Kejutan Yang Menyenangkan

  12 - Apr - 2009 -   slamet wijadi -   8 Comments »

Hampir setiap pagi saya menjalani rutinitas yang sama, dimulai bangun jam 4.00 membersihkan badan dan sholat subuh sampai jam 5.00, senam pemanasan dan berangkat olah raga jalan pagi bersama beberapa teman seusia dari lingkungan tempat tinggal yang sama. Mereka mantan-mantan pejabat penting pada jamannya, ada mantan Sekjen Dept, Direktur BUMN,  Dokter, Kontraktor kakap dll, namun sekarang sudah membuang semua atributnya dan kembali menjadi “orang biasa” yang hanya mendambakan kesehatan dan perkawanan di usia senja dengan “sharing” pengalaman hidup, cerita/komentar tentang keadaan sehari-hari dan hal-hal menarik lainnya disertai gelak ketawa yang berderai–derai di suasana alam pagi hari yang masih sepi. Mereka ingin mensyukuri berkah yang di berikan oleh Allah Swt sehingga dalam umur yang lanjut itu masih bisa menikmati kehidupan dan kesehatan.

Beruntung bahwa tempat tinggal kami terletak di lingkungan/ kawasan yang tenang dan belum terlalu terpolusi, sehingga di pagi hari kami masih bisa menghirup udara bersih-segar penuh oksigin sepuas-puasnya. Biasanya jalan kaki berlangsung antara 45-60 menit kemudian pulang dengan perasaan segar baik fisik maupun mental.

Dengan kegiatan yang murah itu kami bisa menjaga dan mempertahankan kesehatan kami, terbukti jarang diantara “gang” jalan pagi tersebut terkena penyakit, semacam flu, pegal-pegal dsb-nya padahal usia rata-rata kami sudah 70 plus.Ternyata “Sehat itu Murah”, kata Dr.Hendrawan Nadasul, penulis buku2 tentang kesehatan.

Bagaimana pendapat Pak dokter Indro?

Tiba dirumah, “cooling down” beberapa saat dan kemudian mandi gebyar-gebyur dengan air dingin yang sangat menyegarkan; sementara koran “Kompas” sudah mengundang untuk dibaca; perlu agar tidak ketinggalan dengan berita-berita terkini; sambil duduk di teras menikmati sinar matahari pagi (rumah menghadap keutara), saya baca berita-berita sepintas lalu, kecuali yang menarik perhatian, tidak lebih dari 15 menit, kemudian saatnya untuk sarapan pagi.

Sarapan kami sederhana saja, segelas jus buah, roti dengan selai dan telor rebus atau nasi dengan telor dadar atau ceplok dengan sambel kecap , “nget-ngetan” sayur sisa tadi malam, sekali-sekali nasi goreng, teh tanpa gula dan pisang atau pepaya sebagai penutup, terakhir minum suplemen multivitamin.

Biasanya waktu itu jarum jam sudah menunjukkan angka 8.00, dan selesai sudah rutinitas pagi hari. Tinggal untuk apa waktu hari itu akan digunakan, kalau ada acara keluar, yaa siap-siap untuk berangkat, namun sebagai pensiunan/ pengangguran, kebanyakan waktunya ya dihabiskan di rumah. Dan di sinilah mesin ajaib “komputer” mengambil peranan. Dengan mesin ini saya bisa menjelajah dunia maya tanpa batas sepuas-puasnya. Kami tinggal di rumah hanya berdua dengan isteri dan seorang pembantu yang sudah ikut selama 20 tahun lebih. Jadi seperti keluarga saja. Anak-anak sebanyak 3 orang sudah berkeluarga dan tinggal di rumah masing-masing yang tidak jauh dari rumah kami kecuali satu orang, tinggal di Bandung, sebagai dosen, semua bersama anak-anak mereka.

Dan sekarang, inilah yang menjadi pokok cerita tulisan ini. Jumat pagi dua hari yang lalu, waktu pertama kali membuka e-mail muncul sebuah pesan dari Mas Medi, “saya telah memposting tulisan mengenai Bapak, atas permintaan Bapak dr. Indrosaswanto…”, saya jadi ingin tahu tulisan mengenai apa; segera saya buka blogger purworejo dan…. antara percaya dan tidak, disitu ada tulisan dengan judul “Mengenal Bapak Slamet Wijadi”, suatu kejutan bagi saya, karena tidak pernah terlintas dalam pikiran bahwa ada seseorang merasa perlu “mengenalkan” saya, padahal apa yang telah saya perbuat dan capai? I am just “nobody”, nggak ada kelebihan apa-apa, makanya membaca tulisan itu saya serba “kikuk”, bagaimana saya harus menanggapi.

Hebatnya tulisan itu disusun berdasar “research” oleh seseorang yang hanya saya kenal lewat blogger; beberapa data diperoleh dari sumber-sumberlain. Ya memang wajar karena penulisnya adalah seorang intelektual/ seorang dokter spesialis. Saya tidak akan menanggapi isi tulisan tersebut, karena hal itu hak penulis, walau saya “malu” untuk menerima sanjungan dalam tulisan tsb.

Kalaupun ada “prestasi” sebagi anak desa tamatan ongko loro yang dapat menyelesaikan pendidikan tinggi di luar negeri, itupun hanya karena “nasib baik”, kebetulan bersamaan dengan terjadinya pergantian jaman, dari penjajahan kealam kemerdekaan, yang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi mereka yang ingin maju. Barangkali “modal lebih” saya ya ingin maju saja karena ada kesempatan. Kesempatan itu diberikan oleh kemerdekaan. Tanpa kemerdekaan barangkali saya akan tetap tinggal di desa sebagi petani, walaupun saya tidak merendahkan profesi petani.

Kalau ada yang bertanya prestasi apa yang telah saya capai dalam hidup. Saya akan jawab, bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, bahwa saya diberi umur panjang, sehat dan “cukup” rejeki, berhasil memberikan bekal pendidikan yang baik kepada anak-anak dalam arti yang seluas-luasnya dan mengantarkan mereka hidup mandiri dalam satu ikatan kerukunan keluarga besar Slamet Wijadi , itulah “prestasi” saya yang selalu saya syukuri setiap saat.

Namun, betapapun, saya ucapkan “terima kasih” kepada Pak Indro yang telah bersusah payah “mengenalkan” diri saya, maksud yang baik itu sungguh saya hargai. Kalau prestasi hidup saya yang cuma segitunya pantas untuk “diteladani”, ya syukur Alhamdulillah.

Tetapi justru ada satu hal yang saya kagumi dari Pak Indro ini, yaitu cara menyampaikan “pujian” yang unik sekali. Rupanya Pak Indro telah mengenal seni memuji, karena kata orang “pujian yang terindah itu diberikan tanpa sepengetahuan orang yang diberi pujian” apalagi pujian itu diberikan pada seseorang yang belum begitu dikenal, ini merupakan “bonus” tambahan.

Itulah kejutan hari Jumat pagi, satu kejutan yang sungguh menyenangkan.

Slamet Wijadi

Category: cerita, Tags: | posted by:slamet wijadi


8 Responses to “Kejutan Yang Menyenangkan”

  1. Pak Wik
    saya kira ini yang kita kenal “ngundhuh wohing pakerti”….
    muda rajin belajar tua dapet bahagia mati masuk surga (insyaallah).
    adik2 mari kita teladani kiprah para pinisepuh yang mereka telah mengerahkan segala pikiran dan tenaga untuk bisa meraih “wohing pakerti” dalam artian positif.
    sekali lagi untuk pak wik tulisan saya bukan maksud memuji (karena pujian memang hanya milik allah) tetapi adalah bentuk kekaguman saya akan suri tauladan yang telah bapak berikan kepada generasi penerus.
    semoga bagian terahir semboyan diatas insyaallah bapak raih dan komplitlah maksud tujuan hidup ini… aamiien.

  2. slamet wijadi says:

    Pak Indro “bilungsoroito”, ini nama baik,krn dalam wayang tokoh ini selalu memberikan nasihat yang baik, namun tidak pernah didengar, akibatnya ya sengsara. Maturnuwun untuk komentar yang “cekak-aos”. “Ngunduh wohing pakarti” memang ajaran dasar kearifan Jawa, walaupun bangsa lain juga memiliki ungkapan semacam, karena dasarnya memang logika, bagaimana mau manen kalau tidak nandur,siapa yang akan memanen tanamanmu kalau bukan kamu sendiri,”as you sow, so you reap”, kata orang sana.Namun dlm hal saya barangkali masih ditambah “luck”, mujur, dan inilah berkah dari Allah.
    Pujian memang hanya milik Allah; sayangnya apa yang saya maksud dlm bhs.Inggris “compliment”, dlm bhs. Indonesia diterjemahkan dengan “pujian” yang kemudian mempunyai arti agak berbeda. Sekali lagi maturnuwun untuk tanggapannya. Salam, sw.

  3. Setyo HW says:

    Pak Slamet, saya panggil Bapak saja ya? Rasanya lebih enak karena usia Pak Slamet kurang lebih sepantaran dengan Bapak saya yang tinggal di desa Wonosobo sana.
    Saya terkesan dengan Bapak yang meskipun sudah bisa dibilang sepuh tapi masih sehat dan bahkan produktif. Bapak saya juga alhamdulillah masih sehat dan produktif. Itu mungkin karena tinggal di desa yang bebas polusi dan waktu muda giat berolah raga yakni mencangkul.
    Saya ingin Pak Slamet membagi kiat bagaimana bisa sehat di usia sepuh. Seperti sudah disebut di atas bahwa saat ini Pak Slamet “ngundhuh wohing pakarti”. Lha, pakarti apa yang Bapak jalankan waktu seusia saya dulu. Usia saya sekarang jalan 41 tahun dan tinggal di kota pahlawan yang penuh polusi. Alhamdulillah sampai saat ini saya sehat2 saja dan saya mendambakan terus hidup sehat sampai sepuh seperti Bapak.
    Usaha apa yang Bapak lakukan sehingga bisa sehat sampai sepuh saat ini.
    Terima kasih atas semua sharingnya.
    Salam hormat,
    Setyo HW

  4. ariesudjiwati says:

    Pak Slamet,

    Ikut senang membaca tulisan2 Bapak walaupun simpel tapi dalam maknanya. Saya jadi ingat yang dikatakan anak saya Nanda : selama hidup ini tidak merasa bosan, itu artinya bahagia. Saya yakin Pak Slamet setelah pensiun walaupun kebanyakan tinggal di rumah tapi kegiatannya tak pernah putus dari bangun tidur sampai tidur lagi dan sepertinya semua kegiatan menyenangkan, betul kan Pak? Mudah2an banyak yang akan mencontohnya. Salam.

  5. slamet wijadi says:

    Mas Setyo Hw,”ngunduh wohing pakarti” itu ungkapan kearifan Jawa yang disampaikan oleh Mas dr.Indro dalam mengomentari tentang saya. Ya,terimakasih, tetapi kalau ditanya “kiat”nya terus terang saya tidak tahu krn kayaknya semua itu “mengalir” saja. Yang saya tahu,semuanya harus dimulai dgn tekad dan tujuan yang jelas,spt “ingin sehat sampai sepuh”, kemudian semua usaha diarahkan kesitu,menjauhi yang jelek dan mendekatkan yang baik bagi kesehatan. Hal ini harus dilakukan dengan teratur dan penuh disiplin. Nanti dihari tua akan menemukan ngunduh wohing pakarti dlm hal kesehatan; demikian juga dlm hal yang lain.Contoh yang baik sesunggunya ada pada ayah Mas Setyo sendiri,krn beliau sudah membuktikan.Kalau mau saya bisa kirim makalah Dr. Handrawan Nadesul, teman jalan pagi saya, berjudul “Sehat itu Murah”.Bukunya dengan judul sama jadi best seller; kirimkan alamat mas Setyo via e-mail, nanti saya kirim makalah itu.Salam,sw.

  6. slamet wijadi says:

    mbak Aries, betul sekali kata Nanda,saya kagum masih muda kok begitu arif.Masalahnya bagaimana agar”hidup tidak merasa bosan”. Mbak Aries sudah menjawab sendiri “melakukan semua kegiatan (yang) menyenangkan”,tentu saja yang tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. As simple as that, dan itulah seni menikmati hidup.Sederhana kan, gitu aja kok repot…Salam kompak, sw.

  7. Mas Nur, sudah saya jawab lewat fb. salam, sw.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Purworejo, Saat Senja Mengantar

25 - Mar - 2009 | Raf | 9 Comments »

KULO NUWUN…

1 - Apr - 2008 | cahloano | 4 Comments »

Bersekolah Tanpa Beli Buku

2 - Dec - 2008 | gios94 | 4 Comments »

Hiburan Warga Purworejo

21 - Jul - 2008 | Raf | 5 Comments »

DEMAM PRAMEKS

30 - Jan - 2009 | geblex | 12 Comments »

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net