Sopir Taxi Purworejo
25th March 2009 | By: slamet wijadi
Hari ini saya merasa senang sebagai orang Purworejo. Mengapa? Saya membaca di kompasiana hari ini satu posting dengan judul “Tips naik taxi” (khususnya di Jakarta). Seorang ibu menyetop taxi “B.B.”, begitu masuk sang sopir dengan sopan menyapa dan menanyakan tujuannya. Mengingat banyaknya berita tentang perampokan terhadap penumpang taxi khususnya wanita, si ibu langsung melihat/mencatat no.taxi, no. polisi dan nama sopir yang terpampang didadanya, “Sudarsono”. Si ibu tanya dari daerah mana, “Purworejo”.
Pak sopir menyadari bahwa si ibu mengumpulkan “data” agar bila terjadi sesuatu dia mempunyai info lengkap tentang taxi dan pengemudinya dan disinilah kemudian Pak Sudarsono memberikan tips lengkap tentang bagaimana seharusnya seorang penumpang taxi (khususnya wanita), membekali dirinya begitu dia masuk dan menutup pintu taxi.
Saya tidak akan cerita tentang tips menumpang taxi, tetapi membaca tentang seorang sopir , Pak Sudarsono, yang begitu sopan dan jujur berbagi pengetahuan yang sangat berguna dengan penumpangnya, dan dia ini “kebetulan” dari Pwr, alangkah senangnya. Si ibu ini mengucapkan terimakasih dan hari itu dia mempunyai catatan, ada seorang sopir yang baik, dan dia itu dari Purworejo. Semoga Pak Sudarsono membaca posting ini… .
swijadi
Tweet
Home| Category: blog | Trackback URI
Tulisan sesudahnya: Lingkungan Dan Alam Desa Mangunrejo »
15 Responses to “Sopir Taxi Purworejo”
-





wew..pertemuan yang “sederhana”..heheh
salam kenal, by nurrahman
[Reply]
Trims atas tanggapan mas Nurrahman. Memang pertemuan yang “sederhana” namun bermakna dalam yaitu sikap sopan, jujur dan keinginan membantu orang lain, pada saat kebanyakan dari kita bersikap “cuek bebek”, khususnya di Jkt. Inilah sikap yang perlu kita hargai dari Pak Sopir kita. Salam kenal juga, sw.
[Reply]
Akan lebih berkesan lagi kalo Pak sopir taxi itu juga menyediakan lanthing atau gebleg, makanan khas purworejo di dalam taxinya. Terus menawarkan kepada setiap penumpangnya terutama kepada yang sudah manula he he he….. Salam kenal.
[Reply]
Kalau perusahaan/pemilik taxinya orang Pwr,barangkali bisa terjadi, tetapi menawarkan makanan khas Pwr spt itu kepada penumpang manula kayaknya bukan termasuk “kebudayaan” Pwr… Salam kenal juga.
[Reply]
waduh…padahal banyak lho sopir BB yang dari Purworejo , Temen aku aja dah tiga , sopir busway kp rambutan satu orang .
Segala profesi ada orang purworejo.
Salam,
trie
[Reply]
Untuk Mas Trie. Thks comment-nya. Betul orang Pwr memang “luwesan” dari profesi sopir sampai jenderal bayak orang Pwr. Tahukah Mas Trie bhw kolonisasi pertama di Lampung adalah orang2 dari Bagelen, saya dengar demikian juga yang di Suriname dan Kalidonia. Di Jkt banyak sopir BB dari Pwr, mudah2an sikapnya sama spt Pak Sudarsono kita,yang membawa nama baik daerah kita. Salam.
[Reply]
salam kenal untuk pak slamet
semoga tetap membara
wass
[Reply]
Mas Srie, trims untuk tanggapan yang memberikan semangat.Syukur kalau tulisan saya dibaca/bermanfaat, tapi setidaknya inilah sumbangan kecil yang dpt saya berikan kpd desa/daerah yang melahirkan dan membesarkan saya. Saya mengangkat nama Pak Sudarsono, krn juga kebetulan nama itu berati “yang patut di contoh” (“sinudarsono”).Salam tetap membara,sw.
[Reply]
senangnya ketemu “tetangga”
di balikpapan juga banyak lohhh orang balikpapan…
[Reply]
Saya mau matur Pak Slamet, mohon maaf sampai saat ini saya belum dapat menemukan nomor teleponnya Bpk. Drs. Guntur Sudarsono, MA menurut keponakannya ( putranya Bu Kapto ) beliau agak sulit dihubungi. Matur nuwun.
[Reply]
Mas Eko, trims untuk tanggapan. Memang seneng ketemu “tetangga”, tetapi kalau belum ketemu , ya bikin tetangga baru kan di Balikpapan banyak, tinggal pro-aktif saja, salam.
[Reply]
Mbah Suro, eee keliru,yang bener “nak Suro” kan ibunya pernah mbakyu misan saya, sama2 cucu/buyut mbah Mangun Wingkomulyo, jadi ketemu sedulur di blogger… . Mas Guntur itu temen di ongko-loro Wunut sebelum Jepang masuk, kemudian sama2 di SMA Negeri Jogya dan satu asrama, tamat permulaan 50-an jadi dosen UGM, dikirim ke AS.Sampai tahun 60-an masih sering kontak. Sejak tahun 70-an “hilang kontak” sampai sekarang, namun tinggalnya masih di Jogya, mudah2an tetap sehat dan bisa bertemu, namanya juga masih saudara,matur nuwun dan salam.
[Reply]
yo klo bisa di pwrjo gk ada korup lagi.udh cri nduit susah masih di korupsi apa lagi yg korup orng no 1 d pwrjo.pemimpinya aja kyak gtu apa lagi ank buahnya.klo kyk gtu trs purworejo kpn majunya coba lihat kota2 lain skrng udh maju purworejo dari dlu gk ada perubahn.apalagi skrng pemilihan bupati janjinya ayo mbangun purworejo tpi apa buktinya kyknya gk ada pembangunan apa2…
[Reply]
slamet wijadi Reply:
July 28th, 2010 at 8:37 am
Mas Shandy, trims untuk commentnya. Mungkin semboyan Purworejo Berirama itu ditafsirkan oleh orang2 no 1 Pwr. sebagai “alon-alon ora kelakon”. Memang “sebel” juga kalau lihat Pwr dari dulu hampir tidak ada kemajuan. Apa Bupati yang baru nanti lain dari yang dulu-dulu? Semoga saja. Salam.
[Reply]
yo kita coba aja smoga apa yg di harapkn masarakt bener2 terwujud.semoga banyak kemajuan.kayak kota2 lain seperti magelng,kebumen sekarng udh maju gk kyk mpwrjo dari dlu kayaknya gk ada kemajuan.coba di kab pwrjo di majukan industrinya jangan yg di majuin pertanianya trs yg di majuin.
[Reply]