Sofi Sang Pejuang

  4 - Dec - 2008 -   gios94 -   2 Comments »

Terima kasih buat rekan-rekan blogger purworejo yang telah memberikan comentnya pada cerita saya yang terdahulu, buat mas yogo, mas edkun, mas gobet makasih  yaa… Ini ada cerita yang lain lagi, tapi ini  cerita tentang “Jadul” juga (cerita Jaman DUluuu………….) ketika saya masih SMA ngonthel sepeda ke Sekolah, sampai sekolah gemobyos, terus diam – diam minum air kran di Mushola saking hausnya tapi gak punya uang jajan……. ini tentang teman gadis sekelas ku 

 

Cerita ini dilihami oleh rasa Syukur  malihat anak gadis saya yang sudah memasuki kelas VII atau kelas 2 SMP, Alhamdulillah bisa masuk sekolah faforit atau sekarang biasa disebut SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) di Pangkalpinang Kepulauan Bangka Belitung, Negerinya Laskar Pelangi.

Yang saya syukuri di sekolah anak saya  tersebut,  setiap siswi sejak kelas I  dianjurkan untuk menutup aurat, artinya  semua siswa putri diwajibkan memakai rok panjang, baju lengan panjang, begitupun dengan  seragam olah raganya semua dibuat menutup aurat anak perempuan, bagi yang muslimah diwajibkan untuk memakai jilbab. Maka sejak masuk kelas satu anak gadisku dengan sukarela dan kesadaran sendiri memakai Jilbab ke sekolah.  Alhamdulillah…

Melihat hal tersebut saya jadi ingat ketika Jaman saya dulu, ketika masih di SMA, juga SMA yang paling faforit di Purworejo. Saya mempunyai seorang teman sekelas, seorang gadis yang sangat cantik menurut saya, Sofi saya memanggilnya…..  berjuang sendirian dengan kesadaran sendiri ingin menutup aurat seorang gadis, ingin memakai seragam yang bisa menutup Aurat lengkap dengan Jilbabnya. Namun keinginan yang mulia tersebut terbentur oleh peraturan disiplin sekolah yang memang belum mengatur pemakaian baju seragam muslim di sekolah.

Maka setiap hari, setiap Sofi mamakai Jilbab ke sekolah setiap kali itu pula dia di panggil BP untuk diberikan Pengarahan dan Bimbingan tentang Peraturan Seragam Sekolah. Bukan sekali dua kali Sofi kena teguran, namun Sofi tak pernah putus asa untuk memperjuangkan keyakinannya tentang kewajiban menutup aurat bagi Muslimah.  Akhirnya setelah berulang kali pihak sekolah memanggil Sofi tentang seragamnya tersebut, maka pihak sekolah memberikan jalan tengah yang terpaksa harus diterima oleh Sofi. Sofi diperkenankan memakai Jilbab untuk berangkat dan pulang sekolah saja, selama berada pada jam sekolah Sofi terpaksa harus membuka jilbabnya.  Yach itulah jalan tengah yang terpaksa harus diterima.

Secara diam-diam sebenarnya saya sangat menaruh rasa salut yang setinggi-tingginya atas perjuangan Sofi ketika itu. Ingin sekali rasanya memberikan dukungan moril untuk perjuangannya ketika itu,   tapi apalah daya aku hanya wong ndeso yang kebetulan bisa sekelas dengannya.  Jangankan memberikan dukungan, menatap matanya yang indah pun aku tak sanggup…. “minder Wardeh” kata Bu Topo Guru bahasa jermanku.

Namun diam-diam saya selalu mencari kesempatan untuk bisa duduk semeja dengannya di kelas sekedar ngobral sedikit basa-basi sambil mencuri pandang wajahnya yang memang sangat cantik. Caranya saya selalu datang agak siang ke kelas, maka saya pasti saya akan dapat meja yang paling depan yang kosong, dan sudah pasti saya sendirian karena kawan-kawan cowok nggak pada berani duduk di depan. Dan kebetulan Sofi selalu datang paling terakhir di kelas, maka otomatis tinggal bangku disebelahku yang kosong. Jadilah Sofi duduk di sampingku… Strategi ini saya praktekan beberapa kali, dan selalu berhasil…………. (otak bulus)

Terakhir aku melihat Sofi, pada saat perpisahan kelas III Sos2 seusai Ebtanas, kita satu kelas berangkat ke Kyai langgeng untuk perpisahan kelas, disitu Sofi kelihatan lebih cantik lagi dengan busana muslim lengkap dengan Jilbab putihnya…. Subhanallah.

Saya sempet simpen beberapa tahun satu foto kenanganku  berada didekat Sofi di kyai langeng, hingga  aku kuliah di bandung, namun hingga saat ini saya tak pernah ketemu lagi dengan Sofi karena saya memang tak pernah tahu dimana rumah Sofi berada, karena tak pernah sampai lidahku betanya. Ada satu yang aku sesali, aku lupa memberikan yang sofi minta kepadaku ketika di Kyai Langgeng, sebuah bambu kuning kecil yang dihias ukiran bakar  yang selalu aku pegang, dia tertarik sekali dan minta kepadaku, namun aku lupa memberikannyya sampai pulang dan berpisah sampai kini…..

Andaikan saja Sofi sekolah pada saat ini seperti anak gadisku, mungkin tak perlu setiap hari harus keluar air mata hanya untuk memperjuangkan keyakinannya yang sederhana, menutup aurat dan memakai Jilbab ke sekolah seperti anak gadisku……….    

Salam untuk Sofi kawan sekelasku dulu………

Category: cerita, Tags: | posted by:gios94


2 Responses to “Sofi Sang Pejuang”

  1. yogo says:

    Untuk pengalaman/testimoni anda kali ini tidak terjadi terhadap diri saya,berhubung sekolah saya di kejuruan muridnya cowok semua.Tapi saya yakin sewaktu anda menulis pengalaman tsb pastinya perasaan anda berbunga bunga campur geli dan sebagainya.Cuma ada pertanyaan satu buat anda mestinya anda tahu dong alamatnya si Sofi bukannya anda satu kelas sama dia,minimal anda tahu dari teman yg lain,dan kalau masih punya foto kenangan boleh di posting diforum ini,atau SMA angkatan berapa, supaya rekan bloger bisa membantu mencari si Sofi.Tq

  2. Gobet says:

    wah rayuane kadyo manuk emprit di slumbat

    nek tanggo ku sofi bakul jamu

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2008 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net