Terbentuknya Kelompok Sadar Wisata Curug Muncar Bruno

  14 - Aug - 2008 -   ekowisata-curugmuncar -   29 Comments »

Air terjun curug muncar yang berada dalam wilayah kelurahan Kaliwungu kecamatan Bruno Kabupaten Purworejo merupakan sebuah harta karun pariwisata yang masih terpendam dan belum tergali dengan maksimal. Air terjun cantik setinggi 80 meter ini akan dapat merubah perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Bruno jika dapat dimanfaatkan secara maksimal. Meskipu terkendala oleh sangat kurangnya akses dan pra sarana fisik menuju objek pariwisata tersebut, semangat para warga sekitar dalam menjaga dan mempersiapkan potensi yang mereka miliki sangatlah penting.

Sebuah perjalanan besar pasti akan dimulai oleh sebuah langkah pertama yang kecil. Oleh karena itu pada hari Selasa (7/8) diadakanlah pertemuan para perangkat dan pemuda kecamatan Bruno di Balai Desa Kaliwungu sebagai langkah kecil pertama dalam menuju menjadikan Bruno sebagai pesona pariwisata melalui air terjun Curug Muncar. Pertemuan yang diadakan oleh para Mahasiswa KKN PPM UGM Unit Bruno ini bertujuan agar dapat tercipta sebuah kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS), yang merupakan ujung tombak dalam menjaga, melestarikan, menjual, dan mempersiapkan potensi pariwisata Curug Muncar. Dengam membuat sebuah kelompok sadar wisata ini diharapkan akhirnya akan dapat membuat sebagian besar warga Bruno menjadi sadar dan mengerti akan potensi pariwisata yang dimiliki oleh mereka. Sebuah potensi tidak akan dapat tergali dengan maksimal tanpa peran serta masyarakat sekitar tempat tersebut. Fungsi POKDARWIS disni adalah sebagai wadah bertukar pikiran, keguatan, pembicaraan, dan pengembangan dalam rangka mencapai tujuan-tujuan. Sarana penyalur aspirasi dan komunikasi social antar pengurus dan warga. Dengan demikian maka akan tercipta “Tourism information Centre” yang pertama bagi segenap kegiatan terkait dengan wisata di desa setempat.

Struktur organisasi POKDARWIS sendiri cukuplah simple, hanya terdiri dari dewan penasihat, ketua, sekretaris, bendahara, dan 7 bidang lain viagra femele yang terdiri dari bidang humas, bidang tranportasi, bidang suguhan, bidang homestay, bidang pemandu, bidang atraksi, dan bidang keamanan. Jika kelompok ini terbentuk dan setiap kepengurusan dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab maka onjek wisata Curug Muncar hanya tinggal menunggu waktu saja dalam menjadi sebuah objek pariwasata andalan dan dapat segera merubah warna dan roda kehidupan kecamatan Bruno.
Pada pertemuan awal pembentukan POKDARWIS objek wisata Curug Muncar ini telah berkumpul warga dan perangkat kecamatan Bruno sebanyak kurang lebih 20orang. Mereka denga antusias dan semangat setuju dengan adanya pembentukan kelompok sadar wisata ini. Pada keputusan akhir pertemuan ini akhirnya telah terbentuk susunan panitia POKDARWIS objek pariwisata Curug Muncar dan saudara David akhirnya terpilih sebagai ketua. Diharapkan dengan telah terbentuknya POKDARWIS ini potensi air terjun Curug Muncar dapat segera tergali secara maksimal dan bermanfaat bagi mayarakat Bruno sendiri

Oleh: Brama Danuwinata Ramadhan
Mahasiswa KKN PPM UGM Unit Bruno

Category: Uncategorized, Tags: | posted by:ekowisata-curugmuncar


29 Responses to “Terbentuknya Kelompok Sadar Wisata Curug Muncar Bruno”

  1. farhan_fuadi86 says:

    Assalamu'alaikum….

    Salam kenal,

    Jujur saya pribadi merasa senang dan bangga, dengan adanya organisasi yang belum lama di bentuk ini, semoga curug muncar bisa terpelihara & menjadi tempat pariwisata yang tidak akan pernah terlupakan oleh para pengunjung…

    Terima kasih..

    Wassalam…

    By : Cah Bruno

  2. Anonymous says:

    Assalamuallaikum…

    Saya Sangat sangat setuju sekali dengan program ini.
    Dan saya berharap dengan adanya program ini semoga Bruno Menjadi Kota kecil yang maju..

    Salam buat pembaca semuanya..

    Wassalam..

    Anston Cah Bruno Nduwur
    (Gunung Condong)

  3. Anonymous says:

    weh….baru tau kalo di bruno udah ada pokdarwisnya.
    btw…emang udah sampai sejauh mana eksistensi odtw curug muncar berkontribusi terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya? kalo emang pada serius, mestinya semua pihak harus terintegrasi dan terkoordinasi dengan baik dan solid. nah…. ini salahsatu tantangan yang mesti dijawab, at least oleh para pemerhati tourism di purworejo tercinta. minimal dari forum blogger ini kita bisa brainstorming dulu kan…. biarpun baru sebatas mewacanakan, mudah-mudahan ada follow up realisasinya. saatnya seluruh stake holder pariwisata di odtw menyatukan visi dan misinya untuk membangun sebuah destinasi wisata unggulan di purworejo, dan yang paling penting, pelibatan masyarakat lokal dalam konteks community based development diperhatikan untuk mewujudkan sustainable tourism di purworejo tercinta.
    tul ga prend…..he.he.he.he.he…..
    keep in touch….
    budhimas@yahoo.com
    cah poerdjo sing nang jogja…

  4. Gus says:

    salam sedoyo kagem bocah bocah bruno nek perlu sing ayu dewe

  5. ferry says:

    sy bersumpah ketika menjadi anggota DPRD akan memperjuangkan wisata muncar indah.Ferry Sugianto S.IP Caleg No.1 Partai Hanura dapil Bruno,kemiri,pituruh.

  6. dinmuch says:

    sdh banyak yang mengenal wilayah Bruno dengan Curug Muncar dan Wilayah yang luas tinggal Investor yang harus bikin Projek supaya Bruno cepat berkebang dan majuu..

  7. Meskipun agak terlambat mudah – mudahan masih berguna untuk pengembangan obyek wisata di Kecamatan Bruno, Purworejo.
    Saya sangat menghargai terbentuknya Pokdarwis Muncar ini, mudah – mudahan kedepan bisa berkembang di daerah lainnya. Kecamatan Bruno yang terletak di ujung utara Kabupaten Purworejo sejatinya mempunyai banyak obyek wisata yang bila dikembangkan secara serius akan berdampak baik untuk kabupaten Purworejo khususnya dari sektor wisata. Selain Curug Muncar, setahu saya Bruno masih memiliki Curug Singalapa di Desa Cepedak & Curug Condong di Desa Gunung Condong. Semuanya belum dikembangkan secara maksimal sebagai obyek wisata yang bisa meningkatkan PAD Purworejo atau bahkan masyarakat obyek wisata tersebut. Dalam pengembangan kepariwisataan sepertinya Kab. Purworejo masih tertinggal dari kabupaten tetangga seprti Magelang, Kebumen & Wonosobo.Mudah – mudahan dengan terbentuknya Pokdarwis Muncar ini bisa dijadikan pemicu untuk lebih serius menggarap obyek wisata yang ada di Kecamatan Bruno. Dalam pandangan saya, Kecamatan Bruno terbagi dalam 2 wilayah kebudayaan. Bruno Bawah / Bruno Bagian Timur banyak dipengaruhi budaya yang bernafaskan islam. sedangkan Bruno Bagian Barat / Atas khusunya wilayah Desa Kemaranggen, Gunung Condong, Karanggedang, Giombong & Kambangan masih mempertahankan Budaya Jawa yang khas, misalnya dengan masih dipertahankannya Budaya Merti Bumi, dll. Kalau dahulu kendala di daerah Bruno atas adalah persoalan prasarana jalan, maka saat ini dengan kondisi jalan yang sudah bagus sudah saatnya pengembangan sektor wisata di daerah tersebut perlu segera dilakukan. Selain sektor pertanian yang selama ini cukup dominan di Kecamatan Bruno.
    Keindahan alam serta budaya yang tersaji saya percaya daerah ini bisa dijadikan destinasi budaya yang menakjubkan seperti Desa Seni lerep di Kabupaten Semarang, Desa Wisata di Giyanti & Sendangsari, Wonosobo, Saung Angklung Mang Udjo di Bandung, dll. Disana bisa dikembangkan homestay di rumah – rumah penduduk. Ini menjadi hal yang bagus supaya masyarakat sekitar obyek wisata ikut merasakan manfaat dari obyek wisata di daerahnya sehingga mereka ikut menjaga 7 terlibat langsung dalam pengembangan kepariwisaan. Kedepan saya kira tidak hanya Pokdarwis tapi mungkin perlu dibuat MPB atau Masyarakat Pariwisata Bruno sebagai bagian dari wadah bagi seluruh pemangku kepentingan atau siapapun yang concern untuk pengembangan kepariwisataan di Kecamatan Bruno. Sehingga bisa saja kedepan Bruno bisa menjadi destinasi budaya & wisata di Kabupaten Purworejo apalagi daerah ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Wonosobo yang sudah terkenal sebagai daerah wisata yang handal. Mungkin kita bisa bersinergi dengan mereka misalnya bekerjasama dengan agen – agen wisata supaya jalur Jogja – Borobudur – Dieng bisa dibeokkan ke Bruno misalnya. Mudah – mudahan ini bisa menjadi bagian dari ide besar itu….

    • wahidun says:

      sampean piyento mas promosi ko ngak dikasih gambar aku kan asli wong cipedak rowopanjang tolong dong dikasih gambar biyar aku lihat buat obat kangen aku mas

      • Sartono says:

        Maaf sekali mas..saya belum mempunyai dokumentasi curug Singalapa, Cepedak…besok kalo saya dapat gambarnya saya bisa tampilkan…kalo yang Curug Condong sudah ada gambarnya. Kebetulan ada teman dari Condong yanbg meng-upload. Saat ini saya tinggal di Wonosobo dan menjadi anggota Masyarakat Pariwisata Wonosobo (MPW). Namun sebagai orang yang dilahirkan di Kemranggen, saya tetap peduli terhadap pengembangan wisata di Bruno khususnya & Purworejo pada umumnya. Makanya ayo sebagai sesama orang Bruno kita gugah semua pihak untuk mengembangkan pariwisata di Bruno secara serius. Siapa tahu Bruno bisa jadi ‘Owabongnya” Purworejo. Secara air kan cukup melimpah di daerah kita. Dan banyak tempat -tempat yang menakjubkan di Bruno yang bisa jadi destinasi wisata.

        • Bondhi says:

          Mas Sartono,

          saya asli kapiteran, saat lebaran 2 tahun yang lalu, saya mengajak keluarga mencoba berkunjung ke Condong, sekalin mencoba jalan yang baru di aspal. Medannya lumayan menyeramkan, dimana jalannya memang masih sempit meski halus karena memang baru diaspal, dan disebelahnya lereng yang terjal,curam dan sangat dalam, namun dengan keindahan bukit disekelilingnya anak2 sangat menikmati panorama alam dengan angin yang lumayan sejuk tentu ac mobil off saja. Namun apa yang masih berkesan dengan keadaan alam saat 2 tahun yang lalu kok rasanya sangat kontras dengan apa yang sudah diceritakan/promosikan di blogg- ini yaitu hutan gundul, sepanjang perjalan dari Kaliglagah sampai dengan penghabisan jalan aspal, tida seperti yang saya lihat waktu saya kecil, semua pohon yang dengan akarnya menggelayut ke jalanan dan tetesan air yang gemercik disertai kicau burung yang saling silih berganti suara dan warna kicaunya tidak lagi menemani perjalanan menyusuri alam pegunungan, kera2 yang dulu berlarian sepanjang mulai dari dusun Krenjing pun menghilang lenyap, ketika sampai sekitar daerah Si Konteng dll tidak lagi ada daerah yang wingit sebagai salah satu kekayaan budaya daerah. Back to the point, “CURUG..?” adalah aliran air dari dataran tinggi ke dataran yang lebih rendah dengan tanpa alas untuk mengalir akan tetapi air tersebut jatuh bebas sehingga terbentuklah suatu keindahan di mata manusia, pertanyaannya..? masihkah air itu bisa menyapa kita tatkalah kita bertandang kerumahnya…? sementara tandon-tandon alam yang selama ini ada, sudah tidak lagi terisi oleh air, penebangan pohon dan tumpukan kayu disepanjang perjalanan jika saya dari purworejo ke wonosobo adalah jawaban itu semua….. hutanku potong rambut, habis dibabat…. berapa windu lagi hutanku gondrong…? untuk bermainnya air menggenangi tandon alam dan bercengkrama dicurug-curug alam Bruno…. kapan…. ?
          Salam cah kapiteran…

        • Sartono says:

          Mas Bondhi yang baik, betul sekali apa yang Anda sampaikan. Itulah realita yang ada di hadapan kita. Saya juga merasakan hal yang sama. Sebagai orang yang sejak kecil sampai remaja tinggal disana, saya sangat merindukan suasana seperti yang mas gambarkan. Dulu saya harus jalan kaki mas kalo mau ke Pituruh atau ke Bruno sekalipun. Suasananya persis seperti yang Anda gambarkan. Namun kita tidak boleh pesimis. Mas yang masih tinggal di Purworejo tentu bisa membantu mewujudkan impian kita untuk bisa kembali merasakan hutan lestari yang bisa menjadi tempat berlindung bagi semua jenis satwa & tumbuhan sehingga kita bisa melihat lagi di Curug airnya bisa mengalir deras sehingga keindahannya bisa kita rasakan. Saya tentu lebih prihatin mas manakala mendengar salah satu hutan terpanjang di Purworejo yaitu Hutan Silambur kini tinggal namanya saja karena dibabat habis oleh si empunya hutan. Padahal seperti kita tahu hutan – hutan di wilayah Kemiri, Pituruh & Bruno bagian atas dulunya menjadi andalan Purworejo sebagai penjaga ekosistem.Makanya diskusi seperti ini menjadi menarik. Dan tentu kita berharap kepada siapapun pemangku kepentingan di Kab. Purworejo untuk menjukkan kepeduliannya untuk penyelamatan lingkungan dan sekaligus pengembangan kepariwisataan di Purworejo supaya PAD Purworejo tidak tergantung dari orang sakit yang dirawat di RSUD. Karena sampai saat ini andalan Purworejo kan dari sektor kesehatan. Ironi sekali kan..ternyata PAD kita ditopang oleh orang sakit. Saya banyak berdiskusi soal Bruno yang selama ini sering disebut daerah terbelakang di Pwr dengan Salah satu petinggi di Pwr untuk lebih memperhatikan daerah atas, tentu tidak hanya Bruno saja tapi sperti yang saya sebutkan tadi. Intinya ada banyak hal yg belum digali. Saya ingin berbagi pengalaman bagaimana teman – teman pelaku wisata & seniman di Wonosobo mempromosikan daerahnya sehingga di Wonosobo sektor wisata bisa menyumbang PAD. Secara periodik kami berdiskusi, study banding ke daerah wisata lain, sekaligus berpameran ke luar daerah.Seperti yang dilakukan Mahasiswa KKN UGM di Kaliwungu, Bruno yang melakukan pameran foto di Kabupaten sekaligus membentuk Pokdarwis disana tentu sangat menggembirakan bagi kita. Sebagai orang Bruno kami mengucapkan terimakasih & penghargaan yang tinggi. Mudah – mudahan ini bisa menjadi trigger atau pemicu untuk membuka mata kita semua bahwa Bruno punya potensi wisata yang bisa digarap. Tidak hanya wisata alam (pendakian gunung, flying fox, outbond, dll). Tetapi juga wisata budaya. Tanggal 3 Desember 2009 saya ajak beberapa wartawan TV dari Wonosobo untuk meliput Merti Desa di Desa Kemranggen. Itu langkah awal kami, siapa tau upaya ini juga bersambut di daerah lainnya. kami juga mengundang pejabat terkait di Pwr untuk menyaksikan acara tsb. 3 tahun lalu saya buat video khusus untuk acara itu & saya bagi – bagi ke Kecamatan & Dinas Pariwisata & Kebudayaan Purworejo.Mudah – mudahan diskusi kecil ini dibaca oleh mereka yang mempunyai kebijakan di Pwr baik dari eksekutif maupun kawan – kawan di legislatif.

        • Bondhi says:

          Dear Mar Sartono,

          Kebetulan saya sudah dua dasawarsa mencari sesuap nasi dimetropolis jakarta mas….cuman waktu SD dan SMP saya sering ke pucuk gunung Kembang, yang terinspirasi dengan dongengnya Umar moyo, diatas pucuk gunung Kembang ada 2 utas rumput yang mana dulu adalah peniggalannya Umarmoyo yang habis cari rumput…hehehe…dan Gunung Kambang yang ada dikecamatan pituruh adalah pucuknya gunung Kembang yang di slentik sama Warkudoro/Bimo…hehehe masih percaya waktu itu…karena memang kalau dihubungkan dengan Dieng kan masih deket…dan di Dieng ada yang namanya sumur Jolotundo tempat penggodokannya Ontoseno kan mas…hhehehe dari ndongeng ini…. Oh ya hutan Slambur memang dulu adalah hutan lindung/alas gung lewang lewung tanpo jalmo sing wani mrono….katanya masih ada zebranya segala ya mas… terus kera putih (memang masih pernah nglihat waktu hiking dulu)….Kapiteran adalah pertemuan antara aliran sungai dari daerah Condong/Pamrian/Purbayan dan dari arah barat yaitu Gunung Kembang/Kaligintung…. sekarang ketika musin kemarau baru sekitar 1-2 bulan saja sudah kekeringan, apalagi yang tinggalnya dibalik bukit-bukit…..tradisi ngangsu air akan ramai, saudara2 kita yang di Sukogelap dan Wanurojo begitu juga sering kali kekurangan air setiap menjelang musim kemarau… Alhamdullilah rumah orang tua saya deket sungai, jadi air sumur tetap tersedia, bahkan tetangga sering ngangsu kerumah, kecuali untuk hajatan memang keteter air sumurnya….
          Mas Sartono, sebenarnya jalur dari pituruh sampai Bruno lewat Condong panorama alamnya sangagt mendukung jika di sekitar Condong/Pamrian/Purbayan ada tempat wisata yang bagus…dan kearah barat bisa tembus dengan wadaslintang…..

          regards,
          Piteran’s

        • Sartono says:

          Setuju mas…saya kira mas bondhi masih di piteran ? daerah yang banyak jago volinya ya Mas ? hehe. Sebulan seklai saya mesti pulang ke Kemranggen karena Wonosobo – Bruno kan gak jauh…Jadi saya masih bisa ikut memantau daerah saya secara intens mas..Nah yang mas ceritakan soal Gunung Kembang kan sebenarnya bagian dari promosi wisata. Dieng menjadi terkenal kemana – mana selain karena keindahan alamnya (maksudnya dulu..hehe) juga karena ada bagian cerita dari epos Mahabarata yang tertinggal…ini pasti menarik..nah sekarang tugas kita yang diberi kesempatan mengenal dunia ‘maya’ untuk menyampaikannya ke seluruh dunia soal keunikan Gunung Kembang misalnya…atau Pertapan (Prtapaan) satu bukit di atas desa kami. Mudah – mudahan akan menggugah rasa penasaran bagi semua orang yang membaca artikel ini untuk bisa mengunjunginya. Kita yang harus mempromosikannya. Karena kalau bukan kita yang peduli ya siapa lagi ? Mungkin dulu kita bisa memamerkan keindahan alamnya yang penuh dengan phon – pohon jati, mahoni, trembesi, damar, rotan, dll atau suara kera, harimau, babi hutan, kijang dan aneka macam burung. Namun karena sekarang hutannya sudah berubah menjadi hutan produksi dengan pinus sebagai andalannya jadinya ya kita alihkan ke potensi yang lain misalnya soal cerita rakyat (folklore) yang berkembang di masyarakat sekitar atau wisata budaya dan olahraga. Alhamdulilah di desa saya masih ada kera, babi hutan, harumau dan kijang mas…jadi masih bisa melihat pemandangan yang lain…hehe, belum lagi misalnya kita masih bisa menyaksikan praktek barter melalui bakul – bakul yang tiap senin & rabu datang dari Kaliglagah, Sepathi & sekitarnya bertukar barang dengan orang – orang dari kampung kami…sungguh ini menjadi pemandangan yang mengasyikkan.Terimakasih mas sudah ikut peduli pada kampung kita masing – masing meski kita saat ini tinggal jauh dari kampung halaman…hehe. Sukses di ibukota ya Mas…kalo pas pulang bisa napak tilas lagi mas…hehe

        • Bondhi says:

          Mas Sartono,

          Lebaran haji kemarin saya pulang kampung, sepanjang jalan mulai dari purwokerto hujan deras banget, setibanya dirumah juga masih hujan bahkan disambut blabur mas…banjir hampir masuk rumah saya, terpaksa dokar saya ungsikan ke tetangga yang rumahnya lebih tinggi…hampir selama 3 tahun ini katanya blabur menyambut kepulangan saya kemarin adalah yang terbesar….dan keesokan harinya saya sama anak2 kembali menjelajahi hutan kita…sampai wonosido mas…. ternyata sudah sedikit berubah…. rimbun dedaunan sudah sedikit menutupi bukit-bukit gundul meski akar pepohonan belum menyalami saya disepanjang perjalanan dan rembesan airnyapun belum kelihatan dan setelah muter diwonosido saya muter lagi ke kaligitung lewat jembatan kejing tumpuk…. pemandangan sama dengan perbukitan yang sebelah timur….
          …Saya lihat memang ada perubahan dari sisi produktifnya…hutan pinus…getah pohon dan tenaga kerja adalah added value untuk short time yang sudah terlihat saat ini….

          Gimana kabar mas Sartono…kapan kita main voley lagi…

    • Sartono says:

      Wah kalo voley saya hanya jadi penonton saja mas…hehe, tapi saya suka olahraga ini karena banyak dimainkan di desa saya…Jadi ya spt olahraga rakyat juga…Kami sedang mengupayakan dukungan sponsor agar bisa secara rutin mengadakan “Pesta Olahraga Rakyat” yang ini…karena selain bisa utk unjuk prestasi juga kita ingat slogan jaman orba..”Mengolahragakan Masyarakat”…hehe. Iya mas skrg sdh mulai lumayan..apalagi di pinggir jalan juga mulai di tanami pohon mahoni sbg penguat jalan…mungkin butuh wajtu bertahun – tahun untuk recover hutan kita spt dulu…Sayangnya kita hanya bisa berharap pada Perhutani dan masyarakat sekitar hutan…kasihan kan kalo di atas hutannya gundul..tahun depan kalo pulang kampung lagi mesti diungsikan ke Kemranggen biar gak kebanjiran ya mas…hehe

  8. aam says:

    Benar, kalo ada investor atau pemerintah daerah serius mau menangani potensi wisata lama yang ada dikecamatan bruno sangat bagus, letak daerahnya yang berbatasan langsung dengan kabupaten wonosobo, akses jalannya juga sudah bagus tinggal prasaran jalan menuju ke daerah wisata curug muncar yang perlu ditingkatkan sehingga akses masuk ke tempat wisata curug lebih mudah

  9. erwan says:

    Saya juga sangat setuju dengan adanya pokdarwis tersebut, karena curug muncar adalah salah satu obyek wisata yang cukup bagus. Kemudian hanya bagaimana kita akan menata, mengemas sekaligus merangkul siapa saja yang akan peduli, mungkin dari kepemerintahannya dan sebagainya. Kalau jaman dulu-dulunya tiap lebaran selalu ada orkes melayu dari karang duwur kalau nggak salah, ya yang begitu-begitu aja mungkin dihidupkan kembali.
    HIDUP BRUNO !!

    Cah Puspo mranto neng Kaltim

  10. ponidin says:

    purworejo adl kota bersih yg bagi saya kota penantian maka perlu adanya kesadaran bersama tutetap melestarikan kota

  11. ali says:

    jujur aq pribadi bangga dengan adanya tempat
    wisata muncar indah..

  12. luis says:

    bangga ak sbagai cah kalibang dmana ada curugmucar tak jauh dari rumah ak.tapa sayang d sayang curug muncar tak seindah dulu,dulu hutanya bagus ad pohon2 besar,monyet2 bergelantungan d pohon dan ramai dgn suaranya.curug muncar skrng mlai gundul,ga tau pada pergi kemana kayu2 besarnya. Lindungi hutan kami,jangan biarkan tangan2 jahil menebang nya.

  13. karto menying says:

    nyong setuju,curug muncar pancen sip,ramene aja mung nek ana ndangdutan pas lebaran tok..hohoho..

  14. LUKMAN says:

    sukses wisata muncar, slam wisata dari lereng Bromo

  15. genjuz master says:

    alhmdllh ad juga yg sadar akan potensi wisata yg begitu melimpah di wil.bruno…
    IKUT SENENG…!!!

  16. nurokhim says:

    curug muncar, selamat mendapatkan perhatian. sekitar tahun 1983 masih kelas 1 sma, saya cycling dari tunjungtejo, pituruh, kemiri, ngrebug, terus titip sepeda, lanjut hiking ke bruno, terus curug muncar…… pulang terpaksa menginap di ngrebug. Setelah 30 tahun, kenangan indah seperti terulang kembali, selamat Pordawis.

  17. Yoyo.S says:

    untuk memelihara alam supaya lestari mestinya masyarakat di sekitar harus sadar untuk tidak menebang/ merusak hutan dan isinya secara senbarangan, sehingga daerah wisata yang sedang di galakan akan menarik para pengunjung apabila hutan dan lingkungannya masih asri, karena orang berwisata jika melihat daerah yang di tuju tidak sejuk/ gersang akan berdampak negatif.
    Semoga Muncar akan tambah muncar,
    Salam buat warga Purworejo di manapun berada.

  18. didi says:

    saya warga desa kedung pomahan kulon, dusun clapar lor, kecamatan kemiri. lebaran th 2012 saya sengaja main ke tepian hutan silambur yang ada di desa pakisarum, dan kondisinya sudah sangat berbeda. 23th disaat saya berusia 11th, saya dan teman2 saya pernah tersesat di tengah hutan silambur. dulu hutan silambur benar benar lebat dan di tumbuhi pohon pohon besar. tapi sekarang benar benar berubah, pohon pinus mendominasi hutan silambur.

    • senajan aku wong kaliwuluh kedong pomahan kulon,aku sangat mendukung sekali,mungkin mas2 belum tahu siapa saja orang 2 yg ngajukan muncar sebagai tempat pari wisata kebanggaan kec bruno,1,bapak ,supri lurah cepedak,dan bapak camat bruno dan alhandulillah silambur wes alus dalan saiki

  19. Daman huri says:

    Saya warga blimbing,kec.Bruno kalau curug muncar yg perlu perhatian khusus prasaranya krna dg prasarana yg bagus otomatis banyak wita tertarik baik wisata lokal maupun manca negara (mergine bokyo diapii mas)

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2008 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net