Jumpa Setelah 70 Tahun Pisah

  19 - Apr - 2009 -   slamet wijadi -   56 Comments »
mas-kamto-yogja-resize

Perjumpaan dgn teman di "ongko-loro"

Sewaktu saya melayat mbakyu saya yang wafat di desa Susuk bulan Juli tahun lalu, saya mendekati seseorang yang cukup sepuh yang duduk di antara tamu para pelayat. Pada waktu bersalaman, dia menegor saya, “masa lupa sama saya; saya Sukamto teman sekelas di ‘Ongko Loro’ Wunut”. Masya Allah, itu sudah berlalu hampir 70 tahun yang lalu. Jadi kalau “lupa” ya dapat dimaklumi.

Pikiran saya langsung “flash back” ke permulaan tahun 40-an pada waktu kita bersama duduk di klas 4 , saat-saat terakhir jaman penjajahan Belanda. Mas Kamto ini putra lurah Tunjungan waktu itu, sebuah desa yang terletak arah tenggara desa Mangunrejo terpisah oleh bulak sawah, sedang ayah saya adalah bekel desa Mangunrejo, keduanya mempunyai hubungan yang akrab.

Sekolah “Ongko Loro” (Sekolah desa sampai klas V di jaman penjajahan Belanda) Wunut ini adalah satu-satunya untuk onder distrik/ kecamatan Ngombol, sehingga murid-muridnya berasal dari seluruh pelosok desa-desa se-kecamatan, dari ujung barat, Bejibinangun, termasuk Glendang, Awu-Awu, Cokroyasan, Sumberejo, ke timur, Watuaji termasuk Ngombol, Kembang Kuning, Sruwoh, ke utara Wonoboyo, Singkil , Wingkodermosari, Wingkomulyo sampai Wingkotinumpuk dan ke selatan/ tenggara Ngringgit, Kaliwungu, mBukur, Wasiat,Nglaban,Tunjungan, Pejagran, Kumpulsari, Pasir/Wonoroto dan desa-desa lain sekitarnya.

img_3564-resize1
Bangunan sekolah “ongko-loro” Wunut, tidak berobah sejak berdiri tahun 1915

Sedikit keterangan tambahan, SD jaman itu dibagi dua, yang diperuntukkan bagi “golongan priyayi” dengan pengantar bhs Belanda “Holland Inlandsche School” (H.I.S), sampai klas VII; yang dapat masuk di situ adalah anak-anak pegawai/ amtenaar pemerintah kolonial Belanda yang dimasukkan sebagai gol. priyayi; dan “Ongko Loro” sampai klas V, untuk golongan orang desa/ pribumi dengan pengantar bahasa Jawa. Untuk kabupaten Purworejo ada dua H.I.S, satu di Purworejo dan satu di Kutoarjo, sedang untuk “Ongko Loro”, terdapat di beberapa kecamatan, paling banyak satu untuk satu kecamatan.

Masih ada lagi SD khusus untuk orang Belanda/ Indo/ bangsawan Jawa, E.L.S, dan SD untuk Orang/golongan Tionghoa, H.C.S, sedang untuk anak orang desa yang ingin “sekolah dasar Belanda” tersedia “Schakel School”, semacam sekolah “antara” Ongko Loro dan HIS. Untuk kaum nasionalis, tersedia SD Tamansiswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantoro. Sekolah ini oleh Belanda dianggap “sekolah liar”. Begitulah rumitnya sekolah di jaman penjajahan.

Kembali ke Mas Kamto, mengingat keadaan waktu itu, kita tidak sempat “ngobrol” lebih lanjut, tetapi dia meninggalkan alamat agar kalau ada kesempatan bisa mampir dirumahnya, di daerah Patangpuluhan, Jogyakarta.

”Betul lho mas, saya tunggu dirumah supaya kita bisa cerita panjang,” katanya sebelum kita berpisah.

Saya masih sempat memberikan nomor telpun rumah saya di Jakartat. Beberapa waktu setelah itu dia sering menghubungi saya lewat telpun dan mengingatkan bila kedesa jangan lupa mampir di rumahnya di Jogya.

Kesempatan akhirnya datang pada Lebaran bulan Oktober tahun lalu, pada waktu kami pulang mudik bersama anak-anak, kami ke Jogja; diantar oleh salah satu anak saya, kami meluncur kerumah Mas Kamto, di daerah Wirobrajan/ Patangpuluhan. Ternyata rumah Mas Kamto berada ditepi jalan besar yang menuju selatan kearah Bantul. Kami disambut Mas dan Ibu Kamto dengan hangat, dipersilahkan duduk sambil menikmati sajian Lebaran.

Setelah tanya kabar sana-sini, Mas Kamto mulai cerita tentang perjalanan hidupnya sejak kita berpisah.

“Mas Slamet barangkali sudah lupa, tetapi jalan hidup saya ini sangat dipengaruhi oleh Mas Slamet,” Dia memulai ceritanya.

Saya kaget dan heran dan langsung bertanya, “kok bisa”. “Begini”, dia meneruskan ceritnya, “selepas dari Ongko Loro itu kan kita berpisah, saya tahu Mas Slamet meneruskan sekolah ke Purworejo, sedang saya oleh orang tua saya disuruh tinggal di rumah, sebagai petani, bahkan saya dibelikan gerobag dan kuda sebagai sarana angkutan hasil-hasil pertanian. Mas Slamet kan tahu, ayah saya lurah jaman dulu yang punya sawah luas. Dalam pengangkutan hasil-hasil pertanian ke Kutoarjo dan Purworejo, saya bertindak sebagai kusir grobag. Ya saya jalani saja kehidupan demikian itu. Sampai pada suatu hari, waktu saya berhenti “ngombor” (kasih makan) kuda di Kedungkebo, tiba-tiba secara kebetulan, Mas Slamet keluar dari suatu gedung, yang ternyata asrama pelajar. Mas Slamet nampak bergas dengan pakaian seorang pelajar yang bersih dan rapih, sedangkan saya sebagi kusir grobak berpakaian ala kadarnya, kucel dan kumel. Sungguh saya tersentak dan terkesan atas perjumpaan yang mendadak itu. Mas Slamet kan kaget dan mendekati saya, ‘hee Kamto, kenapa kamu jadi kusir grobag, kamu kan putro lurah, mengapa tidak meneruskan sekolah seperti saya’, itulah kata2 yang tidak pernah saya lupakan dalam hidupku.”

“Pulang kerumah saya menjadi gelisah dan terngiang-ngiang dalam telinga saya akan kata-kataMas Slamet itu. Akhirnya saya beranikan diri untuk menyampaikan niat saya meneruskan sekolah kepada orang tua, yang tidak bisa ditawar lagi. Saya masuk ke SMP II Purworejo sudah tertinggal 2 tahun, tidak mengapa.

Itulah awal perubahan hidup saya. Tamat SMP meneruskan ke SMA dan setelah lulus masuk kedokteran UGM. Gagal di kedokteran, pindah ke Teknik Sipil masih di UGM, tidak dapat selesai karena kehabisan biaya dan akhirnya menyebrang ke PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama), dan setelah lulus dari pendidikan diangkat jadi guru SMP di Medan. Pada waktu pembrontakn PRRI saya pulang, diterima ngajar di daerah Jogja, berpindah pindah sampai akhirnya pensiun sebagai Kepala SMP. Demikian rupanya “uneg2” Mas Kamto yang ingin disampaikan.

Saya katakan bahwa sama sekali saya tidak ingat akan “kejadian di Kedungkebo” itu, bahkan, maaf terus terang, mempunyai ingatan bahwa saya pernah punya teman bernama Sukamto saja juga tidak. Saya ucapkan selamat kepada Mas Kamto yang cukup ulet dalam mengejar cita-cita untuk maju selepas peristiwa Kedungkebo itu.

Sekarang ini Mas Kamto bersama isteri menikmati masa pensiunnya dengan ayem dan tenteram, putra-putrany semuanya sudah mandiri dan memberikan cucu-cucu yang akan meneruskan “dinasti” Sukamto. Mas dan mbakyu Kamto juga sudah menunaikan ibadah haji dan sekarang keduanya tekun beribadah.

img_0638-resize

Jalan menuju ke desa Tunjungan, nampak di sebelah kanan.

Satu lagi “kebetulan”dalam perjalanan hidup. Keponakan Mas Kamto (laki) mempersunting keponakan saya sebagai isterinya. Keponakannya itu kini menjabat sebagai Ka Kanwil Badan Pusat Statistik Prop. Jawa Timur di Surabaya, dan itulah mengapa Mas Kamto melayat waktu mbakyu saya wafat, yang tidak lain adalah ibu mertua keponakannya.

Pulang dari rumah Mas Kamto saya merenung, betapa hidup ini penuh misteri dan betapa besar kekuasaan Allah SWT atas perjalanan hidup anak manusia. Saya juga tidak habis berpikir tentang apa makna dan hikmah sesungguhnya dari pertemuan yang “kebetulan” antara dua orang teman yang telah terpisah selama hampir 70 tahun itu. Allah Maha Mengetahui, kita serahkan saja semuanya atas kehendak-Nya. Begitu banyak rahasia/ misteri dalam kehidupan ini yang kesemuanya itu semata-mata atas kuasa dan kehendak Allah.

Namun, dari contoh perjalanan hidup Mas Kamto tsb, nampak juga betapa besar peranan ikhtiar/ perjuangan dan usaha manusia dalam mengubah dan menentukan nasibnya sendiri.

Salut untuk Mas Kamto dan salam untuk seluruh keluarga besarnya dimanapun berada, khususnya untuk nak Lkt beserta keluarga di Surabaya.

Slamet Wijadi

Category: cerita,Nostalgia, Tags: | posted by:slamet wijadi


56 Responses to “Jumpa Setelah 70 Tahun Pisah”

  1. Mas Agus, selamat, anda telah menunjukkan kejeliannya sebagai pengamat dunia perbinatangan, begitu rinci analisanya sehingga kepentingan dunia bajing dan binatang lainnya, terwakili secara simpatik. Memang betul bhw bajing adalah bagian dari keseimbangan ekosistem, spt juga halnya dengan binatang2 yang lain, namun sayangnya semuanya itu kini telah dirusak oleh manusia.Coba mas Agus datang kedesa dan cari satu bajing saja kalau bisa, itu setidak2nya didesa saya.
    Saya rindu suasana desa jaman dulu dimana berbagai binatang “berkeliaran” dengan “aman”, termasuk bajing dan bermacam2 burung dengan kicauannya yang membikin alam desa terasa tenteram dan harmonis.Memang jaman telah berobah… . Tentang “loncat tinggi gaya anjing kencing” sudah cukup “memuaskan” penjelasannya. Thanks, semoga mas Agus akan terus mengisi blok kita dengan berbagai comments dan tulisannya, salam, sw.

  2. mbah suro says:

    Saya dengan Mas Bilung Soroito melalui Blog ini bisa silaturahmi dan tatap muka, setelah 46 tahun berpisah. Memang bukan ndilalah tetapi kersaning Allah. Salam kenal buat Pak Kamto.

  3. Akhirnya mbah Suro muncul juga, kemana saja selama ini.Matakaji panglimunan yaa? Mbah Suro betul, tetapi memang ndilalah itu ya kersaning Allah, gitu aja kok repot… Mas Kamto pasti senang terima salam dari mbah Suro. Tapi ngomomg2, bagaimana itu usulnya mas Bilung Soroito, ttg pembentukan “sisa2 laskar pajang”. Mas Kamto yakin mau gabung, nanti bisa cerita pengalaman sewaktu beliau jadi “baj..”, ee maaf, “tukang grobag”, pasti seru deh… salam, sw.

  4. agus wt says:

    Aduh…. Eyang Wik (ijinkan agus menyebut Eyang, biar agus ikut kecipratan berilmu padinya) bisa aja. Itu hanya kebetulan. Agus juga rindu suasana desa seperti yang digambarkan Eyang Wik (ada kicau burung yang terbang bebas kesana kemari dsb), desa yang diciptakan Allah SWT dengan ekosistem yang terjaga dengan baik. Mudah-mudahan kita semua bisa menjadi Kalifatullah yang baik seperti yang dicita-citakan (tidak merusak alam). Amin. Sungkem untuk Eyang Wik dan salam untuk semua pengunjung BP. thanks

  5. Mas Agus wt, silahkan menyebut sesuai yang “sreg”nya, tapi kalau dengan sebutan itu lalu ingin “kecipratan berilmu padinya”, la ini agak “kebablasan”, krn saya merasa masih jauuuh dari tingkatan itu, masih terlalu banyak kekurangannya, yang saya coba untuk meng-”improve” setiap harinya.
    Namun, saya trims dgn commentnya, maju terus, semoga sukses, salam, sw.

  6. Pak wik
    Senang sekali saya membaca cerita2 retro panjenengan. Paling tidak saya bisa ikut melayang2 di era masa tahun 40an yang saat ini sudah sangat sulit ditemui. Lebih dari itu saya sangat mengidamkan barang kali pak Wik ada cerita yang lebih purba lagi dari ortu atau kakek panjengan yang bisa sampai pada kami yang nota bene akan lebih otentik karena lebih deket dari sumbernya, kami siap untukmenikmati dan masuk kejaman retro era 1900an..
    Maturnuwun…. nitip salam buat mbah suro, dan panjenengan sakaluargo.

  7. Mas Bilungsoroito, terimakasih atas tanggapan yang memberikan semangat. Tulisan2 yang saya susun itu umumnya berdasar atas pengalaman pribadi/kenangan yang masih terpatri dalam ingatan saya, sedangkan untuk “masuk kejaman retro era 1900an” itu sudah merupakan cerita berdasar sumber sekunder, misal dari bapak maupun mbah saya, yang biasanya bersifat pribadi, contohnya tentang asal-usul keluarga/silsilah dll, yang belum tentu semua orang akan senang untuk membaca. Namun akan saya coba lain waktu untuk menyajikan cerita kejamaan retro era 1900-an, bahkan mungkin lebih jauh lagi tanpa memberikan kesan “promosi” pribadi.
    Kemarin saya baru telpun mbah Suro, kalau ada kesempatan akan saya sampaikan salam mas Bilung. Kalau tindak Jakarta monggo kampir. salam, sw.

  8. Wariso S Dihardjo says:

    Ee tobil….Pak Slamet ki jebule koncone mBah Kamto! mBah Kakung saya yang tinggal di Mendiro masih sepupune mBah Kamto adike Mbah Tjokro Tunjungan. Waktu saya mau masuk ke FT UGM mBah saya mbelani adol sawah yang terletak di Tunjungan, pembelinya mBah Kamto. Waktu itu bulan Puasa tahun 1968, saya kedungsang-dungsang nyuwun duwit ke daleme mBah Kamto di Wates numpak sepur truthuk dari stasiun Jenar. Sayang, dengan keluarga besar mBah Buyut Tunjungan seakan-akan kini kami kadyo kepaten obor. Wis mrajak kemana-mana dengan kesibukan masing2. Capet2 saya masih ingat generasinya mBah Tjokro, mBah Kamto, mBah putri sing ayu ndengguk bunder pasuryane (kami biasa nyebut Mbah Bunder). Putrowayahe…..wis blas ora pati jelas! Nek kelingan jaman Noroyono, ati kadyo rinujit-rujit! Salam buat Keluarga Besar Tunjungan, juga tak lupa buat Pak Slamet sebagai pelopor penulisan di situs ini. (dari: seorang pensiunan yang berharitua di daerah sejuk BANDUNG SELATAN)

  9. Mas Wariso, semoga komentarnya dibaca putro wayahnya mbah Kamto, sehingga tali paseduluran yang ibarat sudah “kepaten obor” itu bisa nyala kembali. Nanti kalau Mas Kamto telpun saya ceritakan, biasanya beliau sering telpun. Tentang pertemanan saya dgn mas Kamto sudah cukup jelas diungkap dlm cerita saya itu. Yang saya pikir2 itu kok sampai terjadinya pertemuan itu, krn saya sendiri tidak pernah ingat punya teman mas Kamto. Semuanya saya kembalikan kepada Gusti Allah, semoga ada hikmahnya.Saya senang bhw tulsan saya mendapat sambutan yang hangat. Disamping untuk melatih otak agar tidak beku, saya ingin mengingatkan bahwa kecintaan kepada tanah/tempat kelahiran dan kenangan masa kecil itu sangat penting agar kita tidak kehilangan jati-diri dan pegangan bagi menghadapi kehidupan kedepan. Silahkan mas Wariso meramaikan forum ini. Btw, Mas Wariso dari teknik apa dan dimana berkarya sbl pensiun? Salam, sw.

  10. W4R150 says:

    Saya salah seorang rongsokan bekas dari “Industri Telkom Indonesia” Pak!

    Sembah bektos ma wantu2!

  11. Mas Wariso, jangan terlalu berpikir negatif. Seseorang yang bisa mencapai umur pensiun adalah suatu hal yang perlu disyukuri, nggak ada itu istilah “rongsokan” apalagi pakai “bekas”. Saya sendiri sangat menikmati masa pensiun karena bisa mengerjakan hal2 yang menjadi kesenangan saya tanpa ada beban dan rasa bersalah. “Orang sana” bilang bhw masa pensiun adalah “golden years”. Nah, skr tergantung pada kita apakah akan menganggap sebagai “tahun emas” atau “tahun penderitaan”, semoga yang pertama yang kita pilih… itu kalimat terakhir mengingatkan saya pada adegan antara Gatutkoco dan Prabu Dworowati, salam sw.

  12. bapake dittamimi says:

    Om Wik,
    Beberapa waktu tidak menengok blog ini ternyata saya ketinggalan banyak informasi. Saat membaca malam ini, Alhamdulillah.. saya merasa nemu sedulur “sing kepaten obor” yaitu “Nak” Wariso, kerabat dari jalur Ibu yang dari Mendiro. Saya dan isteri adalah teman “Nak” Warsoyo, satu angkatan di SMAN Purworejo. Betul, brayat yang tinggal di Tunjungan sekarang sebagian besar adalah generasi cucu, tinggal budhe Tjokrodikarto. Pakdhe Tjokro, Pakdhe/Budhe Suro sudah kapundhut.

    Andai komentar ini terbaca oleh “Nak” Wariso, mari kita nyalakan lagi obor. Saya, insyaallah jika tugas selesai akan tinggal di Susuk

    Salam hormat katur Om/tante

  13. bapake dittamimi says:

    “Nak” Wariso,
    Saya ralat info saya mengenai pinisepuh yang tersisa di Tunjungan. Inna lillahi wa inna illaihi roji’uun… Jika tadi malam saya ceritakan tinggal budhe Tjokro satu-satunya yang tersisa, pagi ini Budhe Tjokro kapundhut. Benar-benar tinggal generasi cucu dan buyut dari Mbah Lurah Somakarta yang ada di Tunjungan.

    Salam dari Surabaya

  14. Bapake dittamimi, komentar nak Luk menambah hikmah yang tersembunyi dari pertemuan saya dgn Mas Kamto, menyambung tali silaturahmi antar saudara/kerabat yang sudah kepaten obor dan saya senang tawaran nak Luk pada mas Wariso untuk kembali menyalakan obor itu. Semoga akan berkembang kehangatan hubungan ke-keluargaan yang selama ini sudah terputus.Saya bersyukur ikut “menyumbang” terjadinya hal ini. Saya juga ikut belasungkawa atas wafatnya budhe Tjokro, semoga arwah beliau mendapat tempat layak disisi Alah Swt, Amien, salam, sw.

  15. W4R150 says:

    Nderek belosungkowo se dalam2nya atas wafatnya mBah Tjokro; semoga beliau dimuliakan Allah; Amin!
    Apa yang saya baca ini postingnya Om Lukito?
    Sebenarnya saya ini nggak begitu cetho dengan yang asmane Om Lukito; tapi nek critane sithik2 rodo ngerti. Om Lukito itu putranya mBah Sugeng yang dulu pernah membawa MONTOR TENTARA ke nDiro; yang terlibat cinta lokasi dengan gadis asal Susuk putrane Pak Siner (jaman SD aku wedi banget). Saya juga mantan praktisi cinlok kok Om, malah sejak SD kelas 6 sampai masa kuliah, tapi…….gagal total! Selamat atas keberhasilan Om dan Tante!

    Salam dari Bandung Selatan!

  16. murni kusumandari suparwoto says:

    Ass.wr.wb
    Baru saja putra kami Ahmad mau membalas email dari p.wariso to menyampaikan salam dari ortu kamiBp. R.Raharjo Sukamto sekalian, eh keburu harus melayat ke Tunjungan to mendo’akan n memberikan penghormatan terakhir kagem Yang Cokro putri. Alhd. tadi pagi kami sekeluarga telah sampai diTunjungan. Meskipun hari msh pagi alhd telah banyak saudara dan handai tolan yg hdir to ta’ziah. trimakasih untuk semua yg telah memberikan apresiasi thdp ayah kami. Wass.wr.wb

  17. W4R150 says:

    Tante Murni K,
    Salam kenal, selamat ketemu di awang2. Meskipun saya nyebut tante, tapi nyatanya saya ini jauuuuuuuh lebih tuek. Bayangkan saja, waktu saya sowan di Wates, putranya Eyang Kamto masih cilik2. Padahal kolosemono (1968)saya udah jebol SMA.
    Keparengo titip sungkem buat Eyang, matur sembah nuwun ma wantu2 atas support yang pernah diberikan.

    Salam dari Bandung Selatan!

  18. W4R150 says:

    Pak Slamet W, terima kasih atas nasihatnya, sendiko dawuh!
    Memang pak kita ini kalau di dunia pewayangan diibaratkan sudah melewati mongso kesongo. Pathet songo sudah lewat, Subokastowo telah hilang gaungnya, Cakil sudah mampus, gamelan sudah berubah kembali ke pathet menyuro. Malah gegap gempitanya Padang Kurusetra sudah hampir selesai! Nek nang Susuk, tempe baceme Yu Thewul wis ludes, saotone Bi Tjonil wis ledis, malah lincake wis dinggo ngringkel Kang Karimin Tjumplung kemulan sarung.
    Tapi oke Bos,….. We will not go down!

    Salam !

  19. Mas War, ini komentar saya.Pembagian gongso menjadi patet enem, songo dan manyuro itu memang betul,tetapi dlm hidup manusia pembagian menjadi tiga itu tergantung berapa umur harapan manusia. Jaman dulu umur harapan itu rata2 50 tahun, jadi umur 45 tahun sudah masuk patet manyuro. Sekarang menurut definisi WHO usia dibawah 65 tahun masih digolongkan Usia Pertengahan (Middle Age), jadi kalau mas War baru usia sekitar itu ya masih masuk patet songo, nanti diatas 75 baru patet manyuro itupun waktunya sampai 90, sedangkan diatas itu tergolong manuasia berumur panjang. Maksud saya, hidup harus dijalani dengan pikiran positif dan berusaha untuk optimal.Soal jadinya bagaimana ya kita serahkan Gusti Allah.
    Jaman saya kecil setelah tancep kayon,ki dalang manjakke wayang golek, yang menyimbulkan “golek-ono”, berpikirlah dan carilah hikmah dari pertunjukan ini, ini sekedar sharing saja, salam,sw.

  20. bapake dittamimi says:

    Ass wr. wb
    Selamat pagi.-

    Nak Wariso, benar.. tentu saja kita saling tidak “cetha” karena kita memang tidak pernah, setidaknya hampir tidak pernah, bergaul di masa-masa lalu. Kalaupun kita pernah berada di suatu event, tidak ada yang sempat nggenah-nggenahna, sehingga sekarang menjadi tidak genah. Masa kecil saya (lahir sampai dengan SMA kelas 1) lebih banyak dihabiskan di Magelang. Hidup di Purworejo sejak akhir2 kelas 1 SMA sampai dengan lulus di tahun 1971. Tentang cinlok, hehehe, kaya artis saja cinlok…. (shooting apa ya??). Benar, di SMA saya kenal putrinya pak Siner, dan kami sepakat untuk merenda masa depan bersama. Dikaruniai 2 putri yang alhamdulillah sudah pada bisa mandiri. Keduanya belum menikah.

    Sayup-sayup saya tahu ‘cinlok’ panjenengan. Setidaknya pernah diceritani isteri saya…. hmmm….. di sini hanya dengan iman manusia bisa menerima kenyataan bahwa hanya DIAlah yang MAHA menetapkan. Sejak kanak-kanak sampai konok-konok menjalin hubungan, ternyata harus berakhir juga, karena begitulah ketetapan-NYA.

    Kami saat ini masih tinggal di Surabaya, tetapi jika Tuhan mengijinkan, rencananya saya dialih tugaskan ke Semarang mulai bulan depan. Mohon do’a dapat melaksanakan kewajiban dengan semestinya.

    Wass wr wb.
    Salam untuk keluarga.-

  21. bapake dittamimi, semoga saat ini sudah selesai adaptasi di tempat baru dan bisa fokus dgn tugas2 baru yang pasti sangat menyibukkan dengan menjelangnya pilpres ini.Kami ikut senang bahwa nak Luk ditugaskan di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah desa, mungkin hanya sekitar 3-4 jam-an, jadi bisa lebih sering tilik. Semoga di tempat baru ini akan lebih sukses, apakah masih ada kemungkinan pindah Jkt?, salam untuk semua, sw.

  22. bapake ditttamimi says:

    maturnuwun Om, tanggal 2 Juni kami sertijab di Jakarta, dan tanggal 11 Juni kami pisah sambut di Semarang. Mohon doa, semoga dapat segera adaptasi dan melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Kemungkinan pindah tetap saja ada Om.. meskipun kemarin sudah merasa senja di Surabaya. Alhamdulillah, BPS tidak mendapat tugas apapun dalam rangka Pemilu kali ini

    Sungkem katur Om, Tante.-

  23. murni kusumandari suparwoto says:

    kagem pak Wariso, salam kenal kembali. Ma’af Pak Wariso, Pak Kamto ingin berbincang langsung dengan pak Wariso, kalo berkenan bolehkah kami minta no telp nya? trimakasih

  24. Mas Wariso, silahkan segera di respons sekaligus untuk menyalakan kembali “obor” yang selama ini sudah redup. Senang bahwa blogger ini telah membantu menghubungkan kembali tali silaturahmi yang sudah terputus selama ini…

  25. msdani says:

    salam kenal pak selamet, sya suka sekali baca tulisan bpk diatas, lngkap sekali mengulas tentang desa-desa di purworejo khususnya di desa tunjungan krn kbtulan simbah sy tingglnya di tunjungan nmanya mbah suro pawiro, ok sy mau lnjut baca tulisan yg lain y pak, sy ijin dl hehe, trmksh sblmnya

    • slamet wijadi says:

      Trimakasih Mas Dani sudah membaca dan senang dengan tulisan saya. Sebaliknya, silahkan menulis untuk meramaikan blogger kita ini, kalau bukan kita yang mengisi siapa lagi. Salam.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Kakekku Tentara Kompeni

25 - Jan - 2014 | slamet_darmaji | 4 Comments »

KULO NUWUN…

1 - Apr - 2008 | cahloano | 4 Comments »

Apa Kabar Stasiun Jenar?

19 - Jan - 2015 | Febri Aryanto | 5 Comments »

Bahagianya hidup di purworejo

5 - Feb - 2009 | fadly | 29 Comments »

Slamet Tergolek Tak Berdaya Butuh Bantuan

15 - Apr - 2009 | eko_juli | 10 Comments »

Related Post

Mengunjungi Purworejo Melalui Dunia Maya

29 - May - 2016 | Febri Aryanto | 3 Comments »

Apa Kabar Stasiun Jenar?

19 - Jan - 2015 | Febri Aryanto | 5 Comments »

Sepanjang Jalan Kenangan, Antara Jenar – Purwodadi

1 - Jun - 2011 | meds | 24 Comments »

KONSER KOES PLUS DI PURWOREJO TAHUN 70-AN

21 - Nov - 2011 | geblex | 8 Comments »

Puasa dan Main Long Bumbung

1 - Aug - 2011 | meds | 14 Comments »

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net