Semua Berawal dari Blog

  10 - Dec - 2008 -   masdodi -   4 Comments »

Cuma usul dan bertanya saja, apakah Blogger Purworejo Community (BPC) merupakan komunitas semua blogger asal Purworejo, atau ada komunitas lain di luar BPC. Kalau ada komunitas-komunitas lain, mengapa itu bisa terjadi? Mungkin Bapak-bapak yang mahir dalam urusan blogger bisa bersinergi dengan komunitas lain, untuk menyatukan berbagai komunitas itu. Sebab, kalau komunitas-komunitas itu bersatu, tentu lebih bermanfaat, seperti: kita tidak perlu mengikuti banyak komunitas, koordinasi sesama anggota blogger jauh lebih mudah, diskusi-diskusi jauh lebih efektif. Intinya, dengan satu komunitas akan memudahkan komunikasi dan koordinasi. Pinjam istilah orang,”one stop service” begitu.

Lalu, di Jakarta (terutama) saya mendengar ada lebih dari 5 kelompok paguyuban asal Purworejo. Tapi yang saya tahu hanya Pakuwojo. Biasanya setiap tahun mengundang Bupati untuk hadir di Jakarta, entah itu halal bi halal atau ulang tahun Purworejo. Peguyuban-paguyuban itu sejauh yang saya tahu, hanya bersifat seremonial dan diikuti oleh pihak-pihak yang sudah mapan secara ekonomi. Wajar jika kemudian, masalah yang dibicarakan adalah masalah “papan atas”. Seperti contoh, Pakuwojo biasanya akan dimintai pendapat terhadap calon bupati yang akan maju. Atau Bupati Purworejo hanya berkenan hadir di Jakarta, kalau yang mengundang adalah Pakuwojo. Dari fakta ini, Pakuwojo belum menyentuh dan memberikan tindakan yang lebih berarti kepada masalah yang dibutuhkan rakyat kecil. Misalnya, sejauhmana Paguyuban bisa menangani masalah yang dihadapi wong Purworejo di perantauan. Masalah-masalah rakyat kecil banyak sekali seperti perburuhan dan tenaga kerja.

Kalau Presiden atau bangsa ini bisa prihatin terhadap seorang pembantu asal Kupang yang disiksa di Singapura, mengapa para pejabat asal Purworejo atau pengurus paguyuban seperti Pakuwojo, tidak melakukan hal yang sama terhadap manusia Purworejo yang di PHK sepihak oleh pabrik tekstil, misalnya.

Kalau seorang anggota DPR asal Makassar bisa mengeluarkan uang untuk seorang perantau dari Kendari yang kehabisan uang, mengapa hal yang sama tidak terjadi pada orang sukses dan perantau asal Purworejo?

Sebagai contoh, saya punya kawan dari Maluku Utara, kuliah di Unas. Hampir setiap bulan, kiriman uang dari orang tuanya telat. Agar bisa makan, yang ia lakukan adalah membantu pekerjaan seorang pengusaha dari Maluku Utara untuk bisa menyambung hidupnya. Juga, teman saya dari Bali bisa menginap di kantor perwakilan Bali di Cikini, selama dia belum mendapatlan pekerjaan.

Saya tidak sedang bicara primordial, tetapi ikatan emosional terhadap asal usul tampaknya penting, terutama untuk hal-hal yang positif. Dan itu tidak ditemukan oleh perantau asal Purworejo.

Paling tidak, jika masyarakat perantau bersatu dan punya visi yang sama, jika ada masalah (terutama pekerjaan), kita bisa membantu ala kadarnya. Mungkin kita bisa mengarahkan bagaimana cara mendapatkan bantuan hukum atas kasusnya. Sebagai contoh, akhir-akhir ini banyak sekali perusahaan yang bangkrut (atau pura-pura) bangkrut, lalu karyawannya (pasti ada yang dari Purworejo) yang sudah bekerja puluhan tahun dipecat dan tidak mendapatkan pesangon. Ke mana karyawan tersebut harus mengadu? Kalau Pakuwojo memiliki divisi hukum, tentu ia bisa membantunya.

Nah, pengelola dan pengguna blogger ini punya peluang untuk melakukan pekerjaan sosial tersebut, meski hanya sebuah berita, sebuah kabar. Syukur-syukur bisa membantu mencarikan solusi wong Purworejo yang tersesat di ibukota.

Maaf, ini hanya sebuah wacana yang tak bermakna. Iseng-iseng mengisi kekosongan saat hujan deras mengguyur Jatipadang. Blog telah membantu nasib kita.

Salam,
Sri Widodo
masdodi@yahoo.com

Category: blog, Tags: | posted by:masdodi


4 Responses to “Semua Berawal dari Blog”

  1. yogo says:

    yah,memang kadang kadang manusia kalau sudah berhasil/sukses suka bersikap eklusif bahkan ada yg lupa asal usulnya,padahal tidak sedikit warga purworejo yg di rantau yg berhasil tapi ya itu tadi mungkin kontribusinya belum maksimal terutama yg kaitanya dengan buruh ketenagakerjaan apalagi mentrinya sendiri dari purworejo.Kami bisanya cuma bisa berharap seperti apa yg disampaikan mas Widodo mudah mudahan agar dapat melahirkan formulasi mengenai langkah setrategis agar terwujud apa yg kita harapkan bersama.

  2. meds says:

    Ikut komentar, Sepakat dengan apa yang ditulis Mas Dodi, akan sangat baik kalau komunitas blogger Purworejo bisa punya kontribusi dalam membantu masalah yang dialami oleh warga Purworejo, dimanapun berada.

    Mengenai komunitas blogger, saya kira banyak, tapi yang saya tahu online di dunia blogging adalah purworejokita.com, yang digawangi salah satunya oleh mas Ajisi ITB, bahkan forumnya lumayan jalan. Kemudian komunitas yang lain tersebar di milis-milis.

    Mengapa ada lebih dari satu? Saya kira karena awalnya tidak sama. Mungkin beberapa orang berkumpul, kemudian membentuk komunitas A, si anu tidak tahu kemudian bertemu temannya dan membentuk komunitas B. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri, dengan program dan prioritas sendiri. Saya kira tidak masalah. Biarlah semua hidup, tidak bisa kemudian memaksa melebur hanya satu komunitas. Karena komunitas blogger sifatnya cair. Yang penting fungsinya.

    Mengenai Blog ini, memang belum bisa berperan seperti yang mas Dodi tuliskan, juga sinergi dengan komunitas lain belum terbangun. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Akan sangat baik dan berguna blog ini kalau bisa berfungsi seperti yang mas Dodi tuliskan.

    Tapi semua tergantung para member, dan tentu saja inisiatif beberapa orang. Maka masukan, tulisan, kritikan, usulan, dll untuk pengembangan blog ini sangat diharapkan.

    Mau dibawa kemana blog ini? Mari kita bicarakan bersama.

  3. Ono benere Mas.
    Coba di runut dari jaman perjuangan, era ini banyak pejuang-pejuang dari karisidenan kedu khususnya Purworejo yang semangat patriotiknya layak jadi teladan.

    Kemudian Jaman 60an…., Sarwo Edhie Wibowo, Jendral Akhmad Yani dan lain-lain. Saya tyakin beliau-beliau dulu punya banyak kesempatan tapi tidak di gunakan, bukan aji mumpung. Hal ini mungkin bisa jadi tauladan juga bagi generasi kini. Tidak KKN, tapi tunjukkan kualitas diri, ada kesempatan coba ikut…

    Setelah tahun 70-sekarang, sudah banyak wong porjo yang jadi pejabat penting di pemerintahan, kembali lagi di atas beliau MUNGKIN tidak mau gunakan aji mumpung, karena jabatan itu amanat. ITULAH YANG SAYA COBA PAHAMI.
    Buat menghibur diri…daripada sakit hati….

    Pernah seorang kenalan dari Aceh, yang menyatakan kekagumannya pada tokoh/ pejabat dari Purworejo yang tidak silau…Mudah-mudahan.

    Gagasan untuk membentuk komunitas dan jaringan dapat di diskusikan kembali…

    Sumonggo…

    Salam Berirama

  4. Raf says:

    Bhineka Tunggal Ika …. walaupun banyak blog tapi tetap satu untuk Purworejo, saling dukung , saling support, dan saling menghargai

    Kemudian untuk peran konkrit yg lebih membumi, dengan semakin itensifnya komunikasi Insya Alloh akan terjalin serta terwujud walau butuh waktu dan perjuangan, tidak hanya sebatas contoh diatas , tapi lebih luas lagi seperti penggalangan dana untuk bantuan korban banjir, tanah longsor dll yang sering terjadi di Purworejo…

    akhirul..ayo majukan bersama kab. Purworejo

    Btw , ide Mas Dodi brillian

    wassalam,
    Raf

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2008 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net