Awal mula tarian dolalak

  2 - Feb - 2009 -   agus -   23 Comments »

Dolalak adalah kesenian khas dari Kabupaten Purworejo. Tarian ini merupakan peninggalan
pada zaman penjajahan Belanda. Asal kata Dolalak adalah dari not Do dan La karena tarian
ini diiringi hanya dengan alat musik dua nada, tentunya pada zaman dulu awal mula Dolalak.

Seiring perkembangan zaman dan teknologi, tarian Dolalak sekarang sudah diringi dengan
musik modern, yaitu keyboard. Lagu-lagu yang dimainkan pun bervariasi dan beragam.

Penari Dolalak hanya dilakukan oleh para wanita, berseragam hitam dengan aksesoris yang
gemerlapan juga ada aksesoris yang khas yaitu kacamata hitam. Penari-penari Dolalak bisa
mengalami trance, yaitu suatu kondisi mereka tidak sadar karena sudah begitu larut dalam
tarian dan musik.

Tingkah mereka bisa aneh-aneh dan lucu. Tarian Dolalak saat ini sudah berkembang pesat
bahkan sudah menjadi brand image Kabupaten Purworejo.

Dolalak semakin populer di kalangan generasi muda. Hal ini tidak luput dari peran
Pemerintah Daerah Purworejo yang terus mengembangkan dan melestarikan kesenian asli
daerah Purworejo ini. Bahkan di setiap event-event tingkat nasional kesenian Dolalak
selalu tampil sebagai suatu kesenian yang unik. Di setiap lomba-lomba kesenian tingkat
nasional kesenian Dolalak selalu menjuarai.

Hal inilah yang selalu mendorong  Kesenian Dolalak selalu ditampilkan
dalam Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia, Jambore Pramuka dari tingkat daerah
sampai Nasional, pertunjukkan budaya antar daerah, bahkan sudah melanglang ke beberapa
negara di Asia dan Eropa. Oleh karena itu Dolalak perlu dipatenkan sebagai kesenian asli
Indonesia pada umumnya dan menjadi kesenian asli daerah Kabupaten Purworejo pada khususnya.
Hal ini bertujuan agar Dolalak tidak diklaim sebagai milik perseorangan, daerah, atau
bahkan bangsa lain.

Setahu saya awal mula kesenian dolalak dari desa Mlaran kec Gebang dan dirintis oleh
bpk Karyadi yang tidak lain adalah mbah saya sendiri, dulu waktu masih jaya bpk Karyadi
selalu memenangkan festival yang yang diadakan di purworejo menjadi no satu group dolalak
Sri Dadi dari Mlaran dan mendapatkan sponsor rokok Djarum 76 sampai pentas ke Ancol dlll
dan sekarang sudah terpecah belah menjadi beberapa group jadi dalam satu desa Mlaran ada
tiga group dolalak  Sri Arum, sri dadi dan satu lagi saya lupa namanya, dari kesemuanya
group dolalak itu bpk Karyadi yang memimpin dan kemudian diambil alih orang yang tidak suka
sama bpk karyadi, itulah sedikit komentar dari saya dan saya usul pada pemda purworejo
bagaimana supaya tarian dolalak dari desa Mlaran pimpinan bpk karyadi dipatenkan dan menjadi
sumber awal mula tarian dolalak yang diperbanyak oleh group-group lain di Purworejo.
di wilayah Purworejo saja sudah banyak banyak group dolalak lain, takutnya nanti dolalak
diklaim negara lain misalnya Belanda yang menurut sejarah dulu waktu menjajah.

salam aguss

NB: yang punya foto Ndolalak, silakan dikirim.

Category: budaya,sejarah,wisata, Tags: , | posted by:agus


23 Responses to “Awal mula tarian dolalak”

  1. haryadi says:

    Tarian ndolalak merupakan ciri khas asli dari Daerah Purworejo perlu dilestarikan karena untuk sekarang ini pemuda-pemudi pada malu..

  2. genthokelir says:

    Yup kesenian yang satu ini memeng sebenarnya boleh di bilang kesenian khas daerah kita ,namun seperti kebiasaan jika kita lihat sering sekali di catut atau di klaim daerah luar purworejo seperti daerah kulon progo daerah selatan yang pernah mengklaim asal tarian ini jauh di masa kecil saya dulu kakak ( sepupu )dan saudara saya adalah kebanyakan penari Ndholalak ini tapi masih ndolalak yang original bukan ndolalak yang sudah kreasi seperti yang berkembang di Mlaran dan lain sebagainya , indahnya dan giat sekali waktu itu para pemuda untuk berlatih tarian ini , namum berkembangnya jaman akhirnya musnah ( doh ) prihatin yah tapi sekarang masih kembali di giatkan oleh para guru sekolah dasar di daerah saya jadi mudah mudahan tetep lestari ( minimal)
    mari budayakan Purworejo ( halah kek…..)
    salam semangat

  3. mastrie says:

    yoi..mas bro …jamane saya sma masih anget-angetnya tuh…sampe di desa saya juga ada banyak group ndolalak.duh…kalo inget dulu …suruh nganterina pesen baju ndolalak aja sampe nambangan , grabag .adohe rek…botbote nguri – uri budaya purworejo…

  4. agungpranoto says:

    silahkan kunjungi blog kami di http://budayapurworejo.blogspot.com/ salam hangat dari purworejo

  5. eka wianty says:

    NGMONGI NDOLALAK .DEK CILIK MBIYEN rambutku d bajang.nah………..pas dcukur q tanggapke ndolalak.rsne sneng bngt.wektu kuwi,ning desaku nembe q sing nanggap ndolalak.dadi sing noton akeh bngt.oh ramene………….bar kuwi trs akeh wong sing pd melu2 nanggp ndolalak.tkan saiki q sng ndolalak.MAJU trs ndolalak……….slm hngat skng cah padureso wads lintang…….sing ning taiwan

  6. Mas ibeng says:

    Salam buat mas agus cucu bapak Karyadi dari mlaran. mohon maaf sebelumnya, karena menurut saya tulisan mas agus tentang “Awal Mula tarian Dolalak” masih sangat subyektif dan tidak memiliki dasar yang kuat, khususnya mengenai history Tari Dolalak dan sumber yang dipergunakan.

    usul mas agus, mengenai tarian dolalak dari desa Mlaran pimpinan bpk karyadi dipatenkan dan menjadi
    sumber awal mula tarian dolalak yang diperbanyak oleh group-group lain di Purworejo, saya rasa juga sangat naif. Mungkin mas agus harus lebih banyak membaca sejarah dulu agar benar-benar memahami sejarah yang ada, khususnya awal mula tari dolalak.

    maaf ya mas, sekedar sharing kok. Untuk admin saya merespon tulisan ini dengan mengatakan kebenaran dan keabsahan tulisan ini masih sangat diragukan.contoh:

    paragraf ketiga:

    Penari Dolalak hanya dilakukan oleh para wanita, berseragam hitam dengan aksesoris yang
    gemerlapan juga ada aksesoris yang khas yaitu kacamata hitam.

    Padahal menurut pengetahuan saya berdasarkan kenyataan di lapangan….dolalak juga di tarikan oleh laki-laki. bahkan aslinya penarinya adalah laki-laki.

    dan masih banyak tulisan-tulisan di beberapa paragraf yang kurang pas. Mohon admin bisa mengedit agar generasi selanjutnya yang membaca blog ini tidak salah ketika menceritakan sejarah.

    matur tengkiyu. salam Mas ibeng

    • Saya cenderung menyetujui comment mas Ibeng. Untuk meng-klaim bahwa ndolalak berasal dari satu daerah di Pwr masih harus didukung oleh data yang lebih lengkap dan akurat.
      Di desa saya, daerah Ngombol/Pwd tahun ’30-an tontonan semacam ndolalak sudah populer dengan nama “jidur”, penarinya semua lelaki, gagah2. Sampai skr pun nama jidur lebih akrap didaerah saya, bahkan desa Susuk masih punya kelengkapan jidur dari jaman dulu. Yang populer waktu itu adalah jidur Nglogung, Ngandul dan Kesih/Grabag. Susuk pernah agak lumayan namun sekarang sudah surut. Jadi tontonan yang kemudian jadi “ndolalak” itu sudah lama sekali dikenal di daerah Pwr, mungin setelah selesainya perang Diponegoro dan dibangunnya tangsi di Pwr. dan banyak “sorodadu” di Pwr.yang dianggap sebagai asal-usul tarian jidur. Salam sw.

    • Tri Purwanto, Purworejo says:

      Setuju dengan mas Ibeng. Padahal ketika aku kecil sekitar th 69 aku dah nonton pentas ndolalak dengan penari laki laki lebih mantap iringan masih kendhang, jidur, rebana, bahkan orang tua saya yang lurah mementaskan ndolalak bila 17an. Ndolalak sudah ada sebelum saya lahir (61) jadi kalau ada pendapat ndolalak lahir di desa mlaran dengan grup Sri Dadi kok kurang tepat, setahu saya ndolalak dengan penari perempuan baru ada th.80an. Dulu setiap ada pentas ndolalak (di desa saya namanya Angguk) bila akan berakhir selalu ada tarian “bedhilan” seluruh penari menari baris berbaris dengan menyandhang sebuah bedhil, dan diabani dengan bhs belanda.

  7. widibintoro says:

    Ma’af bukan sok mengomentari, ini ada sekedar info buat sharing (Mas Agung, budayabloger PWR) kurang lebih : Asal mula kesenian dolalak adalah akulturasi budaya barat (Belanda) dengan timur (Jawa). Pada jaman Hindia Belanda Purworejo terkenal sebagai daerah / tempat melatih serdadu / tentara. Sebagaimana tentara pada jamannya, mereka berasal dari berbagai daerah, tidak hanya Purworejo saja dan dilatih oleh tentara/militer Belanda. Mereka hidup di tangsi / barak tentara.
    Ketika mereka hidup di tangsi tersebut, maka untuk membuang kebosanan mereka menari dan menyanyi saat malam hari, ada pula yang melakukan pencak silat dan dansa. Gerakan dan lagu yang menarik kemudian menjadi inspirasi pengembangan kesenian yang sudah ada yaitu rebana (kemprang) dari tiga orang pemuda dari dukuh Sejiwan desa Trirejo Kecamatan Loano yaitu :
    1. Rejo Taruno
    2. Duliyat
    3. Ronodimejo
    Ketiga orang tersebut bersama dengan warga masyarakat yang pernah menjadi serdadu Belanda membentuk grup kesenian. Awalnya pertunjukan kesenian tersebut tidak diiringi instrumen, namun dengan lagu-lagu vokal yang dinyanyikan silih berganti oleh para penari atau secara koor. Perkembangan berikutnya setelah dikenal dan digemari oleh masyarakat, pertunjukan kesenian ini diberi instrumen/iringan dengan lagu-lagu tangsi yang terasa dominan dengan notasi do-la-la. Dalam proses perkembangannya dari pengaruh jaman dan kondisi kemasyarakatan serta penyajiannya maka kesenian ini kemudian menjadi Dolalak.
    Busana yang dikenakan oleh penarinya terpengaruh nuansa pakaian serdadu Belanda. Ini dapat kita lihat dari baju lengan panjang dan celana tanggung dengan warna gelap/hitam, pangkat atau rumbai di bahu dan dada, topi pet dan kaca mata hitam. Sampur dipergunakan sebagai pelengkap busana, yang merupakan kebiasaaan orang Jawa dalam melakukan kegiatan menari yang selalu menggunakan sampur/selendang.
    Adapun penyebaran tari Dolalak ini dimulai dari Desa Kaligono Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo, kemudian “merembes” ke wilayah sekitarnya.
    Jaman saya kecil, memang penarinya laki2 semua dan lengkap pakai bedil. Ada bunyi senapan “peluru kosong” sebelum pertunjukkan dimulai. Daerah saya menyebutnya “Angguk/Jidur”. Mungkin kalu yang pemainnya perempuan dimulai dari Daerah Mlaran/Gebang. Salam WB

    • kampunk11 says:

      ikut coment gan…”dulu pernah lihat di tvri sejarah tarian ndolalak persis seprti yang mas terangkan diatas..dri tiga pemuda sejiwan trirejo
      dan di desa setempat dulu jg pernah punya grub tarian ndolalak kl gk salah namanya ”’BUDI RAHAYU”atau apa saya krng bgtu ingat karena pas saya masih kecil.
      salam sejahtera semuaaa…

  8. satiya says:

    Emang jalan raya di kec.gebang udah rusak parah, apa lagi kalo ujan turun kaya kali jali. dari berjan, seren, winong, malran, gebeng udah gak layak disebut sebagai jalan raya lagi,

  9. Ariyanto says:

    Salam Sejahtera untuk seluruh warga Purworejo, Menurut saya, untuk keenian yang satu ini(dolalak)tidak perlu di persoalkan darimana asalnya siapa yang menciptakan pa awal mula dulu, tetapi ayo kita coba untuk turut melestarikan kesenian ini agar tidak musnah oleh perkembangan jaman.
    salm
    Ariyanto

  10. Salam hormat kagem Mas Agus, nuwun sewu nderek rembug hak paten ndolalak. Setahu saya bukan dari Mlaran saja asal ndolala, yang jelas Poerworejo. Sebab hampir seluruh pelosok desa Purworejo menguri-uri budaya tersebut sejak doeloe kala.Dimasa thn 60 an pernah diadakan lomba ndolalak, pesertanya dari tiap2 kecamatan ada, penarinya pria dengan membawa bedil2an dari kayu. sampai saat ini bukan hanya di Purworejo ada ndolala. di ujung timur Indonesia yaitu di Merauke ndolalak di uri-uri oleh warga Purworejo disana. Bahkan ada putra daerah sudah mulai ikut menari. Penari dan penabuh dari warga transmigrasi dari kampung semangga III Merauke. Pakaian pernah kami pesan penjahit dari kaligesing, monggo kita uri-uri ndolalak.

    • agus says:

      Salam Hormat kembali,buat Pak Salim,kalau boleh tanya dimerauke alamat tepatnya didaerah mana?,siapa tahu bisa mampir hehehe ,tgl 21/11/11 saya ada tugas kantor,training perakitan komputer 2 hari di SMKN 3 Merauke Jl. Kamizaun Mopah Lama Merauke, Rimba Jaya, MERAUKE, KAB. MERAUKE 99611 dan dilanjutkan ke SMKN 3 Jayapura

  11. Aya Tary says:

    Mas Agus,,ini gimana apload fotonya,,kok ga ada disediain link .

  12. mika says:

    hemm aq suka ndolalak maz aguss
    .oh ya cara upload foto’na gmn ?

  13. agus says:

    Sekilas foto ndolalak bisa dilihat dari webnya mas Choiriel,terimakasih atas foto2nya http://chodri.wordpress.com/2011/04/10/ndolalak/

  14. agus says:

    Silahkan yang mau lihat foto2 Ndolalak link berikut ,terima kasih Mas Choireil atas fotonya
    http://chodri.wordpress.com/2011/04/10/ndolalak/

  15. Raf says:

    Tari Dolalak telah dipatenkan, berita lebih lanjut silahkan klik Purworejonews.com/tari dolalak jadi milik purworejo……

    salam,
    Raf

  16. nawang says:

    pkoke is the best lagh ndolalak prthankn

  17. Satrio says:

    Asalamualaikum, semoga blog ini masih aktif poro sedulur.
    Saya Satrio, mahasiswa Jurusan Sejarah, UNJ. Saya ingin membuat penelitian soal “Asal Mula Kesenian Ndolalak”, adakah referensi buku atau data-data tentang sejarah ndolalak, bila ada mohon dibantu. Terimakasih. Email: utomo_satrio@rocketmail.com

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Dari pentas Kuda Kepang di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah

25 - Mar - 2012 | meds | 7 Comments »

Sekedar Mudik ke Purworejo atau Mudik Selamanya

21 - Jul - 2013 | indra.ngombol | 6 Comments »

Merdi deso

24 - Feb - 2011 | Anston Bruno | 10 Comments »

Kesenian Purworejo, Kencrengan atau Rebana

24 - Jul - 2008 | gusboret | 7 Comments »

Purworejo Berumur Lebih dari 1000 tahun?

23 - Jan - 2009 | geblex | 9 Comments »

Related Post

Awal mula tarian dolalak

2 - Feb - 2009 | agus | 23 Comments »

Purworejo Berumur Lebih dari 1000 tahun?

23 - Jan - 2009 | geblex | 9 Comments »

Kembali ke INDONESIA RAYA

1 - Jun - 2014 | indra.ngombol | 5 Comments »

Related Post

How Do You Go to Purworejo ….? ( from Jakarta )

29 - Jan - 2008 | Raf | 9 Comments »

Selis

23 - Oct - 2008 | sudutkreasi | 6 Comments »

Which one …Kutoarjo or Purworejo…?

21 - Feb - 2008 | Raf | 17 Comments »

Foto-foto Purworejo 2

21 - Jan - 2009 | meds | 20 Comments »

Blusukan ke Pasar Krendetan, Purworejo

13 - Sep - 2013 | Febri Aryanto | 21 Comments »

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net