Desa Mangunrejo Almarhum

  14 - Mar - 2009 -   slamet wijadi -   41 Comments »

Ternyata bukan hanya manusia saja yang bisa almarhum. Cerita sejarah berikut ini contohnya. Saya dilahirkan di desa Mangunrejo, onderdistrik/kecamatan Ngombol, Regenschap/Kabupaten Purworejo tahun 1932, sekitar 10 tahun sebelum berakhirnya pemerintah jajahan Belanda. Saat ini desa Mangunrejo sudah hilang dari peta/desa Kabupaten Purworejo. Inilah ceritanya yang saya ketahui.

Sekitar tahun 1920-an pemerintah Hindia Belanda mengadakan tindakan penghematan dengan menggabungkan/”mengawinkan paksa” beberapa desa menjadi satu desa besar. Di kecamatan Ngombol, misalnya, ada beberapa desa digabungkan menjadi satu.Desa Watuaji adalah contoh,kalau tidak salah, penggabungan desa2 Kembangkuning, Jombang, Carikan dan Sruwoh, sedang desa Mangunrejo ini merupakan gabungan dari desa Susuk, Mendiro dan Klandaran. Di kecamatan Ngombol  masih ada beberapa lagi  desa2 baru jang muncul sebagai akibat dari penggabungan tersebut.

Pemerintahan desa gabungan waktu itu dikepalai seorang Lurah dibantu seorang Carik dan seorang Bekel (kebetulan ayah saya sendiri) yang melingkupi seluruh desa Mangunrejo, sedang untuk desa yang tergabung, yaitu Susuk, Mendiro dan Klandaran masih mempertahankan perangkat desa lainnya, seperti kebayan, kepetengan, ili-ili dan kaum. Dengan sistem/struktur  organisasi spt ini diharapkan tujuan untuk penghematan dan efisiensi dapat tercapai. Namun apa yang terjadi di lapangan nampaknya agak lain. Penggabungan paksa ini menimbulkan sikap “kurang rela” dari masing2 desa yang tergabung, karena menurut mereka masing2 desa itu mempunyai”identitas” dan “sejarahnya” sendiri dan selayaknya harus diperintah oleh “putera desanya”. Dalam hal Mangunrejo ini, nampaknya “jabatan inti”, yaitu Lurah, Carik dan Bekel dijabat oleh orang2 dari desa Susuk, dan hal ini dirasakan kurang memenuhi rasa keadilan bagi desa2 lainnya yang tergabung. Namun apa boleh buat, pemerintah jajahan waktu itu begitu kuat, sehingga tidak perlu memperhatikan hal2 spt itu.

Kesempatan untuk membubarkan desa gabungan tersebut datang  pada tahun ’45, permulaan jaman merdeka. Secara ramai2 rakyat bergerak men”daulat”/menurunkan Lurah desa Mangunrejo, yang mereka anggap sebagai simbul pemerintah jajahan dan kemudian masing2 desa menyatakan diri kembali kepada status desa sebelum terjadinya penggabungan dengan memilih langsung Lurah sementara sebelum diadakan pemilihan lurah tetap 40 hari kemudian. Hal ini nampaknya juga terjadi di desa2 gabungan lainnya di Kecamatan Ngombol.

Desa Mangunrejo kini sudah almarhum, namun bagi saya hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa saya dilahirkan didesa ini dengan segala kenangan indah masa kanak2 yang terpatri dalam ingatan saya selama hidup. Setiap sudut desa Mangunrejo, hamparan sawah yang mengelilingi, sungai2 dan deretan pemandangan gunung dan pegunungan, adalah bagian kenangan saya yang tak terpisahkan, ibarat pohon dengan daunnya. Ada ikatan batin yang kuat dan misterius antara saya dan desa dimana saya dilahirkan, sehingga bila agak lama saya tidak pulang seakan ada suara yang memanggil-manggil “kapan kamu akan menengok desa tempat kelahiranmu”.

Slamet Wijadi

Category: desa, Tags: | posted by:slamet wijadi


41 Responses to “Desa Mangunrejo Almarhum”

  1. pujo h says:

    Menurut bapak saya, yang namanya Kebondoro itu dahulu adalah kebun bambu yang membujur dari kidul pasar kearah timur melalui lurah sekarang – sarean punden, kemudian membelok ke arah selatan disamping makam ditengah desa Susuk.

    Kebondoro, apakah berasal dari ucapan ‘kebon’ dan ‘Ndoro’, yang bisa berarti ‘Kebunnya Ndoro’, siapakah Ndoro yang dimaksudkan disini ?

    Bagaimana dengan tokoh Den Bagus Glidig, yang makamnya masih dianggap wingit sampai sekarang.
    Adakah yang tahu ceritanya?
    Dan apakah ada hubungannya dengan kebondoro?
    (sph)

  2. Dwi yn jabrq says:

    Menurut cerita dari simbah sy,den bagus gledek it leluhur nya ds klandaran,dan msh mnurut crita yg msh brkembang d masyarakat ds klandaran,klo mau ada pagebluk pst den bagus gledek akn mnampakkan diri dgn mngendarai kuda kliling kmpg,tntunya hal it hny org2 trtntu yg dpt mlihat

  3. momon says:

    mbah buyut saya kata ibu saya dimakamkan di desa katerban. namanya kalo nggak salah nitirejo atau rejoniti. saya sendiri belum pernah kesana. apa bapak pernah dengar atau tahu pemakaman di yg ada di desa katerban ? matur suwun

    • slametwijadi says:

      Mas Momon, maaf Katerban itu termasuk wilayah Kuthoarjo, saya kurang mngetahui sejarah desa itu jadinya tidak bisa menjawab, barangkali mereka yang berasal dari sana bisa menjawab. Salam.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Ketika Kita Gagal Mempertahankan Kemerdekaan Ekonomi

16 - Aug - 2013 | indra.ngombol | 6 Comments »

Menengok ke Desa Bulus

29 - Oct - 2008 | yoyokr | 22 Comments »

Pasar Tradisional Desa Grantung

19 - Oct - 2008 | haryadi | 11 Comments »

Desaku Pacor Kutoarjo

1 - Feb - 2014 | Adi Degreen | 30 Comments »

Apa Kabar Stasiun Jenar?

19 - Jan - 2015 | Febri Aryanto | 5 Comments »

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net