Lingkungan Dan Alam Desa Mangunrejo

26th March 2009 | By: slamet wijadi

Desa Mangunrejo, yang termasuk wilayah Kecamatan Ngombol,Kabupaten Purworejo,terletak dilintasan jalan kabupaten antara Purwodadi-Grabag pada Km 5.5. Desa itu kini sudah terhapus dari peta Kabupaten Purworejo dan sebagai gantinya muncul desa2 Susuk, Mendiro dan Klandaran yang masing2 berdiri sendiri .(Lihat tulisan sebelumnya). Cerita ini adalah gambaran suasana/alam desa Mangunrejo sekitar tahun 30-an.

Sebelah barat Mangunrejo terletak desa Wunut dan Karangtalun, di sebelah utara terpisah oleh bulak sawah adalah desa Singkil, Wingkodermosari, Wingkomulyo dan Wingkotinumpuk, itu nama2 yang saya ingat. Sebelah timur ada desa Carikan dan Jombang yang bersama dengan Kembangkuning dan Sruwoh merupakan bagian dari desa besar Watuaji. Seperti halnya Mangunrejo, desa Watuaji ini juga sudah almarhum. Sebelah timur laut ada desa Wonoboyo . Sebelah tenggara berbatasan dengan desa Briyan dan sebelah selatan terpisah oleh bulak /hamparan sawah yang luas terletak desa2 Kaliwungu, Ringgit Tunjungan dan mBukur/Wasiat. Jarak dari garis pantai laut selatan sekitar 3-4 km sehingga diwaktu malam hari bila angin bertiup dari selatan, terdengar sayup2 suara deburan ombak “segoro kidul”. Dua kota yang terdekat dari desa adalah Purworejo arah timur laut berjarak 18 km dan Kutoarjo ke barat laut sekitar 15 km.

Bukit Menoreh dilihat dari Setasiun KA Jenar

Dipagi hari disaat fajar menyingsing, dalam keadaan cuaca yang cerah, bila kita berada dijalan- desa arah keselatan yang menghubungkan desa Mangunrejo dan Ringgit di tengah hamparan sawah yang luas berkilometer antara desa Kaliwungu,Tunjungan dan mBukur/ Wasiat dan menatapkan pandangan kearah utara, akan tersaji satu panorama yang luar biasa mempesona. Langsung dihadapan kita akan nampak kebiruan sosok dua gunung kembar/ kakak-adik Sumbing dan Sindoro menjulang tinggi dilangit biru . Dan bila pandangan diarahkan ketimur laut maka nampak deretan pegunungan Menoreh yang legendaris seakan mengawal keberadaan kabupaten Purworejo tercinta. Di belakang deretan pegunungan Menoreh itu menyembul tampil dua gunung sejoli Merbabu dan Merapi yang menyemburkan kukusnya abadi, layaknya sebagai suami isteri yang setia berdampingan “tekan sakbejating jaman”.

Sekarang pandangan kita arahkan kebarat laut. Nun jauh disana, dikaki cakrawala Karesidenan Banyumas nampil lamat2 dengan gagahnya Gunung Slamet bersaput kabut pagi,gunung terbesar ditanah Jawa, dengan “pengiringnya” pegunungan Dieng kearah timur nyambung dengan gunung Sindoro-Sumbing. Lengkap sudah panorama alam indah ciptaan Tuhan Yang Maha Besar. Dan dalam suasana alam yang tenteram dan damai spt itu, di bawah birunya langit dan hijaunya hamparan sawah dan hangatnya matahari pagi serta kicauaan beraneka burung, saya bersujud kehadapan Tuhan dan bersyukur bahwa saya telah dilahirkan sebagai anak desa yang memiliki alam yang begitu indah.

Malam hari didesa Mangunrejo mempunyai pesona sendiri. Dimulai dengan suara bedug dan adzan maghrib,desa bersiap memasuki suasana dunia malam. Pelopornya adalah suara jengkerik, orong2, kodok, macam2 walang, tokek diikuti suara kelelawar/codot/kalong dan berbagai burung malam,spt burung hantu, emprit gantil, gemak, kolik, bence dan burung2 malam lainnya yang bersahut2an menambah suasana misteri alam desa. Tidak mengherankan bahwa dalam suasana malam yang gelap gulita yang hanya diterangi oleh taburan ribuan bintang dilangit itu berkembang cerita tentang hantu2 yang bergentayangan disudut2 desa yang dianggap angker.

Didesa waktu itu masih banyak terdapat pohon2 besar dan tinggi spt pohon asem, kepuh, beringin dan trembisi yang biasanya berada di pasar desa atau dekat kuburan/makam . Suasana akan terasa lebih “tintrim” apabila baru saja terjadi kematian, biasanya orang, apalagi anak2, akan enggan keluar rumah. Kepercayaan juga berkembang bhw suara burung kolik ditengah malam dipercayai sebagai pemberi isyarat bahwa akan ada kematian di sekitar lingkungan desa, sedang suara burung bence adalah pemberi isyarat agar waspada krn di lingkungan desa ada kawanan pencuri yang sedang meng-endap2. Bila malam makin larut dan suasana makin hening, terdengarlah sayup2 deburan ombak laut kidul terbawa oleh hembusan angin seakan membawa pesan tentang legenda keberadaannya Nyai Roro Kidul, penguasa laut selatan yang misterius.

Lepas tengah malam mulai terdengar suara kentongan dipukul untuk mengisyaratkan bahwa penabuh masih dalam keadaan bangun,agar kawanan pencuri menjauh, ini disambut dengan bunyi kentongan dari berbagai sudut desa. Kentongan besar kelurahan terdengar dipukul menunjukkan jam satu diikuti suara “ronda tetek” keliling desa dengan suara khas, “melek…..melek….melek…. nglilir….nglilir….nglilir….”yang dijawab “wis melek,wis nglilir”, tentunya seraya ngulet dan angop… sambil mancal kemul….meneruskan tidur… .

Menjelang jam empat pagi, suara kokok ayam jago mulai terdengar makin lama makin riuh dengan macam2 irama baik yang merdu maupun yang serak2 disusul suara bedug dan adzan subuh dari masjid -desa membangunkan mereka yang masih tidur untuk melaksanakan sholat berjamaah di masjid, ”sholat itu lebih baik dari tidur…”.

Geliat alam desa mulai terasa,kicauan burung larwo/murai yang merdu mengawali kicauan burung pagi disusul dengan burung trocokan, kutilan, jalak uren, engkuk, kepodang, bubut, gagak, deruk, puter, prenjak, berbagai emprit, gelatik, pelatuk- bawang(trotokan), sapit urang dllnya. Dari para tetangga yang memelihara perkukut terdengar suara ” hur- ketekuk” bersahut2an. Suara “hiruk-pikuk” ocehan burung ditimpa dengan kokok ayam jago suara angsa/ “banyak”, puluhan bebek yang digiring pangonnya kesawah tsb. terdengar layaknya sebagai simponi pagi alam perdesaan yang merdu serta menciptakan suasana damai, ayem dan tenteram. Kembali saya merasa bersyukur dilahirkan di lingkungan alam demikian yang telah membekali saya dengan kenangan indah yang tak akan terlupakan sepanjang hidup.

Jalan dari Susuk/ Mangunrejo menuju pantai selatan

Warga desa yang sebagian besar adalah petani sudah berangkat kesawah sebelum fajar menyingsing dengan memanggul peralatannya,cangkul,garu,luku,dan bagi yang memiliki kerbau menggiring kerbaunya sebagai teman untuk membantu mengerjakan sawahnya diikuti oleh anaknya yang bertindak sebagai “pangon”. Itulah kehidupan anak2 desa jaman tahun 30-an. Kuwajiban pokok mereka adalah membantu orang tua mengerjakan sawah. Ada juga yang sekolah namun jumlahnya tidak banyak dan itupun hanya terbatas sampai kelas 3 Sekolah Desa.

Demikian sekedar kenangan masa kanak2 tentang alam dan suasana lingkungan desa Mangunrejo. Saat ini ,tujuh puluh tahunan kemudian, keadaan sudah sangat berubah. Desa Mangunrejo sudah lama almarhum dan muncul desa2 Susuk,Mendiro dan Klandaran. Pemandangan alam relatif masih sama spt dulu, namun suasana lingkungan jauh sekali berubah dibanding dengan dulu. Suasana malam hari sudah berubah. Listrik masuk desa mengubah segala2nya. Tidak ada lagi cerita hantu;tidak ada sudut2 desa yang dianggap angker; suara jengkerik,walang,kodok dll. masih terdengar,namun sudah dikalahkan oleh suara radio/tape dengan lagu2 campursari,wayangan dsbnya. Suasana misteri desa dimalam hari sudah menjadi dongeng masa lalu. Yang sangat menyolok adalah suasana pagi yang sunyi senyap tanpa kicauan burung.

Sebagian besar nama2 burung yang saya sebut diatas sudah lenyap, khususnya dialam liar tidak ada suara larwo, kepodang, bubut, gagak, jalak uren, trotokan, bahkan burung gelatik yang dulu ada dimana2, kini hanya dapat dilihat di pasar burung. Di siang hari tidak nampak lagi burung elang/wulung yang dengan gagahnya mengarungi angkasa mencari korban anak2 ayam.Sungguh menyedihkan… . Saat ini pagi hari di desa ex. Mangunrejo dan desa2 lain pada umumnya terasa sepi senyap dari suara burung, paling2 hanya terdengar suara prenjak, deruk/ derkuku dan perkutut peliharaan .

Desa Mangunrejo termasuk suasananya memang sudah “hilang”, namun kenangan indah masa kanak2 tetap akan melekat sepanjang hayat.Suasana pagi hari dengan berbagai kicauan burung memang telah lenyap, bahkan beberapa jenis burung yang pernah menghias alam perdesaan mungkin sudah punah, namun hal ini tidak akan mengurangi ikatan batin dan kecintaanku pada desa tempat saya dilahirkan. Masih ada beberapa sisa2 kenangan yang bisa dinikmati.

Bila saya sedang berada di desa dan rindu akan keindahan alam tempo dulu,saya akan jalan-pagi sebelum fajar menyingsing ke tengah bulak sawah antara desa “Mangunrejo” dan Ringgit. Di situ saya akan menemukan panorama yang sama yang pernah saya lihat 70 tahunan yang lalu:gunung Sumbing, Sindoro, pegunungan Menoreh, Merapi, Merbabu, gunung Slamet dengan pegunungan Dieng, semuanya masih tampil sama, sebuah keindahan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Besar yang abadi sampai akhir zaman.

Slamet Wijadi


Home| Category: desa | Trackback URI


Tulisan sebelumnya: «
Tulisan sesudahnya:  »

50 Responses to “Lingkungan Dan Alam Desa Mangunrejo”

  1. Rindu says:

    Subhanallah indahnya … kapan kapan saya dibawa kesini ya mas :)

    [Reply]

  2. slamet wijadi says:

    Trims untuk tanggapannya. Silahkan datang kapan2, kalau kebetulan saya berada didesa akan saya temani sambil olah raga jalan pagi,udaranya segaaar… .
    Salam, sw.

    [Reply]

  3. Anston says:

    *) Itulah kehidupan anak2 desa jaman tahun 30-an.

    Emang penulisnya lahir tahun berapa?
    Kok bisa tau sejarah tahun 30-an

    [Reply]

  4. Terimakasih atas tanggapan.Saya lahir tahun 1932. Cerita itu berdasar ingatan saya sebagai anak desa pada akhir-akhir tahun 30-an yang terbawa dalam kenangan saya sampai saat ini.Salam,sw.

    [Reply]

  5. Sbg prkenaln,sya Julian Setyanto putra Bpk Suparjo dan Ibu Ngatiyah! Salam kenal bt Bpk Slamet Wijadi!Sya bgga jd putra desa Mangunrejo yg sdh almarhum!Msa kecil smp dwasa sya hbiskn didsa ini!Sy jg trma ksh byk kpd bpk slamet yg sdh mmbrikn info kpd khalayak rmai tntg dsa tcinta qt!skrg sya sdh bkrja di bogor di Prushaan mlik org Italy!dlu swaktu SMA sya dan tman2 aktf dlam organisasi karang taruna dsa susuk periode 2005/2006,yg kbtulan jg kembaran saya yg jd ketuanya!slam jg bt tmen2 sya, Acong,Joyo,Cipunk,Shandy,Otong,etc!Dsa Mangunrejo sdh almarhum tp tidak bt kami!simbol yg tsisa ada pda bangunan KUD yg ada di balaì desa susuk dan di jiwa kami!thanks

    [Reply]

  6. =3= says:

    dulu sering lewat situ,pas ke tempat mbah di Ringgit , cuman sekarang mulai jarang ..eeitt…koq malah curhat .

    nice posting mas slamet , salam kenal .

    [Reply]

  7. Mas Julian Setianto.Thks untuk tanggapannya.Syukur kalau posting itu bisa menggugah kecintaan kita pada desa kita dilahirkan.Tujuannya memang demikian, mencintai desa kita, daerah kita dan tanah air kita.Disebelah mana rumah Mas Julian? Rumah saya disebelah balai desa Susuk.Saya senang Mas Julian sudah “mapan” dengan pekerjaannya,semoga sukses.Salam untuk teman2 dari Susuk/Mangunrejo di Jabodetabek,kenapa tidak ada paguyubannya?Dulu pernah ada Ikatan Keluarga Mangunrejo(IKM)di Jkt. Salam Mangunrejo.

    [Reply]

  8. Untuk =3=, Trims atas comment-nya.Knapa skr jarang nengok mbah di Ringgit? Kalau didesa hampir setiap pagi saya jalan2 ke Ringgit, disitu ada beberapa sdr jadi bisa mampir. Waktu kecil saya sering lihat wayangkulit semalam suntuk disana. Ringgit juga desa asalnya Jenderal Isman,pejuang kemerdekaan di Jawa Timur, bahkan yang pertama kali meng-aspal jalan dari Susuk/KrTalun-Ringgit adalah beliau.Salam kenal juga.

    [Reply]

  9. salam kenal pak wik
    apa masih sok mancing di si lele?

    [Reply]

  10. Mas Srie, trims tanggapannya; dulu kalau main2 kerumah pernah Pakde kaji Hasyim di Wingkomulyo yang puteranya teman saya di sekolah ongko loro Wunut, saya selalu lewat si-lele,tikungan kali Singkil jadi kali Wunut;waktu itu masih penuh pohon pandan dan dianggap agak angker, jadi mancingnya di kali Wunut saja. Salam kenal juga.

    [Reply]

  11. Wah …. lihatnya tentrem …
    Saya lihat panoramanya jadi seettttt …. kembali ke Mendiro.

    Kangen tandur, matun, wiwit dan panen …

    Salam kenal pak Slamet Wiyadi … Silakan tengok saya di facebook atau blog diatas.

    [Reply]

  12. Mas Parno,trim atas tanggapannya.Suasana perdesaan memang selalu menentramkan,apalagi desa kelahiran kita yang pasti mempunyai ikatan batin yang kuat,krn begitu banyak kenangan masa kecil kita.Saya dulu juga sering “matun”, “wiwit” dan “panen” disawah Mendiro, bahkan sampai skr saya masih punya sawah “warisan” ortu disana.Dulu waktu kecil sering cari kecik sekitar sarean untuk diadu, teman saya yang masih ada al Sonto Dikun dan adiknya Tuwono.Ok nanti saya tengok di fb dan blok-nya mas Parno,salam perdesaan, sw.

    [Reply]

  13. mbah suro says:

    Saya mau coba buka blognya Pak Slamet kok nggak muncul? Kapan bikin blog pribadi/ FB Pak?
    Baca dan lihat postingan Pak Slamet tentang desa Susuk mengingatkan saya waktu masih sekolah di SMP Marhaen Wunut tahun 1965/66. Itu foto direkam kapan Pak?

    [Reply]

  14. Mbah Suro, trims atas tanggapannya.Kapan2 bikin blog pribadi, skr enak begini saja, kalau FB sudah silahkan tengok akan tambah gayeng.Ingat desa Susuk ingat masa sekolah di Wunut, ya itulah kenangan yang akan melekat sepanjang hayat,makanya orang tidak bisa dipisahkan dari tempat kelahiran dan lingkungan yang membesarkan, spt daun dan pohonnya… . Foto saya rekam tahun lalu sewaktu pulang kampung dan jalan pagi disekitar desa. Trims untuk telpunnya, ketemu sedulur di blogger… .

    [Reply]

  15. sapto says:

    Saya benar- benar kaget dan terharu setelah melihat melihat blog dan tulisa mas slamet.Walaupun saya bukan asli dari desa mangunrejo tapi mengingatkan saya akan masa remaja saya.saya sendiri asli dari Banyuurip dan mulai tahun 1988 saya merantau sampai sakarang.Saya sangat terharu setelah melihat foto jalan asuk ke Desa Susuk/Mangunrejo Karena saya pernah lewat jalan itu dengan sepeda sekitar tahun 1985 waktu Mancing dengan Almarhum Bapak saya.Apa lagi setelah mendengar desa yang disebut oleh Mas Slamet yaitu antaranya desa singkil,desa Sruwoh,desa wingko tinumpuk dan desa jenar.Sampai sekarang tidak mungkin saya lupakan karena desa-desa yang saya sebut itu mempunyai kenangan yang sangat mendalam karena dulu saya tempuh dengan berjalan kaki.Karena memang didesa saya terkenal pencari ikan untuk mengisi waktu menunggu panen.Memang ALLAH MAHABESAR.Maturnuwun Mas Slamet…

    [Reply]

  16. slamet wijadi says:

    Mas Sapto, terimakasih atas tanggapannya yang “menyentuh”. Kalau mas Sapto dari Banyuurip, saya ini masih “turunan” Banyuurip juga, krn mbah buyut saya dari sana, katanya rumahnya dulu sekitar perigi/pinatak. Saya ingat pernah diajak kesana oleh bapak, ketemu dengan Pak Dullah, jurukunci disitu yang katanya masih misan sama bapak, bahkan waktu kecilnya bapak katanya sering mandi di kalen Banyuurip, waktu tinggal dirumah mbahnya. Soal Banyuurip dan mancing memang tidak bisa dipisahkan, krn waktu kecil setiap menjelang maghrip, saya lihat rombongan2 yang terkenal dengan julukan tukang mancing wong Banyurip.Apa skr masih ada tradisi itu? Syukur kalau gambar dan “dongeng” itu bisa menggugah kenangan indah masa lalu, memang kita tidak bisa lepas dari desa dan lingkungan dimana kita dilahirkan dan dibesarkan. Salam, sw.

    [Reply]

  17. ariesudjiwati says:

    Melihat panorama desa susuk / mangunrejo? tempat lahirnya Pak Slamet, saya jadi berharap lagi kpn bisa rame2 liburan ke sana bersama keluarga atau teman2 PTSC. Waktu itu kan sudah direncana tapi yaitu waktunya kog nggak pas2 antara yang punya rumah dan yang mau nyambangi, jadi ya kebablasan sampai sekarang. Rasanya dulu kalo Pak Slamet mudik yang saya kangeni 2 yaitu tempe yang masih setengah jadi dan pisang kepok kuning wah betul2 top bgt. Oh ya kadang saya ditambahi oleh2 roti bagelen lecker sekali. Mudah2an entah kapan saya masih diberi kesempatan untuk bisa berkunjung ke Susuk sambil menikmati panorama yang sangat indah, dan yang pasti nginep dan makan gratissss hehehe. Salam untuk keluarga.

    [Reply]

  18. slamet wijadi says:

    mbak Aries, mengatur untuk cocoknya waktu memang sulit, apalagi untuk orang banyak, yang sekarang sudah pensiunan; contohnya undangan dari dik Arifin,berapa yang datang? Yang paling gampang, kalau saya kebetulan disana, silahkan datang,welcome.Nanti saya ajak ke pantai Jatimalang, dekat rumah; seafood “fresh from the sea”, makannya diwarung “Yu Iyem”, dibibir pantai sambil mendengarkan deburan ombak dan semilirnya angin segoro kidul.Nah, baru ngebayangin aja sudah pengin,kan? Tempe “mondol” dan kepok kuning itu kegemaran saya; pulang dari desa selalu bawa, cuma untuk nganterin ke Utan Kayu, terlalu jauh, la wong cuma tempe lho, kalau suruh ambil kasihan Mas Djoko… itulah masalahnya, salam.sw

    [Reply]

  19. ariesudjiwati says:

    Pak, kalo nanti bener2 ada tempe mondol dan kepok kuning saya tidak keberatan untuk ambil kan masih dalam kota ini? Apalagi kalo pas saya mudik ke Bintaro lebih dekat lagi kan? tapi kapaaaannnn hehehe
    Saya sudah kemecer denger pantai jatimalang dan seafoodnya, mudah2an kelakon sowan ke istana susuk ya Pak ……… salam.

    [Reply]

  20. mbak Aries, kalau sdh ada “pesen” gitu yaa beres, nanti Sih saya suruh bikin sambel goreng krecek sekalian, jadi tidak hanya ambil tempe,kan katanya “terkesan” dengan masakan Sih itu waktu berkunjung kerumah.Katanya ibu tindak umrah, siapa yang nderek-kan; semoga diberi kemudahan dan berkah Allah SWT.

    [Reply]

  21. ariesudjiwati says:

    Wah Pak Slamet betul2 hebat memorynya,lha masih inget kalo saya belum kebagian sambel kreceknya Sih ya? sebetulnya saya sudah tunggu2 tapi mau nagih kog isin hehehe. Oh ya Ibu tindak Umroh tadi pagi dan yg dampingi adik saya yg di Madiun. Adik saya bisa ngajak Ibu Umroh gara2 kucing lho Pak. Beberapa bulan yg lalu ikut kontes kucing Persia, kebetulan juara I Junior se Asia dan hadiah berupa uang dan cukup untuk Umroh 2 orang begitu critanya Pak.

    [Reply]

  22. “Opo Tumon…”, kucing bisa membiayai Umroh untuk 2 orang?.Tetapi memang apabila Allah Swt menghendaki tidak ada yang mustahil didunia ini. Inilah salah satu bukti akan kebesaran dan kekusaan Allah Swt, bagi orang yang mau berpikir… Kami doakan semoga Ibu dan adiknya mendapat kemudahan dan berkah Allah Swt dalam menjalankan ibadah Umrah dan kembali ketanah air dengan selamat dengan iman yang meningkat. Salam, sw.

    [Reply]

  23. bapaknya dittamimi says:

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Sudah lama saya sering mengunjungi semua sisi alam maya yang bau Purworejo. Terimakasih,Google yang menolong. Sekedar berkunjung, sekedar menengok ingin tahu apa saja yang diposting oleh saudara2 yang berasal dari sana. Tetapi belum lama ini saya menjadi makin rajin berkunjung ke mari karena ada sesuatu yang memikat, bahkan menjadi magnet kami berdua untuk setiap kali berkunjung. Magnet itu adalah tulisan Om Slamet tentang Mangunrejo, desa di mana kami berdua, insyaallah, akan habiskan sisa usia jika pengabdian sudah sampai ke batas, dan
    Allah mengijinkan tentunya. Saya tinggal di Purworejo hanya sekitar 2 tahun, 70-71. tetapi saya sungguh berterimakasih kepada orangtua saya yang sejak saya kecil, selalu mengirim kami “pulang” ke mBah Tunjungan, mbah Njagran, Mbah Kumpul (pada masanya, beliau2 adalah Lurah desa Tunjungan, Lurah desa Pejagran dan Lurah desa Kumpulsari). Liburan sangat panjang pada masa kecil saya. Jika gaz tentara itu ga bisa sampai Tunjungan,karena jalanan jeblog blm secantik sekarang, kami didrop di Karangtalun kemudian jalan kaki melintasi ds Ringgit menuju Tunjungan. Jika didrop di nJoso, kami susuri selokan irigasi sampai ke Tunjungan. Menyenangkan sekali!!! Meskipun Magelang, tempat kami tinggal, juga kota kecil tetapi ga ada sentuhan pedesaan di sekitar kami tinggal di komplek tentara. Jadi, yang diceritakan Om Slamet bukanlah sesuatu yang baru untuk saya, justru sesuatu yang selalu hadir dalam kenangan masa kecil. Desa Susuk, Mendira, Karangtalun, Wunut Ngringgit, dan sekitarnya, adalah nama2 yang tidak asing untuk saya. Itulah Om, mengapa saya mensyukurinya dan berniat tinggal di sana. Hanya kadang terlintas, Susuk sudah tidak ndesa lagi. Lalu lintas semakin rame. Sering terlintas untuk nyari tempat lebih masuk lagi ke Selatan, tapi Daendelspun sdh jadi jalan raya… Sayang, saya belum punya kesempatan ndherek jalan pagi, meskipun ketika dinas di Yogya saya selalu jogging sebelum berangkat. Salam hormat dan sungkem kami untuk Om dan Tante, salam untuk adik2…

    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    [Reply]

    Gunarso TS Reply:

    Istilah menyelusuri selokan irigasi Njoso – Tunjungan, mengingatkan pengalamanku th 1960-an ketika diajak temanku, Tunggono, ke desa Tanjungan saat Lebaran. Bapak dia memang orang Tunjungan asli, paman temanku itu bernama Tebyan.Dalam usia 9 th kala itu, aku diajak jalan kaki dari Pulutan – Njoso – Tunjungan yang tidak kurang dari 7 Km. Aku ingat betul, kala itu kebagian dpt sangu juga meski hanya segelo (Rp 1,-)
    Kembali dari Tunjungan, sampai Njoso kami berdua naik dokarnya Sutar Budeg (dari Dukuh) langsung ke pasar Purwodadi, nonton ketoprak Sumber yang pemainnya antara lain Sarwan dan Uda tukang cukur. Usai nonton ketoprak lalu beli wayang kardus sebanyak 10 buah, eh setiba di rumah ternyata banyak yang kembar. Dursosono 2, Duryudono juga 2. Kenangan tak terlupakan!

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Namapaknya mas Gun punya kenangan indah sekitar daerah Njoso-Tunjungan, sekali-sekali hayo napak tilas bersama menyelusuri selokan dari pasar Njoso ke Tunjungan, mobil parkir di pasar. Kembali terus naik mobil ke pasar Purwodadi, tidak nonton ketoprak dan beli wayang kerdus, tapi “mincuk” penek Ngandul di bango pasar dan medang di tobongan pinggir pasar. Nikmat, gimana kalau direncanakan Lebaran yad.? Salam.

    [Reply]

    Gunarso TS Reply:

    Akur Pak Wiek. Tapi “penek ngandul” yang dekat Buh Ngandul kan tinggal cerita jaman Mojopait? Namun demikian memang harus diakui Pak, di masa kecilku dulu, ketika sakit lalu dibelikan simbok penek pasar Njoso atau Purwodadi, langsung sembuh. Kemudian minumnya limun abang-ijo yang mak josss itu. Di kampung saya th 1960, setiap ada orang nyangking botol limun, mesti ditanya: sapa sing lara?

    slamet wijadi Reply:

    Kok pengalaman mas Gunarso sama dengan saya padahal beda umurnya jauh lho. Waktu kecil dulu kalau sakit “belum mau sembuh” kalau belum dibelikan limun yang merah itu. Minumnya juga di irit2 pakai sendok makan sambil “ngiwi2″ pada saudara2 yang sehat. Kalau diminta “bagi sedikit”, jawabannya “kamu harus sakit dulu supaya bisa minum limun…”, sungguh ajaib. Padahal ibu juga jualan limun lho. Nanti kalau sudah “rumbu2″ belum mau sehat betul sebelum di belikan “penek nini Sowing” dari Ngandul di pasar Susuk, komplit dengan ayam suwiran seharga satu sen….
    Sayang Pabrik Limun Bagelen sudah tutup permulaan tahun 60-an, tapi saya sempat “balas dendam” beli 2 botol langsung saya habiskan sekaligus.Puas rasanya, itulah bagian dari nostalgia… Salam.

  24. Bapaknya dittamimi, selamat datang untuk bergabung dgn blogger purworejo; saya senang sekali dgn tanggapan nak lkt dan merupakan “surprise” bagi saya bhw tulisan saya bisa jadi “magnit” untuk berkunjung ke blogger, padahal tujuan saya menulis hanya sekedar untuk mengisi waktu nganggur dan melatih pikiran agar tidak lekas pikun. Tulisan yang disajikan pun hanya yang remeh-temeh, yang saya ketahui berdasar kenangan dan pengalaman jaman dulu.Sekali2 mengenai suatu peristiwa yang saya anggap layak diceritakan yang dapat ditarik makna/hikmahnya, misalnya dlm posting yad akan saya tampilkan perjumpaan saya dengan oom Kamto setelah 70th pisah, dimana secara tidak langsung nak lkt akan terkait dalam “drama” ini…
    Susuk saat ini memang bukan ndesa spt dulu lagi, tetapi perobahan tidak bisa dicegah; kalau”istana”nya nak lkt yang sekarang dinilai kurang nyaman, pindah ketengah2 desa kan masih ada pekarangan kosong, tidak usah jauh2 kearah jln Daendels. Saya dengar dari ibunya ditta waktu tempo hari berkunjung kerumah bhwa ditta sudah mulai krasan di negeri kincir-angin, semoga suskses dalam menuntut ilmu dan kembali ke tanahair dengan selamat. Dengan kesibukan yang sekarang, apa masih sempat berkunjung ke Susuk? salam untuk keluarga, sw.

    [Reply]

  25. yhanto says:

    maaf nih kayaknya agak ketinggalan. tp apa salahnya ikutan jg. Saya jg dari magunrejo(mendiro). wah Sonto Dikun itu mbahku.
    Tambah lg koleksi fotonya

    [Reply]

  26. Mas yhanto orang mendiro ya? Sekarang tinggal dimana? Pak Sonto Dikun itu lebih tua sedikit dari saya, tetapi ya temen main2 juga. Kabarnya skr sakit2an, apa benar? Kalau ya, mudah2an lekas sembuh dan sehat kembali, salam, sw.

    [Reply]

  27. andri says:

    assalamualaikum

    mangunrejo adalah kenangan buat saya dan teman-teman,saya andri cucu almarhum sekdes atmo sumarto dari anak paling ragil sudiyoko.saya berjuang bersama teman-teman dikarang taruna ingimengubah paradigma bahwa mangunrejo bukan sebuah desa yang tertinggal,melalui karang taruna yang sara beri nama Adhi Karya Karsa Manunggal.sejarah nama ini sebenarnya hanya berasal dari sebuah bendera peninggalan dari generasi mungkin dimasa pakde2 saya atau simbah dulu.perpesus persatuan pemuda susuk.sebenarnya kami lahir karena belenggu pemerintahan desa pada zaman lurah sebelum ciptohadi.kami dikenal generasi paling berani mempertahankan sebuah komitmen untuk kemajuan desa walaupun banyak tantangan tapi karna kerja keras dan kesadaran prestasipun kita dapat berkarya selama 6tahun ini.sebuah catatan sejarah sepanjang hidup saya memberikan pengabdian saya untuk desa.
    terima kasih anda telah jadi inspirasi saya dan teman-teman

    [Reply]

  28. Mas Andri, trims untuk tanggapannya. Saya senang dengar cerita perjuangan anak2 muda untuk “mengubah paradigma bahwa Mangunrejo bukan sebuah desa yang tertinggal” dan telah memperlihatkan hasilnya.Semoga perjuangan itu dapat diteruskan,apalagi mengingat nama “mangunrejo” itu berarti “membangun kesejahteraan”. Trims juga bahwa cerita saja telah jadi inspirasi mas Andri dan teman2, salam, sw.

    [Reply]

  29. saipul says:

    salam kenal buat p.slamet. saya adalah putra dari p.kaum desa susuk. saya sebagai warga desa susuk, bangga dangan artikel yang bpk buat. dengan adanya artikel ini maka masyarakat bisa tau tentang desa susuk. khususnya masyarakat purworejo n sekitarnya, bahkan masyarakat luar kota ataupun luar propinsipun bisa mengenal ttg desa susuk ataupun purworejo. trima kasih sekali buat p.slamet yang sudah membuat cerita ttg ds susuk. semoga dengan cerita yang dibuat oleh p.slamet ds susuk lebih dikenal masyarakat dan masyarakatnya terus hidup rukun dan sejahtera. thank’s.

    [Reply]

  30. Mas Saipul, trims untuk perhatian dan tanggapannya. Sekarang mas Ipul dimana? Kakeknya, Pak Sarwono itu satu angkatan dengan saya, bahkan saya kenal dengan pak Merto, buyut mas Ipul, jadi saya termasuk angk. tua desa Susuk. Setiap warga Susuk “harus” memberikan sumbangan bagi kemajuan desanya, khususnya kawula mudanya, kalau tidak, siapa yang akan peduli. Tulisan/cerita saya itu juga untuk “menggugah” kepedulian/ kecintaan kpd desa/daerah kelahiran kita, semoga desa kita akan menjadi “contoh baik” bagi desa2 sekitarnya… salam sw.

    [Reply]

  31. wariso st dihardjo says:

    Selamat buat mas Andri sebagai generasi penerus Perpesus. Kala itu bermunculan beberapa organisasi pemuda, di Susuk ada Persatuan Pemuda Susuk (Perpesus), di Mendiro ada Himpunan Pemuda Mendiro (HPM), di Wunut ada Ikatan Pemuda Pucanggading (IPP), di Briyan ada Persatuan Olah Raga Briyan (POBRI). Ketua Perpesus yang pertama adalah mas Sumarno, kakak dari Lurah Yadi; di saat liburan (bali ndeso) saya sering metting di rumah mas Marno (saya adalah sekretaris HPM dari Mendiro). Sayang memang, sejak terbentuk kami ter-tatih2, susah berkembang, mungkin karena kebanyakan (hampir semua)aktifis jarang berada didesa. Selama menempuh pendidikan kami harus mondok/kost dikota, transportasi masih sangat sulit saat itu.

    [Reply]

  32. Omegha says:

    Astagfirullahh, Photo no 1, jalan itu, jalan ke Ringgit???.. tempatku nongkrong dulu, pdhl ku wong Grabag.. temanku di di Susuk,Kaliwungu,Ringgit,Tunjungan,Susuk, Mendiro,Klandaran,Ngombol dll.. Inget masa skul di SMU 8 Purworejo.. Gak terasa hampir 4 tahun, pergi dari kampung halaman

    [Reply]

  33. Terimakasih atas tanggapan, semoga akan menjadi kenangan masa lalu yang indah.

    [Reply]

  34. eka wianty says:

    duh makasih bnget mas?melihat foto d atas gak tau knp q trharu se x.bapak…………………………….ibu……………………….setahun lagi q pulang……………………..jd nangis deh.

    [Reply]

  35. Mbak Wianty itulah bukti betapa erat hubungan anak dengan orang-tuanya, dengan kampung halaman tempat di lahirkan, dengan lingkungan ia dibesarkan. Btw Padureso itu ikut kecamatan mana ya? Salam.

    [Reply]

  36. eka wianty says:

    PADURESO dlunya kec.PREMBUN,tp skrg PADUURESO sndri jd kcmatan.padureso itu tptnya d TAMAN WISATA BENDUNGAN WADAS LINTANG.ATau orng pwrjo blang PASAR PON.klo msh bingung jlasnya kabuaran,ngalor.gmn ?klo hr mnggu bnyk orng pemuda dr pwrjo yg main bendungan wds lntang .mrka pd mancing dkt area KARAMBA.

    [Reply]

  37. Trims, nanti kalau pulang kampung saya ingin jalan2 ke Taman Wisata Bendungan Wadas Lintang sambil cari makanan khas di sana, jalannya kira2 saya sudah tahu. Salam sukses.

    [Reply]

  38. eka wianty says:

    makasih doanya.mat sukses jg smg d thn ini tmbh lancar tuk sgl hal……….emang mas skrg mas krj d mana?klo mknan khasnya SOTO,PEPES IKAN.$REMPEYEK.TAK JAMIN KETAGIHAN DEH…………….

    [Reply]

  39. Itu makanan kegemaran saya, apalagi ikannya segar dari Wadaslintang. Kalau soal kerja, saya sudah lama nganggur, usia sdh 70 tahun plus, namun semangat tidak mau kalah sama anak muda, makanya masih senang main komputer. Dulu saya PNS/Deplu, dan kemudian swasta, sempat berkunjung ke banyak negara, termasuk Taiwan. Domisili Jkt, tetapi masih sering pulang kampung, sdh pernah lewat Wadaslintang, tetapi belum jadi daerah wisata.Makanya ingin lagi kesana untuk lihat perubahannya. Salam sukses.

    [Reply]

  40. eka wianty says:

    ngaten nggih pak de?nganggur mboten mnopo sing penting pnting tiap bln tesih gajian.klo mlh pngn pak de? umur tak jd mslh tp smngt harus tetap dong!.wah………………..q jd slut ama pak de? ya emng sih wds lntang blm bgt ramai.tp klo soal mknan djmn non formalin deh?……aplg ikanya sblm kt mkn,kt bs memilih selera ikan yg msh hidup br dmsk tuk kt sntp.ya mdh2an pak de yg dkota dgn suasana yg serba ada/istimewa sudi mampir kkmpng saya.mlht komen sy sng se x ,pak de ciayo……………………,slmnya apa ya/? KLO SUKSES, .SLM APA AJ DEH YG YG PNTNG …BGS BUAT PAK DE?MTR SWN…………..

    [Reply]

  41. Hayo siapa yang ingin wisata ke Wadaslintang, bisa pilih ikan hidup langsung dari alamnya (jenis ikannya apa saja ya), non polusi, dimasak sesuai pesenan, makan di tepi danau dengan nasi pulen panas dan sambel trasi dan lalapan, anginne semilir sambil ndengerin campur sari… asyik, trims infonya mbak eka, salam semoga “krasan” sementara di rantau…

    [Reply]

  42. Salam sehat slalu Mbah Slamet! Rumah saya disbelah timury mantan lurah susuk pak yadi,biasa dsebut glondong selisih 2rmh! Dulu waktu krg truna periode kepemimpinan kakak saya ada pguyuban’y,nerusin yg dulu “PERPESUS”(Persatuan Pemuda Susuk)! Wktu it byk kgiatan yg dlkukan al:pndakian gnung,camping,home stay,agstusan rutin. Tp yg dsayangkan skrg smua it tggl knangan smenjak pimpinan dpgag sm anaky Shandy(anak lurah skrg, pak cipto hadi). Rsy sgt disayangkan skali. Ckup skian dlu

    [Reply]

    slamet wijadi Reply:

    Trims untuk tanggapan. Memang sayang kalau tidak ada kegiatan, tetapi yang namanya peguyuban itu juga tergantung dari anggotanya juga. Para anggota harus mendorong agar ada kegiatan, kalau ketuanya tidak tanggap ya harus diganti kan ketua itu pilihan anggota juga. Salam.

    [Reply]

  43. Salam rindu Mbah Slamet! Sblumya sya ingin mgucapkan Minal Aidzin Wal Faidzin…Bertepatan dgn saat saya memposting komen ini, sya bru dpt info2 menarik dari Mbah Wik dr temen saya,Andri Wijaya,rumahy sbelah timur rumah mbah Wik! Kata mas Andri, dia bru aja sowan kerumah Mbah Wik! Yg bkin saya kcewa,dia nggak ngajak saya sowan kerumah Simbah Wik! Soaly saya bsok pgi mau balik ke Bogor lg! Wlu sdkt kcwa,tp mga thun dpn sya bsa btemu lgsug dgn Mbah Wik!Tiap buka bloger pwrjo,rasa kagum sya trus btambah kepada Mbah Wik! Dr lulusan skolah Ongko Loro sampai bisa kuliah ke Oregon University! Lahir thn 1932,brarti kenal sama simbah saya, Sonto Dimedjo, ili-ili jamany dulu! Beliau lahir thn 1926! Sbenarnya sejarah perjalanan karir Mbah Wik bsa buat motivasi anak2 muda skrg,khususy dsa Susuk! Bsa dblg sy it pggemary Mbah Wik! Sy suka hal2 yg berbau jadul! Dr saksi bisu smpai saksi mata jadul! Wktu kmarin sya maen Ke Kutoarjo,sya mnemukan bekas gedung pbrik tua pninggalan belanda, msih ada tlisan ‘… Fabrieken Insuline’. Lengkapy g terlalu jelas! Sya suka mendokumentasikan hal2 ky gt! Simbah bsa menceritakan sdkit ttg gedung it?

    [Reply]

  44. Syaiful says:

    Sekali lagi saya sangat bangga menjadi warga desa susuk. Artikel yang ditulis Bpk Slamet bisa menambah pangetahuan bagi saya. Dan kalau boleh saya usul sebaiknya dlam artikel tersebut ditambahkan mungkin, desa susuk dari yang dulu hingga skarang 2011. Dan sekali lagi saya mengucapkan terima kasih karena telah memperkenalkan desa susuk kepada masyarakat umum..

    [Reply]

-

Leave a Reply

 

  • Nggoleki

Random Post

Banner

Banner

  • Komentar

    • Camera: Sumber : http://bloggerpurworejo.com...
    • hendro: untuk mengikuti perkembangan / kegiatan...
    • aguss: mas sudaeni pekanbaru tepatnya dimana?...
    • Yono: Wah, berbeda to, matur nuwun...
    • muhammad maulida 7e: perfect tapi wc ne bau...
    • Agung Prastowo: Mas Yono, terima kasih banyak...
    • massito: Terima kasih Mas Yono atas...
    • bungsanjaya.com: saya orang purworejo baru...
    • dgan: mr.burger frezz burgernya orang purworejo...
    • Yono: Mas Agung, Selamat atas kesuksesan...
  • Pin Blogger Purworejo 150px

    Pin blogger Purworejo
  • Pin Blogger Purworejo 100px

    pin blogger purworejo 100px
  • Arsiiip

  • Kategori

  • Form Data Warga Purworejo

    Silakan mengisi untuk Pendataan Perantau Purworejo dimanapun berada. Data yang masuk tidak akan dipublish, tidak akan disalahgunakan.

    Nama (required)

    Email (required)

    No Telp/HP:

    Asal (desa - kecamatan)

    Alamat Sekarang dan Keterangan tambahan

    Masukkan kode berikut: captcha :