Feodal dan Power Distance

  20 - Dec - 2008 -   nurrahman18 -   11 Comments »

Sebuah balada. Pagi nan cerah di hari minggu, dikisahkan di sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Sebuah daerah yang mempunyai trade mark kambing etawa, manggis dan buah durian. Pula mempunyai bentangan pantai yang cukup indah, dengan pasir besi yang terkandung di dalamnya. Kawasan pantai selatan. Lokasi persis di sebelah provinsi yang dikomandani seorang Sultan ternama.

Alkisah hari itu, pejabat nomer wahid di kabupaten itu, berbincang-bincang ringan dengan para staff pemerintahan setempat. Setelah sang pejabat memberikan sambutan pada acara funbike ria menyongsong akhir tahun di lapangan kota. Sebuah acara yang memadukan olahraga dan hiburan rakyat. Bincang-bincang ringan dilakukan di kawasan pendopo kabupaten.

Perbincangan dilakukan karena mempertimbangkan wacana pengisian acara di akhir tahun. Sang pejabat ingin mengetahui secara langsung dari para staff nya, mengenai acara apa yang akan dilakukan guna menyambut akhir tahun 2009 di kabupaten itu. Juga usulan mengenai proyeksi tahun 2009 mendatang, dengan macam-macam usulan acara yang baru.

Seorang staff ahli, baru masuk 2 bulan. Lulusan S 2 di sebuah perguruan tinggi di kota gudeg. Yang bernama Bulaksumur University of Jogja. Mengusulkan pada sang pejabat nomer wahid. Dia melihat sebuah kecamatan di kabupaten tersebut yang sangat potensial akan hasil bumi dan peternakannya. Kambing etawa, buah durian dan buah manggis. Di kawasan tersebut juga terdapat sebuah air terjun, dengan keindahan alam yang mengitari di kanan kirinya. Sampai saat ini, jarang sekali dikembangkan menjadi area wisata yang mandiri. Daerah potensial yang kurang begitu mendapat perhatian. Sayang sekali. Staff ahli tersebut memberikan usulan untuk membuat gebrakan baru di tahun 2009. Tahun yang diperkirakan memakan korban PHK beribu-ribu jumlahnya. Termasuk di kabupaten tersebut. Usulan untuk membuat kawasan wisata terpadu. Yang memadukan keindahan alam, air terjun, peternakan dan hasil bumi pertanian. Bahkan dia membuat blueprint lengkap dengan analisis kelayakan bisnis. Tujuan utama dari proyek pengembangan wisata terpadu ini jelas, meningkatkan pendapatan daerah dan lambat laun mencoba menghilangkan julukan kabupaten tersebut sebagai kota pensiun. Proyek yang cukup bernilai besar.

Rupanya tak selamanya usulan dari seorang bawahan bawang kothong, julukan untuk seseorang yang baru masuk dan sedikit pengalaman, ditampung dengan antusias. Sang pejabat yang juga lulusan S 2, bahkan menaruh senyum cemberut. Jelas masih terlihat gab antara garis komando seorang atasan dan pimpinan. Ditampiknya usulan itu secara lugas dengan sebuah dalih bahwa warga di kecamatan tersebut sampai sekarang adem ayem saja. Tidak ada konflik, masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan peternak tenang-tenang saja. Tidak ada berita menghebohkan seputar kemiskinan atau kelaparan. Laporan dari klinik kesehatan pemerintahan setempat juga mengabarkan tidak ada masyarakat di kecamatan tersebut yang menderita gizi buruk. Semua baik. Tinggal dijalankan saja program yang sudah ada saat ini, seperti pendampingan ke petani dan peternak. Kawasan air terjun juga aman-aman saja. Masyarakat masih bisa bebas mengakses ke sana, dan pembangunan infrastruktur jalan-jembatan tetap dilaksanakan. Walaupun dengan tertatih-tatih.

Kontan staff ahli berapi-api mencoba melakukan pembelaan dengan memaparkan lebih lanjut mengenai proyek pengembangan wisata terpadu itu. Dia mencoba menjelaskan kemanfaatannya secara bertubi-tubi. Dan suasana bincang-bincang ringan pagi itu seakan-akan berubah menjadi pembicaraan yang serius. Beberapa pejabat nomer setelah wahid, cuma mengerutkan dahi dan berdehem-dehem, tanda kurang sepakat. Dan seolah ingin mengatakan bahwa sudahlah, kita jalani saja sekarang apa adanya. Urusan proyek yang berguna untuk masa depan, tidak harus dipikirkan secara mendalam. Itu urusan nanti.

Semakin ditampik usulan itu oleh pejabat nomer wahid, semakin pula staff ahli itu mencoba menjelaskan dengan detail. Suasana perbincangan ringan jadi kurang kondusif. Agak memanas. Karena rupanya staff ahli itu ngotot. Jadilah sang pejabat nomer wahid yang tak mau kalah dengan seorang bawang kothong manjadi agak murka. Dengan nada yang agak memanas pula, dia mengatakan bahwa usulan itu tidak selayaknya dipaparkan di forum ini. Dan usulan yang mengada-ada saja. Spontan staff ahli diingatkan dan ditegur dengan nada keras oleh sang pejabar nomer wahid. Dan sang pejabat mengatakan kepada sekretaris pribadinya, untuk segera membuat surat peringatan level pertama keesokan harinya, yang ditujukan kepada staff ahli tersebut.

Suasana jadi hening, seketika setelah sang pejabat mulai geram. Dan staff ahli tahu diri. Diam. Staff ahli pejabat yang lain, yang lebih senior karena sudah beberapa tahun menjadi tangan kanan pejabat, mencoba mengubah suasana kurang mengenakkan itu dengan mengalihkan perhatian. Spontan dia mencoba mengutarakan rencana acara wayangan tahunan yang akan segera digelar di lapangan kota. Staff ahli tersebut adalah lulusan S 3, lebih tepatnya SD, SMP dan SMK. Acara wayangan tahunan memang rutin dilaksanakan di kabupaten tersebut. Menjadi ritual tersendiri. Seorang pejabat bernomer setelah wahid berusaha menimpali perbincangan untuk mengkondusifkan perbincangan ringan di pagi itu. Nampaknya perbincangan acara wayangan leih diminati untuk menjadi perbincangan.

Staff ahli yang lulusan S 3 itu ternyata juga mempunyai usulan lain di tahun baru nanti. Dangdutan ria. Di lapangan kota, dengan tujuan untuk menghibur rakyat menyongsong tahun baru dengan penuh semangat katanya. Rupanya usulan itu lebih diterima secara bijak oleh pejabat nomer wahid. Entah karena sang staff ahli adalah juru kampanye pejabat nomer wahid saat pemilu dulu dan merupakan kerabat petinggi golongan politik yang sama dengan sang pejabat nomer wahid, atau entah karena sang pejabat nomer wahid suka wayangan dan dangdutan.

Rupanya tak semua usulan bawahan pejabat nomer wahid ditampung dengan antusias dan legowo. Masih terdapat perbedaan jenjang kekuasaan. Feodal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka Jakarta tahun 1997, diartikan bahwa sistem feodal bersifat mengagung-agungkan kekuasaan atasan, bukan menilai prestasi kerja dan kualitas.

Hanya usulan yang berasal dari orang-orang tertentu saja yang diterima oleh pejabat nomer wahid itu. Dan usulan yang tidak disenangi secara pribadi oleh pejabat nomer wahid, spontan kurang ditanggapi. Seolah perbincangan di pagi itu bukan untuk menampung aspirasi bawahan, tetapi hanya ingin mendengarkan usulan yang cocok saja.

Hal ini bisa dianalogikan sama dengan bagaimana seorang penguasa pada jaman-jaman penjajahan dulu yang cenderung masih feodal. Sistem feodal masih menampakkan perbedaan kesetaraan hak antara penguasa dan rakyat biasa. Mengagung-agungkan kekuasaan seorang penguasa. Rakyat adalah objek bagi penguasa. Kekuasaan dilakukan sesuai kesenangan penguasa. Padahal bisa jadi usulan dari bawahan adalah usulan yang sangat membangun. Bersifat memakmurkan rakyat.

Apakah hal ini masih merupakan cerminan sebagian besar kepemimpinan pejabat di negri kesatuan ini? Apakah hal ini juga yang menyebabkan kemakmuran pejabat-pejabat pemerintahan semakin jaya, sedangkan rakyat jelata semakin susah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari? Seolah kesejahteraanya dinomerduakan oleh sang pemimpin daerah? Padahal amanah yang dipikul oleh pemimpin sangatlah berat. Laksana memikul beban yang tiada tara, apalagi di tengah krisis yang melanda. Amanah untuk memberikan kebijakan-kebijakan yang memihak kepada rakyat sehingga rakyat makmur. Dan seolah menjadi pemimpin adalah ladang bisnis yang patut diperlombakan, terbukti dengan cukup banyaknya peminat untuk menjadi pemimpin ketika pemilu daerah dibuka, bahkan pemilu pemimpin negara. Dan sejatinya menjadi pemimpin bukanlah memperoleh hasil yang bermanfaat secara pribadi, tapi memberikan seluruh jiwa dan raga untuk menjalankan amanah.

Rumahku, 14 Desember 2008. Menjelang maghrib.

Category: cerita,potensi,usulan, Tags: ,, , | posted by:nurrahman18


11 Responses to “Feodal dan Power Distance”

  1. AtI2 MAS. Memang dari judul topik pertemuan, nampaknya bukan untuk bicara hal2 yang berat tapi yang entheng2an saja… ‘menyambut’ tahun baru.
    Proposal anda nampaknya tidak tepat waktu di forum seperti itu.
    Lain kali mas kalo pas rapat pembangunan saja dikemukakan, sekaligus investornya jenengan sodorkan.
    Wass.

  2. yogo says:

    Seharusnya seorang pemimpin bisa bikin gebrakan biarpun tdk populer,mengenai soal trade mark ,durian,manggis,sebetulnya daerah lain di luar pwr jg banyak tapi tdk dijadian trade mark, kalau soal kambing etawa okelah. Mestinya “barang asing” seperti mundhu,kepel,duet,wuni,langsep,gowok yg hampir punah dibudidayakan kembali terus dijadikan trade mark.Mungkin ini usulan yg tdk populer he..he…ada yg mau menambahkan……

  3. Raf says:

    proposal seperti barang dagangan juga, jadi untuk mengajukan /memasarkan perlu timing yang tepat seperti yg dituturkan Bp Indro….

  4. labib85 says:

    saya tahu sdr arif ini myimpan kekesalan ats pemda kota purworejo. kota kelahiraannya. cerita yg ia paparkan belum tentu dpt dipercya.brgkli itu cm simbol.dan berbicar simbol itu ada denotasi dan konotasi.

    apa yg hendak dia tawarkn adl kota ini masih seperti itu. brgkli dia py pnglaman yg bs mgtkan itu. atau bs jadi dia anak orang pemda. siapa sangka?

    scr fakta jk Anda org pemda, tahu betul itu. dan bgm kota ini dikuasai orang itu2 sj.mana bentuk perjuangan demi rakyatnya. Feodal itu masih kuat dipemda.sy anak PNS,jg pernah beljr kerja di pemda. memng bgitu adanya.

    makanya byk yg suka jd PNS lbh enak komprominya.tak pelak srg kita dgr jd PNS lwt jalur KKN.

    knpa kita hrs batasi diskusi blog ini dg dikotomi berat ringan.biarkan semua teman2 berbicara.ini lbh baik krn sy ykin pakde yg bikin blog ini tak cuma iseng .ini bs jd awal bg kita untk maju.kota kita kurang krtik sosial,tdk ad media yg mjd wacth dog,,merka malah anteng2 aj.makanya ketika super toy geger,petinggi kota ini kelabakan.arus politik pusat berkacmuk.isu dijakarta bukan lg soal padi tp soal conflict interest ddlmny. smua media sorot kota ini.kalo tdk sprti itu kota ini g sadar,bahwa ada yg timpang ditubuhnya. trims.

  5. nurrahman says:

    monggo, silakan berkomentar sesuai prinsip dan pemahaman masing2, begitu kanyang disukai pak labib 85…he he he

  6. bunda elang says:

    hmm…ada satu konsensus (tak tertulis) di kalangan penulis (wartawan, seniman, sastrawan) bahwa sebuah tulisan ketika sudah dipublikasikan, itu menjadi milik publik dan interpretasinya juga menjadi milik setiap pembacanya. Ada yang pro dan kontra…so, jangan takut menulis.Salam

  7. nurrahman says:

    betul bunda elang…setuju…ada yang mo ngasih komen lain? atawa usulan lain buat pwr??

  8. Bams says:

    Kalo baca tulisan diatas, kesimpulannya pingin membangun Purworejo menjadi maju.Usulnya bagus. Tapi maju yang bagaimana. Apakah kemajuan tersebut bisa kita kontrol bersama sehingga tidak merusak alam dan budaya yang sudah ada?????Contohnya pengerukan pasir besi di Ketawang,apakah membawa Purworejo menjadi maju???? Waduh yang ada malah merusak pantai yang sudah dibangun oleh alam selama beratus ratus tahun(menyedihkan).Yang lebih bagus mungkin yang sifatnya kerakyatan misalnya pembuatan cinderamata & makanan daerah/oleh oleh misalkan emping,durian dll. Sepele tapi menyentuh ke rakyat banyak(rakyat kecil).
    Kalo kita liat dari mulai Purworejo sampai dengan Kutoarjo apakah ada ppenjual oleh oleh / makanan daerah dan cinderamata??? Kayaknya bisa dihitung jari deh,itu juga ngak lengkap. Coba kita liat daerah lain,sepanjang jalan mereka banyak menjual cinderamata & makanan daerah / oleh oleh dari daerah mereka sendiri. Industri kecil mereka kembangkan dengan tidak merusak alam yang ada.

  9. Raden says:

    Blog ini bagus, tapi kurang bisa menjadi ‘watch dog’ bagi kebijakan pemda purworejo.

    • meds says:

      terimakasih. memang tidak ditujukan sebagai watch dog, sekedar sarana berbagi informasi dan silaturrahmi, dan sukarela. untuk menjadi gov watch, perlu tim sendiri yang mengkaji kebijakan-2 pemda, dll. Kami tidak memilikinya.

  10. Maaf, Judulnya ternyata belum menggambarkan isi tulisannya yang SANGAT MENARIK..

    Mengusulkan sesuatu gagasan pembangunan pada birokrasi bisa dikatakan seperti menabur garam di lautan. Gagasan cemerlang tetap bisa terwujud dengan jalur non birokrat, menggunakan dana dan CSR maupun dana dari kementrian jatah APBN yang daya serapnya sangat rendah dan akhirnya terbuang sia sia di iklan iklan televisi lembaga pemerintah yang tidak jelas tujuan dan hasil yang didapatkan.

    Tetaplah menyampaikan gagasan cemerlang untuk purworejo melalui jalur online, karena selalu ada rekam jejak usulan kita di tiap masa. bisa juga bergabung di kota purworejo dotcom atau di forumnya.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Pengalaman Masa Kecil, Membuat wayang dari Kardus

10 - Jul - 2008 | meds | 6 Comments »

Lebaran Di Purworejo

31 - Oct - 2007 | meds | 5 Comments »

Yang Punya Kenangan Di Purworejo

7 - Sep - 2007 | meds | 4 Comments »

Kalo Sempat Mampir Ke CAMP Z (KEKERWAJA)

26 - Feb - 2009 | oetoet | 16 Comments »

Apa Kabar Stasiun Jenar?

19 - Jan - 2015 | Febri Aryanto | 5 Comments »

Related Post

Duren Kaligesing Lan Sejatining Hurip

11 - Jan - 2012 | masdodi | 16 Comments »

Mencari Celah mengembangkan potensi.

26 - Jul - 2008 | massito | 4 Comments »

Ketika Kita Gagal Mempertahankan Kemerdekaan Ekonomi

16 - Aug - 2013 | indra.ngombol | 6 Comments »

Curug Gunung Condong, Bruno

25 - Feb - 2009 | meds | 35 Comments »

Sapi Bagelen

21 - Nov - 2009 | slamet_darmaji | 11 Comments »

Related Post

Membangun Purworejo dari penciptaan blogger desa

6 - May - 2013 | indra.ngombol | 11 Comments »

Rakyat Purworejo Terancam BANGKRUT Tahun 2015

6 - Sep - 2013 | indra.ngombol | 2 Comments »

Feodal dan Power Distance

20 - Dec - 2008 | nurrahman18 | 11 Comments »

Usulan untuk Pemda Purworejo

27 - May - 2008 | meds | 16 Comments »

Lagu Buka Sitik Jos untuk Mencegah Korupsi

6 - Sep - 2013 | indra.ngombol | 1 Comment »

© copyleft - 2008 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net