Jumpa Setelah 70 Tahun Pisah

19th April 2009 | By: slamet wijadi

mas-kamto-yogja-resize

Perjumpaan dgn teman di "ongko-loro"


Sewaktu saya melayat mbakyu saya yang wafat di desa Susuk bulan Juli tahun lalu, saya mendekati seseorang yang cukup sepuh yang duduk di antara tamu para pelayat. Pada waktu bersalaman, dia menegor saya, “masa lupa sama saya; saya Sukamto teman sekelas di ‘Ongko Loro’ Wunut”. Masya Allah, itu sudah berlalu hampir 70 tahun yang lalu. Jadi kalau “lupa” ya dapat dimaklumi.

Pikiran saya langsung “flash back” ke permulaan tahun 40-an pada waktu kita bersama duduk di klas 4 , saat-saat terakhir jaman penjajahan Belanda. Mas Kamto ini putra lurah Tunjungan waktu itu, sebuah desa yang terletak arah tenggara desa Mangunrejo terpisah oleh bulak sawah, sedang ayah saya adalah bekel desa Mangunrejo, keduanya mempunyai hubungan yang akrab.

Sekolah “Ongko Loro” (Sekolah desa sampai klas V di jaman penjajahan Belanda) Wunut ini adalah satu-satunya untuk onder distrik/ kecamatan Ngombol, sehingga murid-muridnya berasal dari seluruh pelosok desa-desa se-kecamatan, dari ujung barat, Bejibinangun, termasuk Glendang, Awu-Awu, Cokroyasan, Sumberejo, ke timur, Watuaji termasuk Ngombol, Kembang Kuning, Sruwoh, ke utara Wonoboyo, Singkil , Wingkodermosari, Wingkomulyo sampai Wingkotinumpuk dan ke selatan/ tenggara Ngringgit, Kaliwungu, mBukur, Wasiat,Nglaban,Tunjungan, Pejagran, Kumpulsari, Pasir/Wonoroto dan desa-desa lain sekitarnya.

img_3564-resize1
Bangunan sekolah “ongko-loro” Wunut, tidak berobah sejak berdiri tahun 1915

Sedikit keterangan tambahan, SD jaman itu dibagi dua, yang diperuntukkan bagi “golongan priyayi” dengan pengantar bhs Belanda “Holland Inlandsche School” (H.I.S), sampai klas VII; yang dapat masuk di situ adalah anak-anak pegawai/ amtenaar pemerintah kolonial Belanda yang dimasukkan sebagai gol. priyayi; dan “Ongko Loro” sampai klas V, untuk golongan orang desa/ pribumi dengan pengantar bahasa Jawa. Untuk kabupaten Purworejo ada dua H.I.S, satu di Purworejo dan satu di Kutoarjo, sedang untuk “Ongko Loro”, terdapat di beberapa kecamatan, paling banyak satu untuk satu kecamatan.

Masih ada lagi SD khusus untuk orang Belanda/ Indo/ bangsawan Jawa, E.L.S, dan SD untuk Orang/golongan Tionghoa, H.C.S, sedang untuk anak orang desa yang ingin “sekolah dasar Belanda” tersedia “Schakel School”, semacam sekolah “antara” Ongko Loro dan HIS. Untuk kaum nasionalis, tersedia SD Tamansiswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantoro. Sekolah ini oleh Belanda dianggap “sekolah liar”. Begitulah rumitnya sekolah di jaman penjajahan.

Kembali ke Mas Kamto, mengingat keadaan waktu itu, kita tidak sempat “ngobrol” lebih lanjut, tetapi dia meninggalkan alamat agar kalau ada kesempatan bisa mampir dirumahnya, di daerah Patangpuluhan, Jogyakarta.

”Betul lho mas, saya tunggu dirumah supaya kita bisa cerita panjang,” katanya sebelum kita berpisah.

Saya masih sempat memberikan nomor telpun rumah saya di Jakartat. Beberapa waktu setelah itu dia sering menghubungi saya lewat telpun dan mengingatkan bila kedesa jangan lupa mampir di rumahnya di Jogya.

Kesempatan akhirnya datang pada Lebaran bulan Oktober tahun lalu, pada waktu kami pulang mudik bersama anak-anak, kami ke Jogja; diantar oleh salah satu anak saya, kami meluncur kerumah Mas Kamto, di daerah Wirobrajan/ Patangpuluhan. Ternyata rumah Mas Kamto berada ditepi jalan besar yang menuju selatan kearah Bantul. Kami disambut Mas dan Ibu Kamto dengan hangat, dipersilahkan duduk sambil menikmati sajian Lebaran.

Setelah tanya kabar sana-sini, Mas Kamto mulai cerita tentang perjalanan hidupnya sejak kita berpisah.

“Mas Slamet barangkali sudah lupa, tetapi jalan hidup saya ini sangat dipengaruhi oleh Mas Slamet,” Dia memulai ceritanya.

Saya kaget dan heran dan langsung bertanya, “kok bisa”. “Begini”, dia meneruskan ceritnya, “selepas dari Ongko Loro itu kan kita berpisah, saya tahu Mas Slamet meneruskan sekolah ke Purworejo, sedang saya oleh orang tua saya disuruh tinggal di rumah, sebagai petani, bahkan saya dibelikan gerobag dan kuda sebagai sarana angkutan hasil-hasil pertanian. Mas Slamet kan tahu, ayah saya lurah jaman dulu yang punya sawah luas. Dalam pengangkutan hasil-hasil pertanian ke Kutoarjo dan Purworejo, saya bertindak sebagai kusir grobag. Ya saya jalani saja kehidupan demikian itu. Sampai pada suatu hari, waktu saya berhenti “ngombor” (kasih makan) kuda di Kedungkebo, tiba-tiba secara kebetulan, Mas Slamet keluar dari suatu gedung, yang ternyata asrama pelajar. Mas Slamet nampak bergas dengan pakaian seorang pelajar yang bersih dan rapih, sedangkan saya sebagi kusir grobak berpakaian ala kadarnya, kucel dan kumel. Sungguh saya tersentak dan terkesan atas perjumpaan yang mendadak itu. Mas Slamet kan kaget dan mendekati saya, ‘hee Kamto, kenapa kamu jadi kusir grobag, kamu kan putro lurah, mengapa tidak meneruskan sekolah seperti saya’, itulah kata2 yang tidak pernah saya lupakan dalam hidupku.”

“Pulang kerumah saya menjadi gelisah dan terngiang-ngiang dalam telinga saya akan kata-kataMas Slamet itu. Akhirnya saya beranikan diri untuk menyampaikan niat saya meneruskan sekolah kepada orang tua, yang tidak bisa ditawar lagi. Saya masuk ke SMP II Purworejo sudah tertinggal 2 tahun, tidak mengapa.

Itulah awal perubahan hidup saya. Tamat SMP meneruskan ke SMA dan setelah lulus masuk kedokteran UGM. Gagal di kedokteran, pindah ke Teknik Sipil masih di UGM, tidak dapat selesai karena kehabisan biaya dan akhirnya menyebrang ke PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama), dan setelah lulus dari pendidikan diangkat jadi guru SMP di Medan. Pada waktu pembrontakn PRRI saya pulang, diterima ngajar di daerah Jogja, berpindah pindah sampai akhirnya pensiun sebagai Kepala SMP. Demikian rupanya “uneg2” Mas Kamto yang ingin disampaikan.

Saya katakan bahwa sama sekali saya tidak ingat akan “kejadian di Kedungkebo” itu, bahkan, maaf terus terang, mempunyai ingatan bahwa saya pernah punya teman bernama Sukamto saja juga tidak. Saya ucapkan selamat kepada Mas Kamto yang cukup ulet dalam mengejar cita-cita untuk maju selepas peristiwa Kedungkebo itu.

Sekarang ini Mas Kamto bersama isteri menikmati masa pensiunnya dengan ayem dan tenteram, putra-putrany semuanya sudah mandiri dan memberikan cucu-cucu yang akan meneruskan “dinasti” Sukamto. Mas dan mbakyu Kamto juga sudah menunaikan ibadah haji dan sekarang keduanya tekun beribadah.

img_0638-resize

Jalan menuju ke desa Tunjungan, nampak di sebelah kanan.

Satu lagi “kebetulan”dalam perjalanan hidup. Keponakan Mas Kamto (laki) mempersunting keponakan saya sebagai isterinya. Keponakannya itu kini menjabat sebagai Ka Kanwil Badan Pusat Statistik Prop. Jawa Timur di Surabaya, dan itulah mengapa Mas Kamto melayat waktu mbakyu saya wafat, yang tidak lain adalah ibu mertua keponakannya.

Pulang dari rumah Mas Kamto saya merenung, betapa hidup ini penuh misteri dan betapa besar kekuasaan Allah SWT atas perjalanan hidup anak manusia. Saya juga tidak habis berpikir tentang apa makna dan hikmah sesungguhnya dari pertemuan yang “kebetulan” antara dua orang teman yang telah terpisah selama hampir 70 tahun itu. Allah Maha Mengetahui, kita serahkan saja semuanya atas kehendak-Nya. Begitu banyak rahasia/ misteri dalam kehidupan ini yang kesemuanya itu semata-mata atas kuasa dan kehendak Allah.

Namun, dari contoh perjalanan hidup Mas Kamto tsb, nampak juga betapa besar peranan ikhtiar/ perjuangan dan usaha manusia dalam mengubah dan menentukan nasibnya sendiri.

Salut untuk Mas Kamto dan salam untuk seluruh keluarga besarnya dimanapun berada, khususnya untuk nak Lkt beserta keluarga di Surabaya.

Slamet Wijadi


Home| Category: cerita, Nostalgia | Trackback URI


Tulisan sebelumnya: «
Tulisan sesudahnya:  »

56 Responses to “Jumpa Setelah 70 Tahun Pisah”

  1. Pak Wik
    Suatu pertemuan yang membahagiakan tentunya setelah sebegitu lama berpisah. Dan saya kira itu bukan suatu kebetulan karena sebagai orang muslim kita percaya sepenuhnya bahwa yang namanya “kebetulan” itu tidak ada. Bahwa semua ini sebenarnya adalah kehendak alloh semata, semua sudah direncanakan dan didisain alloh dan pasti ada hikmahnya. Dan itulah tebakan saya mengapa bapak menempelkan tanda kutip pada kata tersebut.
    Pak wik
    Yang kedua mungkin bapak masih ingat adakah anak tinumpuk yang juga sekolah ongko loro wunut seangkatan bapak?
    Dan yang terahir Pak Wik
    Menu pertama dalam pertemuan nostalgi tsb pasti…….. he he boleh tertawa dulu ya pak? Boleh menebak lagi ya pak? dan tebakan saya yg kedua ini pasti kena juga ……
    He.. he “putrane piro” “cucu?” ” wis kagungan buyut durung? “nengdi wae” ……. tul ya pak? ?
    wass. bilung

    [Reply]

  2. ahmad says:

    Assalamu’alaykum Wr WbKaget juga nih liat foto mbah kakung di blog, tau-tau muncul hehe… Saya cucunya mbah kamto yang disebutin pak slamet wijadi (eh mbah slamet wijadi ya?). Matur nuwun pak bisa silaturahiim dan sekalian tahu riwayat simbah dulu… matur nuwun.
    ahmad_k@ugm.ac.id

    [Reply]

  3. Mas Indro Bilungsoroito,maaf tadi pagi ada error,jadi baru skr dijawab. Setuju bhw tidak ada kebetulan didunia ini, semuanya ada yang men-design,krn itu kebetulan sengaja saya taruh diantara tanda kutip; dgn begitu tebakan mas Bilung itu benar.Soal “hikmahnya”, itu pasti ada dan tergantung dari kita masing2 untuk memaknainya krn persepsi kita berbeda2.
    Teman2 dari Tinumpuk yang sekolah di Wunut ada beberpa orang yang seangkatan, yang saya ingat ada yang namanya Tjari, Ngatino dan Tarmin, yang terakhir ini kabarnya tinggal di Jkt, tetapi spt Mas Kamto ya hampir 70 tahunan tidak ketemu lagi.
    Mengenai menu pertama nostalgia itu memang sudah standar spt yang dikatakan mas Bilung. Tidak ada yang tanya “pangkatmu apa”, “mobilmu berapa” dsbnya. Ini membuktikan bahwa kekayaan seseorang yang tertinggi adalah “anak-cucu”, krn mereka itulah yang akan meneruskan dinasti dan sejarah hidupnya, spt yang saya singgung dlm tulisan saya ttg Mas Kamto,jadi tebakan kedua jawabannya dapat nilai 100, wass, sw.

    [Reply]

  4. yhanto says:

    kita nggak bisa tahu rahasia Tuhan.
    Wah itu Sekolahku dulu. Kemarin waktu mudik pasti selalu lewat didepannya> jadi inget waktu SD.
    Karena selalu inget tulisan di gapura “Dwija Ngesthi Trus manunggal.
    Jalan itu selalu mengingatkanku kalo mau ke Tunjungan. I will remember.
    Ketika aku membuka mata, kulihat harapan yang musti aku gapai.
    Salam kenal Mbah Slamet

    [Reply]

  5. Mas Yhanto, kata2 “Ketika aku membuka mata, kulihat harapan yang musti aku gapai” itu bisa memberi semangat untuk maju,maju terus, semoga sukses, salam kenal juga, sw.

    [Reply]

  6. Mas Ahmad, cucu mbah Kamto, trims untuk tanggapannya, syukur kalau sekarang lebih tahu tentang riwayat dan perjuangan mbah, semoga bisa ditarik pelajaran dan hikmahnya, sekarang mas Ahmad tinggal dimana?, salam, sw.

    [Reply]

  7. iqbal says:

    wow… barusan dikasih tau sama mbah kakung, katanya mbah kakung ditulis di blog…
    Subhanallah…
    hehehe…
    matur nuwun mbah slamet wijadi atas tulisannya. :D
    perkenalkan, saya juga salah satu dari 16 cucu mbah kakung (Insya Allah mau nambah 1 lagi, jadi 17)

    [Reply]

  8. Galih says:

    wah kakong ada di Blog Purworejo. matur nuwun saya jadi riwayat hidup simbah saya waktu masih muda. Salam hangat dari cucu mbah kamto

    [Reply]

  9. Iqbal&Galih, sekarang setelah mengetahui riwayat hidup mbah kakung sewaktu muda, semoga bisa dicontoh semangat perjuangannya yang tidak mengenal menyerah itu, salam, sw.

    [Reply]

  10. ariesudjiwati says:

    Pak Slamet,
    Betul kan tulisan panjenengan bisa menjadi inspirasi banyak orang, lama2 bisa nyaingin Andrea Hirata nih. Hebat betul setelah 70th baru bisa ketemu lagi.Jaman sekarang ini bisa hidup mencapi usia 70th sdh merupakan bonus kan ya? Saya salut dengan daya ingat Pak Kamto yg masih mengenali Pak Slamet, atau memang dari dari dulu nggak berubah? Sekali lagi selamat, semoga dengan seringnya nostalgia dengan teman lama dapat menambah semangat hidup dan menjadikan hidup ini lebih bermakna. Amin.

    [Reply]

  11. mbak Aries, muncul setelah “sembunyi” di UK dan skr mudik di Bintaro; senengnya punya tempat “alternatip”, jadi bisa ganti suasana. Thanks untuk comment-nya yang agak berlebihan.Jangan membanding terlalu jauh, wong dibaca saja sudah senang, kalau tidak ya idep2 untuk ngelatih pikiran supaya tidak beku. Kata orang umur harapan rata2 orang Indonesia itu sekitar 67th, jadi mungkin benar umur 70th itu bonus, inilah yang saya syukuri.Bernostalgia dengan teman2 seangkatan itu perlu untuk mengungkap kenangan masa lalu dan tukar-menukar pengalaman hidup, namun saya juga tidak ingin terpisah dari generasi skr agar tidak ketinggalan jaman dan jadi antik, makanya saya “gretehan” belajar main komputer…dan mencoba menulis. Sekali lagi thanks untuk tanggapannya. salam, sw.

    [Reply]

  12. arifa dan arifin says:

    thanks Mr.Slamet W yang telah bernostalgia dengan eyang Kakung Sukamto yang ternyata cita-citanya diwujudkan oleh Putra Keduanya ( ayahku Habib sebagai Insinyur Teknik Sipil)sedang cita-cita Dokternya dilanjutkan oleh cucunya Mas Galih di Kedokteran UMY dan Mas Annas di Kedokteran UMJ serta Dik Adib di Kedokteran Gajah Mada. Sekali lagi terimakasih untuk Bapak Slamet W.Godbless you

    [Reply]

  13. arifa dan arifin says:

    Kata ayahku (Habib) cerita Pak Slamet W. memang benar perjuangan Eyang Kakung patut dicontoh dan tentunya keberhasilannya juga didukung oleh Istri yang soleha yaitu Eyang Putri Sumiyatun ( Putri dari Eyang Achmad Jazuli seorang petani yang berhasil, yang beristrikan Juragan Batik ) yang lahir di Desa Kedundang, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon progo Yogyakarta. Trimakasih Eyang Putri dan selamat Hari Kartini (rasanya belum telat).Terimakasih Pak Slamet W. yang cukup gaul dengan teknologi informasi

    [Reply]

  14. bapakke dittamimi says:

    Ass wr wb.
    Om Wik, akhirnya episode pertemuan dan keterlibatan saya dalam episode itu telah menjadi kenyataan. Bagi saya, tentu cerita bahwa kedua Om saya berteman bukan hal baru. Tetapi, saya juga maklum bahwa hanya Om Kamto yang ingat. Karena seperti yang Om Wik nyatakan “bahkan ingatpun tidak bahwa Om Wik punya teman yang namanya Sukamto”. Ini saya ketahui sudah lamaaa ketika saya sampaikan salam Om Kamto Kepada Om Wiek, nampaknya sperti sesuatu yang memang tidak pernah ada. Om Wik tentu sangat sibuk pada kurun setelah pertemuan dengan kusir gerobak itu(jadi ingat “katanya” kusir gerobag itu disebut “baj….” ya Om. hehehe).

    Alhamdulillah, akhirnya Om Kamto dapat menemui “teman yang menginspirasi” arah jalan hidup yang dilaluinya hingga saat ini.Mudah2an beliau sangat bahagia karena saya tahu betul, sungguh tahu betul, begitu ingin beliau ketemu dengan Om Wiek. Ini pertanyaan rutin yang selalu diajukan ke saya setiap kali bertemu.

    Semoga kebahagiaan yang timbul dari pertemuan ini menggugah kembali keyakinan bahwa jika Allah menghendaki, begitu banyak jalan yang jadi “lantaran”.

    Semoga kedua Om ini selalu diberi kebahagiaan, amien.

    Salam hormat,
    Bapak dan Ibunya Ditta Mimi

    [Reply]

  15. mbak arifa dan mas arifin, luar biasa, ada tiga calon dokter dan insinyur sipil, yang semuanya itu adalah impian yang-kung yang dulu belum kesampaian, sekarang telah,insya Allah, akan dan sudah menjadi kenyataan; salut untuk mas Kamto dan kel.besarnya; keberhasilan itu tentu tidak terlepas dari dukungan yang-ti yang telah mendampingi yang-kung lebih dari setengah abad(?).Saya juga kagum kpd yang-kung bahwa peristiwa kecil yang hanya “kebetulan” dan sudah tidak saya ingat lagi itu, menjadi motivasi yang begitu besar untuk mengubah nasibnya dan lebih kagum lagi, bhw beliau masih mengingatkan hal itu pada saya, yang pada kebanyakan orang bahkan akan menutupi.Itulah karakter. Sekarang krn semua telah diceritakan, silahkan bagi anak-cucu untuk mengambil contoh,tauladan dan hikmah dari perjuangan yang-kung untuk menghadapi kehidupan yang masih panjang…
    Salut untuk mas Kamto dan salam untuk slr kel. besarnya, sw.

    [Reply]

  16. bapakke dittamimi, ini komentar yang sungguh mengharukan, tidak mengira “peristiwa kecil”yang terjadi secara “kebetulan” itu telah dapat mengubah jalan hidup seseorang dan hebatnya orang ini tidak melupakan kejadian itu serta menginginkan secara sungguh2 untuk bertemu dengan orang yang menjadi sumber peristiwa itu. Semua itu memang kehendak Allah, tetapi kita juga tahu bahwa tanpa kemauan/usaha manusia, bagaimana kehendak Allah akan terjadi. Allah akan memberikan bagi mereka yang meminta.Dan disinilah brkl faktor “lantaran” akan muncul yang tidak lain adalah kuasa Allah juga, sebagai jalan untuk mengabulkan permohonan. Dan inilah peranan Nak lkt, yang seakan serba “kebetulan” padahal semuanya sudah “diatur”. Inilah analisis saya secara amatiran untuk memahami misteri perjumpaan antara mas Kamto dgn saya, stl 70 th pisah.
    Sesuatu yang saya kagumi dari mas Kamto adalah bhw beliau tidak ingin menutup2i masa lampau yang “kelam”, kehidupan sebagai kusir grobag, bahkan bangga atas kenyataan itu walaupun saya juga tahu bhw sebagai putro lurah, kusir grobagnya itu “tidak 100% murni”, namun sikap rendah hatinya itu sungguh2 cerminan dari orang yang berkarakter.
    Beberapa kali beliau telpun sejak tulisan itu dimuat karena seluruh keluarga merasa senang sekali,cuma ada tambahan dan koreksi sedikit,”dari teknik sipil itu saya masih pindah lagi ke Ikip sebelum ke Pgslp dan grobag itu tidak khusus dibelikan untuk saya, tetapi Bapak memang sudah memiliki, jadi saya tinggal nglakoke saja…” Sungguh cerita yang sangat lugu.Salam untuk seluruh keluarga, sw.

    [Reply]

  17. bapake dittamimi says:

    Selamat pagi Om Wik.-

    Benar Om, memang tidak ada kebetulan bagi Allah. Hanya kadang kita saja sering membuat skenario tandingan dengan berandai-andai. Contohnya saya… “Andai Om Wik sudah ketemu Om Kamto saat pertama saya masuk keluarga besar Susuk, tentunya pertemuan ini telah terjadi 30an tahun lalu” Tapi begitulah, kenyataannya pertemuan ini terjadi baru saja, dan menjadi sangat “luar biasa” menilik comments, keponakan2, cucu2 Om Kamto.

    “Andai 30an tahun lalu pertemuan itu terjadi” maka Om Kamto tentu belum berambut dan berjenggot putih seperti pada foto, dan tentu para cucu belum/tidak mengerti bahkan “belum ada”, sehingga tidak akan ada comments kebanggaan kepada Eyangnya.

    Subhanallah, semoga “kisah” perjalanan, perjuangan hingga saat ini, menjadi inspirasi bagi para cucu dalam menapaki masa depan, amien

    Salam hormat untuk kedua Om, nyuwun pangestu

    [Reply]

  18. arifa dan arifin says:

    Ass.wr.wb. Eyang Wik, ijinkan kami menyebut demikian karena ternyata kita ada hubungan famili dari Pakde Lukito (Bapake dittamimi,demikian istilah dari Eyang Wik). Sebenarnya kami jadi malu karena ternyata Eyang Wik pasti menguasai IT dan ilmu lainnya lebih dari yang kami duga (mohon maklum kami anak muda yang sok tahu) apalagi Eyang Wik sudah melanglang buana(baik in conutry maupun overseas).Dan yang luar biasa pastilah Eyang Wik sendiri sosok yang santun dan berilmu padi yang menjadi inspirasi bagi Eyang Kamto. Terimakasih Eyang Wik. Sekian dulu, kami buru-buru mau sekolah. Wass.wr.wb.

    [Reply]

  19. annisa says:

    Asslmkm..
    wow..nisa bca blog ini stlh eyangkakung yang memberi tahu..jadi lbh tahu riwayat eyangkung..
    maturnuwon.. ^_^
    (saya annisa,cucu Eyang Kamto,kknya arifa dan arifin)

    [Reply]

  20. hariadi says:

    wah, kayaknya ada pelajaran baru lagi nih, oya Eyang Wik mau ikutan juga, membaca riwayat eyang2 di atas sy bisa ambil hikmah dan pelajaran moralnya…terus berjuang menggapai cita2 tanpa melupakan orang2 disekitar kita.
    Thanks
    Hariadi (KEPRI)

    [Reply]

  21. Annisa,arifa dan arifin (nama2 yang bagus dan enak kedengarannya untuk sekakak-beradik), sungguh senang mendengar komentar dari kalian dan cucu2 yang lain yang ternyata baru mengetahui “kisah hidup” eyangnya stl membaca tulisan itu. Rupanya eyang menyimpan itu sebagai “rahasia hidupnya” dan baru disampaikan kpd “eyang Wik” dan terbuka setelah saya tulis dlm blog Pwr. Subhanallah, rupanya ada “the hands of God”, kuasa Allah dalam rangkaian peristiwa perjumpaan dua orang teman stl pisah begitu lama, yang kini telah terhubung dalam satu ikatan kekerabatan,Tunjungan-Susuk/Mangunrejo.Allah Maha Besar.
    “Pujian” thd saya itu terlalu berlebihan, justru yang pantas menerima itu adalah Eyang Kamto,yang tidak saja telah memberikan keteladanan dalam meniti kehidupan yang benar tetapi juga dengan karakter yang mengagumkan, “jujur, sederhana dan rendah hati”,itulah brkl yang membanggakan dan perlu dicontoh oleh cucu2 dan keluarga besar Eyang Kamto, salam, sw.

    [Reply]

  22. bapake dittamimi, tanggapan yang “cerdas”. Scenarionya memang sdh diatur begitu “dari sononya”, namun membuat scenario “tandingan” dengan berandai2 itu juga baik, satu cara untuk lebih mensyukuri bhw perstiwa itu telah terjadi sebagai adanya. Skr saya ingin juga “ber-andai2″, andaikata pertemuan ditempat ibu itu tidak di “follow-up” secara gigih oleh mas Kamto dengan terus-menerus menelpun untuk mampir ke Jogya dan akhirnya saya penuhi, brkl “judul” pertemuan ini adalah “ketemu teman lama di SD” yang namanya Sukamto titik.Dan hari2 berikutnya pasti sudah hilang dari ingatan, boro2 ditulis pada blok Pwr.
    Dengan kunjungan saya dan cerita “kisah Kedungkebo”, tanpa sepengetahuan Mas Kamto, saya tulis di blok, dan ternyata menjadi “sumber” info pertama kalinya bagi cucu2 mas Kamto tentang kisah perjalanan hidup kakek mereka yang mudah2an akan memberikan inspirasi bagi perjalanan hidup mereka.
    Kesimpulannya adalah, peristiwa ini terjadi atas kehendak Allah, namun peranan Mas Kamto juga sangat besar, sesuai dengan ketentuan: Allah akan memberikan kepada mereka yang meminta (dengan sungguh2 tentunya), salam untuk seluruh kel. sw

    [Reply]

  23. Mas Hariadi (KEPRI), trimakasih untuk tanggapannya,syukur kalau dengan cerita itu ada “pelajaran baru” dan dapat ditarik hikmahnya yang bermanfaat bagi perjalanan hidup mas Hariadi. Semoga pelajaran moral sebagaimana yang telah disimpulkan itu akan menjadikan hidup Mas Hariadi lebih bermakna, salam, sw.

    [Reply]

  24. Rahardjo Sukamto says:

    Apa yang disampaikan mas Slamet betul adanya, tapi karena pertemuan di rumah saya hanya sebentar maka ada kekurangannya, antara lain saya selain kuliah di UGM juga kuliah di IKIP, selain itu bagi orang daerah Purworejo, kusir gerobak disebut juga sebagai “bajingan” karena kusir gerobak kalau mau naik ke gerobaknya dengan cara gandhul dan mungkur, seperti bajing mau loncat. Karena itulah kusir gerobak disebut sebagai BAJINGAN (sebutan olok-olok saja)

    [Reply]

  25. Anston says:

    BAJINGAN bukan preman tapi ya.
    cuma kaya bajing aja..
    hiiiiiiiiiiiii

    [Reply]

  26. Mas Kamto, saya senang mas Kamto memberi tanggapan, dgn begitu cerita itu “betul adanya”. Tapi yang saya “kaget” dan baru tahu bhw kusir grobag itu mendapat “julukan” “bajingan”, padahal kita tahu makna umum bajingan adalah “preman” istilah sekarang. Kalau ditambah kata2 “tengik” lebih gawat lagi. Eee, jadi hanya gara2 kalau “nyemplo” kayak bajing maka kusir grobag jadi “bajingan”, opo tumon? Saya heran dari mana asalnya kok “bajing” disangkutkan dengan hal jelek, apa salahnya dia? Keterangan mas Kamto itu sekaligus menjawab pertanyaan bapake dittamimi, tentang baj… Karena jawaban langsung dari mantan “kusir grobag” mestinya ya bener.. maaf lho mas Kamto ini hanya guyonan saja untuk nostalgia. Salam untuk keluarga besar, sw.

    [Reply]

  27. Mas Anston, sekarang sudah jelas masalahnya, cuma kenapa “bajing” disangkut-pautkan dgn hal yang jelek, brkl mas anston tahu jawabannya, salam, sw.

    [Reply]

  28. agus wt says:

    Wah seru juga, boleh dong agus nimbrung. Merespon hewan pengerat yang dikaitkan dengan “pilot” grogag barangkali itu kejelian orang jawa yang melihat betapa lincahnya “pilot” grobag saat nyemplok grobag. Bisa kita bayangkan kuda harus menarik grobag dulu baik dengan berlari ataupun “jogging” (jalan cepat), begitu grobag berisi muatan sudah bergerak barulah sang “pilot” grobag dengan lincahnya nyemplok untuk mengendalikan kuda supaya sesuai arah dan tujuan. Barangkali karena itulah dikaitkan dengan pengerat yang cukup lincah.

    Orang jawa dulu memang suka memakai nama hewan (sekarang masih?). Contohnya : Gajah Mada (yang patih mojopahit), Kebo Kanigoro, Kudo Wanengpati dll. Bahkan saat kita jadi penganten yang mengiringi Gending Kebogiro dll. Atau dalam olahraga ada renang gaya katak, ada loncat tinggi gaya anjing kencing (saat kita di SD dulu). Kira-kira begitu?

    [Reply]

  29. Wah blogger kita jadi tambah rame nih, gara2 “mr. bajing”. Analisa mengenai “perbajingan” memang masuk akal dalam hubungan dgn kusir/tukang grobag, namun pertanyaan mengapa bajing dikaitkan dengan hal negatif terutama stl ditambah akhiran “an”, belum terjawab. Sekarang ditambah lagi istilah “loncat tinggi gaya anjing kencing”, ini apa lagi, agar diberi penjelasan… tapi thanks lho untuk comment-nya. Salam, sw.

    [Reply]

  30. agus wt says:

    Tentunya u r welcome. Dengan akhiran “an” memang terkesan negatif. “Negatif”nya adalah bahwa bajing untuk mempertahankan spesiesnya harus makan buah kelapa (sebagai menu utama). Hal tersebut tentu membuat repot para petani, sebagian kelapanya “dipanen” oleh bajing. Hal ini sebenarnya sunatullah. Karena mana mungkin bajing bilang : ” nuwun sewu pak tani kulo nyuwun kelapanipun”. Bisa-bisa pak tani lari tunggang langgang ketakutan, bajing kok ngomong.

    Jadi sebenarnya bajing tidak salah, karena memang begitulah hewan dalam mempertahankan spesiesnya. Hanya orang pelit saja yang menyalahkan bajing dan hanya orang yang tidak bisa mengendalikan emosi yang menambahkan dengan akhiran “an”.
    Bajingpun berguna untuk mempertahankan ekosistem bahkan ada yang memakan untuk obat asma. Atau bagi pembuat siwur (gayung dari tempurung)kerja bajing sangat berguna. Kari nggedekake bolongane he…he….he…

    Kalau kita perhatikan anjing sedang kencing pasti salah satu kaki belakangnya diangkat sebelah. begitu juga saat kita melakukan loncat tinggi (terutama bagi anak-anak kecil) pasti yang mendarat duluan salah satu kaki kita. Beda dengan sekarang, ada yang memakai alat galah (bisa melenting) sehingga punggung duluan yang mendarat, gedebug… mendut mentul…terus berdiri, tidak sakit karena mendarat di busa.

    Barangkali kita memang harus banyak belajar dari hewan. Mereka tidak sekolah tapi bisa hidup, bisa beranak pinak, malah banyak yang poligami. ha…ha….ha….jangan pada niru kalau tak mampu.
    Semanten atur kawulo wonten lepat nyuwun pangapuro

    [Reply]

  31. Mas Agus, selamat, anda telah menunjukkan kejeliannya sebagai pengamat dunia perbinatangan, begitu rinci analisanya sehingga kepentingan dunia bajing dan binatang lainnya, terwakili secara simpatik. Memang betul bhw bajing adalah bagian dari keseimbangan ekosistem, spt juga halnya dengan binatang2 yang lain, namun sayangnya semuanya itu kini telah dirusak oleh manusia.Coba mas Agus datang kedesa dan cari satu bajing saja kalau bisa, itu setidak2nya didesa saya.
    Saya rindu suasana desa jaman dulu dimana berbagai binatang “berkeliaran” dengan “aman”, termasuk bajing dan bermacam2 burung dengan kicauannya yang membikin alam desa terasa tenteram dan harmonis.Memang jaman telah berobah… . Tentang “loncat tinggi gaya anjing kencing” sudah cukup “memuaskan” penjelasannya. Thanks, semoga mas Agus akan terus mengisi blok kita dengan berbagai comments dan tulisannya, salam, sw.

    [Reply]

  32. mbah suro says:

    Saya dengan Mas Bilung Soroito melalui Blog ini bisa silaturahmi dan tatap muka, setelah 46 tahun berpisah. Memang bukan ndilalah tetapi kersaning Allah. Salam kenal buat Pak Kamto.

    [Reply]

  33. Akhirnya mbah Suro muncul juga, kemana saja selama ini.Matakaji panglimunan yaa? Mbah Suro betul, tetapi memang ndilalah itu ya kersaning Allah, gitu aja kok repot… Mas Kamto pasti senang terima salam dari mbah Suro. Tapi ngomomg2, bagaimana itu usulnya mas Bilung Soroito, ttg pembentukan “sisa2 laskar pajang”. Mas Kamto yakin mau gabung, nanti bisa cerita pengalaman sewaktu beliau jadi “baj..”, ee maaf, “tukang grobag”, pasti seru deh… salam, sw.

    [Reply]

  34. agus wt says:

    Aduh…. Eyang Wik (ijinkan agus menyebut Eyang, biar agus ikut kecipratan berilmu padinya) bisa aja. Itu hanya kebetulan. Agus juga rindu suasana desa seperti yang digambarkan Eyang Wik (ada kicau burung yang terbang bebas kesana kemari dsb), desa yang diciptakan Allah SWT dengan ekosistem yang terjaga dengan baik. Mudah-mudahan kita semua bisa menjadi Kalifatullah yang baik seperti yang dicita-citakan (tidak merusak alam). Amin. Sungkem untuk Eyang Wik dan salam untuk semua pengunjung BP. thanks

    [Reply]

  35. Mas Agus wt, silahkan menyebut sesuai yang “sreg”nya, tapi kalau dengan sebutan itu lalu ingin “kecipratan berilmu padinya”, la ini agak “kebablasan”, krn saya merasa masih jauuuh dari tingkatan itu, masih terlalu banyak kekurangannya, yang saya coba untuk meng-”improve” setiap harinya.
    Namun, saya trims dgn commentnya, maju terus, semoga sukses, salam, sw.

    [Reply]

  36. Pak wik
    Senang sekali saya membaca cerita2 retro panjenengan. Paling tidak saya bisa ikut melayang2 di era masa tahun 40an yang saat ini sudah sangat sulit ditemui. Lebih dari itu saya sangat mengidamkan barang kali pak Wik ada cerita yang lebih purba lagi dari ortu atau kakek panjengan yang bisa sampai pada kami yang nota bene akan lebih otentik karena lebih deket dari sumbernya, kami siap untukmenikmati dan masuk kejaman retro era 1900an..
    Maturnuwun…. nitip salam buat mbah suro, dan panjenengan sakaluargo.

    [Reply]

  37. Mas Bilungsoroito, terimakasih atas tanggapan yang memberikan semangat. Tulisan2 yang saya susun itu umumnya berdasar atas pengalaman pribadi/kenangan yang masih terpatri dalam ingatan saya, sedangkan untuk “masuk kejaman retro era 1900an” itu sudah merupakan cerita berdasar sumber sekunder, misal dari bapak maupun mbah saya, yang biasanya bersifat pribadi, contohnya tentang asal-usul keluarga/silsilah dll, yang belum tentu semua orang akan senang untuk membaca. Namun akan saya coba lain waktu untuk menyajikan cerita kejamaan retro era 1900-an, bahkan mungkin lebih jauh lagi tanpa memberikan kesan “promosi” pribadi.
    Kemarin saya baru telpun mbah Suro, kalau ada kesempatan akan saya sampaikan salam mas Bilung. Kalau tindak Jakarta monggo kampir. salam, sw.

    [Reply]

  38. Wariso S Dihardjo says:

    Ee tobil….Pak Slamet ki jebule koncone mBah Kamto! mBah Kakung saya yang tinggal di Mendiro masih sepupune mBah Kamto adike Mbah Tjokro Tunjungan. Waktu saya mau masuk ke FT UGM mBah saya mbelani adol sawah yang terletak di Tunjungan, pembelinya mBah Kamto. Waktu itu bulan Puasa tahun 1968, saya kedungsang-dungsang nyuwun duwit ke daleme mBah Kamto di Wates numpak sepur truthuk dari stasiun Jenar. Sayang, dengan keluarga besar mBah Buyut Tunjungan seakan-akan kini kami kadyo kepaten obor. Wis mrajak kemana-mana dengan kesibukan masing2. Capet2 saya masih ingat generasinya mBah Tjokro, mBah Kamto, mBah putri sing ayu ndengguk bunder pasuryane (kami biasa nyebut Mbah Bunder). Putrowayahe…..wis blas ora pati jelas! Nek kelingan jaman Noroyono, ati kadyo rinujit-rujit! Salam buat Keluarga Besar Tunjungan, juga tak lupa buat Pak Slamet sebagai pelopor penulisan di situs ini. (dari: seorang pensiunan yang berharitua di daerah sejuk BANDUNG SELATAN)

    [Reply]

  39. Mas Wariso, semoga komentarnya dibaca putro wayahnya mbah Kamto, sehingga tali paseduluran yang ibarat sudah “kepaten obor” itu bisa nyala kembali. Nanti kalau Mas Kamto telpun saya ceritakan, biasanya beliau sering telpun. Tentang pertemanan saya dgn mas Kamto sudah cukup jelas diungkap dlm cerita saya itu. Yang saya pikir2 itu kok sampai terjadinya pertemuan itu, krn saya sendiri tidak pernah ingat punya teman mas Kamto. Semuanya saya kembalikan kepada Gusti Allah, semoga ada hikmahnya.Saya senang bhw tulsan saya mendapat sambutan yang hangat. Disamping untuk melatih otak agar tidak beku, saya ingin mengingatkan bahwa kecintaan kepada tanah/tempat kelahiran dan kenangan masa kecil itu sangat penting agar kita tidak kehilangan jati-diri dan pegangan bagi menghadapi kehidupan kedepan. Silahkan mas Wariso meramaikan forum ini. Btw, Mas Wariso dari teknik apa dan dimana berkarya sbl pensiun? Salam, sw.

    [Reply]

  40. W4R150 says:

    Saya salah seorang rongsokan bekas dari “Industri Telkom Indonesia” Pak!

    Sembah bektos ma wantu2!

    [Reply]

  41. Mas Wariso, jangan terlalu berpikir negatif. Seseorang yang bisa mencapai umur pensiun adalah suatu hal yang perlu disyukuri, nggak ada itu istilah “rongsokan” apalagi pakai “bekas”. Saya sendiri sangat menikmati masa pensiun karena bisa mengerjakan hal2 yang menjadi kesenangan saya tanpa ada beban dan rasa bersalah. “Orang sana” bilang bhw masa pensiun adalah “golden years”. Nah, skr tergantung pada kita apakah akan menganggap sebagai “tahun emas” atau “tahun penderitaan”, semoga yang pertama yang kita pilih… itu kalimat terakhir mengingatkan saya pada adegan antara Gatutkoco dan Prabu Dworowati, salam sw.

    [Reply]

  42. bapake dittamimi says:

    Om Wik,
    Beberapa waktu tidak menengok blog ini ternyata saya ketinggalan banyak informasi. Saat membaca malam ini, Alhamdulillah.. saya merasa nemu sedulur “sing kepaten obor” yaitu “Nak” Wariso, kerabat dari jalur Ibu yang dari Mendiro. Saya dan isteri adalah teman “Nak” Warsoyo, satu angkatan di SMAN Purworejo. Betul, brayat yang tinggal di Tunjungan sekarang sebagian besar adalah generasi cucu, tinggal budhe Tjokrodikarto. Pakdhe Tjokro, Pakdhe/Budhe Suro sudah kapundhut.

    Andai komentar ini terbaca oleh “Nak” Wariso, mari kita nyalakan lagi obor. Saya, insyaallah jika tugas selesai akan tinggal di Susuk

    Salam hormat katur Om/tante

    [Reply]

  43. bapake dittamimi says:

    “Nak” Wariso,
    Saya ralat info saya mengenai pinisepuh yang tersisa di Tunjungan. Inna lillahi wa inna illaihi roji’uun… Jika tadi malam saya ceritakan tinggal budhe Tjokro satu-satunya yang tersisa, pagi ini Budhe Tjokro kapundhut. Benar-benar tinggal generasi cucu dan buyut dari Mbah Lurah Somakarta yang ada di Tunjungan.

    Salam dari Surabaya

    [Reply]

  44. Bapake dittamimi, komentar nak Luk menambah hikmah yang tersembunyi dari pertemuan saya dgn Mas Kamto, menyambung tali silaturahmi antar saudara/kerabat yang sudah kepaten obor dan saya senang tawaran nak Luk pada mas Wariso untuk kembali menyalakan obor itu. Semoga akan berkembang kehangatan hubungan ke-keluargaan yang selama ini sudah terputus.Saya bersyukur ikut “menyumbang” terjadinya hal ini. Saya juga ikut belasungkawa atas wafatnya budhe Tjokro, semoga arwah beliau mendapat tempat layak disisi Alah Swt, Amien, salam, sw.

    [Reply]

  45. W4R150 says:

    Nderek belosungkowo se dalam2nya atas wafatnya mBah Tjokro; semoga beliau dimuliakan Allah; Amin!
    Apa yang saya baca ini postingnya Om Lukito?
    Sebenarnya saya ini nggak begitu cetho dengan yang asmane Om Lukito; tapi nek critane sithik2 rodo ngerti. Om Lukito itu putranya mBah Sugeng yang dulu pernah membawa MONTOR TENTARA ke nDiro; yang terlibat cinta lokasi dengan gadis asal Susuk putrane Pak Siner (jaman SD aku wedi banget). Saya juga mantan praktisi cinlok kok Om, malah sejak SD kelas 6 sampai masa kuliah, tapi…….gagal total! Selamat atas keberhasilan Om dan Tante!

    Salam dari Bandung Selatan!

    [Reply]

  46. murni kusumandari suparwoto says:

    Ass.wr.wb
    Baru saja putra kami Ahmad mau membalas email dari p.wariso to menyampaikan salam dari ortu kamiBp. R.Raharjo Sukamto sekalian, eh keburu harus melayat ke Tunjungan to mendo’akan n memberikan penghormatan terakhir kagem Yang Cokro putri. Alhd. tadi pagi kami sekeluarga telah sampai diTunjungan. Meskipun hari msh pagi alhd telah banyak saudara dan handai tolan yg hdir to ta’ziah. trimakasih untuk semua yg telah memberikan apresiasi thdp ayah kami. Wass.wr.wb

    [Reply]

  47. W4R150 says:

    Tante Murni K,
    Salam kenal, selamat ketemu di awang2. Meskipun saya nyebut tante, tapi nyatanya saya ini jauuuuuuuh lebih tuek. Bayangkan saja, waktu saya sowan di Wates, putranya Eyang Kamto masih cilik2. Padahal kolosemono (1968)saya udah jebol SMA.
    Keparengo titip sungkem buat Eyang, matur sembah nuwun ma wantu2 atas support yang pernah diberikan.

    Salam dari Bandung Selatan!

    [Reply]

  48. W4R150 says:

    Pak Slamet W, terima kasih atas nasihatnya, sendiko dawuh!
    Memang pak kita ini kalau di dunia pewayangan diibaratkan sudah melewati mongso kesongo. Pathet songo sudah lewat, Subokastowo telah hilang gaungnya, Cakil sudah mampus, gamelan sudah berubah kembali ke pathet menyuro. Malah gegap gempitanya Padang Kurusetra sudah hampir selesai! Nek nang Susuk, tempe baceme Yu Thewul wis ludes, saotone Bi Tjonil wis ledis, malah lincake wis dinggo ngringkel Kang Karimin Tjumplung kemulan sarung.
    Tapi oke Bos,….. We will not go down!

    Salam !

    [Reply]

  49. Mas War, ini komentar saya.Pembagian gongso menjadi patet enem, songo dan manyuro itu memang betul,tetapi dlm hidup manusia pembagian menjadi tiga itu tergantung berapa umur harapan manusia. Jaman dulu umur harapan itu rata2 50 tahun, jadi umur 45 tahun sudah masuk patet manyuro. Sekarang menurut definisi WHO usia dibawah 65 tahun masih digolongkan Usia Pertengahan (Middle Age), jadi kalau mas War baru usia sekitar itu ya masih masuk patet songo, nanti diatas 75 baru patet manyuro itupun waktunya sampai 90, sedangkan diatas itu tergolong manuasia berumur panjang. Maksud saya, hidup harus dijalani dengan pikiran positif dan berusaha untuk optimal.Soal jadinya bagaimana ya kita serahkan Gusti Allah.
    Jaman saya kecil setelah tancep kayon,ki dalang manjakke wayang golek, yang menyimbulkan “golek-ono”, berpikirlah dan carilah hikmah dari pertunjukan ini, ini sekedar sharing saja, salam,sw.

    [Reply]

  50. bapake dittamimi says:

    Ass wr. wb
    Selamat pagi.-

    Nak Wariso, benar.. tentu saja kita saling tidak “cetha” karena kita memang tidak pernah, setidaknya hampir tidak pernah, bergaul di masa-masa lalu. Kalaupun kita pernah berada di suatu event, tidak ada yang sempat nggenah-nggenahna, sehingga sekarang menjadi tidak genah. Masa kecil saya (lahir sampai dengan SMA kelas 1) lebih banyak dihabiskan di Magelang. Hidup di Purworejo sejak akhir2 kelas 1 SMA sampai dengan lulus di tahun 1971. Tentang cinlok, hehehe, kaya artis saja cinlok…. (shooting apa ya??). Benar, di SMA saya kenal putrinya pak Siner, dan kami sepakat untuk merenda masa depan bersama. Dikaruniai 2 putri yang alhamdulillah sudah pada bisa mandiri. Keduanya belum menikah.

    Sayup-sayup saya tahu ‘cinlok’ panjenengan. Setidaknya pernah diceritani isteri saya…. hmmm….. di sini hanya dengan iman manusia bisa menerima kenyataan bahwa hanya DIAlah yang MAHA menetapkan. Sejak kanak-kanak sampai konok-konok menjalin hubungan, ternyata harus berakhir juga, karena begitulah ketetapan-NYA.

    Kami saat ini masih tinggal di Surabaya, tetapi jika Tuhan mengijinkan, rencananya saya dialih tugaskan ke Semarang mulai bulan depan. Mohon do’a dapat melaksanakan kewajiban dengan semestinya.

    Wass wr wb.
    Salam untuk keluarga.-

    [Reply]

- Newer Comments »

Leave a Reply

 

  • Nggoleki

Random Post

Banner

Banner

  • Komentar

    • Camera: Sumber : http://bloggerpurworejo.com...
    • hendro: untuk mengikuti perkembangan / kegiatan...
    • aguss: mas sudaeni pekanbaru tepatnya dimana?...
    • Yono: Wah, berbeda to, matur nuwun...
    • muhammad maulida 7e: perfect tapi wc ne bau...
    • Agung Prastowo: Mas Yono, terima kasih banyak...
    • massito: Terima kasih Mas Yono atas...
    • bungsanjaya.com: saya orang purworejo baru...
    • dgan: mr.burger frezz burgernya orang purworejo...
    • Yono: Mas Agung, Selamat atas kesuksesan...
  • Pin Blogger Purworejo 150px

    Pin blogger Purworejo
  • Pin Blogger Purworejo 100px

    pin blogger purworejo 100px
  • Arsiiip

  • Kategori

  • Form Data Warga Purworejo

    Silakan mengisi untuk Pendataan Perantau Purworejo dimanapun berada. Data yang masuk tidak akan dipublish, tidak akan disalahgunakan.

    Nama (required)

    Email (required)

    No Telp/HP:

    Asal (desa - kecamatan)

    Alamat Sekarang dan Keterangan tambahan

    Masukkan kode berikut: captcha :