Bersekolah Tanpa Beli Buku

  2 - Dec - 2008 -   gios94 -   4 Comments »

Bersekolah tanpa buku, sepertinya sangat susah bisa terjadi pada saat ini. Namun ini benar-benar terjadi pada diri saya, sejak SD sampai dengan lulus Perguruan Tinggi tak satupun buku yang bisa aku beli.

Bukan maksud meremehkan arti buku-buku pelajaran, namun memang karena kondisi dan keterbatasan lah yang menyebabkan saya tak mampu membeli buku. Bukan pula saya bermaksud mengekspos penderitaan hidup dan kesusahan, namun saya ingin memberikan motivasi dan dorongan kepada adik-adik yang memiliki tekad kuat untuk maju dan merubah nasib namun selalu terbentur keadaan dan kesulitan ekonomi, artinya bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menghalangi tekad dan niat kita untuk bersekolah dan belajar. Dan ini sudah saya buktikan sendiri. Dan kalau dinilai bagus boleh ditiru….

Saya lahir dari keluarga yang sangat memprihatinkan, menurut cerita ibu / bapak, saya adalah anak yang terakhir (ragil) dari tiga belas bersaudara (bayangkan……..) Tapi yang saya tahu saya adalah anak yang paling kecil diantara empat orang kakak saya, yang tujuh orang menurut Bapk/Ibu semua meninggal waktu kecil…. dan kondisi memang sangat memprihatinkan, tiga orang kakak saya perempuan tidak sempat bersekolah, hanya satu kakak laki-laki saya yang sempat mengenyam pendidikan sampai tamat SD. Subhanallah……………

Melihat kondisi tersebut sejak sekolah dasar saya sudah berpikir bagaimana caranya agar saya tidak seperti kakak-kakak saya yang tidak sempat bersekolah, saya harus bersekolah setinggi-tingginya (kalo bisa……….) Dan itu benar-benar tertanam kuat kuat dalam hati saya…..

Dan memang karena tekad itulah saya tumbuh menjadi anak mandiri, sejak masuk SD (umur 8 Tahun) saya tidak pernah tidur dirumah, setiap sore saya berangkat ke mushola (langgar) untuk belajar mengaji sekaligus tidur disana sampai pagi. Ada satu hal yang saya petik hikmahnya selama saya mengaji di Mushola tersebut bahwa setiap malam jumat saya ikut besama-sama membaca Surat yasin, secara rutin, sampai dengan kelas tiga SMP saya msih selalu tidur di Mushola, dan kebiasaan membaca surat Yasin selalu terbawa, bukan hanya tiap malam Jumat, tapi sudah mulai ketagihan hampir tiap malam saya baca. Saya tidak tahu kenapa saya begitu suka membaca surat Yasin… Pernah kawan ngaji saya nanya, ngapain kamu baca Surat yasin tiap malam, saya tidak bisa menjawab, tapi guru ngaji saya yang menjawab, katanya si gio ini punya cita-cita yang tinggi. Dalam batin saya menjawab bukan cita-cita yang tinggi pak kyai cuma pingin bisa bersekolah yang tinggi……. dan memang ada hikmah yang saya petik dari kebiasaan saya itu, walupun tak pernah punya buku sekolah sendiri, ketika lulus SD saya dapat nilai NIM tertinggi dan berhasil masuk sekolah faforit, SMP Negeri 1 Kutoaarjo. Subhanallah. Ketika mulai masuk SMP saya sudah bisa merasakan manfaat baca Surat Yasin, maka setiap menemui kesulitan saya selalu membaca Surat yasin, setiap mau ujian saya baca surat Yasin dan alhamdulillah, walaupun bukan termasuk murid yang pandai di SMP, namun ketika Ebtanas berakhir saya mendapatkan NEM yang cukup tinggi, sehingga ketika mau masuk SLTA, saya diterima di SMA N1 Purworejo dan STM N Purworejo…………….

bersambung

Category: cerita, Tags: | posted by:gios94


4 Responses to “Bersekolah Tanpa Beli Buku”

  1. yogo says:

    Begitu menyimak pengalaman anda kok kayaknya tidak ada yg beda dgn pengalaman saya dan mungkin para anak anak pada umumnya yg hidup pada masa itu terutama yg hidup di pedesaan begitu susahnya para orang tua cari uang pada saat itu untuk ongkos sekolah saja susah banyak siswa sekolah SLTP dan SMA pada waktu itu berjibaku dengan panas dan hujan naik sepeda onthel berpuluh puluh kilo jauhnya menempuh pendidikan sekolah daripada naik angkot (Colt) karena keterbatasan uang saku. Dan tidak sedikit juga yg sekolah nyambi buruh serabutan utk mencukupi biaya pendidikan ada yg buruh nyangkul,matun, maupun derep (memanen padi),bahkan untuk beberapa mata pelajaran hanya punya satu buku tulis ditekuk terus di masukkan ke kantong celana bagian belakang,baju dan celana seragam 1 stel,sepatu 1 pasang. Tapi semua itu tidak menghalangi dan melemahkan semangat untuk terus belajar,dan beberapa pengalaman yg saya dapat semua itu akan mendapatkan kesuksesan, tinggal sekarang menikmati hasilnya. Karena sesungguhnya Tuhan maha Adil terhadap Umatnya.

  2. edkun says:

    Saya jadi merasa lebih beruntung dari Penjenengan. Orang tua saya guru SD dengan wawasan pendidikan yang (kala itu) sangat maju dan nekat. Setiap bulan, tanggal gajian tinggal mendapat secarik kertas karena semua sudah habis digunakan untuk mencicil hutang koperasi akibat beratnya biaya hidup dan sekolah enam orang anak. Tentu saja harus naik sepeda onthel atau kos dengan bekal pas-pasan.
    Tapi pengorbanan itu tidak sia2 ketika kami bersaudara cukup berprestasi di SMPN 1 Grabag & SMAN 1 Purworejo (kami sekeluarga alumni dua sekolah tsb) dan atas pengorbanan orang tua yang harus menanggung utang sampai menjelang pensiun kami semua menjadi sarjana…Matur nuwun.

  3. Gobet says:

    Perjuangan penuh pengorbana patut di contoh

  4. Aki says:

    Hidup Purworejo!!!!

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Purworejo produksi Biodiesel Nyamplung

25 - Mar - 2012 | meds | 1 Comment »

Main Ke Kongsi

29 - Jul - 2008 | meds | 8 Comments »

Jumpa Setelah 70 Tahun Pisah

19 - Apr - 2009 | slamet wijadi | 56 Comments »

Anak Petani.

24 - Jul - 2008 | massito | 4 Comments »

Pulang ke PURWOREJO

22 - Dec - 2009 | slamet_darmaji | 5 Comments »

© copyleft - 2008 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net