihan akan datang kesenangan.

"Kenapa rumahku jadi begini....."

"Kenapa rumahku jadi begini....."

Lain ponakan lain isterinya; dia nampak dalam kondisi “shock” dengan wajah yang murung, krn harus mulai lagi dari nol; dia menunjukkan ekspresi “bingung” dan “bengong” tidak tahu apa yang harus diperbuat. “Saya tidak tahu dari mana harus dimulai”,katanya. Demikian juga Alfian anak tunggalnya yang baru duduk di kelas 4 SD, duduk tercenung diatas sofa bodol sambil memegang tongkat kain pel dan memandang keadaan sekitar ,”kenapa rumahku jadi begini?”,barangkali pikirnya. Sungguh pemandangan dan adegan yang mengharukan.

Pulang dari kunjungan perasaan hati kami bercampur aduk,antara iba dan sedih melihat keadaan yang nampaknya tanpa harapan, isteri keponakan yang murung/putusasa dan bayangan Alfian anak umur 10 tahun yang duduk tercenung dengan pandangan kosong,sungguh mengharukan. Namun saya juga kagum atas sikap ponakan yang begitu tegar dan sabar tanpa memberikan kesan bahwa ia sedang menghadapi musibah yang dahsyat. Tanpa menanyakan mengapa ia mampu bersikap demikian, inilah hikmah yang bisa saya tarik dari kunjungan ke Situ Gintung ini:

-tidak ada guna meratapi kejadian yang telah terjadi,toh tidak bisa mengubah keadaan,lebih baik pusatkan perhatian untuk hal2 yang bisa dilakukan guna mengatasi keadaan,jangan kehilangan semangat dan larut dalam kesedihan/”nglokro” dan percaya bahwa “suka”dan “duka” ,”senang “ dan “susah” itu bagian dari kehidupan, dan yakin bahwa setiap kejadian/musibah itu sudah ada yang mengatur, manusia “mung sadermo nglakoni”, sehingga kita bisa bersikap berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.Percaya bahwa setiap musibah ada hikmahnya.

Itulah nampaknya sikap yang ditampilkan oleh ponakan saya, yang saya tangkap sebagai kesan, dalam menghadapi musibah . Dan dengan sikap dan bekal hidup spt itu saya yakin dia akan mampu membawa keluarganya membangun kehidupannya kembali. Dari kunjungan ke musibah Situ Gintung ini saya merasa telah belajar kearifan hidup yang senyatanya,justru dari seseorang yang umurnya puluhan tahun lebih muda dari saya.

Slamet Wijadi

Category: blog, Tags: | posted by:slamet wijadi


8 Responses to “Menarik Hikmah Dari Musibah Situ Gintung.”

  1. Pak Wik
    ikut berduka atas musibah yg menimpa keponakan-nda.
    semoga mendapatkan ganti yg lebih baik dari allah swt.
    Wass klg bsr eyang Djamrodji Wktinumpuk.

  2. Pak dokter,eee mas Srie, kayaknya saya ketemu sedulur dari Wktinumpuk, sebab nama Eyang Djamrodji, pernah saya dengar; eyang/buyut saya kan dari Wkmulyo dan karenanya hampir sebagian besar kel. didesa itu kami mengenal, termasuk ibunya mbah Suro yang masih pernah mbakyu misan.Matur nuwun atas ucapan “ikut berduka”. Saya sependapat dengan Mas Srie bahwa Allah SWT akan memberi ganti lebih baik, amien,salam peseduluran.

  3. Mas Nurrahman, terima kasih atas ucapan simpatinya, mereka sudah menerima dgn ikhlas dan sudah mulai membangun kembali kehidupannya,salam,sw.

  4. yoyokr says:

    Syukurlah kalau sehat walafiat, barang2 yg rusak bs dicari lagi…para korban terutama orang yang masih hidup adalah adalah orang2 pilihan yg sedang mendapatkan kenaikan tingkat keimanan…
    Salam paseduluran dari yoyokr

  5. Mas yoyokr, trims untuk tanggpan yang membesarkan hati, memang akhirnya yang terpenting adalah “selamat” dan “sehat walafiat”,dan brkali betul mereka yang masih hidup adalah orang2 pilihan yang telah lulus dlm ujian kenaikan tingkat keimanan, semoga, salam peseduluran juga dari saya, sw.

  6. Aries Udjiwati says:

    Pak Slamet,

    Membaca tulisan Bapak memang sangat mengharukan, tapi itulah takdir kehidupan. Saya percaya bahwa Allah SWT tidak akan memberi cobaan ke umatNya melebihi kekuatan yang bisa diterima oleh umatNya. Saya kira ponakan Pak Slamet masih bisa bersyukur bahwa keluarganya bisa selamat, uang bisa dicari tapi nyawa? Ini mengingatkan saya dulu th 83 ketika anak ke dua saya terkena Leukemia, betapa beratnya keluarga saya tapi toh kita kuat menjalaninya. Biasanya orang yang pernah diberi cobaan akan lebih kuat mentalnya daripada orang yang hidupnya mulus2 saja. Kunci daripada semua itu adalah kepasrahan yang tulus dan usaha keras untuk bangkit kembali. Amin.

  7. Mbak Aries, thanks untuk tanggapan yang sangat “mengena”,justru krn mbak telah mengalami sendiri penderitaan yang sangat berat. Setelah lulus dari ujian itu kini menjadi pribadi yang tangguh dan kuat dan siap membantu sesama manusia dengan menyerahkan hidupnya bagi Yayasan Onkologi Anak Indonesia yang saat ini telah berkembang.Menerima takdir,pasrah yang tulus dan usaha keras untuk bangkit kembali, itulah memang kuncinya, semoga kita bisa menarik hikmahnya. Salam, sw.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Tuhan, Berilah Aku Kentut

27 - May - 2009 | cahloano | 9 Comments »

Cara Pencegahan Amandel

12 - Nov - 2009 | meds | 2 Comments »

Pulang ke Purworejo 3

3 - Aug - 2010 | slamet_darmaji | 5 Comments »

LEGENDA SUMPAH “BANYU MENDIRO”

23 - Nov - 2009 | slamet wijadi | 49 Comments »

Resensi Buku

21 - Nov - 2009 | Riyadi | 1 Comment »

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net