Purworejo, Akibat Air Asin Lahan Pertanian Pantai Selatan Kritis

  3 - Aug - 2007 -   meds -   2 Comments »

Kondisi lahan pertanian pantai selatan khususnya dari Pantai Keburuhan sampai Desa Ngentak Kecamatan Ngombol tidak bisa ditanami karena kena air asin dari laut. Kondisi ini semakin memperkecil lahan pertanian, bahkan wilayah Keburuhan yang mengalami gagal panen padi (puso) mencapai 1/6 ha.

Hal tersebut dikatakan Sutomo, pengamat hama penyakit wilayah Kecamatan Ngombol kepada penulis disela-sela kunjungan Bupati Purworejo H. Kelik Sumrahadi,S.Sos., MM. dalam rangka panen raya padi organik di Desa Mendiro, Ngombol (28/7). Menurut Sutomo, dari jumlah keseluruhan lahan pertanian di Ngombol seluas 3.419 ha, yang bisa ditanami hanya 3.204 ha. ”Akibat air asin naik maka tanaman akan mati, termasuk tanaman jagung yang kena air asin mencapai 1/12 ha,“ tandas Sutomo. Sutomo juga menjelaskan selain kritisnya lahan pertanian akibat air asin, di wilayah Ngombol lahan pertanian seluas 18,5 ha terkena wereng yang menyerang tanaman padi jenis IR 64, pandan wangi, ketan dan hibrida, terutama di Kaliwungu Lor. Namun, rata-rata padi yang diserang wereng karena dipupuk dengan pupuk kimia, sedangkan tanaman padi yang dipupuk organik malah tidak kena. “Hal ini disebabkan, karena pupuk kimia menjadikan tanah lembab dan ini menyebabkan faktor pertumbuhan wereng semakin cepat. Wereng menyukai kondisi lembab untuk masa kawin,” tandasnya. Bukti pupuk kimia menyebabkan serangan hama wereng sudah dibuktikan oleh kelompok tani Margo Mulyo Desa Mendiro. Selama 4 kali masa panen tidak menggunakan pupuk kimia, tanaman padi tidak terserang wereng. Sedangkan padi yang dipupuk dengan kimia, rata-rata diserang wereng. Masyarakat petani dari Mendiro akhirnya memilih menggunakan pupuk kompos yang sekarang sudah bisa dibuat oleh para petani. Hasil padi yang dipupuk kimia dan organik juga sangat berbeda. Untuk per ubin saja padi yang dipupuk dengan kompos menghasilkan 4,5 kg .Begitu juga untuk membuat obat hama tanaman juga cukup mudah, dan bahan-bahannya cukup banyak tersedia. Untuk membuat obat hama tanaman hanya membutuhkan bahan yaitu gadung 4 kg, tembakau 4 kg, biji mahoni 4 kg, brotowali 4 kg, daun himbo 2 kg dan air 10 liter. Untuk membuat insektisida alami juga cukup mudah karena hanya membutuhkan bahan seperti brotowali, kunir, kapur, kenikir dan sebagainya. Untuk insektisida alami biasanya digunakan mengobati kriting cabe.Pada kesempatan panen raya organik juga diketahui perbandingan hasil panen yang dipupuk kimia dengan organik. Dimana pelakuan semi kimia dalam 1 ubin hanya menghasilkan 5,1 kg atau 8,16 ton/ha. Sedangkan padi yang dipupuk organik (pelakuan organik) 1 ubin mampu menghasilkan 5,5 kg atau 8,8 ton/ha.

Sementara itu, Bupati Purworejo H. Kelik Sumrahadi, S.Sos., MM. menandaskan bahwa banyaknya hama penyakit yang menyerang lahan pertanian seperti padi, dikarenakan lingkungan dan struktur tanah sudah banyak yang rusak. Ini dapat dibuktikan kalau pas musim hujan cepat sekali mendatangkan banjir. Akan tetapi kalau tidak ada hujan beberapa hari saja, air cepat kering.

Kerusakan alam lingkungan dikarenakan akibat ulah manusia yang tidak bisa menjaga kelestarian lingkungan, termasuk para petani. Sehingga perlu dilakukan berbagai uaya dalam mengembalikan fungsi alam agar tanah dapat subur. “Dulu para orang tua setelah ngunduh kelapa sepetnya dipendem, kalau menebang pohon pisang, debognya juga langsung dipendem, ini salah satu contoh mengembalikan keseimbangan alam,“ imbuh Bupati

[purworejo.go.id]

Sumedi

Category: Uncategorized, Tags: | posted by:meds


2 Responses to “Purworejo, Akibat Air Asin Lahan Pertanian Pantai Selatan Kritis”

  1. Suparno Jumar, Cah Mbegelen says:

    Gayeng tenan, majulah wong prejo. Porjo berirama…..

  2. Suparno Jumar, Cah Mbegelen says:

    Lha mbahku, pakdeku, pakliku nyang Mendiro-ngombol awit biyen yen ngombe banyune rodo asin je….

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2007 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net