Pengalaman Masa Kecil, Membuat wayang dari Kardus

  10 - Jul - 2008 -   meds -   6 Comments »

Pada th 60-an, saya duduk di bangku SR, salah satu kesukaanku membuat wayang dengan bahan kardus. Waktu itu di Wingko sangat sulit mencari Kardus. Setelah berembug dengan teman, diputuskan bahwa hari Kamis akan membeli kardus di Purwodadi. Nggak tahu bagaimana, dua temanku sudah berangkat duluan, saya ditinggal. Setelah tahu kalau temanku sudah berangkat, maka saya nekat berangkat, dengan jalan kaki, dari rumah saya kira-kira 10 KM, setelah sampai ngankruk, kecapaian mulai terasa, padahal perjalanan masih jauh.

Tidak berapa lama ada dokar lewat menuju Jenar, maka saya memberanikan diri untuk numpang, saya berterus terang karena uangnya pas untuk beli kardus. Kusir dokar, pesan nanti kalau sampai di Jenar minta diambilkan air untuk minum kuda, ketika itu saya iyakan saja. Setelah sampai, dan kusir dokar lagi ngobrol, saya menyelinap terus pergi menuju Purwodadi, sambil deg-degan langkahku makin ku percepat, takut kalau-kalau kusir dokar mengejar saya.

Di tengah perjalanan, ketemu dengan 2 temanku yang sudah membawa kardus, dengan segala iba saya minta temanku menemaniku “mbalik” lagi. Alhasil saya kehabisan kardus maka saya pulang bertiga jalan kaki. Itulah waktu, untuk suatu cita-cita betapapun beratnya saya jalani juga. Kalau dikenang masih terasa indah. Saya tidak tahu kalau anak sekarang ada yang mau jalan sampai 10 km hanya untuk membeli bahan mainan, sudah itu kehabisan pula.

Kiriman Pak sito
nyuwun pangapunten Pak Sito, nembe saged kepublish, keslesep. sak niki Pak Sito pun dados member.

Category: cerita, Tags: | posted by:meds


6 Responses to “Pengalaman Masa Kecil, Membuat wayang dari Kardus”

  1. Mbah Suro says:

    Ditahun 60 an wayang memang digandrungi anak muda, apalagi kalau dalangnya Ki Hadi Sugito yang berasal dari Wates, Kulonprogo pokoke nonton sampai tancep kayon alias “ngebyar”.
    Remaja saat itu banyak berkreasi membuat wayang bukan dari kardus saja, tetapi dari batang padi yang dianyam, juga batang daun singkong bahkan batang rumputpun bisa.
    Mari kita lestarikan kesenian wayang agar tidak tergeser oleh budaya barat! Semoga…

  2. bethoro indro says:

    Mas Pursito ini rupanya sehobby dengan saya.
    Waktu itu saya punya tiga puluhan wayang, sebagian beli sebagian bikin sendiri dari karton.
    Suatu hari lenyap bersama album perangko koleksi saya. Rupanya diambil maling yang nurut berita yg ngambil temen saya sendiri. Saya sangat sedih tentu saja, dan sampe sekarang jadi kenangan manis2 pahit.
    Salam buat mas Sito.

  3. Mas Sito says:

    Terima kasih mas Indro,
    Waktu itu hiburan belum banyak, kita ini anak2, dituntut unutk berkreasi sendiri supaya punya hiburan. Antara lain yaitu Wayang, Sampai sekarang saya masih sering mendengarkan diradio, yang saya suka yang masih ikut pakem, contoh dalang timbul.
    Salam katur mas Indro.

  4. gunarso ts says:

    Kok sama ya Mas? Kala itu tahun 1962-1964, saya menemukan kerdus rasanya seperti dapat lotre. Pernah kok buku-buku sekrip yang bersampul tebal “kutelanjangi” hanya untuk diambil kerdusnya lalu dibuat wayang. Saya belajar nggambar wayang dari Kang Mulyono (kini di kampung, Pulutan Kec. Ngombol) dan Mas Yadi Njenar Lor (alm). Bikinanku lumayan, sehingga wayangku Patih Sengkuni oleh temanku pernah dibijekke untuk pekerjaan tangan di sekolah.
    Tapi karena keasyikan dolanan wayang dan dalang-dalangan, sekitar 50 wayangku ludes dimasukkan luweng oleh simbok. Aku nangis sejadi-jadinya, tapi wayangku tetap jadi abu!

  5. wahidpamudji says:

    Masa kecil adalah masa kenangan,lucu kadang menyedihkan,saya tdk bikin wayang dari kardus melaiankan beli wayang dari kardus di Jenar wetan dan Purwosari, pada saat asik-asiknya ngedalang niru-niru dalang beneran,tiba-tiba ibu datang marah-marah,masalahnya karena mau kondangan kainnya dicari tidak ada,lawong kainnya buat geber wayang kardus sama saya,jadilah ibu marah wayang disowek-sowek,bubar dah ngedalangnya

  6. Giri says:

    anak jaman dulu selalu ‘aktif’ untuk ‘bikin mainan. Jaman sekarang semua tinggal beli. Bahkan utk bikin balon dari air sabun saja orang tua malas ngasih tau bagaimana cara bikinnya. Salut utk generasi tua dan generasi muda yang masih aktif ‘bikin’ mainan. Mudah2an cerita ini bisa menginspirasi rekan2 yg masih muda untuk ‘bikin’ mainan. jangan terus2an membeli.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Anak Petani.

24 - Jul - 2008 | massito | 4 Comments »

Sofi Sang Pejuang

4 - Dec - 2008 | gios94 | 2 Comments »

Gunung Tugel , Satu Wallpaper di Purworejo

11 - Nov - 2008 | Raf | 21 Comments »

Masihkah Memilih Kucing dalam Karung?

17 - Dec - 2013 | indra.ngombol | 2 Comments »

Purworejo produksi Biodiesel Nyamplung

25 - Mar - 2012 | meds | 1 Comment »

© copyleft - 2008 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net