Lingkungan Dan Alam Desa Mangunrejo

  26 - Mar - 2009 -   slamet wijadi -   61 Comments »

Desa Mangunrejo, yang termasuk wilayah Kecamatan Ngombol,Kabupaten Purworejo,terletak dilintasan jalan kabupaten antara Purwodadi-Grabag pada Km 5.5. Desa itu kini sudah terhapus dari peta Kabupaten Purworejo dan sebagai gantinya muncul desa2 Susuk, Mendiro dan Klandaran yang masing2 berdiri sendiri .(Lihat tulisan sebelumnya). Cerita ini adalah gambaran suasana/alam desa Mangunrejo sekitar tahun 30-an.

Sebelah barat Mangunrejo terletak desa Wunut dan Karangtalun, di sebelah utara terpisah oleh bulak sawah adalah desa Singkil, Wingkodermosari, Wingkomulyo dan Wingkotinumpuk, itu nama2 yang saya ingat. Sebelah timur ada desa Carikan dan Jombang yang bersama dengan Kembangkuning dan Sruwoh merupakan bagian dari desa besar Watuaji. Seperti halnya Mangunrejo, desa Watuaji ini juga sudah almarhum. Sebelah timur laut ada desa Wonoboyo . Sebelah tenggara berbatasan dengan desa Briyan dan sebelah selatan terpisah oleh bulak /hamparan sawah yang luas terletak desa2 Kaliwungu, Ringgit Tunjungan dan mBukur/Wasiat. Jarak dari garis pantai laut selatan sekitar 3-4 km sehingga diwaktu malam hari bila angin bertiup dari selatan, terdengar sayup2 suara deburan ombak “segoro kidul”. Dua kota yang terdekat dari desa adalah Purworejo arah timur laut berjarak 18 km dan Kutoarjo ke barat laut sekitar 15 km.

Bukit Menoreh dilihat dari Setasiun KA Jenar

Dipagi hari disaat fajar menyingsing, dalam keadaan cuaca yang cerah, bila kita berada dijalan- desa arah keselatan yang menghubungkan desa Mangunrejo dan Ringgit di tengah hamparan sawah yang luas berkilometer antara desa Kaliwungu,Tunjungan dan mBukur/ Wasiat dan menatapkan pandangan kearah utara, akan tersaji satu panorama yang luar biasa mempesona. Langsung dihadapan kita akan nampak kebiruan sosok dua gunung kembar/ kakak-adik Sumbing dan Sindoro menjulang tinggi dilangit biru . Dan bila pandangan diarahkan ketimur laut maka nampak deretan pegunungan Menoreh yang legendaris seakan mengawal keberadaan kabupaten Purworejo tercinta. Di belakang deretan pegunungan Menoreh itu menyembul tampil dua gunung sejoli Merbabu dan Merapi yang menyemburkan kukusnya abadi, layaknya sebagai suami isteri yang setia berdampingan “tekan sakbejating jaman”.

Sekarang pandangan kita arahkan kebarat laut. Nun jauh disana, dikaki cakrawala Karesidenan Banyumas nampil lamat2 dengan gagahnya Gunung Slamet bersaput kabut pagi,gunung terbesar ditanah Jawa, dengan “pengiringnya” pegunungan Dieng kearah timur nyambung dengan gunung Sindoro-Sumbing. Lengkap sudah panorama alam indah ciptaan Tuhan Yang Maha Besar. Dan dalam suasana alam yang tenteram dan damai spt itu, di bawah birunya langit dan hijaunya hamparan sawah dan hangatnya matahari pagi serta kicauaan beraneka burung, saya bersujud kehadapan Tuhan dan bersyukur bahwa saya telah dilahirkan sebagai anak desa yang memiliki alam yang begitu indah.

Malam hari didesa Mangunrejo mempunyai pesona sendiri. Dimulai dengan suara bedug dan adzan maghrib,desa bersiap memasuki suasana dunia malam. Pelopornya adalah suara jengkerik, orong2, kodok, macam2 walang, tokek diikuti suara kelelawar/codot/kalong dan berbagai burung malam,spt burung hantu, emprit gantil, gemak, kolik, bence dan burung2 malam lainnya yang bersahut2an menambah suasana misteri alam desa. Tidak mengherankan bahwa dalam suasana malam yang gelap gulita yang hanya diterangi oleh taburan ribuan bintang dilangit itu berkembang cerita tentang hantu2 yang bergentayangan disudut2 desa yang dianggap angker.

Didesa waktu itu masih banyak terdapat pohon2 besar dan tinggi spt pohon asem, kepuh, beringin dan trembisi yang biasanya berada di pasar desa atau dekat kuburan/makam . Suasana akan terasa lebih “tintrim” apabila baru saja terjadi kematian, biasanya orang, apalagi anak2, akan enggan keluar rumah. Kepercayaan juga berkembang bhw suara burung kolik ditengah malam dipercayai sebagai pemberi isyarat bahwa akan ada kematian di sekitar lingkungan desa, sedang suara burung bence adalah pemberi isyarat agar waspada krn di lingkungan desa ada kawanan pencuri yang sedang meng-endap2. Bila malam makin larut dan suasana makin hening, terdengarlah sayup2 deburan ombak laut kidul terbawa oleh hembusan angin seakan membawa pesan tentang legenda keberadaannya Nyai Roro Kidul, penguasa laut selatan yang misterius.

Lepas tengah malam mulai terdengar suara kentongan dipukul untuk mengisyaratkan bahwa penabuh masih dalam keadaan bangun,agar kawanan pencuri menjauh, ini disambut dengan bunyi kentongan dari berbagai sudut desa. Kentongan besar kelurahan terdengar dipukul menunjukkan jam satu diikuti suara “ronda tetek” keliling desa dengan suara khas, “melek…..melek….melek…. nglilir….nglilir….nglilir….”yang dijawab “wis melek,wis nglilir”, tentunya seraya ngulet dan angop… sambil mancal kemul….meneruskan tidur… .

Menjelang jam empat pagi, suara kokok ayam jago mulai terdengar makin lama makin riuh dengan macam2 irama baik yang merdu maupun yang serak2 disusul suara bedug dan adzan subuh dari masjid -desa membangunkan mereka yang masih tidur untuk melaksanakan sholat berjamaah di masjid, ”sholat itu lebih baik dari tidur…”.

Geliat alam desa mulai terasa,kicauan burung larwo/murai yang merdu mengawali kicauan burung pagi disusul dengan burung trocokan, kutilan, jalak uren, engkuk, kepodang, bubut, gagak, deruk, puter, prenjak, berbagai emprit, gelatik, pelatuk- bawang(trotokan), sapit urang dllnya. Dari para tetangga yang memelihara perkukut terdengar suara ” hur- ketekuk” bersahut2an. Suara “hiruk-pikuk” ocehan burung ditimpa dengan kokok ayam jago suara angsa/ “banyak”, puluhan bebek yang digiring pangonnya kesawah tsb. terdengar layaknya sebagai simponi pagi alam perdesaan yang merdu serta menciptakan suasana damai, ayem dan tenteram. Kembali saya merasa bersyukur dilahirkan di lingkungan alam demikian yang telah membekali saya dengan kenangan indah yang tak akan terlupakan sepanjang hidup.

Jalan dari Susuk/ Mangunrejo menuju pantai selatan

Warga desa yang sebagian besar adalah petani sudah berangkat kesawah sebelum fajar menyingsing dengan memanggul peralatannya,cangkul,garu,luku,dan bagi yang memiliki kerbau menggiring kerbaunya sebagai teman untuk membantu mengerjakan sawahnya diikuti oleh anaknya yang bertindak sebagai “pangon”. Itulah kehidupan anak2 desa jaman tahun 30-an. Kuwajiban pokok mereka adalah membantu orang tua mengerjakan sawah. Ada juga yang sekolah namun jumlahnya tidak banyak dan itupun hanya terbatas sampai kelas 3 Sekolah Desa.

Demikian sekedar kenangan masa kanak2 tentang alam dan suasana lingkungan desa Mangunrejo. Saat ini ,tujuh puluh tahunan kemudian, keadaan sudah sangat berubah. Desa Mangunrejo sudah lama almarhum dan muncul desa2 Susuk,Mendiro dan Klandaran. Pemandangan alam relatif masih sama spt dulu, namun suasana lingkungan jauh sekali berubah dibanding dengan dulu. Suasana malam hari sudah berubah. Listrik masuk desa mengubah segala2nya. Tidak ada lagi cerita hantu;tidak ada sudut2 desa yang dianggap angker; suara jengkerik,walang,kodok dll. masih terdengar,namun sudah dikalahkan oleh suara radio/tape dengan lagu2 campursari,wayangan dsbnya. Suasana misteri desa dimalam hari sudah menjadi dongeng masa lalu. Yang sangat menyolok adalah suasana pagi yang sunyi senyap tanpa kicauan burung.

Sebagian besar nama2 burung yang saya sebut diatas sudah lenyap, khususnya dialam liar tidak ada suara larwo, kepodang, bubut, gagak, jalak uren, trotokan, bahkan burung gelatik yang dulu ada dimana2, kini hanya dapat dilihat di pasar burung. Di siang hari tidak nampak lagi burung elang/wulung yang dengan gagahnya mengarungi angkasa mencari korban anak2 ayam.Sungguh menyedihkan… . Saat ini pagi hari di desa ex. Mangunrejo dan desa2 lain pada umumnya terasa sepi senyap dari suara burung, paling2 hanya terdengar suara prenjak, deruk/ derkuku dan perkutut peliharaan .

Desa Mangunrejo termasuk suasananya memang sudah “hilang”, namun kenangan indah masa kanak2 tetap akan melekat sepanjang hayat.Suasana pagi hari dengan berbagai kicauan burung memang telah lenyap, bahkan beberapa jenis burung yang pernah menghias alam perdesaan mungkin sudah punah, namun hal ini tidak akan mengurangi ikatan batin dan kecintaanku pada desa tempat saya dilahirkan. Masih ada beberapa sisa2 kenangan yang bisa dinikmati.

Bila saya sedang berada di desa dan rindu akan keindahan alam tempo dulu,saya akan jalan-pagi sebelum fajar menyingsing ke tengah bulak sawah antara desa “Mangunrejo” dan Ringgit. Di situ saya akan menemukan panorama yang sama yang pernah saya lihat 70 tahunan yang lalu:gunung Sumbing, Sindoro, pegunungan Menoreh, Merapi, Merbabu, gunung Slamet dengan pegunungan Dieng, semuanya masih tampil sama, sebuah keindahan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Besar yang abadi sampai akhir zaman.

Slamet Wijadi

Category: desa, Tags: | posted by:slamet wijadi


61 Responses to “Lingkungan Dan Alam Desa Mangunrejo”

  1. wariso st dihardjo says:

    Selamat buat mas Andri sebagai generasi penerus Perpesus. Kala itu bermunculan beberapa organisasi pemuda, di Susuk ada Persatuan Pemuda Susuk (Perpesus), di Mendiro ada Himpunan Pemuda Mendiro (HPM), di Wunut ada Ikatan Pemuda Pucanggading (IPP), di Briyan ada Persatuan Olah Raga Briyan (POBRI). Ketua Perpesus yang pertama adalah mas Sumarno, kakak dari Lurah Yadi; di saat liburan (bali ndeso) saya sering metting di rumah mas Marno (saya adalah sekretaris HPM dari Mendiro). Sayang memang, sejak terbentuk kami ter-tatih2, susah berkembang, mungkin karena kebanyakan (hampir semua)aktifis jarang berada didesa. Selama menempuh pendidikan kami harus mondok/kost dikota, transportasi masih sangat sulit saat itu.

  2. Omegha says:

    Astagfirullahh, Photo no 1, jalan itu, jalan ke Ringgit???.. tempatku nongkrong dulu, pdhl ku wong Grabag.. temanku di di Susuk,Kaliwungu,Ringgit,Tunjungan,Susuk, Mendiro,Klandaran,Ngombol dll.. Inget masa skul di SMU 8 Purworejo.. Gak terasa hampir 4 tahun, pergi dari kampung halaman

  3. Terimakasih atas tanggapan, semoga akan menjadi kenangan masa lalu yang indah.

  4. eka wianty says:

    duh makasih bnget mas?melihat foto d atas gak tau knp q trharu se x.bapak…………………………….ibu……………………….setahun lagi q pulang……………………..jd nangis deh.

  5. Mbak Wianty itulah bukti betapa erat hubungan anak dengan orang-tuanya, dengan kampung halaman tempat di lahirkan, dengan lingkungan ia dibesarkan. Btw Padureso itu ikut kecamatan mana ya? Salam.

  6. eka wianty says:

    PADURESO dlunya kec.PREMBUN,tp skrg PADUURESO sndri jd kcmatan.padureso itu tptnya d TAMAN WISATA BENDUNGAN WADAS LINTANG.ATau orng pwrjo blang PASAR PON.klo msh bingung jlasnya kabuaran,ngalor.gmn ?klo hr mnggu bnyk orng pemuda dr pwrjo yg main bendungan wds lntang .mrka pd mancing dkt area KARAMBA.

  7. Trims, nanti kalau pulang kampung saya ingin jalan2 ke Taman Wisata Bendungan Wadas Lintang sambil cari makanan khas di sana, jalannya kira2 saya sudah tahu. Salam sukses.

  8. eka wianty says:

    makasih doanya.mat sukses jg smg d thn ini tmbh lancar tuk sgl hal……….emang mas skrg mas krj d mana?klo mknan khasnya SOTO,PEPES IKAN.$REMPEYEK.TAK JAMIN KETAGIHAN DEH…………….

  9. Itu makanan kegemaran saya, apalagi ikannya segar dari Wadaslintang. Kalau soal kerja, saya sudah lama nganggur, usia sdh 70 tahun plus, namun semangat tidak mau kalah sama anak muda, makanya masih senang main komputer. Dulu saya PNS/Deplu, dan kemudian swasta, sempat berkunjung ke banyak negara, termasuk Taiwan. Domisili Jkt, tetapi masih sering pulang kampung, sdh pernah lewat Wadaslintang, tetapi belum jadi daerah wisata.Makanya ingin lagi kesana untuk lihat perubahannya. Salam sukses.

  10. eka wianty says:

    ngaten nggih pak de?nganggur mboten mnopo sing penting pnting tiap bln tesih gajian.klo mlh pngn pak de? umur tak jd mslh tp smngt harus tetap dong!.wah………………..q jd slut ama pak de? ya emng sih wds lntang blm bgt ramai.tp klo soal mknan djmn non formalin deh?……aplg ikanya sblm kt mkn,kt bs memilih selera ikan yg msh hidup br dmsk tuk kt sntp.ya mdh2an pak de yg dkota dgn suasana yg serba ada/istimewa sudi mampir kkmpng saya.mlht komen sy sng se x ,pak de ciayo……………………,slmnya apa ya/? KLO SUKSES, .SLM APA AJ DEH YG YG PNTNG …BGS BUAT PAK DE?MTR SWN…………..

  11. Hayo siapa yang ingin wisata ke Wadaslintang, bisa pilih ikan hidup langsung dari alamnya (jenis ikannya apa saja ya), non polusi, dimasak sesuai pesenan, makan di tepi danau dengan nasi pulen panas dan sambel trasi dan lalapan, anginne semilir sambil ndengerin campur sari… asyik, trims infonya mbak eka, salam semoga “krasan” sementara di rantau…

  12. Salam sehat slalu Mbah Slamet! Rumah saya disbelah timury mantan lurah susuk pak yadi,biasa dsebut glondong selisih 2rmh! Dulu waktu krg truna periode kepemimpinan kakak saya ada pguyuban’y,nerusin yg dulu “PERPESUS”(Persatuan Pemuda Susuk)! Wktu it byk kgiatan yg dlkukan al:pndakian gnung,camping,home stay,agstusan rutin. Tp yg dsayangkan skrg smua it tggl knangan smenjak pimpinan dpgag sm anaky Shandy(anak lurah skrg, pak cipto hadi). Rsy sgt disayangkan skali. Ckup skian dlu

    • Trims untuk tanggapan. Memang sayang kalau tidak ada kegiatan, tetapi yang namanya peguyuban itu juga tergantung dari anggotanya juga. Para anggota harus mendorong agar ada kegiatan, kalau ketuanya tidak tanggap ya harus diganti kan ketua itu pilihan anggota juga. Salam.

  13. Salam rindu Mbah Slamet! Sblumya sya ingin mgucapkan Minal Aidzin Wal Faidzin…Bertepatan dgn saat saya memposting komen ini, sya bru dpt info2 menarik dari Mbah Wik dr temen saya,Andri Wijaya,rumahy sbelah timur rumah mbah Wik! Kata mas Andri, dia bru aja sowan kerumah Mbah Wik! Yg bkin saya kcewa,dia nggak ngajak saya sowan kerumah Simbah Wik! Soaly saya bsok pgi mau balik ke Bogor lg! Wlu sdkt kcwa,tp mga thun dpn sya bsa btemu lgsug dgn Mbah Wik!Tiap buka bloger pwrjo,rasa kagum sya trus btambah kepada Mbah Wik! Dr lulusan skolah Ongko Loro sampai bisa kuliah ke Oregon University! Lahir thn 1932,brarti kenal sama simbah saya, Sonto Dimedjo, ili-ili jamany dulu! Beliau lahir thn 1926! Sbenarnya sejarah perjalanan karir Mbah Wik bsa buat motivasi anak2 muda skrg,khususy dsa Susuk! Bsa dblg sy it pggemary Mbah Wik! Sy suka hal2 yg berbau jadul! Dr saksi bisu smpai saksi mata jadul! Wktu kmarin sya maen Ke Kutoarjo,sya mnemukan bekas gedung pbrik tua pninggalan belanda, msih ada tlisan ‘… Fabrieken Insuline’. Lengkapy g terlalu jelas! Sya suka mendokumentasikan hal2 ky gt! Simbah bsa menceritakan sdkit ttg gedung it?

  14. Syaiful says:

    Sekali lagi saya sangat bangga menjadi warga desa susuk. Artikel yang ditulis Bpk Slamet bisa menambah pangetahuan bagi saya. Dan kalau boleh saya usul sebaiknya dlam artikel tersebut ditambahkan mungkin, desa susuk dari yang dulu hingga skarang 2011. Dan sekali lagi saya mengucapkan terima kasih karena telah memperkenalkan desa susuk kepada masyarakat umum..

  15. guntur wibisono says:

    Minggu lalu pulang ke desa Sumbersari Purwodadi, Kedu…krn tante meninggal dunia…bersama anak istri dan keluarga adik…saya betah sebetulnya disana…hingga malam jum’at saat saya ketik comment ini ada wacana dari istri untuk tinggal di desa aja… wahhh harus jual rumah saya doeloe nih…

    • slamet wijadi says:

      Mas Guntur, trimakasih sudah mampir di desa “Mangunrejo”. “Saya betah tinggal disana” dan “ada wacana dari isteri untuk tinggal di desa…” semoga segera dapat di jadikan kenyataan. Tinggal di desa saat ini banyak keuntungannya, terutama bagi para pensiunan. Semua kemudahan di kota hampir semuanya tersedia, suasananya serba tentram dan nyaman, udara yang bersih, standar hidup yang murah, transportasi yang tersedia, pokoknya enaaak lah. Kami kebetulan punya rumah warisan yang sering kami kunjungi. Herannya kalau sudah di desa malas untuk kembali ke Jkt. … salam, sw.

  16. msdani says:

    saya sering dan selalu lewat jalan eks desa mangunrejo itu karena kebetulan tujuan saya ke desa tunjungan dimana itu adalah desa tempat kelahiran ibu saya, dan insya Allah dalam waktu dekat saya akan kembali melewatinya yaitu pada hari menjelang idul fitri yang akan datang dalam 2 bulan lagi :)

    • slamet wijadi says:

      Mas Msdani, kalau leawat depan rumah dan kebetulan saya di rumah silahkan kampir. Ponakan saya juga dapat orang Tunjungan, Nak Lukito, sekarang pensiun sebagai mantan Ka Kanwil Statistik Jateng, tinggal juga dekat rumah saya di Susuk. Di Ngaglik saya juga punya ponakan, mantan Lurah, Nak Djarno, apa kenal? Salam.

  17. msdani says:

    Terimakasih sekali eyang slamet sudah balas komentar saya, oya eyang apakah Pak Djarno lurah yang eyang maksud adalah yang kediamannnya tepat di depan sekolahan itu, kalau benar maka saat saya berkunjung ke desa Ngaglik saya pasti berkunjung juga ke kediaman beliau Pakde Djarno, dan saya sangat mengenal beliau karena Pakde Djarno itu sebenarnya adalah Pakde saya eyang :) , Beliau punya adik yang tinggal di semarang namanya Pak Yunus, nah itu adalah orang tua saya :)

    • slamet wijadi says:

      Kalau begitu ceritanya, kan namanya ketemu cucu sendiri, nak Yunus itu ponakan saya, putranya mbakyu saya tertua (lain ibu). Silahkan tanya sama ayahnya nanti akan jelas silsilahnya. Senang bertemu cucu di dunia maya, sekarang apa tinggal di Semarang? Kalau mampir di rumah Mangunrejo itu berarti berkunjung ke rumah eyang buyut, disitu neneknya (mbakyu Rusmi) dilahirkan. Salam.

      • msdani says:

        Terimakasih eyang, senang rasanya dan saya tidak menyangka bisa bertemu eyang disini dan isya Allah kalau kesana saya akan mampir untuk silaturahmi ke kediaman eyang yang di susuk, dulu sekali saya masih sering diajak ke rumah mbah buyut yang di susuk pada saat beliau masih gesang. Saat ini saya tinggal di semarang satu komplek dengan orangtua yaitu di Plamongan Indah.

        Oya saya juga sudah pesan kaos blogger purworejo yang insya Allah akan saya pakai pada saat lebaran nanti, tinggal menunggu konfirmasi pembayaran via email :) , ok salam utk eyang slamet wijadi, semoga diberi kesehatan selalu.

  18. kasiyat says:

    wah dadi inget mbiyen pertama bali jakarta terus diajak golek manuk nang desa klandaran karo koncoku pak min malah oleh manuk branjangan rego 25 rb terus langsung lanjut nang pasar krendetan nyebrang kali wetan pasar purwodadi balikke mampir medang nang nang ngombol kulon BRI rasane wah jan dadi kangen maneh pengin dolan rono.Salam sugeng ndalu sedoyonipun.

    • Suwarto says:

      inget jaman mbiyen dadi pingin mulih ning njowo hahahahaha,,,,,salam buat wong porjo di rantau orang

      • slamet wijadi says:

        Mas Warto berada dimana? kalau tidak terlalu jauh diluar Jawa kan bisa sekali-kali tilik, kecuali kalau berada di Suriname… he, he, he… sekedar guyon. Salam.

    • slamet wijadi says:

      wah, kalau bisa nangkep manuk branjangan ya istimewa, burungnya kan gesit, “kopat-kapito kaya manuk branjangan’, kata ki dalang. Dulu memang banyak sekarang hanya ada di pasar burung, sama seperti glatik, manyar, larwo. Jaman saya kecil, bila hujan nggrejih dan padi menjelang mratak, anak2 cari burung “babonan’ dan “brekuwok” diantara tanaman padi, caranya harus sama2 dengan “mengepung” sebidang sawah. Kalau dapat bisa digoreng dan jadi makanan/lawuh lezat. Kalau habis kehujanan dan kedinginan kita “curi”/mbedol telo dan dibakar dibedian, bukan main nikmatnya apalagi kalau telonya mempur… Kini semuanya tinggal kenangan nostalgia, jaman sudah berubah banyak… betul, dulu memang dipojok Ngombol ada warung wedang, mantepnya kalau medang pacitannya tempe bacem dengan gemblong panggang… salam…

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Bertani organik ala Sutomo Di Wingkomulyo

10 - Jul - 2008 | meds | 7 Comments »

Mengenal Desa Pasaranom, Grabag

13 - May - 2008 | meds | 17 Comments »

Menengok ke Desa Bulus

29 - Oct - 2008 | yoyokr | 22 Comments »

SMPN 17 PURWOREJO

11 - Feb - 2009 | fadly | 28 Comments »

Desa & Kelurahan di Kabupaten Purworejo

26 - Jan - 2009 | Raf | 81 Comments »

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net