Mengapa Purworejo Disebut Kota Pensiun

  16 - Mar - 2009 -   masdodi -   69 Comments »

Rumah A. Yani di Desa Rendeng, Kecamatan Gebang

Rumah A. Yani di Desa Rendeng, Kecamatan Gebang


Apa sih makna kota pensiun. Apakah sebuah kota yang berisi kumpulan orang-orang yang sudah pensiun. Ataukah sebuah kota yang sudah lelah, sehingga perlu pensiun.

Kalau kalimat yang kedua yang dimaksud, berarti bisa juga disebut pensiunan kota. Artinya, kota ini dulu pernah aktif, pernah maju, pernah populer, pernah menjadi pusat kebudayaan, pemerintahan, perdagangan, industri, dan segala hal yang menunjukkan dinamika sebuah kota, lalu karena berbagai alasan, misalnya tidak produkstif, ditinggal penduduknya, capek, lelah, kemudian istirahat dan duduk manis di rumah menikmati sisa hari tuanya. Benarkah demikian?

Lalu, apa yang menarik dari cap seperti itu. Padahal kita tahu, pensiun identik dengan tua, renta, pasrah, dan tidak produktif. Ya, kalau kita aplikasikan dengan kondisi di lapangan tampaknya pas sekali dengan kondisi kota Purworejo saat ini.

Dari asal usul kata, Purworejo, terdiri dari kata Purwo dan Rejo. Purwo artinya pertama, dahulu, atau di depan. Rejo artinya, ramai, maju, meriah. Purworejo berarti, depan ramai, dulu ramai atau pertamanya ramai.Terjemahan bebas, adalah Purworejo itu sebuah kota yang dulu pernah ramai, atau dulu pernah pernah jaya, maju, pernah hebat. Tapi sekarang…?

Di Jawa Timur ada sebuah Taman Nasional bernama Alas Purwo yang tepatnya terletak di ujung timur Pulau Jawa, yakni di Kabupaten Banyuwangi. Bagi masyarakat sekitar, nama Alas Purwo memiliki arti sebagai hutan pertama, atau hutan tertua di Pulau Jawa. Oleh sebab itu, tak heran bila masyarakat sekitar menganggap Alas Purwo sebagai hutan keramat. Sehingga, selain diminati sebagai tujuan wisata alam, kawasan Alas Purwo juga diyakini memiliki situs-situs yang dianggap mistis yang menjadi magnet bagi para peziarah untuk melakukan berbagai ritual di hutan ini.

Bagaimana dengan Purworejo. Apakah ada peluang untuk menjadi kota keramat atau kota tua yang bisa menarik wisatawan? Mungkin saja bisa, karena di sini ada makam Kyai Sadrach, tokoh penginjil, perintis Gereja Kristen Jawa. Ini menarik karena misionaris Kristen tetapi disebut Kyai. Ada pula Syeh Imam Puro, Ulama Purworejo, Jan Toorop, pelukis Belanda, A.J.G.H. Kostermans, pakar botani Indonesia, Jendral Ahmad Yani, pahlawan revolusi, Kol. Sarwo Edi Wibowo, mertua presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Bustanul Arifin, mantan Kabulog Orde Baru, Jenderal Urip Sumoharjo, tokoh dan pendiri TNI, W.R.Soepratman, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya” (tapi masih diperdebatkan).

Yang tidak kalah menarik adalah Bukti Geger Menjangan yang konon punya arti khusus buat orang-orang yang dilahirkan di bawah atau di kawasan bukit tersebut. Orang Purworejo dari dulu hingga sekarang dikenal sebagai orang yang teguh dalam berpendirian, tegas, tidak mau kompromi, jujur, dan bertanggung jawab. Maka, ini lagi-lagi konon, setiap pemerintahan pusat “harus” selalu ada tokoh asal Purworejo untuk menjaga moral kabinet.

Tokoh dengan ciri-ciri tersebut ada pada sosok A Yani, Sarwo Edi, Urip Sumoharjo, dan banyak lagi. Yang terakhir Endriartono Sutarto, mantan Panglima TNI yang menolak kompromi dengan SBY, mundur dari komisaris Pertamina, lalu diganti oleh mantan Kapolri Sutanto yang lebih bisa disetrir oleh penguasa.

Kembali ke soal kota pensiun, bisakah Purworejo dibuat seperti kota pensiun di luar negeri? Kata teman saya, di Italia, ada kota pensiun bernama Siena, berpenduduk sekitar 1500-2000 jiwa dengan annual growth sekitar 0,06 persen. Sebanyak 80 persen penduduknya adalah orang-orang jompo, atau orang-orang yang berusia di atas 55 tahun.

Kota ini menarik buat wisatawan yang ingin liburan summer. Kotanya bersih, aman, sejuk dan tenang. Betul-betul kota pensiun. Bagaimana dengan Purworejo? Apakah masih suka disebut kota pensiun, kota kambing atau kota gaplek? Dinas Pariwisata Purworejo aktif dong.

Foto: Kediaman A. Yani di Desa Rendeng, Kec. Gebang.

Ponco Sri Widodo
Lahir di Bendosari, Gebang, Purworejo
Tinggal di Bojonggede, Bogor, cari makan di Jakarta, tiap 3 bulan pulang Purworejo.

Category: blog, Tags: | posted by:masdodi


69 Responses to “Mengapa Purworejo Disebut Kota Pensiun”

  1. hera says:

    sudah peernah mengajukan usulan spt di atas pd pihak yg brwenang mas? Sbg org yg tinggal dan bergulat di kota besar spt jogja, saya sgt menikmati kota2 sekitar spt magelang, wonosobo, purworejo, klaten & kartosuro krn menenangkan dan belum ruwet. Tradisi jawa masih kental, masyarakatnya msh asyik & relatif homogen. Smoga usulan mas Ponco ada yg merespon dr pihak yg memiliki otoritas.

  2. tyo says:

    orang tua saya setelah pensiun pulang kampung ke purworejo,suasananya tak terbayarkan,..tenang, masih asri,tp maaf saya rasa tdk bersahabat utk org” dalam hal perekonomian,..pembangunan masih jalan di tempat..seharusnya pemda peka banyak potensi alam,budaya,dan ekonomi yg bisa digali biar anak muda asli purworejo tdk kabur keluar daerah demi mengais rezeki di negeri orang,..ini hanyalah tentang apa yg saya rasa…purworejo adalah kota yg selalu memanggilku utk pulang…ada kedua orangtua dan mertuaku yg berharap dalam hati kecilnya agar kami utk plg saja menemani mereka di hari tuanya….i wish

  3. mas adjie says:

    setuju dg mas Tyo. terlepas dari geliat pembangunan yg lambat, purworejo tetaplah kota yg bersahaja.. saya pribadi sangat tertarik dg aura purworejo dan sekitarnya (tlatah bagelen). Meskipun saya lahir dan besar di Gombong-kebumen (ibu asli gombong), namun alm. ayah saya dan simbah kakung asli purworejo (sidomulyo), dan simbah putri plaosan. suatu kebetulan dapat istri orang Bagelen (org bilang “kebo bali kandange”…hehehe). Jika Mudik dipastikan saya sempatkan “nginep” di purworejo meskipun mertua sudah pindah ke jakarta dan menyempatkan ziarah ke makam2 leluhur kami serta mengunjungi tempat2 wisata di purworejo…

  4. Memang Purworejo sulit untuk maju dan berkembang.Kotanya sepi dan membosankan,jauh tertinggal dengan kabupaten lain.

    • Untungsubagio says:

      Ya memang bener kata sampeyan mas agus.. pwr itu enaknya buat leyeh-leyeh, sinambi kalaning nganggur, denger campursari atau lagu-lagu lawas sambil ngopi, kopine sing ‘Nasgitel” pacitane geblek pathi nJenar, atau kalo pengin wareg sego phenek ngandul, wah wis uuuenak tenan.
      Kalo buat usaha pwr sulit,soalnya ya itu tadi pejabat daerahnya senenge santai wong memang kota santai

  5. gundalatong says:

    benar sekali, purworejo menjadi kota yg tertinggal alias ga maju2. lha wong ibu saya dari desa kemandungan, wonoroto dari saya masih balita sampai sekarang masih gituuuuu aja desa dan kotanya… rumah juga nambah cuman sedikit… salam kangen arep ke omahe mbah desember ini…kangen suasana klo siang, klo malem sereemmm..

  6. dwi says:

    jadi rindu kampung halaman bapak ibuku, sudah lebih dari 10 tahun tidak berkunjung kesana

  7. zoey says:

    bener tuh, ortu yg asli purworejo bentar lagi pensiun & hijrah ke kota asalnya lg “purworejo” alasanya di kota ini apa2 masih murah ketimbang kota tempat kami cari nafkah.. jd bisa hemat hidup disini..
    nanya.. dulu apa kota ini ramai dan maju ?? misal pendidikannya mungkin..
    dulu ada sekolah guru Bruderan tempat ortu sekolah katanya temen2nya sekolah dulu banyak dari luar kota.

  8. susanto says:

    as…tapi jangan lupa mas/bu peran serta masyarakatnya juga penting,pemerintah juga tidak bisa kerja sendiri.memang sih perekonomian purworejo masih kurang memuaskan bagi rakyatnya sehingga banyak warganya yang merantau keluar kota,karena kurangnya daya beli masyarakat dan tidak adanya wadah untuk menampung para ikm dan umkm(usaha kecil)walaupun ada mungkin masih kurang efektif,dan juga tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai.maaf kl komentarnya kurang sreg wong asl nyeplos thok.kl mau ngomongin masalah solusinya sih ayo kita punya program yang namanya koperasi USPI(usaha sosial produktif indonesia)yang tujuannya meningkatkan daya beli masyarakat dan menampung para ikm dan umkm yg ada.lebih lanjut buka websitenya http://www.uspi.com,wonosobo dan bali dah berdiri koq kenapa ngga untuk purworejo.

  9. Aribowo Wicaksono says:

    Sebenernya ya lumayan banyak orang2 pinter dr jaman dulu sampe sekarang yg asli Purworejo,tp ya itu…mereka lbh seneng membangun kota2 lain drpd kota kelahirannya sendiri.Dan kalo boleh jujur,penduduk Purworejo orang2nya ga terlalu rajin.Jadi ya wajar kalo kotanya itu gitu2 aja dari dulu.
    Saya bukan asli Purworejo,tp pernah 3tahun disana.Terlepas dari ‘plus-minus’-nya,Purworejo emang ngangenin,banyak kesan+kenangan.Walaupun sepi namun selalu berirama dan…membuat saya ingin kesana.

  10. Sudah 2 bulan ini saya pulang kampung dan coba merintis usaha yang mendukung para perantau asala purworejo. Saya buka tiket pesanan kereta api dan agen Bus Murni Jaya (Group Hiba Utama).
    Silakan mampir di rumah saya (rumah PJKA bangunan jaman belanda) persis di depan stasiun purworejo, jl. Mayjend. Sutoyo no.22.

    Matur Suwun.

  11. Indra says:

    Purworejo bisa maju bila kita berhenti menyebutnya kota pensiun. Purworejo bisa maju dengan menonjolkan potensi utamanya, yaitu pertanian, peternakan, kerajinan dan pariwisata. kemajuan di 3 bidang itu tidak akan merubah Purworejo menjadi kota satelit seperti bodetabek, tapi tetap menjadi Purworejo yang Purwo dan Rejo dengan kemakmuran yang lebih. Kemakmuran rakyat di daerah2 dengan biaya hidup rendah akan membuat bangsa ini lebih tahan terhadap krisis

  12. titink riyani says:

    Pingin tinggal dikampung juga kalau sudah pensiun..sambil buka warung sembako kali heheh didesaku,siapa yang mau beli ya lugosoboku yang tercinta.

  13. hari says:

    pancen bener konco konco purworejo kawit biyen ora ono perubahane yo mung tani ,pegawai negri ,sekolah,lungo,bali wis tuwo ,la wong enyong wis lungo 21 tahun bali bali dalane yo ra berubah , padahal potensi alam gueede banget hasil bumi melimpah, tinggal kebijakan wani ora pak bupati aku dukung lho ayo maju wong purworejo do bangun deso ………

  14. suratinharr says:

    Purworejo, dari tahun jebot sampe sekarang , gitu gitu aja, ga ada kemajuannya ,
    jadinya anak muda pada merantau , karena ga ada kesempatan merubah nasib jadi lebih baik
    saya aja dari tahun 1966 sampai sekarang , cari nafkah di jakarta , jadi ya cocok kalo disebut Kota Pensiun , semoga aja,pejabat Bupatinya bisa merubah cap pnsiun , supaya anak mudanya mau membangun kota nya sendiri ,amin

  15. slamet wijadi says:

    yang lebih tepat mungkin “purworejo kota pensiunan”,artinya kota dimana banyak pensiunan melewatkan hari tuanya.adalah salah-kaprah untuk mengidentikkan pensiunan sebagai “tua-renta,pasrah dan tidak produktif”,walau mungkin nyatanya banyak yang demikian.dengan mengambil contoh kota Siena di Itali,sesungguhnya purworejo dgn atribut kota pensiunan mempunyai modal/aset dasar untuk mempromosikan diri menjadi kota pensiunan pertama yang bila ditangani secara profisional akan menarik minat para pensiunan yang ingin menikmati “golden years”nya didaerah purworejo.syarat2 untuk itu sudah ada:udara yang bersih,daerah yang tenang,biaya hidup yang relatif murah, lokasi yang strategis,dekat yogya,magelang,masyarakat yang ramah dan toleran dll.saat ini yang saya tahu banyak kaum pensiunan (terutama yang berduit)mengarahkan pandangannya ke bali, mengapa purworejo tidak ditawarkan sebagai alternatif.inilah sekedar gagasan,semoga.salam swijadi.

  16. Raf says:

    Laju industrialisasi yg tidak begitu pesat di PWR sebenarnya adalah nilai lebih kota tsb. coba bayangkan kota satelit jakarta spt BODETABEK saat ini pusing mencari lahan hijau sbg supply utama O2.

    Untuk slogan pesiunan sendiri saya pikir tidak hanya Pwr sendirian, karena pernah saya dapatkan brosur perumahan di daerah DIY mengusung motto ‘cocok untuk masa pensiun’berarti perumahan tsb menawarkan konsep tenang, tdk semrawut dst..

    Nah…berangkat dari itulah Pwr baiknya bergerak, jadi makna ‘pensiunan’ tdk kita definisikan secara harafiah yaitu secara phisik dihuni oleh kaum pendahulu, namun konsep pembangunannya menawarkan dan mempertahankan kondisi ayem,tentrem,makmur

    Dengan posisi geografis di persimpangan jalur Yogya dan Semarang tak seharusnya Pwr tidak terkenal …

  17. Anstonbruno says:

    Sebenarnya cocok purworejo jadi kota pensiun
    sebab penduduk asli purworejo banyak yang kerja di luar daerah.
    dan suatu saat pensiun pasti pulang ke purworejo

  18. RofingieeksDKC2003 says:

    entah sampai sekarang ini aku sendiri juga gak tahu devinisi Kota Pensiun ” Why ” Apakah Para Purnawirawan Pegawai pada tahu…. Mungkinkah nanti setelah Pensiun aku sendiri juga kembali ke PURWOREJO.. kalau disebut Kabupaten Pramuka Saya Tahu . walau pun dasarnya tdk tahu ( pengen tahu Tanya sama Pak Marsaid atau Pak Istiharto”)
    Juga saya mau ralat Kolonel sarwo edi itu JENDERAL bukan KOLONEL ” Nanti di Marahi Bu SBY lho…

  19. Salam kenal semua, Sekedar share dan mendukung kontes pemilu berhadiah $500.

  20. muji says:

    Sebenarnya cocok purworejo jadi kota pensiun
    sebab penduduk asli purworejo banyak yang kerja di luar daerah.
    dan suatu saat pensiun pasti pulang ke purworejo

    smua perantau keluar dr daerahnya….mas anston…
    Mengutip dr sejarah purworejo,purworejo sbg kota pensiun sy setuju tapi selama kita bisa mengupas potensi alam purworejo sy kira sebutan purworejo sbg kota pensiun akan menjadi PURWOREJO KOTA PENSIUN YG PRODUKTIF MASA KINI….

  21. [...] saja sebutan bagi kota Purworejo. Kota Berirama, sesuai slogan resminya, Kota Pensiunan, dan sering juga teman-teman menyebutnya ’silent city’. Mungkin karena sepinya kota [...]

  22. nurrahman says:

    wew…aku jadi pengen ke rumah A yani…(sambil berpikir sebenarnya itu bisa jadi objek wisata yang mendatangkan pendapatn daerah…tapi mengapa????????????)

  23. Anstonbruno says:

    Mengapa apanya mas rohman

  24. Setyo HW says:

    Purworejo sangat cocok diberi gelas kota pensiunan. Seperti para pensiunan Indonesia kebanyakan tidak bergairah, pasrah lan nrimo ing pandum. Kapan majunya ya?

  25. msogi says:

    saya sangat setuju purworejo di sebut kota pensiunan karena mayoritas penduduk yg tinggal sekarang sudah sepuh2 yang muda merantau semua comen dari putra asli purworejo tepatnya dari pundensari purwodadi dan sekarang menetap di palembang

  26. sudaeni says:

    Purworejo memang cocok untuk masa pensiun, tempatnya relatif tenang, tidak terlalu terganggu dengan hiruk pikuk modernitas. masyarakatnya cerdas tapi kalem, suasana sejuk, teduh dan nyaman. Saya yang sudah 18 tahun di Riau begitu pulang kampung rasanya tenteram, damai, males balik lagi ke Riau kalau nggak ingat dengan tanggung jawab. Seandainya bisa mendapat penghasilan kurang lebih separo di banding di RIAU SAYA PILIH HIDUP DI KAMPUNG PURWOREJO SAJA

  27. agus-purwanto says:

    mas kalau terus-terusan jadi kota pensiunan, kapan mau maju, karena warganya yang pinter-pinter mbangun daerah lain tetapi daerah sendiri hanya untuk mendinginkan suasana hati alias berlibur.

  28. deny kusdiany says:

    rumahnya bagus euy, asyik buat liburan

  29. Civic says:

    Sekedar memberi input,
    Kalau mau dibuat lebih terstruktur:
    Diformulasikan dulu keunggulannya apa saja (or dlm istilah bisnisnya ‘competitive advantage’ dengan membuat list resourcenya baik tangible (fisik) or intangible(non fisik).
    Misal dari posting n comment di atas:
    - Suasana tentram
    - Alam yang bersih
    - Masyarakat yang cerdas
    - Toleran
    Sebaiknya memang tidak lebih dari 4/5 Competitive Advantage supaya bisa fokus. Kemudian dari 4 CA ini bisa dipikirkan kira2 produk yang cocok apa saja. Misal spt yg sudah diusulkan di atas:
    - residential ekslusif untuk para perantau yang mau pensiun
    - residantial utk commuter (tapi ngga tau deh apa ga terlalu jauh dari Jogja?)

    Kalau dari saya, klo melihat dr yg katanya masyarakatnya cerdas bisa berupa:
    - Pusat2 pendidikan sebagai center of excellence dari berbagai macam disiplin ilmu, sampai tingkat S1 kalau bisa malah sampai S3.
    - pusat R&D (Research & Development) dengan bekerjasama dengan perusahaan besar dan Depdikbud.
    Pusat pendidikan sangat dimungkinkan karena tidak harus berada di kota besar. Di Belanda, saya pernah mendatangi R&D Phillips yang letaknya jauh dari kota besar, di luar kota Eindhoven. Ada juga teman yang bekerja di R&D Phillips Moris yang letaknya di kota kecil di Switzerland.
    Mungkin harus didukung dengan infrastruktur komunikasi yang bagus, misal internet berkecepatan tinggi yang biasanya sangat dibutuhkan untuk kegiatan pendidikan dan R&D.

    Salam

  30. Ilhan erda says:

    Ya,cakepnya jdi kota pensiunan,tpi ramenya bukan sarang2 kapitalis kya di sini(bekasi)tpi bisa research,galery,writing club,center of excelence,.kriteria dlu ada di pak marsaid,tpi kapan sosok muda,agresif,cinta pordjo,kenthol bagelen itu ada lagi?

  31. [...] Banjarmasin, Kalimantan Selatan arrived from images.google.co.id on "Mengapa Purworejo Disebut Kota Pensiun | Blogger [...]

  32. Sina says:

    sina on januari 13th, 2010 21.06 pm
    aku sebagai warga purworejo sangat bangga sekali…

  33. amat soleh says:

    Purworejo sebuah kota menurut saya sangat unik orang oeangnya pekerja keras mau prihatin pendirian kaut semangat menuutut ilmu yang tinggi ini di buktikan deng begitu banyak sekolah sekolah disana orang tua prinsipnya “sing penting anak iso sekolah ” ini prinsip orang tua sekarang orang nya mau bekerja apa saja tidak jaga gengsi diperantauan hubungan dengan kata ” kota pensiun adalah ketika dia sudah sukses diperantauan bekerja keras kerinduan itu datang untuk tinggal di kotanya orang purworejo sangat terikat dengan tradisinya ,para leluhurnya danseni budayanya menarik memang itu secara kultur kemudian bisa menarik orang lain ada ketenangan ketentraman ini menarik banyak hasil bumi nya budidaya tanaman duren kaligesing’ jeruk ditahun 77 kesana pernah menjadi penghasil jeruk ,kacang tanah dan lainnya sesuai dengan perkembangan jaman nama kota pensiun bisa kita rubah, pemda mau bangun kota wisata jadi namanya “Kota wisata pensiun ” dan perbanyak sektor ekonomi masyarakat ,padat karya pabrik biar purworejo tidak ditinggal masyarakatnya

  34. amat soleh says:

    Rumah Alm Jenderal A. Yani mengingatkan saya pada Masa kanak- kanak ketika itu aku masih sekolah dasar desaku satu kec dengan desa Pak A. yani Kec Gebang kebetulan tiap ada lomba porseni namanya dulu aku selalu diikutkan untuk lomba nyanyi tembang Jawa / moco pat tempatnya di SD Rendeng tepat bersebelahan dengan rumah beliau itu sekelumit yang aku ingat ketika kanak kanak di kotaku tercinta Purworejo

  35. didi (sekayu) says:

    ya begitulah Kab. purworejo! ada tapi tidak ada, “silent city” tapi aku selalu rindu dengan kabupaten kelahiranku, karena dimana pun aku tinggal pasti di KTP ada nama kab.purworejo (tempat lahir). terus maju jangan menyerah, apa pun yang terjadi ku kan slalu ada utk mu, it’s everything gone be ok…….

  36. sudaeni says:

    Saya setuju dengan sebutan itu. Kota pensiunan mengaacu pada suatu daerah yang tenang, damai, aman dan dirindukan oleh para warganya yang merantau. Saya yakin perantau asal Purworejo di manapun akan selalu kangen dengan Purworejo yang tenang, damai, dan mudah-mudahan semakin makmur. Indikasinya adalah tiadanya gejolak yang berarti di bidang sosialo politik, harga kebutuhaqn pokok relatif murah. Sebaknya Purworejo tidak usah terlalu dibangun menjadi kota besar yang ramai, padat, sumpek, karena hal itu justru akan mengurangi rasa nyaman tinggal di Purworejo. Merantaulah warga Purworejo, tetapi suatu saat nanti kembalilah ke pangkuan bumi Purworejo yang damai….!!!

    sudaeni wong purworejo di Pekanbaru -Riau
    alumni smp 2 grabag (dulu) spgn Pwr- IKIP Jogja

  37. hendra samar samar says:

    hidup purworejpo,,,,kangen sama situasi desa yg ramah,,,salam buat anak anak kost kepatihan,,,loph u all

  38. sobrun says:

    sudaeni@ riau sebelah mana ya????

  39. 3264633 says:

    3264633 beers on the wall.

  40. Dwi yn jabrq says:

    Ayo bareng2 mulih kampung mbangun kampung…
    Jayalah purworejo ku

  41. Gunarso Ts says:

    Mas Ponco SW, benarkah Bustanil Arifin mantan Kabulog dan Menteri Koperasi itu berasal dari Purworejo? Kebawa oleh istrinya, RA Suhardani, mungkin ya? Sebab jika lihat biodatanya, almarhum (meninggal 13 Februari 2011) lahir di Padang Panjang Sumatra Barat 10 Oktober 1925. Dalam keseharian saat menjabat, juga tak pernah muncul celetukannya sebagaimana khas pejabat asal dari Jawa Tengah/Jatim. (gts)

  42. Darul Hikmah itu berada di Kuthoarjo di wetan Gunung Tugel. Saya sudah berkunjung kesana kebetulan bertemu juga dengan Bu/Pak Bustanil pada Lebaran dua tahun yl. Sore harinya mereka “nonton” segara di Ketawang. Itu kunjungan pak Bus ke KTA sebelum meninggal Peb. yl.Kami sering berkumpul di rumahnya sebagai sesama orang Pwr. Salam.

  43. andre says:

    senang bisa baca kisah kota kelahiranku purworejo..
    apakah ada asal usul desa desa purworejo mas.. kalau ada saya pengen mengetahui asal usul desa gebang, kecamatan gebang purworejo terimakasih

  44. andi says:

    purworejo,kotanya sepi&membosankan….

  45. H.SUWARTO says:

    KOTANYA SEPI MENYEJUKKAN HATI MAS KALAU KOTANYA RAME RUWETING ATI MAS ORANG PURWOREJO BANYAK YANG MERANTAU SEPERTI SAYA KLO SDG PULANG KEPURWOREJO JADI ADEMING ATI MAS ANDI KITA BERSYUKUR KOTA PWR KOTA YANG AMAN DAN TENTRAM

  46. H.SUWARTO says:

    MANA TEMEN – TEMEN DARI ALUMNI STM YPP PURWOREJO 84 /85 KAPAN KITA ADAKAN REUNI DI PURWOREJO SAYA DARI DESA TEGALREJO KEC BANYUURI PURWOREJO

  47. Alumi STM YEPEKA ’92
    Boleh ikut nggak Mas…

  48. suwarto says:

    boleh aja,kapan pulang ke purworejo kita bisa bertemu ,saya sekarang berdomisili di palembang sampean domisili dimana ?

  49. Widodo says:

    Gagasan yang menarik, semoga semakin banyak yang punya ide seperti Pak Wijadi.

  50. Widodo says:

    Betul sekali. Banyak potensi di Purworejo, tetapi kita termasuk saya sulit memanfaatkan potensi itu. Setidaknya cap kota pensiun sudah dimiliki oleh Purworejo.

  51. Widodo says:

    Sepakat, Pak. Makanya perlu diperindah lagi supaya lebih nyaman untuk hari tua.

  52. Widodo says:

    Terima kasih koreksinya Pak. Mohon ampun Bu SBY.

  53. Widodo says:

    Mari kita sama-sama menciptakan produktivitas di tengah kota pensiun…

  54. Widodo says:

    Betul sekali. Di samping itu masih banyak bangunan bersejarah di Purworejo.

  55. Widodo says:

    Mas Setyo, maju mundurnya tergantung anak mudanya. Berharap dari yang sudah pensiun, jelas lama. Kecuali pensiunan presiden hehehe…

  56. Widodo says:

    OK. Hidup Purworejo Kota Pensiun.

  57. Widodo says:

    Saya bisa membayangkan betapa rindunya Pak Sudaeni terhadap kampung halaman tercinta Purworejo. Apalagi, kalau nongkrong malam-malam di alun-alun sambil ngopi, sungguh suasana yang tak bisa digantikan dengan suasana di kota lain. Mudah-mudahan bisa kembali ke Purworejo Pak.

  58. Widodo says:

    Berarti yang salah warganya Mas, mengapa tidak mau membangun Kota Purworejo, hehehe…

  59. Widodo says:

    Ya, rumah yang sederhana dan bersahaja.

  60. Widodo says:

    Masalahnya bingung siapa yang memulainya dan mau ngapain?

  61. Widodo says:

    Itu salah satu keistimewaan Purworejo, meski sepi tapi ada positifnya.

  62. Widodo says:

    Kalau bukan kita, siapa lagi….

  63. Widodo says:

    Sebuah kenyataan yang sangat membanggakan.

  64. Widodo says:

    Memori yang indah.

  65. Widodo says:

    Betul Pak Gunarso. Bisa jadi, lantaran terbawa oleh istrinya, maka Pak Bustanil merasa lebih menjadi orang Purworejo. Bahkan, ia membangun Pondok Pesantren khusus pria, kalau gak salah namanya Darul Hikmah. Toh, Bu Dani pun ada yang bilang, ia asli Surakarta.

  66. aguss says:

    mas sudaeni pekanbaru tepatnya dimana? saya lagi di smkn 2 pekanbaru dan smkn 1 pasirpenyu tugas kantor,siapa tahu bisa ketemu wong purworejo..

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

INFO MUDIK KE PURWOREJO

24 - Jul - 2012 | Mbah Suro | 7 Comments »

Renungan (secangkir kopi)

7 - Jun - 2010 | agus | No Comments »

Menjenguk Simbok

29 - Oct - 2008 | GUNIDA | 4 Comments »

Lali SiMbok

7 - Sep - 2012 | slamet_darmaji | 4 Comments »

KEBAHAGIAAN

2 - Feb - 2010 | Anu Dhihasto | 1 Comment »

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net