Kesenian Purworejo, Kencrengan atau Rebana

  24 - Jul - 2008 -   gusboret -   7 Comments »

Jika teringat purworejo aku jadi ingat akan kencreng atau rebana. yaaa karena musiknya yang sangat syarat akan unsur islamnya juga aku bisa melampiaskan napsuku untuk nggebuk plus ngeplak benda yang bulat terbuat dari kayu atos maning yang salah satu sisinya dikasih kulit biasanya sih kulit wedusss.

Di purworejo umumnya kencrengan rebana biasa buat ngiringi sholawatan. Selain sebagai iringan musik dalam sholawatan juga merupakan alat musik utama untuk mengiringi kesenian NDOLALAK, juga DZIKIR SAMAN. Mungkin kesenian dzikir saman masih asing ditelinga anda, kesenian ini adalah kesenian yang bernafaskan islam yang ada di desa Secang, Piyono,dan Seboro Pasar yang ada di kecamatan Ngombol.

..silakan dilanjut….

Category: budaya, Tags: | posted by:gusboret


7 Responses to “Kesenian Purworejo, Kencrengan atau Rebana”

  1. fulan says:

    tapi sekarang setelah ketahuan bahwa campur bawurnya pengertian Islam dan kebudayaan, maka keasenian tersebut sudah tidah syahdu utk dihayati karena tidak sesuainya sholawatan diapdukan dg ndolalak yg tlanjang (tdk menutupi aurat secara penuh bagi ndolalak wanita). Bagaimana sholawat dibaca olh org2 yg telanjang?bagaikan org2 musyrikin berthowaf di Ka’bah sambil telanjang..mana citra keislamannya??

  2. suwarto says:

    BETUL SEKALI SAYA MENDUKUNG KURANG SETUJU APABILA SOLAWATAN DIPADUKAN DENGAN NDOLALAK WANITA , SEBAIKNYA KALAU UNTUK NDOLALAK WANITA DIPADUKAN DENGAN LAGU-LAGU YANG SUDAH ADA ATAU DIPADUKAN DENGAN LAGU-LAGU POP JAMAN SEKARANG CARI YANG BAGUS DAN SESUAI DENGAN IRAMA NYA

  3. joko says:

    saya rasa tak usah membenturkan budaya dengan agama. apakah dzikirnya orang bersorban lebih mulia dari dzikirnya orang yang berpakaian biasa? hanya Allah yang maha tahu, jadi seharusnya kita tak menghakimi sebuah budaya dengan memaksakan pendangan dari budaya “lain”.

    keyakinan orang beda-beda, memaksakan keyakinan pada yang lain hanya menunjukkan kekerdilan jiwa yang ragu akan kemutlakan yang kuasa.

    viva nusantara.

    • suwarto says:

      ini bukan masalah dzikir tapi masalah budaya kita harus bisa menyesuaikan ,kebudayaan itu hanya untuk hiburan dunia kalau tak ada hiburan dunia itu sepi tapi kita sesuaikan yang mana yang cocok mana yang tidak cocok denga kebudayaan itu sendiri dipandang dari sisi agama maupun pada umumnya,kalau pakai ini cocok dak kalau yang ini cocok dak ya dipilah dipilih lah seperti kita pakai baju milih yang cocok lah, seperti mau nyanyi dipanggung pakainnya harus disesuaikan nyaiannya apa ya harus disesuaikan juga itu hanya saran darisaya kalau salah mohon dimaafkan dan diluruskan bagaimana baiknya para penonton yang bisa menilai laah tanks.

  4. joko says:

    jangan salah, agama juga produk budaya. agama lahir bukan dari ruang kosong, tapi pada masyarakat dengan perangkat budaya dan kebiasaannya. mana yang harus diluruskan? lurus atau tidak juga relatif. sekali lagi ini juga termasuk pemaksaan keyakinan kalau menganggap budaya tertentu cocok atau tidak dengan “budaya” yang diyakini, kemudia harus “diluruskan”.

    saya setuju, serahkan pada masyarakat, kalau masyarakat keberatan ya tidak usah di tanggap, tapi kalau masyarakat fine-fine saja ya tidak apa-apa. atau, bagi yang merasa itu bukan masalah silakan menonton, bagi yang mengangap itu melanggar tidak usah menonton.

    viva nusantara

  5. suwarto says:

    agama yang aslinya peraturan alloh rosul yang diturunkan untuk dipelajari dan diamalkan bukan produk budaya mas tetapi budaya diproduksi/dibuat sedemikian rupa sehingga menarik untuk dikerjakan/ditiru oleh pengikutnya atau penonton , memang didesain oleh pembawa agama supaya menarik ,sehingga membudaya sampai sekarang ini .

    • joko says:

      “agama” adalah budaya. itu merupakan seperangkat cara/ritual untuk berhubungan dengan penguasa alam. itulah mengapa di Islam ada sholat, zakat, haji, dll, di kristen ada pembabtisan, di hindu ada pura, mandi di sungai gangga (di India), yang kesemuanya berbeda tergantung konteks di mana agama itu berkembang/ “diturunkan”.

      bagi saya, Tuhan tidak mengurusi masalah budaya atau ritual. manusialah (para Rasul, Guru, Avatar) yang menerjemahkan “bahasa Tuhan” hingga mudah dipahami oleh orang awam. jadilah ritual-ritual yang merupakan produk budaya.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

Click here to cancel reply.

 

© copyleft - 2008 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net