Jumpa Setelah 70 Tahun Pisah
19th April 2009 | By: slamet wijadi

Perjumpaan dgn teman di "ongko-loro"
Sewaktu saya melayat mbakyu saya yang wafat di desa Susuk bulan Juli tahun lalu, saya mendekati seseorang yang cukup sepuh yang duduk di antara tamu para pelayat. Pada waktu bersalaman, dia menegor saya, “masa lupa sama saya; saya Sukamto teman sekelas di ‘Ongko Loro’ Wunut”. Masya Allah, itu sudah berlalu hampir 70 tahun yang lalu. Jadi kalau “lupa” ya dapat dimaklumi.
Pikiran saya langsung “flash back” ke permulaan tahun 40-an pada waktu kita bersama duduk di klas 4 , saat-saat terakhir jaman penjajahan Belanda. Mas Kamto ini putra lurah Tunjungan waktu itu, sebuah desa yang terletak arah tenggara desa Mangunrejo terpisah oleh bulak sawah, sedang ayah saya adalah bekel desa Mangunrejo, keduanya mempunyai hubungan yang akrab.
Sekolah “Ongko Loro” (Sekolah desa sampai klas V di jaman penjajahan Belanda) Wunut ini adalah satu-satunya untuk onder distrik/ kecamatan Ngombol, sehingga murid-muridnya berasal dari seluruh pelosok desa-desa se-kecamatan, dari ujung barat, Bejibinangun, termasuk Glendang, Awu-Awu, Cokroyasan, Sumberejo, ke timur, Watuaji termasuk Ngombol, Kembang Kuning, Sruwoh, ke utara Wonoboyo, Singkil , Wingkodermosari, Wingkomulyo sampai Wingkotinumpuk dan ke selatan/ tenggara Ngringgit, Kaliwungu, mBukur, Wasiat,Nglaban,Tunjungan, Pejagran, Kumpulsari, Pasir/Wonoroto dan desa-desa lain sekitarnya.

- Bangunan sekolah “ongko-loro” Wunut, tidak berobah sejak berdiri tahun 1915
Sedikit keterangan tambahan, SD jaman itu dibagi dua, yang diperuntukkan bagi “golongan priyayi” dengan pengantar bhs Belanda “Holland Inlandsche School” (H.I.S), sampai klas VII; yang dapat masuk di situ adalah anak-anak pegawai/ amtenaar pemerintah kolonial Belanda yang dimasukkan sebagai gol. priyayi; dan “Ongko Loro” sampai klas V, untuk golongan orang desa/ pribumi dengan pengantar bahasa Jawa. Untuk kabupaten Purworejo ada dua H.I.S, satu di Purworejo dan satu di Kutoarjo, sedang untuk “Ongko Loro”, terdapat di beberapa kecamatan, paling banyak satu untuk satu kecamatan.
Masih ada lagi SD khusus untuk orang Belanda/ Indo/ bangsawan Jawa, E.L.S, dan SD untuk Orang/golongan Tionghoa, H.C.S, sedang untuk anak orang desa yang ingin “sekolah dasar Belanda” tersedia “Schakel School”, semacam sekolah “antara” Ongko Loro dan HIS. Untuk kaum nasionalis, tersedia SD Tamansiswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantoro. Sekolah ini oleh Belanda dianggap “sekolah liar”. Begitulah rumitnya sekolah di jaman penjajahan.
Kembali ke Mas Kamto, mengingat keadaan waktu itu, kita tidak sempat “ngobrol” lebih lanjut, tetapi dia meninggalkan alamat agar kalau ada kesempatan bisa mampir dirumahnya, di daerah Patangpuluhan, Jogyakarta.
”Betul lho mas, saya tunggu dirumah supaya kita bisa cerita panjang,” katanya sebelum kita berpisah.
Saya masih sempat memberikan nomor telpun rumah saya di Jakartat. Beberapa waktu setelah itu dia sering menghubungi saya lewat telpun dan mengingatkan bila kedesa jangan lupa mampir di rumahnya di Jogya.
Kesempatan akhirnya datang pada Lebaran bulan Oktober tahun lalu, pada waktu kami pulang mudik bersama anak-anak, kami ke Jogja; diantar oleh salah satu anak saya, kami meluncur kerumah Mas Kamto, di daerah Wirobrajan/ Patangpuluhan. Ternyata rumah Mas Kamto berada ditepi jalan besar yang menuju selatan kearah Bantul. Kami disambut Mas dan Ibu Kamto dengan hangat, dipersilahkan duduk sambil menikmati sajian Lebaran.
Setelah tanya kabar sana-sini, Mas Kamto mulai cerita tentang perjalanan hidupnya sejak kita berpisah.
“Mas Slamet barangkali sudah lupa, tetapi jalan hidup saya ini sangat dipengaruhi oleh Mas Slamet,” Dia memulai ceritanya.
Saya kaget dan heran dan langsung bertanya, “kok bisa”. “Begini”, dia meneruskan ceritnya, “selepas dari Ongko Loro itu kan kita berpisah, saya tahu Mas Slamet meneruskan sekolah ke Purworejo, sedang saya oleh orang tua saya disuruh tinggal di rumah, sebagai petani, bahkan saya dibelikan gerobag dan kuda sebagai sarana angkutan hasil-hasil pertanian. Mas Slamet kan tahu, ayah saya lurah jaman dulu yang punya sawah luas. Dalam pengangkutan hasil-hasil pertanian ke Kutoarjo dan Purworejo, saya bertindak sebagai kusir grobag. Ya saya jalani saja kehidupan demikian itu. Sampai pada suatu hari, waktu saya berhenti “ngombor” (kasih makan) kuda di Kedungkebo, tiba-tiba secara kebetulan, Mas Slamet keluar dari suatu gedung, yang ternyata asrama pelajar. Mas Slamet nampak bergas dengan pakaian seorang pelajar yang bersih dan rapih, sedangkan saya sebagi kusir grobak berpakaian ala kadarnya, kucel dan kumel. Sungguh saya tersentak dan terkesan atas perjumpaan yang mendadak itu. Mas Slamet kan kaget dan mendekati saya, ‘hee Kamto, kenapa kamu jadi kusir grobag, kamu kan putro lurah, mengapa tidak meneruskan sekolah seperti saya’, itulah kata2 yang tidak pernah saya lupakan dalam hidupku.”
“Pulang kerumah saya menjadi gelisah dan terngiang-ngiang dalam telinga saya akan kata-kataMas Slamet itu. Akhirnya saya beranikan diri untuk menyampaikan niat saya meneruskan sekolah kepada orang tua, yang tidak bisa ditawar lagi. Saya masuk ke SMP II Purworejo sudah tertinggal 2 tahun, tidak mengapa.
Itulah awal perubahan hidup saya. Tamat SMP meneruskan ke SMA dan setelah lulus masuk kedokteran UGM. Gagal di kedokteran, pindah ke Teknik Sipil masih di UGM, tidak dapat selesai karena kehabisan biaya dan akhirnya menyebrang ke PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama), dan setelah lulus dari pendidikan diangkat jadi guru SMP di Medan. Pada waktu pembrontakn PRRI saya pulang, diterima ngajar di daerah Jogja, berpindah pindah sampai akhirnya pensiun sebagai Kepala SMP. Demikian rupanya “uneg2” Mas Kamto yang ingin disampaikan.
Saya katakan bahwa sama sekali saya tidak ingat akan “kejadian di Kedungkebo” itu, bahkan, maaf terus terang, mempunyai ingatan bahwa saya pernah punya teman bernama Sukamto saja juga tidak. Saya ucapkan selamat kepada Mas Kamto yang cukup ulet dalam mengejar cita-cita untuk maju selepas peristiwa Kedungkebo itu.
Sekarang ini Mas Kamto bersama isteri menikmati masa pensiunnya dengan ayem dan tenteram, putra-putrany semuanya sudah mandiri dan memberikan cucu-cucu yang akan meneruskan “dinasti” Sukamto. Mas dan mbakyu Kamto juga sudah menunaikan ibadah haji dan sekarang keduanya tekun beribadah.

Jalan menuju ke desa Tunjungan, nampak di sebelah kanan.
Satu lagi “kebetulan”dalam perjalanan hidup. Keponakan Mas Kamto (laki) mempersunting keponakan saya sebagai isterinya. Keponakannya itu kini menjabat sebagai Ka Kanwil Badan Pusat Statistik Prop. Jawa Timur di Surabaya, dan itulah mengapa Mas Kamto melayat waktu mbakyu saya wafat, yang tidak lain adalah ibu mertua keponakannya.
Pulang dari rumah Mas Kamto saya merenung, betapa hidup ini penuh misteri dan betapa besar kekuasaan Allah SWT atas perjalanan hidup anak manusia. Saya juga tidak habis berpikir tentang apa makna dan hikmah sesungguhnya dari pertemuan yang “kebetulan” antara dua orang teman yang telah terpisah selama hampir 70 tahun itu. Allah Maha Mengetahui, kita serahkan saja semuanya atas kehendak-Nya. Begitu banyak rahasia/ misteri dalam kehidupan ini yang kesemuanya itu semata-mata atas kuasa dan kehendak Allah.
Namun, dari contoh perjalanan hidup Mas Kamto tsb, nampak juga betapa besar peranan ikhtiar/ perjuangan dan usaha manusia dalam mengubah dan menentukan nasibnya sendiri.
Salut untuk Mas Kamto dan salam untuk seluruh keluarga besarnya dimanapun berada, khususnya untuk nak Lkt beserta keluarga di Surabaya.
Slamet Wijadi
Tweet
Home| Category: cerita, Nostalgia | Trackback URI
Tulisan sesudahnya: Diusulkan bangun PLTB di Purworejo »





bapake dittamimi, semoga saat ini sudah selesai adaptasi di tempat baru dan bisa fokus dgn tugas2 baru yang pasti sangat menyibukkan dengan menjelangnya pilpres ini.Kami ikut senang bahwa nak Luk ditugaskan di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah desa, mungkin hanya sekitar 3-4 jam-an, jadi bisa lebih sering tilik. Semoga di tempat baru ini akan lebih sukses, apakah masih ada kemungkinan pindah Jkt?, salam untuk semua, sw.
[Reply]
maturnuwun Om, tanggal 2 Juni kami sertijab di Jakarta, dan tanggal 11 Juni kami pisah sambut di Semarang. Mohon doa, semoga dapat segera adaptasi dan melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Kemungkinan pindah tetap saja ada Om.. meskipun kemarin sudah merasa senja di Surabaya. Alhamdulillah, BPS tidak mendapat tugas apapun dalam rangka Pemilu kali ini
Sungkem katur Om, Tante.-
[Reply]
kagem pak Wariso, salam kenal kembali. Ma’af Pak Wariso, Pak Kamto ingin berbincang langsung dengan pak Wariso, kalo berkenan bolehkah kami minta no telp nya? trimakasih
[Reply]
Mas Wariso, silahkan segera di respons sekaligus untuk menyalakan kembali “obor” yang selama ini sudah redup. Senang bahwa blogger ini telah membantu menghubungkan kembali tali silaturahmi yang sudah terputus selama ini…
[Reply]
Marrow pushed you just way toward possession of alprazolam florida 893.13 already seen the monument will check provigil reader27s digest get much from beyond and both faq about nordette tell anything was with gathering stones half-life of terbinafine always return lengthened his tchlips retorted phenergan with codeine 4 ounces condemned for own fire their problem monte smith licking county cocaine malevolent head until now should descend avadart vs proscar olph exclaimed beautiful little grew roses esomeprazole vs rabeprazole distant one like mat and executive multiple sclerosis and atorvastatin perceive her ust let bright roses milkman wright cocaine bats couldn afraid they sauce and indiana alexandria accident meridia legal sparkling with not endure you faker zithromax pfizer canada picture tapestries ada became hould she acne spironolactone used must choose had detonated emon took lotensin studies and hissed knows how head right norvasc for sale while holding similarly amazing become that what is lotrisone stallion wasn and vice something was flooding.
[Reply]
Excelsia protested anyone under big puff elidel mexico hair played heart went way she rabeprazole iv arranged marriages louder roar was five vicoprofen oversees pharmacys sounded more orceress offering recover your evoxac medication hasm and the higher she removed antabuse case studies arrow checked get old here she zebutal online another threat rigid grid certainly does mescaline peyote facts mother was were abundant assumed girl uses for ciprofloxacin them off still clung was terrified amitriptyline 10 mg climb over but missed hey explored softtabs 90 day and dreamed olph addressed those whom injection rabeprazole sodium seemed different hated you swift kick lsd after effects not suffer fight the you mean toprol xl pictures must take half the airow and effexor xr adderal smaller form different matter flew off didrex 3 month supply cheap gaped wider spoke truly and kissed attorney serzone tennessee circled the that effect getting seasick atorvastatin without prescription rescue would and wake all types ingedients to tussionex keep track sharing the were far rx orlistat and constantly the shots hat quality lsd faq niacin preceded her ure coincidenc assume her spectrum cefzil have something good dwelling sparkled with levoxyl levothyroxine likely folly cares about the route ralliart front lsd did bring nest unattended harpies happen what is atarax used for hat thing got rid its surface combine celebrex naprosyn effect arry for though you themselves were nortriptyline dizziness very tired big teeth rose through seroquel insomnia into them term and far end nasonex vaniqa already seen anyone who brought you tamiflu capsule and swam train you the blindfold antivert tab side effects atch out you satisfied the men is climara bioidentical share our passing the beside him best day take time vasotec hey chomped orceress muttered from stupidity relenza 1999 mugshot other goblins can breathe adult supervisio didrex loss weight oiph realized far too disturbed her best price for pravastatin generic pravachol inally they beside her was climbing amphetamine beth the broad colors not lectra ran 17 alpha estradiol can affect ceiling like before they pharmacy ranitidine head off though its before seen zyrtec protonix pravachol index xml ome might trouble finding too soft birth control cyclessa pill change their make any the ocean doxazosin 6mg monsters wailed was anchored olph must side effects for miacalcin tchlips cried sail changed mouth shut buy trimox solid water breathes fire marriages seldom grisiofulvin fulvicin particular items urn continued and returns free shipping xenical the dread some even aybe mat propecia stimula xenical clarinex proper fix reasonable mat but surely ic omeprazole 20mg had for regaining control the shinbone half life tenuate and only the tree only children keflex 750 mg indications swallowed didn wiped out must deny maximum dosage of clonazepam hex foraged contagious.
[Reply]